Anda di halaman 1dari 8

OBAT-OBAT ANTIBAKTERIAL

Obat-Obat antibakterial kini dikelompokkan ke dalam sembilan kelompok: penisilin,


sefalosporin, makrolid, tetrasiklin, linkosamid, aminoglikosida, kloramfenikol, peptida, dan
vankomisin. Penisilin dan sefalosporin, meskipun sangat mirip secara struktur kimiawi,
akan dibicarakan terpisah. Kloramfenikol dan vankomisin akan dibicarakan bersama
sebagai obat-obat antibakterial yang lain. Kebanyakan dari antibiotik kini diproduksi
semisintetik atau sintetik.
Mekanisme Kerja Antibakterial: Empat mekanisme kerja antibakterial yang menghambat
pertumbuhan atau . penghancuran mikroorganisme adalah:
1.Penghambatan sintesis dinding sel bakteri.
2.Pengubahan permeabilitas kapiler.
3.Penghambatan sintesis protein, dan
4.Menganggu metabolisme di dalam sel. Obat-Obat antibakterial yang dipakai untuk
mencapai konsentrasi penghambatan minimum (MIC = minimum inhibitory concentration)
yang diperlukan untuk menghentikan pertumbuhan mikroorganisme-konsentrasi yang
tergantung dari farmakokinetik obat (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi). Tetapi,
jika ingin mencapai konsentrasi bakterisidal minimum (MBC= minimum bactericidal
concentration), biasanya diperlukan konsentrasi obat dalam jumlah yang cukup jauh lebih
tinggi, sehingga klien perlu dipantau dan dinilai untuk mengetahui apakah terjadi toksisitas
obat.

A.MEKANISME KERJA OBAT ANTIBAKTERIAL


Pertahanan tubuh dan obat-obat antibakterial bekerja lama untuk menghentikan proses
infeksi. Efek obat antibakterial pada infeksi tidak hanya tergantung pada obat tersebut, tetapi
juga pada mekanisme pertahanan tubuh orang tersebut. Faktor-Faktor seperti umur, gizi,
imunoglubulin, sel darah putih, fungsi organ, dan sirkulasi mempengaruhi kemampuan
tubuh mengatasi infeksi. Jika mekanisme pertahanan tubuh alami dari orang tersebut tidak
memadai, maka terapi obat mungkin tidak akan seefektif semestinya. Akibatnya, terapi obat
mungkin perlu dipantau ketat atau diubah. Jika sirkulasi terganggu, obat antibakterial
mungkin tidak didistribusi sebagaimana mestinya. Selain itu, imunoglobulin seperti IgG,
IgM (suatu protein dengan aktivitas antibodi; bagian dari sistem respons kekebalan), dan
sel darah putih ang diperlukan untuk mengatasi infeksi dapat berkurang pad amereka
dengan status gizi yang buruk.

