Anda di halaman 1dari 9

Diksi atau Pilihan Kata 2013

DIKSI ATAU PILIHAN KATA

3.1 Pengertian diksi


Diksi ialah pilihan kata. Maksudnya kita memilih kata untuk menyatakan sesuatu.
Pilihan kata merupakan unsur yang sangat penting, baik dalam dunia karang mengarang
maupun dalam dunia tutur setiap hari.

Penerapan diksi
Menggunakan kamus
Sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata itu

3.2 makna denotatif dan konotatif


3.2.1 Pengertian makna denotatif
Makna dalam alam wajar
Makna yang sesuai dengan apa adanya
Arti kata secara objektif
Makna konseptual

Contoh makna kata denotatif


Kata makan, misalnya, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah dan ditelan.
Contoh dalam kalimat misalnya:

Budi makan roti


Iwan makan pisang goreng

3.2.2 Pengertian makna konotatif


Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap
sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna
koseptual.
Makna yang dikaitkan dengan suatu kondisi dan situasi tertentu
Contoh makna konotatif
Kambing hitam Abu Bakar Basyir dijadikan kambing hitam dalam peristiwa bom
Bali.
Makan hati Bu Ani sangat kurus karena makan hati ditinggal suaminya kawin lagi.

Sifat makna konotatif


Berbeda dari zaman ke zaman
Lebih professional dan operasional daripada makna denotatif
(Nurul Hidayah, SKM)

Contoh makna konotatif dan denotatif dalam kalimat


Irna adalah dokter manis (konotatif)
Kue itu sangat manis
Budi sakit perut karena terlalu banyak makan mangga mentah
Pak Budi sudah banyak makan garam sehingga dia berhasil mengatasi masalah
keluarganya.
Pak Budi menderita hypertensi karena terlalu banyak makan garam

3.3 Makna Umum Dan Khusus


Makna umum adalah makna yang acuannya lebih luas. Contoh ikan, sedangkan kata
yang acuannya lebih khusus disebut kata khusus, seperti gurame, lele, tawes, dan ikan emas.

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia


[Pertemuan 3]
Diksi atau Pilihan Kata 2013
3.4 Kata Konkret dan Abstrak
Kata konktret adalah kata yang acuannya mudah diserap pancaindra.
Contoh thermometer, rumah sakit, perawat, obat, dll. Sedangkan kata abstrak adalah kata yang
acuannya tidak mudah diserap oleh panca indra, seperti gagasan, pemeriksaan, diagnosa,
analisa, pemerintahan, dll.

3.5 Sinonim
Besar = raksasa = luas
Mini = kecil
Kejam = keji Zalim
Panas = terik

3.6 Pembentukan Kata


Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kata baru, misalnya
Tata daya serba
Tata cara daya tahan serba kuat
Tata rias daya serap serba lengkap

Kata baru yang terbentuk melalui unsur serapan, misalnya


Klinik amputasi
Diare kronis

Bentuk-bentuk serapan
Kata yang sudah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia. Contoh, opname, infus, bank,
golf, klinik, pasien, medis,
Mengambil kata dan menyesuaikan nya dengan ejaan bahasa Indonesia. Contoh,
Subject subjek
Aphotheek apotek
University universitas
Computer komputer
Menerjemahkan istilah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya
Starting point titik tolak
Up to date mutakhir
Meeting rapat
Safety belt sabuk pengaman
Arrival
delay
Mengambil istilah tetap pada aslinya
De facto status quo vacum diesel
(Nurul Hidayah, SKM)

Sebuah kata dapat dikatakan baik kalau tepat arti dan tepat tempatnya, seksama dalam
pengungkapan, lazim, dan sesuai dengan kaidah ejaan.

Beberapa contoh pemakaian kata di bawah ini dapat dilihat.


Kata raya tidak dapat disamakan dengan kata besar, agung.
Contoh: rumah besar, hakim agung, masjid raya.

Kata masing-masing dan tiap-tiap tidak sama dalam pemakaiannya.


Kata tiap-tiap harus diikuti oleh kata benda, sedangkan kata masing-masing tidak boleh
diikuti oleh kata benda.
a) Tiap-tiap kelompok terdiri atas 5 orang
b) masing-masing mengemukakan keberatannya.

