Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang berasal dari sel

epitel nasofaring (Brennan, 2006).

Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang relatif jarang ditemukan

pada beberapa tempat seperti Amerika Utara dan Eropa dengan insiden

penyakit 1 per 100.000 penduduk. Tumor ganas ini lebih sering terdapat di Asia

Tenggara termasuk Cina, Hongkong, Singapura, Malaysia dan Taiwan dengan

insiden antara 10 53 kasus per 100.000 penduduk. Di India Timur Laut,

insiden pada daerah endemik antara 25 50 kasus per 100.000 penduduk

(Zinyu et al., 1989; Perez et al., 1989). Di Eskimo, Alaska, Greenland, dan

Tunisia insidennya juga meningkat yaitu 15-20 kasus per 100.000 penduduk

per tahun.

Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas kepala dan leher

yang terbanyak ditemukan di Indonesia yaitu sekitar 60% dan menduduki

urutan ke-5 dari seluruh keganasan setelah tumor ganas mulut rahim,

payudara, getah bening, dan kulit (Roezin, 2001).

Angka prevalensi KNF di Indonesia adalah 3,9 kasus per 100.000

penduduk per tahun (Fachiroh et al., 2004). Soetjipto di RSCM Jakarta

melaporkan dari tahun 1980- 1984 menemukan 559 kasus KNF dimana kasus

dini 3,4-7,9% dan kasus lanjut 88,7%, dan pada tahun 1988-1992 menemukan

524 kasus KNF dengan kasus dini 0,9- 2,9% dan kasus lanjut sebesar 96,2%.

Universitas Sumatera Utara


Di RSUP H. Adam Malik Medan selama Januari 1991 sampai April 1996

didapatkan 94 kasus KNF dari 160 kasus tumor ganas (Adnan, 1996), pada

tahun 1998-2002 ditemukan 130 penderita KNF dari 1370 pasien baru onkologi

kepala dan leher (Lutan, 2003), dan selama Juli 2005 sampai Juni 2006

terdapat 79 penderita baru KNF (Aliandri, 2007).

Penelitian terhadap karsinoma nasofaring ini mendapat banyak

perhatian. Hal ini disebabkan oleh adanya interaksi yang cukup kompleks dari

etiologi penyakit seperti faktor genetik, lingkungan dan virus Epstein-Barr

(Perez et al., 2003). Tahun 1985, Ho menyatakan sebuah hipotesis bahwa

etiologi dari karsinoma nasofaring adalah infeksi dari virus Epstein-Barr (Ferri et

al., 1990).

Hubungan KNF dengan virus Epstein-Barr telah dilaporkan dari

beberapa penelitian, yang mana didapatkan 100% VEB pada sel-sel KNF

(Ganguly, 2003). Selama infeksi laten, VEB mengekspresikan beberapa protein

laten yaitu EBV nuclear antigen (EBNA 1, 2 3A, 3B, 3C, -LP), tiga latent

membrane protein (LMP1, LMP2A, LMP2B), dan dua EBV non-polyadenilated

RNA (EBER) yaitu EBER 1 dan 2 (Korcum et al., 2006).

LMP1 memegang peranan penting dalam patogenesis dan

perkembangan karsinoma nasofaring yang mana ekspresinya berhubungan

dengan prognosa yang buruk (Gullo et al., 2008). Dan telah dilaporkan bahwa

ekspresi LMP1 di deteksi sekitar 50 - 65% pada penderita KNF dengan VEB

positif (Hu et al., 2000; Lo et al., 2003).

LMP1 mempunyai kemampuan untuk menginduksi bermacam susunan

morfologi dan efek fenotip pada sel (Zheng et al., 2007). LMP1 menstimulasi

ekspresi bcl2 sehingga terjadi penurunan indeks apoptosis yang

mengakibatkan proses apoptosis terhambat dan menyebabkan proliferasi sel

Universitas Sumatera Utara


(Wang, 1996; Li et al., 2000; Sarac et al., 2001). LMP1 positif memiliki potensi

menyebabkan metastase dan mempercepat progresivitas penyakit. LMP1 juga

terlibat dalam menekan respon imun terhadap KNF (Chou, 2008). Pada

beberapa penelitian menunjukkan bahwa KNF dengan LMP1 positif akan lebih

cepat tumbuh dibandingkan dengan LMP1 negatif (Hu et al., 1995). KNF

dengan LMP1 positif dilaporkan lebih sering terjadi perluasan sampai ke luar

daerah nasofaring (Korcum et al., 2006).

Telah banyak penelitian di luar negeri yang membuktikan bahwa tingkat

ekspresi LMP1 VEB dapat dijadikan pemeriksaan untuk skrining KNF didaerah

dengan insiden tinggi, serta memonitor rekurensi KNF dengan menggunakan

pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) yang diambil dengan cara

swab (sikat) pada daerah nasofaring (Lin, 2006).

WHO tipe 2 dan 3 KNF berhubungan erat dengan virus Epstein-Barr

dan mempunyai prognosa yang lebih baik daripada WHO tipe 1. Infeksi VEB

biasanya jarang terdapat pada WHO tipe 1, terutama pada daerah non

endemis. Walaupun demikian, hampir semua kasus KNF mempunyai

hubungan yang erat dengan virus Epstein-Barr (Chou et al., 2008).

Kesulitan diagnosis dini pada KNF sampai saat ini masih tetap

merupakan problem besar bagi kita. Hal ini disebabkan oleh karena gejala

penyakit yang tidak khas, letak tumor yang tersembunyi sehingga sulit di

periksa. Di samping itu pemeriksaan serologi dan histopatologi yang belum

memadai seperti pewarnaan imunohistokimia serta hampir seluruh penderita

datang pada stadium lanjut. Keadaan inilah yang menyebabkan

penatalaksanaan KNF belum memberikan hasil yang memuaskan (Soetjipto,

1993).

Universitas Sumatera Utara


Usaha untuk menjadikan VEB sebagai target terapi KNF telah banyak

dilakukan, salah satunya dengan menggunakan LMP1 sebagai target terapi

tingkat sel. Beberapa penelitian melaporkan keberhasilan penggunaan terapi

yang ditargetkan pada sel VEB dengan limfosit T sitotoksik spesifik (cytotoxic T

lymphocytes/CTLs), untuk KNF yang tidak berhasil dengan terapi secara

konvensional (Duraiswamy et al., 2003 ; Straathof et al., 2005 ; Comoli et al.,

2005).

Oleh karena belum adanya data mengenai ekspresi LMP1 pada

karsinoma nasofaring di Medan, Sumatera Utara, berdasarkan latar belakang

yang diuraikan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan

antara ekspresi LMP1 dengan berbagai stadium tumor dan jenis histopatologi

pada karsinoma nasofaring.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat

dirumuskan suatu masalah sebagai berikut :

Bagaimana hubungan ekspresi Latent Membrane Protein 1 (LMP1)

dengan berbagai stadium tumor dan jenis histopatologi pada Karsinoma

Nasofaring?

1.3 TUJUAN PENELITIAN

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan ekspresi Latent Membrane Protein 1

(LMP 1) dengan berbagai stadium tumor dan jenis histopatologi

pada Karsinoma Nasofaring.

Universitas Sumatera Utara


1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui ekspresi LMP1 pada penderita KNF

2. Mengetahui hubungan ekspresi LMP1 dengan stadium tumor

pada penderita KNF

3. Mengetahui hubungan ekspresi LMP1 dengan jenis

histopatologi pada penderita KNF

4. Mengetahui hubungan ekspresi LMP1 dengan derajat tumor (T),

metastase kelenjar getah bening leher (N), dan Metastase jauh

(M) pada penderita KNF.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Manfaat Teoritik

Dapat memahami peran LMP1 pada KNF dalam prognosis dan

progresivitas penyakit.

1.4.2 Manfaat Praktis

Sebagai dasar penelitian selanjutnya dalam pemberian

imunoterapi/terapi target untuk meningkatkan efek terapi dasar KNF di

masa mendatang.

Universitas Sumatera Utara