Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada kingdom animalia, terdapat banyak divisi, banyak kelas, banyak ordo, banyak
famili, banyak genus, dan banyak sekali spesies. Klasifikasi ini terjadi karena adanya
perbedaan antara satu makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya. Semakin
banyak perbedaannya maka akan semakin banyak klasifikasi pada tingkat di
bawahnya. Spesies sebagai urutan klasfikasi yang terakhir membuktikan bahwa satu
spesies dengan spesies yang lainnya semakin memiliki perbedaan. Salah satu spesies
dari kingdom animalia adalah Mabouya multifasciata dan Dendrelaphis pictus yang
merupakan spesies dari Ordo Squamata yang menurut Brotowidjoyo (1994) memiliki
ciri khas yaitu tubuhnya tertutup oleh sisik-sisik kecil yang fleksibel dan tak
memiliki rusuk abdominal.
Pada Ordo Squamata tersebut, terbagi lagi menjadi beberapa famili, dari
famili terbagi lagi menjadi beberapa genus, dan dari genus terbagi lagi menjadi
beberapa spesies. Masing-masing memiliki kesamaan yang umum, namun setiap
famili, setiap genus, dan setiap spesies memiliki perbedaan antara satu dengan
lainnya. Perbedaan yang dilihat disini adalah dari morfologi dan anatominya.
Morfologi berasal dari bahasa yunani yaitu morphos yang artinya bentuk dan logos
yang artinya ilmu. Berarti morfologi adalah ilmu yang khusus dalam mempelajari
bentuk, dalam kata lain juga mempelajari tentang bentuk struktur / bentuk luar dari
sebuah organisme baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Sedangkan anatomi juga
berasal dari bahasa Yunani yaitu ana yang berarti susunan dan tome yang berarti
memotong. Anatomi adalah ilmu yang pertama kali mempraktikkan penyayatan dan
pembedahan demi melihat dan mempelajari struktur tubuh manusia, hewan, maupun
tumbuhan.
Pada anatomi hewan dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu anatomi
hewan bertulang belakang (vertebrata) dan anatomi hewan tak bertulang belakang
(invertebrata). Reptilia termasuk di dalamnya kadal dan ular termasuk ke dalam
hewan vertebrata. Menurut Pough et al. (2009), istilah vertebrata dibagi dari vertebra
yang disusun secara serial untuk membentuk tulang belakang, atau tulang punggung.
Pada diri kita sendiri, seperti pada vertebrata tanah lainnya, vertebra berasal dari
sekitar notokorda selama perkembangan dan juga mengelilingi tali saraf. Tulang
kolom vertebra menggantikan notokorda asli setelah periode embrio. Pada banyak
ikan vertebra terbuat dari tulang rawan daripada tulang sejati.
Reptilia memiliki peranan penting dalam kehidupan, berperan dalam
keseimbangan ekosistem, tidak rusaknya rantai makanan, juga berperan bagi manusia
ketika dapat memanfaatkannya. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ridwan et al.

1
(2001), terbukti bahwa Mabouya multifasciata berpotensi dapat dijadikan sumber
protein dan obat-obatan sekaligus hewan peliharaan. Dan menurut penelitian yang
dilakukan oleh Asri et al. (2015) bahwa Dendrelaphis pictus memiliki manfaat
secara medis sebagai bahan obat-obatan maupun jamu bagi laku-laki. Kulit
Dendrelaphis pictus inipun dapat menjadi bahan baku sandang, dapat diolah menjadi
tas, sepatu dan sebagainya.
Mempelajari morfologi dan anatomi Mabouya multifasciata dan
Dendrelaphis pictus dapat membantu dalam membedakannya dengan hewan-hewan
lain. Sehingga ketika kita melihat hewan tersebut, kita dapat langsung
mengidentifikasi dan mengetahui bahwa hewan tersebut adalah benar dengan apa
yang kita pikirkan. Karena setiap spesies memiliki keunikan masing-masing.
Memiliki ciri-ciri yang hanya dimiliki oleh spesies tersebut. Memiliki perbedaan
pada morfologi dan anatomi yang berbeda dengan hewan lainnya, termasuk
Mabouya multifasciata dan Dendrelaphis pictus yang memiliki ciri-cirinya sendiri.
Dahulu, cara membedakan organisme diantara reptil adalah dengan cara
melihat dan mengamati kehadiran dan posisi temporal fenestrae, yang merupakan
bukaan di daerah temporal tengkorak yang mengakomodasi otot rahang (Linzey,
2003). Karena itu mempelajari tentang morfologi dan anatomi Mabouya
multifasciata dan Dendrelaphis pictus sangat penting karena seiring berkembangnya
zaman, data tentang reptilia ini juga terus di-update. Kita dapat membedakan dan
bahkan menemukan atau membuat data terbaru dalam membedakan reptilia bila kita
mempelajari morofologi dan anatominya.
Selain itu, dengan mempelajari morfologi dan anatomi Mabouya
multifasciata dan Dendrelaphis pictus, kita dapat lebih memanfaatkannya, dapat
mengelolanya dengan lebih baik karena tau karakteristik Mabouya multifasciata dan
Dendrelaphis pictus sehingga dapat memahami manfaat ataupun pengolahan yang
bisa dilakukan dari tubuh Mabouya multifasciata dan Dendrelaphis pictus. Juga
dengan begitu dapat mengembangbiakkannya ataupun mempertahankan
eksistensinya di bumi agar tidak menuju kepunahan karena dari morfologi dan
anatomi ular tambang dan kadal tersebut dapat diketahui juga makanan apa dan
lingkungan seperti apa yang cocok untuknya.
Dilatar belakangi penjelasan inilah praktikum struktur hewan tentang reptilia
yaitu Mabouya multifasciata dan Dendrelaphis pictus yang mempelajari morfologi
dan anatomi hewan tersebut dilakukan. Dengan begitu kita dapat melihat bentuk,
warna, tekstur hewan tersebut dan dengan ilmu anatomi dapat dilakukan pembedahan
untuk melihat warna, bentuk, dan letak organ serta susunan organ yang
membentuknya menjadi sistem organ dengan fungsi yang berbeda-beda.