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia


[Pertemuan 3]
Diksi atau Pilihan Kata 2013
Pemakaian kata dan lain-lain harus dipertimbangkan secara cermat. Kata dan lain-lain
sama kedudukannya dengan seperti, antara lain, misalnya.

Bentuk yang tidak tepat


Ex: Dalam ruang itu kita dapat menemukan barang-barang seperti meja, buku, kursi, dan lain-
lain.

Bentuk yang tepat


Ex: Dalam ruang itu kita dapat menemukan meja, buku, kursi, dan lain-lain.

Kata pukul menunjukkan waktu, sedangkan kata jam menunjukkan jangka waktu.
Ex: Seminar tentang aborsi yang diselenggarakan oleh AKBID Martapura berlangsung selama 4
jam, yaitu dari jam 8.00 s.d 12.00 (salah)

Seminar tentang aborsi yang diselenggarakan oleh AKBID Martapura berlangsung selama 4
jam, yaitu dari pukul 8.00 s.d pukul 12.00. (benar)

Kata sesuatu dan suatu harus dipakai secara tepat.


Kata sesuatu tidak diikuti oleh kata benda, sedangkan kata suatu harus diikuti oleh kata
benda.
Ex:
a) Ia mencari sesuatu
b) Pada suatu waktu ia datang dengan wajah berseri-seri.

Kata dari dan dari pada tidak sama pemakaiannya.


Kata dari dipakai untuk menunjukkan asal sesuatu, baik bahan maupun arah.
Contoh:
Ia mendapat tugas dari atasannya.
Cincin itu terbuat dari emas

Kata dari pada berfungsi membandingkan. Contoh:


a) Duduk lebih baik daripada berdiri
b) Dokter lebih pandai dari pada perawat

3.7 Kesalahan Pembentukan Dan Pemilihan Kata


Pada bagian berikut akan diperlihatkan kesalahan pembentukan kata, yang sering kita
temukan, baik dalam bahasa lisan maupun dalam bahasa tulis. Setelah diperlihatkan bentuk
yang salah, diperlihatkan pula bentuk yang benar, yang merupakan perbaikannya.
(Nurul Hidayah, SKM)

a. Penanggalan awalan me-


Penanggalan awalan me- pada judul berita surat kabar diperbolehkan. Namun, dalam
teks beritanya awalan me- harus eksplisit. Dibawah ini diperlihatkan bentuk yang salah dan
bentuk yang benar.

1) Amerika Serikat luncurkan pesawat bolak-balik Columbia. (Salah)


1 a) Amerika Serikat meluncurkan pesawat bolak-balik Columbia. (Benar)

2) Jaksa Agung, Marzuki Darusman, periksa mantan Presiden Soeharto. (Salah)


2 a) Jaksa Agung, Marzuki Darusman, memeriksa mantan Presiden Soeharto. (Benar)

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia


[Pertemuan 3]
Diksi atau Pilihan Kata 2013
a. Penanggalan awalan ber-
Kata-kata yang berawalan ber- sering menanggalkan awalan ber-. Padahal, awalan ber-
harus dieksplisitkan secara jelas. Dibawah ini dapat dilihat bentuk salah dan benar dalam
pemakaiannya.

1) Sampai jumpa lagi. (Salah)


1 a) Sampai berjumpa lagi. (Benar)

2) Pendapat saya beda dengan pendapatnya (Salah)


2 a) Pendapat saya berbeda dengan pendapatnya. (Benar)

c. Peluluhan bunyi /c/


Kata dasar yang diawali bunyi /c/ sering menjadi luluh apabila mendapat awalan me-.
Padahal, sesungguhnya bunyi /c/ tidak luluh apabila mendapat awalan me-.

Dibawah ini diperlihatkan bentuk salah dan bentuk benar.


