Anda di halaman 1dari 24

KRITIK SASTRA NOVEL "LASKAR PELANGI"

FENOMENA PENDIDIKAN DI DAERAH TERPENCIL


Oleh : Rika Kumala Sari

Karya sastra adalah anak kehidupan kreatif seorang penulis dan mengungkapkan
pribadi pengarang (Selden, 1985: 52). Sastra lahir oleh dorongan manusia untuk
mengungkapkan diri, tentang masalah manusia, kemanusiaan, dan semesta (Semi, 1993: 1).
Sastra adalah sesuatu yang mengacu pada milik atau berkaitan dengan sastra (himpunan
pengetahuan yang berkaitan dengan menulis dan membaca dengan baik, atau seni puisi,
retorika dan tata bahasa). Sebuah karya sastra adalah ciptaan yang disampaikan dengan
komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya-karya ini sering
menceritakan sebuah kisah , baik dalam atau ketiga orang pertama, dengan plot dan melalui
penggunaan berbagai perangkat sastra yang terkait dengan waktu mereka.
Karya sastra terbagi atas tiga yaitu puisi, prosa, dan drama. Puisi yaitu seni tertulis
dimana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti
semantiknya. Menurut Dresden puisi adalah sebuah dunia dalam kata. Isi yang terkandung di
dalam puisi merupakan cerminan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan penyair yang
membentuk sebuah dunia bernama puisi. Prosa terbagi dua yaitu novel dan cerpen. Kata novel
berasal dari bahasa Italia novella yang berarti sebuah kisah, sepotong berita. Novel adalah
bentuk sastra yang paling popular di dunia. Pada umumnya, di dalam sebuah novel memuat
tentang problem kehidupan masyarakat yang digambarkan oleh pengarang melalui tokoh dan
penkohan serta setting yang sengaja dipilih pengarang untuk mewakili idenya dalam
gambarannya terhadap pandangan dalam kehidupan yang dialami yang diapresiasikan dalam
wujud tulisan. Novel merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita
kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap
pelaku.
Cerpen merupakan karangan yang singkat, sederhana, dan masalahnya juga tunggal.
Biasanya, cerpen dapat dibaca dalam sekali kesempatan. Dalam Ramadansyah (2010: 92) cerpen
merupakan cerita rekaan yang menganggap unsur-unsur karya sastra lebih padat, ringkas dan
langsung menghadirkan konflik pada tokohnya dan memaksanya berhadapan dengan penyelesaian.
Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra. Dalam drama, penulis ingin menyampaikan pesan
melalui akting dan dialog. Sehingga para penonton diajak untuk seolah-olah ikut menyaksikan dan
merasakan kehidupan dan kejadian dalam masyarakat. Drama adalah bentuk karangan yang berpijak
pada dua cabang kesenian, yakni seni sastra dan seni pentas sehingga drama dibagi dua, yaitu drama
dalam bentuk naskah tertulis dan drama yang dipentaskan

Disini saya akan mengkritik sebuah karya sastra yang tergolong kedalam prosa yaitu novel.
Novel yang akan saya kritik disini yaitu novel yang berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel
Laskar Pelangi karya Andrea Hirata merupakan novel terlaris dalam sejarah kesusasteraan Indonesia.
Novel ini mengangkat tema semangat pendidikan anak-anak Belitong di era tahun 70-an, yang diilhami
dari kisah nyata penulisnya. Novel Laskar Pelangi Ini adalah kisah nyata tentang sepuluh anak
kampung di Pulau Belitong, Sumatera. Sebelum saya melakukan kritikan terhadap novel Laskar
Pelangi, saya akan menganalisis novel tersebut terlebih dahulu. Unsur-unsur intrinsik yang terdapat
dalam novel Laskar Pelangi ini adalah sebagai berikut;
1. Tema
Novel laskar pelangi ini bertemakan pendidikan. Namun tema pendidikan ini diselingi oleh kisah
persahabatan yang erat antara anggota Laskar Pelangi. Tema pendidikan ini dipadu dengan tema
ekonomi. Namun, tema pendidikanlah yang lebih menonjol pada novel Laskar Pelangi ini.
2. Alur
Alur laskar pelangi bisa dikatakan tersusun sangat rapi dan maju kedepan, peristiwa-peristiwa
disusun secara kronologis berdasarkan waktu kejadiannya, akan tetapi tidak jarang ada terjadi
pengulangan kembali (Flashback) untuk memperjelas permasalahan pokoknya.
3. Latar
Latar terbagi atas tiga yaitu latar waktu, tempat, dan suasana. a. Latar Tempat, latar tempat yang
digunakan dalam novel ini adalah di sebuah sekolah bernama SD Muhammadiyah yang terletak di
Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur, Sumatera Selatan. Namun, ada pula yang
latarnya adalah di rumah, pohon, gua, tepi pantai, pasar dan lain-lain tapi masih di kawasan Belitong.
b. Latar Waktu, dikarenakan novel Laskar Pelangi ini merupakan novel yang menceritakan kisah
nyata meski ada bumbu imajinasi, maka latar waktu yang disampaikan pun jelas yaitu terjadi pada
tahun 1970-an. c. Latar Suasana, latar suasana yang ada dalam novel ini beragam dikarenakan
konflik-konfik yang muncul juga beragam. Ada kalanya senang, sedih, hingga cemas. Berikut beberapa
penggalan kisah yang menjelaskan suasana dalam novel.
a) Suasana Sedih
Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana sedih ialah saat Ikal, teman-
temannya dan Bu Muslimah berpisah dari Lintang yang memutuskan berhenti sekolah karena harus
mengurusi keluarga yang ditinggal mati ayahnya.
b) Suasana Senang
Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana senang ialah saat tim cerdas
cermat SD Muhammadiyah berhasil memenangkan pertandingan.
c) Suasana Cemas
Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana cemas ialah saat Pak Harfan, Bu
Muslimah dan calon murid SD Muhammadiyah beserta orang tuanya menunggu untuk menggenapkan
calon siswa yang mendaftar agar sekolah tidak ditutup.

