Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

HIGH MIOPIA

Oleh:
Nyoman Intan Trisna Ardani 1302006018
Ni Putu Eka Tania Savitri 1302006038
I Made Bayu Puradipa 1302006201

Pembimbing:
dr. Ni Made Ari Suryati, M. Biomed, Sp. M

DALAM RANGKA MENJALANI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI LAB/SMF ILMU KESEHATAN MATA
RSUP SANGLAH DENPASAR
SEPTEMBER 2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rakhmatnya maka laporan kasus yang mengambil topik High Miopia ini dapat
selesai pada waktunya.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-
pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan kasus ini. Laporan kasus
ini disusun sebagai salah satu syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di
bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP
Sanglah.
Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada:
1. dr. Ni Made Ari Suryati, M. Biomed, Sp. M, selaku pembimbing sekaligus
penguji dalam pembuatan laporan kasus ini
2. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan laporan
kasus ini.
Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna dan banyak
kekurangan, sehingga saran dan kritik pembaca yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan untuk kesempurnaan laporan kasus ini. Semoga tulisan ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Denpasar, September 2017

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ii

ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I Pendahuluan
1
BAB II Tinjauan Pustaka
3
2.1 Anatomi Media Refraksi dan Akomodasi
..........................................................................................
3
2.2 Fisiologi Refraksi dan Akomodasi
6
2.3 Miopia
8
2.3.1 Definisi
8
2.3.2 Epidemiologi
8
2.3.3 Faktor Risiko
9
2.3.4 Etiologi
10
2.3.5 Patogenesis
11
2.3.6 Manifestasi Klinis dan Klasifikasi
12
2.3.7 Diagnosis
14
2.3.8 Tatalaksana
15
2.3.9 Komplikasi
16
BAB III Laporan Kasus
18

iii
BAB IV Pembahasan
23
BAB V Kesimpulan
26
DAFTAR PUSTAKA
27

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Mata adalah organ refraksi yang memiliki fungsi sangat krusial bagi manusia
yang mana berfungsi untuk membiaskan cahaya masuk ke retina agar dapat diproses
oleh otak untuk membentuk sebuah gambar. Struktur mata yang berkontribusi dalam
proses refraksi ini adalah kornea, lensa, humor aqueous dan humor vitreus. Cahaya
yang masuk akan direfraksikan ke retina, yang kemudian akan dilanjutkan ke otak
berupa impuls melalui saraf optik agar dapat diproses oleh otak. Suatu hal yang
sering menjadi masalah pada mata yakni kelainanan refraksi.1
Kelainan refraksi merupakan hal yang paling sering terjadi pada era
globalisasi seperti sekarang ini. Keadaan ini terjadi ketika cahaya tidak dibiaskan
tepat pada retina sehingga menyebabkan penglihatan kabur. Kelainan yang umumnya
sering terjadi adalah kelainan refraksi dan kelainan akomodasi. Kelainan refraksi
secara umum dapat dibagi menjadi miopia, hiperopia, dan astigmatisma, dan untuk
kelainan akomodasi adalah berupa presbiopia. Contoh kelainan yang cukup sering
terjadi adalah miopia. Miopia dikenal sebagai rabun jauh dengan kemampuan
refraktif mata yang terlalu kuat sehingga sinar datang sejajar sumbu mata tanpa
akomodasi difokuskan di depan retina.1,2
Penelitian oleh WHO selama 5 tahun mendapatkan lebih dari 153 juta orang
menderita kelainan refraksi dan diprediksi jumlahnya terus meningkat. Kelainan
refraksi menempati urutan pertama penyakit mata tersering di Indonesia.3 Kasus
kelainan refraksi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Jumlah pasien yang
menderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% dari populasi atau sekitar 55
juta jiwa. Penelitian tahun 2011 di RSUP Sanglah menunjukkan bahwa dari kasus
kelainan refraksi yang ada, didapatkan miopia merupakan kelainan refraksi tertinggi
kedua sebesar 39,2%. Prevalensi penderita perempuan lebih tinggi (69,7%) dibanding
laki-laki, dan prevalensi tertinggi pada usia 11-20 tahun (57%).4
Penanganan pasien dengan kelainan refraksi sangatlah penting diantaranya
adalah membenahi penglihatan dengan cara koreksi kacamata, penggunaan lensa
kontak, pembedahan dan laser. Hasil akhir yang diinginkan adalah tajam penglihatan

