Anda di halaman 1dari 59

BAB II

TINJAUAN OBYEK PERANCANGAN

2.1 Tinjauan Umum Perancangan


2.1.1 Pengertian Judul
Perancangan Galeri Seni Pahat di Trowulan Mojokerto ini dapat
dipahami sebagai berikut
Galeri adalah Tempat penjualan hasil-hasil karya seni, serta untuk
meluncurkan karya-karya terbaru.(kamus bahasa indonesia lengkap)
Seni adalah adalah Sesuatu karya yang diciptakan dengan kecakapan yang
luar biasa seperti sajak, lukisan, patung, ukir-ukiran dan
sebagainya.(kamus bahasa indonesia lengkap)
Seni pahat adalah seni ukir yang dibuat dalam bentuk 4 atau 5 dimensi.
Seni pahat memiliki ciri yang agak sedikit berbeda dengan seni ukir.
Memang bahan yang digunakan sama persis dengan yang digunakan oleh
seni ukir. Tetapi di dalam seni pahat, kita harus dapat membuat suatu
bentuk yang sesuai dengan keinginnan kita. Jadi, nanti hasil produk akan
berupa bentuk yang terdapat ukiran-ukiran yang tampak indah jika dilihat.
Trowulan adalah kebesaran Majapahit yang tersisa, di Trowulan,
Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, banyak bukti yang bisa disaksikan
tentang kebesaran Majapahit. Peradaban tersebut berkembang lebih dari
200 tahun, mulai berdiri tahun 1293 dan diperkirakan runtuh tahun 1521
masehi. Disitus Trowulan juga dapat dijumpai ratusan ribu peninggalan
arkeologis baik berupa artefak, ekofak, serta fitur.
Mojokerto adalah kabupaten yang ada di Jawa Timur.
Sehingga, pengertian dari Galeri Seni Pahat di Trowulan Mojokerto
adalah tempat penjualan hasil-hasil karya seni ukiran yang terdapat didaerah
Trowulan Mojokerto.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 8


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
2.1.2 Studi literatur
2.1.2.1 Seni Pahat
Dalam pembuatan patung batu terdapat beberapa tahapan diantaranya
adalah pemecahan bahan baku sesuai ukuran, proses pemahatan, penghalusan,
kemudian patung siap dipajang untuk dijual.
Galeri kaki lima di Trowulan
- Kondisi empiris

Gambar 2.1.Patung-patung yang di hasilkan di Trowulan.


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Gambar 2.2. Proses memahat


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa untuk memahat, pemahat


terkadang tidak mempunyai jarak dengan obyek yang dipahat. Untuk patung batu
yang berukuran kecil, jarak antara pemahat dengan obyek yang dipahat ialah 30-
50 cm.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 9


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Berikut adalah ukuran-ukuran patung yang ada di dearah Trowulan:
- Patung ukuran kecil dengan panjang 15cm, lebar 15cm, dan tinggi 45cm.

Gambar 2.3. Patung Ukuran Kecil


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Patung ukuran sedang dengan panjang 40cm, lebar 30cm, dan tinggi
65cm.

Gambar 2.4. Patung Ukuran Sedang


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Patung ukuran sedang posisi berdiri dengan panjang 40cm, lebar 40cm,
dan tinggi 200cm.

Gambar 2.5. Patung Ukuran Agak Besar Posisi Berdiri


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 10


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
- Patung agak besar dengan panjang 60cm, lebar 50cm, dan tinggi 110cm.

Gambar 2.6. Patung Ukuran Agak Besar


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Patung besar dengan panjang 150cm, lebar 110cm, dan tinggi 280cm.

Gambar 2.7. Patung Ukuran Besar


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Patung besar posisi berdiri dengan panjang 90cm, lebar 80cm, dan tinggi
300cm.

Gambar 2.8. Patung Ukuran Besar Posisi Berdiri


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)hhhh

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 11


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 2.9. patung yang sudah di packing Gambar 2.10. peralatan memahat
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Gambar 2.11. Jenis pahatan/ukiran


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Dari gambar diatas dapat dibedakan dari tingkat kerumitan ukiran pada
tiap-tiap patung. Untuk patung laki-laki tidak terdapat ukiran yang mendetail
sedangkan untuk patung perempuan banyak terdapat ukiran yang detail karena
sesuai dengan filosofi atau kebiasaan wanita yang selalu memakai perhiasan
seperti pada gambar diatas. Hal ini dapat membedakan harga jual patung tersebut
antara patung yang sedikit ukiran dengan patung yang banyak terdapat ukirannya.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 12


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
2.1.2.2. Standart Fasilitas Art Gallery
Suatu galeri memiliki standart persyaratan ruang, dimana hal ini mengatur
serta merupakan syarat utama dalam merancang suatu ruang maupun bangunan.
Standart yang dimaksud dapat berupa luasan ruang, pencahayaan, temperatur,
kualitas ruang, maupun sirkulasi ruang. (Tugas akhir Dimas haryo 2011 )

Pencahayaan
Karena fleksibilitas gallery secara khas dirancang dengan lebih dari yang
kapasitas pencahayaan yang minimum. Yang terutama pencahayaan terpenting
untuk area ruang pamer. Panjang gelombang lighting adalah (400-700 nm
(nanometers)), ultra lembayung adalah 300-4(11), sedangkan ultra lembayung
spektrum mempunyai energi lebih yang dapat merusak objek. Karena ultra
lembayung (LV) bukan infraed (IR) [cahaya/ringan] sangat mempengaruhi,
sehingga perlu dihindari penggunaan lighting dengan efek warna lembayung dari
pameran dan koleksi. Dua sember UV cahaya yang ringan dan utama adalah
cahaya matahari dan lampu neon (David, 2005). Adapun persyaratan yang
dibutuhkan akan penerangan antara lain :
- Ekonomi
- Memberikan penerangan yang penuh persyaratan dan sesuai dengan
fungsinya (contoh ruang pamer dan ruang gelap dimana cahaya alami
tidak terlalu dibutuhkan).
- Waktu penggunaan.
Selain itu, perlu adanya pengaturan penempatan dinding temporer. Tata
ruang perlu mengakomodasi dengan aturan :
1. Penjuru sudut diukur dari suatu titik banding dan 5 feet- 4 inchi di atas lantai
(yang merupakan suatu rata-rata mata mengukur untuk orang dewasa) harus
antara 45 dan 75 derajad secara horizontal.
2. Karena dinding permanen, penjuru/sudut yang ideal pada umumnya 65-70
derajat
3. Semakin sensitif material koleksi / karya seni, semakin sedikit pencahayaan
yang disajikan

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 13


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, ada persyaratan umum galeri
yang menurut Neufert Architect Data 1995 berupa
1. Ruang pamer harus aman dari pencuri, bahaya kebakaran, sinar terik
matahari, debu, asap, polusi kendaraan atau industri serta bebas dari
kebisingan dan getaran.
2. Galeri harus menyediakan lahan untuk pengembangan pada tahun-tahun
berikutnya, dengan asumsi akan terjadi penambahan ruang karena
penambahan koleksi.
3. Galeri dapat didukung oleh fasilitas workshop/studio/garasi dalam bangunan
tersendiri atau terpisah dengan ruang pamer.
4. Ruang pamer harus terjaga kelembapannya dan tidak terkena sinar matahari
langsung.
5. Galeri sebaiknya dilengkapi dengan ruang penunjang lain seperti kantor
administrasi, ruang pertemuan, ruang baca, atau perpustakaan. Semua itu
sebisa mungkin berada dalam satu lantai dengan ruang pamer.

Standart Kenyamanan Pengamat


Kenyamanan pandangan pengamat perlu diperhatikan agar pengunjung
merasa nyaman dan dapat leluaa untuk melakukan pengamatan terhadap hasil
karya seni rupa tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain
1. Kenyamanan pandangan horizontal
Batas standart : 30 - 30 ke kiri dan ke kanan
Batas visual : 62 - 62 ke kiri dan ke kanan
2. Kenyamanan pandangan vertical
Standart : 30 ke atas dan 40 ke bawah
3. Kenyamanan pandangan pengamatan
Horisontal : 45 - 45 ke kiri dan ke kanan
Vertikal : 30 - 30 ke atas dan ke bawah
4. Ukuran dan jarak pandang
Tinggi dan jarak pandang ke obyek koleksi juga menentukan
kenikmatan melihatnya.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 14


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Untuk lebih jelasnya tentang kenyaman jarak pandang pengamatan
manusia dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 2.12 Sudut pandang pengamat dan jarak display manusia


(Sumber: Dimensi Manusia dan Ruang Interior, 2003)

