Anda di halaman 1dari 6

Naskah drama

Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan terdapat sekelompok orang Sampan atau orang
Suku Laut. Pemimpin Suku Laut atau Suku Sampan ini sangat gagah perkasa, Batin Lagoi
namanya.

Babak 1
Suatu hari, ketika Batin Lagoi sedang menyusuri pantai dengan berjalan santai, tiba-tiba ia
dikejutkan dengan suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan.

Bayi :oek.oek.oek
Batin Lagoi :Suara apa itu? Saya mendengar seperti ada bayi yang sedang menangis. Apakah
mungkin cuma perasaan Saya saja? Sepertinya mustahil jika ada bayi di sekitar sini.

Tapi, suara bayi menangis yang terdengar itu semakin kuat dan histeris.

Bayi :oek..oekoek.(dengan suara yang lebih keras)


Batin Lagoi :Sepertinya memang benar ada bayi di sekitar sini. Suaranya terdengar jelas di
telingaku. Lebih baik saya mencari sumber suaranya saja untuk memastikan.

Batin Lagoi mencari sumber suara itu.

Batin Lagoi :Hm.. Sepertinya suara tangisan bayi itu terdengar dari semak-semak pandan ini.

Ternyata firasat Batin Lagoi benar, ia menemukan seorang bayi perempuan tergeletak di antara
semak pandan dengan beralaskan daun.

Batin Lagoi :Anak siapa gerangan? Mengapa berada di sini? Orang tuanya ke mana?

Setelah melihat ke sekelilingnya, Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang di sekitarnya.

Batin Lagoi :Daripada anak ini dibiarkan di semak-semak pandan ini, lebih baik Saya bawa saja
ia pulang ke rumah dan Saya akan mengangkatnya sebagai anak. Mungkin ini adalah petunjuk
dari Tuhan karena Saya tidak mempunyai anak. Sebelum Saya membawa anak ini pulang, Saya
akan memberinya nama terlebih dahulu. Karena Saya menemukannya di antara semak-semak
pandan, maka Saya akan memberi nama anak ini Putri Pandan Berduri.

Lalu, dengan hati-hati diambilnya bayi itu dari semak-semak Pandan dan dibawanya pulang. Ia
merawat dan menjaga Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih sayang seperti layaknya
membesarkan putri raja.

Babak 2
Setelah Putri Pandan Berduri beranjak dewasa, Batin Lagoi memberinya pelajaran budi pekerti
yang luhur kepada Putri Pandan Berduri.
Batin Lagoi :Pandan, kamu harus mengingat baik-baik apa yang Ayah ajarkan kepadamu ini.
Putri Pandan :Apakah kiranya yang akan hendak Ayah ajarkan kepadaku?
Batin Lagoi :Sebelum ayah memulainya, hendaknya kamu mengingat dan melaksanakan
dengan baik apa yang Ayah katakan.
Putri Pandan :Tentu saja Ayah. Ayah tidak perlu kuatir akan hal tersebut.
Batin Lagoi :Tapi bukan hanya hal itu saja anakku. Engkau juga harus bertutur kata sopan dan
bertingkah laku baik kepada semua orang, baik itu kepada orang tua bahkan orang yang sebaya
denganmu.
Putri Pandan :Baik ayah. Nasehat ayah akan selalu Pandan laksanakan.

Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tutur bahasa dan sopan-
santunnya seperti sifat para putri-putri raja.

Babak 3
Kecantikan dan keelokan tingkah laku daripada Putri Pandan Berduri mengundang kekaguman
dari para pemuda di Pulau Bintan.

Pemuda 1:Lihatlah betapa cantiknya Putri Pandan Berduri itu. Tak hanya cantik Ia juga sangat
sopan. Alangkah bahagianya pria yang dapat meminangnya.
Pemuda 2 :Setiap pria pasti akan mengagumi Putri Pandan Berduri itu. Namun, mengapa
sampai sekarang tidak ada seorang pria pun yang berani mendekatinya?
Pemuda 1 :Tidakkah engkau berpikir bahwa sosok sempurna seperti Putri Pandan Berduri itu
jugalah yang menyebabkan tidak ada pemuda yang berani mendekatinya?
Pemuda 2 :Mengapa demikian?
Pemuda 1 :Karena tentunya tidak ada pemuda yang merasa dirinya pantas untuk wanita seperti
Putri Pandan Berduri itu. 1 hal lagi penyebabnya, yaitu karena ada kabar bahwa Batin Lagoi
menginginkan agar Putri Pandan Berduri itu menjadi istri seorang anak raja atau anak Megat.

