Anda di halaman 1dari 22

14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Nilai Perusahaan


Menurut Sujoko dan Soebiantoro (2007), nilai perusahaan adalah persepsi

investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan dalam mengelola sumber

daya yang tercermin pada harga saham. Sedangkan menurut Husnan (2000)

mengatakan nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh

calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual.

Keown (2004) mengatakan nilai perusahaan merupakan nilai pasar

atas surat berharga utang dan ekuitas perusahaan yang beredar. Nilai

perusahaan didefinisikan sebagai nilai pasar karena nilai perusahaan dapat

memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga

saham perusahaan meningkat Hasnawati (dalam Wijaya dan Wibawa, 2010).

Nilai perusahaan dapat dilihat dari harga sahamnya Fama (dalam Wijaya dan

Wibawa, 2010).

Nilai perusahaan dalam penelitian ini didefinisikan sebagai nilai pasar,

seperti halnya penelitian yang pernah dilakukan oleh Nurlela dan Islahuddin

(2008), karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham

secara maksimum apabila harga saham perusahaan meningkat. Semakin

tinggi harga saham, maka makin tinggi kemakmuran pemegang saham.

Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu perusahaan,

karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga memaksimalkan

kemakmuran pemegang saham yang merupakan tujuan utama perusahaan.


15

Husnan (2000) mengatakan nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia

dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Sedangkan Keown

(2004) mengatakan nilai perusahaan merupakan nilai pasar atas surat

berharga utang dan ekuitas perusahaan yang beredar. Nilai perusahaan

merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan yang sering

dikaitkan dengan harga saham.

Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan,

sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham yang

juga tinggi. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan mengharapkan manajer

keuangan akan melakukan tindakan terbaik bagi perusahaan dengan

memaksimalkan nilai perusahaan sehingga kemakmuran pemilik/pemegang

saham dapat tercapai.

Teori sinyal menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai dorongan

untuk memberikan informasi laporan keuangan pada pihak eksternal. Dorongan

perusahaan untuk memberikan informasi karena terdapat asimetri informasi

antara perusahaan dan pihak luar karena perusahaan mengetahui lebih banyak

mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar

(investor dan kreditor). Kurangnya informasi bagi pihak luar mengenai

perusahaan menyebabkan mereka melindungi diri mereka dengan memberikan

harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan dapat meningkatkan nilai

perusahaan dengan mengurangi informasi asimetri. Salah satu cara untuk

mengurangi informasi asimetri adalah dengan memberikan sinyal pada

pihak luar, salah satunya berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya
16

dan akan mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan yang

akan datang (Wolk et al, 2000 dalam Prapaska 2012).

Dalam penilaian perusahaan terkandung unsur proyeksi, asuransi,

perkiraan, dan judgment. Ada beberapa konsep dasar penilaian yaitu : nilai

ditentukan untuk suatu waktu atau periode tertentu; nilai harus ditentukan

pada harga yang wajar; penilaian tidak dipengaruhi oleh kelompok pembeli

tertentu. Secara umum banyak metode dan teknik yang telah dikembangkan

dalam penilaian perusahaan, di antaranya adalah : a) pendekatan laba antara lain

metode rasio tingkat laba atau price earning ratio, metode kapitalisasi proyeksi

laba; b) pendekatan arus kas antara lain metode diskonto arus kas; c) pendekatan

dividen antara lain metode pertumbuhan dividen; d) pendekatan aktiva antara lain

metode penilaian aktiva; e) pendekatan harga saham; f) pendekatan economic

value added (Suharli, 2006).

Menurut Jogianto (2008:117) beberapa nilai yang berhubungan dengan

saham yaitu nilai buku (book value), nilai pasar (market value) dan nilai

intristik.

Nilai buku adalah nilai saham menurut pembukuan perusahaan emiten

Nilai buku per lembar saham adalah aktiva bersih yang dimiliki oleh

pemegang saham

Nilai pasar adalah harga saham yang terjadi dipasar bursa pada saaat

yang ditentukan oleh pelaku pasar

Nilai intristik (nilai wajar) adalah nilai sekarang dari arus dana yang

diharapkan di masa yang akan datang


17

Dengan mengetahui nilai buku dan nilai pasar, pertumbuhan perusahaan

dapat diketahui. Dan nilai pasar dan nilai intristik dapat digunakan untuk

mengetahui saham-saham yang murah dan mahal.

