Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS KEPANITERAAN BAGIAN THT RSPAU

OTOMIKOSIS

DISUSUN OLEH
Tommy Darmasaputra ( 112015185 )

PEMBIMBING
Dr. M. Roikhan Harowi, Sp.THT-KL, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

PERIODE 11 APRIL 14 MEI 2016

RUMAH SAKIT TNI ANGKATAN UDARA ESNAWAN ANTARIKSA

1
LAPORAN KASUS

RUMAH SAKIT TNI AU Dr. ESNAWAN ANTARIKSA

SMF TELINGA HIDUNG TENGGOROK

Jl. Merpati No 2, Halim Perdanakusuma Jakarta Timur 13610

Nama : Tommy Darmasaputra Tanda Tangan

NIM : 112015185 .............

Dr. Pembimbing : dr. M. Roikhan Harowi, Sp.THT-KL, M.Kes

I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. AS Jenis Kelamin : Laki-Laki

Umur : 35 tahun Agama : Islam

Pekerjaan : PNS Pendidikan : D3

II. ANAMNESIS: Autoanamnesis Tanggal/ Jam: 21 April 2016 / Jam 10.00 WIB

Keluhan Utama: Telinga kanan gatal sejak 1 hari yang lalu

Keluhan Tambahan: tidak ada

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan telinga kanan gatal sejak 1 hari yang lalu. Gatal
dirasakan sepanjang hari terutama pada lingkungan yang panas, sehingga suka mengorek-
ngorek lubang telinga kanan. Tidak ada keluhan pada telinga kiri. Pasien tidak mengalami
batuk dan pilek sebelumnya. Tiga hari yang lalu, pasien merasakan nyeri pada telinga kanan,
telinga terasa berdengung, dan gangguan mendengar. Tidak ada cairan yang keluar dari telinga
kanan maupun kiri.

2
Keluhan yang dirasakan pasien terutama terjadi pada saat udara lingkungan yang panas.
Pasien mengaku akhir-akhir ini suka mengorek-ngorek lubang telinganya karena dirasakan
sangat gatal. Sebelum pasien mengalami keluhan, dalam 1 bulan terakhir pasien sudah 5 kali
ke poliklinik THT dengan diagnosis otitis eksterna difusa. Riwayat penggunaan antibiotik tetes
telinga jangka panjang dan kortikosteroid disangkal. Pasien tidak memiliki riwayat DM.
Telinga kanan dan kiri pasien tidak terasa mengganjal dan tidak nyeri. Pasien tidak
mengalami gangguan pendengaran dan tidak ada pendengaran berdengung. Tidak ada riwayat
cairan atau darah yang keluar dari lubang telinga kanan maupun kiri. Keluhan demam juga
disangkal.
Tiga hari sebelumnya pasien telah mengkonsumsi obat anti jamur dan antihistamin oral.
Keluhan masih dirasakan tidak membaik.

Riwayat Penyakit Dahulu (RPD):


Pasien tidak memiliki riwayat DM.

Keadaan Umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Compos Mentis

Tensi : 110/70 mmHg

Pernafasan : 20x/ menit

Suhu : 36 0C

Nadi : 80x/menit

Berat Badan : 74 kg

Tinggi Badan : 170 cm

III. PEMERIKSAAN FISIK


a. Telinga

Kanan Kiri

Bentuk daun telinga Normotia Normotia

Kelainan Kongenital Tidak ditemukan Tidak ditemukan

Tumor/ tanda peradangan

3
Pre aurikuler Tidak ditemukan Tidak ditemukan
Retroaurikuler
Tidak ditemukan Tidak ditemukan

Nyeri tekan tragus (-) (-)

Penarikan daun telinga (-) (-)

Tes Fungsi Tuba

Valsava Tidak dilakukan Tidak dilakukan


Thoinbee
Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Liang Telinga Tampak hifa halus berwarna CAE lapang, serumen (-),
putih (+), serumen (-), hiperemis (-)
hiperemis (+)

Membran Timpani Tidak dapat dinilai Dalam batas normal,


retraksi (-), edema (-),
refleks cahaya (+) jam 7

Tes Penala:

Rinne Positif Positif


Weber
Swabach Tidak ada lateralisasi Tidak ada lateralisasi

Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa

Kesan: tampak tanda peradangan di 1/3 medial liang telinga dengan gumpalan hifa berwarna
putih

4
b. Hidung dan Sinus Paranasal

Bentuk : Simetris
Tanda Peradangan : Tidak ditemukan
Vestibulum : - Tampak bulu hidung bilateral +/+

- Lapang +/+, hiperemis -/-, massa -/-, polip -/-

- Mukosa kering

Konka inferior kanan/ kiri : Hipertrofi -/-, sekret -/-


Meatus inferior kanan/kiri : Sekret -/-, hiperemis -/-
Konka medius kanan/ kiri : Hipertrofi -/-
Meatus nasi medius kanan/ kiri : Sekret -/-, hiperemis -/-
Septum nasi : Deviasi (-)
Pasase udara : normal
Daerah sinus frontalis dan maksilaris : Tidak didapatkan nyeri tekan

c. Nasofaring (tidak dilakukan rhinoskopi posterior)


Koana :-
Septum nasi posterior :-
Muara tuba eustachius :-
Torus tubarius :-
Konka inferior dan media :-
Dinding posterior :-

d. Tenggorok
Faring
Dinding faring : hiperemis (-), permukaan licin
Arkus faring : simetris kanan-kiri, hiperemis (-)
Tonsil : T1-T1, hiperemis (-), kripta lebar (-), detritus (-), perlengketan
(-)
Uvula : simetris ditengah, hiperemis (-), tidak membesar
Gigi geligi : bekas pencabutan gigi (-), oral hygiene baik
Lain-lain : radang ginggiva (-), mukosa faring tenang

Laring (tidak dilakukan pemeriksaan laringoskopi)


Epiglotis :-
Plika aryepiglotis : -
Arytenoid :-
Plika Ventrikularis : -

5
Pita suara asli :-
Rima glottis :-
Cincin trakea :-
Sinus piriformis :-

e. Leher
Kelenjar limfe submandibula : tidak ada pembesaran
Kelenjar limfe servikal : tidak ada pembesaran

f. Maksillo Fasial
Deformitas
- Tidak ditemukan deformitas os maxilla, os mandibula, dan os zygomaticum
- Hematoma (-)

IV. RESUME

Dari anamnesa didapatkan :


Seorang laki-laki bernama Tn.AS berusia 35 tahun datang dengan keluhan telinga gatal
sejak 1 hari yang lalu. Gatal dirasakan sepanjang hari terutama pada lingkungan yang panas,
sehingga suka mengorek-ngorek lubang telinga kanan. Tidak ada keluhan pada telinga kiri.
Keluhan lainnya disangkal. Tiga hari yang lalu, pasien merasakan nyeri pada telinga kanan,
telinga terasa berdengung, dan gangguan mendengar. Pasien telah diberikan obat antijamur dan
antihistamin oral namun belum membaik.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan:
- Liang telinga kanan: hiperemis (+), ditemukan hifa halus berwarna putih.
- Liang telinga kiri: CAE lapang, serumen (-), hiperemis (-)

V. DIAGNOSIS BANDING
- Otitis eksterna difusa

VI. DIAGNOSIS KERJA


- Otomikosis AD

VII. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


- Preparat langsung dengan KOH 10%
- Kultur jamur
6
VIII. PENATALAKSANAAN
a. Pengobatan
- Antihistamin: Loratadin 1 x 10 mg
- Antifungal oral: Ketokonazol 1 x 200 mg
- Larutan asam asetat 2% tetes telinga

b. Anjuran (Edukasi)
- Jangan mengorek-ngorek liang telinga karena dapat mengakibatkan luka baru
- Hindari udara panas dan lembab
- Mencegah air masuk ke dalam telinga
- Hentikan penggunaan antibiotika oral