Babak 4
Sementara itu, di Pulau Galang, terdapat seorang Megat yang mempunyai dua orang anak laki-
laki. Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Dari mereka kecil,
Megat itu mendidik kedua anaknya agar saling membantu dan saling menghormati satu dengan
yang lain.

Setelah keduanya beranjak dewasa, Megat menginginkan Julela yang menjadi pemimpin di
Galang. Hal ini kemudian membuat Julela menjadi sombong dan angkuh. Ia sudah tidak lagi
peduli dengan adiknya, hal ini menyebabkan hubungan mereka menjadi tidak harmonis dan
rukun lagi. Lalu, mereka pun menjalani hidup masing-masing secara terpisah. Dari hari ke hari
kesombongan Julela semakin menjadi-jadi. Ia sering mencaci dan memusuhi adiknya tanpa
sebab.

Julela :Hai, adikku yang bodoh! Engkau tahu bahwa kelak yang akan menjadi pemimpin di
kampung ini adalah aku. Jadi sekarang aku mengingatkan kamu bahwa kamu harus mematuhi
segala perintahku. Jika kamu tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepada kamu, maka aku
tidak akan ragu-ragu untuk mengusir kamu dari kampung ini! Kamu mengerti?
Jenang Perkasa yang mendengar hal tersebut dari kakaknya menjadi sangat sedih.

Jenang P:Mengapa kakak kandungku sendiri mengatakan hal sekejam itu terhadapku? Apa
salahku kepadanya? Mengapa sikapnya berubah semenjak dia ditunjuk untuk menjadi pemimpin
di Pulau Galang ini? Apakah aku ini tidak lagi dianggapnya sebagai adik? Mengapa aku merasa
terasing di keluarga kandungku sendiri? Daripada seperti ini, lebih baik aku meninggalkan Pulau
Galang ini secara diam-diam agar aku tidak mendapat cacian dari kakak kandungku.

Babak 5
Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar dengan arah yang tidak menentu.
Setelah berhari-hari Ia mengarungi lautan yang luas, akhirnya sampailah ia di Pulau Bintan.

Penduduk 1 :Engkau sepertinya bukan penduduk kampung ini. Kalau boleh tahu darimanakah
engkau?
Jenang P :Saya dari Pulau Galang di seberang sana.
Penduduk 2 :Mengapa anda bisa sampai ke pulau ini?
Jenang P :Itu karena Saya sedang bermaksud untuk bertualang mengarungi lautan. Lalu, setelah
berhari-hari Saya berada di lautan, tiba-tiba Saya melihat Pulau ini. Oleh karena itu saya tertarik
pada keindahan Pulau ini dan bermaksud untuk tinggal beberapa saat di pulau ini.

Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu telah menarik perhatian Batin Lagoi.

Babak 6
Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan perjamuan makan dengan mengundang orang-orang
Suku Sampan, tidak ketinggalan Batin Lagoi juga mengundang Jenang Perkasa untuk datang
dalam perjamuan itu.

Batin Lagoi :Wahai Jenang Perkasa, besok malam di rumahku akan diadakan perjamuan makan
bersama orang-orang Suku Sampan Lainnya. Aku ingin engkau juga datang, karena aku sudah
menganggapmu sebagai bagian dari suku ini.
Jenang P :Baik tuanku. Besok malam hamba akan datang ke rumah tuanku untuk memenuhi
undangan dari tuanku.
Batin Lagoi :Baiklah, sampai bertemu besok malam. Kutunggu kedatanganmu.
Jenang P :Baik tuanku. Terima kasih akan undangan dari tuanku.