1
terbaik yang mampu dikoreksi. Kelainan refraksi memiliki prognosis yang baik
apabila belum terjadi kelainan pada segmen posterior.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Media Refraksi dan Akomodasi


a. Kornea
Kornea merupakan jaringan transparan pada bagian anterior lapisan eksternal
jaringan ikat bulbus okuli. Pembiasan cahaya yang memasuki mata terutama terjadi
pada kornea. Kornea bersifat tembus cahaya, tidak berpembuluh darah, dan sensitif
terhadap sentuhan.5 Kornea dewasa rata-rata memiliki ketebalan 550 m di pusatnya.
Kornea memiliki lima lapisan yang berbeda dari anterior ke posterior, yaitu lapisan
epitel, lapisan Bowman, stroma, membran Descemet, dan lapisan endotel.2
Lapisan epitel kornea mempunyai lima atau enam lapis sel. Lapisan Bowman
merupakan lapisan jernih aselular yang merupakan bagian stroma yang berubah.
Stroma kornea menyusun sekitar 90% ketebalan kornea. Stroma tersusun atas jalinan
lamella serat-serat kolagen dengan lebar sekitar 10-250 m dan tinggi 1-2 m yang
mencakup hampir seluruh diameter kornea. Lamella terletak di dalam suatu zat dasar
proteoglikan terhidrasi bersama keratosit yang menghasilkan kolagen dan zat dasar. 2
Membran Descemet merupakan lamina basalis endotel kornea, bersifat sangat elastik
dan berkembang terus seumur hidup.2,6 Endotel kornea hanya memiliki satu lapis sel,
tetapi lapisan ini berperan besar dalam mempertahankan deturgesensi stroma kornea.2
Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus,
humor aqueous, dan air mata. Kornea superfisial juga mendapatakan sebagian besar
oksigen dari atmosfer. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari cabang pertama
(opthalmicus) nervus kranialis V (trigeminus). Transparansi kornea disebabkan oleh
strukturnya yang seragam, avaskularitas, dan deturgesensinya. 2 Pembiasan sinar
terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 45 dioptri dari 60 dioptri pembiasan sinar yang
masuk ke mata dilakukan oleh
kornea.7

2
Gambar 2.1 Anatomi Bola Mata.8

b. Humor Aqueous
Humor aqueous terdapat pada kamera okuli anterior dan kamera okuli
posterior, humor aqueous dihasilkan oleh prosesus siliaris. Larutan yang jernih dan
menyerupai air ini memberikan zat gizi bagi kornea dan lensa yang tidak
berpembuluh darah. Humor aqueous mengalir dari kamera okuli posterior, setelah itu
humor aqueous melewati pupil dan memasuki kamera okuli anterior, kemudian
disalurkan ke dalam sinus vena sklera (kanal Schlemm).5

c. Lensa
Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tidak berwarna, dan hampir
transparan sempurna. Tebalnya sekitar 4 mm dengan diameter 9 mm. 2 Lensa dapat
menebal dan menipis saat terjadinya akomodasi untuk memfokuskan objek pada
retina.6 Total kekuatan refraksi mata adalah sekitar 60 dioptri, kornea berkontribusi
untuk sekitar 45 dioptri dan lensa sekitar 15 dioptri. 7 Kapsul lensa adalah suatu
membran semipermeabel yang memperbolehkan air dan elektrolit masuk.2 Lensa
akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di dalam kapsul
lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus menerus sehingga
mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga membentuk
nukleus lensa. Korteks lensa terdapat di bagian luar nukleus dan tersusun dari serat
lensa yang lebih muda. Zonula Zinn terdapat pada bagian perifer kapsul lensa dan
berfungsi untuk menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar.6
Lensa terdiri dari sekitar 65% air, 35% protein (kandungan protein lensa
merupakan yang tertinggi di antara jaringan-jaringan tubuh), dan sedikit mineral yang
umum dijumpai pada jaringan lain di tubuh. Kalium lebih terkonsentrasi di lensa
dibandingkan dengan kebanyakan jaringan yang lainnya. Asam askorbat dan glutation
ada dalam bentuk teroksidasi maupun yang tereduksi.2
Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu.6