B.RESISTENSI TERHADAP ANTIBAKTERIAL


Bakteri dapat menjadi sensitif atau resisten terhadap antibakterial tertentu. Jika suatu bakteri
sensistif terhadap suatu obat, maka organisme itu akan dihambat atau dimusnahkan. Jika
suatu bakteri resisten terhadap suatu antibakterial, maka organisme itu akan terus bertumbuh
meskipun telah dilakukan pemberian obat antibakterial.
Resistensi bakteri dapat timbul secara alami (inheren), atau didapat. Resistensi alami, atau
inheren terjadi tanpa didahului paparan terhadap obat antibakterial. Contohnya, bakteri gram
negatif (pewarnaan Gram), Pseudomonas aeruginosa, resisten terhadap penisilin G. Resistensi
didapat disebabkan oleh pemajanan terhadap antibakterial. Contohnya, meskipun
Staphylococcus aureus dulu pernah sensitif terhadap penisilin, pemajanan sebelumnya telah
membuat organisme ini menjadi resisten terhadap penisilin G. Penisilinase, suatu enzim
yang dihasilkan oleh mikroorganisme, merupakan penyebab dari resistensi penisilin.
Enzim ini memetabolisme penisilin G, sehingga obat menjadi tidak efektif. Kini tersedia
penisilin yang resisten terhadap penisilinase yang efektif melawan Staphylococcus aureus.
C.REAKSI MERUGIKAN YANG SERING PADA OBAT-OBAT ANTIBAKTERIAL
Pada institusi pelayanan, kesehatan yang besar, ada kecenderungan lebih banyak obat yang
resisters terhadap bakteri. Strain mutan dari organisme telah berkembang, sehingga
menambah, resistensi terhadap antibiotik yang dulu pernah efektif. Infeksi yang didapat
ketika klien dirawat di rumah sakit disebut sebagai infeksi nosokomial. Infeksi ini
memperpanjang tinggalnya klien di rumah sakit dan memakan biaya lebih besar.
Resistensi silang dapat juga terjadi antara obat-obat antibakterial yang mempunyai keija
yang serupa, seperti penisilin dan sefalosporin: Untuk menentukan efek obat, antibakterial
pada mikroorganisme tertentu dilakukan pembiakan dan sensitiftas (C & S-culture and
sensitivity), atau pengujian kepekaan antibiotik. Kepekaan atau resistensi suatu
mikroorganisme terhadap beberapa antibakterial dapat diketahui dengan metode ini. Terapi
multiantibiotik (pemakaian beberapa antibakterial setiap hari) menghambat perkembangan
resistensi mikroorganisme.
Reaksi Merugikan Yang Sering pada Antibakterial: Tiga reaksi merugikan utama pada
pemberian obat-obat antibakterial adalah. Reaksi alergi (hipersensitifitas), superinfeksi, dan
toksisitas organ.
Antibiotik Spektrum Sempit dan Spektrum Luas
Obat-Obat antibakterial dapat mempunyai spektrum sempit atau spektrum luas. Antibiotik
berspektrum sempit terutama-efekof untuk melawan. satu jenis organisme. Contohnya,
penisilin dan eritromisin dipakai untuk mengobati Infeksi yang disebabkan oleh bakteria
gram positif. Antibiotik. spektrum luas, seperti tetrasiklin dan sefalosporin, efektif terhadap
organisme baik gram positif maupun gram negatif Karena antibiotiki berspektrum sempit
bersifat selektif, maka obat-obat ini lebih aktif dalam melawan organisme tunggal tersebut
daripada antibiotik berspektrum luas. Antubiotik spektrum luas seringkali dipakai untuk
mengobati infeksi dimana mikroorganisme yang menyerang belum diidentifikasi dengan
pembiakan dan sensitifitas.