1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk mengetahui bentuk morfologi,
anatomi, sistem otot serta pertulangan dari kelompok reptilia.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Banyak ordo (bangsa-bangsa) dalam kelas reptilia, termasuk ordo yang telah punah
yaitu Dinosaurus dan Pterydactyla. Dan masih terdapat satu ordo primitif yang hidup
di Selandia Baru yaitu ordo Sphenodon punctatum yang memiliki ciri-ciri berupa
mata pineal (komis sebagai modifikasi badan pineal). Ciri-ciri ini biasa terdapat pada
vertebrata rendah. Karena itu ordo ini mendapat perhatian dari peneliti terkait
evolusinya (Brotowidjoyo, 1994).
Karakteristik morfologi Reptil adalah memiliki kulit bersisik tanpa kelenjar,
bulu, rambut maupun kelenjar susu seperti yang terdapat pada mamalia. Sisik pada
reptil tidak seperti sisik pada ikan. Bila pada ikan sisiknya saling terpisah, maka tidak
demikian yang ada pada reptil karena reptil memiliki sisik yang saling menyatu.
Warna kulit beragam, mulai dari warna yang menyerupai lingkungannya sampai
warna yang membuat reptil mudah terlihat. Semua reptil tidak memiliki telinga
eksternal. Pada sebagian besar reptil dapat dilihat perbedaan antara jantan dan
betinanya dengan melihat pada ukuran dan bentuk yang berbeda, maupun warna
tubuh dewasa yang berbeda antara jantan dan betina (Anggrani et al., 2014).
Pada kelas reptilia terdapat 3 jenis tengkorak yang umum dibedakan, dan
biasa menjadi landasan klasifikasi reptilia. Jenis tengkorak itu yang pertama adalah
Anapsid yaitu tipe tengkorak yang tidak memiliki bukaan temporal di belakang mata
soket. Dengan kata lain, memiliki tengkorak yang solid tanpa bukaan. Yang kedua
adalah Synapsid yang memiliki satu pasang bukaan di tengkorak terkait dengan
pelekatan otot rahang. Dan yang ketiga adalah Diapsid yaitu tipe yang memiliki dua
pasang bukaan di langit-langit tengkorak (Linzey, 2003).
Ordo yang terkenal dalam kelas reptilia ada tiga yaitu Ordo Chelonia, Ordo
Crocodilia, dan Ordo Squamata. Ciri umum Ordo Chelonia adalah dengan melihat
skeleton yang sebagian bermodifikasi menjadi karapaks (perisai dorsal), dan
plastron (perisai ventral). Rahang-rahangnya berzat-tanduk dan tidak memiliki gigi.
Biasa hidup di air laut, air tawar, ataupun di darat. Bentuk tubuhnya lebar. Karapaks
keras dan bersatu di sisi tubuh dengan plastron. Perisainya tertutup oleh skutum
poligonal. Memiliki tulang kuadrat yang tidak dapat digerakkan. Rusuk-rusuknya
bersatu dengan perisai dorsal. Anus pada ordo ini berupa celah melintang.
Berkembangbiak dengan cara ovipar, di mana telur diletakkan di dalam lubang yang
telah digali oleh betina. Contoh pada Ordo Chelonia adalah kura-kura dan penyu
(Brotowidjoyo, 1994).
Lalu ada Ordo Crocodilla (Loricata) dimana hewan-hewan dari ordo ini
adalah kelas reptilia yang ukurannya besar, berkulit tebal, dengan rusuk-rusuk yang
abdominal. Bilik (ventrikel) jantung terbagi sempurna menjadi ventrikel kiri dan
ventrikel kanan. Biasa hiduo di air laut dan air tawar. Tubuhnya panjang dengan