IX. PROGNOSIS
a. Quo ad vitam : bonam
b. Quo ad functionam : bonam

7
PEMBAHASAN

OTOMIKOSIS

Definisi

Otomikosis atau otitis eksterna fungi adalah infeksi akut, subakut, dan kronik pada epitel
skuamosa dari kanalis auditorius eksterna oleh ragi dan filamen jamur.1 Komplikasinya dapat
mencapai ke telinga tengah dan kavitas terbuka mastoid.2 Meskipun jamur merupakan patogen
primer, hal ini bisa juga dampak dari infeksi kronis dari kanalis eksternus atau telinga tengah.3

Prevalensi

Prevalensi tertinggi terjadi pada area tropis dan subtropis yang hangat, lembab, dan
berdebu. Kasus ini merupakan 5-20% dari kasus otitis eksterna. Otomikosis unilateral
dilaporkan pada 90% dari kasus dan tidak penunjukan sisi mana yang lebih sering terjadi.4

Etiologi

Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di suatu daerah.
Jamur yang menyebabkan otomikosis pada umumnya adalah spesies jamur saprofit yang
berlimpah di alam dan bentuk itu adalah bagian dari flora komensalis dari EAC yang sehat.
Jenis jamur yang paling sering adalah Pityrosporum dan Aspergillus (A. niger, A. flavus, A.
funigatus, A. terreus), Candida albikans, dan C. parapsilosis (yeast-like fungi) juga sering.5
Kadang-kadang juga ditemukan Phycomycetes, Rhizopus, Actinomyces, dan Penicillium.6

Pada penelitian pasien otomikosis Kumar (2005) didapatkan prevalensi penyebabnya


Aspergillus fumigates (34,14%), Candida Albicans (11%), Candida pseudotropicalis (1,21%)
dan Mucor sp (1,21%). Beberapa peneliti melaporkan adanya organisme penyebab lainnya
seperti Penicillium sp dan spesies lain seperti Candida seperti C.parapsilosis, C.gulliermondi
dengan berbagai persentasi.7

Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi otomikosis adalah tempat dengan kelembaban yang tinggi, suhu yang
tinggi, kebiasaan penggunaan alat pembersih telinga, ketiadaan serumen, individu dengan
immunocompromised, penyakit telinga sebelumnya, penggunaan berkepanjangan dari obat
antibiotik tetes telinga, antibiotik spektrum luas, dan penggunaan kortikosteroid.(2) Selain itu,

8
sering juga menyerang pasien yang melakukan mastoidektomi open cavity dan mereka yang
menggunakan alat bantu dengar.8

Otomikosis dapat terjadi karena hilangnya proteksi lipid atau asam dari telinga.9
Kegagalan dari mekanisme pertahanan dari telinga (perubahan pada lapisan epitel, perubahan
PH, perubahan kualitas dan kuantitas serumen, infeksi bakteri, alat bantu dengan atau
prosthesis hearing, trauma yang ditimbulkan sendiri (membersihkan telinga menggunakan Q-
tips, berenang, atau neoplasma).10

Host dengan immunocompromised lebih rentan menderita otomikosis. Pasien dengan


diabetes, lymphoma atau AIDS dan pasien yang menjalani atau mendapatkan kemoterapi atau
terapi radiasi memiliki resiko tinggi untuk terjadinya komplikasi dari otomikosis.11

Patofisiologi

Serumen memiliki bahan antimikotik, bakteriostatik, dan perangkap serangga. Serumen


terdiri dari lipid (46-73%), protein, asam amino bebas, dan ion mineral yang juga mengandung
lisozim, imunoglobulin dan asam lemak. Asam lemak rantai panjang terdapat pada kulit yang
tidak rusak dapat mencegah pertumbuhan bakteri. Karena ia memiliki komposisi hidrofobik,
serumen memiliki kemampuan menghambat air, membuat permukaan kanal tidak permeabel
dan mencegah maserasi dan kerusakan epitel.5

Serumen sendiri memiliki pH yang berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan
pertumbuhan bakteri dan jamur. Olah raga air misalnya berenang dan berselancar sering
dihubungkan dengan keadaan ini oleh karena paparan ulang dengan air yang menyebabkan
keluarnya serumen, dan keringnya kanalis auditorius eksternus.

