Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Interaksi Obat
Untuk Mempercepat Dan Memperlambat Metabolisme. Dan kepada Rasullah Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa dunia dari alam jahilyahh menuju kealam terang
seperti yang dirasakan sampai saat ini.
Dengan segala kerendahan hati kami mengucapkan terimah kasih yang setinggi-
tingginya kepada semua pihak yang telah berjasa memberikan motivasi dalam rangka
menyelesaikan makalah ini. Khususnya kepada kepada dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan kepada kami, teman-teman yang telah bekerja sama untuk
memberikan motivasi dan masukan sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan waktu
yang telah ditentukan.
Akhir kata, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, untuk
itu segala kritik dan saran sangat kami butuhkan demi kesempurnaan pembuatan makalah
selanjutnya.

Mataram , september 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Interaksi obat didefinisikan oleh Committee for Proprietary Medicine Product
(CPMP) sebagai suatu keadaan bilamana suatu obat dipengaruhi oleh penambahan
obat lain dan menimbulkan pengaruh klinis. Biasanya, pengaruh ini terlihat sebagai
suatu efek samping, tetapi terkadang pula terjadi perubahan yang
menguntungkan.Obat yang memengaruhi disebut sebagai precipitant drug, sedangkan
obat yang dipengaruhi disebut sebagai object drug.
Interaksi obat terjadi jika suatu obat mengubah efek obat lainnya.Kerja obat
yang diubah dapat menjadi lebih atau kurang aktif. Sebuah interaksi obat terjadi
ketika farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh
kehadiran satu atau lebih zat yang berinteraksi.Obat yang diberikan dapat bersaing
satu dengan yang lainnya, atau apa yang terjadi ketika obat hadir bersama satu dengan
yang lainnya sehingga interaksi obat menjadi penting untuk dipertimbangkan
.Interaksi obat dapat terjadi pada manusia maupun pada hewan yang mengonsumsi
obat. Karena interaksi obat pada terapi obat dapat menyebabkan kasus
yang parah dan kerusakan-kerusakan pada pasien,maka interaksi obat harus jauh
lebih diperhatikan agar dapat meminimalisir keparahannya.
Beberapa studi menyebutkan proporsi interaksi obat dengan obat lain (antar
obat) berkisar antara 2,2% sampai 30% terjadi pada pasien rawat-inap dan 9,2%
sampai 70,3% terjadi pada pasien-pasien rawat jalan, walaupun kadang-kadang
evaluasi interaksi obat tersebut memasukkan pula interaksi secara teoretik selain
interaksi obat sesungguhnya yang ditemukan dan terdokumentasi.Di Amerika Serikat,
insidensi interaksi obat yang mengakibatkan reaksi efek samping sebanyak 7,3%
terjadi di rumah sakit lebih dari 88% terjadi pada pasien geriatrik di rumah sakit.
Orang mengalami resiko efek samping karena interaksi obat, dan seberapa jauh risiko
efeks amping dapat dikurangi diperlukan jika akan mengganti obat yang berinteraksi
dengan obat alternatif. Dengan mengetahui bagaimana mekanisme interaksi antar
obat, dapat diperkirakan kemungkinan efek samping yang akan terjadi dan melakukan
antisipasi. Makalah ini bermaksud menguraikan mekanisme interaksi obat pada proses
metabolisme.
B. TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Interaksi obat pada
fase metabolisme.
C. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dari makalah ini adalah bagaimana interaksi obat pada fase
metabolisme?
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN INTERAKSI OBAT


Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain
(interaksiobat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain.
Interaksi obat yangsignifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan
bersama-sama. Interaksi obat secara klinis penting bila berakibat peningkatan
toksisitas dan/ataupengurangan efektivitas obat. Jadi perlu diperhatikan terutama bila
menyangkut obat denganbatas keamanan yang sempit (indeks terapi yang
rendah), misalnya glikosida jantung,antikoagulan dan obat-obat sitostatik. Selain
itu juga perlu diperhatikan obat-obat yang biasadigunakan bersama-sama.
Kejadian interaksi obat dalam klinis sukar diperkirakan karena :
Dokumentasinya masih sangat kurang.
Seringkali lolos dari pengamatan, karena kurangnya pengetahuan akan mekanisme
dan kemungkinan terjadi interaksi obat. Hal ini mengakibatkan interaksi
obat berupa peningkatan toksisitas dianggap sebagai reaksi idiosinkrasi terhadap
salah satu obat,sedangkan interaksi berupa penurunakn efektivitas dianggap
diakibatkan bertambah parahnya penyakit pasien.
Kejadian atau keparahan interaksi obat dipengaruhi oleh variasi individual, di
manapopulasi tertentu lebih peka misalnya pasien geriatric atau berpenyakit parah,
dan bisajuga karena perbedaan kapasitas metabolisme antar individu. Selain itu faktor
penyakittertentu terutama gagal ginjal atau penyakit hati yang parah dan faktor-faktor
lain (dosisbesar, obat ditelan bersama-sama, pemberian kronik)

B. MEKANISME INTERAKSI OBAT


Interaksi diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan dalam proses farmakokinetik
maupun farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik ditandai dengan perubahan kadar
plasma obat, area dibawah kurva (AUC), onset aksi, waktu paruh dsb. Interaksi
farmakokinetik diakibatkan oleh perubahan laju atau tingkat absorpsi,
distribusi, metabolisme dan ekskresi. Interaksi farmakodinamik biasanya
dihubungkan dengan kemampuan suatu obat untuk mengubah efek obat lain tanpa
mengubah sifat-sifat farmakokinetiknya. Interaksi farmakodinamik meliputi
aditif(efek obat A =1, efek obat B = 1, efek kombinasi keduanya = 2), potensiasi (efek
A = 0, efek B =1, efek kombinasi A+B = 2), sinergisme (efek A = 1, efek B = 1, efek
kombinasi A+B = 3) danantagonisme (efek A = 1, efek B = 1, efek kombinasi A+B =
0). Mekanisme yang terlibat dalam interaksi farmakodinamik adalah perubahan efek
pada jaringan atau reseptor.

C. METABOLISME
Metabolisme obat adalah proses modifikasi biokimia senyawa obat
oleh organisme hidup, pada umumnya dilakukan melalui proses enzimatik. Proses
metabolisme obat merupakan salah satu hal penting dalam penentuan durasi dan
intensitas khasiat farmakologis obat. Karena senyawa lipofil sebagian besar
direabsorpsi kembali kedalam tubuli ginjal setelah filtrsi glomerulus,maka senyawa
ini dapat dieksresi dengan lambat melalui ginjal.Karena itu bila senyawa itu tidak
dirubah secara kimia,mungkin berbahaya karena bahan bahan demikian
menetap dalam tubuh dan terakumulasi terutama dalam jaringan lemak.
Karena itu tidak mengherankan bahwa organisme memiliki system enzim yang
dapat mengubah xenobiotika lipofil menjadi bahan yang lebih hidrofil dan lebih
mudah diekskresi.Laju ekskresi bahan yang larutdalam lemak bergantung,sebagian
besar kepada berapa cepat senyawa ini dimetabolisme menjadi senyawa senyawa
yang lebih larut dalam air dalam organisme. Proses perubahan senyawa asing
tersebut dinamakan biotransformasi.
Untuk menghasilkan efek sistemik dalam tubuh, obat harus mencapai reseptor,
berarti obat harus dapat melewati membran plasma. Untuk itu obat harus larut lemak.
Metabolisme dapat mengubah senyawa aktif yang larut lemak menjadi senyawa larut
air yang tidak aktif, yang nantinya akan diekskresi terutama melalui ginjal. Obat dapat
melewati dua fase metabolisme, yaitu metabolisme fase I dan II. Pada metabolisme
fase I, terjadi oksidasi, demetilasi, hidrolisa, dsb. oleh enzim mikrosomal hati yang
berada di endothelium, menghasilkan metabolit obat yang lebih larut dalam air. Pada
metabolisme fase II, obat bereaksi dengan molekul yang larut air (misalnya asam
glukuronat, sulfat, dsb) menjadi metabolit yang tidak atau kurang aktif, yang larut
dalam air. Suatu senyawa dapat melewati satu atau kedua fase metabolisme di atas
hingga tercapai bentuk yang larut dalam air. Sebagian besar interaksi obat yang
signifikan secara klinis terjadi akibat metabolisme fase I dari pada fase II.
1. Mekanisme Metabolisme Obat
Metabolisme obat sebagian besar terjadi di retikulum endoplasma sel-sel hati. Selain
itu,metabolisme obat juga terjadi di sel-sel epitel pada saluran pencernaan, paru-paru,
ginjal, dan kulit. Terdapat 2 fase metabolisme obat, yakni fase I dan II. Pada reaksi-
reaksi ini, senyawa yang kurang polar akan dimodifikasi menjadi senyawa metabolit
yang lebih polar. Proses ini dapat menyebabkan aktivasi atau inaktivasi senyawa obat.

Reaksi fase I, disebut juga reaksi nonsintetik, terjadi melalui reaksi-reaksi


oksidasi, reduksi,hidrolisis, siklikasi, dan desiklikasi. Reaksi oksidasi terjadi bila ada
penambahan atom oksigen atau penghilangan hidrogen secara enzimatik. Biasanya
reaksi oksidasi ini melibatkan sitokromP450 monooksigenase (CYP), NADPH,
dan oksigen. Obat-obat yang dimetabolisme menggunakan metode ini antara lain
golongan fenotiazin, parasetamol, dan steroid.
Reaksi oksidasi akan mengubah ikatan C-H menjadi C-OH, hal ini
mengakibatkan beberapa senyawa yang tidak aktif (pro drug) secara farmakologi
menjadi senyawa yang aktif. Juga,senyawa yang lebih toksik/beracun dapat terbentuk
melalui reaksi oksidasi ini.
Reaksi fase II, disebut pula reaksi konjugasi, biasanya merupakan reaksi
detoksikasi dan melibatkan gugus fungsional polar metabolit fase I, yakni gugus
karboksil (-COOH), hidroksil (-OH), dan amino (NH2), yang terjadi melalui reaksi
metilasi, asetilasi, sulfasi, dan glukoronidasi.Reaksi fase II akan meningkatkan berat
molekul senyawa obat, dan menghasilkan produk yang tidak aktif. Hal ini merupakan
kebalikan dari reaksi metabolisme obat pada fase I.

Metabolisme obat dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain faktor


fisiologis (usia,genetika, nutrisi, jenis kelamin), serta penghambatan dan juga
induksi enzim yang terlibat dalam proses metabolisme obat. Selain itu, faktor
patologis (penyakit pada hati atau ginjal) jugaberperan dalam menentukan laju
metabolisme obat.
Induksi dan Inhibisi Enzim
Induksi enzim : menaikkan kecepatan biosintesis enzim menyebabkan meningkatnya
laju metabolisme yang umumnya deaktivasi obat, sehingga mengurangi kadarnya
dalam plasma dan memperpendek waktu paruh obat.Karena itu intensitas dan durasi
efek farmakologinya berkurang.

Contoh :

2. Interaksi Pada Proses Metabolisme


a. Peningkatan metabolisme
Beberapa obat bisa meningkatkan aktivitas enzim hepatik yang terlibat
dalam metabolisme obat-obat lain. Misalnya fenobarbital meningkatkan
metabolisme warfarin sehingga menurunkan aktivitas antikoagulannya. Pada
kasus ini dosis warfarin harus ditingkatkan, tapi setelah pemakaian fenobarbital
dihentikan dosis warfarin harus diturunkan untuk menghindari potensi
toksisitas. Sebagai alternative dapat digunakan sedative selain barbiturate,
misalnya golongan benzodiazepine. Fenobarbital juga meningkatkan
metabolisme obat-obat lain seperti hormone steroid.
Barbiturat lain dan obat-obat seperti karbamazepin, fenitoin dan
rifampisin juga menyebabkan induksi enzim.Piridoksin mempercepat
dekarboksilasi levodopa menjadi metabolit aktifnya, dopamine,dalam
jaringan perifer. Tidak seperti levodopa, dopamine tidak dapat melintasi sawar
darahotak untuk memberikan efek antiparkinson. Pemberian karbidopa
(suatu penghambat dekarboksilasi) bersama dengan levodopa, dapat mencegah
gangguan aktivitas levodopa oleh piridoksin.

b. Penghambatan metabolisme
Suatu obat dapat juga menghambat metabolisme obat lain, dengan dampak
memperpanjang atau meningkatkan aksi obat yang dipengaruhi. Sebagai
contoh, alopurinol mengurangi produksi asam urat melalui penghambatan enzim
ksantin oksidase, yang memetabolisme beberapa obat yang potensial toksis seperti
merkaptopurin dan azatioprin. Penghambatan ksantin oksidase dapat secara
bermakna meningkatkan efek obat-obat ini. Sehingga jikadipakai bersama
alopurinol, dosis merkaptopurin atau azatioprin harus dikurangi hingga 1/3 atau
dosis biasanya.Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim
pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat
menaikkan kadar salah satu obat dalam plasma, sehingga meningkatkan efeknya
atau toksisitasnya. Contoh: pemberian S-warfarin bersamaan dengan
fenilbutazon dapat menyebabkan meningkatnya kadar Swarfarin dan terjadi
pendarahan.
Simetidin menghambat jalur metabolisme oksidatif dan dapat meningkatkan
aksi obat-obat yang dimetabolisme melalui jalur ini (contohnya karbamazepin,
fenitoin, teofilin, warfarindan sebagian besar benzodiazepine). Simetidin
tidak mempengaruhi aksi benzodiazepin,lorazepam, oksazepam dan temazepam,
yang mengalami konjugasi glukuronida. Ranitidin mempunyai efek terhadap
enzim oksidatif lebih rendah dari pada simetidin, sedangkan famotidin dan
nizatidin tidak mempengaruhi jalur metabolisme oksidatif. Eritromisin dilaporkan
menghambat metabolisme hepatik beberapa obat sepertikarbamazepin dan
teofilin sehingga meningkatkan efeknya. Obat golongan fluorokuinolonseperti
siprofloksasin juga meningkatkan aktivitas teofilin, diduga melalui mekanisme
yangsama.
c. Induktor enzim
Pemberian suatu obat bersamaan dengan obat lain yang enzim
pemetabolismenya sama dapat terjadi gangguan metabolisme yang dapat
menurunkan kadar obat dalam plasma,sehingga menurunkan efeknya atau
toksisitasnya.Contoh: pemberian estradiol bersamaan dengan rifampisin akan
menyebabkan kadar estradiol menurun dan efektifitas kontrasepsi oral estradiol
menurun.
Interaksi pada proses metabolisme merupakan kasus yang paling banyak
terjadi, dimana sekitar 50-60% obat yang digunakan dalam terapi dapat saling
berinteraksi pada enzim yang sama. Diantara enzim metabolisme yang lebih
banyak terlibat adalah enzim-enzim mikrosomal pada fase-1, yaitu yang
melakukan proses oksidasi, reduksi, dan hidroksilasi obat khususnya isoform
CYP3A. enzim CYP lainnya juga terlibat dalam interaksi obat, namun
presentasinya lebih kecil dibandingkan keterlibatan CYP3A. ada dua mekanisme
interaksi pada enzim metabolisme-inhibisi dan induksi enzim, dan hal ini dapat
terjadi di saluran usus dan hati sebagai organ organ utama metabolisme obat. Efek
inhibisi atau induksi enzim terhadap obat lain akan bermakna klinik.
Jika inhibitor atau induser diberikan dalam waktu yang cukup misalnya
beberapa hari untuk inhibitor, dan lebih dari satu minggu untuk inducer untuk
menampakkan aksinya. Normalisasi enzim ke keadaan semula setelah
penghentian inhibitor atau inducer memerlukan waktu yang relative lebih cepat
untuk inhibitor, dan lebih lama untuk induser enzim-tergantung beberapa lama
induksi enzim berlangsung.
Jika inhibitor atau induser diberikan dengan dosis besar (refaltif terhadap jumlah
enzim), akan mempengaruhi aktivitas enzim metabolisme secara signifikan.
Tergantung beberapa jenis enzim yang terlibat dalam metabolisme obat . jika
suatu obat (substrat) hanya dimetabolisme oleh satu jenis enzim saja, maka
inhibisi atau induksi enzim tersebut akan memberikan efek yang signifikan
terhadap obat. Misalnya atorvastatin dimetabolismee oleh CYP3A, dan inhibisi
enzim oleh itrakonazol menyebabkan AUC atorvastatin meningkat 3-4 kali
lipat.
Penyesuaian kembali dosis obat, setelah diubah ketika proses inhibisi dan
induksi berlangsung, amat diperlukan untuk mencegah kegagalan terapi.
Efek inhibisi atau induksi enzim metabolisme terhadap hasil terapi sulit
diperkirakan jika terjadi pada pemetabolisme lambat, cepat, atau ultra cepat
(poor, extensive, dan ultra rapid metabolizer). Selain itu, karena kapasitas
metabolisme dipengaruhi berbagai variabel (usia, jenis kelamin, kehamilan,
genetic, jenis, dan intensitas patologi) maka manifestasi klinik juga akan
tergantung seberapa besar pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap enzim
metabolisme.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain
(interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia
lain.Metabolisme obat adalah proses modifikasi biokimia senyawa obat oleh
organisme hidup, pada umumnya dilakukan melalui proses enzimatik.Terdapat 2 fase
metabolisme obat, yakni fase I dan II. Pada reaksi-reaksi ini, senyawa yang kurang
polar akan dimodifikasi menjadi senyawa metabolit yang lebih polar. Proses ini dapat
menyebabkan aktivasi atau inaktivasi senyawa obat. Interaksi pada proses
metabolisme terdiri dari Peningkatan metabolisme, hambatan metabolisme dan
Inductor enzim.

B. SARAN
Saran yang dapat diberikan oleh penulis pada para pembaca Interaksi obat yaitu
dalam memilih obat harus diperhatikan betul interaksinya baik-baik. Dengan
memperhatikan interaksi obat yang akan terjadi jika digunakan, ini dapat dilihat dari
indikasi dan kontraindikasi karena cara ini cukup mudah dan bisa digunakan di
lapangan. Tidak bisa di pungkiri dalam mengunakan obat pasti akan terjadi interaksi
obat, tapi hal ini tidak boleh membuat kita takut. dengan adanya interaksi obat ini
maka kita dapat merancang/memformulisasikan obat agar di dapatkan manfaat yang
maksimal(khasiat). Intinya dengan adanya interaksi obat ini kita jangan takut malah
ini bisa digunakan untuk penyembuhan.
DAFTAR PUSTAKA

Jung D. 1985. Clinical Pharmacokinetics. Moduls Yogyakarta


Melader A, Dabielson K, Schereten B, et al. Enhancement by food of Canrenonebiovailability
form spironolactone. Clin Pharmacol Ther 199; 22:100-103.
Mutschler, E., 1985, Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi, 88-93, Penerbit
ITB,Bandung
Sulistia, dkk, 2007, Famakologi dan Terapi, 862-872, UI Press, Jakarta