Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

ELEKTRONIKA I
Modul praktikum :

OP-AMP Sebagai Filter Aktif

Nama / NPM : Inas Fathinah Saepudin / 1506670074


Rekan Kerja : Akmal Duta Satria
Kelompok :9
Nomor Modul : Modul 7
Tanggal Percobaan : 17 November 2016
Hari : Kamis

Laboratorium Elektronika
Departemen Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia
Depok
2016
MODUL VII
OP-AMP Sebagai Filter Aktif

A. TUJUAN

Memberikan pengertian dasar mengenai rangkaian integrator dan


differensiator dan penerapannya sebagai filter aktif

B. TEORI DASAR
Differensiator merupakan rangkaian yang outputnya merupakan
fungsi derivatif terhadap waktu dan input dengan konstanta tertentu. Pada
integrator outputnya merupakan fungsi integrasi inputnya. Karena
merupakan fungsi waktu, bentuk gelombang yang dilewatkan akan
mengalami perubahan bentuk sesuai dengan hubungan matematisnya.
Fungsi waktu berarti pula fungsi frekuensi, rangkaian ini digunakan sebagai
induk dari rangkaian filter aktif, yaitu penguat yang hanya melewatkan
daerah frekuensi tertentu.

Differensiator
Konfigurasi rangkaian op-amp penguat differensiator hampir sama
dengan konfigurasi rangkaian penguat inverting. Perbedaannya terletak
pada komponen hambatan input Rin yang digunakan. Pada penguat
inverting, komponen hambatan input berupa resistor (Rin), sedangkan pada
differensiator komponen hambatan input-nya berupa kapasitor (C).
Kapasitor disini merupakan komponen penghambat/isolasi berbasis pada
frekuensi (Frequency Dependent Impedance) yang disimbolkan dengan
huruf Z.
Pada rangkaian differensiator terdapat sebuah resistor dan kapasitor
yang membentuk sebuah rangkaian RC yang dihubungkan dengan penguat
operasional dan juga reaktansi (XC) dari kapasitor yang memegang peran
penting dalam kinerja sebuah penguat differensiator. Konfigurasi rangkaian
penguat differensiator ditunjukkan seperti pada Gambar 1.
Gambar 1. Rangkaian penguat differensiator
Dari gambar rangkaian penguat differensiator di atas. Kapasitor akan
menghambat semua sinyal arus input berfrekuensi rendah (DC) dan hanya
meloloskan sinyal arus input yang berfrekuensi tinggi (AC).

Pada sinyal frekuensi rendah, reaktansi kapasitor (XC) akan bernilai


tinggi sehingga op-amp akan menghasilkan penguatan yang lemah
(RF/XC) dan tegangan output yang rendah. Dan berlaku pula sebaliknya.
Namun demikian, pada frekuensi tinggi sebuah rangkaian differensiator
akan menjadi tidak stabil dan akan mulai terjadi osilasi. Untuk menghindari
hal tersebut, maka dapat dilakukan pengurangan frekuensi dengan
menambahkan sebuah kapasitor (CF) tambahan bernilai kecil yang
dirangkai paralel terhadap resistor feedback (RF). Seperti rangkaian pada
Gambar 2 dibawah ini.

Gambar 2. Modifikasi rangkaian penguat differensiator

Selama selisih tegangan input pada kedua terminal di rangkaian


penguat differensiator bernilai nol, arus input akan melalui kapasitor dengan
nilai sebagai berikut.
Kemudian rata-rata perubahan muatan dirumuskan dengan

Sehingga besar tegangan output untuk penguat differensiator adalah

Bentuk rangkaian penguat differensiator mirip dengan rangkaian penguat


inverting. Sehingga besar penguatannya adalah

Penguat differensiator memiliki beberapa keuntungan yaitu


- Akan menjadi tidak stabil dan akan mulai terjadi osilasi.
- Input kapasitif (C) membuat penguat differensiator rentan terkena
sinyal-sinyal noise acak.