Babak 7
Esoknya, Jenang Perkasa datang untuk memenuhi undangan tersebut. Saat jamuan makan akan
dimulai, Jenang Perkasa memilih tempat yang agak jauh dari teman-temannya. Ia melakukan hal
itu agar air cuci tangannya tidak jatuh di hidangan yang akan ia makan. Tanpa disadarinya, sejak
ia datang sepasang mata telah memerhatikan perilakunya, yang tak lain dan tidak bukan adalah
Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sungguh mengesankan hati Batin
Lagoi.

Usai perjamuan, Batin Lagoi menghampiri Jenang Perkasa.


Batin Lagoi :Wahai, Jenang Perkasa! Sungguh,aku sangat terkesan dan kagum dengan
kesopanan dan keelokkan budi pekertimu. Apakah Engkau bersedia apabila aku menikahkan
kamu dengan putriku, Pandan Berduri?
Jenang P :Permintaan tuan dengan segala kerendahan hati saya terima. Saya bersedia menerima
putri tuan sebagai istri saya.
Batin Lagoi :Baik sekali. Kapan kiranya engkau akan meminang putriku?
Jenang P :Terserah tuanku. Kapan hari baik yang menurut tuanku layak untuk dilaksanakan
pernikahan?
Batin Lagoi :Bagaimana apabila kita melaksanakan pernikahannya minggu depan, anak muda?
Jenang P :Pilihan tuanku memang sangat tepat. Baiklah tepat minggu depan saya akan
meminang putri tuanku.
Batin Lagoi :Tapi Jenang, karena Putri Pandan Berduri merupakan putriku satu-satunya, aku
ingin pesta pernikahannya dilaksanakan dengan meriah. Apakah engkau keberatan?
Jenang P :Tentu saja saya tidak keberatan tuanku. Namun, pesta seperti apa yang tuanku
inginkan jika hamba boleh tahu?
Batin Lagoi :Pesta dengan minuman dan makanan yang beranekaragam, dan dengan
menampilkan segala macam tari-tarian daerah untuk menghibur para tamu undangan.
Jenang P :Baik tuanku, dengan senang hati akan hamba adakan acara pernikahan seperti yang
tuanku harapkan.

Seminggu kemudian, Jenang Perkasa pun dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan
mereka dilangsungkan sangat meriah. Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup
bahagia.

Babak 8
Tak berapa lama kemudian, Batin Lagoi berfikir untuk segera mengangkat Jenang Perkasa
sebagai Pemimpin di Bintan untuk menggantikan dirinya.

Batin Lagoi :Wahai menantuku ada hal penting ingin aku bicarakan kepadamu.
Jenang P :Apakah hal penting itu,jika boleh saya tahu ayahanda?
Batin Lagoi :Aku ingin agar kamu segera mengantikan aku untuk menjadi pemimpin di Pulau
Bintan ini. Aku merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk mengangkat engkau menjadi
pemimpin Pulau ini. Apakah kamu bersedia?
Jenang P :Dengan segala kerendahan hati hamba bersedia ayahanda.
Batin Lagoi :Keputusan yang baik, acara pengangkatanmu akan segera kita laksanakan. Namun,
aku ingin agar engkau memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang
berlaku di Bintan. Apakah engkau mengerti, Jenang?
Jenang P :Baik saya mengerti, ayah. Semua nasehat ayah akan saya ingat selalu.

Setelah Jenang Perkasa diangkat menjadi pemimpin di Pulau Bintan, Ia memimpin rakyat Bintan
dengan sangat bijaksana.

Babak 9
Pada suatu siang ketika Jenang Perkasa sedang beristirahat di kamarnya, pintu kamarnya diketuk
oleh seseorang.Jenang Perkasa yang mendengar pintu kamarnya diketuk segera membukakanya.
Pelayan :Maaf mengganggu istirahat tuanku.
Jenang P :Tidak apa-apa. Ada hal apa gerangan yang membuat engkau datang kepadaku?
Pelayan :Begini tuanku, di luar ada sekelompok orang yang ingin bertemu dengan tuanku.
Jenang P :Siapakah kiranya sekelompok orang tersebut? Tentunya engkau sudah menanyai
mereka bukan?
Pelayan :Tentu saja tuanku. Mereka berkata bahwa mereka adalah masyarakat dari Pulau
Galang. Mereka juga mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin mereka bicarakn dengan
tuanku. Apakah tuanku ingin bertemu dengan mereka, atau tuanku sedang tidak ingin diganggu
?
Jenang P :Saya akan menemui mereka. Tolong katakan kepada mereka untuk menunggu saya
sebentar lagi.
Pelayan :Baik tuanku, hamba permisi dulu.