4. Tokoh/penokohan
Para tokoh yang berperan dalam novel Laskar Pelangi ini adalah:
a) Ikal
Ikal atau yang di dalam novel ini berperan sebagai aku merupakan tokoh utama. Ikal adalah
salah seorang anggota Laskar Pelangi. Di sekolah ia termasuk murid yang lumayan pandai, namun
kepandaiannya masih di bawah dari temannya yaitu Lintang. Ia selalu berada di peringkat kedua di
sekolah setelah Lintang. Ikal termasuk orang yang tidak mudah putus asa, selalu bersemangat
melakukan hal yang ia sukai dan tegar. Ikal begitu menyukai dunia sastra terutama puisi. Dalam novel
ini, Ikal diceritakan menyukai seorang gadis keturunan Tionghoa bernama A Ling. Ia sering sekali
mengirimkan puisi tentang luapan perasaannya kepada A Ling.
b) Taprani
Taprani merupakan sosok yang tampan, rapi, perfeksionis, lumayan pintar, bicara seperlunya
(pendiam), santun, sangat berbakti kepada orang tua dan manja. Ia bercita-cita menjadi guru di daerah
terpencil untuk memajukan pendidikan orang melayu pedalaman. Taprani selalu diperhatikan ibunya.
Apa pun yang akan dilakukannya harus selalu diketahui ibunya. Ia sangat tergantung pada ibunya.

c) Sahara
Sahara merupakan satu-satunya murid perempuan yang bersekolah di SD Muhammadiyah.
Tubuhnya ramping dan selalu berjilbab rapi. Di sekolah ia termasuk murid yang pintar. Meski pun ia
adalah sosok yang perhatian, namun ia termasuk tipe orang yang temperamental, ketus, skeptis, susah
diyakinkan dan tidak mudah terkesan. Sahara Sangat menjujung tinggi nilai kejujuran. Ia paling tidak
suka berbohong. Dalam novel ini dicritakan bahwa ia bertengkar dengan A Kiong yang tidak pernah
sependapat atau satu pemikiran dengannya.
d) A Kiong
A Kiong adalah satu-satunya murid keturunan Tionghoa yang bersekolah di SD
Muhammadiyah. Sifatnya begitu polos dan selalu mempercayai apa yang dikatakan Mahar. Ia selalu
menjadi pendukung sekaligus pengikut setia Mahar. A Kiong memiliki rasa persahabatan yang tinggi
dan suka menolong. Ia sering kali bertengkar dengan Sahara.
e) Harun
Harun yang sudah mulai memasuki jenjang pendidikan Sekolah Dasar pada usia lima belas
tahun ini mengidap keterbelakangan mental. Sifatnya santun, pendiam, dan murah senyum. Laki-laki
yang memiliki model rambut seperti Chairil Anwar ini hobi sekali mengunyah permen asam jawa. Ia pun
selalu berpakaian rapi. Di kelas, ia sama sekali tidak bisa menangkap pelajaran membaca atau pun
menulis. Ia pun sering kali bercerita tentang kucing belang tiganya yang melahirkan tiga anak yang
juga bebelang tiga secara berulang-ulang.
f) Borek
Borek memilki tubuh yang tinggi tinggi dan besar. Ia sangat terobsesi dengan body building
dan tergila-gila dengan citra cowok macho.
g) Syahdan
Karakter Syahdan tidak begitu menonjol dalam novel ini. Ia adalah salah satu anggota Laskar
Pelangi yang selalu setia menemani Ikal membeli kapur tulis di took Sinar Harapan milik orang tua A
Ling. Syahdan merupakan saksi cinta pertama Ikal kepada A Ling. Ia memiliki cita-cita sebagai aktor.

h) Kucai
Kucai adalah salah satu anggota Laskar Pelangi yang diamanahi sebagai ketua kelas. Ia
sempat frustrasi ketika menjadi ketua kelas karena kesulitan dalam mengatur teman-temannya. Meski
begitu, laki-laki yang menderita rabun jauh ini selalu terpilih menjadi ketua kelas dan pada akhirnya ia
menerima keputusan itu. Anak yang banyak bicara dan susah diatur ini berbakat menjadi seorang
politikus.
i) Lintang
Lintang merupakan anak yang paling jenius dan gigih di antara teman-temannya. Meski pun
jarak rumahnya dari sekolah sangat jauh (80 km), ia tetap semangat untuk pergi ke sekolah dan
menjadi anak yang paling pagi datang. Setiap berangkat sekolah, ia harus melalui jalan yang
merupakan tempat buaya tinggal. Ayahnya adalah seorang nelayan miskin yang bertanggung jawab
menafkahi empat belas nyawa yang tinggal di rumahnya. Di sekolah, Lintang begitu serius belajar dan
aktif. Otaknya yang jenius dan cermat membawa tim SD Muhammadiyah menjadi pemenang dalam
lomba cerdas cermat. Lintang sangat suka membaca dan mempelajari berbagai ilmu penngetahuan.
Lintang pun tak segan membagi ilmunya kepada teman-temannya. Idenya sangat kreatif. Lucunya,
kelihaiannya dalam berpikir tidak dibarengi dengan tulisan tangan yang indah.
j) Mahar
Mahar memiliki bakat dalam bidang seni, baik itu menyanyi, melukis, seni rupa dan lain
sebagainya. Pemikirannya imajinatif dan kreatif. Anak tampan ini termasuk orang yang menggemari
dongeng-dongeng yang tak masuk akal (mungkin karena ia terlalu imajinatif). Mahar sering kali diejek
dan ditertawakan teman-temannya karena pemikirannya dianggap aneh.
k) Bu Muslimah
Wanita bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari ini adalah guru di SD Muhammadiyah. Ia
sangat gigih dalam mengajar meski pun gajinya belum dibayar. Ia sangat berdedikasi terhadap dunia
pendidikan dan dengan segenap jiwa mengajar murid-murid di SD Muhammadiyah. Wanita cantik yang
menyukai bunga ini memiliki pendirian yang progresif dan terbuka terhadap ide-ide baru. Ia termasuk
orang yang sabar dan baik hati.

l) Pak Harfan
Pria bernama lengkap K.A Harfan Efendy Noor ini menjabat sebagai kepala SD
Muhammadiyah. Bersama Bu Muslimah, ia tetap mempertahankan sekolah yang hamper ditutup
karena kekurangan siswa. Pak Harfan juga memiliki dedikasi tinggi terhadap pendidikan.
m) A Ling
Gadis keturunan Tiongoa ini merupakan cinta pertama Ikal. Ia memiliki tubuh yang ramping
dan tinggi. Anak dari pemilik toko Sinar Harapan ini ternyata juga menyukai Ikal. Namun sayangnya ia
pindah ke Jakarta.
n) Flo
Ia merupakan murid pindahan dari sekolah PN. Gadis tomboi yang berasal dari keluarga kaya
ini merupakan tokoh terakhir yang muncul sebagai anggota Laskar Pelangi.