3
kepala yang besar dan panjang. Rahangnya sangat kuat namun memiliki gigi-gigi
yang tumpul (konis). Kaki berjumlah dua pasang yaitu sepasang kaki depan dan
sepasang kaki belakang, berukuran pendek dan jari-jarinya disertai dengan adanya
kuku. Ekor panjang dan pipih. Kulit tebal dengan skutumnya yang bertanduk.
Lubang tekinga berukuran kecil, tertutupi oleh kulit. Lidah tak dapat dijulurkan. Tak
mempunyai kandung kemih. Dan berkembng biak secara ovipar di mana telur
diletakkan di dalam daun-daun yang membusuk (Brotowidjoyo, 1994).
Berikutnya adalah Ordo Squamata yang memiliki ciri-ciri umum di mana
tubuhnya tertutup dengan sisik-sisik yang kecil yang fleksibel. Tidak ada rusuk
abdominal (Brotowidjoyo, 1994). Ordo Squamata terbagi menjadi dua subordo yaitu
Subordo Sauria (Lacertilia) dan Subordo Serpentes (Ophidia) (Radiopoetro, 1996).
Subordo Sauria (Lacertilia) memiliki ciri-ciri morfologi tubuh memanjang,
tertekan lateral. Kaki empat, kuat dapat digunakan untuk memanjat. Kelopak mata
dapat digerakkan. Memiliki mulut yang lengkap dan gendang telinga dapat dilihat
dari luar. Kulit tertutup sisik yang tersusun seperti susunan genting, sisik ini bersifat
lunak. diketahui terdapat 3000 spesies kadal (Brotowidjoyo, 1994). Kedua rahang
bawah bersatu, sehingga hewan kurang bisa membuka mulutnya. Kadal dan
salamandra mempunyai bentuk tubuh yang sejenis. Akan tetapi bedanya, salamandra
mempunyai kulit yang licin dan basah, serta jari-jari yang tidak memiliki kuku.
Sedangkan kadal sebaliknya, kulit kering dan bersquama, serta jari-jari memiliki
kuku. Terdapat kadal berukuran besar hingga 4 m yang berada di Flores yaitu
Varanus komodoenis (Radiopoetro, 1996).
Sistem skeleton dari Subordo Sauria adalah vertebra ekor tidak menulang
secara sempurna, ekornya mudah putus, namun cacat mengalami regenerasi.
Kolumna vertebrae terbagi menjadi servikal, toraks, lumbar, sakral, dan kaudal.
Terdapat tulang rusuk yang bebas. Sebagian tulang-tulang terdiri atas kartilago.
Kolumna vertebralis dengan otot-otot yang segmental dan terlihat jelas
(Brotowidjoyo, 1994).
Sistem pencernaan dari Subordo Sauria dimulai dari mulut yang lidahnya
dapat dijulurkan keluar dengan mudah (bebas) dan memiliki gigi-giginya yang
melekat pada rahang. Dilanjutkan ke faring, esofagus, dan lambung. Lambung
dengan bagian fundus dan pilorus. Dari lambung menuju intestinum, rektum, dan
terakhir kloaka. Hati serta pankreasnya berpembuluh ke intestinum. Kloaka untuk
mengeluarkan sisa pencernaan, ekskret, dan untuk reproduksi. Sistem respirasi
dimulai dari lubang hidung ke hidung dalam (di belakang velum) kemudian menuju
glottis (dalam faring), trakea, bronki yang berjumlah dua, dan dilanjutkan ke paru-
paru dengan kapiler-kapiler di dalamnya (Brotowidjoyo, 1994).
Sistem sirkulasi Subordo Sauria yaitu berpusat pada jantung yang terdiri dari
sinus venosus, dua aurikel, dan dua ventrikel yang telah terbagi sempurna. Darah
bermula dari sinus venosus ke aurikel kanan, ventrikel kanan, arteri pulmonar
(bercabang dua), vena paru-paru, aurikel kiri, kemudian menuju ventrikel kiri. Dari
ventrikel kiri keluar lengkung aorta menuju dorsal, arteri karotis menuju kepala dan

4
kaki depan. Sirkulasi darah ke belakang menyebarkan darah ke seluruh tubuh, kaki
belakang, serta ekor. Darah vena berkumpul dalam vena cava anterior (pada kedua
belah sisi kepala dan leher), vena cava posterior, vena porta hepatis, yang kemudian
menjadi vena hepatis, dan dalam vena epigastrikum yang seluruh alirannya kembali
ke sinus venosus tersebut (Brotowidjoyo, 1994).
Sistem ekskresi Subordo Sauria terdapat kandung kemih, namun kotoran /
ekskret bersifat semisolid (setengah kurus) seperti pda burung, dan dikeluarkan
langsung melalui kloaka bersama tinja. Pada bagian dari air kencing ekskret terdapat
urat, bahan berwarna putih, biasanya sebagai garam Na dan mengandung zat kapur.
Sistem saraf dan sensori pada kadal yaitu otak yang terdiri dari dua lobus olfaktorius
yang panjang, hemisfer, 2 lobus optikus, serebellum, dan medulla oblongata yang
berlanjut menuju korda saraf. Di bawah hemisfer terdapat indundibulum dan
hipofisis. Terdapat 12 pasang saraf kranial dengan pasangan-pasangan saraf spinal
pada tiap somit tubuh (Brotowidjoyo, 1994).
Reproduksi dan perkembangannya masuk dalan fertilisasi internal. Kadal
jantan memiliki alat kelamin khusus yaitu hemipenis yang terletak di dekat kloaka.
Kebanyakan perkembangan telur terjadi di alam bebas tapi kadang-kadang jika
keadaan tidak memungkinkan kadal betina akan akan menahan telur yang telah
dibuahi (ovipar atau ovovivipar) (Brotowidjoyo, 1994).
Subordo Serpentes (Ophidia) tidak mempunyai kaki. Namun pada Phyton dan
Boa masih mempunyai sisa-sisa dari pelvis dan extremitates posterior. Dapat
bergerak maju dengan pertolongan musculus undulans yang berada di sebelah lateral
tubuh dan karen pergerakan dari squamae yang berada di sebelah ventral dan
tersusun transversal. Ular tidak mempunyai celah auris externa dan membrana
tympani. Palpebrae juga tidak ada. Mata terlindungi oleh membrana nictitans yang
tetap dan transparant (Radiopoetro, 1996).
Ular (termasuk dalam Subordo Ophidia) adalah reptilia yang kehilangan
apendiks, sternum, kelopak mata, telinga luar. Gigi tumbuh pada rahang dan tulang
langit-langit mulut dengan posisi gigi yang mengarah ke belakang untuk menahan
mangsanya. Ular berbisa memiliki sepasang taring pada maksila yang berguna untuk
menyalurkan bisanya. Lidah pada ular panjang, sempit, dan bercabang dua di
ujungnya. Meski dengan mulut tertutup lidah dapat dijulurkan ke luar melalui lekuk
rahang bawah (Brotowidjoyo, 1994). Sedangkan menurut Anggrani et al. (2014),
Ular adalah reptil yang tidak memiliki kaki, kelopak mata, atau telinga eksternal.
Seluruh tubuhnya tertutup oleh sisik. Jumlah, bentuk dan penataan sisik ular dapat
digunakan untuk mengidenifikasi jenis ular. Ukuran tubuh ular berkisar dari 10 mm
sampai 10 m. Ular terpanjang berasal dari famili Pythonidae. Sebagian besar ular
berukuran antara 45-200 cm, dan 10-20% dari panjang tersebut adalah panjang ekor.
Sistem pencernaan pada Subordo Ophidia berupa saluran lurus dimulai dari
mulut hingga ke anus. Semua organ internal dalam tubuh ular berbentuk memanjang
sesuai dengan kondisinya. Subordo Ophidia hanya memiliki satu paru-paru yaitu