Menurut Brigham dan Houston (2001) terdapat beberapa pendekatan

analisis rasio dalam penilaian market value, terdiri dari pendekatan price earning

ratio (PER), price to book value ratio (PBV), market book ratio (MBR), deviden

yield ratio, dan deviden payout ratio (DPR).

PER (Price Earning Ratio) yaitu rasio yang mengukur seberapa besar

perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh

para pemegang saham (Mohammad Usman, 2001 dalam Malla Bahagia, 2008).

Menurut Yusuf (2005) dalam Susanti (2010), terdapat faktor-faktor

yang mempengaruhi price earning ratio (PER) yang dijelaskan sebagai berikut :

a) Semakin tinggi pertumbuhan laba semakin tinggi price earning

ratio nya, dengan kata lain hubungan antara pertumbuhan laba dengan

price earning ratio nya bersifat positif. Ini dikarenakan bahwa

prospek perusahaan dimasa yang akan datang dilihat dari

pertumbuhan laba, dengan laba perusahaan yang tinggi menunjukkan

kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya yang dikeluarkan

secara efisien. Laba bersih yang tinggi menunjukkan earning per

share yang tinggi, yang berarti perusahaan mempunyai tingkat

profitabilitas yang baik, dengan tingkat profitabilitas yang tinggi dapat

meningkatkan kepercayaan pemodal untuk berinvestasi pada

perusahaan tersebut, sehingga saham-saham dari perusahaan yang


18

memiliki tingkat profitabilitas dan pertumbuhan laba yang tinggi akan

memiliki price earning ratio yang tinggi pula, karena saham-saham

akan lebih diminati di bursa sehingga kecenderungan harganya

meningkat lebih besar.

b) Semakin tinggi dividend payout ratio, semakin tinggi price

earning ratio nya. dividend payout ratio memiliki hubungan

positif dengan price earning ratio, di mana dividend payout ratio

menentukan besarnya dividen yang diterima oleh pemilik saham

dan besarnya dividen ini secara positif dapat mempengaruhi harga

saham terutama pada pasar modal didominasi yang mempunyai

strategi mengejar dividen sebagai target utama, maka semakin tinggi

dividen semakin tinggi price earning ratio.

c) Semakin tinggi required rate of return (r) semakin rendah price

earning ratio, (r) merupakan tingkat keuntungan yang dianggap layak

bagi investasi saham, atau disebut juga sebagai tingkat keuntungan

yang di isyaratkan. Jika keuntungan yang diperoleh dari investasi

tersebut ternyata lebih kecil dari tingkat keuntungan yang di

isyaratkan, berarti hal ini menunjukkan investasi tersebut kurang

menarik, sehingga dapat menyebabkan turunnya harga saham tersebut

dan sebaliknya. Dengan begitu (r) memiliki hubungan yang negatif

dengan price earning ratio, semakin tinggi tingkat keuntungan yang

di isyaratkan semakin rendah nilai price earning ratio nya.


19

Salah satu pendekatan dalam menentukan nilai intristik saham adalah

Price to Book Value (PBV) merupakan hubungan antara harga pasar saham

dengan nilai buku per lembar saham (Jones) dalam Wirawati (2008:99).

Menurut Ahmed dan Karan dalam Perdana Putra (2008:12) PBV punya peran

penting sebagai suatu pertimbangan bagi investor untuk memilih saham yang

akan dibeli dan PBV dapat dijadikan sebagai indikator harga atau nilai saham.

Namun PBV yang terlalu tinggi berisiko dan tidak menghasilkan return. PBV

sangat terkait dengan return saham, karena perubahan saham akan merubah

besarnya rasio PBV. Dengan demikian perubahan rasio PBV identik dengan

perubahaan harga return saham, oleh karena itu pengamatan investor terhadap

PBV sangat intens.

Nilai perusahaan dapat diukur dengan price to book value (PBV) yaitu

perbandingan antara harga saham dengan nilai buku per saham (Brigham dan

Houston, 2001) . Indikator lain yang terkait adalah nilai buku per saham atau book

value per share, yakni perbandingan antara modal dengan jumlah saham yang

beredar. Dalam hal ini, PBV dapat diartikan sebagai hasil perbandingan antara

harga pasar saham dengan nilai buku saham. PBV yang tinggi akan meningkatkan

kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan dan mengindikasikan

kemakmuran pemegang saham yang tinggi (Soliha dan Taswan, 2002).

Proksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah PBV. Penggunaan

proksi PBV ini mengacu pada penilitian terdahulu. Rasio harga saham terhadap

nilai buku perusahaan atau price to book value (PBV), menunjukkan tingkat

kemampuan perusahaan menciptakan nilai relatif terhadap jumlah modal yang


20

diinvestasikan. PBV yang tinggi mencerminkan harga saham yang tinggi

dibandingkan nilai buku perlembar saham. Semakin tinggi harga saham, semakin

berhasil perusahaan menciptakan nilai bagi pemegang saham.

PBV mempunyai beberapa keunggulan sebagai berikut :

1) Nilai buku mempunyai ukuran intutif yang relatif stabil yang dapat

diperbandingkan dengan harga pasar. Investor yang kurang percaya

dengan metode discounted cash flow dapat menggunakan price to

book value sebagai perbandingan

2) Nilai buku memberikan standar akuntansi yang konsisten untuk semua

perusahaan. PBV dapat diperbandingkan antara perusahaan-

perusahaan yang sama sebagai petunjuk adanya under atau

overvaluation

3) Perusahaan-perusahaan dengan earning negatif, yang tidak bisa

dinilai dengan menggunakan price earning ratio (PER) dapat

dievaluasi menggunakan price to book value ratio (PBV).

2.2. Kebijakan Deviden

Kebijakan deviden menyangkut keputusan untuk membagikan laba atau

menahannya guna diinvestasikan kembali di dalam perusahaan (Brigham dan

Weston 198:1998). Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba

perusahaan sebagai deviden, maka akan mengurangi laba yang ditahan dan

selanjutnya mengurangi total sumber dana intern atau internal financing.

Sebaliknya apabila laba yang diperoleh perusahaan digunakan sebagai laba

ditahan maka akan meningkatkan kemampuan laba di masa yang akan datang.
21

Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor dalam

berinvestasi dan juga merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung

resiko atas investasi yang dilakukan (Tandelilin, 2001). Salah satu return yang

dapat diperoleh investor adalah deviden, deviden merupakan hak pemegang

saham terhadap laba yang dihasilkan oleh perusahaan atas kegiatan bisnisnya.

. Dalam penentuan besar kecilnya deviden yang akan dibayarkan pada

perusahaan yang sudah merencanakan dengan menetapkan target dividend payout

ratio didasarkan atas perhitungan yang diperoleh setelah dikurangi pajak.

Menurut Rahardjo (2009:82) dividend payout ratio mengukur porsi penghasilan

yang dibayarkan dalam dividen. Investor yang mencari pertumbuhan dalam harga

pasar akan mengharapkan rasio ini kecil, sebaliknya investor yang mencari

deviden akan mengharapkan rasio yang besar.

Menurut Weston dan Brigham (199: 1998) menyebutkan dua teori dari

preferensi investor yaitu :

1. Dividend irrelevance theory adalah suatu teori yang menyatakan

bahwa kebijakan deviden tidak mempunyai pengaruh baik terhadap nilai

perusahaan maupun biaya modalnya. Teori ini mengikuti pendapat

Modigliani dan Miller (M-M) yang menyatakan bahwa nilai suatu

perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya Dividend Payout Ratio

(DPR) tetapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT) dan risiko

bisnis. Dengan demikian kebijakan deviden sebenarnya tidak relevan untuk

dipersoalkan.
22

2. Bird-in-the-hand theory, sependapat dengan Gordon dan Lintner

yang menyatakan bahwa biaya modal sendiri akan naik jika dividend payout

ratio (DPR) rendah. Hal ini dikarenakan investor lebih suka menerima

dividen daripada capital gains.

2.3. Profitabilitas
Menurut Helfert (2001:66) profitabilitas merupakan hubungan laba yang

diperoleh dengan investasi yang ditanamkan pemilik saham diamati secara teliti

oleh khalayak keuangan. Profitabilitas menurut Saidi (dalam Martalina, 2011)

adalah kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba. Para investor

menanamkan saham pada perusahaan adalah untuk mendapatkan return, yang

terdiri dari yield dan capital gain.