1) Wakidi sedang menyuci mobil. (Salah)
1 a) Wakidi sedang mencuci mobil (Benar)

2) Eka lebih menyintai Boby daripada menyintai Roy. (Salah)


2 a) Eka lebih mencintai Boby daripada mencintai Roy. (Benar)

d. Penyengauan Kata Dasar


Ada lagi gejala penyengauan bunyi awal kata dasar. Penyengauan kata dasar ini
sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Akhirnya pencampuradukan
antara ragam lisan dan ragam tulis menimbulkan suatu bentuk kata yang salah dalam
pemakaian. Kita sering menemukan penggunaan kata-kata, nyopet, mandang, ngail, ngantuk,
nabrak, nanam, nulis. Nyubit, ngepung, nolak, nyuap dan nyari. Dalam bahasa Indonesia baku
tulis, kita harus menggunakan kata-kata mencopet, memandang, mengail, mengantuk,
menabrak, menanam, menulis, mencubit, mengepung, menolak, mencabut, menyuap dan
mencari.

e. Bunyi /s/, /k/. /p/, dan /t/ yang tidak luluh.


Kata dasar yang bunyi awalnya /s/, /k/. /p/, atau /t/ serint tidak luluh jika mendapat
awalan me- atau pe-. Padahal, menurut kaidah baku bunyi-bunyi itu harus lebur menjadi bunyi
sengau. Dibawah ini dibedakan bentuk salah dan benar benar dlam pemakaian sehari-hari.

1) Eksistensi Indoensia sebagai Negara pensuplai minyai sebaiknya dipertahankan. (Salah)


1 a) Eksisten Indonesia sebgai Negara penyuplai minyai sebaiknya dipertahankan. (Benar)
(Nurul Hidayah, SKM)

2) Bangsa Indonesia mampu mengkikis habis paham komunis sampai ke akar-akarnya.


(Salah)
2 a) Bangsa Indonesia mampu mengikis habis paham komunis sampai ke akar-akarnya
(Benar)
Kaidah peluluhan bunyi s, k, p, dan t tidak berlaku pada kata-kata yang dibentuk dengan
gugus konsonan. Kata traktor apabila diberi berawalan me-, kata ini akan menjadi mentraktor
bukan menraktor. Kata proklamasi apabila diberi berawalan me kata itu akan menjadi
memproklamasikan.

f. Awalan ke- yang keliru


Pada kenyataan sehari-hari, kata-kata yang seharusnya berawalan ter- sering diberi
berawalan ke-. Hal itu disebabkan oleh kekurangcermatan dalam memilih awalan yang tepat.

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia


[Pertemuan 3]
Diksi atau Pilihan Kata 2013
Umumnya, kesalahan itu dipengaruhi oleh bahasa daerah (Jawa/Sunda). Dbawah ini
dipaparkan bentuk salah dan bentuk benar dalam pemakaian awalan.

1) Pengendara motor itu meninggal karena ketabrak oleh metro mini. (Salah)
1 a) Pengendara motor itu meninggal karena tertabrak oleh metro mini. (Benar)

2) Dompet saya tidak kebawa karena waktu berangkat, saya tergesa-gesa. (Salah)
2 a) Dompet saya tidak terbawa karena waktu berangkat, saya tergesa-gesa. (Benar)

Perlu diketahui bahwa awalan ke- hanya dapat menempel pada kata bilangan. Selain di
depan kata bilangan, awalan ke- tidak dapat dipakai. Pengecualian terdapat pada kata kekasih,
kehendak, dan ketua. Oleh sebab itu, kata ketawa, kecantol, keseleo, kebawa, ketabrak bukanlah
bentuk baku dalam bahasa Indonesia. Bentuk-bentuk yang benar ialah kedua, ketiga, keempat,
kesepuluh, keseribu dn seterusnya.

g. Pemakaian Akhiran ir
Pemakaian akhiran ir sangat produktif dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-
hari. Padahal, dalam bahasa Indonesia baku, untuk padanan akhiran ir adalah asi atau isasi.
Dibawah ini diungkapkan bentuk yang salah dan bentuk yang benar.