Integrator
Penguat integrator adalah kebalikan dari penguat differensiator.
Rangkaian integrator banyak digunakan dalam komputasi sinyal analog
dimana rangkaian ini banyak membantu menyelesaikan persamaan integral.
Untuk melakukan hal tersebut diperlukan penguat dengan stabilitas DC
yang sangat baik, tidak seperti halnya rangkaian penguat pada umumnya.
Rangkaian integrator aktif dengan op-amp ini juga berasal dari rangkaian
penguat inverting dengan resistor feedbacknya diganti dengan kapasitor.

Gambar 3. Contoh rangkaian integrator


Karena input non inverting diground, maka arus i yang lewat R akan
terus melewati C, jadi :

dengan tegangan output rangkaian integrator (Vo) dituliskan dengan rumus


sebagai berikut :

Dari persamaan diatas tampak bahwa tegangan keluaran (Vo) merupakan


integral dari sinyal input.

Batas frekuensi yang dilalui oleh kapasitor dalam rangkaian


integrator dapat ditentukan dengan persamaan berikut :

Pada pengoperasian secara normal, perlu mereset rangkaian pengintegral


secara reguler pada suatu selang tertentu, misalnya dengan pemutusan dan
penyambungan kembali kapasitor, setelah itu dapat dilakukan kembali
proses integrasi. Biasanya pada rangkaian untuk aplikasi terdapat
penambahan resistor yang diparalel dengan kapasitor feedback (RF).

Low Pass Filter


Low Pass Filter (LPF) adalah filter yang hanya melewatkan sinyal
dengan frekuensi yang lebih rendah dari frekuensi cut-off (fc) dan akan
melemahkan sinyal dengan frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi cut-
off (fc). Pada filter LPF yang ideal, sinyal dengan frekuensi diatas
frekuensi cut-off (fc) tidak akan dilewatkan sama sekali (Vout = 0 volt).
Rangkaian low pass filter RC merupakan jenis filter pasif, dengan respon
frekuensi yang ditentukan oleh konfigurasi R dan C yang digunakan.
Gambar 4. Rangkaian dasar dan grafik respon frekuensi Low Pass Filter

Frekuensi cut-off (fc) dari Low Pass Filter dengan RC dapat


dituliskan dalam persamaan matematik sebagai berikut.

Rangkaian filter pasif LPF RC diatas terlihat seperti pembagi tegangan


menggunakan R. Dimana pada filter LPF RC ini tegangan output diambil
pada titik pertemuan RC. Tegangan Vout filter pasif LPF dapat
diekspresikan dalam persamaan matematis sebagai berikut.

Besarnya penguatan tegangan (G) pada filter pasif yang ideal maksimum
adalah 1 = 0dB yang hanya terjadi pada frekuensi sinyal input dibawah
frekuensi cut-off (fc). Penguatan tegangan (G) filter LPF RC pasif dapat
dituliskan dalam persamaan matematis sebagai berikut.

Dan penguatan tegangan (G) LPF RC dapat dituliskan dalam satuan dB


sebagai berikut.

Pada low pass filter terdapat beberapa karakteristik mendasar sebagai


berikut.
- Pada saat frekuensi sinyal input lebih rendah dari frekuensi cut-off (fc)
(fin << fc) maka penguatan tegangan / Gain (G) = 1 atau G=0dB.
- Pada saat frekuensi sinyal input sama dengan frekuensi cut-off (fc)
(fin = fc) maka = 1/RC sehingga penguatan tegangan / Gain (G)
menjadi -3 dB atau terjadi pelemahan tegangan sebesar 3 dB.
- Pada saat frekuensi sinyal input lebih tinggi dari frekuensi cut-off
(fc) (fin >> fc) maka besarnya penguatan tegangan (G) = 1/RC atau
G = -20 log RC.

High Pass Filter


High Pass Filter (HPF) adalah suatu rangkaian yang akan
melewatkan sinyal dengan frekuensi berada diatas frekuensi cut-off (fc)
sampai frekuensi cut-off (fc) rangkaian tersebut dan akan menahan isyarat
yang berfrekuensi dibawah frekuensi cut-off (fc) rangkaian tersebut.

