Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TEKNOLOGI PAKAN

INSTRUMENTASI PENGOLAHAN PAKAN HIJAUAN DAN KONSENTRAT

Oleh :
Kelas: E
Kel: 9

Sunaenah 200110110224
R. Annisa Novianti 200110110249
Desyi Pratiwi 200110110250
Ridho Fabrianto 200110110252
Anisa Pusparini 200110110254

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2013
I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Terdapat beberapa pendapat yang menyatakan tentang definisi
instrumentasi, Salah satu pengertian instrumentasi itu dikemukakan oleh
Frankly W. Kirik dan Nicholas R. Rimboy pada tahun 1962 yang menyatakan
Instrumentation is a technology of using instrument to measure and to control
the variable physic and chemical properties of the materials. Secara
terminologi definisi instrumen diatas dapat diartikan sebagai berikut :
Instrumentasi adalah ilmu yang mempelajari tentang penggunaan peralatan
atau instrument untuk mengukur dan mengatur suatu besaran baik kondisi fisis
maupun kimia.
Dari definisi diatas dapat diambil suatu kesimpulan atau prinsip dasar,
bahwa instrumentasi terdiri dari dua pokok kegaitan yaitu mengukur dan
mengatur suatu besaran.
Dalam instrumentasi pengolahan pakan hijauan dan konsentrat, terdiri dari
beberapa macam alat, seperti : Vacuum belt dryer, Solar dryer, Batch tray
dryer, Spray dryer, Dryer, Silo, Hammer Mill, Roller Mill.
Bahan pakan yang dapat digunakan biasanya berasal dari :
- Umumnya berasal dari hasil pertanian (pertanian, perkebunan,
perikanan, dan peternakan)
- Bersifat mudah rusak, voluminous (bulky) dan musiman
- Merupakan by product dan waste product hasil pertanian sehingga
memiliki nilai hayati yang rendah

1.2. Tujuan
Agar mahasiswa dapat menggunakan instrumentasi teknologi
pengolahan pakan
1.3. Kegunaan
Untuk memperkecil kehilangan atau penyusutan jumlah dan mutu dalam
pengolahan pakan hijauan dan konsentrat
II
LANDASAN TEORI

Pengolahan pakan merupakan suatu kegiatan untuk mengubah pakan tunggal


atau campuran menjadi bahan pakan baru atau pakan olahan. Bahan pakan baru
yang dihasilkan dari proses pengolahan diharapkan mengalami peningkatan
kualitas. Proses pengolahan pakan ini mempunyai beberapa tujuan, diantaranya
adalah : (1) Meningkatkan kualitas bahan; (2) Memudahkan penyimpanan; (3)
Pengawetan; (4) Meningkatkan palatabilitas; (5) Meningkatkan efisiensi pakan dan
(6) Memudahkan penanganan dan pencampuran pada pembuatan pakan jadi.

Negara-negara tropis yang mempunyai dua musim mengalami fluktuasi dalam


penyediaan hijauan pakan. Musim penghujan merupakan musim yang banyak akan
hijauan pakan dan bahkan sering berlebih, sedangkan pada musim kemarau
merupakan musim paceklik sehingga seringkali hijauan yang ada mempunyai
kualitas yang rendah.

