Anda di halaman 1dari 17

BAB II

1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak untuk kepentingan mereka
sendiri. Teori agensi pertama kali di diperkenalkan oleh Jensen dan Meckling (1976). Hubungan
keagenan timbul karena adanya kontrak antara pemegang saham (principal) dan menajemen
perusahaan (agent) yang merupakan pengelola perusahaan, dalam kontrak tersebut pemilik
memberikan wewenang kepada manajemen untuk menjalankan operasi perusahaan termasuk
dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi, tidak ada jaminan bahwa manajemen perusahaan
mengutamakan kepentingan pemilik perusahaan, (Brealey et al., 2008: 7).

Menurut Anthony dan Govindorajan (2005: 269), salah satu elemen kunci dari teori agensi
adalah prinsipal dan agen memiliki preferensi atau tujuan yang berbeda. Jensen dan Meckling
(1976: 5), menyatakan bahwa jika kedua kelompok (agent dan principal) tersebut adalah orang-
orang yang berupaya memaksimalkan utilitasnya, maka terdapat alasan yang kuat untuk agen
tidak akan selalu bertindak yang terbaik untuk kepentingan prinsipal.

Eisenhardt (1989: 58), menggunakan asumsi sifat dasar manusia untuk menjelaskan tentang
teori keagenan, yaitu:

a. Manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest) dimana, pada dasarnya
manusia tidak berkorban untuk orang lain.

b. Manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded
rationality)
.
c. Manusia selalu menghindari resiko (risk averse).

Jensen dan Meckling (1976: 6), mengidentifikasi biaya keagenan menjadi tiga kelompok,
yaitu:

a. The monitoring expenditures by principal adalah biaya pengawasan yang harus dikeluarkan
oleh pemilik.

b. The bonding expenditures by agent adalah biaya yang harus dikeluarkan akibat pemonitoran
yang harus dikeluarkan prinsipal (pemilik) kepada agen.
c. The residual loss adalah pengorbanan akibat berkurangnya kemakmuran principal karena
perbedaan keputusan antara principal dan agent.

Teori keagenan mengasumsikan agen menerima kepuasan tidak hanya dari kompensasi
keuangan tetapi juga dari tambahan yang telihat dalam hubungan suatu agensi, seperti waktu
luang yang banyak, kondisi kerja yang menarik dan jam kerja yang fleksibel. Sedangkan
prinsipal diasumsikan hanya tertarik pada pengembalian keuangan yang diperoleh dari investasi
mereka di perusahaan tersebut. Oleh karena itu, teori keagenan berkaitan dengan usaha-usaha
untuk memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan keagenan.

Teori keagenan mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer sebagai agen
dan pemegang saham sebagai prinsipal. Asimetri informasi merupakan suatu keadaan dimana
manajer memiliki akses informasi atas prospek perusahaan yang tidak dimiliki oleh pihak luar
perusahaan. Asimetri informasi muncul ketika manajer lebih mengetahui informasi internal dan
prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemegang saham dan stakeholder
lainnya.

Asimetri informasi antara agent dan principal dapat memicu manajer untuk melakukan
disfuctional behavior. Adanya kesenjangan informasi antara manajer dan pemilik perusahaan
maka manajemen mempunyai kesempatan untuk memaksimalkan kepentingan mereka yang
salah satunya dengan melakukan manajemen laba.