5
paru-paru kiri saja. Pada ular jantan terdapat organ khusus yaitu hemipenis sebagai
alat kopulasi (Brotowidjoyo, 1994).
Jumlah vertebrae (tulang belakang) pada ular tergantung pada panjang ular
tersebut (dapat berjumlah 200 bahkan 400). Otot-otot tubuhnya menghubungkan
antara vertebrae dengan vertebrae, vertebrae dengan rusuk, rusuk dengan rusuk,
rusuk dengan kulit, dan kulit dengan kulit. Otot-otot tersebut dapat memiliki panjang
melebihi jarak yang ada sehingga memungkinkan ular dapat bergerak melingkar-
lingkar. Ular juga dapat bergerak lurus ke depan, cara bergerak dengan meluncur dan
dengan bantuan sisik-sisik ventral yang berada di tanah (di bagian dorsal), atau
melekukkan tubuh dengan membuat sudut yang tajam (Brotowidjoyo, 1994).
Sistem sirkulasi atau peredaran darah pada ular yaitu ganda tertutup yaitu dua
kali melewati jantung dan darah tidak keluar dari pembuluh darah. Darah yang
datang dari seluruh tubuh akan masuk pada bagian atrium kanan yang membawa
darah dari seluruh tubuh yang kaya akan karbondioksida dan setelah itu akan
mengalir ke bagian ventrikel kanan yang kemudian akan di pompa ke paru-paru
untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida. Kemudian proses kedua
dalam sirkulasi yaitu darah yang telah banyak mengandung oksigen akan di pompa
kembali ke atrium kiri dan dari atrium kiri akan mengalir ke dalam ventrikel kiri
yang kemudian darah akan di pompa ke seluruh tubuh untuk proses metabolisme dan
kebutuhan sel lainnya (Jasin, 1992).
Sistem respirasi ular pada saat inspirasi yaitu mulai dari lubang hidung, yaitu
udara akan masuk melewati lubang hidung, menuju ke trakea dan kemudian ke paru-
paru. Begitu juga ketika ekspirasi, setelah oksigen yang masuk pada tubuh ular dan
di pakai dalam proses metabolisme dan aktivitas tubuh maka dihasilkan
karbondioksida yang kemudian akan dikeluarkan melalui proses ekspirasi, yaitu
udara yang terdapat dalam tubuh ular akan dikeluarkan melalui trakea dan berujung
pada hidung (Jasin, 1992).

6
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum Anatomi Reptilia ini dilaksanakan pada Hari Selasa, 29 Agustus 2017
pukul 13.00-16.00 WIB, di Laboratorium Teaching II, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.

3.2 Alat Dan Bahan


3.2.1 Alat
Alat yang digunakan pada praktikum Anatomi Amphibi adalah bak bedah, killing
bottle, kertas reject, gunting bedah, sarung tangan, plastik, masker, tisu, kapas serta
penjepit / pinset mata.
3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah sepasang Dendrelaphi pictus dan sepasang Mabouya
multifasciata, kloroform, dan sabun.

3.3 Cara Kerja


3.3.1 Pengamatan Morfologi
Pengamatan morfologi pada ular dan kadal dilakukan melalui pengamatan secara
langsung terhadap tubuh luar ular dan kadal. Dendrelaphis pictus dan Mabouya
multifasciata disediakan sebanyak masing-masing satu pasang dalam keadaan hidup,
lalu ular dan katak dilumpuhkan dengan cara mengambil segulung kapas kemudian
diberi kloroform sampai kapas basah separuhnya setelah itu masukkan kapas basah
tersebut kedalam killing bottle. Selanjutnya masukkan ular dan kadal dalam toples
sampai ular dan kadal tersebut lumpuh. Setelah ular dan kadal lumpuh, ular dan
kadal diletakkan di atas bak bedah. Tusuk beberapa bagian menggunakan jarum,
diamati morfologi katak jantan dan katak betina. Hasil pengamatan difoto.
3.3.2 Pengamatan Sistem Otot
Pengamatan sistem otot pada ular dan kadal dilakukan dengan cara kulit
Dendrelaphis pictus dan Mabouya multifasciata ditarik dengan pinset mata dan
digunting menggunakan gunting bedah mulai dari bagian kloaka hingga ujung caput-
nya. Kulit Dendrelaphis pictus dan Mabouya multifasciata yang tidak menyatu
dengan ototnya mempermudah dalam pengamatan otot dari Dendrelaphis pictus dan
Mabouya multifasciata. Setelah diamati, hasil pengamatan difoto.