D.PENISILIN
Penisilin, suatu agen antibakterial alami yang dihasilkan dari jamur genus Penicillium,
diperkenalkan pada militer selama perang dunia II dan dianggap telah menyelamatkan
banyak nyawa tentara. Penisilin menjadi luas dipakai pada tahun 1945 dan diberi nama obat
"ajaib". Dengan hadirnya penisilin, banyak klien yang selamat yang sebelumnya
mungkin,akammeninggal akibat luka dan infeksi pernapasan yang berat.
Struktur beta laktam penisilin menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan
menghambat enzim bakteri yang diperlukan untuk, pemecahan, sel dan sintesis selular.
Bakteria akan mati akibat lisis sel (pemecahan sel). Penisilin dapat bersifat bakteriostatik
maupun bakterisidal tergantung dari obat dan dosisnya. Penisilin G, terutama bersifat
bakterisidal.
Penisilin G adalah penisilin pertama yang diberikan per oral dan injeksi. Dengan pemberian
oral, hanya kira-kira sepertiga dari dosis diabsorpsi. Karena absorpsinya yang buruk maka,
penisilin G yang diberikan per injeksi (intramuskular dan intravena) lebih efektif dalam
mencapai kadar penisilin serum terapeutik. Penisilin G mempunyai masa kerja yang singkat,
dan injeksi intramuskularnya menimbulkan rasa nyeri akibat larutan obat dalam air. Oleh
karena itu, penisilin dengan masa kerja yang lebih panjang, prokain penisilin (berwarna
seperti susu) dihasilkan untuk memperpanjang aktivitasnya. Prokain dalam penisilin
mengurangi nyeri akibat injeksi dari pengobatan ini.
Penisilin V merupakan tipe penisilin yang diproduksi selanjutnya. Meskipun dua pertiga dari
dosis oralnya diabsorpsi oleh saluran gastrointestinal, tetapi obat ini merupakan
antibakterial yang sedikit: kurang kuat dibandingkan dengan penisilin G, Penislin V-efektif
melawan infeksi yang ringan sampai sedang.
Mula-Mula, penisilin dipakai secara berlebihan. Obat ini pertama kali diperkenalkan
untuk.pengobatan infeksi stafilokokus, tetapi beberapa tahun kemudian, berkembang starin
mutan dari stafilokokus yang resisten terhadap, penisilin G dan V. Selain itu, stafilokokus
mensekresi enzim bakteri, penisilinase, yang merusak penisilin; sehingga menjadi tidak
efektif. Ini mendorong dikembangkannya antibiotik baru yang berspektrum luas dengan
struktur serupa dengan penisilin untuk mengatasi infeksi. Yang resisten, terhadap penisilin
G dan V.
1.Penisilin Spektrum Luas: Penisilin spektrum luas dipakai baik untuk mengobati bakteria
gram positif maupun gram negatif Tetapi obat ini tidak efektif "secara luas" dalam melawan
semua mikroorganisme seperti yang diduga sebelumnya. Kelompok obat ini lebih mahal
daripada penisilin dan karena itu tidak boleh dipakai jika penisilin biasa, seperti penisilin G
masih efektif. Penisilin spektrum luas efektif melawan beberapa.organisme gram negatif,
seperti Escherichia coli, Haemophillus, influenzae, Shigella dysenteriae, Proteus mirabilis,
dan Salmonella species, tetapi obat-obat ini tidak bersifat resisten terhadap penisilinase.
Contoh-contoh dari kelompok ini adalah ampisilin, amoksisilin bakampisilin, dan siklasilin.
Amoksisilin adalah derivat penisilin yang paling sering diresepkan untuk orang dewasa dan
anak-anak.
2.Penisilin Resisters Penisilinase: Penisilin resisten penisilinase (penisilin antistafilokokus)
dipakai untuk mengobati Staphylococcus aureus yang menghasilkan penisilinase.
Kloksasilin dan dikloksasilin adalah: preparat oral dari antibiotik ini; metisiln, nafsilin, dan
oksasilin adalah preparat intramuskular dan intravena. Kelompok obat ini tidak efektif
dalam melawan organisme gram negatif dan kurang efektif daripada penisilin-G dalam
melawan organisme gram positif
3.Farmakokinetik: Amoksisilin diabsorpsi dengan baik melalui saluran gastrointestinal, di-
mana kloksasilin hanya sebagian diabsorpsi. Kekuatan pengikatan pada protein dari dua
obat ini berbeda-amoksisilin 20% berikatan pada protein, dan kloksasilin tinggi berikatan
pada protein >90%. Toksisitas obat dapat terjadi jika obatobat lain yang tinggi berikatan
pada' protein dipakai bersamaan dengan kloksasilin. Kedua obat ini mempunyai waktu paruh.
yang singkat. Tujuh puluh persen dari amoksisilin diekskresikan ke dalam urin; kloksasilin
diekskresikan ke dalam empedu dan urin.
4.Farmakodinamik: Baik amoksisilin dan kloksasilin adalah derivat penisilin dan bersifat
bakterisidal. Obatobat ini niengganggu sintesis dinding sel bakteri, sehingga menyebabkan
sel menjadi lisis. Amoksisilin dapat diproduksi dengan atau tanpa asam klavulanat, suatu
agen yang mencegah pemecahan amoksisilin dengan menurunkan resistensi terhadap obat
antibakterial. Penambahan asam klavulanat menambah efek amoksisilin. Preparat
amoksisilin asam klavulanat (Augmentin) dan amoksisilin trihidrat (Amoxil) mempunyai
farmakokinetik dan farmakodinamik yang serupa, dan demikian pula efek samping dan
reaksi merugikannya. Jika memakai aspirin dan probenesid bersama amoksisilin atau
kloksasilin, maka kadar antibakterial serum dapat meningkat. Efek.amoksisilin dan
kloksasilin berkurang jika dipakai bersama eritromisin dan tetrasiklin. Mula kerja, waktu
untuk mencapai kadar puncak, dan lama kerja dari amoksisilin dan kloksasilin sangat serupa.
5.Penisilin Antipseudomonas: Penisilin antipseudomonas merupakan kelompok obat baru
dari penisilin spektrum luas. Kelompok obat ini efektif dalam melawan Pseudomonas
aeruginosa, suatu basilus gram negatif yang sulit dibasmi. Obat-Obat ini juga berguna dalam
melawan banyak organisme gram negatif seperti Proteus spp., Serratia spp., Klebsiella
pneumoniae, dan Acinetobacter spp. Penisilin antipseudomonas bukan merupakan resisten
penisilinase. Kerja farmakologiknya mirip dengan aminoglikosida, tetapi kurang toksik
dibandingkan dengan aminoglikosida.
6.Efek Samping dan Reaksi yang Merugikan: Reaksi merugikan yang sering dari pemberian
penisilin adalah hipersensitifitas dan superinfeksi (timbulnya infeksi sekunder jika flora
tubuh terganggu). Mual, muntah atau diare merupakan gangguan gastrointestinal yang
sering. Ruam kulit merupakan indikator dari adanya reaksi alergi yang ringan sampai
sedang. Reaksi alergi yang berat dapat. menjadi syok anafilaksis. Efek alergi terjadi pada 5-
10% orang yang menerima senyawa penisilin; oleh karena itu, pernantauan ketat sewaktu
pemberian dosis penisilin pertama dan dosis selanjutnya perlu dilakukan.