Gambar 5. High Pass Filter dengan rangkaian RC

Prinsip kerja dari HPF adalah dengan memanfaatkan karakteristik


dasar komponen C dan R, dimana C akan mudah melewatkan sinyal AC
sesuai dengan nilai reaktansi kapasitifnya dan komponen R yang lebih
mudah melewatkan sinyal dengan frekuensi yang rendah. Prinsip kerja
rangkaian (HPF) dengan RC yaitu apabila rangkaian filter high pass ini
diberikan sinyal input dengan frekuensi diatas frekuensi cut-off (fc) maka
sinyal tersebut akan dilewatkan ke output rangkaian melalui komponen C.
Kemudian pada saat sinyal input yang diberikan ke rangkaian high pass
filter memiliki frekuensi di bawah frekuensi cut-off (fc) maka sinyal input
tersebut akan dilemahkan dengan cara dibuang ke ground melalui
komponen R.
Frekuensi resonansi dari filter high-pass mengikuti nilai time
constant () dari rangkaian RC tersebut.
Sehingga frekuensi cut-off dari filter tersebut adalah :

Sinyal output rangkaian filter high-pass mendahului inputnya yaitu sebesar :

Band Pass Filter


Band Pass Filter adalah sebuah rangkaian yang dirancang hanya
untuk melewatkan isyarat dalam suatu pita frekuensi tertentu dan untuk
menahan isyarat diluar jalur pita frekuensi tersebut. Jenis filter ini memiliki
tegangan keluaran maksimum pada satu frekuensi tertentu yang disebut
dengan frekuensi resonansi (fr). Jika frekuensinya berubah dari frekuensi
resonansi maka Vout nya turun, ada frekuensi cutoff atas (fh) dan frekuensi
cutoff bawah (fl) dimana gainnya tetap 0,707 Ar. Pita frekuensi antara
(fh) dan (fl) adalah band width (B).

Gambar 6. Contoh rangkaian Band Pass Filter

Nilai frekuensi cut-off atas ditentukan oleh filter high-pass yaitu

dan frekuensi cut-off bawah ditentukan oleh filter low-pass yaitu

sehingga besarnya bandwidth adalah

C. ALAT DAN KOMPONEN YANG DIGUNAKAN


Sumber tegangan 15 V
Osiloskop
Generator fungsi
Op-amp 741
Resistor dengan berbagai harga
Kapasitor 0,1 mF dan 10 mF

D. PROSEDUR PERCOBAAN
I. DIFFERENSIATOR
1. Menyusun rangkaian seperti pada gambar V.1.
2. Menggunakan C = 0,1 F dan R = 1K.
3. Memberi gelombang sinus dari sinyal generator dengan frekuensi
1,67 KHz dan amplitudo 200mV.
4. Mencatat gelombang output bersamaan dengan gelombang input.
Bila tidak ada output menukar C dengan 10 mF.
5. Mengganti input dengan gelombang segitiga kotak, mencatat
gelombang outputnya.

II. INTEGRATOR
1. Menyusun seperti pada gambar V.2.
2. Melakukan langkah percobaan seperti differensiator.

III. LOW PASS FILTER


1. Menyusun rangkaian seperti pada gambar V.3.
2. Memberikan dengan frekuensi rendah, amplitudo = 1 Vpp,
mengamati gelombang output.
3. Menaikkan frekuensi sinyal input hingga tegangan output
menjadi 0,707 tegangan output semula. Ini adalah frekuensi cut
off.
4. Mengubah kapasitor dengan 10 mF dan melakukan langkah yang
sama.
IV. HIGH PASS FILTER
1. Menyusun rangkaian seperti pada gambar V.4.
2. Memberikan gelombang sinusoida sebagai input, mengatur
frekuensi agar tegangan output menunjukkan harga terbesar.
3. Menurunkan frekuensi hingga tegangan output berubah menjadi
0,707 tegangan output semula. Ini adalah frekuensi cut off.
4. Mengubah kapasitor dengan 10 mF dan melakukan langkah yang
sama.

V. BAND PASS FILTER


1. Menyusun rangkaian seperti gambar V.5.
2. Memberikan input gelombang sinusoida dengan amplitudo 1
Vpp.
3. Dari frekuensi rendah mengamati output yang terjadi, menaikkan
frekuensi perlahan-lahan hingga melewati frekuensi tengah dan
tegangan output turun menjadi 0,707 tegangan output maksimum,
ini adalah frekuensi cut off. Melakukan hal tersebut perlahan-
lahan.