Negara-negara subtropis yang mempunyai empat musim, membuat hijauan


awetan kering yang disebut hay atau hooi untuk menghadapi musim salju
(Kirchgener, 1997), di saat hijauan segar tidak akan didapatkan. Hijauan awetan
kering kurang populer di negara tropis, karena hijauan pakan boleh dikatakan
tersedia sepanjang tahun. Namun kenyataannya pada musim kemarau, lebih-lebih
kemarau panjang, hijauan pakan sulit didapatkan dan kalaupun ada hijauan tersebut
mempunyai kualitas yang sangat rendah. Menurut Soebarinoto (1998) alternatif
untuk mengatasi kekurangan hijauan pakan, dapat dilakukan dengan beberapa cara
antara lain sebagai berikut : (1) Membeli hijauan pakan dari daerah lain; (2)
Mengurangi jumlah ternak yang dipelihara pada saat kekurangan hijauan pakan; (3)
Mengawetkan hijauan yang berlebih untuk digunakan pada saat kekurangan hijauan
pakan; (4) Menanam lebih dari satu jenis hijauan pakan untuk meratakan puncak-
puncak produksi dan (5) Menjaga kesuburan tanah semaksimal mungkin.
Upaya lain untuk menghindari kelangkaan pakan, dilakukan cara-cara
pengadaan hijauan dengan kualitas yang baik untuk penyediaannya sepanjang
tahun. Cara cara ini dilakukan melalui sistim pengawetan dan pengolahan
(Reksohadiprodjo, 1984). Lebih lanjut dipaparkan oleh Reksohadiprodjo (1984)
bahwa sistim pengawetan dilakukan melalui pembuatan silase (awetan hijauan
segar) dan hay (awetan hijauan kering), sedangkan pengolahan dapat dilakukan
dengan pengolahan secara fisik (pencacahan, penggilingan atau pemanasan),
secara kimia (perlakuan alkali danamoniasi) dan secara biologi yang umumnya
dilakukan dengan metode fermentasi yang menggunakan jasa mikrobia selulolitik.

Pemilihan terhadap cara pengolahan yang tepat terhadap bahan pakan perlu
dilakukan sehingga pengolahan yang dilakukan akan benar-benar bermanfaat
meningkatkan kualitas nutrisinya. Secara umum, pengolahan pakan dapat dilakukan
melalui 5 macam cara :
Pengolahan mekanik
Pengolahan fisik
Pengolahan kimia
Pengolahan Biologi
Gabungan dari keempat cara diatas

a. Pengolahan Mekanik
Pengolahan mekanik merupakan suatu upaya untuk mengubah sifat pakan
melalui proses mekanik. Pengolahan mekanik mencakup dehulling, grinding,
rolling, chopping.
b. Pengolahan Fisik
Pengolahan fisik merupakan upaya mengubah sifat pakan melalui proses
atau perlakuan perubahan temperatur sehingga pakan pada akhir proses
akan mengalami penurunan kandungan air.
Keuntungan pengolahan fisik ini adalah :
memperpanjang masa simpan bahan pakan
menginaktifkan beberapa zat antinutrisi (contoh : antitrypsin dalam kedelai
mentah dan HCN dalam ubikayu).
c. Pengolahan Kimia
Pengolahan kimia merupakan upaya mengubah sifat pakan melalui
penambahan bahan kimia. Pengolahan kimia dapat dilakukan dengan
penambahan alkali, dan penambahan asam.
d. Pengolahan Biologi
Pengolahan bahan pakan secara biologi dilakukan dengan enzim melalui
bantuan mikrobia yang sesuai yang disebut proses fermentasi. Kelebihan
perlakuan secara biologis ini adalah waktu singkat dan efisien, tidak
tergantung cuaca tetapi perlu kondisi yang optimum bagi pertumbuhan
mikrobia (suhu, kelembaban, pH dan lainnya).
e. Pengolahan secara gabungan
Pengolahan gabungan adalah pengolahan yang dilakukan dengan
menggabungkan beberapa cara pengolahan (mekanik, fisik, kimia dan
biologi). Pengolahan gabungan ini dilakukan pada bahan pakan yang
kualitasnya sangat rendah dan atau bahan yang kandungan zat
antinutrisinya tinggi. Contoh : Perlakuan awal penggilingan pada bahan
pakan akan memperluas permukaan bahan yang kemudian jika dilakukan
pengolahan secara biologi (fermentasi) akan sangat memudahkan penetrasi
enzim mikrobia.