2.1.3 Studi Kasus


2.1.3.1 Galeri Kaki Lima Antok, Mojokerto
A. Lokasi
Galeri kaki lima ini berlokasi di Desa Wates Umpak, Jati Sumber,
Kecamatan Trowulan. Berada di jalur Jalan Raya Mojokerto Jombang. Berada
tepat di pinggir jalan raya utama jalur luar kota membuat lokasi ini merupakan
lokasi yang strategis. Namun, kondisi jalan ini tidak sepadat jalur luar kota
Sidoarjo Malang (Porong) sehingga tidak memiliki kepadatan lalu lintas yang
berlebihan
B. Fasilitas
- Ruang Pamer
Ruang ini berada di luar atau biasa disebut teras rumah dan di trotoar
jalan. Patung yang dipamerkan mulai dari patung paling kecil (tinggi 30 cm)
sampai paling besar (3 m untuk patung duduk). Patung yang dipamerkan untuk
dijual berasal dari batu padas dan batu kali, yang memiliki perlakuan berbeda.
Untuk patung yang terbuat dari batu padas membutuhkan perlindungan dari
sinar matahari dan hujan. Sedangkan, untuk patung yang terbuat dari batu kali
dapat dipamerkan di ruang terbuka. Sehingga, ruang pamer yang ada di Galeri

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 15


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Kaki Lima ini bisa dikatakan memiliki ruang pamer ditrotoar dan outdoor.
Adapun ruang pamer Galeri Kaki Lima ini dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.13 Ruang pamer outdoor Gambar 2.14 Ruang pamer di trotoar
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

- Rumah
Rumah di Galeri Kaki Lima ini merupakan rumah pemilik galeri ini,
yaitu rumah Pak Antok. Rumah ini merupakan tempat tinggal tetap pemilik
galeri ini. Adapun gambar rumah dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.15 Rumah pemilik galeri


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)
- Gudang
Gudang disini merupakan tempat penyimpanan koleksi produk patung
baik yang siap untuk dipamerkan (dijual) maupun yang masih dalam tahap
finishing. Produk yang disimpan di gudang ini bisa merupakan koleksi baru
maupun koleksi lama. Gudang ini berada tepat disamping kanan rumah pemilik
galeri.
- Ruang Pahat (ruang kerja)
Ruang pahat ini berada di depan rumah pemilik galeri, yang beratapkan
asbes dan tanpa sekat dinding sehingga terbuka. Sebenarnya, ruang pahat ini
merupakan teras rumah pemilik galeri yang dimanfaatkan sebagai ruang kerja

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 16


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
pahat sekaligus ruang pamer kedua selain ruang pamer terbuka (di trotoar).
Adapun ruang yang dimaksud dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.16 Ruang pahat + ruang pamer


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

C. Besaran Ruang
Galeri kaki lima ini sebenarnya sama halnya sperti rumah rumah pada
umumnya.Namun, pada rumah milik pak Antok ini dimanfaatkan sebagai galeri
kaki lima. Dimana pemajangan koleksi seni pahat ini diletakkan di teras rumah
(yang telah dinaungi atap asbes) dan trotoar sekitar rumah (galeri ini). Dengan
penggolongan ruang yang dapat dilihat di gambar bawah ini

Rumah
Gudang Pemilik
Display Patung

Display Patung

Area Memahat

Jl. Raya Jalur Luar kota Surabaya Jombang

Gambar 2.17 Denah Galeri Kaki Lima Antok


(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 17


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
D. Gubahan Massa dan Tampilan Bangunan
Tampilan dan gubahan massa galeri ini ialah hanya rumah tinggal biasa
dengan tampilan seprti rumah tinggal biasa. (dapat dilihat di gambar 2.4).
2.1.3.2 Selasar Sunary Art Space, Bandung
A. Lokasi
Selasar sunaryo art space, terletak di jl. Bukit Pakar Timur no. 100, Dago,
Bandung, Kecamatan Lembang, Jawa barat. Lebih jelasnya lokasi bangunan ini
dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gambar 2.18 Lokasi Selasar Sunaryo


(sumber : googlemap.com)

Pemilik galeri ini adalah Drs. Sunaryo yang mempercayakan seorang


Arsitek yaitu Baskoro tedjo untuk menggarap lahan 5000 meter persegi miliknya,
beliau bersama Baskoro tedjo merancang selasar sunaryo art space pada tahun
1993. Pembangunan membutuhkan waktu selama 4 tahun dari tahun 1993 1997.
Ide bentuk dari galeri ini adalah Kuda lumping, yang diresmikan pada september,
1998.
B. Fasilitas
- Taman Batu
Taman batu luas sekitar 190m2, yang merupakan sebuah tempat
terbuka (RTH).Biasanya digunakan untuk tempat memajang karya-karya
Sunaryo yang terbuat dari batu-batuan. Ditata dengan gaya taman Jepang
yang minim pohon rimbun namun estetis, dimana seolah-olah ada 2 dunia
yaitu kering dan sejuk (pasir batu dan rerumputan). Tatanan dan gambaran
taman batu ini dapat dilihat di gambar di bawah ini

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 18


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 2.19 Taman Batu
(sumber : http://fariable.blogspot.com/2011/07/selasar-sunaryo-art-space.html)

- Ruang Utama
Ruang utama memiliki luas sekitar 177 m2. Biasa digunakan untuk
menyimpan dan memajang karya-karya Sunaryo yang dipilih oleh dewan
pertimbangan Kuratorial atas dasar periodisasi dan nilai kesejahteraannya.
Ruang ini juga digunakan untuk pameran dengan skala besar yang
menampilkan seniman-seniman dari indonesia dan mancanegara.
Menggunakan dinding temporer yang secara kondisional bisa dirubah
sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan tatanan pameran. Namun ada sisi
dimana dindingnya merupakan dinding permanen, menggunakan pewarnaan
dinding putih susu dan terasso hitam, serta lantai kayu parguel warna coklat
kayu muda. Penggambaran ruang utama dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.20 Ruang Utama

- Ruang Sayap
Ruang sayap memiliki luas sekitar 48 m2, digunakan untuk
menyelenggarakan pameran yang menampilkan karya-karya seniman muda
indonesia dan mancanegara. Selain itu, ruangan ini juga digunakan untuk
memajang koleksi permanen karya-karya terpilih seniman indonesia dan

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 19


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
mancanegara. Adapun penggambaran ruang sayap dapat dilihat di gambar
bawah ini

Gambar 2.21 Ruang sayap

- Kopi Selaras
Kopi Selaras memiliki luas sekitar 157 m2 dengan teras terbuka yang
disediakan bagi para pengunjung untuk menikmati kopi dan makanan sambil
menyimak pemandangan bukit dago yang asri. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.22 Kopi Selaras

- Ruang Tengah
Ruang Tengah memiliki luas sekitar 210m2, digunakan untuk
menyelenggarakan pameran yang menampilkan karya-karya seniman muda
indonesia dan mancanegara. Selain itu, ruangan ini juga digunakan untuk
memajang koleksi permanent karya-karya terpilih seniman indonesia dan
mancanegara.

Gambar 2.23 Ruang tengah

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 20


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
- Cinderamata Selaras
Cindera Mata Selaras (luas sekitar 90 m2), toko kecil yag menjual
buku-buku, produk kesenian, dan jurnal seni-budaya serta pernak-pernik khas
selaras. Adapun gambar tentang ruang ini dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.24 Cinderamata Selaras


- Amphitheatre
Amphitheatre memiliki luas sekitar 198 m2. Amphitheatre ini
merupakan sebuah panggung terbuka berbentuk lingkaran dengan
kapasitas 300 penonton yang dirancang khusus untuk pementasan seni
pertunjukan, pembacaan puisi, monolog maupun pementasan seni budaya
lainnya. Dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.25. Ampitheater


- Bale handap
Bale Handap (luas sekitar 120m2), adalah salah satu ruang serba
guna yang digunakan untuk ruang diskusi dan lokakarya. Model bangunan
ini terinspirasi dari bangunan tradisional jawa dengan adanya teras
terbuka. Bale Handap terletak terpisah dari bangunan utama yaitu diantara
rumah bambu dan level paling bawah. Dapat dilihat di gambar bawah ini

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 21


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 2.26 Bale handap

- Rumah Bambu
Rumah Bambu memiliki luas sekitar 76 m2.Berupa rumah
sederhana terbuat dari bambu yang digunakan untuk menginap para
seniman yang bekerja untuk program tertentu, serta tamu-tamu khusus.
Untuk tampilan rumah bambu ini, dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 2.27 Rumah bambu


- Perpustakaan Selasar
Ruang ini baru dibuka untuk umum pada tahun 2008 dan memiliki
banyak data tentang kesenian Indonesia, fotografi, buku, jurnal, film
poster, paper dalam bentuk dokumentasi. Adapun gambar ruangnya dapat
dilihat di bawah ini

Gambar 2.28 Pustaka Selasar


C. Besaran Ruang
Selasar Sunaryo ini merupakan bangunan yang menganut style
kontemporer tropis sebagai ruang galeri museum, pertemuan/pementasan,
seminar, dan bukan merupakan bangunan tatanan massa melainkan single