E. TUGAS PENDAHULUAN
1. Buat persamaan untuk rangkaian differensiator dan integrator.
Differensiator
Arus input akan melalui kapasitor dengan nilai sebagai berikut.

Kemudian rata-rata perubahan muatan dirumuskan dengan


Dengan diketahui bahwa : =

Sehingga besar tegangan output untuk penguat differensiator
adalah

Integrator
Tegangan output rangkaian integrator (Vo) dituliskan dengan
rumus sebagai berikut :

Batas frekuensi yang dilalui oleh kapasitor dalam rangkaian


integrator adalah

2. Sebutkan kelebihan dan kekurangan filter aktif.


Kelebihan :
a. Besar penguatan dan frekuensinya mudah diatur selama op-
amp masih memberikan penguatan dan sinyal input yang tidak
sekaku seperti pada filter pasif.
b. Tidak ada masalah beban karena hambatan input tinggi dan
hambatan output rendah. Filter aktif tidak membebani sumber
input.
c. Pada umumnya harga filter aktif lebih ekonomis daripada filter
pasif karena pemilihan variasi dari op-amp yang murah dan
tanpa induktor yang harganya biasanya mahal.
d. Nilai Q yang diperoleh akan lebih tinggi dari filter pasif karena
filter aktif dapat mencapai resonansi tanpa menggunakan
induktor.
Kekurangan :
a. Memerlukan adanya sumber listrik luar.
b. Lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan dan frekuensi
kerja yang sangat dipengaruhi oleh karakteristik komponen
aktifnya.

3. Sebutkan jenis-jenis filter aktif.


Pada umumnya, jenis-jenis filter aktif yaitu :
Low Pass Filter (LPF)
High Pass Filter (HPF)
Band Pass Filter (BPF)
Band Reject Filter (BRF)
All Pass Filter (APF)

4. Apa yang dimaksud dengan roll off rate, gain bandwidth product dan
pole pada filter aktif ?
Roll off rate : kemiringan / kelajuan tertentu dari fungsi transmisi
pada grafik terhadap frekuensi, biasanya berada pada transisi
antara passband dengan stopband.
[ Roll-off = 20n dB/decade atau Roll-off = 6n dB/octave ]
Gain bandwith product (GBP) : hasil dari bandwith amplifier dan
penguatan dimana bandwidth diukur.
[ GBP = AvCL f2 ]
Pole : orde pada active filter (n) yang bergantung pada jumlah dari
induktor dan kapasitor atau rangkaian RC yang ada pada rangkaian
filter tersebut.
[ n jumlah kapasitor ]

5. Jelaskan jenis-jenis respons filter.


Low Pass Filter
Pada rangkaian low pass filter, respon frekuensi ditentukan oleh
konfigurasi R dan C yang digunakan. Filter ini meneruskan
sinyal berfrekuensi rendah dan melemahkan sinyal berfrekuensi
tinggi. Sinyal dapat berupa sinyal listrik seperti perubahan
tegangan maupun data-data digital seperti citra dan suara.

High Pass Filter


Filter ini akan memberikan respon melemahkan sinyal input jika
sinyal yang diberikan ke rangkaian high pass filter lebih rendah
dari frekuensi cut-off rangkaian, dan akan memberikan
penguatan tegangan sebesar Av pada saat frekuensi sinyal
tersebut lebih tinggi dari frekuensi cut-off kemudian akan terjadi
pelemahan 0,707 dari Av pada saat frekuensi sinyal input sama
dengan frekuensi cut-off rangkaian high pass filter tersebut.

Band Pass Filter


Band pass filter merupakan filter yang meloloskan sinyal pada
kisaran frekuensi tertentu dan menolak frekuensi di luar kisaran
tersebut, yaitu diatas frekuensi batas bawah (fl) dan dibawah
frekuensi batas atas (fh).