E.SEFALOSPORIN
Pada tahun 1948, suatu jamur yang disebut dengan Cepahalosporium acremonium,
ditemukan pada pipa pembuangan di tepi pantai Sardinia. Jamur ini ternyata aktif melawan
bakteri gram positif dan gram negatif dan resisten terhadap latamase beta (enzim yang
bekerja melawan struktur laktam beta dari penisilin). Pada awal 1960-an, sefalosporin
dimanfaatkann efektifitasnya dalam klinis. Supaya sefalosporin dapat efektif melawan
banyak organisme, maka molekulnya diubah secara. kimiawi dan diproduksilah
sefalosporin semisintetik. Seperti juga penisilin, sefalosporin mempunyai struktur laktam
beta dan bekerja dengan menghambat enzim bakteri yang diperlukan untuk mensistesis
dinding sel. Terjadilah lisis sel, dan sel bakteripun - mati.
1.Sefalosporin Generasi Pertama, Kedua dan,Ketiga: Tiga kelompok sefalosporin telah
dikembangkan dan diberi nama sebagai generasi. Generasi pertama dari sefalosporin
efektif melawan organisme gram positif dan gram negatif. Sekitar 10% orang yang alergi
terhadap penisilin juga alergi terhadap sefalosporin karena kedua kelompok antibakterial ini
mempunyai struktur molekul yang serupa. Jika seorang klien alergi terhadap penisilin dan
memakai sefalosporin, maka perawat harus mengawasi adanya kemungkinan reaksi alergi
meskipun kemungkinan terjadinya reaksi kecil. Hanya sedikit dari sefalosporin yang
diberikan per oral. Yang termasuk diantaranya adalah sefaleksin (Keflex), sefadroksil
(Duricef), sefradin (Velosef), sefaklor.(Ceclor), sefu roksim asetoksietil ester .(Ceftin) atau
sefu roksim sodium (Zinacef), dan sefiksim (Suprax). Sefalosporin yang lainnya diberikan
intramuskular dan intravena.
2.Farmakokinetik: Sefazolin dan sefamandol diberikan intramuskular dan intravena.
Kekuatan pengikatan pada protein lebih besar daripada sefamandol. Waktu paruh dari
masing-masing obat pendek, dan keduanya diekskresikan tanpa perubahan ke dalam urin.
3.Farmakodinamik: Sefazolin dan sefamandol menghambat sintesis dinding sel bakteri dan
menghasilkan kerja bakterisidal. Pada pemakaian intramuskular dan intravena dari sefazolin
dan sefamandol, mula kerjanya hampir segera dan waktu untuk mencapai konsentrasi
puncak dari ke dua obat ini juga sama. Jika probenesid diberikan dengan salah satu dari
obat-obat ini, maka ekskresi sefazolin atau sefamandol dalam urin akan berkurang, yang
akan meningkatkan kerja obat. Obat-Obat ini dapat menimbulkan hasil positif palsu untuk
pemeriksaan laboratorium proteinuria dan glukosuria, terutama, jika diberikan dalam dosis
besar.
4.Efek Samping dan Reaksi yang Merugikan: Efek samping dan reaksi yang merugikan dari
sefalosporin adalah gangguan gastrointestinal (mual muntah dan diare) perubahan dalam
pembekuan darah (menambah perdarahan) pada pemberian dosis besar dan nefrotok sisitas
(toksisitas pada sel-sel ginjal), pada orang-orang yang memang telah. menderita kelainan
ginjal.
5.Interaksi Obat: Interaksi obat terjadi pada sefalosporin tertentu dan minum alkohol.
Contohnya, dengan minum alkohol sewaktu memakai sefamandol, sefoperazon atau
moksalaktam, dapat menimbulkan flushing, pusing, sakit kepala, mual dan muntah dan
kram otot. Obat-obat urikosurik yang dipakai bersamaan dapat menurunkan ekskresi
sefalosporin dalam urin, sehingga sangat meningkatkan kadar serum.
F.MAKROLID, LINKOSAMID DAN VANKOMISIN
Ketiga kelompok obat ini akan dibahas sekaligus, karena meskipun strukturnya berbeda,
tetapi. mereka mempunyai spektrum efektifitas antibiotik yang sama dengan penisilin. Obat-
Obat.dari ketiga kelompok ini dipakai sebagai pengganti penisilin, terutama bagi mereka
yang alergi terhadap penisilin. Eritromisin adalah obat yang sering diresepkan jika pasien
memiliki hipersensitivitas terhadap penisilin.