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 22


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
building. Pengolahan ruang interior dan eksterior dibuat menyambung seolah-olah
berupa ruang yang menerus seperti selasar. Sehingga nama bangunan ini disebut
Selasar Sunaryo. Untuk lebih jelasnya, pembagian ruang Selasar Sunaryo dapat
dilihat pada gambar 2.29 di bawah ini

Gambar 2.29 Denah Selasar Sunaryo

D. Pola Tatanan Massa


Letak Selasar Sunaryo ini berada di kawasan perbukitan yang sangat
menentukan dalam penentuan pola perletakan fungsi massa bangunan itu sendiri.
Dimana harus dapat mengisi ruang lahan yang seluas 5000 m2 dengan kemiringan
sekitar 20 40 %. Sehingga dalam perencanaannya perlu dilakukan pemisahan
bangunan berdasar fungsi aktivitas pengguna. Pemisahan massa bangunan dibuat
menggunakan split level yang menyesuaikan pola kontur eksisting. Pola tatanan
massa Selasar Sunaryo ini ialah radial, dimana arah masuk dengan keluar berada
di satu titik yang sama. Untuk mengetahui pola tatanan massa Selasar Sunaryo ini
dapat dilihat di gambar 2.30 dan 2.31 bawah ini

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 23


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Selasar Cinderamata Rg. Tengah
Ruang AV
Kopi Selasar
Rumah Bambu
Wing Space

Bale Handap

Amphitheatre

Gambar 2.30 Blokplan Selasar Sunaryo lantai 1

Taman Batu
Galeri Utama

Gambar 2.31 Blokplan Selasar Sunaryo lantai 2

E. Gubahan Massa dan Tampilan Bangunan


Bentuk dasar bangunan selasar sunaryo art space secara keseluruhan
diambil dari bentuk Kuda Lunping yang merupakan salah satu artefak
kebudayaan tradisional indonesia. Kata Selasarpun dipilih sebagai konsep
rumah terbuka yang menerus dan menghubungkan satu ruangan dengan ruangan
yang lain, serta satu bangunan dengan bangunan lain. Konsep utama Selasar
dalam hal ini adalah menghubungkan seni dengan kehidupan, menghubungkan
karya seni dan pemirsanya sekaligus menghubungkan satu budaya dengan budaya
yang lain.Tampilan bangunan dapat dilihat pada gambar 2.32 di bawah ini

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 24


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 2.32. Tampilan

Bentuk tampilan Selasar Sunaryo merupakan perpaduan antara konsep


Back To Nature dan arsitektur Modern. Ini terlihat dari bentukan dinding-
dindingnya yang massif dan terdapat lubang dengan bentukan geometris, pagar
yang dibuat dengan bentukan yang simple, dan cenderung menggunakan warna-
warna monokrom. Beberapa hal tersebut semakin membuat kental kesan
modernnya. Sedangkan konsep Back To Nature lebih diterapkan pada fungsi-
fungsi ruangnya seperti yang terihat pada amphitheatre, bale handap, dan rumah
bambu.
Dari studi lapangan yang telah dilakukan, diperoleh gambaran yang secara
riil ruang-ruang yang berkaitan dengan dunia seni pahat, termasuk diantaranya
ruang pamer sayap, ruang utama dan sebagainya. Dimana melalui studi lapangan
ini kita dapat belajar tentang kebutuhan ruang.
Penataan perabot pada Selasar Sunaryo ini sesuai dengan fungsi dan
kebutuhan para pengunjung. Pada interior bangunan juga dapat disesuaikan
dengan karya-karya setiap aliran yang dianut setiap seniman.

2.1.3.3 Galeri Seni Alberta, Kanada


A. Data obyek studi kasus
Arsitek : Randall Stout Architects
Lokasi : Edmonton, AB T5J, Kanada
Tahun berdiri : 1924
Bahan : Beton
Status : Dibangun

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 25


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Lantai area : 84.000 kaki persegi

B. Lokasi
Galeri ini berada di Edmonton, Alberta, Canada. Tepat di 102 A Avenue
Street yang merupakan jalan sekunder dan 2 arah. Bangunan galeri ini merupakan
bangunan kompleks yang perletakan lokasi tiap massa bangunan di pojok jalan
pertemuan antara 102 A Avenue dan 99 Street. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada gambar 2.33 di bawah ini

Gambar 2.33. Siteplan lokasi bangunan


C. Fasilitas
- Lobby
Pada galeri alberta ini, lobby menggunakan permainan cladding yang
menembus dari luar lalu masuk kedalam ruangan sehingga menimbulkan
keestitakaan tersendiri. Dimana plafon area lobby menembus hingga lantai ke 3
sehingga menimbulkan kesan lapang. Untuk konstruksi, sengaja diperlihatkan dan
diekspos untuk mengesankan kokohnya bangunan ini. Dinding bagian eksterior
mayoritas terbuat dari material kaca yang dimaksudkan untuk mendapatkan
pencahayaan alami. Sedangkan di dinding bagian interior menggunakan beton
finishing. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada gambar 2.34 di bawah ini

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 26


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 2.34. Lobby galeri
- Galeri
Galeri ditempatkan di lantai kedua dan ketiga bangunan. Pada ruang ini
digunakan untuk memajang karya-karya seni yang ada pada galeri alberta. Karya
seni yang dipajang tidak hanya karya lukisan, patung, seni ukir, sclupture art, dan
masih banyak lagi. Ide lekukan stainless yang bergelombang bila dilihat seperti pita
stainless steel yang mengombak melintasi dinding di sekitar lobi dan galeri
bangunan dengan bentuk seng kotak dan menonjol. Material bangunan di bagian
galeri utama menggunakan granit pada lantai, beton pada dinding, dan kayu parquel
beton pada plafon. Ada sebgaian kolom di galeri yang menggunakan pelapis
stainless. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.35 di bawah ini

Gambar 2.35. Galeri Utama


- Cafe
Cafe ini diolah menjadi ruang luar yang nyaman dan santai, dengan
teras terbuka sehingga para pengunjung saat menikmati minuman dan
makanan dapat menikmati pemandangan luar bangunan melalui lubang

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 27


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
dinding (framing view). Penggunaan material yang melibatkan batu tempel
dengan permainan tekstur tiap batu sehingga menimbulkan kesan sejuk dan
tenang, jauh dari kesan hiruk pikuknya kota. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar 2.36 di bawah ini.

Gambar 2.36. Cafe

D. Besaran Ruang
Galeri alberta ini merupakan bangunan yang menganut style arsitektur
modern brutalist sebagai galeri museum, pertemuan/pementasan, seminar, dan
lain-lain. Bangunan ini merupakan bangunan tatanan massa yang kompleks
dengan fungsi bangunan, fungsi tiap massa bangunan dipisahkan oleh lokasinya
yang saling berhadapan di sisi tepi jalan raya. Pengolahan ruang interior
meminimalisir penggunaan dinding masif dan eksterior dibuat clading
bergelombang yang tidak beraturan namun menembus sampai kedalam bangunan
dengan menggunakan bahan stainless steel. Besaran ruang pada bangunan galeri
ini diolah dengan pola radial yang tidak memiliki kerumitan tinggi pada sirkulasi
ruang. Untuk lebih jelasnya, pembagian ruang dapat dilihat pada gambar 2.37 di
bawah ini

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 28


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 2.37. Denah Lower Level dan Ground Level

Gambar 2.38. Denah Second Level dan Third Level

Gambar 2.39. Denah Fourth Level

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa banyak ruang-ruang yang luas hal
ini dimaksudkan untuk memberikan kesan megah bagi pengguana bangunan.
Dengan adanya ruang-ruang yang luas dapat menyimpan benda-benda koleksi
yang cukup banyak, sehingga memudahkan pengunjung untuk melihat benda
koleksi pada galeri tersebut.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 29


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
E. Pola Tatanan Massa
Letak galeri alberta ini berada di kawasan perkotaan yang sangat
menentukan dalam penentuan pola perletakan fungsi massa bangunan itu sendiri.
Dimana harus dapat mengisi ruang lahan yang seluas 84.000 m2. Sehingga dalam
perencanaannya perlu dilakukan pemisahan bangunan berdasar fungsi aktivitas
pengguna. Pemisahan massa bangunan dibuat menggunakan split level di tiap
fungsi ruang maupun fungsi bangunan. Pola tatanan massa ialah radial, dimana
arah masuk dengan keluar berada di satu titik yang sama namun memutar
melewati ruang yang berbeda. Untuk mengetahui pola tatanan massa dapat dilihat
di gambar 2.40 bawah ini

Gambar 2.40. Denah dan potongan

F. Gubahan Massa dan Tampilan Bangunan


Bentuk tampilan dari galeri alberta merupakan perpaduan antara konsep
brutalistme dan arsitektur Modern. Ini terlihat dari bentukan tampak bangunan
yang yang tidak beraturan dengan berbagai macam campuran garis dan
lengkungan. dan cenderung menggunakan warna-warna monokrom. Beberapa hal
tersebut semakin membuat kental kesan modernnya.untuk mengetahui tampilan
bangunan tersebut dapat dilihat pada gambar 2.41. dibawah.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 30