1) Saya sanggup mengkoordinir kegiatan itu. (Salah)


1 a) Saya sanggup mengkoordinasi kegiatan itu. (Benar)

2) Sukarno-Hatta memproklamirkan Negara Republik Indonesia. (Salah)


2 a) Sukarno-Hatta memproklamasikan negera Republik Indonesia. (Benar)

Perlu diperhatikan, akhiran asi atau isasi pada kata-kata lelenisasi, turinisasi,
neonisasi, radionisasi, pompanisasi dan koranisasi merupakan bentuk yang salah karena kata
dasarnya bukan kata serapan dari bahasa asing. Kata-kata itu harus diungkapkan menjadi usaha
peternakan lele, usaha penanaman turi, usaha pemasangan neon, gerakan kemasyarakatan
radio, gerakan pemasangan pompa, dan usaha memasyarakatkan kosan.

h. Padanan yang tidak serasi


Karena pemakai bahasa kurang cermat memilih padanan kata yang serasi, yang muncul
dalam pembicaraan sehari-hari adalah padanan ang tidak sepadan atau tidak serasi. Hal itu
terjadi karena dua kaidah bahasa bersilang atau bergabung dalam sebuah kalimat. Dibawah ini
dipaparkan bentuk salah dan bentuk benar terutama dalam memakai ungkapan penghubung
intrakalimat.
(Nurul Hidayah, SKM)

1) Karena modal di bank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh
kredit . (Salah)
1 a) Karena modal di bank terbatas, sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh
kredit. (Benar)

2) Apabila pada hari itu saya berhalangan hadir , maka rapat akan akan dipimpin oleh Sdr.
Daud. (Salah)
2 a) Apabila pada hari itu saya berhalangan hadir, rapat akan dipimpin oleh Sdr Daud . (Benar)

Bentuk-bentuk diatas adalah bentuk yang menggabungkan kata karena dan sehingga,
kata apabila dan maka, dan kata walaupun dan tetapi, penggunaan dua kata itu dalam sebuah
kalimat yang tidak begitu diperlukan

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia


[Pertemuan 3]
Diksi atau Pilihan Kata 2013
Bentuk-bentuk lainya yang merupakan padanan yang tidak serasi adalah disebabkan
karena, dan lain sebgainya, karena. maka, untuk .. maka, meskipun..tetepi, kalau
maka dan sebagainya.

Bentuk yang baku untuk mengganti padanan itu adalah disebabkan oleh, dan lain-lain,
atau dan sebagainya; karena/untk/kalau saja tanpa diikuti maka, atau maka saja tanpa tanpa
didahului oleh karena/untuk/kalau, meskipun saja tanpa disusul tetapi atau tetapi saja tanpa
didahului meskipun.

i. Pemakaian Kata Depan di, ke, dari, bagi, pada, daripada dan terhadap
Dalam pemakaian sehari-hari, pemakaian di, ke, dari, bagi, dan daripada sering
dipertukarkan. Dibawah ini dipaparkan bentuk benar dan bentuk salah dalam pemakaian kata
depan.
1) Putusan daripada pemerintah itu melegakan hati rakyat. (Salah)
1 a) Putusan pemerintah itu melegakan hati rakyat. (Benar)

2) Meja ini terbuat daripada kayu. (Salah)


2 a) Meja ini terbuat dari kayu. (Benar)

j. Pemakaian Akronim (Singkatan)


Kita membedakan istilah "singkatan" dengan "bentuk singkat". Yang dimaksud dengan
singkatan PLO, UI dan lain-lain. Yang dimaksud dengan bentuk singkat ialah lab (laboratorium),
memo (memorandum) dan lain-lain. Pemakaian akronim dan singkatan dalam bahasa Indonesia
kadang-kadang tidak teratur. Singkatan IBF mempunyai dua makna, yaitu Internasional Boxing
Federation dan Internasional Badminton Federation. Oleh sebab itu, pemakaian akronim dan
singkatan sedapat mungkin dihindari karena menimbulkan berbagai tafsiran terhadap akronim
atau singkatan itu. Singkatan yang dapat dipakai adalah singkatan yang sudah umum dan
maknanya telah mantap. Walaupun demikian, agar tidak terjadi kekeliruan kalau hendak
mempergunakan bentuk akronim atau singkatan dalam suatu artikel atau makalah serta sejenis
dengan itu, akronim atau singkatan itu lebih baik didahului oleh bentuk lengkapnya.

