Anda di halaman 1dari 3

RESUME MATERI SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017

Sabtu, 20 Mei 2017


1. Materi I (Deep Sea Mining) oleh Prof. A.K Prodjosantoso, Ph.D
Potensi sumberdaya mineral kelautan tersebar di seluruh perairan Indonesia. Sumberdaya
mineral tersebut diantaranya adalah minyak dan gas bumi, timah, emas, dan perak, pasir kuarsa,
monazite dan zicon, pasir besi, agregat bahan konstruksi, pasporit, nodul dan kerak mangan,
kromit, gas biogenic kelautan, dan mineral hidrotermal.
Indonesia diketahui memiliki 60 cekungan minyak dan gas bumi, yang diperkirakan dapat
menghasilkan 84,48 miliar barrel minyak. Dari jumlah cekungan itu, 40 cekungan terdapat di
lepas pantai dan 14 cekungan lagi terdapat di pesisir. Saat ini masih ada sekitar 22 cekungan
yang belum diteliti atau dieksplorasi kandungannya. Ekspedisi geologi kelautan melibatkan
peneliti asing. Tujuan penelitian itu adalah menemukan gunung-gunung api di bawah laut dan
dikaitkan dengan potensi mineral logam hdrotermal di dasar laut

2. Materi II (Optimalisasi Aplikasi Ilmu Kimia dalam Pemanfaatan Sumber Daya Mineral
untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan) oleh Prof. Dr. Ir. C. Danisworo,
M.Sc
Indonesia dengan kekayaan mineralnya, seharusnya dapat menjadikan bangsa
Indonesia hidup lebh sejahtera dan menjadi negara yang lebih maju daripada negara-negara
maju lainnya yang memanfaat sumber daya yang seadanya. Pemanfaatan sumberdaya
mineral untuk mendukung pembangunan nasional Indonesia yang berkelanjutan menjadi
hal yang perlu mendapat perhatian lebih. Sejak awal peradaban manusia, mineral-mineral
logam sudah banyak dimanfaatkan untuk keperluan kehidupan sehari-hari, seperti mineral
emas sebagai logam dasar, yang berwarna kuning ini bernilai tinggi karena langka dan
indah serta tahan lama.
Definisi mineral menurut salah satu ahli yang lebih banyak diterima secara
internasional, mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam terbentuk
secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan mempunyai
atom-ataom yang tersusun secara teratur.
Secara geologi Idonesia adalah negara yang unik, merupakan salah satu kawasan yang
terdapat tiga lempeng tektonik. Lempeng Eurasia yang stabil, dan dua lempeng lainnya
yang selalu bergerak, yaitu Lempeng Indoaustralia dan Lempeng Pasifik. Tumpukan tiga
lempeng tektonik tersebut membentuk busur magmatik, ring of life, yang sangat
menguntungkan ndonesia. Sepanjang jalur tersebut berpeluang besar terhadap kehairan
berbagai sumberdaya mineral logam berharga, termasuk batumulia. Selain itu, juga
berdampak pada munculnya 129 gunung aktif di Indonesia, sehingga sekaligus
menempatkan Indonesia sebagai kawasan yang rawan terhadap bencana gempa tektonik,
letusan gunung api, lahar, dan gempa vulkanik.
Agar lebih optimal dan berhasil dalam mengolah dan mengelola sumberdaya mineral
Indonesia, maka diharapkan dapat lebih mengenal dan menguasai jenis, sifat fisik dan
kimia mineral-mineral terutama yang mengandung logam. Mineral-mineral tersebut antara
lain yang mengandung tembaga, timah hitam, magnesium, timah putih, besi, titanium,
uranium, emas dan perak, air raksa, dan seng.
Bangsa Indonesia walau terdirii dari berbagai suku dan agama, ragam budaya, dan
golongan tetapi jika mempunyai prinsip satu untuk semua, semua untuk satu. Semangat
dan dorongan yang dapat menyatukan Bangsa Indonnesia dan menumbuhkan jiwa
kebangsaan yang tinggi dalam wadah NKRI berdasar Pancasila dan UUD 1945 adalah
adanya Gerakan Keabngkitan Nasional 1908, Soempah Pemoeda 1928, dan Proklamasi
Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sumberdaya manusia Indonesia perlu mengambil alih
teknologi, kita belajar dengan prinsip tiga N-nya Ki Hajar Dewantara yakni Niteni, Niroe
dan Nambahi. Pembangunan Nasional Indonesia yang berkelanjutan tidak boleh
mengabaikan tiga aspek yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain : 1) Sumberdaya
Manusia Indonesia; 2) Sumberdaya Mineral Indonnesia; 3) Lokasi Geografi Indonesia.
Peraturan perundangan harus diatur untuk petentingan dan kesejahteraan rakyat
Indonesia, harus pro rakyat Indonesia. Bunyi pasal 33 UUD 1945 ayat (3) jelas sudah
menyebutkan: Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk mendukung
program pembangunan Indonesia yang berkelanjutan, tepatlah beberapa peraturan
perundang-undangan yang telah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia, antara lain UU No.
40 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, PP No. 23 Tahun 2010
tentang Pelaksanaan Kegiiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, PP No.1 Tahun
2014 tentang Perubahan kedua atas PP 23/2010, PP No. 1 Tahun 2007 Tentang Perubahan
Keempat atas PP No. 23/2010, Permen ESDM No. 5 Tahun 2017, dan Permen ESDM No.
6 Tahun 2017