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 2.41. Tampak bangunan

2.1.4 Analisa Hasil Studi


Tabel 2.1. Analisa hasil studi
Analisa hasil Kesimpulan yang
Jenis ruang Keuntungan/kerugian
studi dianut
Selasar Sunaryo - Ruang tengah Lapang,cahaya alami dan
sirkulasi alami. Dari perbedaan hasil
-Cinderamata selaras - studi kasus yang telah
- Ruang dalam Minim sekat dinding masif disebutkan sebelumnya
Berhubungan langsung galeri seni pahat di
- Bale handap dengan ruang luar trowulan akan
- menggunakan tatanan
- Rumah bambu Tidak perlu pengeras suara massa dengan pola
- Ampitheater apabila digunakan sebagai sirkulasi radial dan
acara pentas. minim penggunaan
Galeri alberta - Ruang galeri Lapang, cahaya alami dan nsekat dengan tujuan
lampu sorot. memaksimalkan view
- Caf Penghawaan dan pengunjung terhadap
pencahayaan alami karena karya yang
tidak menggunakan atap. dipamerkan. Style yang
Terkesan lapang karena dianut arsitektur
- lobby tidak dibatasi plafon dari tradisional jawa.
lantai 1-3.
Sumber : Analisa pribadi, 2011

Dari hasil analisa studi diatas, didapatkan persamaan yaitu, kedua obyek
studi sama-sama merupakan bangunan single building namun berbeda fungsi
maupun style bangunan. Fungsi sama-sama galeri namun peruntukan benda

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 31


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
koleksi yang berbeda. Untuk Selasar Sunaryo merupakan galeri seni kontemporer,
sedangkan Galeri Kaki Lima merupakan galeri seni pahat home industry.

2.2 Tinjauan Khusus Perancangan


2.2.1 Penekanan Perancangan
Pada Galeri Seni Pahat di Trowulan Mojokerto ini penekanan perancangan
secara Tatanan Massa (massa bangunan kompleks). Karena Galeri ini
memerlukan banyak ruang-ruang besar dan terbuka, misalnya seperti pendopo-
pendopo sebagai tempat penjualan patung batu yang berukuran sedang sampai
yang besar.
Merujuk pada studi kasus Selasar Sunaryo Art Space Bandung, maka
Galeri ini membutuhkan banyak ruangan ataupun bangunan-bangunan sebagai
tempat patung-patung besar dipamerkan untuk dijual. Ruang-ruang itu antara lain
pendopo-pendopo yang letaknya terpisah dengan bangunan utama, terhubung oleh
selasar. Ini yang menjadi alasan mengapa Galeri ini dibuat dengan Tatanan Massa
atau massa kompleks.

2.2.2 Lingkup Pelayanan


Lingkup pelayanan yang difokuskan untuk Galeri Seni Pahat ini kepada
masyarakat umum khususnya eksekutif selaku peminat pembeli karya seni
pahat.

2.2.3 Aktifitas Dan Kebutuhan Ruang


Aktifitas-aktifitas yang dilakukan pemakai bangunan dapat dijabarkan
seperti dalam tabel 2.2. berikut ini.
Tabel 2.2. Aktifitas Pemakai Bangunan dan Kebutuhan Ruang
No Pemakai Bangunan Aktifitas Kebutuhan Ruang Fasilitas

1 Pengunjung - Parkir - Tempat parkir Utama


- Masuk - Lobby
- Mengisi data - Administrasi
- Melihat patung - Ruang jual 1, 2,dan 3

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 32


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
- Belajar memahat - Workshop
- Membeli barang - Kasir
- Makan minum - Cafe
- Buang air - Toilet
2 Pengelola - Parkir - Tempat parkir Penunjang
bangunan - Administrasi - Kantor pengelola
- Makan minum - Pantri
- Buang air - Toilet
3 Penyewa - Parkir - Tempat parkir Servis
- Stok barang - Gudang
- Menata barang - Stand
- Makan minum - Cafe
- Buang air - Toilet
Sumber : Analisa penulis, 2011

2.2.4 Perhitungan Luasan Ruang


Perhitungan luas ruang disusun berdasarkan jumlah dan standar satuan
terkecil dari masing-masing aktifitas. Untuk menentukan luasan ruang dapat
mengacu pada tabel 1.1 halaman 2 pada bab 1 tentang jumlah kenaikan jumlah
pemahat pertahunnya yang mencapai 5 orang. Dengan asumsi 10 tahun bangunan
mampu menampung sampai 120 orang pemahat, Dan secara jelas diuraikan dan
dihitung pada tabel 2.3. dibawah ini.
Tabel 2.3. Perhitungan Luasan Ruang
Kelompok
No Fasilitas Rg. Kap.ruang Perhitungan Luas
Rg.
1. Zona Galeri Ruang jual 1 100 penyewa
2
-Patung kecil @0,02m 20unit/penyewa 4 m2x 100 400 m2
-Patung agak kecil 10unit/penyewa 1.2 m2 x 100 120 m2
@0,12 m2
Ruang jual 2 10 unit/penyewa 3 m2 x 100 300 m2
Patung sedang @0.3m2
Ruang jual 3 3 unit/penyewa 4.95 m2 x 100 495 m2
Patung besar @1.65 m2
Total 1315 m2
Sirkulasi - 30 % luas 394.5 m

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 33


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Total 1709.5 m2
2. Zona Ruang pembuatan 6 orang 6 x 2.25 m2/unit 13.5 m2
workshop patung
Ruang Bahan Baku 25 unit 25 x 2 m2/unit 50 m2

Ruang Finishing 2 orang 2 x 2 m2/unit 4 m2

Total 67.5 m2
Sirkulasi - 30 % luas 20.25 m
Total 87.75 m2
3. Zona R. Direksi 1 org 24 m/org 24 m
pengelola R. Sekretaris 1 org 9 m/ org 9 m
R.Administrasi+Staff 10 org 12 m/org 120 m
R. Humas+Tamu 3 org 12 m/org 36 m
R. Rapat 10 org 2 m/org 20 m
Locker karyawan 20 org 0.85 m/org 17 m
Pantry 2 org 2 m/org 4 m
Total 230 m
Sirkulasi - 30 % luas 69 m
Total 299 m
4. Zona 7 unit wc=2m/unit 14 m
Service Toilet pria 3 unit ws=1m/unit 3 m
7 unit ur=0.8m/unt 5.6 m
6 unit wc=2m/unit 12 m
Toilet wanita
3 unit ws=1m/unit 3 m
2
Cafe 50 orang 2 m /org 100 m
Gudang 100 unit 1,2 m/unit 120 m
Packaging room 2 unit 3 m/unit 6 m
Total 263.6 m
Sirkulasi - 30% luas 79.08 m
Total 342.68 m
5. Zona Parkir Parkir mobil 22 mobil (3x5) m/mbl 330 m
Parkir motor 100 motor (0.6x2.5)m/mtr 150 m
Pos jaga - - 16 m
Total 496 m
Sirkulasi - 30 % luas 148.8 m
Total 644.8 m
Sumber : Analisa penulis, 2011

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 34


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Rekapitulasi Luasan ruang (termasuk sirkulasi 30%)
Zona Galeri 1709.5 m2
Zona workshop 87.75 m2
Zona pengelola 299 m
Zona Service 342.68 m
RTH 500 m
Zona Parkir 644.8 m +
Total : 3583.83 m

2.2.5 Program Ruang


Perhitungan luas ruang disusun berdasarkan jumlah dan standar satuan
terkecil dari masing-masing aktifitas, serta prasarana yang dibutuhkan pada
masing-masing ruang tersebut. Dan secara jelas diuraikan dan dihitung pada tabel
2.4. dibawah ini.
Tabel 2.4. Program Ruang
No Kebutuhan ruang Fasilitas Rg. Luas %
2
1. Zona Galeri Galeri indoor,semi outdoor, 1709.5 m 48 %
dan outdour
2. Zona workshop a. R. Pembuatan patung 87.75 m2 4.2 %
b. R. Bahan baku
c. R. Finising
3. Zona Pengelola a. R. Direksi 299 m2 7%
b. R. Sekretaris
c. R. Administrasi+staff
d. R. Humas + tamu
e. R. Rapat
f. Locker karyawan
g. Pantri
h. Toilet
4. Zona Service 342.68 m2 9.7 %
a. Dapur
b. Gudang
c. Toilet Pria + Wanita

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 35


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
d. Packaging room

5. Zona Parkir Zona Parkir 644.8 m2 23.3 %


a. Parkir mobil
b. Parkir Motor
c. Parkir Bus
d. Pos Jaga
Sumber : Data penulis, 2011

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 36


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
BAB III
TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN

3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi


Dalam obyek rancangan Galeri Seni Pahat ini ditinjau beberapa lokasi. Hal
ini untuk memilih kondisi lokasi yang optimal untuk mendirikan suatu Galeri
Seni. Dalam penetapan dan pemilihan lokasi harus memperhatikan kriteria
sebagai berikut :
a. Luasan Ruang yang dibutuhkan dalam proyek
b. Fungsi bangunan utama yang menjadi kunci dalam penetapan lokasi
berada dimana site tersebut dalam peruntukan kawasan kota yang
sebenarnya.
c. Pilihan lokasi proyek yang mendekati secara keseluruhan terhadap
persyaratan dan fungsi bangunan.
d. Ketentuan dan pertimbangan bangunan dalam penetapan lokasi proyek
seperti penganalisaan segala aktivitas, kebutuhan ruang terbuka,
kebutuhan ruang pribadi, luas lahan, tingkat ekonomi pengguna, serta
keamanan lokasi.