Proses Pengolahan Fisik Menggunakan Hammer Mill

Mesin Hammer mill

Berdasarkan kerja atau cara pembebanannya terhadap bahan yang akan


diproses, mesin pemecah dibagi dalam tiga golongan, yaitu mesin pemecah dengan
beban tekan, mesin pemecah dengan beban impact, dan mesin pemecah berputar.
Pada mesin pemecah dengan beban tekan, pecahnya bahan terjadi karena adanya
beban tekan yang diberikan oleh alat kepada bahan. Besamya beban tekan relatif
lebih besar dari pada kekuatan yang dimiliki bahan. Menurut cara pembebanannya,
ada dua jenis mesin pemecah dengan beban tekan, yaitu tekanan bolak-balik (jaw
crusher, gyratory crusher, dan disc crusher dan tekanan kontinu. Pada mesin
pemecah dengan beban impact, pecahnya bahan adalah akibat beban impact yang
ditimbulkan oleh tumbukan antara komponen mesin yang bergerak cepat dengan
bahan. Jenis-jenis mesin pemecah dengan beban impact di antaranya hammer
crusher; dual rotor impact breaker, vertical impact crusher dan rotary knife cutter.
Prinsip kerja mesin pemecah berputar adalah ruang pemecah berputar pada
sumbunya. Untuk menentukan banyaknya alat penggiling jagung yang akan
dioperasikan dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah produksi jagung, energi
yang dibutuhkan dan yang tersedia untuk proses penggilingan, serta jumlah produksi
jagung tergiling yang diinginkan. Alat penggiling jagung ini dibuat untuk
meningkatkan nilai tambah jagung dan untuk mempertahankan serta meningkatkan
daya simpan jagung.
III

PEMBAHASAN

Teknologi pemrosesan bahan pangan terus berkembang dari waktu ke waktu.


Perkembangan teknologi ini didorong oleh kebutuhan pangan manusia yang terus
meningkat yang diakibatkan oleh semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia.
Pada saat yang sama, luas lahan penghasil bahan pangan makin menyempit. Hal
tersebut menyebabkan dibutuhkannya teknologi-teknologi pemrosesan pangan yang
mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk makanan; salah satunya adalah
teknologi pengeringan bahan makanan.

Pengeringan adalah suatu peristiwa perpindahan massa dan energi yang


terjadi dalam pemisahan cairan atau kelembaban dari suatu bahan sampai batas
kandungan air yang ditentukan dengan menggunakan gas sebagai fluida sumber
panas dan penerima uap cairan (Sumber: Treybal, 1980).

Pengeringan makanan memiliki dua tujuan utama. Tujuan pertama adalah


sebagai sarana pengawetan makanan. Mikroorganisme yang mengakibatkan
kerusakan makanan tidak dapat berkembang dan bertahan hidup pada lingkungan
dengan kadar air yang rendah. Selain itu, banyak enzim yang mengakibatkan
perubahan kimia pada makanan tidak dapat berfungsi tanpa kehadiran air (Sumber :
Geankoplis, 1993). Tujuan kedua adalah untuk meminimalkan biaya distribusi bahan
makanan karena makanan yang telah dikeringkan akan memiliki berat yang lebih
rendah dan ukuran yang lebih kecil.

Pengeringan merupakan proses penghilangan sejumlah air dari material.


Dalam pengeringan, air dihilangkan dengan prinsip perbedaan kelembaban antara
udara pengering dengan bahan makanan yang dikeringkan. Material biasanya
dikontakkan dengan udara kering yang kemudian terjadi perpindahan massa air dari
material ke udara pengering.
Dalam beberapa kasus, air dihilangkan secara mekanik dari material padat
dengan cara di-press, sentrifugasi dan lain sebagainya. Cara ini lebih murah
dibandingkan pengeringan dengan menggunakan panas. Kandungan air dari bahan
yang sudah dikeringkan bervariasi bergantung dari produk yang ingin dihasilkan.
Garam kering mengandung 0.5% air, batu bara mengandung 4% air dan produk
makanan mengandung sekitar 5% air. Biasanya pengeringan merupakan proses
akhir sebelum pengemasan dan membuat beberapa benda lebih mudah untuk
ditangani.

Klasifikasi Pengeringan

Ditinjau dari pergerakan bahan padatnya, pengeringan dapat dibagi menjadi


dua, yaitu pengeringan batch dan pengeringan kontinyu. Pengeringan batch adalah
pengeringan dimana bahan yang dikeringakan dimasukan ke dalam alat pengering
dan didiamkan selama waktu yang ditentukan. Pengeringan kontinyu adalah
pengeringan dimana bahan basah masuk secara sinambung dan bahan kering
keluar secara sinambung dari alat pengering.

Berdasarkan kondisi fisik yang digunakan untuk memberikan panas pada


sistem dan memindahkan uap air, proses pengeringan dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu: (Sumber: Geankoplis, 1993)

Pengeringan kontak langsung

Menggunakan udara panas sebagai medium pengering pada tekanan


atmosferik. Pada proses ini uap yang terbentuk terbawa oleh udara.