Defenisi Manajemen Laba


Dedi sulistiawan, Yeni Januarsi, dan Liza alvia (2011:65) mengatakan Earnings
management atau manajemen laba merupakan suatu fenomena baru yang telah menambah
wacana perkembangan teori akuntansi dan merupakan salah satu kajian yang menarik dalam
riset akuntansi. Istilah manajemen laba muncul sebagai konsekuensi langsung dari upaya-upaya
manajer atau pembuat laporan keuangan untuk melakukan manajemen informasi akuntansi,
khususnya laba(earnings), demi kepentingan pribadi dan/atau perusahaan. Manajemen laba itu
sendiri tidak dapat diartikan sebagai suatu upaya negatif yang merugikan karena tidak
selamanya manajemen laba berorientasi pada manipulasi laba.
Manajemen laba diduga muncul atau dilakukan oleh manajer atau para pembuat laporan
keuangan dalam proses pelaporan keuangan suatu organisasi karena mereka mengharapkan
suatu manfaat dari tindakan yang dilakukan. Manajemen laba menjadi menarik untuk diteliti
karena dapat memberikan gambaran akan perilaku manajer dalam melaporkan kegiatan
usahanya pada suatu periode tertentu, yaitu adanya kemungkinan munculnya motivasi tertentu
yang mendorong mereka untuk mengatur data keuangan yang dilaporkan. Perlu dicatat disini
bahwa manajemen laba tidak harus dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data atau
informasi akuntansi, tetapi lebih condong dikaitkan dengan pemilihan metode akuntansi
(accounting methods) untuk mengatur keuntungan yang bisa dilakukan.
Informasi laba sebagai bagian dari laporan keuangan sering menjadi terget rekayasa
melalui tindakan oportunis manajemen untuk memaksimumkan kepuasannya, tetapi dapat
merugikan pemegang saham atau investor. Tindakan oportunis tersebut dilakukan dengan cara
memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba perusahaan dapat diatur sesuai dengan
keinginannya, perilaku manajemen untuk mengatur laba sesuai dengan keinginannya tersebut
dikenal dengan istilah manajemen laba.
Praktek manajemen laba dapat dipandang dari dua perspektif yang berbeda, yaitu
sebagai tindakan yang salah (negatif) dan tindakan yang seharusnya dilakukan manajemen
(positif). Manajemen laba dikatakan (negatif) jika dilihat sebagai perilaku oportunistik manajer
untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang dan
political cost, sedangkan manajemen laba disebut (positif) jika dilihat dari pespektif efficient
earnings management dimana manajemen laba memberikan manajer suatu fleksibilitas untuk
melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak
terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Manajemen laba sebagai
suatu proses mengambil langkah yang disengaja dalam batas prinsip akuntansi yang berterima
umum baik di dalam maupun di luar batas General Accepted Accounting Principle (GAAP).
Sugiri (1998) dalam Ubadah et al. (2008) membagi definisi earnings management
atau manajemen laba menjadi dua, yaitu :
1. Definisi sempit
Manajemen laba dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi,
manajemen laba dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk bermain
dengan komponen discretionary accrual dalam menentukan besarnya earnings.

2. Definisi luas
Earnings management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (Mengurangi)
laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa
mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomi jangka panjang unit tersebut.
Scott (2000) membagi cara pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama,
melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam
menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang dan political costs (opportunistic Earnings
Manajement). Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting
(Efficient Earnings Management), dimana manajemen laba memberi manajer suatu fleksibilitas
untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak
terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak.

Prespektif efesiensi menyatakan bahwa manajer melakukan pilihan atas kebijakan


akuntansi untuk memberikan informasi yang lebih baik tentang cash flow yang akan dating dan
untuk meminimalkan agency cost yang terjadi karena konflik kepentingan antara stakeholder dan
manajer, Jiambolvo (1996) dalam Ubadah et al (2008).Tindakan manajemen laba dilakukan oleh
manajer ketika manajer memiliki akses terhadap informasi yang tidak dimiliki oleh pihak luar.
Manajemen laba campur tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk
menguntukan diri sendiri. Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapt mengurangi
kreditabilitas laporan keuangan, manajemen laba menambah bias dalam laporan keuangan dan
dapat menggangu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa
tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa, Setiawati dan Naim (2000) dalam Rahmawati et al.
(2006).

Menurut Healy dan Whlen (1999) dalam Ujiyantho (2007), manajemen laba terjadi
ketika manajer menggunakan pertimbangan (judgement) dalam pelaporan keuangan dan
penyusunan transaksi untuk merubah laporan keuangan, dengan tujuan untuk memanipulasi
besaran (magnitude) laba kepada beberapa stakeholders tentang kinerja ekonomi perusahaan atau
untuk mempengaruhi hasil perjanjian (kontrak) yang tergantung pada angka-angka akuntansi
yang dilaporkan.