3
Kenyal atau lentur karena memegang peranan penting dalam akomodasi
untuk menjadi cembung.
Jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan.

d. Humor Vitreus
Vitreus merupakan suatu badan gelatin yang bersifat jernih, avaskular, dan
menyusun dua pertiga dari volume dan berat bola mata. 2 Vitreus berperan untuk
meneruskan sinar dari lensa ke retina. 6 Vitreus mengisi ruangan yang dibatasi oleh
lensa, retina, dan diskus optikus. Vitreus terdiri dari 99% air dan 1% sisanya tersusun
atas dua komponen, yaitu kolagen dan asam hialuronat, yang memberikan bentuk dan
konsistensi mirip gel pada vitreus karena kemampuannya untuk mengikat banyak air.2
e. Badan Siliar
Badan siliar membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris
(sekitar 6 mm). Badan siliar terdiri dari zona anterior yang berombak-ombak, disebut
pars plicata (2 mm), dan zona posterior yang datar, disebut pars plana (4 mm).
Prosesus siliaris berasal dari pars plicata, prosesus siliaris terutama terbentuk dari
kapiler dan vena yang bermuara ke vena-vena vorticosa. Prosesus siliaris dan epitel
siliaris berfungsi sebagai pembentuk humor aqueous.2
Otot siliaris terbentuk atas kombinasi serat longitudinal, sirkular, dan radial.
Fungsi dari serat-serat sirkular adalah untuk mengerutkan dan relaksasi serat-serat
zonula, yang berorigo di lembah-lembah di antara prosesus siliaris. Otot ini
mengubah tegangan pada kapsul lensa sehingga lensa dapat mempunyai berbagai
fokus berjarak dekat maupun yang berjarak jauh dalam lapang pandang.2

2.2 Fisiologi Refraksi dan Akomodasi


a. Fisiologi Refraksi
Sewaktu menuju ke retina, gelombang cahaya melewati media pembias mata
yaitu kornea, humor aqueous, lensa, dan humor vitreus.5 Mata secara optik dapat
disamakan dengan kamera. Mata mempunyai sistem lensa, sistem apertura yang dapat
berubah-ubah (pupil), dan retina yang disamakan dengan sebuah film. Mata memiliki
empat perbatasan refraksi yang terdiri dari: (1) perbatasan antara permukaan anterior
kornea dan udara, (2) perbatasan antara permukaan posterior kornea dengan humor
aqueous, (3) perbatasan antara humor aqueous dan permukaan anterior lensa mata,

4
dan (4) perbatasan antara permukaan posterior lensa dan humor vitreus. Indeks bias
udara adalah 1; kornea 1,38; humor aqueous 1,33; lensa kristalina (rata-rata) 1,40;
dan humor vitreus 1,34. Pembiasan akan meningkat sesuai dengan rasio indeks bias
dari kedua media transparan dan derajat kemiringan antara bidang peralihan dan
permukaan gelombang yang datang.9 Total kekuatan refraksi mata adalah sekitar 60
dioptri, kornea berkontribusi untuk sekitar 45 dioptri dan lensa sekitar 15 dioptri. 7
Alasan utama dari pemikiran ini adalah karena indeks bias kornea sangat berbeda dari
indeks bias udara, sementara indeks bias lensa mata tidak jauh berbeda dengan indeks
bias humor aqueous dan humor vitreus.9
Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media refraksi yang terdiri
atas kornea; humor aqueous; lensa; humor vitreus; dan panjangnya bola mata. Orang
normal memiliki susunan pembiasan oleh media refraksi dan panjang bola mata yang
demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media refraksi
dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang normal disebut sebagai emetropia
dan akan menempatkan bayangan benda tepat di retina pada keadaan mata tidak
melakukan akomodasi. Kelainan yang meliputi kelainan pembiasan sinar oleh kornea
(kornea mendatar atau mencembung) atau adanya perubahan panjang bola mata
(lebih panjang, lebih pendek), menyebabkan sinar normal tidak dapat terfokus pada
makula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa miopia,
hipermetropia, atau astigmat.6

b. Fisiologi Akomodasi
Cahaya yang tidak berhingga pada keadaan normal akan terfokus pada retina,
demikian pula bila benda jauh didekatkan, maka dengan adanya daya akomodasi
benda dapat difokuskan pada retina atau makula lutea. Akomodasi menyebabkan
benda pada jarak yang berbeda-beda akan terfokus pada retina. Akomodasi adalah
kemampuan lensa untuk mencembung yang terjadi akibat kontraksi otot siliar. Akibat
akomodasi, daya pembiasan lensa bertambah kuat. Kekuatan akomodasi akan
meningkat sesuai kebutuhan, makin dekat benda maka makin kuat mata harus
berakomodasi (mencembung). Kekuatan akomodasi diatur oleh refleks akomodasi.