G.MAKROLID: ERITROMISIN
Eritromisin, turunan dari bakteri seperti jamur, Streptomyces erythrateus, pertama kali
diperkenalkan pada awal tahun 1950an. Eritromisin menghambat sintesis protein. Dalam
dosis rendah sampai sedang, obat ini mempunyai efek bakteriostatik, dan dengan dosis
tinggi, efeknya bakterisidal. Eritromisin dapat diberikan melalui oral atau intravena. Karena
asam lambung merusak obat, berbagai garam eritromisin (contoh etilsuksinat, stearat, dan
estolat) dipakai untuk mengurangi disolusi (pecah menjadi partikel-partikel kecil) di dalam
lambung dan memungkinkan absorpsi terjadi pada usus halus. Untuk pemakaian intravena,
senyawa, eritromisin laktobionat dan eritromisin gluseptat, dipakai untuk meningkatkan
absorpsi obat.
Eritromisin aktif melawan hampir semua bakteri gram positif, kecuali Staphylococcus aureus,
dan cukup aktif melawan beberapa bakteri gram negatif. Obat ini sering diresepkan sebagai
pengganti penisilin. Obat ini merupakan obat pilihan untuk pneumonia akibat mikoplasma,
dan penyakit Legionnaire.
1.Farmakokinetik: Preparat eritormisin oral diabsorpsi dengan baik melalui saluran
gastrointestinal. Obat ini tersedia untuk pemberian intravena, tetapi harus diencerkan dalam
100 mL salin atau dekstrosa 5% dalam larutan air untuk mencegah flebitis atau rasa terbakar
pada tempat suntikan. Obat ini mempunyai waktu paruh yang singkat dan efek pengikatan
pada proteinnya sedang. Obat ini diekskresikan ke dalam empedu, feses dan sebagian kecil
dalam urin. Karena jumlah yang diekresikan ke dalam urin sedikit, maka insufisiensi ginjal
bukan merupakan kontraindikasi bagi pemakaian eritromisin.
2.Farmakodinamik: Eritromisin menekan sintesis protein bakteri. Mula kerja dari preparat
oral adalah 1 jam, waktu untuk mencapai puncak adalah 4 jam, dan lama kerjanya adalah 6
jam.
3.Efek Samping dan Reaksi yang Merugikan: Efek samping dan Reaksi yang merugikan dari
eritromisin adalah gangguan gastrointestinal, seperti mual dan muntah, diare, dan kejang
abdomen. Reaksi alergi terhadap eritromisin jarang terjadi. Hepatotoksisitas (toksisitas hati)
dapat terjadi jika obat dipakai bersama obat-obat hepatotoksik lainnya,. seperti asetaminofen
(dosis tinggi), fenotiazin dan sulfonamid. Eritromisin estolat (Ilosone), nampaknya lebih
mempunyai efek -toksik pada liver dibandingkan dengan eritormisin lainnya. Kerusakan
hati biasanya bersifat reversibel jika obat dihentikan. Eritromisin; tidak boleh dipakai
bersama klindamisin atau linomisin karena mereka bersaing untuk mendapatkan tempat
reseptor.