Healy dan Wahlen (1999) dan Ujiyantho (2007) juga menyatakan bahwa definisi
manajemen laba mengandung beberapa aspek. Pertama intervensi manajemen laba terhadap
pelaporan keuangan dapat dilakukan dengan penggunaan judgement, misalnya judgement yang
dibutuhkan dalam mengestimasi sejumlah peristiwa ekonomi di masa depan untuk ditunjukan
dalam laporan keuangan, seperti perkiraan umur ekonomis dan residu aktiva tetap,
tanggungjawab untuk pensiun, pajak yang ditanggungkan, kerugian piutang dan penurunan nilai
asset. Disamping itu manajer memiliki pilihan untuk metode akuntansi, seperti metode
penyusutan dan metode biaya. Kedua, tujuan manajemen laba untuk menyesatkan stakeholders
mengenai kinerja ekonomi perusahaan.

Sasaran Manajemen Laba

Menurut Ayres (1994:27-29) terdapat unsur-usnsur laporan keuangan yang dapat

dijadikan sasaran untuk dilakukan manajemen laba yaitu:

1. Kebijakan Akuntansi.

Keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang wajib diterapkan

oleh suatu perusahaan, yaitu antara menerapkan akuntansi lebih awal dari waktu yang

ditetapkan atau menundanya sampai saat berlakunya kebijakan tersebut.

2. Pendapatan

Dengan mempercepat atau menunda pengakuan akan pendapatan.

3. Biaya

Menganggap sebagai ongkos (beban biaya) atau menganggap sebagai suatu tambahan

investasi atas suatu biaya (amortize or capitalize ofinvestment).

Alasan Dilakukan Manajemen Laba

Alasan dilakukan manajemen laba karena:

1. Manajemen laba dapat meningkatkan kepercayaan pemegang saham terhadap manajer.

Manajemen laba berhubungan erat dengan tingkat perolehan laba atau prestasi usaha

suatu organisasi, hal ini karena tingkat keuntungan atau laba dikaitkan dengan prestasi

manajemen dan juga besar kecilnya bonus yang akan diterima oleh manajer.

2. Manajemen laba dapat memperbaiki hubungan dengan pihak kreditor. Perusahaan yang

terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran hutang pada waktunya,
perusahaan berusaha menghindarinya dengan membuat kebijakan yang dapat meningkatkan

pendapatan maupun laba. Dengan demikian akan memberi posisi bargaining yang relatif baik

dalam negoisasi atau penjadwalan ulang hutang antara pihak kreditor dengan perusahaan.

3. Manajemen laba dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya.

Terjadinya Manajemen Laba

Menurut Ayres (1994:27-29) manajemen laba dapat dilakukan oleh manajer dengan cara

cara sebagai berikut:

1) Manajer dapat menentukan kapan waktu akan melakukan manajemen laba

melalui kebijakannya. Hal ini biasanya dikaitkan dengan segala aktivitas yang

dapat mempengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi

merupakan wewenang dari para manajer.

2) Keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang wajib

diterapkan oleh suatu perusahaan. Yaitu antara menerapkan lebih awal atau

menunda sampai saat berlakunya kebijakan tersebut.

3) Upaya manajer untuk mengganti atau merubah suatu metode akuntansi tertentu

dari sekian banyak metode yang dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh

badan akuntansi yang ada (GAAP).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Manajemen Laba

Keiso et al., (2007: 423), menyatakan bahwa kecurangan pelaporan keuangan biasanya
terjadi karena kondisi yang ada dalam lingkungan internal dan eksternal. Lingkungan internal
berkaitan dengan buruknya pengendalian internal, buruknya perilaku etis manajemen, dan
likuiditas atau profitabilitas perusahaan. Lingkungan eksternal berkaitan dengan kondisi
industri, lingkungan bisnis secara keseluruhan, atau karena pertimbangan hukum dan
peraturan.
Ada beberapa teori mengenai motivasi manajemen laba. Watts dan Zimmerman (1986)
dalam Belkaoui, (2006: 189), mengemukakan 3 faktor yang terkait dengan perilaku manajer
dalam pemilihan kebijakan akuntansi. Tiga faktor ini disebut dengan tiga hipotesis teori
akuntansi positif yaitu :