Pengeringan vakum

Menggunakan logam sebagai medium pengontak panas atau menggunakan


efek radiasi. Pada proses ini penguapan air berlangsung lebih cepat pada tekanan
rendah.
Pengeringan beku

Pengeringan yang melibatkan proses sublimasi air dari suatu material beku.

Mekanisme Pengeringan

Ketika benda basah dikeringkan secara termal, ada dua proses yang
berlangsung secara simultan, yaitu :

Perpindahan energi dari lingkungan untuk menguapkan air yang terdapat di


permukaan benda padat

Perpindahan energi dari lingkungan ini dapat berlangsung secara konduksi,


konveksi , radiasi, atau kombinasi dari ketiganya. Proses ini dipengaruhi oleh
temperatur, kelembapan, laju dan arah aliran udara, bentuk fisik padatan, luas
permukaan kontak dengan udara dan tekanan. Proses ini merupakan proses penting
selama tahap awal pengeringan ketika air tidak terikat dihilangkan. Penguapan yang
terjadi pada permukaan padatan dikendalikan oleh peristiwa difusi uap dari
permukaan padatan ke lingkungan melalui lapisan film tipis udara.

Perpindahan massa air yang terdapat di dalam benda ke permukaan

Ketika terjadi penguapan pada permukaan padatan, terjadi perbedaan


temperatur sehingga air mengalir dari bagian dalam benda padat menuju ke
permukaan benda padat. Struktur benda padat tersebut akan menentukan
mekanisme aliran internal air.

Beberapa mekanisme aliran internal air yang dapat berlangsung :

Diffusi

Pergerakan ini terjadi bila equilibrium moisture content berada di bawah titik
jenuh atmosferik dan padatan dengan cairan di dalam sistem bersifat mutually
soluble.
Contoh: pengeringan tepung, kertas, kayu, tekstil dan sebagainya.

Capillary flow

Cairan bergerak mengikuti gaya gravitasi dan kapilaritas. Pergerakan ini


terjadi bila equilibrium moisture content berada di atas titik jenuh atmosferik.

Contoh: pada pengeringan tanah, pasir, dll.

Benda padat basah yang diletakkan dalam aliran gas kontinyu akan
kehilangan kandungan air sampai suatu saat tekanan uap air di dalam padatan
sama dengan tekanan parsial uap air dalam gas. Keadaan ini disebut equilibrium
dan kandungan air yang berada dalam padatan disebut equilibrium moisture content.
Pada kesetimbangan, penghilangan air tidak akan terjadi lagi kecuali apabila
material diletakkan pada lingkungan (gas) dengan relative humidity yang lebih
rendah (tekanan parsial uap air yang lebih rendah).

Batch Tray Dryer (Batch Drying)

Batch Tray Dryer

Metode batch merupakan metode tray drying yang paling sederhana. Tray
dryer terdiri dari bilik pemanasan yang terbuat dari kayu atau logam-logam tertentu.
Tray/kolom yang telah dimasukkan material yang ingin dikeringkan kemudian di
letakkan secara bersusun dalam kolom. Setelah ruangan ditutup, maka udara panas
dialirkan ke dalam ruang pemanas hingga semua bahan menjadi kering.

Udara panas yang masuk dari sebelah bawah ruang menyebabkan material
yang ada kolom yang paling bawah menjadi yang paling pertama kering. Setelah
tenggat waktu tertentu, tray akan dikeluarkan dan material yang telah kering diambil.
Material lain yang ingin dikeringkan dimasukkan dan prosedur terjadi berulang-
ulang.
Solar Dryer (Continuous Drying)

Solar Dryer

Solar drying merupakan metode pengeringan yang saat ini sering digunakan
untuk mengeringkan bahan-bahan makanan hasil panen. Metode ini bersifat
ekonomis pada skala pengeringan besar karena biaya operasinya lebih murah
dibandingkan dengan pengeringan dengan mesin. Prinsip dari solar drying ini adalah
pengeringan dengan menggunakan bantuan sinar matahari. Perbedaan dari
pengeringan dengan sinar matahari biasa adalah solar drying dibantu dengan alat
sederhana sedemikian rupa sehingga pengeringan yang dihasilkan lebih efektif.