Pada hasil penelitian didapatkan C. Albicans dan C. parapsilosis dan jamur mycelia yang
lainnya adalah bagian dari flora normal dari EAC dan terkadang bergeser ke status patogen
dibawah pengaruh beberapa faktor.12

Mikroorganime normal ditemukan pada EAC seperti Staphylococcus epidermis,


Corrynebacterium sp, Bacillus sp, Gram-positive cocci (Staphylococcus aureus, Streptococcus
sp, non-patogen micrococci), Gram negative bacilli (Pseudomonas aeruginosa, Escheria coli,
Haemophilus influenza, Moraxella catharalis, dll) dan jamur mycelia dari genus Aspergillus
dan Candida sp. Mikroorganisme komensal ini tidak patogen hingga keseimbangan antara
bakteri dan jamur terjaga.5

9
Beberapa faktor yang menyebabkan transformasi jamur saprofit menjadi patogen antara
lain:13

Faktor lingkungan (panas, kelembaban) biasa didapatkan pasien padasaat musim panas dan
gugur.
Perubahan pada epitel yang menutupi (penyakit dermatologi, mikro trauma)
Peningkatan PH pada EAC (mandi). Ozcan et al (2003) mendapati perenang memiliki
faktor predisposisi untuk otomikosis.13
Pergeseran kualitas dan kuantitas serumen.
Faktor sistemik (perubahan imunitas, penyakit yang melemahkan, kortikosteroid,
antibiotik, sitostatik, neoplasia). Jackman et al (2005) mendapati ofloxacin berkontribusi
dalam perkembangan otomikosis.14
Riwayat otitis bakterialis, otitis media supuratif kronis (OMSK) dan post bedah mastoid.
Kontaminasi bakteri dari kulit EAC awalnya terjadi pada OMSK atau otitis media
eksternus. Kerusakan pada permukaan epitel adalah media yang baik bagi pertumbuhan
mikroorganisme. Kerusakan epitel juga menyebabkan penurunan sekresi apokrin dan
glandula serumen dimana mengubah lingkunga EAC menjadi cocok untuk pertumbuhan
mikroorganisme (pH normal 3-4).
Dermatomikosis dapat menjadi faktor resiko untuk rekurensi karena autoinokulasi menjadi
mungkin di antara bagian-bagian dari tubuh.
Kondisi dan kebiasaan sosial. Penutup kepala tradisional contohnya dapat meningkatkan
kelembaban dari kanal telinga dan menciptakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan
jamur.
Jamur melimpah pada tanah atau pasir yang mengandung bahan organik yang
membusuk. Materi ini cepat mengering pada kondisi tropis dan tertiup oleh angin sebagai
partikel debu yang kecil. Spora jamur yang menyebar melalui udara terbawa oleh uap air, suatu
fakta bahwa adanya hubungan antara tingginya jumlah infeksi dengan monsoon, dimana terjadi
peningkatan kelembapan relatif hingga 80%.

Jamur mengakibatkan inflamasi, eksfoliasi epitel superfisial, massa debris yang


mengandung hifa, supurasi, dan nyeri.15 Karakteristik yang paling banyak ditemukan pada
pemeriksaan telinga adalah munculnya debris tebal berwarna putih keabu-abuan yang sering
dikenal sebagai wet blotting paper.16

10
Jamur tidak pernah menonjol keluar dari EAC, bahkan pada kasus kronis sekalipun. Hal
ini dikarenakan jamur tidak menemukan kebutuhan nutrisinya di luar EAC. Hasil penelitian
terbaru didapatkan pertumbuhan Aspergillus ditemukan paling banyak pada temperatur 370C,
sebuah fakta bahwa kondisi klinis ini didukung oleh predileksi dari jamur untuk tumbuh di
sepertiga dalam dari EAC.17

Gejala Klinis

Gejala dari otomikosis sering sulit dibedakan dengan otitis eksterna. Bagaimanapun
pruritus merupakan karakteristik paling sering dari infeksi mikosis dan juga tidak nyaman di
telinga, otalgia (nyeri telinga), rasa penuh di liang telinga, ottorhoea, hilangnya pendengaran,
tinnitus, keluarnya cairan, tetapi sering juga tanpa keluhan.14,18

Pytirosporum menyebabkan terbentuknya sisik yang menyebabkan terbentuknya sisik


yang menyerupai ketombe dan merupakan perdisposisi otitis eksterna bakterialis maupun
furunkel. Demikian pula dengan jamur Aspergillus. Jamur ini terkadang didapatkan di liang
telinga tanpa adanya gejala apapun kecuali rasa tersumbat dalam telinga, atau dapat berupa
peradangan yang menyerang epitel kanalis atau gendang telinga dan menimbulkan gejala-
gejala akut. Kadang-kadang didapatkan pula Candida albicans.