3.2 Penetapan Lokasi


Dengan adanya data-data tentang lokasi obyek rancang, dapat menentukan
lokasi perancangan yang tepat untuk Galeri Seni Pahat ini. Setelah dilakukan
penilaian terhadap masing-masing lokasi maka dipilih lokasi wisata Trowulan
pada alternative lokasi A sebagai lokasi yang tepat untuk obyek rancang ini.
Adapun hasil penilaian antara alternative lokasi yang telah disebutkan diatas,
dapat dilihat di tabel bawah ini

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 37


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Tabel 3.1. Hasil Penilaian lokasi
Lokasi Aksesibilitas Lingk. sekitar Aspek pendukung
A Mudah 3 Mendukung, karena 3 Banyak dilalui kendaraan 3
Komplek dijangkau terletak dipinggir jalan raya umum misal bus, angkutan
pemahat Surabaya Jombang yang kota, dll. Kendaraan
patung padat kegiatan. Banyak pribadi maupun aktivitas
penjual patung sehingga candi patung juga ada di
sesuai dengan tema sekitar site.
rancangan.
Mudah untuk dilihat karena
ada di Jalan Utama luar
kota.
B Mudah 3 Sangat mendukung, karena 2 Pencapaian yang mudah 3
Daerah dijangkau terletak pada kawasan baik kendaraan umum
wisata wisata, tujuan utama maupun pribadi. Banyak
Trowulan, wisatawan, daerah terdapat peninggalan
jalan peninggalan majapahit majapahit misal candi-
Pendopo yang banyak terdapat candi majapahit yang dapat
Agung peninggalan-peninggalan mendukung keberadaan
Trowulan kerajaan majapahit misal patung batu.
candi-candi, pendopo dll.
Letaknya berada di jalan
sekunder namun, lokasinya
masih dapat dilihat dari
jauh.
C Mudah 3 Kurang mendukung karena 1 Dilalui angkutan kota 2
Pusat dijangkau daerah pusat kota identic tetapi bangunan disekitar
kota dengan dunia style. kurang mendukung (Toko-
Mojokerto Meskipun banyak orang toko yang berhubungan
yang tahu. dengan dunia style)

Keterangan : 3 : Sangat baik


2 : Cukup baik
1 : Kurang

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 38


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Lokasi dapat dilihat pada peta dibawah.

Lokasi A

Lokasi B

Gambar 3.1 Peta pilihan alternative lokasi

Gambar 3.2. Peta lokasi terpilih

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 39


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Lokasi obyek rancang terletak di jalan Majapahit, desa Wates Umpak,
dusun Jati sumber RT.01, RW.02, no 28-32 kecamatan Trowulan Mojokerto KM
10.

3.3 Kondisi Fisik Lokasi


3.3.1 Eksisting Site
Lahan ini merupakan lahan kosong yang berada tepat di pinggir jalan raya
utama Majapahit. Dengan status milik perseorangan yang kurang terawat. Kurang
lebih luas lahan ialah 13.000m2 . Adapun kondisi lahan dapat dilihat di gambar
bawah ini

Gambar 3.3. Kondisi site


3.3.2 Aksesibilitas

Ket :

: arus padat

Gambar 3.4. Arus aksesibilitas

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 40


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Pada lokasi utama ini para pengunjung dapat menuju lokasi dengan
menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi, selain itu juga angkutan
umum seperti bus juga dapat menuju lokasi apabila ada penggunjung yang ingin
berwisata dengan keluarga besarnya.

3.3.3 Potensi Lingkungan

Gambar sebelah timur site Gambar sebelah barat site


Gambar 3.5. View sekitar site I

Gambar sebelah utara site Gambar sebelah selatan site


Gambar 3.6. View sekitar site II
(sumber : hasil pengamatan lapangan, 2011)

Pada lokasi ini banyak terdapat aspek-aspek yang mendukung terhadap


obyek rancang misal candi-candi peninggalan kerajaan Majapahit, Museum
Trowulan, Pendopo Agung dll. Patung yang ada pada Galeri Seni Pahat ini
nantinya ialah patung batu yang bernuansa Majapahit sehingga aspek-aspek
tersebut sangat mendukung keberadaan obyek rancang ini.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 41


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
3.3.4 Infrastuktur Kota
Adapun infrastruktur kota yang ada di sekitar lokasi tidak seminim daerah
pelosok kota Mojokerto. Sudah tersedia infrastruktur yang cukup lengkap, seperti
- Lampu penerangan jalan
Yang terdapat pada sepanjang jalan raya.
- Jaringan telefon
Pada sekitar kawasan site yang berlokasi di dusun Jati sumber, desa wates
umpak Kec. Trowulan telah terdapat beberapa tiang jaringan telepon.
- Jaringan listrik
Pada lokasi sekitar site telah terdapat tiang-tiang listrik.
- Saluran air bersih
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih pada kawasan proyek, saat ini telah
menggunakan pompa air sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan air
bersih.
- Saluran air kotor
Pada pinggir jalan terdapat saluran air kotor yang berupa selokan.

3.3.5 Peraturan Bangunan Setempat


Peraturan yang berlaku pada lokasi proyek di Jalan raya Surabaya
Jombang yang mempengaruhi perencanaan adalah:
- Koefisien Dasar Bangunan (KDB) : 40 %
- Koefisien Lantai Bangunan (KLB) : 150 %
- Tinggi Bangunan : 2-3 lantai
- Garis Sempadan Bangunan (GSB) : 10 meter

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 42


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
BAB IV
ANALISA PERANCANGAN

4.1 Analisa Site


4.1.1 Analisa Aksesibilitas
Menguraikan tentang proses pencapaian yang menentukan letak pintu
masuk akibat analisa pencapaian tersebut. Proses pencapaian juga ditentukan oleh
beberapa faktor seperti tingkat kepadatan lalu lintas, kondisi eksisting awal site,
kondisi alam site, luas lahan, lebar-tidaknya badan jalan di sekeliling site, arah
transportasi, dan lain-lain. Hal ini menyebabkan penentuan Main Entrance (ME)
dan Side Entrance (SE) tidak sama di setiap letak site yang berbeda.
Apabila disesuaikan dengan site yang berada di jalan jalur luar kota yaitu
jalan Majapahit, maka sebaiknya ME diletakkan pada koridor jalan utama yang
terdapat di jalan utama jalur luar kota ini. Sedangkan SE diletakan pada posisi
yang sejajar dengan letak ME. Hal ini dikarenakan jalan ini adalah jalan utama
untuk menuju lokasi obyek rancang. Penentuan ME dan SE pada tempat yang
sama juga dapat memudahkan proses pengamanan bangunan. Hal ini dapat dilihat
pada gambar di bawah ini

Jombang
U
ME
/SE

Surabaya
Gambar 4.1 Analisa Aksesibilitas

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 43


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
4.1.2 Analisa Iklim

Area yang
sebaiknya ditanami U
pepohonan

Gambar 4.2. Analisa Orientasi matahari

Posisi pada lokasi ini menghadap ke timur sehingga untuk tampilan


bangunan harus diolah secara khusus untuk mengatasi kondisi cuaca. Hal ini
dikarenakan posisi paling panas yang mempengaruhi bangunan adalah pada
bagian depan jadi pada tampilan bangunan dapat diberi secondary fasade yang
berfungsi sebagai penghalang terkena langsungnya matahari pada bangunan,
namun untuk mengurangi dampak terkena sinar matahari berlebih sebaiknya disisi
timur ditanami pepohonan sebagai penghalang.
Untuk arah mata angin berhembus dari arah timur ke barat (laut ke darat),
sehingga mayoritas site terpilih ini terkena hembusan angin lokal (selama ada
ruang terbuka hijau).
Sedangkan untuk pembuangan air kotor dapat dialirkan keselokan yang
ada disepanjang jalan raya Majapahit.