Menurut Rahadrjo (2009:140) Profitabilitas adalah kemampuan

perusahaan menghasilkan keuntungan dari penjualan barang/jasa yang

diproduksinya. Rasio profitabilitas menunjukan tingkat imbalan untuk perolehan

dibanding penjualan atau aktiva. Ukuran profitabilitas dapat berbagai macam

seperti: laba operasi, laba bersih, tingkat pengembalian investasi/aktiva, dan

tingkat pengembalian ekuitas pemilik.

Ang (1997) mengungkapkan bahwa rasio profitabilitas dan rasio

rentabilitas menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan

keuntungan, untuk menghasilkan laba dalam kegiatan operasinya merupakan

fokus utama dalam penilaian prestasi perusahaan. Laba perusahaan selain

merupakan indikator kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban bagi para

penyandang dananya, juga merupakan elemen dalam menciptakan nilai

perusahaan yang menunjukkan prospek perusahaan pada masa yang akan datang.
23

Efektivitas dinilai dengan menghubungkan laba bersih yang didefinisikan dengan

berbagai cara terhadap aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba. Rasio

profitabilitas menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan

keuntungan.

Menurut Kasmir (2008 : 199) jenis-jenis rasio profitabilitas yang

dapat digunakan adalah :

1. Profit Margin On Sale

Profit margin on sales atau ratio profit margin atau margin laba atas

penjualan merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur

margin laba atas penjualan. Cara pengukuran rasio ini adalah dengan

membandingkan laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih. Rasio

ini dikenal juga dengan nama profit margin.

2. Hasil Pengembalian Assets (Return on Assets)

Rasio ini adalah rasio keuntungan bersih setelah pajak terhadap

jumlah asset secara keseluruhan. Rasio ini merupakan suatu ukuran untuk

menilai seberapa besar tingkat pengembalian (%) dari asset yang dimiliki.

Apabila rasio ini tinggi berarti menujukkan adanya efisiensi yang

dilakukan oleh pihak manejemen.

3. Hasil Pengembalian Ekuitas (Return on Equity/ROE)

Hasil pengembalian ekuitas atau return on equity atau rentabilitas modal

sendiri merupakan rasio untuk mengukur lalu bersih sesudah pajak dengan

modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri.


24

Semakin tinggi rasio ini, semaki baik. Artinya posisi pemilik perusahaan

semakin kuat, demikian pula sebaliknya.

4. Laba Per Lembar Saham Biasa (Earning per Share of Common Stock)

Rasio laba per lembar saham atau disebut juga rasio nilai buku

merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam

mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang rendah berarti

manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham,

sebaliknya dengan rasio yang tinggi, kesejahteraan pemegang saham

meningkat. Keuntungan bagi pemegang saham adalah jumlah keuntungan

setelah dipotong pajak. Keuntungan yang tersedia bagi pemegang

saham biasa adalah jumlah keuntungan dikurangi pajak, dividen, dan

dikurangi hak-hak lain untuk pemegang saham prioritas.

2.4. Struktur Modal


Struktur modal merupakan salah satu keputusan keuangan yang kompleks

karena berhubungan dengan variabel keputusan keuangan lainnya. Untuk

mencapai tujuan perusahaan dalam memaksimalisasi kekayaan pemilik, manajer

keuangan harus dapat menilai struktur modal perusahaan dan memahami

hubungannya dengan risiko, hasil atau pengembalian dan nilai (Sundjaja dan

Barlian, 2001:283). Menurut Brigham dan Houston (2001:45) Struktur modal

yang optimal suatu perusahaan adalah kombinasi dari utang dan ekuitas yang

memaksimumkan harga saham perusahaan.

Kebijakan mengenai struktur modal melibatkan trade-off antara risiko dan

tingkat pengembalian-penambahan utang memperbesar risiko perusahaan tetapi

sekaligus juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Risiko yang


25

makin tinggi akibat membesarnya utang cenderung menurunkan harga saham,

tetapi meningkatnya tingkat pengembalian yang diharapkan akan menaikkan

harga saham tersebut. Struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang

mengomptimalkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga

memaksimumkan harga saham (Weston dan Brigham, 1998:150).