7
3.3.3 Pengamatan Anatomi
Pengamatan anatomi pada ular dan kadal dimulai dengan pembedahan otot pada ular
dan kadal, pembedahan dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak organ-organ
dalam pada Dendrelaphis pictus dan Mabouya multifasciata. Setelah badan
Dendrelaphis pictus dan Mabouya multifasciata terbuka dan seluruh organ dalam
Fejervarya cancrivora terlihat jelas terlebih dahulu dilakukan pembersihan lemak-
lemak yang menempel pada organ-organ ular dan kadal agar dapat memudahkan kita
dalam memisahkan organ-organ yang terdapat pada ular dan kadal nantinya, setelah
itu semua organ pada ular dan kadal diuraikan di atas kertas reject agar dapat
diamati. Setelah pengamatan, dicatat dan difoto.
3.3.4 Pengamatan Sistem Pertulangan
Pengamatan sistem pertulangan pada ular dan kadal merupakan langkah terakhir
dalam pengamatan di praktikum. Caranya dengan membersihkan otot-otot pada
Dendrelaphis pictus dan Mabouya multifasciata agar rangkanya dapat diamati.
Setelah itu pengamatan dicatat dan difoto.

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4..1 Morfologi Reptilia


4.1.1 Morfologi Dendrelaphis pictus
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil morfologi
Dendrelaphis pictus sebagai berikut:

Gambar 1. Morfologi Dendrelaphis pictus (1) mulut, (2) hidung, (3) mata, (4) caput,
(5) truncus, (6) cauda, (7) kloaka

Hasil pengamatan morfologi ular tambang (Dendrelaphis pictus) didapatkan hasil


bahwa tubuh Dendrelaphis pictus memiliki tubuh yang panjang tanpa memiliki kaki.
Kulitnya bersisik dan tidak berlendir, lidahnya panjang dengan ujung yang terbelah
dua. Mata tidak memiliki kelopak namun memiliki membran tipis yang
melindunginya yang disebut membran nictitans, lubang hidung pada muncung dan
lubang telinga berada di dalam. Ular ini juga tidak memiliki membran tympani.
sesuai dengan pendapat Radiopoetro (1996) bahwa ular tidak mempunyai celah auris
externa dan membrana tympani. Mata terlindungi oleh membrana nictitans yang
tetap dan transparant. Dan menurut Brotowidjoyo (1994), ular adalah reptilia yang
kehilangan apendiks, sternum, kelopak mata, telinga luar. Lidah pada ular panjang,
sempit, dan bercabang dua di ujungnya. Meski dengan mulut tertutup lidah dapat
dijulurkan ke luar melalui lekuk rahang bawah (Brotowidjoyo, 1994).
Karakter morfologi Dendrelaphis pictus yaitu gigi maksila 23 hingga 26,
panjang mata sepanjang jarak mata ke nostril. Rostral lebih lebar daripada tingginya
dan dapat dilihat dari dorsal. Internasal sepanjang atau lebih pendek sedikit dari
prefrontal. Frontal sepanjang jaraknya dari rostral atau ujung dari moncong, lebih
pendek dari parietal. Loreal panjang, satu pre- dan dua postokular. Temporal 2+2,
1+1 atau 1+2. Tujuh hingga sembilan labial atas, sisik kelima dan ke enam atau

9
keempat hingga keenam menyentuh mata. Empat atau lima labial bawah menyentuh
dengan chin shield anterior yang semakin ke posterior semakin pendek. Sisik 15
baris, vertebral sama besar dengan sisik yang bersusun memanjang di dorsal
vertebra. Ventral 151 hingga 204. Anal membelah, subcaudal 103 hingga 174.
Panjang kepala dan tubuh 740 mm, dan ekor 440 mm (Bourret, 1935).
Dapat dilihat perbedaan morfologi antara Dendrelaphis pictus jantan dan
betina yaitu pada D. pictus jantan memiliki warna yang lebih indah, lebih terang dan
agak kehijauan dibandingkan dengan D. pictus betina. Ukuran tubuh pada yang
jantanpun lebih besar ketimbang pada ukuran tubuh betina bila diukur dalam umur
yang sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Anggrani et al. (2014) bahwa pada
sebagian besar reptil dapat dilihat perbedaan antara jantan dan betinanya dengan
melihat pada ukuran dan bentuk yang berbeda, maupun warna tubuh dewasa yang
berbeda antara jantan dan betina.

4.1.2 Morofologi Mabouya multifascilata


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil morfologi Mabouya
multifascilata sebagai berikut:

1 2
3 11
4
6
5 12
7
10
9
8

13

Gambar 2. Morfologi Mabouya multifascilata (1) mulut, (2) hidung, (3) mata, (4)
carpal, (5) brachium, (6) antebrachium, (7) femur, (8) crus, (9) digiti,
knknknkknkknm(11) caput, (12) truncus, (13) cauda

Tubuh Mabouya multifasciata terdiri dari empat bagian utama yaitu caput (kepala),
cervix (dada), truncus (badan) dan cauda (ekor). Memiliki sepasang mata, dua lubang
hidung dan sepasang telinga di bagian dalam. Mata Mabouya multifasciata
dilindungi oleh membran nictitans. Kulitnya tertutupi oleh sisik bersquama dan tidak
berlendir. Bergerak dengan cara melata menggunakan dua pasang kakinya yang
masing-masing terdiri dari tiga jari. Ekor kadal memiliki ukuran yang panjang.
Menurut Radiopoetro (1996), tanda umum / karakteristiknya adalah badan
tertutup oleh squamae yang menanduk dan tidak berlendir. Memiliki dua pasang kaki
dengan tiga digiti yang berfalculer. Badan terdiri atas caput, cervix, truncus, dan
cauda. Bentuk caput agak pyramidal, meruncing ke arah rostral, dan memipih ke