4.1.3 Analisa Lingkungan Sekitar


Analisis ini menjelaskan tentang potensi lingkungan sekitar terhadap site
terpilih. Potensi lingkungan sekitar site yang dapat menjadi petimbangan view
bangunan ialah lingkungan sekitar yang masih tergolong minim bangunan
permanen. Dan view yang terbaik terdapat didepan site yg berupa kondisi jalan

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 44


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
raya yang tidak terlalu padat. Dikarenakan mayoritas view sekitar site kurang
mendukung (negatif), maka diarahkan untuk menciptakan view ke dalam site.
View tersebut dapat berupa taman kecil ataupun ruang bersantai terbuka, selain
nantinya akan ada ruang pamer outdoor di dalam site. Adapun kondisi lingkungan
sekitar site beserta analisanya dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Rumah penduduk
t = 4m.

Lahan kosong
U ditumbuhi ilalang
cukup tinggi+rimbun

Ket : : Bising Tinggi


: Bising Rendah

Gambar 4.3. View sekitar

4.1.4 Analisa zoning


Zoning lahan sangat berperan penting dalam penentuan fungsi peruntukan
bangunan. Hal ini dikarenakan RTRW kota merupakan pedoman dalam penentuan
fungsi bangunan ke depannya agar bangunan yang dirancang tidak salah sasaran
dan dapat berguna dengan efisien di kehidupan masyarakat.
Dalam menganalisa zoning, dibutuhkan analisa ME dan lingkungan sekitar.
Dimana dibutuhkan penyesuaian lingkungan masyarakat sekitar terhadap
perancangan ini, sehingga dapat menghasilkan lingkungan yang berkembang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 45


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Galeri

Parkir (publik)
ME/SE
Galeri (publik) Service

Private

Gambar 4.4. Zoning Bangunan

4.2 Analisa Ruang


4.2.1 Organisasi Ruang
Menjelaskan dan menggambarkan secara diagramatis struktur organisasi
ruang atau kelompok ruang secara runtut dan sistematis. Organisasi ruang
menggambarkan pola hubungan antar berbagai fasilitas secara garis besar
(makro).
Apabila dihubungkan dengan proyek bangunan ini, maka organisasi ruang
bangunan yang memiliki fungsi sebagai fasilitas umum dan bertatanan massa.
Untuk alur kegiatan dapat dilihat pada gambar skema dibawah.

Galeri Utama Galeri outdoor II Service

Galeri outdoor I Cafe Office

Workshop Taman
Taman

Lobi

Parkir pengelola Parkir pengunjung


dan pengunjung

ME / SE

Gambar 4.5. Alur organisasi ruang.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 46


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa ruang-ruang yang ditata dalam
perancangan Galeri Seni Pahat ini tertata dari fasilitas public sampai ke private.
Fungsi bangunan dalam proyek ini ialah bangunan public yang memiliki
peruntukan fungsi ruang yang berbeda.

4.2.2 Hubungan Ruang dan Sirkulasi


Menjelaskan dan menggambarkan secara diagramatis hubungan ruang
pada masing-masing kelompok ruang (mikro) dan mekanisme sirkulasi yang
terjadi akibat hubungan ruang yang telah dibuat secara runtut dan sistematis.
Selebihnya dapat dilihat pada diagram dibawah ini

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 47


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 4.6. Diagram Hubungan antar ruang.
Keterangan :

: sering

: sedang

: jarang

Ruang jual 1 Ruang jual 3 Service

Ruang jual 2 Cafe Office

Workshop Taman Taman

Lobi

Parkir pengelola Parkir pengunjung


dan pengunjung

ME / SE

Ket : : Pengelola
: Pengunjung
: Pemahat

Gambar 4.7. Sirkulasi ruang

4.2.3 Diagram Abstrak


Menjelaskan dan menggambarkan secara diagramatis hubungan masing-
masing block massa bangunan dengan menambahkan secara sistematisdan

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 48


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
runtut sistim sirkulasi yang terjadi. Baik hubungan diagram secara horisontal
(dalam satu lantai) maupun hubungan diagram secara vertikal (antar lantai).
Sesuai dengan fungsi bangunan yaitu fasilitas umum, maka sebagian besar
ruang yang ada pada Galeri Seni Pahat ini adalah ruang public yaitu ME,
workshop, display, cafe dan lain-lain. Untuk ruang semi public ialah lobby,
sedangkan untuk private area yaitu kantor pengelola dan service area ialah parkir,
toilet, musolla, gudang dan lain-lain. Adapun diagram abstrak yg dimaksud ialah
seperti di bawah ini
Galeri

Galeri caffe

Workshop Lobby

ME/SE

Gambar 4.8. Diagram abstrak

4.3 Analisa Bentuk dan Tampilan


4.3.1 Analisa Bentuk Massa Bangunan
Untuk bentuk massa bangunan pada Galeri Seni Pahat ini didominasi
dengan bentuk-bentuk geometri bujur sangkar seperti pendopo umumnya. Dimana
bentuk-bentuk tersebut banyak digunakan pada jaman Majapahit. Hal ini
dikarenakan untuk mendukung obyek rancang yang sebagian besar menjual
patung-patung batu yang menyerupai bentuk arca-arca pada jaman Majapahit.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di gambar bawah ini

Gambar 4.9. Ide bentuk bangunan

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 49


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
4.3.2 Analisa Tampilan
Dalam analisa ini tampilan obyek rancang menggunakan tampilan
arsitektur jawa. Mengapa dipilih arsitektur jawa karena bangunan-bangunan
majapahit jaman dahulu identik dengan arsitektur jawa. Kehidupan orang jawa
mencakup 3 syarat sebagai ungkapan pengertian hidup yaitu mencukupi
kebutuhan sandang (pakaian yang wajar), Pangan ( minum dan makan ) dan
Papan ( tempat tinggal ).
Bentukan rumah yang sederhana adalah ungkapan kesederhanaan hidup
masyarakaat jawa. Hal itu dapat terlihat dari penggambaran bentuk denah yang
cukup sederhana. Biasanya bentuk denah yang diterapkan adalah berbentuk
persegi yaitu bujur sangkar dan persegi panjang. Hal tersebut sesuai dengan
estetika hidup orang jawa yang mempunyai ketegasan prinsip dalam menjalankan
tanggung jawab terhadap hidupnya. Untuk desain tampilan dapat dilihat pada
gambar di bawah ini

Gambar 4.10. Ide tampilan bangunan

Filosofi-filosofi bangunan jawa antara lain tiang-tiang pada tepi bangunan


selalu berjumlah genap, di ruang dalam terdapat empat tiang utama yang disebut
soko guru melambangkan empat hakikat kesempurnaan hidup dan juga ditafsirkan
sebagai hakikat dari sifat manusia.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 50


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
BAB V
KONSEP PERANCANGAN

Suatu bangunan yang bisa menampung Karya-karya seni pahat dari para
pemahat yang ada di Trowulan dan sekitarnya,dan pusat jujukan bagi masyarakat
yang ingin membeli karya-karya seni pahat.

5.1 Tema Rancangan


Tema yang akan diambil dalam perangcangan ini ialah Simbol Of
Majapahit yang memiliki arti suatu bangunan yang dapat memperlihatkan
beberapa simbol - simbol peninggalan kerajaan Majapahit dan simbol simbol
tersebut diaplikasikan pada beberapa bagian rancangan.

5.1.1. Pendekatan
Kenyataan yang ada saat ini pada daerah Trowulan belum ada galeri yang
representatif, hanya ada galeri yang mempunyai fungsi ganda selain sebagai
rumah tinggal juga sebagai galeri dengan ruang pamer yang berada di depan
rumah dan pinggir - pinggir jalan. Patung-patung yang ada di galeri kaki lima
banyak yang tidak tertata dan ruang pamer yang ada di luar kurang
memperhitungkan kenyamanan pengunjung dalam melihat dan memilih patung-
patung yang ada. Hal ini akan memunculkan masalah bagaimana merancang
sebuah galeri yang dapat menjadi pusat karya seni pahat yang ada di Trowulan
tanpa mengabaikan situs purbakala dan kenyamanan bagi pengunjung.
Site yang berada dijalan Majapahit Trowulan Mojokerto ini terletak pada
komplek perkampungan peghasil patung batu di sekitar site, pemilihan site ini
karena bebasnya lokasi ini dari situs purbakala juga karena site ini dekat dengan
situs situs peninggalan kerajaan majapahit yang mempunyai nilai historis tinggi.
Dengan adanya fakta-fakta tersebut maka perancangan proyek tugas akhir ini
berkaitan dengan kondisi nyata pada lokasi sehingga memunculkan beberapa
kesimpulan yaitu menghadirkan bangunan galeri dengan style arsitektur Majapahit
serta memperlihatkan beberapa simbol - simbol peninggalan kerajaan Majapahit

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 51


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
yang diaplikasikan pada beberapa bagian rancangan dan menyediakan ruang
edukasi tentang filosofi patung batu serta peninggalan pada zaman Majapahit.