Trade off theory mengasumsikan bahwa struktur modal perusahaan

merupakan hasil trade off dari keuntungan pajak dengan menggunakan hutang

dengan biaya yang akan timbul sebagai akibat penggunaan hutang tersebut.

Poin penting trade off theory dalam struktur modal yaitu menyeimbangkan

manfaat dan pengorbanan yang timbul sebagai akibat penggunaan hutang. Sejauh

manfaat lebih besar, tambahan hutang masih diperkenankan. Apabila

pengorbanan karena penggunaan hutang sudah lebih besar, maka tambahan

hutang sudah tidak diperbolehkan. Trade off theory telah mempertimbangkan

berbagai faktor seperti corporate tax, biaya kebangkrutan, dan personal tax,

dalam menjelaskan mengapa suatu perusahaan memilih struktur modal tertentu

(Husnan, 2000).

Menurut trade-off theory yang diungkapkan oleh Myers (2001:81),

Perusahaan akan berhutang sampai pada tingkat utang tertentu, dimana

penghematan pajak (tax shields) dari tambahan hutang sama dengan biaya

kesulitan keuangan (financial distress). Biaya kesulitan keuangan (financial

distress) adalah biaya kebangkrutan (bankruptcy costs) atau reorganization, dan

biaya keagenan (agency costs) yang meningkat akibat dari turunnya kredibilitas

suatu perusahaan. Trade-off theory dalam menentukan struktur modal yang


26

optimal memasukkan beberapa faktor antara lain pajak, biaya keagenan (agency

costs) dan biaya kesulitan keuangan (financial distress) tetapi tetap

mempertahankan asumsi efisiensi pasar dan symmetric information sebagai

imbangan dan manfaat penggunaan utang. Sejauh manfaat lebih besar,

penambahan hutang masih diperkenankan. Apabila pengorbanan karena

penggunaan hutang sudah lebih besar, maka tambahan hutang sudah tidak

diperbolehkan.

2.5. Inflasi
Inflasi merupakan salah satu masalah ekonomi di banyak negara. Inflasi

menunjukan kenaikan dalam tingkat umum (Samelson dan Nordhaus, 2001:306).

Inflasi hanya akan terjadi jika harga umum barang naik secara terus menerus

selama suatu periode, meskipun mungkin kenaikan tersebut tidak secara

bersamaan.

Menurut Sukirno (2008:14), inflasi didefinisikan sebagai suatu proses

kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian. Tingkat inflasi

berbeda dari satu periode ke periode lain dan berbeda pula dari satu negara ke

negara lain. Ada kalanya tingkat inflasi adalah rendah yaitu mencapai dua atau

tiga persen. Tingkat inflasi yang moderat mencapai diantara empat sampai

sepuluh persen. Inflasi yang sangat serius dapat mencapai tingkat beberapa puluh

atau beberapa ratus persen dalam setahun.

Menurut Madura (2000) laju inflasi dan suku bunga dapat menimbulkan

dampak yang signifikan atas nilai tukar karena pada saat laju inflasi sebuah negara

relatif naik terhadap laju inflasi negara lain valutanya akan menurun karena

ekspor nya menurun. Hal ini mengakibatkan tingginya valuta asing yang akhirnya
27

investor akan lebih memilih menanamkan modalnya kedalam mata uang asing

dari pada menginvestasikan dalam bentuk saham yang berakibat turunnya harga

saham secara signifikan. Tingkat inflasi dapat berpengaruh positif maupun negatif

tergantung derajat inflasi itu sendiri. Inflasi yang berlebihan dapat merugikan

perekonomian secara keseluruhan yaitu dapat membuat perusahan menghadapi

resiko kebangkrutan. (Samsul, 2006:201) menyimpulkan bahwa inflasi yang

tinggi akan menjatuhkan harga saham di pasar. Sementara inflasi yang rendah

akan berakibat pertumbuhan ekonomi yang sangat lamban dan pada akhirnya

harga saham juga bergerak dengan lamban.

