Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS DASAR

TITRASI PENGENDAPAN (PENENTUAN KLORIDA)

DISUSUN OLEH :
Nama : Dewanda Irawan 061540421935
Duta Prima Putra 061540421938
Dwi Ayu Pratiwi 061540421939
Dwi Okta Larassakti 061540421940
Ester Necessary 061540421941
Febi Dwi Kania 061540421942
Isma Uly Maranggi 061540421944
Kelas : 1 KIB
Instruktur : DR. Hj. Martha Aznury, M.Si
Jurusan : Teknik Kimia ( Prodi. Teknologi Kimia Industri)

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

Tahun Akademik 2015/2016


TITRASI PENGENDAPAN (PENENTUAN KLORIDA)

1. Tujuan Percobaan
Mahasiswa mampu melakukan standardisasi dan penentuan pada titrasi pengendapan
dengan metode Mohr.

2. Rincian kerja
1. Standarisasi larutan AgNO3
2. Penentuan kadar klorida pada cuplikan

3. Dasar Teori
Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang didasarkan pada reaksi
pembentukan endapan antara analit dengan titran. Terdapat tiga macam titrasi
pengendapan yang dibedakan dari indikator yang digunakan :
1. Metoda Mohr
2. Metoda Volhard
3. Metoda Adsorbsi
Pada titrasi yang melibatkan garam-garam perak, ada tiga macam indicator yang
dipergunakan metoda Mohr menggunakan ion kromat CrO42- , untuk mengendapkan
AgCrO4 berwarna coklat. Metoda Volhard menggunakan ion Fe3+ untuk membentuk
kompleks berwarna dengan ion tioksianat SCN- . dengan metoda fajans menggunakan
indicator adsorbs .
Seperti suatu system asam basa dapat digunakan sebagai suatu indikator untuk titrasi
asam basa, maka pembentukan endapan dapat juga digunakan sebagai petunjuk akhir
suatutitrasi pada metoda mohr, yaitu penentuan klorida dengan ion perak dengan indicator
ion kromat, penampilan pertama yang tetap dari endapan perak kromat yang berwarna
kemerah-merahan dianggap sebagai suatu titik akhir titrasi.
Merupakan hal yang diinginkan bahwa pengendapan indikator dekat pada titik
ekivalen. Perak kromat lebih larut (sekitar 8,4 x 10-5 mol/liter) dari pada perak klorida (1 x
10-5 mol/liter). Jika ion perak ditambahkan kepada sebuah larutan yang mengandung ion
klorida dalam konsentrasi yang besar dan ion kromat dalam konsentrasi yang kecil, maka
perak klorida akan terlebih dahulu mengendap membentuk endapan berwarna putih, perak
kromat baru akan terbentuk sesudah konsentrasi ion perak meningkat sampai melampaui
harga Kkel perak kromat.
Metoda Mohr dapat juga digunakan untuk penentuan ion biomida dengan perak nitrat.
Selain itu juga dapat menentukan ion slanida dalam larutan yang sedikit alkalis.

3.1 Argentometri
Istilah argentometri diturunkan dari bahasa latin argentum, yang berarti perak. Jadi
argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan
yang dilakukan dengan titrasi berdasar pembentukan endapan dengan ion Ag+. Pada titrasi
argentometri, zat pemeriksaan yang telah dibubuhi indikator dicampur dengan larutan standar
garam perak nitrat AgNO3. Dengan mengukur volume larutan standar yang digunakan
sehingga seluruh ion Ag+ dapat tepat diendapkan, kadar garam dalam larutan pemeriksaan
dapat ditentukan. (Underwood, 1992)
Cara Mohr
Pada metode ini, titrasi halide dengan AgNO3 dilakukan dengan K2CrO4. Pada titrasi
ini akan terbentuk endapan baru yang berwarna. Pada titik akhir titrasi, ion Ag+ yang
berlebih diendapkan sebagai Ag2CrO4 yang berwarna merah bata. Larutan harus bersifat
netral atau sedikit bas, tetapi tidak boleh terlalu basa sebab Ag akan diendapkan sebagai
Ag(OH)2. Jika larutan terlalu asam maka titik akhir titrasi tidak terlihat sebab konsentrasi
CrO4- berkurang.
Pada kondisi yang cocok, metode mohr cukup akurat dan dapat digunakan pada
konsentrasi klorida yang rendah. Pada jenis titrasi ini, endapan indikator berwarna harus lebih
larut disbanding endapan utama yang terbentuk selama titrasi. Indikator tersebut biasanya
digunakan pada titrasi sulfat dengan BaCl2, dengan titik akhir akhir terbentuknya endapan
garam Ba yang berwarna merah. (Khopkar, 1990)