Metode solar drying sering digunakan untuk mengeringkan padi. Namun


karena pada prinsipnya pengeringan adalah untuk mengurangi jumlah air
(kelembaban) bahan, maka metode ini juga bisa diaplikasikan untuk bahan makanan
lain.

Cara kerja solar dryer adalah sebagai berikut:

Bahan yang ingin dikeringkan dimasukkan ke dalam bilik yang berada pada
ketinggian tertentu dari permukaan tanah. Udara sekitar masuk melalui saluran yang
dibuat lebih rendah daripada bilik pemanasan dan secara otomatis terpanaskan oleh
sinar matahari secara konveksi pada saat udara tersebut mengalir menuju bilik
pemanasan. Udara yang telah terpanaskan oleh sinar matahari kemudian masuk
kedalam bilik pemanas dan memanaskan bahan makanan. Pengeringan bahan
makanan jadi lebih efektif karena pemanasan yang terjadi berasal dari dua arah,
yaitu dari sinar matahari secara langsung (radiasi) dan aliran udara panas dari
bawah (konveksi). (Sumber: http:// www.appropedia.org/Solar_drying)

Spray Dryer (Continuous Drying)

Spray Dryer

Metode mengeringan spray drying merupakan metode pengeringan yang


paling banyak digunakan dalam industri terutama industri makanan. Metode ini
mampu menghasilkan produk dalam bentuk bubuk atau serbuk dari bahan-bahan
seperti susu, buah buahan, dll.

Bagian-bagian dari unit spray dryer:

feed pump
atomizer
Pemanas uap (air heater)
Pendispersi udara (air disperse)
drying chamber
recovery powder system
pembersih udara keluaran

Cara kerja spray dryer adalah sebagai berikut:

Pertama-tama seluruh air dari bahan yang ingin dikeringkan, diubah ke dalam
bentuk butiran-butiran air dengan cara diuapkan menggunakan atomizer. Air dari
bahan yang telah berbentuk tetesan-tetesan tersebut kemudian di kontakan dengan
udara panas. Peristiwa pengontakkan ini menyebabkan air dalam bentuk tetesan-
tetesan tersebut mengering dan berubah menjadi serbuk. Selanjutnya proses
pemisahan antara uap panas dengan serbuk dilakukan dengan cyclone atau
penyaring. Setelah di pisahkan, serbuk kemudian kembali diturunkan suhunya
sesuai dengan kebutuhan produksi.
IV

KESIMPULAN

a. Pengeringan merupakan proses penghilangan sejumlah air dari material.


Dalam pengeringan, air dihilangkan dengan prinsip perbedaan
kelembaban antara udara pengering dengan bahan makanan yang
dikeringkan.
b. Pengeringan makanan memiliki dua tujuan utama. Tujuan pertama
adalah sebagai sarana pengawetan makanan. Mikroorganisme yang
mengakibatkan kerusakan makanan tidak dapat berkembang dan
bertahan hidup pada lingkungan dengan kadar air yang rendah. Selain
itu, banyak enzim yang mengakibatkan perubahan kimia pada makanan
tidak dapat berfungsi tanpa kehadiran air.
c. Tujuan kedua adalah untuk meminimalkan biaya distribusi bahan
makanan karena makanan yang telah dikeringkan akan memiliki berat
yang lebih rendah dan ukuran yang lebih kecil.
V
SARAN

a. Dalam membuat makalah ini tidak menemukan kendala tetapi hanya


kurang paham dalam makna dari materi ini.
b. Lebih bisa memahami materi dan kami mengharapkan adanya modul
untuk menunjang dalam membuat makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

https://adifirman.wordpress.com/tag/definisi-instrumentasi/

Diakses pada hari Rabu, 18 Oktober 2013 pukul 13:27 WIB

http://animal.cals.arizona.edu/swnmc/Proceedings/2008/16Zinn_08.pdf

Diakses pada hari Rabu, 18 Oktober 2013 pukul 14.00 WIB

http://www.ddgs.umn.edu/articles-proc-storage-quality/2001-Davis-
%20Processing.pdf

Diakses pada hari Rabu, 18 Oktober 2013 pukul 14.11 WIB