H.LINKOSAMID
Klindamisin dan linkomisin merupakan contoh-contoh dari linkosamid. Seperti eritormisin,
obat-obat ini juga menghambat sintesis protein bakteri dan mempunyai efek kerja
bakteriostatik dan bakterisidal, tergantung dari dosis obatnya. Klindamisin lebih banyak dire
sepkan daripada, linkmisin karena klindamisin aktif melawan kebanyakan dari organisme
gram positiff, termasuk. Staphylococcus aureus dan organisme anaerobik. Obat ini tidak
efektif melawan bakteri gram negatif, seperti Escherichia coli, Proteus, dan Pseudomonas.
Klindamisin diabsorpsi lebih baik daripada linkomisin melalui saluran gastrointestinal dan
kadar obat dalam serum dipertahankan lebih tinggi. Klindamisin dianggap lebih efektif
daripada linkomisin dan mempunyai lebih sedikit efek toksik.
1.Efek Samping dan Reaksi yang Merugikan: Efek samping dan reaksi yang merugikan dari
klindamisin dan linkomisin adalah iritasi gastrointestinal, seperti mual, muntah dan
stomatitis. Selain itu, juga dapat terjadi ruam kulit. Reaksi merugikan yang berat adalah
kolitis dan syok anafilaktik.
2.Interaksi Obat: Klindamisin dan linkomisin bersifat inkompatibel dengan aminofilin,
fenitoin (Dilantin), barbiturat, dan ampisilin.

I.VANKOMISI
Vankomisin, antibiotik bakterisidal glikopeptida, dipakai secara luas pada tahun 1950an
untuk mengobati infeksi stafilokokus. Pemakaian obat ini hampir saja ditinggalkan akibat
banyaknya laporan terjadinya nefrotoksisitas dan ototoksisitas. Ototoksistas mengakibatkan
kerusakan cabang auditorius atau vestibularis dari saraf kranial kedelapan.. Kerusakan yang
demikian dapat menimbulkan hilangnya pendengaran yang permanen (cabang auditorius)
atau hilangnya keseimbangan yang permanen (cabang vestibularis). Vankomisin masih
dipakai untuk melawan Staphylococcus aureus yang resisten terhadap obat dan dalam
profilaksis pembedahan jantung untuk mereka yang alergi terhadap penisilin. Kadar
vankomisin dalam serum biasanya diperiksa,pada klien yang menerima obat ini.