Band Reject Filter


Band reject filter adalah filter yang menahan sinyal dengan
kisaran frekuensi diatas frekuensi batas bawah (fl) dan dibawah
kisaran frekuensi batas atas (fh). Dan akan melewatkan sinyal
dengan kisaran frekuensi diluar kisaran frekuensi batas bawah
(fl) dan frekuensi batas atas (fh).
F. SIMULASI
1. Differensiator
2. Integrator
3. Low Pass Filter
G. DATA PENGAMATAN
1. Percobaan I (Differensiator)
C1 = 0,1 F R = 1 K sinyal input : f = 1,67 kHz
C2 = 100 F A = 600 mVpp
Gelombang Vpp input Vpp output f input f output
input C1 C2 C1 C2 C1 C2 C1 C2

Sinus 1,2 V 1,2 V 600 mV 7,2 mV 1,68 kHz 1,7 kHz


Segitiga 2,3 V 2,24 V 2,32 V 400 mV 1,71 kHz 1,5 kHz 1,71 kHz
Kotak

2. Percobaan II (Integrator)
C1 = 0,1 F R = 1 K sinyal input : f = 1,67 kHz
C2 = 100 F A = 600 mVpp
Gelombang Vpp input Vpp output f input f output
input C1 C2 C1 C2 C1 C2 C1 C2

Sinus 1,18 V 1,18 V 600 mV 200 mV 1,52 kHz 1,52 kHz


Segitiga 2,3 V 2,28 V 720 mV 400 mV 1,52 kHz 50,25 Hz
Kotak

3. Percobaan III (Low Pass Filter)


A = 1 Vpp
C = 0,1 F
Vout semula = 1,84 V f 1 = 301,5 Hz
Vout akhir = 0,707 1,84 = 1,3 V f 2 = 992 Hz
C = 100 F
Vout semula = 90 mV f 1 = 309,5 Hz
Vout akhir = 0,707 90 = 63,63 mV f 2 = 427,2 Hz

4. Percobaan IV (High Pass Filter)


A = 1 Vpp
C = 0,1 F
Vout semula = 112 mV f 1 = 236 Hz
Vout akhir = 0,707 112 = 79,184 mV f 2 = 532 Hz
C = 100 F

H. ANALISIS
Pada percobaan dalam modul 7 ini, dilakukan dengan tujuan agar
praktikan paham mengenai rangkaian integrator dan differensiator serta
penerapannya sebagai filter aktif. Dalam percobaan ini praktikan
menggunakan sumber tegangan 15 V sebagai tegangan Vcc dan VEE pada
input kaki 4 dan 7 di op-amp yang digunakan, lalu osiloskop untuk
mengukur besar tegangan Vpp dan frekuensi yang dihasilkan serta
mengetahui bentuk sinyal gelombang input dan output yang dihasilkan,
generator fungsi sebagai sinyal input tegangan AC dalam bentuk Vpp,
kemudian op-amp 741 sebagai komponen aktif dan penguat, dan resistor
serta kapasitor berfungsi untuk memfilter frekuensi pada percobaan ini
dalam rangkaian yang sedemikian rupa.

Pada percobaan pertama, yaitu filter dengan rangkaian


differensiator, yaitu rangkaian dimana outputnya merupakan fungsi
derivative terhadap waktu dan inputnya dengan konstatanta tertentu. Dalam
percobaan ini, praktikan menyusun rangkaian seperti pada modul dengan
kapasitor sebesar 0,1 F yang berfungsi untuk menghambat sinyal input
berfrekuensi rendah (DC) dan meloloskan sinyal output berfrekuensi tinggi
(AC), dan resistor sebesar 1 K yang dihubungkan dengan output. Lalu
rangkaian diberi gelombang input dari generator fungsi dengan frekuensi
sekitar 1,67 kHz dan amplitudo 600 mVpp. Saat gelombang input yang
diberikan dengan gelombang sinus, praktikan memperoleh tegangan output
sebesar 600 mV namun tidak memperoleh frekuensi outputnya. Pada input
dengan gelombang segitiga, diperoleh Vout sebesar 2,32 Vpp dan f output
sebesar 1,71 kHz. Untuk gelombang input kotak, praktikan tidak sempat
melakukan percobaan. Pada saat percobaan ini, ada beberapa yang tidak
menghasilkan gelombang output, sehingga praktikan mengganti kapasitor
dengan harga 100 F. Namun, ketika kapasitor telah diganti dengan harga
yang lebih besar, gelombang dan frekuensi output juga beberapa ada yang
tidak ada. Kemungkinan hal tersebut disebabkan karena alat osiloskop yang
digunakan pratikan tidak bekerja dengan cukup baik, sehingga data yang
diperoleh pun tidak cukup akurat dan beberapa tidak ditampilkan.