5.1.2. Penentuan Tema Rancangan


Tema rancangan pada proyek tugas akhir ini adalah Simbol Of
Majapahit yang memiliki arti suatu bangunan yang dapat memperlihatkan
beberapa simbol - simbol peninggalan kerajaan Majapahit , simbol simbol
tersebut diaplikasikan pada beberapa bagian, seperti : simbol bunga teratai yang
memiliki makna kepercayaan pada budha diaplikasikan pada taman, simbol surya
Majapahit yang memiliki makna ukiran sembilan dewa penjaga mata angin
diaplikasikan pada pintu masuk galeri dan taman.
Penetapan tema rancangan ini dimaksudkan oleh Perancang untuk
menghadirkan bentuk simbol - simbol bangunan pada masa kerajaan Majapahit
yang akan dipadukan dengan bentukan - bentukan arsitektur setempat. Galeri seni
pahat yang ada di Trowulan ini akan menjadi bangunan yang harmonis dengan
lingkungan sekitar.
Landasan perancangan yang digunakan dalam merancang Galeri Seni
Pahat di trowulan Mojokerto adalah landasan perancangan simbolisme.
Menurut Egon Schirmbeck dalam buku Form, Idea and Architecture, prinsip
- prinsip perancangan simbolisme dalam arsitektur adalah sebagai berikut :
1. Kombinasi dari unit-unit denah yang sama atau serupa dalam pengaturan
yang beda.
2. Pengaturan tata guna yang berbeda dalam batas sebuah bangunan dan
perhubungan langsung dengan jalan.
3. Perlengkapan akan kebutuhan fungsional, struktural dan lainnya untuk
penggunaan khusus oleh elemen-elemen ikonografik, metaforik dan elemen-
elemen yang berhubungan.
4. Pembatasan terhadap elemen-elemen rancangan geometris yang jelas dan
lazim menonjolkan mutu sintetik dari arsitektur pada suatu kawasan lahan.
5. Alokasi dan orientasi dari elemen-elemen suatu ruang sesuai dengan kondisi-
kondisi sosial dan fisik yang ditentukan. merancang ruang sesuai dengan
fungsinya dan mengorientasikan bangunan sesuai dengan arah angin.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 52


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
6. Alokasi yang tegas dari zona-zona gelap dan terang atau elemen-elemen
ruang pada denah dan potongan. Pembedaan dan penentuan dari identitas
suatu ruang melalui penerangan (alami).
7. Penciptaan zona-zona ruang yang mengalir dan pengaturan yang bebas (dari
kolom dan dinding) pada elemen yang mengikat ruang.
8. Zona ruang dan daerah lantai adalah bebas dari kebutuhan formalnya sendiri
dan dari muka bangunan utama tempelan.
9. Urut-urutan artifak yang khas berbeda untuk menegaskan ruang. Urut-urutan
bentuk ruang atau perbatasan ruang yang khusus berbeda.
Landasan teori yang digunakan dalam merancang Galeri Seni Pahat di
trowulan Mojokerto adalah teori metafora.
Menurut Anthony C. Antoniades, 1990 dalam Poethic of Architecture
Suatu cara memahami suatu hal, seolah hal tersebut sebagai suatu hal yang
lain sehingga dapat mempelajari pemahaman yang lebih baik dari suatu topik
dalam pembahasan. Dengan kata lain menerangkan suatu subyek dengan subyek
lain, mencoba untuk melihat suatu subyek sebagai suatu yang lain.
Ada tiga kategori dari metafora yaitu
1. Intangible Metaphor (metafora yang tidak diraba)
yang termasuk dalam kategori ini misalnya suatu konsep, sebuah ide, kondisi
manusia atau kualitas-kualitas khusus (individual, naturalistis, komunitas, tradisi
dan budaya)
2. Tangible Metaphors (metafora yang dapat diraba)
Dapat dirasakan dari suatu karakter visual atau material.
3. Combined Metaphors (penggabungan antara keduanya)
Dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur
awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas
dan dasar.Dimana secara konsep dan visual saling mengisi sebagai unsur-unsur
awal dan visualisasi sebagai pernyataan untuk mendapatkan kebaikan kualitas dan
dasar.
Konsep yang di pakai pada Galeri seni pahat ini adalah Tangible
Metaphors (metafora yang dapat diraba). Memperlihatkan beberapa simbol -

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 53


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
simbol peninggalan kerajaan Majapahit dan mengambil bentuk pola keraton
Majapahit yang akan ditampilkan pola tatanan massa pada galeri. Dengan
menggunakan material-material kayu, batu, dan juga batu bata merah dimana
material ini sering digunakan pada era Majapahit.

5.2 Konsep Rancangan


5.2.1 Konsep Tatanan Massa Bangunan
Konsep tatanan massa bangunan dipengaruhi oleh tiga arsitektur yang
mempengaruhi bangunan-bangunan pada masa Majapahit yaitu Arsitektur Jawa
Kuno, Arsitektur Majapahit Lama, dan Arsitektur Majapahit Akhir. Sehingga
mengisyaratkan wujud bangunan keraton Majapahit.

5.2.2 Konsep Tampilan


Konsep tampilan pada perancangan ini ialah mencirikan Arsitektur
Majapahit yang dapat merespon tentang obyek yang diwadahi yang berupa patung
batu, karena tidak akan ada patung kalau tidak ada candi dan tidak ada candi kalau
tidak ada kerajaan. Dalam hal ini kerajaan yang berpengaruh ialah kerajaan
Majapahit. Gapuro sebagai penanda pada pintu masuk.

Gambar 5.1
:Tampilan Arsitektur Kerajaan Majapahit

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 54


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Bentuk atap galeri nantinya akan menganut bentuk atap yang digunakan
pada Kerajaan Majapahit yang menggunakan atap joglo. Gapura sebagai penanda
pintu masuk kearea Galeri.

5.2.3 Konsep Ruang Luar


Penyelesaian ruang luar yang dilakukan antara lain dengan penggunaan
vegetasi (tanaman) baik seperti pohon-pohon besar dan perdu maupun vegetasi
tambahan yang diletakkan disekeliling site, penggunaan unsur air seperti kolam
pada beberapa bagian site, serta permainan ketinggian level.
Pola penataan taman pada depan galeri menggunakan bentukan bunga
teratai yang merupakan simbol dari kerajaan Majapahit. Selain itu menghadirkan
simbol surya Majapahit yang memiliki makna ukiran sembilan dewa penjaga mata
angin juga diaplikasikan pada taman.
Area taman selain berfungsi sebagai unsur pendukung juga difungsikan
sebagai area memamerkan patung-patung berukuran besar yang dijual.
Berikut ialah gambar penataan massa pada kerajaan Majapahit yang
menjadi acuan untuk perancangan Galeri Seni Pahat nantinya. Jadi pada Galeri
nantinya untuk penataan massa akan menganut fungsi pada penataan massa
kerajaan Majapahit antara lain : Lapangan bubat, komplek persembahyangan,
balai berkumpul, komplek kerajaan, dan komplek hamba Raja.

Gambar 5.2. Pola Tatanan Massa pada Kerajaan Majapahit

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 55


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
5.2.4 Konsep Struktur dan Material
Struktur menggunakan struktur atap joglo.Karena galeri seni pahat ini
menggunakan konsep Arsitektur Majapahit yang didominasi bangunan adat jawa.
Material yang digunakan pada bangunan ialah batu bata merah pada dinding, batu
candi pada umpak, atap menggunakan genting tanah liat, batu candi pada taman ,
kolom menggunakan kayu.

Gambar 5.3. Struktur atap

5.2.5 Konsep Utilitas


5.2.5.1 Konsep Penyediaan Air Bersih
Sistem penyediaan air bersih untuk keperluan servis secara primer ialah dengan
sumur dan secara sekunder dapat dibantu dengan air kota (PDAM).

5.2.5.2 Konsep Pembuangan Air Hujan


Air hujan akan dialirkan menuju selokan yang ada di pinggir-pinggir site
kemudian dialirkan kebagian depan site pada saluran air kota.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 56


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
5.2.6 Konsep Mekanikel Elektrikel
5.2.6.1 Konsep Penghawaan
Penghawaan menggunakan penghawaan alami dengan metode cross ventilation.
Sehingga dapat menghemat biaya operasional bangunan.
Bukaan sebagai media visual ke ruang luar memiliki peran penting untuk
memasukkan suasana ruang luar ke ruang dalam. Sama halnya dengan memajang
gambar lansekap, kondisi ini juga memperbesar luas virtual ruang. Namun
kelebihan dari bukaan adalah mendapatkan suasana yang nyata ruang luar.
Bukaan juga berfungsi sebagai media sirkulasi udara segar dan masuknya cahaya
alami matahari ke dalam ruang. Dengan memaksimalkan luas bukaan, tentu akan
mendapatkan banyak keuntungan, seperti pandangan makin luas, udara segar dan
cahaya alami lebih maksimal masuk ke dalam ruang dalam.