k. Penggunaan Kesimpulan, Keputusan, Penalaran dan Pemukiman


Kata-kata kesimpulan bersaing pemakaiannya dengan kata simpulan, kata keputusan bersaing
pemakaiannya dengna kata putusan, kata pemukiman bersaing dengan kata permukiman, kata
penalaran bersaing dengan kata pernalaran. Lalu, bentukan yang manakah yang sebenarnya
paling tepat? Apakah yang tepat kesimpulan dan yang salah simpulan, ataukah sebaliknya.
Apaka yang tepat keputusan dan yang salah putusan ataukah sebaliknya. Mana yang benar
penalaran ataukah pernalaran; kata pemukiman atau permukiman?
Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya mengikuti pola yang rapid dan
konsisten. Kalau kita perhatikan dengan seksama, bentukan-bentukan kata itu memiliki
(Nurul Hidayah, SKM)

hubungan antara satu dengan lain. Dengan kata lain, terdapat korelasi di antara berbagai
bentukan tersebut. Perhatikanlah, misalnya verba yang berawalan meng- dapat dibentuk
menjadi nomina yang bermakna "proses" yang berimbuhan peng-an dan dapat pula dibentuk
menjadi nomina yang bermakna "hasil" yang berimbuhan an. Perhatikan keteraturan
pembentukan kata berikut.

tulis, menulis, penulis, penulisan, tulisan

pilih, memilih, pemilih, pemilihan, pilihan

bawa, membawa, pembawa pembawaan, bawaan

pakai, memakai, pemakain, pemakaian, pakaian

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia


[Pertemuan 3]
Diksi atau Pilihan Kata 2013

Ada lagi pembentukan kata yang mengikuti pola berikut.

tani, bertani, petani, pertanian

tinju, bertinju, petinju, pertinjuan

silat, bersilat, pesilat, persilatan

mukim, bermukim, pemukim, permukiman

gulat, bergulat, pegulat, pergulatan

Kelompok kata dibawah ini mengikut cara yang lain.

satu, bersatu, mempersatukan, pemersatu, persatuan

solek, bersolek, mempersolek, pemersolek, persolekan

oleh, beroleh, memperoleh, pemeroleh, perolehan

Berdasarkan kaidah diatas, bentukan-bentukan berikut dipandang kurang konsisten.


Contoh:
1) Karya ilmiah harus mengandung bab pendahuluan, analisis, dan kesimpulan. (kurang
rapi)
1 a) Karya ilmiah harus mengandung bab pendahuluan, analisis, dan simpulan. (lebih rapi)

2) Sesuai dengan keputusan pemerintah, bea masuk barang mewah dinaikkan menjadi 20%.
(Kurang rapi)
2 a) Sesuai dengan putusan pemerintah, bea masuk barang mewah dinaikkan menjadi 20%.
(lebih rapi)

l. Penggunaan Kata yang Hemat


Salah satu ciri pemakaian bahasa yang efektif adalah pemakaian bahasa yang hemat
kata, tetapi padat isi. Namun, dalam komunikasi sehari-hari sering dijumpai pemakaian kata
yang tidak hemat (boros). Berikut ini didaftar kata yang sering digunakan tidak hemat itu.

Boros Hemat
(Nurul Hidayah, SKM)

1. sejak dari sejak atau dari


2. agar supaya agar atau upaya
3. demi untuk demi atau untuk
4. adalah merupakan adalah atau merupakan
5. seperti... dan sebagainya seperti atau sebagainya
6. misalnya. dan lain-lain misalnya atau lain-lain
7. antara lain.dan seterusnya antara lain atau dan seterusnya
8. tujuan daripada pembangunan tujuan pembangunan
9. mendeskripsikan tentang hambatan mendeskripsikan hambatan
10. berbagai factor-faktor berbagai factor
11. daftar nama-nama pesrta daftar nama peserta
12. mengadakan penelitian meneliti
13. dalam rangka untuk mencapai tujuan untuk mencapai tujuan

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia


[Pertemuan 3]
Diksi atau Pilihan Kata 2013
14. berikhtian dan berusaha untuk berusaha mengawasi
Memberikan pengawasan
15. mempunyai pendirian berpendirian
16. melakukan penyiksaan menyiksa
17. menyatakan persetujuan menyetujui
18. apabila maka apabila , tanpa kata penghubung
19. walaupun., namun walaupun, tanpa kata namun
20. berdasarkan, maka berdasarkan, tanpa maka
21. karena., sehingga karena., tanpa sehingga atau tanpa
karena. Sehingga
22. namun demikian, namun, tanpa demikian
walaupun demikian
23. sangat. sekali sangat tanpa sekali, atau sekali tanpa
sangat