10
dalam arah dorsaventral. Pada caput terdapat rima oris yang dibatasi oleh labium
superius dan labium inferius. Membrana nictitans berwarna keputihan menutupi
seluruh mata. Pada maxilla bagian dorsal terlihat nares anteriores berupa lubang kecil
yang sepasang. Lubang telingapun sepasang. Cervix (collum) pada Mabouya ini jauh
lebih panjang dibandingkan dengan hewan-hewan dari kelas Amphibia (Radiopoetro,
1996).
Truncus biasanya panjang dan convex, di mana pada bagian dorsalnya
berwarna coklat kekuningan dan bagian ventralnya putih. Pada truncus ini didapati
extrimitas cranialis di sebelah craniolateral truncus, berjumlah sepasang kanan dan
kiri. Terdiri dari brachium (lengan atas), antebrachium (lengan bawah), manus
(tangan) dengan lima digiti yang berfalcula. Di ujung ventrocaudal truncus atau
tepatnya di basis cauda terdapat kloaka yang bertipe plagiotremata yaitu jenis kloaka
dengan bentuk horizontal. Celah ini terdapat di sebelah cranial dan ditutupi dengan
deretan squamae disebut lamina praecloacalis. Cauda atau ekornya berukuran
panjang yaitu hampir dua kali lipat panjang badan dan kepala. Bagian pangkal cauda
tebal dan semakin ke belakang bentuknya semakin meruncing (Radiopoetro, 1996).
Terdapat perbedaan antara Mabouya multifasciata jantan dan betina. Dapat
dilihat bahwa pada M. multifasciata jantan warnanya lebih mengkilap daripada M.
multifasciata betina. Dan bila dilihat dari ukuran, M. multifasciata jantan akan lebih
besar tubuhnya ketimbang M. multifasciata betina pada umur yang sama. Hal ini
sesuai dengan pendapat Anggrani et al., (2014) bahwa pada sebagian besar reptil
dapat dilihat perbedaan antara jantan dan betinanya dengan melihat pada ukuran dan
bentuk yang berbeda, maupun warna tubuh dewasa yang berbeda antara jantan dan
betina.

1 2

Gambar 2.2 Perbandingan morfologi Mabouya multifasciata betina dan jantan (1)
Mabouya multifasciata betina, (2) Mabouya multifasciata jantan.

11
4.2 Anatomi Reptilia
4.2.1 Anatomi Dendrelaphis pictus
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil anatomi Dendrelaphis
pictus sebagai berikut:

1
6

2 8
7
3

5 4

Gambar 3.1 Sistem Pencernaan Gambar 3.2 Organ Penting


Dendrelaphis pictus (1) Dendrelaphis
esophagus, (2) pictus (6)
intestenum tenue, (3) empedu, (7)
vas deferens, (4) paru-paru, (8)
intstenum crassum, (5) ncjdnccor
mnkadkcloaca

10
9

Gambar 3.3 Organ Reproduksi Dendrelaphis pictus (9) testis, (10) ovary

Melihat organ di dalam tubuh reptilia dan mengamatinya adalah bagian dari ilmu
anatomi. Cara melihat organ dalam katak tersebut adalah dengan dibedah / disayat
tubuh luarnya dengan hati-hati sehingga tidak merusak organ dalam yang terlindungi
di dalamnya. Dapat dilihat organ dalam pada reptilia lewat gambar di atas.
Semua organ-organ inti dari Dendrelaphis pictus tersusun memanjang dari
esofagus hingga kloaka. Terutama sistem organ pencernaannya, sangat panjang
disesuaikan dengan bentuk tubuh ular, yang dimulai dari mulut, larynx,
kerongkongan, ventriculus, intestenum tenue dan intestenum crassum hingga cloaca.
Paru-paru ular hanya satu yaitu paru-paru di sebelah kiri. Menurut Brotowidjoyo
(1994), sistem pencernaan pada Subordo Ophidia berupa saluran lurus dimulai dari
mulut hingga ke anus. Semua organ internal dalam tubuh ular berbentuk memanjang

12
sesuai dengan kondisinya. Subordo Ophidia hanya memiliki satu paru-paru yaitu
paru-paru kiri saja (Brotowidjoyo, 1994).
Anatomi yang membedakan antara Dendrelaphis pictus adalah pada
Dendrelaphis pictus terdapat hemipenis sebagai alat kopulasi dan menghasilkan
sperma. Sedangkan pada Dendrelaphis pictus betina terdapat ovary yang
menghasilkan sel telur. Sesuai dengan Brotowidjoyo (1994) bahwa pada ular jantan
terdapat organ khusus yaitu hemipenis sebagai alat kopulasi

4.2.2 Anatomi Mabouya multifascilata


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil anatomi Mabouya
multifascilata

1
8

7
4
9
6 5
2

Gambar 4. Anatomi Mabouya multifascilata (1) cor, (2) ovary, (3) empedu, (4)
esophagus, (5) intestenum tenue, (6) intestenum crassum, (7) cloaca, (8)
hepar, (9) paru-paru.