Menurut Samelson dan Nordbaus (2001) Indikator yang sering digunakan

untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK) . IHK

mengukur biaya sekelompok barang-barang dan jasa-jasa di pasar, termasuk

harga-harga makanan, pakaian, pemukiman, bahan bakar, transportasi, perawatan

kesehatan, pendidikan dan komiditi lain yang dibeli untuk menunjang kehidupan

sehari-hari. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga

dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

Menurut Rahardja dan Manurung (2008), penggolongan inflasi yaitu

sebagai berikut :

1. Penggolongan didasarkan atas parah tidaknya inflasi :

a) Inflasi ringan (0%-10%)

b) Inflasi sedang (10%-30%)

c) Inflasi berat (30%-100%)

d) Hiper Inflasi ( > 100% per tahun)


28

2. Penggolongan didasarkan pada sumber penyebabnya :

a. Inflasi tarikan permintaan (demand-pull inflation) atau

inflasi permintaan (demand inflation), yaitu inflasi yang timbul

karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat.

Karena permintaan masyarakat akan barang-barang bertambah,

akibatnya tingkat harga naik.

b. Inflasi dengan biaya (cost-push inflation) atau inflasi

penawaran (supply inflation), yaitu inflasi yang timbul karena

kenaikan ongkos produksi.

c. Inflasi campuran (mixed inflation) yaitu inflasi yang

unsur penyebabnya berupa campuran antara inflasi tarikan dan

dorongan biaya. Pada umumnya, inflasi yang terjadi di berbagai

negara di dunia adalah campuran dari kedua macam inflasi

tersebut, dan seringkali keduanya saling memperkuat satu sama

lain.

3. Penggolongan didasarkan asal inflasi, yang dibagi sebagai berikut :

a. Inflasi yang berasal dari dalam negeri (domestic inflation). Inflasi

ini timbul misalnya karena defisit anggaran belanja yang dibiayai

dengan pencetakan uang baru, panenan yang gagal dan

sebagainya.

b. Inflasi yang berasal dari luar negeri (imported inflation) yaitu

inflasi yang timbul karena kenaikan harga-harga (inflasi) di luar


29

negeri atau di negara-negara yang mempunyai hubungan dagang

dengan negara yang bersangkutan.

2.6. Penelitian Terdahulu

Ringkasan Penelitian Terdahulu

Peneliti Tahun Judul Variabel Hasil

Erlina 2015 Analisa Variabel Dependen : Keputusan


Pratamawati Pengaruh o Nilai Perusahaan investasi dan
Keputusan tingkat suku
bunga
Investasi, Variabel Independen :
bepengaruh
Keputusan o Keputusan terhadap nilai
Pendanaan, Investasi perusahaan
Kebijkan o Keputusan
Dividen dan Pendanaan
Tingkat Suku o Kebijakan Keputusan
Bunga dividen pendanaan &
kebijakan
Terhadap o Tingkat suku
dividen yang
Nilai bunga tidak
Perusahaan berpengaruh
terhadap nilai
perusahaan

Falah 2015 Detterminan Variabel Dependen : Kepemilikan


Bilayudha dan Nilai o Nilai publik
Kiswanto Perusahaan Perusahaan berpengaruh
Pada terhadap Nilai
Perusahaan Variabel Independen : perusahaan
Pertambangan o Kepemilikan
Yang Institusional Struktur
Terdaftar di o Struktur Modal,
BEI modal Kepemilikan
o Kepemilikan Institusional,
Publik Komite Audit
o Komite Audit dan CSR tidak
o CSR berpengaruh
terhadap Nilai
Perusahaan

Agustina 2014 Pengaruh Variabel Dependen : Profitabilitas,


Lastri Profitabilitas, o Nilai Perusahaan Growth
Panghulu Growth Opportunity
Opportunity Variabel Independen: dan Struktur
dan Struktur o Profitabilitas Modal
30

Modal o Growth berpengaruh


Terhadap Opportunity terhadap Nilai
Nilai o Struktur perusahaan
Perusahaan Modal

Margaretta 2014 Analisis Variabel Dependen : Keputusan


Aszhari Pengaruh o Nilai Perusahaan investasi dan
Keputusan keputusan
Investasi, Variabel Independen : pendanaan
Keputusan o Keputusan berpengaruh
Pendanaan, Investasi terhadap nilai
Kebijakan o Keputusan perusahaan
Dividen, Pendanaan
Tingkat Inflasi o Kebijakan Kebijakan
dan Tingkat Dividen dividen,
Suku Bunga o Tingkat Inflasi tingkat inflasi
SBI Terhadap o Tingkat Suku dan suku
Nilai bunga SBI bunga SBI
Perusahaan tidak
berpengaruh
terhadap nilai
perusahaan