Pada percobaan kedua, yaitu filter dengan rangkaian integrator, yang


dimana outputnya merupakan fungsi integrasi dari inputnya. Rangkaian ini
kebalikan dari rangkaian differensiator, dengan bentuk rangkaian yang
hampir sama dengan differensiator namun komponen yang dihubungkan ke
output adalah kapasitor. Gelombang yang dihasilkan akan mengalami
perubahan bentuk dan integrator ini sebagai rangkaian filter aktif yang
hanya meloloskan daerah frekuensi tertentu. Langkah dalam percobaan ini
juga sama dengan differensiator, yaitu dengan resistor sebesar 1 K dan
kapasitor sebesar 0,1 F namun dengan bentuk rangkaian yang berbeda.
Sehingga praktikan memperoleh Vout sebesar 600 mVpp dan f out sebesar
1,52 kHz pada saat gelombang input sinus. Saat gelombang input segitiga,
diperoleh Vout sebesar 720 mVpp namun tidak memperoleh frekuensi
outputnya. Praktikan juga tidak sempat melakukan percobaan dengan
gelombang input kotak. Pada percobaan ini pun, osiloskop tidak
menampilkan besar frekuensi yang diperoleh pada beberapa kondisi
percobaan, karena alat yang tidak cukup bekerja dengan baik. Dan juga pada
percobaan ini maupun percobaan differensiator, ada yang menghasilkan
noise yang cukup besar pada gelombang, kemungkinan disebabkan oleh
kabel yang menghubungkan osiloskop dengan rangkaian tidak berfungsi
begitu baik, karena ketika kabel tersenggol sedikit, data yang ditampilkan
sangat jauh berbeda dan noise yang dihasilkan lebih besar.

Pada percobaan ketiga yaitu dengan rangkaian low pass filter.


Bentuk rangkaian ini hampir sama dengan integrator yaitu resistor yang
dihubungkan ke input dengan adanya penambahan kapasitor dan resistor,
namun input diberikan pada kaki non inverting di op-amp. Pada low pass
filter, penguatan tegangan berada pada frekuensi kecil dan penguatan
semakin berkurang pada frekuensi yang semakin besar. Rangkaian ini diberi
frekuensi rendah, dan diamati gelombang dan V outputnya. Ketika
frekuensi input dinaikkan, Vout akan menjadi 0,707 Vout semula, sehingga
pada frekuensi inilah yang merupakan besar frekuensi cut-off nya. Praktikan
membandingkan fc pada percobaan dan perhitungan dengan persamaan :
1
=
2
Jika dilihat pada tabel perbandingan di tugas akhir, perbedaan antara kedua
hasil fc tersebut cukup besar, kemungkinan hal ini masih disebabkan oleh
kesalahan pada alat. Adanya kemungkinan faktor lain yaitu besar Vpp dan
frekuensi yang ditampilkan pada osilator berubah-ubah, karena tegangan
input AC yang sangat sensitif sehingga data yang diperoleh pun tidak cukup
akurat.

Pada percobaan keempat, yaitu dengan rangkaian high pass filter.


Bentuk rangkaian ini juga hampir sama dengan rangkaian differensiator
yaitu kapasitor yang dihubungkan ke input dengan juga adanya penambahan
kapasitor dan resistor pada rangkaian, namun input diberikan ke kaki non
inverting. Pada high pass filter, tegangan output yang terukur akan terus
bertambah ketika belum mencapai nilai dari cut off, namun ketika sudah
mencapai nilai cut off nilai dari tegangan output akan konstan. Langkah
percobaan hampir sama dengan low pass, namun frekuensi awal yang
diberikan pada harga terbesar, lalu diturunkan hingga Vout menjadi 0,707
Vout semula, sehingga besar frekuensi ini disebut frekuensi cut-off nya.
Dengan persamaan yang sama dengan low pass untuk mencari nilai fc, saat
dibandingkan perbedaannya juga cukup besar antara fc percobaan dengan
perhitungan. Hal ini juga mungkin disebabkan dengan faktor yang sama
yaitu adanya kesalahan pada alat.