Mari kita lihat perbandingan pemakaian kata yang boros dan hemat berikut.
Contoh:
1) Apabila suatu reservoir masih mempunyai cadangan minyak, maka diperlukan tenaga
dorong buatan untuk memproduksi minyak lebih besar. (Soros, Salah)
1 a) Apabila suatu reservoir masih mempunyai cadangan minyak, diperlukan tenaga dorong
buatan untuk memproduksi minyak lebih besar.. (Hemat, Benar)

2) Untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak dan gas bumi di mana sebagai sumber
devisa Negara diperlukan tenaga ahli yang terampil di bidang geologi dan perminyakan.
(Salah)
2 a) Untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi minyak dan gas bumi yang merupakan
sumber devisa Negara diperlukan tenaga ahli yang terampil di bidang geologi dan
perminyakan. (Benar)

Pemakaian kata yang boros seperti sejak dari, adalah merupakan, demi untuk, agar
supaya, dan zaman dahulu kala juga harus dihindari.

m. Analogi
Didalam dunia olahraga terdapat istilah petinju. Kata petinju berkorelasi dengan kata
bertinju. Kata petinju berarti orang yang (biasa) bertinju; bukan 'orang yang (biasa) meninju'.

Dewasa ini dapat dijumpai banyak kata yang sekelompok dengan petinju, seperti
pesenam, pesilat, pegolf, peterjun, petenis dan peboling. Akan tetapi, apakah semua kata
dibentuk dengan cara yang sama dengan pembentukan kata petinju? Jika harus dilakukan
demikian, akan tercipta bentukan seperti berikut ini.
(Nurul Hidayah, SKM)

petinju 'orang yang bertinju'

pesenam 'orang yang bersenam'

pesilat 'orang yang bersilat'

peski 'orang yang berski

peselancar 'orang yang berselancar

Kata bertinju, bersenam dan bersilat mungkin biasa digunakan, tetapi kata bergolf,
beterjun, bertenis dan berboling bukan kata yang lazim.

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia


[Pertemuan 3]
Diksi atau Pilihan Kata 2013
n. Bentuk Jamak dalam Bahasa Indonesia
Dalam pemakaian sehari-hari kadang-kadang orang salah menggunakan bentuk jamak
dalam bahasa Indonesia sehingga terjadi bentuk yang rancu atau kacau. Bentuk jamak dalam
bahasa Indonesia dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Bentuk jamak dengan melakukan pengulangan kata yang bersangkutan seperti
Kuda-kuda,
Meja-meja dan
Buku-buku

2) Bentuk jamak dengan menambah kata bilangan seperti


beberapa meja,
sekalian tamu,
semua buku,
dua tempat dan
sepuluh computer

3) Bentuk jamak dengan menambah kata Bantu jamak seperti para tamu

4) Bentuk jamak dengan menggunakan kata ganti orang seperti


Mereka, kita
Kami, kalian

Dalam pemakaian kata sehari-hari orang cenderung menulis bentuk jamak asing dalam
menyatakan jamak dalam bahasa Indonesia. Dibawah ini beberapa bentuk jamak dan bentuk
tunggal dari bahasa asing.

Bentuk Tunggal Bentuk Jamak


datum data
alumnus alumni
alim ulama

Dalam bahasa Indonesia bentuk datum dan data yang dianggap baku ialah data yang
dipakai sebagai bentuk tunggal. Bentuk alumnus dan alumni yang dianggap baku ialah bentuk
alumni yang dipakai sebagai bentuk tunggal. Bentuk alim dan ulama kedua-duanya dianggap
baku yang dipakai masing-masing sebagai bentuk tunggal. Oleh sebab itu, tidak salah kalau ada
bentuk Beberapa data, Tiga alumni, dan seterusnya.
(Nurul Hidayah, SKM)

Mata Kuliah: Bahasa Indonesia


[Pertemuan 3]