1) Bonus Plan Hypothesis (Hipotesis Rencana Bonus)


Hipotesis ini membicarakan tentang hubungan pemilihan metode akuntansi dengan

rencana bonus manajer. Manajer perusahaan dengan adanya rencana bonus kemungkinan

besar memilih metoda akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi.

Rencana bonus yang berdasarkan laba dapat memotivasi manajemen perusahaan untuk lebih

banyak menggunakan metoda akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan.

2) Debt Covenant Hypothesis (Hipotesis Ekuitas Utang)


Hipotesis ini menyatakan bahwa semakin tinggi utang/ekuitas perusahaan, yaitu sama

dengan semakin dekatnya (semakin ketat) perusahaan terhadap batasan-batasan yang terdapat

pada perjanjian utang dan semakin besar kesempatan atas pelanggaran perjanjian dan

terjadinya biaya kegagalan teknis, maka semakin besar kemungkinan para manajer

menggunkan metode-metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba.

3) Political Cost Hypothesis (Hipotesis Biaya Politis)

Semakin besar perusahaan semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut memilih

metoda akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang tinggi

pemerintah akan segera mengambil tindakan, misalnya mengenakan peraturan anti trust,

subsidi pemerintah, pajak dan tarif, persaingan dengan perusahaan asing, serta regulasi-

regulasi lain.

Scott (2000) mengemukakan beberapa motivasi terjadinya manajemen laba :


1) Bonus Purpose

Manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara

oportunistic untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini.

2) Political Motivations

Manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan perusahaan publik.

Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang

mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang lebih ketat.

3) Taxation Motivations

Motivasi penghematan pahaj menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata. Berbagai

metode akuntansi digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan.

4) Pergantian CEO

CEO yang mendekati masa pension akan cenderung menaikkan pendapatan untuk

meningkatan bonus mereka. Dan jika kinerja perusahaan buruk, mereka akan memaksimalkan

pendapatan agar tidak diberhentikan.

5) Initital Public Offering (IPO)

Perusahaan yang akan go public belum memiliki nilai pasar,dan menyebabkan manajer

perusahaan yang akan go public melakukan manajemen laba dalam prospectus mereka dengan

harapan dapat menaikkan harga saham perusahaan.

6) Pentingnya Memberi Informasi Kepada Investor

Informasi mengenai kinerja perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga

pelaporan laba perlu disajikan agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut dalam

kinerja yang baik.


Dalam ubadah et al. (2008) dua motivasi utama para manajer melakukan manajemen

laba, yaitu tujuan oportunis dan informasi (signaling) kepada investor. Tujuan oportunis mungkin

dapat merugikan pemakaian laporan keuangan karena informasi yang disampaikan manajemen

menjadi tidak akurat dan juga tidak menggambarkan nilai fundamental perusahaan. Sikap

oportunis ini nilai sebagai sikap curang manajemen perusahaan yang diimpikasikan dalam

laporan keuangannya pada saat menghadapi intertemporal choice (yakni suatu kondisi yang

memaksa eksekutif tersebut menggunakan keputusan tertentu dalam melaporkan kinerja yang

menguntungkan dirinya sendiri dalam menghadapi situasi tertentu).

Tujuan informatif (signaling) kemungkinan besar membawa dampak yang baik bagi

pemakai laporan keuangan. Manajer berusaha menginformasikan kesempatan yang dapat diraih

oleh perusahaan di masa yang akan dating. Sebagai contoh, karena manajer sangat erat kaitannya

dengan keputusan yang berhubungan dengan aktivitas investasi maupun operasi perusahaan,

otomatis para manajer memiliki informasi yang lebih baik prospek perusahaan masa dating.