Pada otoskopi sering ditemukan mycelia atau kumpulan hifa yang dapat menegakkan
diagnosis. EAC menjadi eritem dan debris jamur tampak putih, abu-abu, atau hitam. Pasien
biasanya tidak ada perbaikan signifikan dengan pengobatan antibiotik. Diagnosis dapat
dikonfirmasi dengan preparasi KOH atau positifnya kultur jamur.19

Karakteristik pemeriksaan fisik dari infeksi jamur pada umumnya terlihat hifa halus dan
spora (conidiophores) tampak pada Aspergillus Candida, ragi, mycelia dengan karakteristik
putih ketika bercampur dengan serumen menjadi kekuningan.20

Infeksi kandida dapat lebih sulit dideteksi secara klinis karena kurangnya penampakan
karakteristik layaknya Aspergillus seperti otorrhea dan tidak respon terhadap antimikroba.
Otomikosis oleh kandida biasanya diidentifikasi oleh data kultur.3

Pemeriksaan Laboratorium

Morfologi dari koloni dapat membedakan antara yeast-like dan filamentous fungi.
Mayoritas koloni dengan krim putih, halus, dan kasar adalah ragi atau, sangat jarang, yeast-like
colonies dari jamur dimorfik. Filamentous fungi cenderung tumbuh membentuk debu, helaian,

11
untaian, berudu, atau lipatan yang terlihat dengan rentang berbagai warna seperti putih, kuning,
hijau, biru kehijauan, hitam, dll.5

Diagnosis Banding

Otomikosis terkadang sulit dibedakan dari otitis eksterna terutama otitis eksterna difusa.
Infeksi campuran kadang terjadi. Biasanya isolasi bakteri terdiri dari negative coagulase
staphylococci, pseudomonas sp., Staphylococcus aureus, E. coli, dan Klebsialla sp. Infeksi
jamur dapat juga berkembang dari OMSK.21

Terapi

Pengobatannya adalah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2%


dalam alkohol, larutan iodium povidon 5% atau tetes telinga yang mengandung campuran
antibiotik dan steroid yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat menyembuhkan. Kadang-
kadang diperlukan juga obat anti jamur yang dibagi menjadi tipe non-spesifik dan spesifik.

1. Non-spesifik 20,22

Boric acid adalah medium asam dan sering digunakan sebagai antiseptik dan insektisida.
Dapat diberikan bila penyebabnya adalah Candida Albicans.
Gentian Violet
Castellanis paint (acetone, alkohol, fenol, fuchsin, resocinol)
Cresylate (merthiolate, M-cresyl acetate, propyleneglycol, bric acid, dan alkohol)
Nystatin adalah antibiotik makrolid polyene yang dapat menghambat sintesis sterol di
membran sitoplasma. Keuntungan dari nistatin adalah tidak diserap oleh kulit yang intak.
Dapat diresepkan dalam bentuk krim, salep, atau bedak. Efektif hingga 50-80%.
Azole adalah agen sintetis yang mengurangi konsentrasi ergosterol, sterol esensial pada
membran sitoplasma normal.23

2. Spesifik 20,22

Clotrimoxazole digunakan secara luas sebagai topikal azole. Efektif hingga 95-100%.
Clotrimoxazole memiliki efek bakterial dan ini adalah keuntungan untuk mengobati
infeksi campuran bakteri-jamur. Clotrimazole tersedia dalam bentuk bubuk, lotion, dan
solusio dan telah dinyatakan bebas dari efek ototoksik.8