Cor terletak di medial, di bagian cranioventral rongga thorax. Ia terdiri dari 2 artria,
yaitu atrium dextrum dan sinistrum, 2 ventriculus yaitu ventriculus yaitu ventriculus
dexter serta ventriculus sinister, dan sinus venosus. Sistem respirasi dari Mabouya
multifascilata sudah lebih tinggi dibandingkn dengan sistem respirasi pada Rana sp.
karena Rana sp. tidak memiliki trachea sedangkan Mabouya multifascilata jelas telah
memiliki trachea. Tractus respiratorius pada Mabouya multifascilata mulai dari
cranial terdiri dari larynx, Rima glottidis, menuju trachea, lalu Bifurcatio tracheae,
ke Bronchus dan terakhir Pulmo (Radiopoetro, 1996).
Sistem digestorium Mabouya multifascilata dibedakan antara tractus
digestivus dan glandula digestoria. Tractus digestivus terdiri dari Cavu oris, pharynx,
esophagus, ventriculus, intestenum tenue, cecum, intestenum crassum, kemudian
cloaca. Di dalam cavum oris terdapat dentes yang berbentuk conus. Dentes ini
berbentuk pleurodont, artinya menempel pada sisi samping gingiva, sedikit
melengkung ke arah medial cavum oris. Pada Mabouya multifascilata tidak
dotemukan dentes platini. Selain itu dalam cavum oris terdapat lingua yang
berpangkal pada os hyoideum di sebelah caudal cavum oris. Ujungnya bersifat

13
bifida. Ventriculus pada Mabouya multifascilata berdinding muscular yang tebl dan
berbentuk cylindris. Intestenum crassum fungsinya sebagai rectum. Cecum
merupakan batas antara intestenum tenue dengan intestenum crassum. Glandula
digestoria terdiri dari hepar dan pancreas. Empedu yang dihasilkan hepar ditampung
pada kantung yang disebut vesica fellea (Radiopoetro, 1996).
Sistem urogenital Mabouya multifascilata terdiri dari organa uropoetica dan
organa genitalia. Organa uropoetica terdiri dari ren, ureter, dan vesica urinaria. Tipe
Ren metanephros dengan warna merah coklat, masing-masing terdiri atas lobus
anterior dan lobus posterior. Lobus posterior berbentuk agak pipih melekat satu sama
lain.terletak retroperitoneal artinya di luar dan di belakang peritoneum. Sepasang
ureter keluar dari sisi ventral Ren.
Anatomi yang membedakan antara Mabouya multifascilata jantan dan betina
dapat dilihat dari sistem urogenitalia-nya. Seperti yang dipaparkaan oleh Radiopoetro
(1996), pada yang jantan kedua ureter tadi sebelum bermuara ke dalam cloaca
bersatu dulu dengan vas defferens. Namun pada betina bermuara langsung ke cloaca.
Adanya suatu penonjolan berupa kantong tipis dari dinding ventral di cloaca disebut
vesica urinaria. Organa betina terdiri dari ovarium dan oviduct. Ovarium berjumlah
sepasang terletak retroperitoneal tepat di ventral dari columna vertebralis sedikit ke
caudal dari pertengahan badan. Oviduct terletak lateral dari ovarium.

4.3 Sistem Otot Reptilia


4.3.1 Sistem Otot Dendrelaphis pictus
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sistem otot
Dendrelaphis pictus sebagai berikut:

Gambar 5. Sistem otot Dendrelaphis pictus (1) otot


Otot-otot ular bersifat fleksibel, dan otot ini adalah jenis otot lurik. Memiliki panjang
yang melebihi panjang tubuh asli ular sehingga membuatnya mudah untuk bergerak.
Otot-otot pada ular ini berguna untuk menghubungkan tulang dengan tulang,
menghubungkan kulit dengan kulit, maupun menghubungkan kulit dengan tulang.
Sesuai dengan pendapat Brotowidjoyo (1994), otot-otot tubuhnya menghubungkan

14
antara vertebrae dengan vertebrae, vertebrae dengan rusuk, rusuk dengan rusuk,
rusuk dengan kulit, dan kulit dengan kulit. Otot-otot tersebut dapat memiliki panjang
melebihi jarak yang ada sehingga memungkinkan ular dapat bergerak melingkar-
lingkar.

4.3.2 Sistem Otot Mabouya multifascilata


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sistem otot Mabouya
multifascilata sebagai berikut:

2
3
1

Gambar 6. Sistem otot Mabouya multifascilata (1) external intercostals, (2) costo
cervicalis, (3) serratus ventralis. Gambar diambil dari kelompok ....

Otot pada Mabouya multifasciata memiliki otot yang lebih kompleks dibandingkan
dengan amphibi karena kadal telah hidup di darat, memiliki otot yang dapat
menopang tubuhnya. Otot pada punggung menempel dengan vertebrae. Otot
utamanya yaitu otot aksial atau otot badan yang mulai terspesialisasi seperti pada
kelas mamalia dan otot kulit atau dermal. Menurut Djuhanda (1982), kadal memiliki
sistem otot daging yang lebih kompleks bila di bandingkan dengan amfibia, karena
otot daging harus mendukung tubuh di daratan yang bersifat lebih berat dari pada di
dalam air, selain itu juga untuk gerakan-gerakan yang sifatnya harus cepat. Otot
aksial (otot badan) reptil mulai menunjukkan beberapa speasialisasi seperti yang
dikelompokkan pada mamal. Otot reptil terutama untuk gerakan lateral tubuh dan
menggerakkan ruas-ruas tulang belakang. Dermal atau otot kulit berkembang baik
pada reptil. Jaringan tungkai pada reptil menunjukkan variasi bergantung pada tipe
gerakannya.

4.4 Sistem Rangka Reptilia


4.4.1 Sistem Rangka Dendrelaphis pictus
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sistem rangka
Dendrelaphis pictus sebagai berikut:

15
1 3
2

Gambar 7. Sistem rangka Dendrelaphis pictus (1) tulang rusuk, (2) vertebrae, (3)
tengkorak

Pada ular Dendrelaphis pictus juga ular-ular lainnya hanya memiliki beberapa tulang
utama yaitu tulang tengkorak, vertebrae, tulang rusuk, dan tulang ekor. Jumlah dari
tulang belakang sendiri tergantung dari panjang ular tersebut. Hal ini sesuai dengan
pendapat Brotowidjoyo (1994) bahwa jumlah vertebrae (tulang belakang) pada ular
tergantung pada panjang ular tersebut (dapat berjumlah 200 bahkan 400).