Teknik Manajemen Laba

Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk melakukan manajemen laba pada laporan

keuangan Scott (2000) dalam gumanti (2000), yaitu:

1. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi

Cara ini merupakan cara manajer untuk mempengaruhi laba melalui judgement terhadap

estimasi akuntansi antara lain: estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu

depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi, dan lain-lain.

2. Mengubah metode akuntansi

Perubahan metoda akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh:

mengubah metoda depresiasi aktiva tetap, dari metoda depresiasi angka tahun ke metoda
depresiasi garis lurus.

3. Menggeser perioda biaya atau pendapatan

Beberapa orang menyebutkan rekayasa jenis ini sebagai manipulasi keputusan

operasional (Fischer dan Rozenzweig, 1995; Bruns dan Merchant, 1990). Contoh: rekayasa

perioda biaya atau pendapatan antara lain: mempercepat atau menunda pengeluaran untuk

penelitian sampai perioda akuntansi berikutnya (Daley dan Vigeland, 1993), mempercepat atau

menunda pengeluaran promosi sampai perioda akuntansi berikutnya, mengatur saat penjualan

aktiva tetap yang sudah tidak dipakai, dan lain-lain.

Pola Manajemen Laba

Pola manajemen laba menurut Scott (2000) dapat dilakukan dengan cara :

1) Taking a Bath

dalam bentuk ini jika manajemen harus melaporkan kerugian, maka manajemen

akan melaporkan dalam jumlah besar. Dengan tindakan ini manajemen berharap

dapat meningkatkan laba yang akan datang dan kesalahan kerugian piutang

perusahaan dapat dilimpahkan ke manajemen lama, jika terjadi pergantian

manajer.

2) Income Minimization (menurunkan laba), dalam bentuk ini manajer akan

menurunkan laba untuk tujuan tertentu, misalnya: untuk tujuan penghematan

kewajiban pajak yang harus dibayar perusahaan kepada pemerintah. Karena

semakin rendah laba yang dilaporkan perusahaan semakin rendah pula pajak yang

harus dibayarkan.

3) Income Maximization (meningkatkan laba)

dalam bentuk ini manajer akan berusaha menaikkan laba untuk tujuan tertentu,
misalnya: menjelang IPO manajer akan meningkatkan laba dengan harapan

mendapatkan reaksi yang positif dari pasar.

4) Income Smoothing (Perataan Laba)

Income Smoothing dilakukan dengan meratakan laba yang dilaporkan, dengan

tujuan pelaporan eksternal, terutama bagi investor, karena umumnya investor

menyukai laba yang relatif stabil.

Model-Model Pendeteksian Manajemen Laba

Terdapat beberapa metode pendektesian manajemen laba, Jones memberikan sebuah

model untuk membantu mengindentifikasi perusahaan yang melakukan manajemen laba. Tujuan

model Jones adalah untk memisahkan akrual kelolaan dan non kelolaan. Model modifikasi Jones

mengestimasi tingkat akrual yang diharapkan (akrul non kelolaan) sebagai fungsi perbedaan

antara perubahan pendapatan dan perubahan dalam piutang dagang serta aktiva tetap.

Perhitungan total akrual dengan pendekatan arus kas dan laporan rugi laba dengan rumus sebagai

berikut, Sloan (1996) dalam Rahmawati (2007):

Tat = -

Dimana :

TA = Total Akrual

Earn = Earnings

CFO = Arus Kas Operasi

Seluruh persamaan diatas dibagi dengan menggunakan total aktiva awal tahun pada perusahaan
yang diobservasi . Model model pemisahan akrual menjadi akrual kelolaan dan non kelolaan yang
dibandingkan oleh Dechow et al. (1996) dalam Rahmawati (2007) adalah sebagai berikut :
1. The Healy Model

Pengujian Healy untuk manajemen laba dengan cara membandingkan rata-rata total akrual (dibagi
total aktiva periode sebelumnya). Healy (1985) dalam Rahmawati (2007) menganggap non discretionary
accrual (NDA) tidak dapat diobservasi. Model untuk non discretionary accrual adalah sebagai berikut:

NDA = 0 sehingga TA = NDA

2. The De Angelo Model

Model De Angelo (1986) dalam Wijayanti (2009) menguji manajemen laba dengan menghitung
perbedaan awal dalam total akrual dan dengan asumsi bahwa perbedaan pertama tersebut diharapan
nol, yang berarti tidak ada manajemen laba. Model ini menggunakan total akrual periode terakhir (dibagi
total aktiva periode sebelumnya) untuk mengukur non discretionary accrual

NDAt = Tat-1

Keterangan :

NDAt = Estimasi non discretionary accrual

Tat-1 = Total accrual dibagi total aktiva 1 tahun sebelum tahun t

3. The Modified Jones Model

Model Modified Jones yang merupakan perkembangan dari model Jones dapat mendeteksi manajemen
laba lebih baik dibandingkan dengan model-model lainnya. Model perhitungannya sebagai berikut :

TACCit = EBXTit OCFit

TACCit/Tai,t-1 = 1 (1/Tai,t-1)+ 2 ((<REVit-<RECit)/Tai,t-1) + 3 (PPEit/Tai,t1)

Dari persamaan regresi diatas, NDACC dapat dihitung dengan memasukan kembali koefisien-
koefisien :

NDACCit = 1(1/Tai,t-1) + 2 ((<REVit-<RECit

Keterangan :

TACCit = Total Accrual perusahaan I pada periode ke t.

EBXTit = Earning Before Extraordinary Item perusahaan i pada periode ke t.

OCFit = Operating Cash Flow perusahaan i pada periode t-1.

Tai,t-1= Total aktiva perusahaan i pada periode t-1.

REVit = Revenue perusahaan i pada periode ke t.


RECit = Receivable perusahaan i pada periode ke t.

4. The Cross-Sectional Models

Baik model jones cross sectional dan model jones modifikasi cross-sectional adalah sama dengan
model jones dan model jones modifikasi, kecuali bahwa parameter model diestimasi dengan
menggunakan data cross-sectional bukan data time series. Defond dan Jiambalvo (1994) dalam Wijayanti
(2009). Model cross sectional dan time-series mengamsumsikan bahwa korelasi ditentukan oleh
karakteristik spesifik perusahaan. Pada penelitian ini digunakan model modifikasi Jones dalam
mendeteksi manajemen laba. Penggunaan model modifikasi Jones dikarenakan model ini runtun waktu
dan secara statistik paling baik dibandingkan model-model lainnya, Dechow , et al. (1996) dalam
wijayanti (2009).
a. Pengertian dan Konsep Dasar Corporate Governance
Pengertian corporate governance amat beragam. Pada dasarnya ia diartikan sebagai
keloloa yang berhubungan dengan masyarakat. Cadbury Committee (2003) dalam Zarkasyi
(2008) mendefinisikan corporate governance sebagai berikut :
Seperangkat peraturan yang mengatur antara pemengag, pengurus (pengelola) perusahaan,
pihak kreditur, pemerintahan, karyawan, serta para pemengang saham kepentingan internal dan
eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban meraka.
Menurut Keputusan Materi Badan Usaha Milik Negara Nomor KEP-117/m-MBU/2002
dalam Surya dan Yustiavandana (2008) corporate governance adalah suatu proses dari stuktur
yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas
perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap
memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya, berdasarkan peraturan perundangan dan nilai-
nilai etika.
Nasution dan Setiawan (2007) mendefenisikan corporate governance sebgai konsep yang
diajukan demi peningkatan kinerja perusahaan melalui supervise atau monitoring kinerja
manajemen dan menjamin akuntabilitas manajemne terhadap stakeholder dengan mendasarkan
pada kerangka peraturan. Konsep corporate governance diajukan demi tercapainya pengelolaan
perusahaan yang lebih transparan bagi semua pengguna laporan keuangan. Bila konsep ini
diterapkan dengan baik maka diharapkan pertumbuhan ekonomi akan terus menanjak seiring
dengan transparansi pengelolaan perusahaan yang makin baik dan nantinya menguntungkan
banyak pihak.
Sistem corporate governance memberikan perlindungan efektif bagi pemengang saham
dan kreditor sehingga mereka yakin akan memperoleh return atas investasinya dengan benar.
Corporate governance juga membantu menciptakan lingkungan kondusif demi terciptanya
pertumbuhan yang efesien dan sustainable di sektor korporat, Nasution dan Setiawan (2007).
Esensi corporate governance adalah peningkatan kinerja perusahaan melalui supervise
atau pemantauan kinerja manajemen dan adanya akuntabilitas manajemen terhadap shareholders
dan pemangku kepentingan lainnya, berdasarkan kerangka aturan dan peraturan yang berlaku
(Wolfensohn,1999). Good Corporate Governance (GCG) Pada dasarnya merupakan suatu sistem
(input, proses, output) dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak
yang kepentingan (stakeholders) terutama dalam arti sempit hubungan antara pemengan saham,
dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan perusahaan GCG dimaksud untuk
mengatur hubungan-hubungan ini dan mencengah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan
dalam strategi perusahaan dan untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat
diperbaiki dengan segera (Zarkasyi,2008).
b. Tujuan Good Corporate Governance
Tujuan utama corporate governance seperti yang dinyatakan dalam OECD (2004: 13),