Babak 10
Jenang perkasa menemui para tamunya.

Orang 1 :Selamat siang. Maaf kiranya kami telah mengganggu istirahat tuanku Jenang
Perkasa.
Jenang P :Tidak apa-apa. Kiranya ada perlu apa yang membuat kalian datang ke sini? Apakah
telah terjadi sesuatu hal yang buruk di Pulau Galang sehingga kalian datang ke tempatku?
Orang 2 :Tenang saja Tuanku, tidak terjadi sesuatu hal yang buruk di Pulau Galang.
Jenang P :Kalau begitu, hal apakah yang membuat kalian datang kemari?
Orang 3 :Kami datang kesini karena kami mendengar bahwa Tuanku menjadi pemimpin di
Pulau Bintan ini. Selain itu, kami juga mengetahui tentang cara kepemimpinan tuanku di Pulau
ini. Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk mengajak tuanku kembali ke Galang, dan
mengggantikan kakak tuanku yang sombong itu sebagai Pemimpin di Galang. Apakah kiranya
tuanku bersedia?
Jenang P :Maaf, bukan maksudku untuk menolak maksud baik kalian. Namun, sekarang aku
sudah menjadi pemimpin di Pulau Bintan ini. Aku tidak dapat meninggalkan pulau ini begitu
saja.
Orang 2 :Apakah tuanku tidak merasa kasihan kepada penduduk Pulau Galang karena
kepemimpinan kakak tuanku? Kami tahu Tuanku dahulu adalah penduduk dari Pulau kami, oleh
karena itu hendaknya Tuanku bersedia membantu kami dengan cara menjadi pemimpin Pulau
Galang.
Jenang P :Dahulu aku memang penduduk dari Pulau Galang, tetapi kini aku sudah menjadi
penduduk Pulau Bintan ini. Lagipula sudah menjadi tanggung jawabku untuk memimpin Pulau
Bintan yang sangat kucintai ini. Aku tidak bisa melepaskan tanggung jawabku begitu saja. Sekali
lagi maafkan aku,tapi aku tidak bisa menerima permintaak kalian.

Akhirnya sekumpulan orang dari Galang itu pun kembali dengan tangan hampa. Sementara
Jenang Perkasa hidup berbahagia bersama Putri Pandan Berduri. Mereka mempunyai tiga orang
putra, yang sulung dinamakan Batin Mantang, yang tengah Batin Mapoi, dan yang bungsu Batin
Kelong.

Babak 11
Jenang Perkasa mendidik ketiga anaknya agar mereka tidak menjadi orang yang sombong.
Jenang P :Anak-anakku yang kukasihi. Aku selalu ingatkan kepada kalian nantinya kalian akan
memimpin Pulau ini menggantikan Aku. Aku berharap kelak kalian akan menjadi pemimpin
suku yang bertanggungjawab dan tidak sombong. Karena masa depan rakyat ada di tangan
kalian, maka kalian harus benar-benar menjadi anak yang bertanggungjawab.

Maka pada ketiga anaknya diadatkannya dengan adat suku Laut, dan dinamakan dengan adat
Kesukuan.

Setelah beranjak dewasa, ketiga anaknya tersebut memimpin suku mereka masing-masing. Batin
Mantang membawa berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi dengan sukunya ke
barat, dan Kelong dengan sukunya ke timu Pulau Bintan. Ketiga suku tersebut kemudian menjadi
suku terbesar dan termasyhur di daerah Bintan. Jika mereka mengalami kesulitan, mereka
kembali kepada yang pertama, yaitu kepada adat Kesukuan.

Tak lama kemudian, Jenang Perkasa meninggal dunia, disusul Putri Pandan Berduri. Walaupun
keduanya telah tiada, tetapi anak-cucu mereka banyak sekali, sehingga adat Kesukuan terus
berlanjut. Hingga kini, Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari
merekalah lahir persukuan di Teluk Bintan. Suku Laut atau Suku Sampan ini masih banyak
ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.