J.TETRASIKLIN
Tetrasiklin, diisolasi dari Streptomyces aureofaciens pada tahun 1948, merupakan
antibiotik spektrum luas pertama yang efektif melawan bakteri gram postif dan gram negatif
dan banyak organisme lainnya, seperti mikobakterium, riketsia, spirokaeta, dan klainidia.
Tetrasiklin bekerja dengan menghambat sintesis protein bakteri dan mempunyai efek
bakteriostatik. Tetrasiklin tidak efektif untuk melawan Staphylococcus aureus (kecuali
untuk tetrasiklin yang lebih baru), pseudomonas, atau proteua. Obat ini dapat dipakai
untuk melawan Mycoplasma pneumoniae.
Tetrasiklin seringkali diresepkan untuk pemakaian oral meskipun obat ini juga tersedia
untuk pemakaian intramuskular dan intravena. Karena pemberian tetrasiklin intramuskular
menimbulkan nyeri pada tempat injeksi dan iritasi pada jaringan, maka rute pemberian ini
jarang dipakai. Rute intravena dipakai untuk mengobati infeksi yang berat. Preparat oral
tetrasiklin yang lebih baru, doksisiklin dan minosiklin, lebih cepat dan lebih lengkap
diabsorpsi. Tetrasiklin tidak boleh diminum bersama preparat magnesium dan alumunium
(antasid), produk susu yang mengandung kalsium, atau obat yang mengandung besi,
karena semua substansi ini berikatan dengan tetrasiklin dan mencegah absorpsi obat.
Disarankan agar tetrasiklin, kecuali doksisiklin dan minosiklin, diminum dalam keadaan
lambung kososng 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan. Tabel 21-7 menjelaskan preparat
tetrasiklin, dosis, pemakaian, dan pertimbangan pemakaiannya.
Meskipun tetrasiklin luas dipakai, obat ini mempunyai banyak efek samping, reaksi yang
merugikan, toksisitas, dan interaksi obat.
1.Efek Samping dan Reaksi yang Merugikan: Gangguan gastrointestinal, seperti mual,
muntah, dan diare merupakan efek samping dari tetrasiklin. Fotosensitifitas (reaksi terbakar
sinar matahari) dapat terjadi jika memakai tetrasiklin, khususnya demeklosiklin. Wanita
hamil tidak boleh memakai tetrasiklin selama trimester pertama kehamilan karena adanya
kemungkinan efek teratogenik. Wanita dalam trimester terakhir kehamilan dan anak-anak
yang berusia kurang dari 8 tahun tidak boleh memakai tetrasiklin karena perubahan warna
yang menetap pada gigi tetap. Minosiklin dapat menyebabkan kerusakan pada bagian
vestibular dari telinga dalam, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam menjaga
keseimbangan. Tetrasiklin harus diminum 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan karena
makanan, terutama produk susu, menghambat absorpsi. Tetrasiklin yang kadaluwarsa harus
selalu dimusnahkan karena obat berubah menjadi produk sampingan yang toksik.
Nefrotoksisitas terjadi jika tetrasiklin diberikan dalam dosis tinggi dengan obat-obat
nefrotoksik lainnya. Superinfeksi merupakan masalah-lain yang mungkin terjadi karena
tetrasiklin-dapat-mengganggu 'flora' mikroba dari tubuh.

K.AMINOGLIKOSIDA
Aminoglikosid bekerja dengan menghambat sintesis protein bakteri. Antibiotik
aminoglikosida dipakai untuk melawan bakteri gram negatif, seperti Escherichid coli,
Proteus spp., dan Pseudomonas spp. Beberapa kokus gram positif resisten terhadap
aminoglikosid, sehingga penisilin atau sefalosporin dapat dipakai.
Streptomisin sulfat, diturunkan dari bakteri Streptomyces griseus pada tahun 1944,
merupakan aminoglikosida pertama yang ter sedia untuk pemakaian klinik dan dipakai untuk
mengobati tuberkulosis: Karena sifat ototoksisitasnya dan terjadinya resistensi bakteri, maka
obat ini kini jarang dipakai. Aminoglikosida yang sekarang dipakai untuk mengobati infeksi
Pseudomonas aeruginosa adalah gentamisin (1963), tobramisin (1970), amikasin (l970an),
dan netilmisin (1980an). Netilmisin merupakan satu dari aminoglikosida terbaru, dan
kejadian toksisitas dari obat ini tidak sesering atau seberat obat-obat aminoglikosida yang
lain.
1.Farmakokinetik: Netilmisin diberikan intramuskular atau intravena. Persentase pengikatan
pada proteinnya sebesar 10%, dan mempunyai waktu paruh yang singkat yaitu 2-3 . jam.
Sembilan puluh persen dari obat diekskresi tanpa mengalami perubahan ke dalam urin.
2.Farmakodinamik: Netilmisin menghambat sintesis protein bakteri dan mempunyai efek
bakterisidal. Kategori kehamilan dari aminoglikosid adalah D. Mula kerja untuk pemakaian
intramuskular atau intravena adalah segera. Waktiu untuk, mencapai konsentrasi puncak
dalam serum serupa dengan untuk pemberian IM atau IV, yaitu 0,5-1,5 jam. Aminoglikosida
tidak dengan cepat diabsorpsi melalui saluran gastrointestinal o1eh karena itu obat ini
diberikan intramuskular dan intravena. Untuk memastikan tercapainya kadar darah yang
dinginkan, maka obat ini biasanya diberikan intravena. Aminoglikosida dapat diberikan
bersama penisilin dan sefalosporin, tetapi tidak diberikan bersama-sama dalam satu
kemasan. Jika memberikan kombinasi antibiotik secara intravena, maka jalur IV harus
dibilas setiap kali satu macam antibiotik selesai diberikan untuk memastikan bahwa antibiotik
tersebut lengkap diberikan.
3.Efek Samping dan Reaksi Yang Merugikan: Reaksi merugikan yang serius dari
aminoglikosida adalah ototoksistas dan nefrotoksisitas. Nefrotoksisitas dapat terjadi,
tergantung dari fungsi ginjal, dosis obat, dan usia (muda dan lanjut usia). Pemberian dosis
yang hati-hati sangat perlu diperhatikan pada klien yang muda atau lanjut usia. Perawat harus
menilai perubahan pendengaran, keseimbangan dan keluaran urin klien. Pemakaian
aminoglikosida yang berkepanjangan dapat menimbulkan superinfeksi.

L.QUINOLON
Mekanisme kerja quinolon., adalah dengan menghambat enzim girase DNA, yang
diperlukan untuk sintesis DNA bakteri. Spektrum antibakterialnya mencakup baik
organisme gram positif maupun gram negatif. Obat ini bersifat bakterisidal. Asam nalidiksat
dan. sinosaksin merupakan derivat kelompok quinolon pertama, yang diresepkan terutama
untuk infeksi saluran kemih akibat organisme; gram negatif yang seperti, seperti Escherichia -
coli.
Siprofloksasin dan norfloksasm merupakan antibakterial sintetik darn asam nalidiksat. Kedua
quinolon mi mempunyai spektrum kerja yang luas pada organisme gram positif dan gram
negatif, termasuk : Pseudomonas aeruginosa Norfloksasin diindikasikan untuk infeksi saluran
kemih, dan sprofloksasin, telah disetujui oleh FDA (badan pengawasan obat dan makanan di
Amerika) untuk infeksi saluran kemih; infeksi saluran pernapasan bagian bawah dan infeksi
kulit, jaringan lunak, tulang dan sendi. Pemakaian siprofloksasin tidak hanya terbatas untuk
saluran kemih tetapi juga sama efektifnya untuk mengobati infeksi tulang, sendi, dan
jaringan lunak.
1.Farmakokinetik: Sekitar 70% dari siprofloksasin hidroklorida (Cipro) diabsorpsi melalui
saluran gastrointestinal. Obat ini mempunyai efek pengikatan pada protein yang rendah dan
mempunyai waktu paruh yang cukup singkat yaitu, 3-4 jam. Sekitar setengah dari obat ini
diekskresikan tanpa mengalami perubahan ke dalam urin.
2.Farmakodinamik: Siprofloksasin menghambat sintesis DNA bakteri dengan menghambat
enzim, girase DNA. Obat ini mempunyai distribusi jaringan yang tinggi. Jika memungkinkan,
obat ini dipakai sebelum makan karena makanan memperlambat laju absorpsi. Jika
memakai probenesid bersama siprofloksasin, maka kerja obat siprofloksasin meningkat.
Siprofloksasin memperpanjang kerja obat dari teofilin. Siprofloksasin mempunyai mula kerja
rata-rata sekitar 0,5-1,0 jam, dan waktu untuk mencapai konsentrasi puncak adalah 1-2 jam.
Lama kerja obat ini tidak diketahui.