12
Ketokonazole dan fluconazole memiliki spektrum luas. Ketokonazole (2% krim) efektif
hingga 95-100% melawan Aspergillus dan C. Albicans. Fluconazole topikal efektif
hingga 90% kasus.
Miconazole (2% krim) adalah imidazole yang telah dipercaya kegunaannya selama lebih
dari 30 tahun untuk pengobatan penyakit superfisial dan kulit. Agen ini dibedakan dari
azole yang lainnya dengan memiliki dua mekanisme dalam aksinya. Mekanisme pertama
adalah inhibisi dari sintesis ergosterol. Mekanisme kedua dengan inhibisi dari peroksida,
dimana dihasilkan oleh akumulasi peroksida pada sel dan menyebabkan kematian sel.
Efektif hingga 90%.24
Bifonazole. Solusio 1% memiliki potensi sama dengan klotrimazol dan miconazole.
Efektif hingga 100%.
Itraconazole memiliki efek in vitro dan in vivo melawan spesies Aspergillus.

Bentuk salep lebih memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan formula tetes
telinga karena dapat bertahan di kulit untuk waktu yang lama. Salep lebih aman pada kasus
perforasi membran timpani karena akses ke telinga tengah sedikit diakibatkan tingginya
viskositas.20 Penggunaan cresylate dan gentian violet harus dihindari pada pasien dengan
perforasi MT karena memiliki efek iritasi pada mukosa telinga tengah.

Serta menghentikan penggunaan antibiotik topikal bila dicurigai sebagai penyebabnya.


Pada pasien immunocompromised, pengobatan otomikosis harus lebih kuat untuk mencegah
komplikasi seperti hilangnya pendengaran dan infeksi invasif ke tulang temporal.25

Otomikosis terkadang sulit diatasi walaupun telah diobati dengan pengobatan yang
sesuai. Maka dari itu perlu ditentukan apakah kondisi ini akibat penyakit otomikosis itu sendiri
atau berhubungan dengan gangguan sistemik lainnya atau hasil dari gangguan
immunodefisiensi yang mendasari.26

Pengobatan lain selain medikamentosa yaitu menjaga telinga tetap kering dan
mengarahkan pada kembalinya kondisi fisiologis dengan mencegah gangguan pada EAC.27

Komplikasi

Perforasi membran dapat terjadi sebagai komplikasi dari otomikosis yang bermula pada
telinga dengan membran timpani intak. Insidens perforasi timpani pada mikosis ditemukan
menjadi 11%. Perforasi lebih sering terjadi pada otomikosis yang disebabkan oleh Candida

13
Albicans. Kebanyakan perforasi terjadi bagian malleus yang melekat pada membran timpani.
Mekanisme dari perforasi dihubungkan dengan trombosis mikotik dari pembuluh darah
membran timpani, menyebabkan nekrosis avaskuler dari membran timpani. Enam pasien pada
grup immunocompromised mengalami perforasi timpani. Perforasi kecil dan terjadi pada
kuadran posterior dari membran timpani. Biasanya akan sembuh secara spontan dengan
pengobatan medis. Jarang namun jamur dapat menyebabkan otitis eksterna invasif , terutama
pada pasien immunocompromised. Terapi antifungal sistemik yang adekuat sangat diperlukan
pada pasien ini.27