5
Refleks akomodasi akan bangkit bila mata melihat kabur dan pada waktu konvergensi
atau melihat dekat.6
Tujuh puluh ligamen suspensorium yang melekat di sekeliling lensa, menarik
tepi lensa ke arah lingkar luar bola mata. Ligamen ini secara konstan diregangkan
oleh perlekatannya pada tepi anterior koroid dan retina. Regangan pada ligamen ini
menyebabkan lensa tetap relatif datar dalam keadaan mata istirahat. Tempat
perlekatan lateral ligamen lensa pada bola mata juga dilekati oleh otot siliaris.
Kontraksi otot siliaris akan mengendurkan ligamen kapsul lensa dan lensa akan
berbentuk lebih cembung seperti balon, akibat sifat elastisitas alami kapsul lensa.9
Otot siliaris hampir seluruhnya diatur oleh sinyal saraf parasimpatis yang
dijalarkan ke mata melalui saraf kranial III dari nukleus saraf III pada batang otak.
Perangsangan saraf parasimpatis akan menimbulkan kontraksi serabut otot siliaris
yang akan mengendurkan ligamen lensa, sehingga menyebabkan lensa menjadi
semakin tebal dan daya biasnya meningkat. Meningkatnya daya bias membuat mata
mampu melihat objek lebih dekat dibandingkan sewaktu daya biasnya rendah.
Peningkatan usia mengakibatkan lensa semakin besar dan menebal serta menjadi
kurang elastik, sebagian disebabkan oleh denaturasi protein lensa yang progresif.
Kemampuan lensa untuk berubah bentuk akan berkurang seiring dengan
bertambahnya usia, keadaan berkurangnya daya akomodasi mata pada usia lanjut
disebut presbiopia.9

2.3 High Miopia


2.3.1 Definisi
Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di
depan retina, ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. Miopia juga dapat
dijelaskan sebagai kondisi refraktif dimana cahaya yang sejajar dari suatu objek yang
masuk ke mata akan jatuh di depan retina pada mata yang tidak akomodasi. Miopia
merupakan manifestasi kabur bila melihat jauh, istilah populernya adalah
nearsightedness atau rabun jauh.10
Miopia adalah penyebab umum yang menyebabkan pandangan kabur. Miopia
merupakan kelainan refraksi pada mata yang umum terjadi dengan prevalensi yang
meningkat setiap tahunnya. Miopia yang tidak dikoreksi menggangu individu tersebut

6
melihat benda jauh dengan jelas, hal ini disebabkan mata memiliki kekuatan optik
yang terlalu tinggi karena kornea yang terlalu cembung atau panjang aksial bola mata
yang terlalu besar.11 Miopia adalah masalah yang sangat signifikan, bukan hanya
karena tingginya prevalensi, tetapi juga karena dapat berkontribusi terhadap
morbiditas visual dan meningkatkan risiko kondisi yang mengancam penglihatan
misalnya ablasio retina dan glaukoma.10
High myopia didefinisikan sebagai speris lebih besar dari -6,0 Dioptri.
Sedangkan miopia patologis merupakan speris kurang dari atau sama dengan -8,0
atau panjang aksial lebih dari atau sama dengan 32,5 mm.