3. Materi III (Sinergisitas Pemanfaatan Mineral dan Batubara untuk Pembangunan


Indonesia yang Berkelanjutan) oleh Suganal, Hadi Purnomo, dan Isyatun Rodliyah
Cadangan mineral dan batubara (minerba) di Indonesia sangat tersebar di seluruh pulau-
pulau dengan rincian mineral logam sebagian besar terdapat di Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi, Maluku, dan Papua. Minerba merupakan kekayaan nasional yang penting untuk
mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara optimal. Secara umum, minerba
sangat penting sebagai sumber energi, bahan baku, bahan penolong imbuh dari industri
yang berujung pada perkembangan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Jenis mineral Indonesia sangat beragam. Pada studi ini dibatasi mineral logam antara
bauksit, bijih besi/pasir besi, tembaga, nikel, dan mineral pembawa logam tanah jarang.
Mineral belum dapat digunakan langsung sebagai bahan baku industri dan/atau komoditas
perdagangan yang bernilai tinggi. Mineral tersebut perlu dilakukan proses pengolahan dan
pemurnian agar terbentuk bahan yang sesuai dengan spesifikasi umpan industri.
Sumberdaya batubara relatif cukup besarm sekitar 131,34 milyar ton dan cadangan
sebayak 32,28 milyar ton yang berada di pulau Sumatera (terutama Sumatera Selatan) dan
berdaa di pulau Kalimantan serta pulau lainnya. Namun dalam hal penambangan batubara,
umumnya terkonsentrasi di pulau Kalimantan, yaitu sebesar 92%, sedangkan 8% sisanya
beral dari pulau Sumatera. Dari sisi kualitas, sebagian batubara Indonesia termasuk kalori
rendah dan sedang. Berdasarkan klasifikasi itu, maka batubara Indonesia dibagi menjadi
empat macam, yaitu batubara kalori rendah, batubara kalori sedang, batubara kalori tinggi,
dan batubara kalori sangat tinggi.
Batubara sebagai produk pertambangan dimanfaatkan pula sebagai komoditi ekspor,
bahkan jumlah ekspor melebihi jumlah pemanfaatan dalam negeri. Dalam hal pemanfaatan
batubara di dalam negeri, batubara sebagaian besar digunakan sebagai bahan bakar
pembangkit listrik, baik pembangkit listrik yang dioperasikan PT. PLN maupun oleh IPP,
setidaknya akan berlangsung selama periode 2014 sampai 2050. Pada selang waktu tersebut
Indonesia diproyeksikan akan meningkat engan pertumbuhan rata-rata 4,78% per tahun,
sehingga konsumsi batubara meningkat lebih dari lima kali lipat dari hampir 66 juta ton
pada 2014, menjadi hampir 354 juta ton pada 2050.
Kenyataan menunjukkan bahwa penggunaan batubara di Indonesia masih terbatas
sebagai sumber energi termal pada PLTU maupun insutri. Pada penggunaan tersebut,
batubara dibakar langsung untuk mendapatkan panas yang selanjutnya dimanfaatkan sesuai
kebutuhan dan sistem operasi pada industri yang bersangkutan. Lembaga penelitian dan
pengembangan baik milik pemerintah maupun perusahaan swasta telah pula menjadi
pemanfaatan batubara melalui proses konversi diubah menjadi gas, cairan maupun padatan.
Upaya lainnya dalam penerapan konversi batubara yang berkaitan dengan peningkatan
nilai tambah batubara adalah pencairan batubara untuk mendapat bahan bakar cair seperti
bahan bakar minyak. Upaya pemanfaatan batubara melalui konversi dapat berupa padatan
yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif. Karbon aktif dibuat
melalui dua pemanasan bahan baku dengan kondisi udara yang sangat terbatas sehingga
dhasilkan arang atau semikokas. Karbon aktif dibuat melalui dua proses utama, yaitu
prosese karbonisasi dan aktivasi. Produksi karbon aktif di Indonesia umumnya terbuat dari
tempurung kelapa. Di dalam negeri, belum ada produsen yang membuat karbon aktif dari
batubara Indonesia secara komersial.
Mineral dan batubara merupakan dua komponen yang bisa saling mengisi untuk
produksi suatu barang dan bahan. Perubahan mineral dan batubara menjadi barang/bahan
pada intinya merupakan upaya peningkatan nilai tambah pada kedua sumber daya alam
tersebut. Batubara menjadi sangat strategis karena dapat bertindak sebagai bahan bakar dan
bahan baku proses peningkatan nilai tambahan mineral. Dalam proses produksi pengolahan
dan pemurnian mineral akan ditemui ekmudahan dan kesulitan pengadaan bahan baku dan
bahan bakar dan bahan penolong, listrik, bahan bakar dan infrastruktur lainnya. Industri
pengolahan dan pemurnian mineral logam umumnya padat energi termal dan energi listrik.
Optimalisasi pemanfaatn mineral dan batubara melalui proses pengolahan dan
pemurnian untuk mendapatkan nilai tambah yang maksimal memerlukan dukunga dan
penerapan hasil penelitan dan pengembangan yang telah dilakukan oleh lembaga litbang
yang relevan.