adalah:

1) Untuk mengurangi kesenjangan (gap) antara pihak-pihak yang memiliki kepentingan

dalam suatu perusahaan (pemegang saham mayoritas dan pemegang saham lainnya).

2) Meningkatkan kepercayaan bagi para investor dalam melakukan investasi.

3) Mengurangi biaya modal (cost of capital).

4) Meyakinkan kepada semua pihak atas komitmen legal dalam pengelolaan perusahaan.

5) Menciptakan nilai bagi perusahaan termasuk hubungan antara para stakeholders

(kreditur, investor, karyawan perusahaan, bondholders, pemerintah dan shareholders)

c. Asas Good Corporate Governanave

Menurut KNKG (2006: 5-7), Asas good corporate governance meliputi lima macam

asas yaitu:

1) Tarnsparansi (Transparency)
Objektivitas dalam menjalankan bisnis harus tetap dijaga sehingga perusahaan harus

menyedikan informasi yang material, relevan, serta mudah diakses dan dipahami oleh berbagai

pihak yang berkepentingan. Perusahaan harus mengungkapkan informasi perusahaan yang tidak

hanya disyaratkan oleh peraturan atau undang-undang saja tetapi perusahaan juga harus
mempunyai inisiatif untuk mengungkapkan informasi yang dapat membantu untuk pengambilan

keputusan oleh para pemegang saham, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya.

2 Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan. Perusahaan

harus dikelola secara benar, terukur, dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap

memperhatikan kepentingan pemegang saham. Perusahaan diharuskan untuk mempertanggung

jawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

3 Responsibilitas (Responsibility)
Perusahaan harus mematuhi perundang-undangan serta melaksanakan tanggungjawab

terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam

jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.

4. Independensi (Independency)

Perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak

saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

5. Kewajaran dan Kesetaraan (fairness)


Perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku

kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.


d. Mekanisme Good Corporate Governance

Menurut Man dan Wong (2013; 5-6), mekanisme good corporate governance
digolongkan menjadi mekanisme eksternal dan internal

1. Mekanisme Eksternal

Mekanisme eksternal ditentukan oleh faktor-faktor luar perusahaan yang bertujuan untuk

mengatur perusahaan-perusahaan dalam mendukung kepentingan stakeholders dan termasuk

undang-undang perlindungan hokum dan aturan pengambil alihan.

2. Mekanisme Internal

Mekanisme internal dipengaruhi oleh faktor internal perusahaan yang meliputi kepemilikan

saham insider, struktur dewan komisaris dak karakteristik, proporsi dewan direksi independen,

latar belakang direktur, komite audit, komite remunerasi, dan struktur kepemilikan manajerial,

komite audit independen, dan dewan komisaris independen.