2.3.2 Epidemiologi
Miopia dan high myopia diperkirakan masing-masing mempengaruhi 27%
(1893 juta) dan 2,8% (170 juta) populasi dunia pada tahun 2010. Menurut penelitian
yang diterbitkan, prevalensi miopia paling tinggi di Asia Timur, di mana China,
Jepang, Korea dan Singapura memiliki prevalensi sekitar 50%, dan lebih rendah di
Australia, Eropa dan Amerika Utara dan Selatan. Perkiraan awal berdasarkan data
prevalensi tersebut dan data populasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan dihitung
berdasarkan usia dan waktu, menunjukkan bahwa miopia dan high myopia akan
mempengaruhi 52% (4949 juta) dan 10,0% (925 juta) masing-masing, dari populasi
dunia pada tahun 2050.
Global Burden of Disease menyatakan kelainan refraksi yang tidak terkoreksi
merupakan penyebab kebutaan nomor dua terbesar (21%) dan penyebab utama
gangguan penglihatan sedang hingga berat (53%). Perkiraan dan tren demografi
tersebut menunjukkan bahwa miopia merupakan penyebab utama kelainan refraksi
dan dapat terus berlanjut di masa depan.13 Penelitian tahun 2011 di RSUP Sanglah,
mendapatkan miopia merupakan kelainan refraksi tertinggi kedua sebesar 39,2%.
Prevalensi penderita perempuan lebih tinggi (69,7%) dibanding laki-laki, dan lebih
tinggi pada usia 11-20 tahun (57%).4
2.3.3 Faktor Risiko
Faktor risiko miopia dapat meningkat apabila melakukan sejumlah besar
pekerjaan dengan jarak dekat. Jarak yang terlalu dekat akan membuat mata harus
berakomodasi lebih kuat agar bayangan tetap jatuh di retina sehingga objek yang

7
dilihat terlihat jelas. Kekuatan akomodasi akan meningkat sesuai dengan kebutuhan,
makin dekat benda makin kuat akomodasi mata. Apabila dalam jangka waktu yang
lama lensa mata dipaksa terus menerus berakomodasi untuk memfokuskan jatuhnya
bayangan benda tepat di retina, maka akan menyebabkan lensa bertambah cembung.
Kecembungan lensa ini apabila mata dalam keadaan tidak berakomodasi maksimal
menyebabkan sudut jatuh bayangan difokuskan tidak pada retina sehingga
menyebabkan mata mengalami miopia.10
Miopia berhubungan dengan waktu yang dihabiskan untuk membaca dan
mengerjakan pekerjaan jarak dekat, pendidikan bertahun-tahun, dan kemampuan
akademis yang lebih tinggi.10 Faktor lingkungan yang paling berperan dalam
terjadinya miopia adalah pekerjaan intensif dengan jarak dekat seperti membaca,
menulis atau bekerja dengan komputer. Tingginya insiden miopia pada orang yang
bekerja intensif pada jarak dekat disebabkan spasme akomodatif. Selama bekerja
dengan jarak yang dekat, gambar yang terlihat sedikit difokuskan di depan retina
yang dapat menginduksi spasme akomodatif, deformasi gambaran pada retina dan
meningkatnya panjang aksial bola mata.13
Faktor risiko yang berperan penting dalam munculnya miopia adalah riwayat
miopia pada keluarga. Penelitian telah menunjukkan prevalensi miopia pada anak
yang kedua orang tuanya mengalami miopia adalah sebesar 33% -60%, pada anak
yang hanya salah satu orang tuanya mengalami miopia, prevalensinya adalah sebesar
23% -40%. Penelitian lain menunjukkan bahwa ketika orang tua tidak memiliki
miopia, hanya 6% -15% anak yang mengalami miopia.10

2.3.4 Etiologi
Penyebab miopia sampai saat ini belum diketahui pasti, diperkirakan bersifat
multifaktorial dan berhubungan dengan faktor genetik (internal) serta lingkungan
(eksternal). Faktor internal meliputi genetik, riwayat keluarga, panjang bola mata,
usia, jenis kelamin, dan etnik. Kelompok etnik yang berbeda menunjukkan variasi
yang luas akan prevalensi miopia yakni di Asia setinggi 70-90%, di Eropa dan
Amerika 30-40%, dan di Afrika 10-20%. Faktor eksternal meliputi pencahayaan saat
tidur, membaca, pendidikan dan penghasilan orang tua serta aktivitas melihat dekat.14

