Anda di halaman 1dari 6

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian
1. Genitouria
Praoperasi
Yang terinspeksi pada Genitourinaria adalah:
1) pemeriksaan genitalia
2) tidak ada kulit katan (foreksin) ventral
3) palpasi abdomen untuk melihat distensi bladder atau pembesaran pada ginjal.
4) Kaji fungsi perkemihan
5) Adanya lekukan pada ujung penis
6) Glans penis berbentuk sekop
7) Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
8) Terbukanya urethral pada ventral (hypospadias)
Pascaoperasi
Yang terinspeksi pada Genitourinaria adalah:
1) Pembengkakan penis
2) Perdarahan pada sisi pembedahan
3) Disuria
2. Neurologis
1) Iritabilitas
2) Gelisah
3. Kaji riwayat kelahiran (adanya anomali konginetal, kondisi kesehatan)
4. Head to toe
1) Perhatikan adanya penis yang besar kemungkinan terjadi pubertas yang terlalu dini
2) Pada anak yang obesitas penis dapat ditutupi oleh bantalan lemak di atas simpisis pubis
3) Pada bayi, prepusium mengencang sampai usia 3 tahun dan tidak boleh diretraksi
4) Palpasi abdomen atau melihat distensi bladder atau pembesaran pada ginjal
5) Perhatikan lokasi pada permukaan dorsal atau ventral dari penis kemungkinan tanda
genetalia ganda
6) Kaji fungsi perkemihan
7) Kaji adanya lekukan pada ujung penis
8) Jika mungkin, perhatikan kekuatan dan arah aliran urin.
9) Perhatikan skrotum yang kecil dekat perineum dengan adanya derajat pemisahan garis
tengah
10) Rugae yang terbentuk baik menunjukkan turunya testis.
11) Kaji adanya nyeri urinasi, frekuensi, keraguan untuk kencing, urgensi, urinaria, nokturia,
poliuria, bau tidak enak pada urine, kekuatan dan arah aliran, rabas, perubahan ukuran
skrotum
5. Diskusikan pentingnya hygiene
6. Kaji faktor yang mempengaruhi respon orang tua pada penyakit anak dan keseriusan
ancaman pada anak mereka
1) Prosedur medis yang terlibat dalam diagnosis dan tindakan
2) Ketersediaan sistem pendukung
3) Kekuatan ego pribadi
4) Kemampuan koping keluarga sebelumnya
5) Stress tambahan pada sistem keluarga
6) Keyakinan budaya dan agama
7. Kaji pola komunikasi antaranggota keluarga
1) Menurunnya komunikasi pada anak, ekspresi, dan kontrol impuls dalam penyampaian
penyaluran perasaan
2) Anak dapat merasa terisolasi, bosan, gelisah, adanya perasaan malu terhadap teman
sebaya
3) Dapat mengekspresikan marah dan agresi
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa, prosedur pembedahn
dan perawatan setelah operasi
2. Resiko infeksi (traktus urinarius) berhubungan dengan pemasangan kateter menetap
3. Nyeri berhubungan dengan pembedahan
4. resiko injuri berhubungan dengan pemesangan kateter atau pengangkatan kateter
5. kecemasan orang tua berhubungan dengan penampilan penis anak setelah pembedahan
C. INTERVENSI
DIAGNOSA 1
1. Kaji tingkat pemahaman orang tua
2. Gunakan gambar-gambar atau boneka untuk menjelaskan prosedur, pemasangan kateter
menetap, mempertahan kan kateter dan perewatan kateter, pengosongan kantong urin,
keamanan kateter, monitor urin; warna, kejernihan dan perdarahan
3. Jelaskan tentang pengobatan yang di berikan: efek samping dan dosis serta waktu
pemberian
4. Ajarkan untuk ekspresi perasaan dan perhatian tentang kelainan pada penis
5. Ajarkan orang tua untuk partisipasi dalam perawatan sebelum dan sesudah operasi
DIAGNOSA 2
1. Pertahankan kantong drainase kateter di bawah garis kandung kemih dan pastikan bahwa
selang tidak terdapat simpul dan kusut
2. Gunakan tekhnik aseptik ketika mengosongkan kantong kateter.
3. Pantau urin anak untuk pendeteksian kekeruhan atau sedimentasi.
4. Anjurkan anak untuk minum sekurang-kurangnya 60ml/jam
5. Beri obat antibiotik profilaktik sesuai program, untuk membantu mencegah infeksi
DIAGNOSA 3
1. Berikan analgesik sesuai program
2. Perhatikan posisi kateter tepat atau tidak
3. Monitor adanya kink-kink (tekukan pada kateter) atau kemacetan
4. Atur posisi tidur anak
DIAGNOSA 4
1. Fiksasi kateter pada penis anak dengan memakai balutan dan plester
2. Gunakan restrain atau pengaman yang tepat pada saat anak tidur atau gelisah
3. Hindari alat-alat tenun atau yang lainnya yang dapat mengkontaminasi kateter dan penis
DIAGNOSA 5
1. Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran mereka tentang
ketidak sempurnaan fisik anak
2. Bantu orang tua melalui proses berduka yang normal
3. Rujuk orang tua kepada kelompok pendukung yang tepat, jika diperlukan
4. Apabila memungkinkan, jelaskan perlunya menjalani pembedahan multiple, dan jawab
setiap pertanyaan yang muncul dari orang tua
D. IMPLEMENTASI
Iimplementasi disesuaikan dengan intervensi.