Pada percobaan kelima yaitu dengan rangkaian band pass filter.


Rangkaian ini merupakan gabungan dari low pass dan high pass filter, yaitu
meloloskan frekuensi yang lebih besar dari fc bawah dan yang lebih kecil
dari fc atas, dan menahan sinyal diluar pita frekuensi antara kedua fc
tersebut, frekuensi yang lolos merupakan besaran bandwith dari suatu band
pass filter. Pada percobaan ini, praktikan tidak sempat melakukannya karena
adanya keterbatasan waktu sehingga praktikan tidak dapat menganalisis
percobaannya dan kesalahan yang mungkin terjadi.

I. KESIMPULAN
Differensiator adalah rangkaian dimana kapasitor berfungsi untuk
memfilter sinyal masukan, dengan menghambat sinyal input
berfrekuensi rendah (DC) dan meloloskan sinyal output berfrekuensi
tinggi (AC).
Integrator adalah rangkaian penguat inverting dengan resistor
feedbacknya yang diganti dengan kapasitor, untuk meloloskan daerah
frekuensi tertentu.
Low pass filter berfungsi untuk meloloskan sinyal berfrekuensi rendah
dan menghambat sinyal berfrekuensi tinggi.
High pass filter berfungsi untuk meloloskan sinyal berfrekuensi tinggi
dan menghambat sinyal berfrekuensi rendah, tetapi mengurangi
amplitudo frekuensi yang lebih rendah daripada frekuensi cut off.
Band pass filter berfungsi untuk meloloskan frekuensi dalam pita
frekuensi tertentu dan menolak frekuensi di luar kisaran tersebut,
frekuensi yang lolos merupakan besaran bandwith.

J. TUGAS AKHIR
1. Gambar bentuk gelombang input dan output untuk rangkaian
differensiator dan integrator.
Differensiator

Integrator

2. Hitung dan bandingkan frekuensi cut off untuk masing-masing filter


antara teori dan percobaan yang dilakukan.
1
=
2
Low Pass Filter

Kapasitor f cut-off Percobaan f cut-off Teori

0,1 F 992 Hz 1592,35 Hz


100 F 427,2 Hz 1,59 Hz
High Pass Filter

Kapasitor f cut-off Percobaan f cut-off Teori

0,1 F 532 Hz 1592,35 Hz


100 F 1,59 Hz

3. Sebutkan kegunaan, aplikasi dan pengembangan masing-masing filter.


Differensiator
Untuk memfilter sinyal masukan dengan kapasitor yang
menghasilkan gelombang output segi empat dari gelombang input
lereng.
Integrator
Untuk mengubah tegangan kotak menjadi tegangan segitiga, serta
untuk meningkatkan atau menurunkan tegangan secara linier.
Aplikasinya pada komputer analog.
Low Pass Filter
Untuk meloloskan sinyal berfrekuensi rendah dan meredam sinyal
berfrekuensi tinggi (menghilangkan kebisingan / noise).
Aplikasinya pada sensor suhu.
High Pass Filter
Untuk meloloskan sinyal berfrekuensi tinggi, tetapi mengurangi
amplitudo frekuensi yang lebih rendah daripada frekuensi cut off.
Aplikasinya yaitu pada bagian dari crossover audio.
Band Pass Filter
Untuk meloloskan frekuensi dalam kisaran tertentu dan menolak
frekuensi di luar kisaran tersebut yang merupakan besaran
bandwith. Aplikasinya dalam mengubah sinyal pada radio/tv untuk
memisahkan dua percakapan pada jalur komunikasi.
K. REFERENSI
[1] Malvino, Albert Paul. Eletronic Principles 6th Edition. Tata McGraw-
Hill Publishing Company Limited. 1999.
[2] Suyadhi, Taufiq Dwi Septian. Buku Pintar Robotika. ANDI Offset.
2010.
[3] Widodo, Thomas. Elektronika Dasar. Salemba Teknika. 2002.
[4] http://www.electronics-tutorials.ws/

L. LAMPIRAN
1. Datasheet
Op-Amp 741
Arus bias input : 500 A
Tegangan offset : 6000 mV
Slew rate : 0.5 V/ s
CMRR : 70 dB

2. Data praktikum sebelumnya