5. Sudut pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini yaitu sudut pandang orang pertama karena
penceritaan penulis menggunakan kata aku. Tokoh aku di sini paling dominan dan tokoh aku
merupakan tokoh utama.
6. Gaya bahasa
Gaya bahasa yang digunakan dalam Laskar Pelangi mampu menimbulkan suasana yang beragam.
Gaya yang digunakan sangat menarik karena penggunaan metafora dan deskripsi hampir dapat
ditemukan pada setiap bab. Pemilihan gaya bahasa, kata, dan penataan kalimat sehubungan dengan
makna dan suasana menimbulkan efek yang beragam. Pengarang lebih memilih penggunaan gaya
bahasa itu karena, pengarang ingin berusaha meyakinkan, berusaha memahami kondisi yang terjadi.
Gaya bahasa itu telah berhasil menggambarkan watak, setting, serta alur dengan begitu kuat. Contoh
pelukisan suasana di dalam laskar pelangi bisa dilihat pada bab 7 hal 49-51.
7. Amanat
Banyak amanat yang disampaikan penulis untuk pembaca pada novel Laskar Pelangi ini. Yang
diantaranya yaitu:
1) Jangan mudah menyerah oleh keadaan (jangan putus asa);
2) Jauhi sifat pesimis;
3) Sebagai guru haruslah dengan ikhlas mengajar dan berdedikasi tinggi terhadap pendidikan.
Selain unsur-unsur intrinsik yang mempengaruhi novel ini ada juga unsur-unsur ekstrinsik yang
terdapat dalam novel Laskar Pelangi ini yaitu sebagai berikut:
1. Latar Belakang Tempat Tinggal
Lingkungan tempat tinggal pengarang mempengaruhi psikologi penulisan novel. Apalagi novel
Laskar Pelangi merupakan adaptasi dari cerita nyata yang dialami oleh pengarang langsung. Letak
tempat tinggal pengarang yang jauh berada di Desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur,
Sumatera Selatan ternyata benar-benar dijadikannya latar tempat bagi penulisan novelnya.
2. Latar Belakang Sosial dan Budaya
Pada novel ini banyak sekali unsur-unsur sosial dan budaya masyarakat yang bertempat
tinggal di Belitong. Adanya perbedaan status antara komunitas buruh tambang dan komunitas
pengusaha yang dibatasi oleh tembok tinggi merupakan latar belakang sosial. Dimana interaksi antara
kedua komunitas ini memang ada dan saling ketergantungan. Komunitas buruh tambang memerlukan
uang untuk melanjutkan kehidupan, sedang komunitas pengusaha memerlukan tenaga para buruh
tambang untuk menjalankan usaha mereka.
3. Latar Belakang Religi (agama)
Latar belakang religi atau agama si pengarang sangat terlihat seperti pantulan cermin dalam
novel Laskar Pelangi ini. Nuansa keislamannya begitu kental. Dalam beberapa penggalan cerita,
pengarang sering kali menyelipkan pelajaran-pelajaran mengenai keislaman.
4. Latar Belakang Ekonomi
Sebagian masyarakat Belitong mengabdikan dirinya pada perusahaan-perusahaan timah.
Digambarkan dalam novel bahwa Belitong adalah pulau yang kaya akan sumber daya alam. Namun
tidak semua masyarakat Belitong bisa menikmati hasil bumi itu. PN memonopoli hasil produksi,
sementara masyarakat termarginalkan di tanah mereka sendiri. Latar belakang ekonomi dalam novel
ini diambil dari kacamata masyarakat Belitong kebanyakan yang tingkat ekonominya masih rendah.
Padahal sumber daya alamnya tinggi.
5. Latar Belakang Pendidikan
Dalam novel ini terkandung banyak sekali nilai-nilai edukasi yang disampaikan pengarang.
Pengarang tidak hanya bercerita, tapi juga menyajikan berbagai ilmu pengetahuan yang diselipkan di
antara ceritanya. Begitu banyak cabang ilmu pengetahuan yang diselipkan antara lain seperti sains
(fisika, kimia, biologi, astronomi). Pengarang gemar sekali memasukkan istilah-istilah asing ilmu
pengetahuan yang tertuang dalam cerita. Ini menandakan bahwa pengarangnya memiliki tingkat
pendidikan yang tinggi.

Setelah melakukan analisis pada novel Laskar Pelangi maka dapat dilakukan penilaian
yaitu tentang kelemahan dan kelebihan pada novel tersebut. Kelemahan yang terdapat pada
novel ini yaitu kelemahan penting yang harus diwaspadai oleh para pembaca adalah ide tentang
teori kreasionisme (penciptaan). Ide teori kreasionisme (penciptaan) merupakan kebalikan dari
teori Evolusionisme. Ide itu sungguh antik karena meski demikian minim bukti tetapi pemujanya
demikian militan. Mereka diamini oleh kelompok-kelompok puritan religius yang merasa
terancam oleh keberadaan teori Evolusi. Kemudian, bahasa yang digunakan tetap bahasa
Indonesia tetapi tidak jarang kita jumpai bahasa daerah yang dimana tempat kejadiannya adalah
Belitung, yaitu pulau terpencil yang ada di Sumatra. Sehingga mungkin sedikit membingungkan
pembaca. Walaupun novel ini mempunyai kelemahan tetapi novel ini juga memiliki kelebihan
yaitu novel ini benar benar memberikan inspirasi bagi siapa saja yang ingin sukses dan berhasil
dan novel ini bagus dibaca oleh para remaja. Dalam hal organisasi novel ini, hubungan antara
satu bagian dengan bagian yang lain harmonis dan dapat menimbulkan rasa penasaran
pembaca. Karena dalam penceritaan isi novel tidak berbelit-belit. Kita dapat mengetahui arti
perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah
tokoh utama buku ini.

Novel Laskar Pelangi ini menunjukan bahwa mimpi, semangat dan niat yang kuat dapat
mengalahkan apapun cobaan dalam hidup ini. Terbukti pada perjuangan 10 anak-anak
Indonesia yang tinggal di daerah yang terpencil dan mungkin luput dari pengelihatan kita tetapi
mereka membuktikan bahwa situasi mereka di waktu itu tidak akan menghalangi mereka
menggapai impian mereka. Sehingga novel ini dapat menginspirasi dan memberikan letupan
semangat gairah hidup untuk tetap berani bermimpi dan berusaha keras mewujudkan impian
setelah membaca novel ini.
http://rikaarrachman.blogspot.com/2013/01/kritik-sastra-novel-laskar-pelangi.html

KRITIK SASTRA MIMETIK DALAM NOVEL AYAT-AYAT CINTA KARYA


HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Ayat-ayat cinta adalah sebuah novel yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Ia
adalah seorang sarjana lulusan mesir novel ini merupakan novel islami yang mencoba
menebarkan dakwah melalui sebuah karya seni, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata
novel ini merupakan gabungan dari novel islami, budaya dan juga novel cinta yang banyak
disukai anak muda. Dengan kata lain, novel ini merupakan sarana yang tepat sebagai media
penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih tentang islam.
Novel ini bercerita tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang berbeda latar
belakang dan budaya. Fahri, mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Universitas Al-Azar
Mesir. Aisha, adalah mahasiswi asal jerman yang kebetulan juga sedang studi di mesir. Kisah
cinta ini berawal ketika mereka secara tak sengaja betemu dalam sebuah perdebatan sengit
dalam sebuah metro.
Novel ini juga menceritakan tentang bagaimana tokoh utama menghadapi turun-
naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang
berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir.
Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi
penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusias.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat diketahui tema yang diangkat dalam novel ini
masih berkaitan dengan masalah cinta. Tema tentang cinta selalu menarik sehingga banyak
digemari masyarakat. Novel Ayat-Ayat cinta dapat dikatakan
sebagai sarana penyampaian dakwah kapada masyarakat dan sebagai sarana penyampaian
dakwah tentunya untuk membaca novel ini tidak memerlukan intepretasi yang terlalu dalam
jadi novel ini bersifat menghibur sehingga novel ini dapat dikategorikan sebagai novel
popular.
Selain berkisah tentang cinta di dalam novel ini juga terdapat perdebatan antar dua
negara hal ini seperti nampak pada saat kejadian di dalam metro, pada waktu itu Fahri sedang
dalam perjalanan menuju masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-kaima.
Di dalam metro kemudian ia berkenalan dengan seorang pemuda mesir bernama Ashraf yang
juga seorang muslim, mereka bercerita tentang banyak hal, termasuk tentang kebencian
Ashraf kepada Amerika, ia geram sekali pada Amerika. Bahkan saat tiga orang bule yang
berkewarganegaraan Amerika naik kedalam metro, satu diantara orang bule itu adalah
seorang nenek yang kelihatanya sangat lelah. Biasanya orang Mesir akan memberikan tempat
duduknya apabila ada wanita yang tidak mendapat tempat duduk, namun kali ini tidak.
Mungkin karena kebencian mereka yang teramat sangat kepada Amerika.
Ashraf kembali mengajakku berbincang. Kali ini tentang Amerika. Ia geram sekali
pada Amerika. Seribu alasan ia beberkan. Kata-katanya menggebu seperti Presiden Gamal
Abdul Naser berorasi memberi semangat dunia Arab dalam perang 1967 (El Shirazy, 2004 :
36).
ayatollah Khomeini benar, Amerika itu setan! Setan harus dienyahkan! katanya
berapi-api (El Shirazy, 2004 : 36).
Peristiwa tersebut menunjukan adanya konflik dan perbedaan latar belakang budaya
atara Mesir dan Amerika. Orang mesir menganggap Amerika sebagai biang kerusuhan di
Timur Tengah. Orang mesir sangat marah pada Amerika yang mencoba menggadu domba
umat islam dengan umat Kristen Koptik. Amerika pernah menuduh pemerintah Mesir dan
kaum muslimin berlaku semena-mena pada umat koptik. Namun ternyata tuduhan itu hanya
dusta belaka, tuduhan itu bertujuan hendak menghancurkan sendi-sendi persaudaraan umat
Islam dan umat Koptik yang telah kuat. Hal ini dapat dikatakan sebagai kritik sosial yang
terdapat dalam novel ini karena peristiwa tersebut memaparkan kebencian Mesir terhadap
Amerika.
Begitu pintu metro terbuka, beberapa penumpang turun. Lalu beberapa orang naik
masuk. Mataku menangkap ada tiga orang bule masuk. Yang seorang nenek-nenek. Ia
memakai kaos dan celana pendek sampai lutut. Pemandangan yang belum pernah ada di
desaku. Aku membayangkan jika di desaku ada nenek-nenek memakai pakaian seperti itu
mungkin sudah dianggap orang gila (El Shirazy, 2004 : 38).
Kutipan di atas menunjukan peristiwa di dalam metro yaitu saat Fahri dalam
perjalanan ke Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul
Fattah. Di dalam metro itu Fahri melihat bule yang memakai kaos dan celana pendek sampai
lutut. Ia tetkejut melihat bule itu. Hal ini menunjukan adanya perbedaan budaya antara
budaya Timur dan budaya Barat. Budaya barat orang berpakaian ketat sampai terlihat
auratnya merupakan hal yang biasa sedangkan budaya timur menganggap bila orang
berpakaian ketat sampai terlihat auratnya sudah dianggap seperti orang gila. Melalui novel ini
nampaknya penulis ingin menyampaikan kepada masyarakat sekaligus menegaskan bahwa
ada perbedaan latar belakang budaya Barat dan Timur.
Selain itu juga masih terdapat kritik sosial yang lain, dalam novel ini diceritakan
bahwa fahri bersama temannya tinggal di apartemen mereka bertetangga dengan sebuah
keluarga Kristen koptik walaupun aqidah dan keyakinan mereka berbeda, namun antara
keluarga fahri dan keluarga Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Di Mesir, bukanlah
suatu keanehan apabila keluarga Kristen koptik dan kelurga muslim dapat hidup
berdampingan dengan damai dalam masyarakat.
Namun, mungkin ceritanya akan menjadi lain bila itu terjadi di Indonesia karena
kesadaran sebagian masyarakat Indonesia akan pluralitas beragama agaknya sedikit kurang.
Apa yang diceritakan dalam novel ini mungkin agar masyarakat kita sadar tentang indahnya
hidup damai meskipun berbeda aqidah, karena pada hakikatnya perbedaan itu hal yang biasa
bergantung bagaimana kita menyikapinya.
Pada bagian lain novel ini menceritakan tokoh yang bernama Maria. Maria adalah
gadis mesir yang manis dan baik budi pekertinya. Walaupun Maria itu seorang non-muslim ia
mampu menghafal dua surah yang ada dalam Al-Quran dengan baik yang belum tentu
seorang muslim mampu melakukannya. Ia hafal surat Al-Maidah dan surat Maryam.
Melalui tokoh Maria agaknya penulis ingin menyadarkan kita terutama umat muslim
dan tentunya kita malu melihat tokoh Maria. Karena ia yang seorang non-muslim bisa hafal
Al-Quran sedangkan kita yang mengaku muslim mungkin membuka Al-Quran saja belum
tentu kita lakukan setiap hari. Dengan kritikan ini diharapkan kita dapat bercermin kemudian
memperbaiki diri kita.
Kritik sosial juga nampak pada peristiwa saat Fahri ditangkap oleh polisi Mesir
dengan tuduhan memperkosa Noura. Sikap arogansi seorang polisi yang kurang
mengedepankan asas praduga tak bersalah, termasuk fakta brutal yang terdapat dalam novel
tersebut. Fakta brutal lainnya dalam novel ini adalah perilaku suap yang saat ini kian marak.
Kritik sosial terhadap fakta brutal yang hidup di tengah-tengah masyarakat merupakan
salah satu muatan yang bisa dipetik dari novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habiburrahman
El Shirazy

Membaca novel Habiburrahman juga memberi pencerdasan dan bisa meningkatkan kualitas
masyarakat. Yang lebih penting, setelah membaca novel ini, pembaca mampu menegakkan
amar makruf nahi mungkar serta mampu melakukan syiar Islam melalui sebuah tulisan.
Dalam novel ini terdapat keganjilan yaitu pada karakter tokoh utama, Fahri, terlalu
diidealisasikan secara berlebihan. Ia begitu suci tanpa cacat, seperti malaikat. Jika itu
dimaksudkan sebagai teladan, saya tidak yakin ada manusia zaman sekarang yang mampu
menirunya. Dalam beberapa hal, kesucian Fahri itu terasa naif, bahkan kejam. Misalnya saat
Maria sakit dan pingsan, Fahri tetap bersikukuh tidak mau menyentuhnya, padahal itulah
satu-satunya cara agar Maria bisa siuman. Saya ragu apakah keteguhan Fahri yang dilandasi
syariat itu patut mendapat pujian.

Novel ini kuat dalam menggambarkan latar (setting), tetapi lemah dalam
menampilkan latar belakang (background). Latar belakang di sini adalah kondisi sosial-
politik-budaya Mesir waktu cerita terjadi. Pintu masuk ke sana sudah terbuka sebetulnya,
yakni saat Fahri dijebloskan ke penjara. Sayang, ia hanya dituduh berzina, bukan dituduh
teroris, misalnya.

Dengan melibatkan sang tokoh ke dalam konteks politik semacam itu, entah sebagai
aktivis atau sekadar korban, novel ini akan lebih meraksasa. Kekurangan latar belakang ini
menjadikan Ayat-ayat Cinta urung menjadi novel besar, dan tak lebih dari kisah cinta biasa.

Dapur Aksara, Desember 2009


http://bunkkamal.blogspot.com/2013/09/kritik-sastra-mimetik-dalam-novel-ayat_26.html

08190615167

Analisis dan Kritik Sastra pada Novel Cinta Suci Zahrana dengan
Pendekatan Strukturalisme

PRAKATA
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini
dibuat sebagai tugas mata kuliah Kritik Sastra.
Dalam proses pendalaman materi Kritik Sastra sebagai kajian sajak, tentunya kami
mendapatkan bimbingan, arahan dan saran, untuk itu rasa terima kasih kami sampaikan
kepada:
Dosen pembimbing Wika Soviana Devi, S.Pd, M.Hum yang telah membimbing kami dalam
pembuatan makalah ini.
Rekan-rekan Mahasiswa yang telah membantu proses pembuatan makalah ini.
Pihak yang secara langsung dan tidak langsung membantu dalam pembuatan makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini tentunya masih banyak kekurangan, kami
mengharapkan kritik dan saran untuk pembuatan makalah yang lebih baik lagi. Demikian
makalah ini kami buat semoga dapat bermanfaat bagi pembaca ataupun pendengar, dan dapat
menjadi setitik harapan dalam ilmu pengetahuan khususnya bagi kami dan umumnya bagi
pembaca.

Tegal, Juni 2013


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karya sastra adalah ciptaan atau karya hasil dari pemikiran manusia atau imajinasi
manusia. Karya sastra diciptakan untuk dinikmati dan dikritik baik secara kelebihan atau
kekurangan suatu karya tersebut. Suatu karya harus dikritik agar bisa mengetahui kekurangan
atau kelebihan karya tersebut, tujuan utama kritik sastra adalah mendorong sastrawan agar
bisa mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin, sehingga karyanya mencapai tujuan yang
baik, serta mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra dengan baik.
Novel adalah suatu karya sastra. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah
tulisan berupa karangan prosa yang panjang dan menceritakan sebuah kisah. Novel
merupakan teks fiksi yang lahir dari daya cipta, imajinatif, kreatif, dan eksploratif pengarang
yang dituangkan kedalam sebuah buku dan bisa dinikmati oleh para pembaca.
Usaha untuk dapat memahami karya sastra (termasuk prosa fiksi) diperlukan suatu
pendekatan. Salah satu pendekatan dalam menganalisis prosa fiksi adalah pendekatan
strukturalisme. Novel yang akan saya analisis dengan pendekatan struktural dan saya kritik
adalah Cinta Suci Zahrana karya Habiburrahman El Shirazy. Novel ini merupakan novel
sastra yang memadukan tema cinta dan agama.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dapat ditarik dari makalah ini adalah :
1. Apa saja macam-macam pendekatan dalam kritik sastra
2. Apa yang dimaksud dengan pendekatan Strukturalisme
3. Bagaimana cara menerapkan pendekatan Strukturalisme pada novel Cinta Suci Zahrana
4. Menggungkapkan kritik sastra pada novel Cinta Suci Zahrana

1.3 Tujuan Masalah


Adapun tujuan pembahasan masalah yang dapat ditarik dalam makalah ini adalah :
1. Mengetahui macam-macam pendekatan dalam kritik sastra
2. Memahami apa yang dimaksud dengan pendekatan Strukturalisme
3. Guna mengetahui cara menerapkan pendekatan Strukturalisme pada novel Cinta Suci
Zahrana
4. Agar mengetahui apa kritik sastra yang ada pada novel Cinta Suci Zahrana
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Macam-macam Pendekatan dalam Kritik Sastra
1. Pendekatan Mimetik
Adalah pendekatan yang berupaya memahami hubungan karya sastra dengan
realitas/kenyataan (berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani) yang berarti tiruan.
2. Pendekatan Ekspresif
Adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian pada sastrawan sebagai pencipta atau
pengarang karya sastra.
3. Pendekatan Pragmatik
Adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan
tujuan tertentu kepada para pembaca.
4 . Pendekatan Objektif
Adalah pendekatan yang memandang atau memfokuskan perhatian pada karya itu sendiri.
Karya sastra dianggap sebagai struktur yang otonom dan bebas dari hubungan dengan
realitas, pengarang, dan pembaca,hanya mencangkup unsur intrinsik tanpa ada pembahasan
tentang unsure ekstrinsik.
5.Pendekatan Struktural
Adalah pendekatan yang memandang dan memahami karya sastra dari segi struktur itu
sendiri.
Pendekatan ini memahami karya sastra secara close reading (membaca karya sastra secara
tertutup tanpa melihat pengarangnya, realitas, dan pembaca).
6. Pendekatan Semiotik
Adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sistem tanda sebagai ilmu tanda,
semiotik secara sistematik mempelajari tanda-tanda dan lambang (semeion, bahasa Yunani
yang berarti tanda), sistem-sistem lambang dan proses-proses perlambangan (Luxemburg,
1984). Manusia selalu berada dalam proses semiosis, yaitu memahami sesuatu yang ada di
sekitar sebagai sistem tanda.
7. Pendekatan Sosiolohi Sastra
Adalah pendekatan teori dan pendekatan terhadap karya sastra yang menghubungkan karya
sastra dengan aspek masyarakat, atau pendekatan ekstrinsik yang lebih menjadikan hal-hal
yang bersifat sosial kemasyarakatan sebagai penjelas fenomena social.
8. Pendekatan Resepsi Sastra
Adalah pendekatan memahami dan menilai karya sastra berdasarkan tanggapan para pembaca
terhadap karya sastra tertentu, tanggapan bisa secara aktif atau pasif.
9. Pendekatan Psikologi Sastra
Adalah pendekatan studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi, psikologi
seni, studi proses kreatif, studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya
sastra (menginterpretasikan dan menilai karya sastra dengan psikologi) mempelajari dampak
sastra pada pembaca (sosiologi pembaca).
10. Pendekatan Moral
Adalah pendekatan yang bertolak dari dasar pemikiran bahwa karya sastra dapat menjadi
media yang paling efektif untuk membina moral dan kepribadian suatu kelompok
masyarakat.
11. Pendekatan Feminisme
Adalah pendekatan Pendekatan yang mendasarkan pada pandangan feminisme yang
menginginkan adanya keadilan dalam memandang eksistensi perempuan.

2.2 Pendekatan Strukturalisme


Teori strukturalisme yang dipakai pada pembahasan kali ini, dalam karya Saussure
secara berurutan karya para penulis aliran Praha, strukturalisme muncul sebagai pendekatan
terhadap linguistik. Namun dalam bentuk teori sosial, strukturalisme paling tepat
didefinisikan sebagai penerapan model-model linguistik yang dipengaruhi oleh linguistik
struktural untuk menjabarkan fenomena sosial dan kultural.
Dalam wacana ilmu-ilmu sosial, strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa
ke wilayah sosial. Realitas sosial adalah teks atau bahasa dan bahasa selalu memiliki dua sisi,
bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai
langue (sistem tanda atau tata bahasa), dan sebagai tanda (sign), dalam bahasa ada dua
aspek: penanda (signifier) dan petanda (signified). Semenjak strukturalisme inilah
muncul pendapat bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter.
Percampuran antara ilmu sosial dan ilmu bahasa telah melahirkan perspektif baru
yang membuka jalan bagi perkembangan kedua bidang ilmu tersebut. Ilmu bahasa semakin
berkembang berkat penemuan-penemuan dalam bidang antropologi. Demikian juga yang
terjadi pada ilmu sosial atau antropologi yang perkembangannya banyak dipengaruhi oleh
para ahli bidang linguistik.

2.3 Pendekatan Strukturalisme pada novel Cinta Suci Zahrana


Sinopsis Cinta Suci Zahrana
Zahrana adalah sosok wanita yang sempurna, cantik dan pandai dalam pendidikan.
Zahrana menjadi terkenal karena karya tulisnya yang dimuat di jurnal RMIT Melbourne, dia
mendapat penghargaan dari Thinghua University. Sebuah Universitas ternama di China.
Ditengah kesuksesannya, zahrana sedang merasa dilema, apakah dia harus melanjutkan
pendidikannya atau malah menikah. Orang tuanya cemas lantaran Zahrana belum juga
menikah di usiannya yang memasuki kepala tiga. Walau banyak laki-laki yang melamarnya,
namun Zahrana kerap menolaknya.
Disinilah terjadi konflik batin, antara menuruti keinginan orang tua atau mengejar
cita-cita. Sampai akhirnya Zahran lebih memilih untuk mengajar di Universitas di Semarang,
dengan alasan tidak ingin jauh dari orang tua. Zahrana juga memilih untuk mengalah dengan
tidak menerima tawaran beasiswa S3 di negeri China. Orang tua Zahrana selalu berharap agar
Zahrana cepat menikah dan memiliki keturunan, orang tuanya khawatir tidak sempat
menyaksikan Zahrana bersuami dan menimang cucu. Zahrana berfikir bahwa menikah hanya
menunda-nunda kesuksesannya dan bisa menghalangi prestasinya.
Puncak konfliknya, Zahrana dilamar oleh atasannya sendiri, dengan tegas Zahrana
menolak lamaran itu karena dirasa atasannya itu tidak memiliki ahlak dan moral yang baik,
disamping itu atasannya sudah kepala lima dan memiliki sifat yang tidak baik. Akibat
penolakan lamaran itu, Zahrana di ancam akan dipecat. Tetapi Zahrana memilih untuk
mengundurkan diri terlebih dahulu dan memilih mengajar di sebuah sekolah kejuruan teknik.
Setelah kejadian tersebut, Zahrana berfikir bahwa dia memang harus segera menikah.
Akhirnya dia meminta saran pada pemimpin pesantren yang masih bersaudara dengan lina,
sahabatnya. Zahrana dipertemukan dengan seorang pemuda yang dari segi pekerjaan biasa-
biasa saja. Pemuda itu seorang duda tanpa anak dan masih muda, dan dia adalah penjual
krupuk keliling, dan Zahrana merasa cocok dan dia memantapkan hati untuk
menyempurnakan ibadahnya melalui jalan menikah.
Zahrana merasa senang karena sebentar lagi dia akan menikah, dia akan memiliki
seorang suami yang begitu shalih, namun kebahagiaan itu sirna begitu saja saat zahrana
menerima kabar bahwa calon suaminya meninggal tertabrak kereta api. Zahrana sangat sedih
dan terpukul dengan kepergiaan calon suaminya, beberapa hari dia dirawat di rumah sakit, di
rumah sakit itu Zahrana bertemu dengan seorang dokter yang ternyata adalah ibunya hasan,
mahasisiwa yang dulu di bimbing skripsinya. Kedatangan dokter tersebut memberi semangat
kepada Zahrana.
Beberapa hari kemudian, ibu hasan datang kerumah Zahrana, beliau berniat untuk
melamar zahrana untuk putranya hasan. Zahrana tidak menyangka akan kabar tersebut, dia
sedikit ragu menerima kabar tersebut. Dikarenakan hasan adalah mahasiswanya dan dia jauh
lebih muda dari zahrana, akhirnya zahrana menerima lamaran tersebut dengan syarat
pernikahan dilaksanakan malam ini juga setelah shalat terawih di masjid dekat rumah
zahrana, dan hasan menerima syarat tersebut. Pernikahan pun dilaksanakan setelah shalat
terawih dan disaksikan oleh para jamaah shalat terawih. Akhirnya Zahran menyempurnakan
agamanya dan hidup bahagia bersama hasan setelah menikah.
Unsur Intrinsik :
Tema
Dalam novel ini, kang abik menganggat tema tentang cinta.
Penokohan
1. Dewi Zahrana
Zahrana adalah tokoh utama dalam cerita ini, dia seorang wanita yang cantik, pintar, baik,
dan taat beragama. Dia selalu mendapatkan penghargaan atas prestasi yang diraihnya, tipe
wanita yang mementingkan pendidikan. Sampai-sampai dia menunda-nunda untuk menikah
di usiannya yang sudah kepala tiga, terkadang dia egois dan tidak memikirkan kebahagiaan
orang tuanya. Ia memilih untuk tidak menikah dulu karena dia berfikir kalau menikah dulu
konsentrasinnya akan terganggu.
2. Pak Karman
Dia adalah sosok yang antagonis, tidak bermoral dan licik. Suka bermain wanita, pendendam
dan sadis. Dia memanfaatkan kedudukannya sebagai rektor untuk melamar Zahrana dan
mengancamnya.
3. Pak Munajat
Beliau adalah ayah Zahrana, seorang bapak yang baik hati, taat beragama, wataknya agak
keras dan tegas namun baik hati. Sayang pada Zahrana dan beliau mengingingkan Zahrana
menikah sebelum beliau meninggal.
4. Bu Nuriyah
Beliau adalah ibu Zahrana, begitu sayang pada Zahrana. Apapun dilakukan demi kebahagiaan
anaknya, seorang wanita yang patuh pada perintah suami, begitu lemah lembut dan tidak
tegaan.
5. Lina
Adalah sahabat baik Zahrana sejak SMA, sahabat yang baik pada Zahrana. Selalu ada disaat
Zahrana sedih atau senang. Tempat berbagi yang bisa memberikan solusi yang dewasa untuk
Zahrana, dan seorang wanita yang begitu agamis. Taat beragama dan selalu bisa lebih dewasa
dari Zahrana.
6. Nina
Adalah mahasiswa yang cantik dan pintar, sangat aktif dan lincah. Dia adalah saudaranya
Hasan, dia juga yang mengenalkan Hasan kepada Zahrana untuk menjadi pemimbing skripsi
Hasan.
7. Hasan
Adalah seorang pria yang tampan, pintar dan baik, dia adalah mahasiswa yang dibimbing
skripsinya oleh Zahrana. Namun akhirnya dia tertarik pada Zahrana dan menikahi Zahrana.
8. Bu Merlin
Adalah salah satu orang yang dihormati Zahrana, dia adalah asisiten Pak Karman. Dan Bu
Merlin adalah orang yang bijaksana dan bertanggung jawab.