DAFTAR PUSTAKA

1. Guitterez PH, Alvarez Sj, Sanudo et al. Presumed diagnosis: Otomycosis. A study 451
patients. Acta Otorinolaringol Esp 205; 56: 181-6
2. Carney AS. Otitis externa and otomycosis. In: Gleeson MJj Jones NS, Clarke R, et al. (eds).
Scott-Browns Otolaryngology, Head and Surgery, vol 3, 7th edn. London: Hodder Arnold
Publishers; 2008:3351-7
3. Ho T, Vrabec JT, Yoo D, Coker NJ. Otomycosis: Clincal feaures and treatment implications.
Otolaryngol-Head Neck Surg. 2006;135:787-91.
4. Ahmed Z, Hafeez A, Zahid T, Jawaid MA, Mutiullah S, Marfani MS. Otomycosis: clinical
presentation and management. Pak J Otolaryngol 2010;26:78-80.
5. Gutierrez P, Alvarez J, Sanudo E, et al. Presumed diagnosis: Otomycosis. A study of 451
patients. Acta Otorrinolaringol Esp 2005;56:181-6.
6. Lawani AK. External & middle ear: Diseases of the external ear. In: Lawani AK ed. Current
diagnosis & treatment, Head & Neck Surgery. 2nd ed. Mc Graw Hills-Lange. Chapter 47.
7. Kumar A. Funal spectrum in Otomycosis patients. JK science 2005;7:152-5.
8. Pradhan B, Tuladhar N, Amatya R, et al. Prevalence of otomycosis In outpatient
deepartment of otolaryngology in Tribhuvan University Teaching Hospital, Kathmandu,
Nepal. Ann Otol Rhinol Laryngol 2003; 112: 384-387.
9. Jadhav VJ, Pal M, Mishra GS. Etiological significance of Candida Albicans in otitis
externa. Mycopathologia 2003;156(4):313-15.
10. Pontes Z, Silva A, Lima. Etomycosis: a retrospective study. Braz J Otorhinolaringol 2009;
75(3):367-70.
11. Viswanatha. B et al. Otomycosis in immunocompetent and immunocompromised patients:
comparative study and literature review, ENT Journal 2012 Mar; 91(3):114-21.
12. Romsaithonng S. Long-term follow-up of otomycosis and its treatment with bifonazole.
International short course training in research methodology & biostatistics 2011:18
13. Ozcan K, Ozcan M, Karaarsian A, Karaarsian F. Otomycosis in Turkey; Predisposing
Factors, Etiology and Therapy. J Laryngol & Otol 2003; 117:39-42.
14. Jackman A, Ward R, April M, Bent J. Topical antibiotik induced otomycosis. Int J Ped
Otorhinolaringol 2005; 69: 857-60.

14
15. Kaur R, Mittal N, Kakkar M, Aggarwal AK, Mathur MD. Otomycosis a clinicomycologic
study. ENT J 2000;79:606-9.
16. Munguia R, Daniel SJ. Ototopical antifungal and otomycosis: a rivew. Int J Pediatr
Otorhinolaryngol 2008;72:453-9
17. Viswanatha. B et al. Otomycosis in immunocompetent and immunocompromised patients:
comparative study and literature review, ENT Journal 2012 Mar; 91(3):114-21.
18. Dorko E, Jenca A, Orensak M, et al. Otomycosis of candidal origin in eastern Slovakia.
Folia Microbial 2004; 49(5): 601-4.
19. Satish HS, Viswanatha B, Manjuladevi M. A Clinical Study of Otomycosis. IOSR Journal
of Dental and Medical Sciences 2013; 5 (2):57-62.
20. Lee Kj. Infection of the ear. In: Lee Kj, editor. Essential otolaryngology Head & Neck
surgery. New York: McGraw Hill;2003:p.462-511.
21. Probst R, Grevers G, Iro H. Ear: External ear. In: Probst R, Grevers G, Iro Heinrich editors.
Basic otorhinolaryngology: a step by step learning guide. Thieme New York, 2006. P:2007-
26.
22. Munguia R, Daniel Sj. Ototpical antifungals and Otomycosis: A review. Int J Ped
Otorhinolaryngol 2008; 72:453-9
23. Egami T, Noguchi M, Ueda S. Mycosis in the ear, nose, and throat. Nippon Ishinkin Gakkai
Zasshi 2003; 44(4):277-83.
24. Fothergill AW. Miconazole: a hisrorical perspective. Expert Rev Anti Infect Ther
2006;4(2):171
25. Rutt AL, Sataloff RT. Aspergillus otomycosis in immunocompromised patient. ENT J
2008;87(II):622-3
26. Satish HS, Viswanatha B, Manjuladevi M. A Clinical Study of Otomycosis. IOSR Journal
of Dental and Medical Sciences 2013; 5 (2):57-62.
27. Carney AS. Otitis externa and otomycosis. In: Gleeson MJj Jones NS, Clarke R, et al. (eds).
Scott-Browns Otolaryngology, Head and Surgery, vol 3, 7th edn. London: Hodder Arnold
Publishers; 2008:3351-7.

15