Nani 2014 Pengaruh Variabel Dependen : Profitabilitas


Martikarini Profitabilitas, o Nilai Perusahaan & kebijakan
Kebijakan dividen
berpengaruh
Utang, dan Variabel Independen :
terhadap nilai
Dividen o Profitabilitas Perusahaan
Terhadap o Kebijakan
Nilai Utang Kebijakan
Perusahaan o Dividen utang tidak
berpengaruh
terhadap nilai
perusahaan

Mega Sukma 2013 Pengaruh Variabel dependen : Keputusan


Dwi Keputusan o Nilai perusahaan Investasi,
Kartikasari Investasi, Keputusan
Variabel Independen : Pendanaan,
Keputusan
o Keputusan Kebijakan
Pendanaan, Dividen dan
Investasi
Kebijakan Kinerja
o Keputusan
Dividen dan Pendanaan Keuangan
Kinerja o Kebijakan berpengaruh
Keuangan dividen terhadap nilai
Terhadap perusahaan
Nilai
Perusahaan
31

Dewi dan 2013 Pengaruh Variabel dependen : Profitabilitas


Wirajaya Profitabilitas, o Nilai Perusahaan dan Struktur
Struktur Modal
berpengaruh
Modal dan Variabel Independen :
terhadap Nilai
Ukuran o Profitabilitas Perusahaan
Perusahaan o Struktur
Terhadap Modal Ukuran
Nilai o Ukuran perusahaan
Perusahaan Perusahaan tidak
berpengaruh
terhadap nilai
perusahaan

M. Theresia 2013 Analisis Variabel Dependen : Kebijakan


Rosy T.W. Faktor Internal o Nilai Perusahaan utang,
dan Eksternal kebijakan
Variabel Independen : dividen,dan
Perusahaan
tingkat inflasi
terhadap Nilai o Profitabilitas
berpengaruh
Perusahaan o Kebijakan
terhadap nilai
dividen
perusahaan.
o Kebijakan
hutang
Profitabilitas
o Pertumbuhan
Pasar &pertumbuhan
o Tingkat inflasi pasar tidak
berpengaruh
terhadap nilai
perusahaan,

Lihan Rini 2010 Pengaruh Variabel Dependen : Keputusan


Puspo Wijaya Keputusan o Nilai Perusahaan investasi,
Dan Anas Investasi, keputusan
Variabel Independen : pendanaan,
Wibawa Keputusan
dan kebijakan
Pendanaan, o Keputusan
dividen
dan Kebijakan Investasi
berpengaruh
o Keputusan
Dividen terhadap nilai
Pendanaan
Terhadap perusahaan
o Keputusan
Nilai Dividen
Perusahaan
32

2.7. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis

Berdasarkan dari uraian yang telah dikemukakan sebelumnya dan telaah

pustaka maka variabel yang terkait dalam penelitian ini dapat dirumuskan melalui

suatu kerangka pemikiran sebagai berikut :

2.7.1. Pengaruh Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan

Teori Signaling Theory menekankan pada pembayaran dividen

merupakan sinyal bagi para investor bahwa perusahaan memiiki kesempatan

untuk tumbuh di masa yang akan datang, sehingga pembayaran dividen akan

meingkatkan apresiasi pasar terhadap saham perusahaan yang membagikan

dividen tersebut, dengan demikian pembayaran dividen berimpikasi positif

terhadap nilai perusahaan. Bird in The Hand Theory yang diajukan oleh Gordon

dan Lintner dalam Weston dan Brigham (1998:229) menyatakan bahwa Nilai

perusahaan akan dimaksimukan oleh rasio pembagian dividen yang tinggi, karena

investor menganggap bawha dividen aktual lebih kecil risikonya dibanding

dengan kenaikan nilai modal yang mungkin akan dicapai. Fama dan French

(1998) dalam Wijaya dan Wibawa (2010) menemukan bahwa investasi yang

dihasilkan dari kebijakan dividen memiliki informasi yang positif tentang

perusahaan di masa yang akan datang, selanjutnya berdampak positif terhadap

nilai perusahaan.