Alur
Alur pada novel ini adalah maju mundur. Pada bagian pertam menceritakan tentang
penghargaan yang akan diraih Zahrana, lalu selanjutnya menceritakan tentang prestasi-
prestasi Zahrana dimasa lalu. Dan menceritakan tentang perjodohan-perjodohan yang
dilakukan orang tua Zahrana dan Lina. Lalu selanjutnya bercerita tentang perjalannan hidup
Zahrana dalam menemukan Jodohnya.

Latar / setting
Tempat :
1. Kampus
2. Rumah
3. Tsinghua University
4. Daerah sekitar Solo
5. Rumah Sakit
6. Cina
Waktu :
1. Pagi
2. Siang
3. Sore hari
4. Malam hari
Suasana :
1. Sedih
2. Senang
3. Penuh dendam
4. Mendebarkan

Sudut Pandang
Menggunakan sudut pandang orang ketiga, terlihat dari penggunaan kata dia sebagai kata
pengganti.

Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang disampaikan kang abik mudah dimengerti, kata-kata yang begitu indah dan
menyentuh hati. Kang abik mampu menghipnotis pembaca dengan ikut merasakan kejadian
di novel tersebut, mampu menginspirasi pembaca dengan cerita novel tersebut. Kadang ada
kalimat yang menggunakan majas hiperbola dan tetap berlandasan pada ilmu pengetahuan
dan nilai-nilai agama.

Amanat
Amanat yang disampaikan dalam novel ini agar kita tidak terlalu mengejar kebahagiaan
dunia, hanya memikirkan gelar, popularitas dan harta. Karna sesungguhnya hal tersebut tidak
penting dimata Tuhan. Kita tidak boleh menunda-nunda pernikahan, karena pernikahan
adalah suatu ibadah, dan harus mencari seorang pendamping yang bukan hanya kaya saja
yang diutamakan, tetapi harus baik agamanya, akhlaknya, dan moralnya. Mengajari kita
sebagai pembaca untuk tidak egois dan mementingkan diri sendiri, mau memahami keinginan
orang tua tanpa menyakiti mereka. Mengajari untuk bersabar dan tetap berikhtiyar dijalan
Allah.
Unsur Ekstrinsik : 081994083129
Sejarah Pengarang
Habiburrahman El Shirazy adalah seorang novelis yang hebat, biasa dikenal dengan
nama Kang Abik. Pria kelahiran Semarang, 30 September 1976. Kang abik bukan hanya
seorang penulis, dia juga seorang dai, penyair yang terkenal sampai diluar negeri. Nama
Kang Abik mulai melambung ketika karya novelnya yang berjudul Ayat-ayat Cinta tampil
di layar kaca.
Memulai pendidikan menengahnya di MTS Futuhiyyah I Mranggen sambil belajar kitab
kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan KH. Abdul
Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota Budaya Surakarta untuk belajar di
Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu
melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Fak.Ushuluddin, Jurusan Hadis, Universitas Al-
Ashar, Cairo dan selesai pada tahun 1999. Telah merampungkan Postgraduate
Diploma(Pg.D) 52 di The Institute for Islamie Studies in Cairo yang didirikan oleh imam Al-
Baiquri (2001). Profil diri dan karyanya pernah menghiasi beberapa Koran dan majalah, baik
lokal maupun nasional seperti Solo Pos, Republika Anninda, Saksi, Sabilli, Muslimah, dll.
Karya-karyanya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat. Karya-
karyanay sangat baik dan penuh dengan pesan moral dan agama, banyak novel-novel karya
yang kang abik yang best seller. Bebrapa novel karya kang abik adalah Ayat-Ayat Cinta
(telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV,
2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta
Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) dan Dalam Mihrab Cinta
(2007). Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di
Yerussalem, Mahkota Cinta dan Nyanyian Cinta.
3.1 Kritik Satra Novel Cinta Suci Zahrana
Banyak pesan moral yang terdapat pada novel ini, dimana kita bisa belajar arti
kesabaran pada diri Zahrana, dimana selalu ada kebahagiaan bagi orang-orang yang sabar.
Walau Pak Karman selalu jahat pada Zahrana, tetapi Zahrana tetap sabar dan yakin bahwa
Tuhan akan membalas kejahatan Pak Karman. Dan mengajari kita untuk tidak terlalu
mengejar harta, jabatan jika semua itu didapatkan dengan mengorbankan kebahagiaan orang
tua. Niat Zahrana memang baik untuk membahagiakan orang tuannya, hanya mungkin cara
Zahrana salah, dia berfikir bahwa dengan semua prestasi dan terkenalnya Zahrana karena
kepandaiannya akan membuat orang tuanya bahagia.
Padahal orang tuannya hanya ingin melihat Zahrana menikah diumurnya yang sudah
tidak muda. Kisah cinta Zahran yang penuh pengorbanan dan kesabarannya dalam
menemukan jodoh yang baik dimata keluarga dan di mata Allah, sampai akhirnya bertemu
Hasan. Pengarang mampu mengemas cerita yang sederhana menjadi begitu mempesona dan
mengharukan, denagn menyelipkan ilmu-ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang bermanfaat
bagi para pembaca, dan dapat menginspirasi pembaca. Sebuah novel yang bagus, karena
buku yang bagus adalah buku yang bermanfaat bagi pembacanya.
BAB III
PENUTUP

4.1 Simpulan
Dari hasil pembahasan diatas, disimpulkan bahwa Zahrana adalah seoarang wanita yang baik,
penuh kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup, dan mau bekerja keras untuk mengejar
cita-cita. Banyak konflik yang bisa kita ambil hikmahnya dari novel ini. Sebuah novel yang
menakjubkan dan banyak pesan moral yang bisa kita dapatkan dari novel ini.
http://pilakrainbow.blogspot.com/2013/08/analisis-dan-kritik-sastra-pada-novel.html