4.4.2 Sistem Rangka Mabouya multifasciata


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sistem rangka
Mabouya multifasciata sebagai berikut:

6
7

2
1
3 4
5 8

Gambar 8. Sistem rangka Mabouya multifasciata (1) vertebrae, (2) tulang rusuk, (3)
tengkorak, (4) TI panggul, (5) radius, (6) digiti, (7) ulna, (8) TI paha

Rangka pada Mabouya multifasciata memiliki bagian utama yaitu caput, truncus,
cervix, dan caudal. Memiliki vertebrae dan tulang rusuk. Menurut Brotowidjoyo
(1994), sistem skeleton dari Subordo Sauria termasuk di dalamnya Mabouya
multifasciata adalah vertebra ekor tidak menulang secara sempurna, ekornya mudah
putus, namun cacat mengalami regenerasi. Kolumna vertebrae terbagi menjadi
servikal, toraks, lumbar, sakral, dan kaudal. Terdapat tulang rusuk yang bebas.
Sebagian tulang-tulang terdiri atas kartilago. Kolumna vertebralis dengan otot-otot
yang segmental dan terlihat jelas.

16
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan pada praktikum kali ini adalah:
1. Morfologi yang membedakan antara reptilia jantan dan reptilia betina dapat
dilihat pada ukuran dimana ukuran reptilia jantan lebih besar dari reptilia
betina pada umur yang sama. Reptilia jantan memiliki warna yang lebih
indah dari reptilian betina. Pada Dendrelaphis pictus jantan memiliki warna
yang lebih cerah dan kehijauan daripada yang betina dan pada Mabouya
multifascilata jantan memiliki warna yang lebih mengkilap ketimbang betina.
Anatomi yang membedakan reptilia jantan dan reptilia betina adalah pada
sistem urogenitalia-nya. Pada Dendrelaphis pictus jantan terdapat hemipenis
sebagai alat kopulasi, sedangkan pada yang betina terdapat ovary. Pada
Mabouya multifasciata jantan kedua ureter sebelum bermuara ke dalam
cloaca bersatu dulu dengan vas defferens, sedangkan pada betina ureter
bermuara langsung ke cloaca.
2. Organ pada D. pictus seluruhnya tersusun secara memanjang mulai dari
esofagus hingga kloaka. Organ pada M. multifascilata berkumpul di satu
tempat di bagian perut. Sistem organ yang ada pada reptilia antara lain sistem
pencernaan, sistem pernapasan, sistem otot, sistem rangka, sistem ekskresi,
sistem peredaran darah, dan sistem reproduksi.
3. Otot D. pictus termasuk otot lurik, bersifat fleksibel dan biasanya memiliki
panjang melebihi panjang tubuh asli ular sehingga membuatnya mudah untuk
bergerak. Otot M. multifascilata lebih kompleks karena untuk menopang
tubuhnya yang hidup di darat. Terdapat otot aksial dan dermal (otot kulit)
pada M. multifascilata.
4. Reptilia termasuk hewan vertebrata yang artinya memiliki tulang belakang.
Tulang utama pada D. pictus yaitu tulang tengkorak, vertebrae, tulang rusuk,
dan tulang ekor. Rangka pada Mabouya multifasciata memiliki bagian utama
yaitu caput, truncus, cervix, dan caudal.

5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada praktikum kali ini adalah agar berhati-hati saat
menggunakan kloroform untuk membunuh katak karena merupakan salah satu zat
kimia berbahaya. Berhati-hati menggunakan benda-benda tajam seperti gunting
bedah dan jarum pentul kecil. Juga berhati-hati saat melakukan pembedahan pada
perut reptilia dan memindahkan organ-organ di dalamnya ke atas kertas reject karena
organ-organ tersebut mudah rusak / hancur.

17
DAFTAR PUSTAKA

Anggrani, A., E. Baharudin dan Malabay. 2014. Manajemen Media Informasi Hewan
Reptil (Ular) Melalui Pembangunan Album Elektronik. Prosiding Seminar
Nasional Multi Disiplin Ilmu & Call For Papers Unisbank (Sendi_U)
Asri, A. S. K., Bagyo dan Yanuwiadi. 2015. Persepsi Masyarakat Terhadap Ular
Sebagai Upaya Konservasi Satwa Liar Pada Masyarakat Dusun Kopendukuh,
Desa Grogol, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi. J-PAL. Vol. 6 (1)
Brotowidjoyo, M. D. 1994. Zoologi Dasar. Erlangga. Jakarta
Bourret (1935) dalam Hadi et al. 2016. Keanekaragaman Flora dan Fauna Daerah
Aliran Sungai Pakerisan Kabupaten Gianyar. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta
Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata 1. Armico.
Bandung.
Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata. Sinar Wijaya. Jakarta
Linzey. 2003. Vertebrate Biology. The McGraw-Hill Companies
Pough, F.H., Christine M. J. dan John B. H. 2009. Vertebrate Life 8th edition. Pearson
Education. New Jersey
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Erlangga. Jakarta
Ridwan, R., Nahrowi dan Lily A. S. 2001. Pemberian Berbagai Jenis Pakan untuk
Mengevaluasi Palatabilitas, Konsumsi Protein dan Energi pada Kadal
(Mabouya multifasciata) Dewasa. Biodiversitas. Vol. 2 (1): 98-103

18
Lampiran

19
20
21
22