2.7.2. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan

Semakin baik pertumbuhan profitabilitas berarti prospek perusahaan

dimasa depan dinilai semakin baik juga, artinya semakin baik pula nilai

perusahaan dimata investor. Apabila kemampuan perusahaan untuk menghasilkan


33

laba meningkat, maka harga saham juga akan meningkat (Husnan, 2001:317).

Tingkat pengembalian investasi kepada pemegang saham tergantung pada

laba yang dihasilkan perusahaan. Martalina (2011) juga menyatakan bahwa

dengan tingginya tingkat laba yang dihasilkan, berarti prospek perusahaan

untuk menjalankan operasinya di masa depan juga tinggi sehingga nilai

perusahaan yang tercermin dari harga saham perusahaan akan meningkat pula.

Jensen (1986) dalam Arifin (2004) menyatakan kenaikan harga saham

adalah sebagai akibat dari kenaikan dari laba. Harga saham dipengaruhi atau

terjadi karena adanya aliran laba atau kas masa depan yang dinilai sekarang

(Faster, 1996 dalam Norpratiwi, 2001).

2.7.3. Pengaruh Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan

Pada tahun 1958, Modigliani dan Miller membuktikan bawah nilai suatu

perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur modalnya. Awal tahun 1963an,

Modigliani dan Miller memasukkan faktor pajak ke dalam analisis mereka

sehingga mendapat kesimpulan bahwa nilai perusahaan dengan hutang akan lebih

tinggi dibandingkan dengan nilai perusahan tanpa hutang. Kenaikan tersebut

dikarenakan adanya penghematan pajak (Brigham dan Houston, 2001:31).

Trade-off theory menjelaskan bahwa jika posisi struktur modal berada di

bawah titik optimal maka setiap penambahan hutang akan meningkatkan nilai

perusahaan. Oleh karena itu, dengan asumsi titik target struktur modal optimal

belum tercapai, maka berdasarkan trade-off theory memprediksi adanya hubungan

yang positif terhadap nilai perusahaan. (Brigham dan Houston, 2001:45).


34

2.7.4. Pengaruh Inflasi Terhadap Nilai Perusahaan

Menurut Madura (2000) laju inflasi dan suku bunga dapat menimbulkan

dampak yang signifikan atas nilai tukar karena pada saat laju inflasi sebuah negara

relatif naik terhadap laju inflasi negara lain valuta nya akan menurun karena

ekspor nya menurun. Hal ini mengakibatkan tingginya valuta asing yang akhirnya

investor akan lebih memilih menanamkan modalnya kedalam mata uang asing

dari pada menginvestasikan dalam bentuk saham yang berakibat turunnya harga

saham secara signifikan.

(Samsul, 2006:201) menyimpulkan bahwa inflasi yang tinggi akan

menjatuhkan harga saham di pasar. Sementara inflasi yang rendah akan berakibat

pertumbuhan ekonomi yang sangat lamban dan pada akhirnya harga saham juga

bergerak dengan lamban.

Inflasi yang tidak stabil atau tingginya inflasi dapat memberikan dampak

negatif bagi kondisi sosial ekonomi masyarakat yang menyebabkan turunnya

pendapatan perusahaan sehingga mengakibatkan turunnya kesejahteraan

pemegang saham. Apabila kesejahteraan pemegang saham tidak terjaga maka

pemegang saham akan menarik modal yang ditanamkannya diperusahaan dan

investor-investor lain tidak mau menanamkan modalnya sehingga akan

menurunkan nilai saham yang tercantum pada harga saham perusahaan.


35

2.8. Model Penelitian

Dari urian di atas dapat di gambarkan model penelitian seperti berikut ini:

Gambar 2.1

Model Penelitian

Variabel Independen: Variabel dependen:

(X1)
Kebijakan
Deviden

(X2) (Y1)
Profitabilitas Nilai
Perusahaan

(X3)
Struktur Modal

(X4)

Inflasi

2.9. Hipotesis
Adapun hippotesis dari penelitian ini adalah :

H1 : Kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai perusahaan

H2 : Profibilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaaan

H3 : Struktur modal berpengaruh terhadap nilai perusahaan

H4 : Inflasi berpengaruh terhadap nilai perusahaan