Cara Volhard
Titrasi Ag dengan NH4SCN dengan garam Fe(III) sebagai indikator adalah contoh
metode volhard, yaitu pembentukan zat berwarna didalam larutan. Selama titrasi, AgSCN
terbentuk sedangkan titik akhir tercapai bila NH4SCN yang berlebih bereaksi dengan Fe(III)
membentuk warna merah gelap [FeSCN]2+.
Pada metode volhard, untuk menentukan ion klorida suasana haruslah asam karena
pada suasana basa Fe3+ akan terhidrolisis. AgNO3 berlebih yang ditambahkan ke larutan
klorida tentunya tidak bereaksi. Larutan Ag+ tersebut kemudian dititrasi balik dengan
menggunakan Fe(III) sebagai indikator. (Khopkar, 1990)

Cara Fajans
Dalam titrasi fajans digunakan indikator adsorpsi. Indikator adsorpsi ialah zat yang
dapat diserap pada permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Penyerapan ini
dapat diatur agar terjadi pada titik ekuivalen, antara lain dengan memilih macam indikator
yang dipakai dan pH.
Indikator ini ialah asam lemah atau basa lemah organic yang dapat membentuk
endapan dengan ion perak. Misalnya flouresein yang digunakan dalam titrasi ion klorida.
Flouresein sendiri dalam larutan berwarna hijau kuning, sehingga titik akhir dalam titrasi ini
diketahui berdasar tiga macam perubahan, yakni (i) endapan yang semula putih menjadi
merah muda dan endapan terlihat menggumpal, (ii) larutan yang semula keruh menjadi lebih
jernih, dan (iii) larutan yang semula kuning hijau hampir tidak berwarna lagi. (Harjadi, 1990)

3.2 Penetapan Titik Akhir Dalam Reaksi Pengendapan


a. Pembentukan suatu endapan berwarna
Ini dapat diilustrasikan dengan prosedur mohr untuk penetapan klorida dan bromide.
Pada titrasi suatu larutan netral dari ion klorida dengan larutan perak nitrat, sedikit larutan
kalium kromat ditambahkan untuk berfungsi sebagai indikator. Pada titik akhir, ion kromat
ini bergabung dengan ion perak untuk membentuk perak kromat merah yang sangat sedikit
sekali dapat larut. Titrasi ini hendaknya dilakukan dalam suasana netral atau sangat sedikit
sekali basa, yakni dalam jangkauan pH 6,59. (Bassett, 1994)

b. Pembentukan suatu senyawaan berwarna yang dapat larut


Contoh prosedur ini adalah metode volhard untuk titrasi perak dengan adanya asam
nitrat bebas dengan larutan kalium atau ammonium tiosianat standar. Indikatornya adalah
larutan besi(III) ammonium sulfat. Penambahan larutan tiosianat menghasilkan mula-mula
endapan perak klorida. Kelebihan tiosianat yang paling sedikitpun akan menghasilkan
pewarnaan coklat kemerahan, disebabkan oleh terbentuknya suatu ion kompleks. Metode ini
dapat diterapkan untuk penetapan klorida, bromide dan iodide dalam larutan asam. Larutan
perak nitrat standar berlebih ditambahkan dan kelebihannya dititrasi balik dengan larutan
tiosianat standar. (Bassett, 1994)

c. Penggunaan indikator adsorpsi


Aksi dari indikator-indikator ini disebabkan oleh fakta bahwa pada titik ekuivalen,
indikator itu diadsorpsi oleh endapan dan selama proses adsorpsi terjadi suatu perubahan
dalam indikator yang menimbulkan suatu zat dengan warna berbeda, maka dinamakan
indikator adsorpsi. Zat-zat yang digunakan adalah zat-zat warna asam, seperti warna deret
flouresein misalnya flouresein an eosin yang digunakan sebagai garam natriumnya.

Untuk titrasi klorida, boleh dipakai flouresein. Suatu larutan perak klorida dititrasi dengan
larutan perak nitrat, perak klorida yang mengendap mengadsorpsi ion-ion klorida. Ion
flouresein akan membentuk suatu kompleks dari perak yang merah jambu. (Bassett, 1994)

Penjelasan dalam faktor-faktor diatas yang mempengaruhi kelarutan dalam titrasi


pengendapan adalah sebagai berikut :

1) Efek suhu larutan


Pada kebanyakan garam anorganik, kelarutan meningkat jika suhu naik. Sebaiknya proses
pengendapan, penyaringan dan pencucian endapan dilakukan dalam keadaan larutan panas.
Kecuali untuk endapan yang dalam larutan panas memiliki kelarutan kecil (misalnya: Hg2Cl2,
MgNH4PO4) cukup disaring setelah terlebih dahulu didinginkan di lemari es.
2) Efek sifat pelarut
Kebanyakan garam anorganik larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organik. Air
memiliki momen dipol yang besar dan tertarik oleh kation dan anion membentuk ion hidrat.
Sebagaimana ion hidrogen yang membentuk H3O+, energi yang dibebaskan pada saat
interaksi ion dengan pelarut akan membantu meningkatkan gaya tarik ion terhadap kerangka
padat endapan. Ion-ion dalam kristal tidak memiliki gaya tarik terhadap pelarut organik,
sehingga kelarutannya lebih kecil daripada kelarutan dalam air. Pada analisis kimia,
perbedaan kelarutan menjadi dasar untuk pemisahan senyawa. Sebagai contoh: campuran
kering Ca(NO3)2 + Sr(NO3)2 dipisahkan dalam campuran alkohol + eter, hasilnya
Ca(NO3)2 larut, sedangkan Sr(NO3)2 tidak larut.

3) Efek ion sejenis


Endapan lebih mudah larut dalam air daripada dalam larutan yang mengandung ion sejenis.
Misalnya pada AgCl, [Ag+][Cl-] tidak lebih besar dari tetapan (Ksp AgCl = 1 x 10-10) di
dalam air murni di mana [Ag+] = [Cl-] = 1 x 10-5 M; jika ditambahkan AgNO3hingga [Ag+] =
1 x 10-4 M, maka [Cl-] turun menjadi 1 x 10-6 M, sehingga reaksi bergeser ke kanan sesuai
arah: Ag+ + Cl- AgCl. Ke dalam endapan terjadi penambahan garam, sedangkan jumlah
-
Cl dalam larutan menurun.
Teknik penambahan ion sejenis dilakukan oleh analis untuk tujuan :
a) Menyempurnakan pengendapan.
b) Pencucian endapan dengan larutan yang mengandung ion sejenis dengan endapan.
Jika kelebihan ion sejenis cukup besar, maka kelarutan endapan lebih besar dari harga yang
diperkirakan dari Ksp, oleh sebab itu penambahan ion sejenis dibatasi hingga 10%.

4) Efek aktivitas ion


Banyak endapan yang kelarutannya naik di dalam larutan yang mengandung ion-ion yang
tidak bereaksi dengan ion-ion pembentuk endapan. Fenomena ini disebut efek aktivitas ion
atau efek ion berlainan (diverse ion effect) atau efek garam netral. Misalnya kelarutan antara
AgCl dan BaSO4 dalam larutan KNO3.
Molaritas merupakan aktivitas yang terjadi dalam larutan yang sangat encer, jika konsentrasi
larutan makin pekat maka koefisien aktivitas (f) menurun cepat, akibat gaya tarik lebih besar
yang terjadi antar ion yang berbeda muatan. Efektivitas ion-ion (pada kondisi setimbang)
juga menurun dan penambahan endapan harus dilakukan agar aktivitas kembali ke semula.
Jika koefisien aktivitas kedua ion kecil, maka hasil kali konsentrasi molar besar. Kenaikan
kelarutan BaSO4 lebih besar daripada AgCl, karena koefisien aktivitas ion divalen lebih kecil
daripada ion univalent. Dalam larutan sangat encer f = 1, maka Ksp = Kosp.

5) Efek pH
Kelarutan garam dari asam lemah tergantung kepada pH larutan. Contoh : oksalat, sulfida,
hidroksida, karbonat, dan fosfat. Proton bereaksi dengan anion membentuk asam lemah
sehingga mempertinggi kelarutan garam.
6) Efek hidrolisis
Jika garam dari asam lemah dilarutkan di dalam air maka akan terjadi perubahan pH larutan.

MA M+ + A-
A- + H2O HA + OH-
Jika HA sangat lemah, MA tidak larut, maka Ka dan Ksp kecil. Jika [A-] kecil maka reaksi
hidrolisis lebih sempurna. Dapat terjadi 2 ekstrim yang bergantung padabesarnya harga Ksp,
diantaranya :
a) Kelarutan sangat kecil di mana pH air tidak berubah karena terjadi hidrolisis.
b) Kelarutan cukup besar di mana ion OH- yang bersumber dari air dapat diabaikan.

7) Efek hidroksida logam


Jika hidroksida logam dilarutkan di dalam air, terjadi seperti pada efek hidrolisis tetapi pH
tidak berubah.
M(OH)2 M2+ + 2 OH
OH- + H2O H3O+ + OH-
[M2+][OH-]2 = Ksp
[H3O+][OH-] = Kw
Charge balance : 2 [M2+] + [H3O+] = [OH-]
Dari 3 persamaan tersebut dapat dihitung kelarutan molar. Pada saat
M(OH)2 larut maka [OH-] naik, sehingga menggeser [OH-] pada
kesetimbangan disosiasi air ke kiri :
M(OH)2 M2+ + 2 OH-
2 H2O H3O+ + OH-
Dapat terjadi 2 kondisi ekstrim yang masing-masing tergantung kepada besarnya kelarutan
ion hidroksida, yaitu :
a) Kelarutan sangat kecil di mana pH tidak berubah.
b) Kelarutan cukup besar mengakibatkan kenaikan [OH-], sedangkan [H3O+] sangat kecil
(diabaikan).

8) Efek pembentukan senyawa kompleks


Kelarutan garam sukar larut dipengaruhi oleh zat-zat yang dapat membentuk senyawa
kompleks dengan kationnya. Ion pengkompleks dapat berupa anion atau molekul netral, baik
sejenis maupun tidak sejenis dengan endapan. Misalnya efek hidrolisis di mana OH- sebagai
ion pengkompleks.

4. ALAT YANG DIGUNKAN


Neraca Analitis
Kaca Arloji
Erlenmeyer 250 ml
Buret 50 ml
Pipet ukur 25 ml
Gelas kimia 100 ml, 250 ml
Labu takar 500 ml
Spatula / Pengaduk
Bola karet
. Corong

5. GAMBAR ALAT (Terlampir)

6. BAHAN YANG DIGUNAKAN


AgNO3
Indicator K2Cr04
NaCl p.a
Cuplikan yang mengandung Cl (CaCl)

7. PROSEDUR PERCOBAAN
7.1 Standardisasi larutan baku AgNO3
Menimbang 0,5 gram perak nitrat dan tambahkan aquadest sampai 500 ml dalam labu takar.
Dijaga jangan sampai terkena sinar matahari.
Menimbang dengan teliti tiga cuplikan natrium klorida yang murni dan kering seberat 0,20
gram dalam tiga Erlenmeyer 250 ml.
Melarutkan tiap contoh dalam 50 ml air aquadest dan tambahkan 2 ml kalium kromat 0,1 M.
Mentitrasi cuplikan dengan larutan perak nitrat sampai terjadi perubahan warna menjadi
kemerah-merahan yang stabil.

7.2 Penentuan Klorida


Menimbang dengan teliti cuplikan seberat 0,15 gram, larutkan ke dalam air sampai 100 ml.
Mengambil 25 ml alikot masukkan kedalam Erlenmeyer berukuran 250 ml.
Menambahkan tiga tetes indicator kalium kromat.
Menitrasikan larutan baku perak nitrat sampai terjadi perubahan warna menjadi kemerah-
merahan yang stabil.

8. DATA PENGAMATAN

8.1 Standardisasi larutan Baku/standar AgNO3

No. Gram analit Volume Titran Perubahan Warna


(AgNO3)

1. 200 mg 37 ml Kuning Merah

2. 200 mg 34,5 ml Kuning Merah

3. 200 mg 36 ml Kuning Merah

Volume rata-rata 35,83 ml


8.2 Penentuan Cl- dengan AgNO3

No. Volume Analit Volume Titran Perubahan warna


(AgNO3)

1. 25 ml 6,3 ml Kuning Merah

2. 25 ml 8,9 ml Kuning Merah

3. 25 ml 6,3 ml Kuning Merah

4 25 ml 4,5 ml Kuning Merah

Volume rata-rata 8,66 ml

9. PERHITUNGAN
9.1 STANDARDISASI LARUTAN AgNO3
Menentukan Normalitas AgNO3

gram NaCl = V AgNO3 x N AgNO3


BE NaCl

N AgNO3 = gram NaCl


BE NaCl x V AgNO3

= 200 mg
58,44 x 35,83 ml

= 0,0955 N

% Kesalahan = | 0,1 0,0954| x 100%


0,0954

= 4,8218 %

= 4,8 %

9.2 PENENTUAN KLORIDA DENGAN AgNO3


Menentukan % klorida dalam contoh:
% Cl- = V AgNO3 x N AgNO3 x BE Cl- x 100 %
gram

= 0,065 l x 0.095 N x 35,45 gr/Ek x 100%


25ml/100ml x 0,15 gram

= 58,62 % (praktek)
% Cl- = BA % Cl- x 100% % Kesalahan = | 47,62 % 58,62 % | x 100 %
BM KCl 58,62 %

= 35,45 gr/Ek = 18,76 %


75,45 gr/Ek

= 47,62 % (teori)

10. PERTANYAAN
1. Apa yang dimaksud dengan argentometri?
Argentometri adalah suatu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu larutan yang
dilakukan denngan titrasi berdasarkan pembentukan endapan ion Ag+ atau metode titrasi
yang menggunakan larutan perak nitrat sebagai titran.

2. Pada titrasi yang telah Anda lakukan di atas, tuliskan apa yang bertindak sebagai:
Standar Primer: Natrium Klorida (NaCl)
Standar Sekunder: AgNO3 (Perak Nitrat)
Analit: KCl
Indikator: Kalium Kromat (K2CrO4)

3. Tuliskan titrasi pengendapan yang bukan argentometri!


. Ion SO42-, titran Pb (NO3), indikator ditizon
. Ion PO43-, titran Pb (Ac)2, indikator dibromoflourescen
. Ion Cl-, titran Hg2 (NO3), indikator biru bromfenol

11. ANALISA PERCOBAAN


Percobaan titrasi pengendapan kali ini menggunakan metode Mohr, dimana
menggunakan indikator kalium kromat (K2CrO4). Dalam proses standardisasi larutan
AgNO3, ketika NaCl ditambah indikator K2CrO4, warna larutan berubah dari bening menjadi
kuning,. Hal ini disebabkan karena adanya ion CrO42- dari K2CrO4 dari hasil penguraian dari
indikator K2CrO4 yang akan bereaksi jika ditambah larutan standar. Pada saat larutan NaCl
yang telah diberi indikator dititrasi dengan AgNO3, warna akan berubah dari kuning menjadi
merah dan terdapat endapan. Hal ini disebabkan karena larutan NaCl terurai menjadi Na+ dan
Cl-. Sedangkan indikator K2CrO4 akan terurai menjadi K+ dan CrO42- yang kemudian
bereaksi dengan AgNO3 yang terurai menjadi Ag+ dan NO3- yang akan membentuk senyawa
baru.

AgNO3 (aq) + NaCl (aq) AgCl (putih) + NaNO3 (aq) merah

Pada prosesnya:
- Ag+ + Cl- AgCl Putih
- 2AgNO3 (aq) + K2CrO4 (aq) 2AgCrO4 Putih + 2KNO3 (aq)
+ 2-
- 2Ag + CrO4 Ag2CrO4 (putih)
- K+ + NO3- KNO3 (aq)

Terbentuknya warna dan endapan itu dalam proses titrasi standarisasi larutan karena sifat
dominan dari unsur logam yang terbentuk. Pada AgCl terdapat unsur Ag yang merupakan
logam transisi dan terdapat orbital kosong pada unsur sehingga apabila membentuk suatu
senyawa akan menyebabkan terjadinya perubahan warna. Sedangkan terventuknya endapan
AgCl karena hasil kali ion dari kelarutan atau senyawa AgCl > Ksp AgCl tersebut.

Setelah itu penentuan kadar klorida dalam KCl dengan menggunakan AgNO3,
dimana dalam prosesnya diperoleh kadar sebesar 58,62%. Pada titrasi, terjadi perubahan
warna dari kuning kebeningan menjadi merah . Hal ini disebabkan karena larutan KCl akan
terurai menjadi K+ dan Cl-, sedangkan indikator K2CrO4 menjadi K+ dan CrO42- yang akan
bereaksi dengan AgNO3 yang terurai menjadi Ag+ dan NO3-, adapun persamaannya sebagai
berikut:

AgNO3 (aq) + KCl (aq) AgCl (s) + KNO3 (aq)

Pada proses:
- Ag+ + Cl- AgCl Putih
- 2AgNO3 (aq) + K2CrO4 (aq) 2AgCrO4 Putih + 2KNO3 (aq)
- 2Ag+ + CrO42- Ag2CrO4
+ -
- K + NO3 KNO3 (aq)

Penentuan indikator untuk titik akhir titrasi dengan terbentuknya endapan perak kromat.
Karena pentitrasian berhenti berubah bukan pada saat awalnya terbentuk endapan, sehingga
hasil endapan yang dihasilkan banyak. Titik ekivalen ditandai dengan kemunculan awal
endapan

AgCrO4 jadi AgNO3 = Endapan yang terbentuk

12. KESIMPULAN
Dari analisa data percobaan, diperoleh kesimpulan:

1. Perubahan warna dari putih ke kuning disebabkan ion CrO42- akan bereaksi dengan
K2CrO4 jika ditambah larutan standar. Sedangkan perubahan warna dari kuning
menjadi merah saat titrasi disebabkan karena NaCl akan terurai menjadi Na+ dan Cl-,
K2CrO4 terurai menjadi K+ dan CrO42- yang bereaksi dengan AgNO3 dan membentuk
senyawa baru
2. Terbentuknya warna dikarenakan sifat dominan dari unsure logam yangh terbentuk,
sedangkan endapan AgCl terbentuk karena hasil kali ion AgCl > Ksp AgCl yang
terbentuk
3. Normalitas AgNO3 yang didapat yaitu 0,0954 ek/L dengan persen kesalahan 4,6%.
Sedangkan kadar klorida yang diperoleh yaitu 58,62% dengan persen kesalahan
18,76%
4. Semakin banyak AgNO3 yang digunakan maka semakin banyak endapan

13. DAFTAR PUSTAKA


Tim Penyusun.Penuntun Praktikum Kimia Analisa Dasar.Palembang : Jurusan Teknik Kimia
Politeknik Negeri Sriwijaya.2015

Woper laporan praktikum Titrasi pengendapan / Argentometri penentuan klorida (adrywoper


.blog.spot.com)

http://ladieslala.blogspot.co.id/2015/10/laporan-praktikum-kad-titrasi.html

http://selaluadakk.blogspot.co.id/2011/12/titrasi-pengendapan-penentuan-klorida.html
GAMBAR ALAT (LAMPIRAN)

ERLENMEYER LABU TAKAR

CORONG GLASS SPATULA

PIPET UKUR BURET


NERACA ANALITIK PENGADUK

BOLA KARET KACA ARLOJI

BEAKER GLASS