E. EVALUASI
1. Orang tua memahami tentang hipospadi dan alasan pembedahn, serta orang tua akan aktif
dalam perwatatn setelah operasi
2. Anak tidak mengalami infeksi yang di tandai oleh hasil urinalisis normal dan suhu tubuh
kurang dari 37,8 c
3. Anak akan memperlihatkan peningkatan rasa nyaman yang di tandai dengan tidak ada
tangisan, kegelisahan dan tidak ada ekspresi nyeri
4. Anak tidak mengalami injuri yang di tandai oleh anak dapat mempertahankan penempatan
kateter urin yang benar sampai di angkat oleh perawat atau dokter
5. Rasa cemas orang tua menurun yang di tandai dengan pengungkapan perasaan mereka
tentang adanya kecacatan pada genitalia anak
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hipospadia merupakan suatu kelainan kongenital yang dapat di deteksi ketika atau
segera setelah bayi lahir, atau instilah lainya yaitu adanya kelainan pada muara uretra pria.
Dan biasanya tampak disisi ventral batang penis. Kelainan tersebut sering diasosiasikan
sebagai suatu chordee yaitu penis yang menekuk kebawah
Terapi untuk hipospadia adalah dengan pembedahan untuk mengembalikan
penampilan dan fungsi normal penis. Pembedahan biasanya tidak di jadwalkan sampai bayi
berusia 1-2th ketika ukuran penis dinyatakan sebagai ukuran yang layak di operasi.
Komplikasi potensial mliputi infeksi dan obstruksi uretra
B. SARAN
Pemahaman dan keahlian dalam aplikasi Asuhan Keperawatan Anak Dengan
Hipospadia/Epispadia merupakan salah satu cabang ilmu keperawatan yang harus dimiliki
oleh tenaga kesehatan khususnya perawat agar dapat mengaplikasikannya serta berinovasi
dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien. Ini akan mendukung profesionalisme
dalam wewenang dan tanggung jawab perawat sebagai bagian dari tenaga medis yang
memberikan pelayanan Asuhan Keperawatan secara komprehensif

DAFTAR PUSTAKA

Berhman, Kliegman, Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta: EGC.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Media Aesculapius: FKUI.
Muscari, Mary E. 2005. Panduan Belajar : Keperawatan Pediatrik Ed.3. Jakarta: EGC.
Nettina, Sandra M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC.
Pillitteri, Adele. 2002. Buku Saku Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: EGC.
Speer, Kathleen Morgan. 2007. Rencana Asuhan keperawatan pediatrik dengan Clinical Pathways. Jakarta:
EGC.
Suriadi, Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. Perpustakaan Nasional RI: Katalog dalam
Terbitan.