5.2.6.2 Konsep Pencahayaan


Galeri untuk patung kecil menggunakan cahaya buatan (lampu sorot yang
mengarah pada obyek yang di pamerkan). Sedangkan pada galeri patung besar
lebih mengoptimalkan pencahayaan alami karena ruang cenderung semi outdoor
,bahkan outdoor.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 57


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
BAB VI
APLIKASI RANCANGAN

6.1 Aplikasi Rancangan


Pada perancangan Galeri Seni Pahat diTrowulan Mojokerto ini diharapkan
dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Mojokerto pada khususnya dan luar
Mojokerto pada umumnya. Perancangan dibuat sesuai dengan tema Simbol Of
Majapahit.
Aplikasi rancangan ini menggunakan persyaratan persyaratan yang ada
pada bab sebelumnya untuk kemudian diterapkan pada penyelesaian gambar
rancangan tugas akhir yang akan diuji dengan kaidah kaidah dan azas azas
perancangan sehingga dapat diperoleh hasil desain rancangan yang paling
optimal.

6.1.1 Aplikasi Entrence


Pada bangunan Galeri seni pahat ini entrance diletakkan di tengah site
karena akses yang mudah dijangkau oleh semua kendaraan. Pada rancangan ini
hanya memiliki satu pintu masuk dan pintu keluar, hal tersebut bertujuan agar
memudahkan penjagaan. Selain itu diberikan gapura sebagai penanda pintu masuk
ke area galeri.

Patung sebagai penanda


Entrence
berupa gapura

Entrence utama

Gambar 6. 1. Aplikasi Pencapaian Dalam Site.


Sumber : Gambar pribadi, 2012

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 58


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 6. 2. Gapura penanda pintu masuk.
Sumber : Gambar pribadi, 2012

6.1.2 Aplikasi Ruang Dalam


Pada Galeri Seni Pahat yang ada di Trowulan Mojokerto ini di dalam
perancangan terdapat bangunan - bangunan yang memiliki fungsi yang berbeda-
beda. Ruang-ruang pada bangunan ini antara lain yaitu :
- Bangunan Galeri

Gambar 6. 3. Denah Galeri.


Sumber : Gambar pribadi, 2012

Pada bangunan Galeri ini digunakan sebagai tempat penjualan


hasil-hasil karya seni pahat yang berupa patung batu. Ruang-ruang yang
ada antara lain ruang penjualan(display), ruang administrasi, ruang
pengelola, ruang packaging, km/wc sebagai tempat service dan lain
sebagainya.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 59


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 6. 4. Denah Galeri.
Sumber : Gambar pribadi, 2012

Interior galeri dibuat dengan unsur pendukung agar pungunjung


dapat mengetahui kondisi sebenarnya dengan tujuan pengunjung dapat
tertarik untuk membelinya.
- Bangunan workshop

Gambar 6. 5. Denah Galeri.


Sumber : Gambar pribadi, 2012

Pada bangunan Workshop ini digunakan sebagai tempat


pembuatan patung, dimana pada tempat ini pengunjung dapat melihat
proses pembuatan patung batu mulai dari pemotongan bahan, sketsa awal,
pemahatan sampai penghalusan atau finising.

- Bangunan pengelola
Pada bangunan Pengelola ini digunakan sebagai kantor pengelola. Dimana

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 60


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
pada kantor tersebut terdapat ruang-ruang antara lain ruang rapat, direksi, ruang
makan, pantry, toilet dll.

6.2 Aplikasi Ruang luar


Ruang luar yang ada di fungsikan sebagai lahan parkir, gasebo, taman, yang
menyebar pada site, dimana Taman tersebut difungsikan sebagai tempat jual
outdoor untuk patung-patung yang berukuran besar. Untuk gasebo fungsikan
sebagai cafe-cafe dengan pemandangan yang berupa galeri outdoor.

Galeri outdoor

Gambar 6. 6. Denah Galeri.


Sumber : Gambar pribadi, 2012

Lahan parkir antara mobil dan motor diletakkan terpisah, parkir


kendaraan diletakkan di area depan karena dimaksudkan untuk sterilisasi
kendaraan pengunjung. Kecuali untuk kendaraan barang yang menuju ke loading
dock yang berada pada bagian dalam.

Gambar 6. 7. Sikuen Galeri outdoor.


Sumber : Gambar pribadi, 2012

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 61


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Dari gambar diatas pengunjung dapat melihat-lihat patung dengan menikmati
suasana taman yang ada pada galeri.

6.3 Aplikasi Ruang Dalam


6.3.1 Aplikasi Sirkulasi Dalam Site
Konsep dalam site menggunakan konsep sirkulasi grid yaitu pengunjung
setelah melewat main entrance diarahakan secara langsung ke gedung-gedung
utama .
- Sirkulasi pengunjung.

Parkir Main Entrence workshop

Galeri Galeri

cafe Gasebo

Bagan 6. 1. Sirkulasi Pengunjung

Taman Taman
- Sirkulasi pengelola

Parkir Kantor pengelola Gudang


penyimpanan

Ruang Workshop Gallery

Bagan 6. 2. Sirkulasi Pengelola


Cafe

6.3.2 Aplikasi Struktur Bangunan


Struktur:
- Struktur bangunan menggunakan struktur rangka batang.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 62


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
Gambar 6. 8. Aplikasi struktur
Sumber : Gambar pribadi, 2012

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 63


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Dessy. 2005 Kamus Besar Indonesia : Surabaya


Panero, Julius.dkk . 2003, Dimensi Manusia & Ruang Interior, Erlangga :
Jakarta.
Griya Asri. 2008, Hunian Khas Jawa : Jakarta
White, Edward. T . Site Analysis, Tucson Arizona
Griya Asri, 2008, hunian khas kudus, jakarta
Elviana, Eva (2011), Panduan Penulisan Proposal Tugas Akhir Program
Studi Arsitektur, UPN Veteran Jatim: Surabaya.
Ernst, Neufert (1995), Data Arsitek Edisi Edisi Kedua Jilid 1, Erlangga:
Jakarta.
Ernst, Neufert (1992), Data Arsitek Edisi Kedua Jilid 2, Erlangga: Jakarta.
Neufert, Ernst., 2002, Data Arsitek Jilid 2 Edisi 33, Erlangga : Jakarta.
Zelnik, Martin, et all. (2003), Dimensi Manusia dan Ruang Interior,
Erlangga, Jakarta
Bappeda Kabupaten Mojokerto (2007), RTRW Kabupaten Mojokerto.
www.wikipedia.com
http://www.mojokertoan.com/budaya/seni-patung-di-indonesia-kurang-
diperhatikan/
http://www.mojokertoan.com/budaya/pahat-patung-batu-historis-dari-
majapahit/
http://fariable.blogspot.com/2011/07/selasar-sunaryo-art-space.html
http://blog.re.or.id/sejarah-kejayaan-kerajaan-majapahit.htm
http://nusol.gameseru.co.id/index.php/panduan/ensklopedi/arsitektur-
kerajaan-majapahit.html

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 64


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
LAMPIRAN I

Tentang data jumlah pemahat yang ada di daerah trowulan mojokerto

Tahun Jumlah Kenaikan / penurunan Kenaikan


2008 67 orang
2009 48 orang -19
2010 72 orang 24 5 orang
2011 77 org (prediksi) 5 10 orang
2012 82 org (prediksi) 5 15 orang
2013 87 org (prediksi) 5 20 orang
2014 92 org (prediksi) 5 25 orang
2015 97 org (prediksi) 5 30 orang
2016 102 org (prediksi) 5 35 orang
2017 107 org (prediksi) 5 40 orang
2018 112 org (prediksi) 5 45 orang
2019 117 org (prediksi) 5 50 orang
2020 122 org (prediksi)

Sumber : data survey, 2011

Dari tabel diatas dapat dilihat kenaikan rata-rata jumlah pemahat per
tahunnya yaitu 5 orang pemahat dalam setiap tahun. Jadi Galeri ini dapat
menampung sampai 122 pemahat dengan asumsi perkiraan jumlah pemahat
sampai tahun 2020.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 65


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.
LAMPIRAN II

Tentang data jumlah pembeli patung batu yang ada di daerah trowulan mojokerto

Tahun Jumlah Kenaikan / penurunan kenaikan


2008 217 orang
2009 179 orang -38
2010 268 orang 89 51 orang
2011 319 org (prediksi) 51 102 orang
2012 370 org (prediksi) 51 153 orang
2013 421 org (prediksi) 51 204 orang
2014 472 org (prediksi) 51 255 orang
2015 523 org (prediksi) 51 306 orang
2016 574 org (prediksi) 51 357 orang
2017 625 org (prediksi) 51 408 orang
2018 676 org (prediksi) 51 459 orang
2019 727 org (prediksi) 51 510 orang
2020 778 org (prediksi)

Sumber : data survey, 2011

Dari tabel diatas dapat dilihat kenaikan rata-rata jumlah pengunjung per
tahunnya yaitu 51 orang dalam setiap tahun. Jadi Galeri ini dapat menampung
sampai 778 pengunjung dengan asumsi perkiraan jumlah pengunjung sampai
tahun 2020.

Hak Cipta milik UPN "Veteran" Jatim : 66


Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber.