Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

KONSEP KEBIDANAN TENTANG NILAI-NILAI PROFESI BIDAN DAN


STANDAR PROFESI BIDAN

Disusun Oleh :
Kelompok 3
PRATIWI YUSMITA (1615301005)
ELOK FUIKHOTUL FADILA (1615301006)
YESI NOVA SELVIA (1615301013)
WINDA DEANI BALQIS (16153010

TIM DOSEN
Novita Rudiyanti, SST, M.Kes
Nelly Indrasari, SsiT, M.Kes
I Gusti A Yu Mirah Widhisastri, M.Keb

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG

JURUSAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDII DIPLOMA IV KEBIDANAN TANJUNG KARANG

2016/2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga berhasil menyelesaikan makalah
ini tepat pada waktunya yang berjudul Konsep Kebidanan tentang nilai-nilai
profesi bidan dan standar profesi bidan sebagai kewajiban untuk memenuhi tugas
dosen Ibu Novita mata kuliah Konsep Kebidanan.

Makalah ini berisikan tentang informasi Konsep Kebidanan tentang nilai-


nilai profesi bidan dan standar profesi bidan. Diharapkan makalah ini dapat
memberikan pemahaman tentang konsep kebidanan pada nilai-nilai profesi bidan
dan standar profesi bidan.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terimakasih banyak kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam proses penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua yang membacanya.

Bandar Lampung, 14 September 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

JUDUL .......................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................ ii

DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................................ 2
BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Nilai-nilai Profesi Bidan .......................................................... 3

2.1.1 Nilai Dan Kepercayaan Kebidanan ................................. 4

2.1.2 Konsep Role Model ........................................................ 4

2.1.3 Konsep Keputusan Moral dan Teori Moral .................... 5

2.1.4 Konsep Tanggung Jawab Profesi Bidan ......................... 7

2.1.5 Etika Profesi .................................................................... 7

2.1.6 Nilai dan Kepercayaan Bidan.......................................... 8

2.2 Standar Profesi Bidan .............................................................. 13

2.2.1 Kebidanan Sebagai Profesi ........................................... 13

2.2.2 Praktek Profesional Kebidanan ..................................... 13

2.2.3 Standar Pendidikan Profesional .................................... 16

2.2.4 Standar Pendidikan Profesional Bidan dan Standar

Pendidikan Berkelanjutan ............................................. 17

2.2.5 Standar Kompetensi Profesi Bidan ............................... 18

2.2.6 Standar Praktik Kebidanan ............................................ 23

3
BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan ............................................................................ 24

3.2 Saran ....................................................................................... 24

DAFTAR PUSTAKA

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa
yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. Sebagai
contoh, orang menanggap menolong memiliki nilai baik, sedangkan mencuri
bernilai buruk. Woods mendefinisikan nilai sosial sebagai petunjuk umum
yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan
dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak
pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh
kebudayaan yang dianut masyarakat. Tak heran apabila antara masyarakat
yang satu dan masyarakat yang lain terdapat perbedaan tata nilai. Contoh,
masyarakat yang tinggal di perkotaan lebih menyukai persaingan karena
dalam persaingan akan muncul pembaharuan-pembaharuan. Sementara pada
masyarakat tradisional lebih cenderung menghindari persaingan karena dalam
persaingan akan mengganggu keharmonisan dan tradisi yang turun-temurun.

Drs. Suparto mengemukakan bahwa nilai-nilai sosial memiliki fungsi


umum dalam masyarakat. Di antaranya nilai-nilai dapat menyumbangkan
seperangkat alat untuk mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan
bertingkah laku. Selain itu, nilai sosial juga berfungsi sebagai penentu terakhir
bagi manusia dalam memenuhi peranan-peranan sosial. Nilai sosial dapat
memotivasi seseorang untuk mewujudkan harapan sesuai dengan peranannya.
Contohnya ketika menghadapi konflik, biasanya keputusan akan diambil
berdasarkan pertimbangan nilai sosial yang lebih tinggi. Nilai sosial juga
berfungsi sebagai alat solidaritas di kalangan anggota kelompok masyarakat.
Dengan nilai tertentu anggota kelompok akan merasa sebagai satu kesatuan.
Nilai sosial juga berfungsi sebagai alat pengawas (kontrol) perilaku manusia
dengan daya tekan dan daya mengikat tertentu agar orang berprilaku sesuai
dengan nilai yang dianutnya.

5
1.2 Rumusan masalah
Apa yang dimaksud dengan Nilai dan kepercayaan kebidanan
Apa yang dimaksud dengan Konsep role model
Apa yang dimaksud dengan Konsep keputusan moral dan teori moral
Apa yang dimaksud dengan Konsep tanggung jawab profesi bidan
Apa yang dimaksud dengan Etika profesi
Apa yang dimaksud dengan Nilai dan kepercayaan bidan dipandang
dari role model, keputusan moral dan sosial budaya masyarakat
yang berdasarkan etika dan tanggungjawab profesi
Apa yang dimaksud dengan Standar profesi bidan
Apa yang dimaksud dengan Kebidanan sebagai profesi
Apa yang dimaksud dengan Praktek profesional kebidanan
Apa yang dimaksud dengan Standar pendidikan profesionalUntuk
mengetahui Standar pendidikan profesional bidan dan standar
pendidikan berkelanjutan
Apa yang dimaksud dengan Standar kompetensi profesi bidan
Apa yang dimaksud dengan praktik kebidanan

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui Nilai dan kepercayaan kebidanan
Untuk mengetahui Konsep role model
Untuk mengetahui Konsep keputusan moral dan teori moral
Untuk mengetahui Konsep tanggung jawab profesi bidan
Untuk mengetahui Etika profesi
Untuk mengetahui Nilai dan kepercayaan bidan dipandang dari
role model, keputusan moral dan sosial budaya masyarakat yang
berdasarkan etika dan tanggungjawab profesi
Untuk mengetahui Standar profesi bidan
Untuk mengetahui Kebidanan sebagai profesi
Untuk mengetahui Praktek profesional kebidanan
Untuk mengetahui Standar pendidikan profesionalUntuk
mengetahui Standar pendidikan profesional bidan dan standar
pendidikan berkelanjutan
Untuk mengetahui Standar kompetensi profesi bidan
Untuk mengetahui Standar praktik kebidanan

6
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Nilai-nilai profesi bidan

Pada tahun 1985, The American Association Colleges Of Nursing


melaksanakan suatu proyek termasuk didalamnya mengidentifikasi nilai nilai
personal dalam praktek kebidanan profesional. Perkumpulan ini
mengidentifikasikan tujuh nilai-nilai personal profesi, yaitu :
1. Aesthetics (keindahan)
Kualitas obyek suatu peristiwa / kejadian, seseorang memberikan kepuasan
termasuk penghargaan, kreatifitas, imajinasi, sensitifitas dan kepedulian.
2. Alturism (mengutamakan orang lain)
Kesediaan memperhatikan kesejahteraan orang lain termasuk keperawatan atau
kebidanan, komitmen, asuhan, kedermawanan / kemurahan hati serta ketekunan.
3. Equality (kesetaraan)
Memiliki hak atau status yang sama termasuk penerimaan dengan sikap kejujuran,
harga diri dan toleransi.
4. Freedom (kebebasan)
Memiliki kafasitas untuk memiliki kegiatan termasuk percaya diri, harapan,
disiplin, serta kebebasan dalam pengarahan diri sendiri.
5. Human digrity (martabat manusia)
Berhubungan dengan penghargaan yang melekat terhadap martabat manusia
sebagai individu, termasuk didalamnya yaitu kemanusiaan, kebaikan,
pertimbangan, dan penghargaan penuh terhadap kepercayaan.
6. Justice ( keadilan)
Menjunjung tinggi moral dan prinsip prinsip legal. Temasuk objektifitas,
moralitas, integritas, dorongan dan keadilan serta keawajaran.
7. Truth (kebenaran)
Menerima kenyataan dan realita. Termasuk akontabilitas, kejujuran, keunikan,
dan reflektifitas yang rasional.

7
2.1.1 Nilai dan kepercayaan kebidanan

1. Respek terhadap individu dan kehidupannya


2. Fokus pada wanita dalam proses childbirth
3. Keterpaduan yang merefleksikan kejujuran dan prinsip moral
4. Keadilan dan kebenaran
5. Menerapkan proses dan prinsip demokrasi
6. Pengembangan diri di ambil dari pengalaman hidup dan prosespendidikan
7. Pendidikan kebidanan merupakan dasar dari praktik kebidanan

2.1.2 Konsep role model

Bahasa yang sering di dengungkan bilamana kita menghadiri seminar-


seminar tentang kepemimpinan. Secara sederhana arti dari kata role model
adalah teladan, yang sebenarnya sudah lama ditanamkan oleh para pendahulu kita,
khususnya oleh Bapak Pendidikan kita, Ki hajar Dewantoro yang mengajarkan
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani
Ajaran pertama yang disampaikan adalah Ing Ngarso Sung Tulodo yang
terjemahan bebasnya adalah di depan meberikan teladan atau bisa juga diartikan
sebagai pemimpin harus memberikan teladan.

Menurut WikipediA, role model adalah person who serves as an example, whose
behavior is emulated by others atau sesorang yang memberikan teladan dan
berperilaku yang bisa di ikuti oleh orang lain. Sebagai bangsa yang menganot pola
patrinial maka kita akan melihat sosok seorang pemimpin atau atasan dan atau
orang yang lebih tua. Walaupun demikian, dengan semakin maju dan pinter,
msayarakat akan melihat dan menilai bagaimana seorang pemimpin tersebut
berperilaku. Bukan rahasia umum bilamana pemimpin akan selau di jadikan
bahan pembicaraan oleh anggota team-nya atau anak buahnya dalam suatu
organisasi. Sebagai pejabat public, pemimpin juga akan dinilai dan dijadikan
bahan pembicaraan oleh mayarakatnya. Oleh karena itu, ajaran pemimpin harus
menjadi teladan harus diupayakan dilakukan oleh seorang pemimpin, sehingga
akan menjadi bahan pembicaraan yang positif dikalangan anak buahnya dan
menginspirasi orang lain agar meniru perilaku pemimpin teladannya.

Dalam kehidupan organisasi perusahaan, akan banyak sekali aturan dan instruksi
yang harus dijalankan. Contoh yang paling sederhana, pengaturan jam kerja
normal, yaitu masuk jam 08:00 16:30. Walaupun terkadang kita harus pulang
terlambat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, tetapi masuk kerja harus tepat
waktu, yaitu 08:00. Perusahaan akan selalu berusaha untuk meningkatkan disiplin
semua karyawannya, akan tetapi perusahaan akan mengalami kesulitan dalam
penegakan disiplin bilamana para pemimpinnya datang ke kantor selalu terlambat.
Karyawan akan menilai, bahwa pemimpinnya saja sering terlambat, mengapa saya

8
harus datang tepat waktu? Atasan saya saja sering tidak masuk, mengapa saya
harus rajin dan selalu disiplin? SItuasi akan lebih parah, bilamana karyawan atau
anak buahnya sudah tidak menunjuk-kan respect kepada atasannya. Situasi ini
biasanya akan dibarengi dengan perilaku yang tidak baik lainnya, misalnya
peilaku like dan dislike. Pemimpin type demikian hanya akan melihat karyawan
yang selalu nurut dan membuat bapaknya senang, tetapi karyawan yang selalu
menegakkan disiplin, tepat waktu dan menyelesaikan pekerjaan dengan baik tidak
akan terlihat oleh atasannya

2.1.3 Konsep keputusan moral dan teori moral

A. Pengertian keputusan moral


Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap
hakekat suatu masalah dengan pengumpulan fakta-fakta dan data, menentukan
alternatif yang matang untuk mengambil suatu tindakan yang tepat.
Ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan :

1. Dalam proses pengambilan keputusan tidak terjadi secara kebetulan.


2. Pengambilan keputusan tidak dilakukan secara sembrono tapi harus
berdasarkan pada sistematika tertentu :
a. Tersedianya sumber-sumber untuk melaksanakan keputusan yang
akan diambil.
b. Kualifikasi tenaga kerja yang tersedia
c. Falsafah yang dianut organisasi.
d. Situasi lingkungan internal dan eksternal yang akan mempengaruhi
administrasi dan manajemen di dalam organisasi.
3. Masalah harus diketahui dengan jelas.
4. Pemecahan masalah harus didasarkan pada fakta-fakta yang terkumpul
dengan sistematis.
5. Keputusan yang baik adalah keputusan yang telah dipilih dari berbagai
alternatif yang telah dianalisa secara matang.

Apabila pengambilan keputusan tidak didasarkan pada kelima hal diatas, akan
menimbulkan berbagai masalah :

a. Tidak tepatnya keputusan.


b. Tidak terlaksananya keputusan karena tidak sesuai dengan
kemampuan organisasi baik dari segi manusia, uang maupun
material.

9
c. Ketidakmampuan pelaksana untuk bekerja karena tidak ada
sinkronisasi antara kepentingan organisasi dengan orang-orang di
dalam organisasi tersebut.
d. Timbulnya penolakan terhadap keputusan.

Sikap atau watak berfikir kritis dapat ditingkatkan dengan memantapkan


secara positif dan memotivasi lingkungan kerja. Kreativitas penting untuk
membangkitkan motivasi secara individu sehingga mampu memberikan konsep
baru dengan pendekatan inovatif dalam memecahkan masalah atau isu secara
fleksibel dan bebas berpikir. Keterbukaan menerima kritik akan mengakibatkan
hal positif seperti; semakin terjaminnya kemampuan analisa seseorang terhadap
fakta dan data yang dihadapi dan akan meningkatkan kemampuan untuk
mengatasi kelemahan

B. Teori moral

o Moral hampir sama dengan etika, biasanya merujuk pada standar


personal tentang benar atau salah. Hal ini sangat penting untuk
mengenal antara etika dalam agama, hukum, adat dan praktek
professional.

Teori Moral Kebanyakan tidak ada algorithma


moral untuk membuat keputusan atau jawaban.
Pilihan yang dapat dilakukan adalah Teori Moral
yang memberi kerangka membuat keputusan-
keputusan moral dan etika.
Masalahnya teori moral tidak selalu memberi
jawaban yang sama bahkan sering bertentangan.
Penentu Teori Moral
Egoisme Etikal
Pemikiran: Tindakan boleh (dapat diterima) atas dasar
kepentingan sendiri.
Contoh: membunuh perampok untuk membela diri
Utilitarianisme
Pemikiran: Tindakan diterima bila memberikan paling
banyak manfaat untuk orang banyak.
Contoh: penggunaan DDT untuk melawan malaria
Analisis utilitarianisme
Tentukan target audiens
Tentukan kerusakan, keuntungan, dan bobot pada target
audiens

10
Evaluasi fungsi kebahagiaan untuk setiap tindakan
Pilih tindakan yang memberikan fungsi kebahagiaan
tertinggi
Analisis Hak
Pemikiran: Hak siapa didahulukan dan tepo seliro, Contoh:
penculik dibohongi untuk mnyelamatkan sandra
Urutan hak menurut kepentingan
Hak untuk hidup
Hak untuk menjaga kepenuhan hidup
Hak untuk meningkatkan kepenuhan hidup

Analisis Hak
Tentukan target audiens
Evaluasi tindakan pelanggaran hak sesuai urutan di
atas
Pilih tindakan yang menyebabkan pelanggaran hak
yang kurang penting

2.1.4 Konsep tanggung jawab profesi bidan


Bidan harus menerima tanggung jawab keprofesian yang dimilikinya.
Oleh karena itu, ia harus mematuhi dan berperan aktif dalam
melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan kewenangan dan standar
keprofesian. Bidan harus ikut serta dalam kegiatan organisasi bidan dan
badan resmi kebidanan. Untuk mengembangkan kemampuan keprofesian
nya bidan harus mencari informasi tentang perkembangan kebidanan
melalui media kebidanan, seminar, dan pertemuan ilmiah lainnnya. Semua
bidan harus menjadi anggota organisasi bidan. Bidan memiliki hak
mengajukan suara dan pendapat tentang profesinya.

2.1.5 Etika profesi

Sikap moral yang pada umumnya dijadikan pedoman bagi manusia


ketika mengambil suatu tindakan. Renungan terhadap moralitas tersebut
merupakan pekerjaan etika. Dengan demikian, setiap manusia siapapun
dan apapun profesinya membutuhkan perenungan-perenungan atas
moralitas yang terkait dengan profesinya. Dalam konteks inilah lalu timbul
suatu cabang etika yang disebut etika profesi. Etika profesi harus dinamis
mengikuti perkembangan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip moral
yang berkembang dan hidup dimasyarakat, karena logika dari

11
terbentuknya hukum karena kehendak masyarakat guna kepentingan
masyarakat. Cicero mengemukakan dimana ada masyarakat disana pasti
ada hukum.
Etika yang berkaitan dengan etika profesi merupakan etika yang
senantiasa mengikuti perkembangan moderenisasi yang tak dapat
dibendung, sehingga perlunya etika yang kritis untuk mengatasi kendala
yang ada. Etika merupakan cabang filsafat sebagai ilmu yang merupakan
philosophical study of morality, sehingga subyek yang melakukan etika
adalah manusia, dengan demikian etika sebagai filsafat manusia.

2.1.6 Nilai dan kepercayaan bidan dipandang dari role model, keputusan
moral dan sosial budaya masyarakat yang berdasarkan etika dan
tanggungjawab profesi

SISTEMATIKA ETIKA

Sebagai suatu ilmu maka Etika terdiri atas berbagai macam jenis dan ragamnya
antara lain:

1. Etika deskriptif, yang memberikan gambaran dan ilustrasi tentang tingakh laku
manusia ditinjau dari nilai baik dan buruk serta hal-hai,mana yang boleh
dilakukan sesuai dengan norma etis yang dianut oleh masyarakat.
2. Etika Normatif, membahas dan mengkaji ukuran baik buruk tindakan
manusia, yang biasanya dikelompokkan menjadi-.
a. Etika umum; yang membahas berbagai hal yang berhubungan
dengan kondisi manusia untuk bertindak etis dalam
mengambil kebijakan berdasarkan teori-teori dan prinsip-
prinsip moral.

b. Etika khusus; terdiri dari Etika sosial, Etika individu dan Etika Terapan.

Etika sosial menekankan tanggungjawab sosial dan hubungan


antarsesama manusia dalam aktivitasnya,
Etika individu lebih menekankan pada kewajiban-kewajiban
manusia sebagai pribadi,
Etika terapan adalah etika yang diterapkan pada profesi

Pada tahun 2001 ditetapkan oleh MPR-RI dengan ketetapan MPR-RI


No.VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Bangsa. Etika kehidupan bangsa
bersumber pada agama yang universal dan nilai-nilai luhur budaya bangsa yaitu

12
Pancasila. Etika kehidupan berbangsa antara lain meliputi: Etika Sosial Budaya,
Etika Politik dan Pemerintahan, Etika Ekonomi dan Bisnis, Etika Penegakkan
Hukum yang Berkeadilan, Etika Keilmuan, Etika Lingkungan, Etika Kedokteran
dan Etika Kebidanan.

FUNGSI ETIKA DAN MORALITAS DALAM PELAYANAN KEBIDANAN

1. Menjaga otonomi dari setiap individu khususnya Bidan dan Klien

2. Menjaga kita untuk melakukan tindakan kebaikan dan mencegah tindakan yg


merugikan/membahayakan orang lain

3. Menjaga privacy setiap individu

4. Mengatur manusia untuk berbuat adil dan bijaksana sesuai dengan porsinya

5. Dengan etik kita mengatahui apakah suatu tindakan itu dapat diterima
dan apa alasannya

6. Mengarahkan pola pikir seseorang dalam bertindak atau dalam


menganalisis suatu masalah

7. Menghasilkan tindakan yg benar

8. Mendapatkan informasi tenfang hal yg sebenarnya

9. Memberikan petunjuk terhadap tingkah laku/perilaku manusia antara baik,


buruk, benar atau salah sesuai dengan moral yg berlaku pada umumnya

10. Berhubungan dengans pengaturan hal-hal yg bersifat abstrak

11. Memfasilitasi proses pemecahan masalah etik

12. Mengatur hal-hal yang bersifat praktik

13. Mengatur tata cara pergaulan baik di dalam tata tertib masyarakat maupun
tata cara di dalam organisasi profesi
14. Mengatur sikap, tindak tanduk orang dalam menjalankan tugas
profesinya yg biasa disebut kode etik profesi.

HAK KEWAJIBAN DAN TANGGUNGJAWAB

Hak dan kewajiban adalah hubungan timbal balik dalam kehidupan sosial sehari-
hari. Pasien memiliki hak terhadap bidan atas pelayanan yang diterimanya.

13
Hak pasti berhubungan dengan individu, yaitu pasien. Sedangkan bidan
mempunyai kewajiban/keharusan untuk pasien, jadi hak adalah sesuatu yang
diterima oleh pasien. Sedang kewajiban adalah suatu yang diberikan oleh bidan.
Seharusnya juga ada hak yang harus diterima oleh bidan dan kewajiban yang
harus diberikan oleh pasien.

A. Hak Pasien

Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai


pasien/klien:
1). Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan
peraturan yang berlaku di rumah sakit atau instusi pelayanan kesehatan.
2). Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
3). Pasien berhak memperoleh pelayanan kebidanan sesuai dengan
profesi bidan tanpa diskriminasi.

4). Pasien berhak memilih bidan yang akan menolongnya sesuai dengan
keinginannya.

5). Pasien berhak mendapatkan ;nformasi yang meliputi kehamilan,


persalinan, nifas dan bayinya yang baru dilahirkan.
6). Pasien berhak mendapat pendampingan suami atau keluarga
selama proses persalinan berlangsung.
7). Pasien berhak memilih dokter dan kelas perawatan seuai dengan
keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
8). Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan
pendapat kritis dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dad pihak luar.

9). Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di
rumah sakit tersebut (second opinion) terhadap pen yakit
yang di de ri t an ya, se pengat ahuan dokt er ya n g merawat.

10). Pasien berhak meminta atas privasi dan kerahasiaan penyakit


yang diderita termasuk data-data medisnya.

11). Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi:

a. Penyakit yang diderita

b. Tindakan kebidanan yang akan dilakukan

c. Alternatif terapi lainnya

14
d. Prognosisnya

e. Perkiraan biaya pengobatan

12). Pasien berhak men yetujui/mem berikan izin atas tindakan yang akan
dilakukan oleh dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.

13). Pasien berhak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap


dirinya dan mengakhiri pengobatan serta perawatan atas
tanggungjawab sendiri sesuadah memperoleh informasi yang jelas
tentang penyakitnya.
14). Pasien berhak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.

15). Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaan yang


dianutnya selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya.

16). Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam
perawatan di rumah sakit.
17). Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual.
18). Pasien berhak mendapatkan perlindungan hukum atas terjadinya
kasus malpraktek.

B. Kewaiiban Pasien

1). Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan dan tat
tertib rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan.

2). Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter, bidan, perawat
yang merawatnya.

3). Pasien dan atau penangungnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan
atas jasa pelayanan rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan, dokter, bidan
dan perawat.

4). Pasien dan atau penangggungnya berkewajiban memenuhi hal-hal yang selalu
disepakati/perjanjian yang telah dibuatnya.

C. Hak Bidan

1). Bidan berhak mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas


sesuai dengan profesinya.

15
2). Bidan berhak untuk bekerja sesuai dengan standar profesi pada
setiap tingkat jenjang pelayanan kesehatan.

3). Bidan berhak menolak keinginan pasien/klien dan keluarga yang


bertentangan dengan peraturan perundangan dan kode etik profesi.

4). Bidan berhak atas privasi dan menuntut apabila nama baiknya dicemarkan
baik oleh pasien, keluarga maupun profesi lain.

5). Bidan berhak atas kesempatan untuk meningkatkan diri baik melalui
pendidikan maupun pelatihan.

6). Bidan berhak memperoleh kesempatan untuk mmingkatkan jenjang karir dan
jabatan yang sesuai.

7). Bidan berhak mendapat kompensasi dan kesejahteraan yang sesuai.

D. Kewaiiban Bidan

1). Bidan wajib mematuhi peraturan rumah sakit sesuai dengan hubungan hukum
antara bidan tersebut dengan rumah sakit bersalin dan sarana pelayanan dimana ia
bekerja.

2). Bidan wajib memberikan pelayanan asuhan kebidanan sesuai dengan standar
profesi dengan menghormati hak-hak pasien.

3). Bidan wajib merujuk pasien dengan penyulit kepada dokter yang
mempunyai kemampuan dan keahlian sesuai dengan kebutuhan pasien.

4). Bidan wajib memberi kesempatan kepada pasien untuk didampingi


suami atau keluarga.

5). Bidan wajib memberikan kesempatan kepada pasien untuk menjalankan


ibadah sesuai dengan keyakinannya.

6). Bidan wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang


seorang pasien.

7). Bidan wajib memberikan informasi yang akurat tentang tindakan yang akan
dilakukan serta risiko yang mungkiri dapat timbul.

8). Bidan wajib meminta persetujuan tertulis (informed consent) atas tindakan
yang akan dilakukan.

16
9). Bidan wajib mendokumentasikan asuhan kebidanan yang diberikan.

10).BidanwajibmengikutiperkembanganIPTEKdanmenambahilmupengetahu
annya melalui pendidikan formal atau non formal.

11). Bidan wajib bekerja sama dengan profesi lain dan pihak yang terkait secra
timbal balik dalam memberikan asuhan kebidanan

2.2 Standar profesi bidan


Standar profesi bidan merupakan penampilan atau keadaan ideal
atau tingkat.pencapaian tertinggi dan sempurna yang dipergunakan
sebagai batas penerimaan minimal yang dilakukan seorang bidan.standar
profesi bidan ini diatur dalam permenkes nomor 369 tahun 2007. Standar
profesi bidan ini mengatur tentang standar kompetensi bidan, standar
pendidikan bidan, standar pendidikan berlanjut, standar pelayanan bidan
dan standar praktik kebidanan.

2.2.1 Kebidanan sebagai profesi

Sebagai anggota profesi, bidan mempunyai ciri khas yang khusus. Sebagai
pelayan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan.
Bidan mempunyai ciri tugas yang sangat unik, yaitu:

a. Selalu mengedepankan fungsi ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya.

b. Memiliki kode etik dengan serangkaian pengetahuan ilmiah yang didapat


melalui proses pendidikan dan jenjang tertentu.

c. Keberadaan bidan diakui dan memiliki organisasi profesi yang bertugas


meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.

d. Anggotanya menerima jasa atas pelayanan yang dilakukan dengan tetap


memegang teguh kode etik profesi.

Hal tersebut akan terus diupayakan oleh para bidan sehubungan dengan
anggota profesi yang harus memberikan pelayanan profesional. Tentunya harus
diimbangi dengan kesempatan memperoleh pendidikan lanjutan, pelatihan, dan
selalu berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan.

2.2.2 Praktek profesional kebidanan

Bidan Suatu Profesi

17
Sejarah menunjukkan bahwa bidan merupakan salah satu profesi tertua di dunia
sejak adanya peradaban umat manusia. Bidan muncul sebagai wanita terpercaya
dalam mendampingi dan menolong ibu melahirkan. Peran dan posisi bidan di
masyarakat sangat dihargai dan dihormati karena tugasnya yang sangat mulia,
memberi semangat, membesarkan hati, dan mendampingi, serta menolong ibu
melahirkan sampai ibu dapat merawat bayinya dengan baik.

Dalam naskah kuno, pada zaman prasejarah, tercatat bahwa bidan dari Mesir
(Siphrah dan Poah) berani mengambil risiko menyelamatkan bayi laki-laki bangsa
Yahudi (orang-orang yang dijajah bangsa Mesir) yang diperintahkan oleh Firaun
untuk dibunuh. Mereka sudah menunjukkan sikap etika moral yang tinggi dan
takwa kepada Tuhan dalam membela orang-orang yang berada pada posisi lemah,
yang pada zaman modern ini kita sebut perara advokasi. Dalam menjalankan
tugas dan praktiknya, bidan bekerja berdasarkan pandangan filosofis yang dianut,
keilmuan, metode kerja, standar praktik pelayanan, serta kode etik profesi yang
dimilikinya.

Ciri profesi bidan:


1. Bidan disiapkan melalui pendidikan formal agar lulusannya dapat
melaksanakan pdcerjaan yang menjadi tanggung jawabnya secara profesional.
2. Bidan memiliki alat yang dijadikan panduan dalam menjalankan profesinya
yaitu Standar Pelayanan Kebidanan, Kode Etik, dan Etika Kebidanan.
3. Bidan memiliki kelompok pengetahuan yang jelas dalam menjalankan
profesinya.
4. Bidan memiliki kewenangan dalam menjalankan tugasnya.
5. Bidan memberi pelayanan yang aman dan memuaskan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.
6. Bidan memiliki organisasi profesi.
7. Bidan memiliki karakteristik yang khusus dan dikenal serta dibutuhkan
masyarakat.
8. Profesi bidan dijadikan sebagai suatu pekerjaan dan sumber utama
penghidupan.

Arti dan Ciri Jabatan Profesional


Secara populer, seseorang yang bekerja di bidang apa pun sering diberi predikat
profesional Seorang pekerja profesional menurut bahasa keseharian adalah
seorang pekerja yang terampil atau cakap dalam kerjanya meskipun keterampilan
atau kecakapan tersebut merupakan hasil minat dan belajar dari kebiasaan.

Pengertian jabatan profesional perlu dibedakan dengan predikat profesional yang


diperoleh dari jenis pekerjaan hasil pembiasaan melakukan keterampilan tertentu

18
(melalui magang/keterlibatan langsung dalam situasi kerja tertenru dan
mendapatkan keterampilan kerja sebagai warisan orang tuanya atau
pendahulunya).

Seorang pekerja profesional perlu dibedakan dart seorang teknisi. Baik pekerja
profesional maupun teknisi dapat saja terampil dalam unjuk kerja (mis.,
menguasai teknik kerja yang sama, dapat memecahkan masalah teknis dalam
bidang kerjanya). Akan tetapi, seorang pekerja profesional dituntut menguasai visi
yang mendasari keterampilannya yang menyangkut wawasan filosofis,
pertimbangan rasional, dan memiliki sikap yang positif dalam melaksanakan serta
mengembangkan mucu karyanya.
C.V. Good menjelaskan bahwa-jenis pekerjaan profesional memiliki ciri-ciri
tertentu, yaitu: memerlukan persiapan atau pendidikan khusus bagi pelakunya
(membutuhkan pendidikan prajabatan yang relevan), kecakapannya memenuhi
persyaratan yang telah dibakukan oleh pihak yang berwenang (mis., organisasi
profesional, konsorsium dan pemerintah), serta jabatan tersebut mendapat
pengakuan dari masyarakat dan/atau negara.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bidan adalah jabatan


profesional karena memenuhi ketiga persyaratan di atas. Secara lebih rind, ciri-ciri
jabatan profesional adalah sebagai berikut:
1. Pelakunya secara nyata (de facto) dituntut memiliki kecakapan kerja (keahlian)
sesuai dengan tugas-tugas khusus serta tuntutan dari jenis jabatannya
(spesialisasi).
2. Kecakapan atau keahlian seorang pekerja profesional bukan sekadar hasil
pembiasaan atau latihan rutin yang terkondisi, tetapi harus didasari oleh wawasan
keilmuwan yang mantap. Jabatan profesional juga menuntut pendidikan formal.
Jabatan yang terprogram secara relevan dan berbobot akan terselenggara secara
efektif, efisien, serta memiliki tolak ukur evaluasi yang terstandardisasi.
3. Pekerja profesional dituntut berwawasan sosial yang luas sehingga pilihan
jabatan serta kerjanya didasarkan pada kerangka nilai tertentu, bersikap positif
terhadap jabatan dan perannya, serta memiliki motivasi dan upaya urituk berkarya
sebaik-baiknya. Hal ini mendorong pekerja profesional yang bersangkutan untuk
selalu meningkatkan (menyempurnakan) diri serra karyanya. Orang tersebut
secara nyata mencintai profesinya dan memiliki etos kerja yang tinggi.

4. Jabatan profesional perlu mendapat pengesahan dari maryarakat dan/ atau


negara. Jabatan profesional memiliki syarat-syarat serra kode etik yang harus
dipenuhi oleh pelakunya. Hal ini menjamin kepantasan berkarya dan merupakan
tanggung jawab sosial profesional tersebut.
Sehubungan dengan profesionalisme jabatan bidan, perlu dibahas bahwa bidan
tergolong jabatan profesional. Jabatan dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu jabatan

19
struktural dan jabatan fungsional. Jabatan struktural adalah jabatan yang secara
tegas ada dan diatur berjenjang dalam suatu organisasi, sedangkan jabatan
fungsional adalah jabatan yang ditinjau serta dihargai dari aspek fungsinya yang
vital dalam kehidupan masyarakat dan negara.

Selain fungsi dan perannya yang vital dalam kehidupan masyarakat, jabatan
fungsional juga berorientasi kualitatif. Dalam konteks inilah jabatan bidan adalah
jabatan fungsional profesional, dan wajarlah apabila bidan tersebut mendapat
tunjangan fungsional.

Bidan Suatu Jabatan Profesional


Sesuai dengan uraian di atas, sudah jelas bahwa bidan adalah jabatan profesional.
Persyaratan dari bidan sebagai jabatan profesional telah dimiliki oleh bidan
tersebut. Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Memberi pelayanan kepada masyarakat yang bersifac khusus atau spesialis.
2. Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan bidan sebagai tenaga profesional.
3. Keberadaannya diakui dan diperlukan oleh masyarakat.
4. Memiliki kewenangan yang disahkan atau diberikan oleh pemerintah.
5. Memiliki peran dan fungsi yang jelas.
6. Memiliki kompetensi yang jelas dan terukur.
7. Memiliki organisasi profesi sebagai wadah.
8. Memiliki kode etik bidan.
9. Memiliki etika kebidanan.
10. Memiliki standar pelayanan.
11. Memiliki standar praktik.
12. Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi
sesuai dengan kebutuhan pelayanan.
13. Memiliki standar pendidikan berkelanjutan sebagai wahana pengembangan
kompetensi.

2.2.3 Standar pendidikan profesional

Sebagai pendidik bidan memiliki 2 tugas yaitu sebagai pendidik dan penyuluhan
kesehatan bagi klien serta pelatih dan pembimbing kader.

a. Memberi pendidik dan penyuluhan kesehatan pada klien


Bidan memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada klien
(individu, keluarga, kelompok, serta masyarakat) tentang penanggulangan
masalah kesehatan, khususnya yang berhubungan dengan kesehatan ibu,
anak, dan keluarga berencana, mencakup:

20
1. Mengkaji kebutuhan pendidikan dan penyuluhan kesehatan, khususnya
dalam bidang kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana bersama
klien.
2. Menyusun rencana penyuluhan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
yang telah dikaji, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang
bersama klien.
3. Menyiapkan alat serta materi pendidikan dan penyuluhan sesuai
dengan rencana yang telah disusun.
4. Melaksanakan program/rencana pendidikan dan penyuluhan kesehatan
sesuia dengan rencana jangka pendek serta jangka panjang dengan
melibatkan unsur-unsur terkait, termasuk klien.
5. Mengevaluasi hasil pendidikan/penyuluhan kesehatan bersama klien
dan menggunakannya untuk memperbaiki serta meningkatkan program
dimasa yang akan datang.
6. Mengdokumentasikan semua kegiatan dn hasil pendidikan/penyuluhan
kesehatan secara lengkap serta sistematis.
b. Melatih dan membimbing kader
Bidan melatih dan membimbing kader, peserta didik kebidanan dan
keperawatan, serta membina dukun di wilayah atau tempat kerjanya,
mencakup:
1. Mengkaji kebutuhan pelatihan dan bimbingan bagi kader, dukun bayi,
serta peserta didik.
2. Menyusun rencana pelatihan dan bimbingan sesuai dengan hasil
pengkajian.
3. Menyiapkan alat bantu mengajar (audio visual aids, AVA) dan bahan
untuk keperluan pelatihan dan bimbingan sesuai dengan rencana yang
telah disusun.
4. Melaksanakan pelatihan dukun bayi dan kader sesuai dengan rencana
yang telah disusun dengan melibatkan unsur-unsur terkait.
5. Membimbing peserta didik kebidanan dan keperawatan dalam lingkup
kerjanya.
6. Menilai hasil pelatihan dan bimbingan yang telah diberikan.
7. Menggunakan hasil evaluasi untuk meningkatkan program bimbingan.
8. Mendokumentasikan semua kegiatan yang masuk hasil evaluasi
pelatihan serta bimbingan secara sistematis dan lengkap.

2.2.4 Standar pendidikan profesional bidan dan standar pendidikan


berkelanjutan

Standar 1: Organisasi

21
Standar II : Falsafah
Standar III : Sumber Daya Pendidikan
Standar IV : Program Pendididkan
Standar V : Fasilitas
Standar VI : Dokumen Dan Penyelenggaraan Pendidikan
Standar VII :Pengendalian Mutu

2.2.5 Standar kompetensi profesi bidan


Kompetensi ke-1 :
Bidan mempunyai persyaratan pengetahuan dan keterampilan dari
ilmu-ilmu sosial, kesehatan masyarakat dan etik yang membentuk dasar
dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi
baru lahir dan keluarganya.
a) Pengetahuan dan keterampilan dasar
1. kebudayaan dasar di indonesia
2. keuntungan dan kerugian praktek tradisional dan modern
3. sarana tanda bahaya serta transportasi kegawat daruratan bagi
anggota masyarakat yang sakit yang membutuhkan asuhan tambahan.
4. penyebab langsung maupun tidak langsung kematian dan kesakitan
ibu dan bayi di masyarakat.
5. advokasi dan strategi pemberdayaan wanita dalam mempromosikan
hak-hak nya yang diperlukan untuk mencapai kesehatan yang optimal,
(kesetaraan dalam memperoleh pelayanan kebidanan).
6. keuntungan dan resiko dari tatanan tempat bersalin yang tersedia.
7. advokasi bagi wanita agar bersalin dengan aman.
8. masyarakat dengan keadaan kesehatan lingkungan, termasuk
penyediaan air, perumahan, resiko lingkungan, makanan, dan ancaman
umum bagi kesehatan.
9. standar profesi dan praktek kebidanan.

b) Pengetahuan dan Keterampilan Tambahan

1. epidemiologi, sanitasi, diagnosa masyarakat dan vital statistik


2. program imunisasi nasional dan akses untuk pelayanan
imunisasi
3. infrastruktur kesehatan setempat dan nasional, serta bagaimana
mengakses sumber daya yang dibutuhkan untuk asuhan kebidanan.
4. Primary Health Care (PHC) berbasis di masyarakat dengan
menggunakan promosi kesehatan serta strategi pencegahan penyakit.

c). Prilaku Profesional Bidan


1. berpegang teguh pada filosofi, etika profesi dan aspek legal.

22
2. bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan keputusan
klinis yang dibuatnya.
3. senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan
keterampilan mutakhir
4. menggunakan cara pencegahan universal untuk penyakit,
penularan dan strategi pengendalian infeksi.
5. melakukan konsultasi dan rujukan yang tepat dalam memberikan
asuhan kebidanan.
6. menghargai budaya setempat sehubungan dengan praktek
kesehatan, kehamilan, kelahiran, periode paska persalinan, bayi baru lahir
dan anak
7. menggonakan model kemitraan dalam bekerja sama dengan kaum
wanita atau ibu agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah
diinformasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara
tertulis supaya mereka bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri.
8. menggunakan keterampilan mendengar dan mempasilitasi
9. bekeja sama dengan petugas kesehatan lain untuk meningkatkan
pelayanan kesehatan kepada ibu dan keluarga.
10. advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan

Kompetensi ke-2
Bidan memeberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan
kesehatan yang tanggap terhadap budaya dan pelayanan menyeluruh di
masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang
sehat, perencanaan kehamilan dan kesiapan menjadi orang tua.
a. Pengetahuan dasar
1. Pertumbuhan dan perkembangan seksualitas dann aktivitas seksual.
2. Anatomi dan fisiologi pria dan wanita yang berhubungan dengan
konsepsi dan reproduksi.
3. Norma dan praktek budaya dalam kehidupan seksualitas dan
kemampuan berproduksi
4. Komponen riwayat kesehatan, riwaya keluarga, dan riwayat
genetik yang relevan.
5. Pemeriksaan fisik dan laboratorium untuk mengevaluasi potensi
kehamilan yang sehat.
6. Berbagai metode alamiah untuk menjarangkan kehamilan dan
metode lain yang bersifat tradisional yang lazim digunakan.
7. Jenis, indikasi cara pemberian, cara pencabutan dan efek sampinng
berbagai kontrasepsi yang digunakan antara lain pil, suntikan, AKDR, alat
kontrasepsi bawah kulit (AKBK), kondom, tablet vagina dan tisu vagina
8. Metode konselling bagi wanita dalam memilih suatu metode
kontrasepsi.

23
9. Penyuluhan kesehattan mengenai PMS, HIV/AIDS dan
kelangsungan hidup anak
10. Tanda dan gejala infeksi saluran kemih dan penyakit menular
seksual yang lazim terjadi.
b. Pengetahuan tambahan
1. Faktor-faktor yang menentukan dalam pengambilan keputusan
yang berhubungan dengan kehamilan yang tidak diinginkan dan tidak
direncanakan
2. Indikator penyakit akut dan kronis yang dipengaruhi oleh kondisi
geografis dan proses rujukan untuk pemeriksaan atau pengobatan lebih
lanjut.
3. Indikator dan mptoda koseling atau rujukan terhadap gangguan
hubungan interpersonal, termasuk kekerasan dan pelecehan dalam
keluarga (seks, fisik dan emosi)
c. Keterampilan dasar
1. Mengumpulkan data tentang riwayat kesehatan yang lengkap.
2. Melakukan pemeriksaan fisik yang terfokus dengan kondisi wanita.
3. Menetapkan atau melaksanakan dan menyimpulkan hasil
pemeriksaan laboratorium seperti hematokrit dan analisa urine
4. Melaksanakan pendidikan kesehatan dan keterampilan konseling
dasar dengan tepat
5. Memberikann pelayanan KB yang tersedian sesuai kewenangan
dan budaya masyarakat
6. Melakukan pemasangan AKDR
7. Melakukan pencabutan AKDR dengan letak normal.
d. Keterampilann tambahan
1. Melakukan pemasangan AKBK
2. Melakukan pencabutan AKBK denggan letak normal

Kompetensi ke-3

Bidan memberi asuhan antenatal bermutu tinggi untuk kesehatan


selama kehamilan yang meliputi: deteksi dini, pengobatan atau rujukan
dari komplikasi tertentu.

a. Pengetahuan dasar
1. Anatomii dan fisiologi tubuh manusia
2. Siklus menstruasi dan proses konsepsi
3. Tumbuh kembang janin dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
4. Tanda-tanda dan gejala kehamilan
5. Mendiagnosa kehamilan

24
6. Perkembangan normal kehamilan
7. Komponen riwayat kesehatan
8. Komponen pemeriksaan fisik yang terfokus selama antenatal
9. Menentukan umur kehamilan dari riwayat menstruasi, pembesaran
dan tinggi pundus uteri
b. Pengetahuan tambahan
1. Tanda, gejala dan indikasi rujukan pada komplikasi tertentu dalam
asma, infeksi HIV, penyakit menular seksual (PMS) diabetes,
postmatur/serotinus
2. Akibat dari penyakit akut dan kronis yang disebut diatas bagi
kehamilan dan janinnya
c. Keterampilan dasar
1. Mengumpulkan data riwayat kesehatan dan kehamilan serta
menganalisanya pada setiap kunjungan atau pemeriksaan ibu hamil
2. Melaksanakan pemeriksaan fisik umum secara sistematis dan
lengkap
3. Melakukan pemeriksaan abdomen secara lengkap termasuk
pengukuran tinggi furidus uteri/posisi/persentasi dan penurunan janin
4. Melakukan penilaian pelvic, termasuk ukuran dan struktur tulang
panggul
5. Menghitung usia kehamilan dan menentukan perkiraan persalinan
6. Memberikan imunisasi pada ibu hamil
7. Penggunaan secara aman jamu/obat-obat tradisional yang tersedia
d. Keterampilan tambahan
1. Menggunakan doppler untuk memantau DJJ
2. Memberikan pengobatan atau kolaborasi terhadap penyimpangan
dari keadaan normal dengan menggunakan standar lokal dan sumber daya
yang tersedia
3. Melaksanakan kemampuan LSS dalam manajemen pasca abortion

Kompetensi ke-4

Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi tanggap terhadap


kebudayaan setempat selama persalinan.

a. Pengetahuan dasar
1. Fisiologi persalinan
2. Anatomi tengkorak janin, diameter yang penting dan penunjuk
3. Aspek fisikologis dan kultural pada persalinan dan kelahiran
4. Indikator tanda-tanda mulai persalinan
5. Kemajuan persalinan normal dan penggunaan partograf atau alat
serupa
6. Penilaian kesejahteraan janin dalam masa persalinan

25
7. Penilaian kesejahteraan ibu dalam masa persalinan
8. Proses penurunan janin melalui pelvik selama persalinan dan
kelahiran
b. Pengetahuan tambahan
1. Penalaksanaan persalinan dengan malpersentasi
2. Pemberian suntikan anestasi lokal
3. Akselerasi dan induksi persalinan
c. Keterampilan dasar
1. Mengumpulkan data yang terfokus pada riwayat kebidanan dan
tanda0tanda fital ibu pada persalinan sekarang
2. Melaksanakan pemeriksaan fisik yang terpokus
3. Melakukan pemeriksaan abdomen secara lengkap untuk posisi dan
penurunan janin
4. Mencatat waktu dan mengkaji kontraksi uterus
d. Keterampilan tambahan
1. Menolong kelahiran presentasi muka dengan penempatan gerakan
tangan yang tepat.
2. Memberikan suntikan anestesi lokal jika diperlukan
3. Melakukan ekrksi porcek rendahdan vakum jika diperlukan sesuaia
kewenangan
4. Mengidentifiasi dan mengelola tali pusat menumbung
5. Mengidentifikasi dan menjahit robekan serviks
Etika profesi bidan
Sikap moral yang pada umumnya dijadikan pedoman bagi manusia
ketika mengambil suatu tindakan. Renungan terhadap moralitas tersebut
merupakan pekerjaan etika. Dengan demikian, setiap manusia siapapun
dan apapun profesinya membutuhkan perenungan-perenungan atas
moralitas yang terkait dengan profesinya. Dalam konteks inilah lalu timbul
suatu cabang etika yang disebut etika profesi. Etika profesi harus dinamis
mengikuti perkembangan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip moral
yang berkembang dan hidup dimasyarakat, karena logika dari
terbentuknya hukum karena kehendak masyarakat guna kepentingan
masyarakat. Cicero mengemukakan dimana ada masyarakat disana pasti
ada hukum.
Etika yang berkaitan dengan etika profesi merupakan etika yang
senantiasa mengikuti perkembangan moderenisasi yang tak dapat
dibendung, sehingga perlunya etika yang kritis untuk mengatasi kendala
yang ada. Etika merupakan cabang filsafat sebagai ilmu yang merupakan
philosophical study of morality, sehingga subyek yang melakukan etika
adalah manusia, dengan demikian etika sebagai filsafat manusia.

26
2.2.6 Standar praktik kebidanan

Standar adalah ukuran atau parameter yang digunakan sebagai


dasar untuk menilai tingakat kualitas yang telah disepakati dan mampu
dicapai dengan ukuran yang telah ditetapkan

Kewenangan bidan diatur dalam kepmenkes no 900/menkes/SK/VII/2002


tentang registrasi dan praktik bidan, disini bidan berwenang untuk
melakukan atau memutuskan sesuatu hal yang berhubungan dengan
pekejaannya. Dalam menjalankan kewenangan yang diberikan bidan
harus:

1. Melaksanakan tugas dan kewenangan sesuai standar profesi.


2. Memiliki keterampilan dan kemampuan untuk tindakan yang dilakukan
3. Mematuhi dan melaksanakan protap yang berlaku diwilayahnya
4. Bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan dan berupaya secara
optimal dengan mengutamakan keselamatan ibu dan atau janin

Menurut sudut pandang pendidikan, kompetensi adalah perpaduan dari


pengetahuan,keterampilan yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan
bertindak. Karena latar belakang pendidikan kebidanan sangat bervariasi maka
organisasi profesi IBI membuat standar praktik bidan berdasarkan kompetensi inti
sehingga dengan adanya standar prektik kebidanan, bidan mempunyai suatu
ukuran yang sama untuk semua bidan dalam melaksanakan tugasnya walaupun
latar belakang pendidikannya berbeda.

27
DAFTAR PUSTAKA

PP IBI, 1996. Dokumen 45 Tahun IBI: Profesi Bidan Sebuah Perjalanan Karir,
Jakarta: PP IBI.

Prawirohardjo, Sarwono, 1994. Ilmu Kebidanan, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Soepardan, Suryani, 2008. Konsep Kebidanan, Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

PP IBI; 1999. Etika dan Kode Etik Kebidanan; Jakarta.

PP IBI; 1999. Kompetensi Bidan Indonesia; Jakarta.

PP IBI; 1999. Standar Profesi Kebidanan; Jakarta.

28
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari hasil observasi ini kita dapat memahami apa yang dimaksud dengan
konsep kebidanan khususnya peranan dan fungsi bidan. Untuk selalu berpegang
teguh pada filosofi, etika profesi serta memahami peran dan fungsi bidan dalam
memberikan asuhan kebidanan kepada klien terutama pelayanan kepada ibu, bayi,
keluarga serta masyarakat.

3.2 SARAN

Hasil observasi ini sebagai bahan belajar untuk mahasiswi dalam


meningkatkan praktik konsep kebidanan yang didapati di perkuliahan. Dan juga
bisa menjadi bahan pembelajaran dan acuan untuk dapat menjadi calon bidan
yang selalu berpegangan teguh dalam falsafah,filosofi kebidanan.

29