8
Miopia pada dasarnya dapat terjadi oleh karena pertambahan panjang aksis bola
mata tanpa diikuti oleh perubahan pada komponen refraksi yang lain, hal ini
menyebabkan sinar cahaya fokus pada satu titik di depan retina, tidak langsung di
permukaannya. Perubahan kekuatan refraksi kornea, lensa, dan akuos humor akan
menimbulkan miopia bila tidak dikompensasi oleh perubahan panjang aksis bola
mata, beberapa kasus miopia disebabkan oleh kombinasi faktor tersebut. Miopia
biasanya dimulai pada masa kanak-kanak dan mungkin memiliki risiko lebih tinggi
jika orang tuanya mengalami miopia. Terdapat fakta kuat yang mendukung dugaan
bahwa kelainan refraksi diturunkan secara genetik. Orangtua yang menderita miopia
17
cenderung mempunyai anak yang juga miopia. Sebagian besar kasus menunjukkan
bahwa miopia stabil pada awal masa dewasa tetapi kadang terus berkembang seiring
bertambahnya usia.11,14
2.3.5 Patogenesis
Insiden miopia bergantung pada faktor genetik dan lingkungan. Miopia adalah
inherediter monogenik atau poligenik. Inherediter monogenik jarang terjadi
sedangkan inherediter poligenik terjadi lebih sering. Penelitian saat ini
mengidentifikasi gen yang bertanggung jawab untuk miopia lebih dari -6.00 dioptri
ditemukan pada kromosom 1-5, 7,8, 10-12, 14, 17-22. Gen yang bertanggung jawab
untuk miopia kurang dari -6.00 dioptri ditemukan pada kromosom 7.13
Mata emetropik menunjukkan bahwa sinar cahaya paralel jatuh pada titik fokus
pada retina, sedangkan pada mata miopia, sinar cahaya paralel jatuh pada titik fokus
di depan retina, hal ini menyebabkan tidak munculnya gambar tajam pada retina
ketika pasien menatap ke kejauhan. Mata miopia menunjukkan gambar yang tajam
hanya dapat dihasilkan oleh objek dengan jarak yang dekat dimana sinar cahaya
menyebar sebelum masuk ke mata.15
Penyebabnya antara lain bola mata yang terlalu panjang dengan daya refraksi
normal (miopia aksial, gambar 2.1c), dan daya refraksi yang terlalu kuat pada panjang
bola mata yang normal (miopia refraktif, gambar 2.1d).15
Dikenal bentuk miopia:
1. Miopia refraktif merupakan bertambahnya indeks bias media penglihatan
dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Miopia

9
jenis ini di kenal dengan miopia bias atau miopia indeks, miopia yang terjadi
akibat pembiasan media penglihatan (kornea dan lensa) yang terlalu kuat.
2. Miopia aksial merupakan miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan
kelengkungan kornea dan lensa yang normal.

Gambar 2.2 Refraksi


pada miopia. a)
bayangan sinar yang
datang sejajar jatuh
pada satu titik di depan retina, (b) hanya objek dekat dimana arah sinar datang
secara divergen yang jatuh di satu titik pada retina, c) miopia aksial akibat dari
ukuran bola mata yang terlalu panjang, d) miopia refraktif kekuatan refraksi
yang berlebihan, e) miopia pada katarak nuklear dengan titik fokus ganda
(pasien melihat dobel).15

2.3.6 Manifestasi Klinis dan Klasifikasi


Kecurigaan adanya rabun jauh pada pasien bisa bergantung pada anamnesis
keluhan subjektif pasien dan temuan objektif penderita. Keluhan tersering pasien
berupa penglihatan kabur saat melihat jauh dan harus melihat dekat apabila melihat
benda-benda yang kecil, juga cepat lelah bila membaca jauh. Seseorang yang

10
mengalami miopia akan menyipitkan mata atau mengerutkan kening dan sering
mengalami sakit kepala. Derajat beratnya miopia dibagi dalam.11
a. Miopia ringan, dimana miopia lebih kecil daripada 1-3 dioptri.
b. Miopia sedang, dimana miopia antara 3-6 dioptri.
c. Miopia berat, dimana miopia lebih besar daripada 6 dioptri.
Temuan gejala objektif miopia tergantung pada gangguan miopia yang didapat,
yang digolongkan menjadi sederhana (simpleks) atau patologis.
1. Miopia simpleks:
Miopia yang sering ditemukan pada usia sekolah, dengan onset pada usia 10-12
tahun. Biasanya miopia jenis ini tidak berkembang lebih jauh setelah usia 20
tahun. Refraksi jarang melebihi -6.00 dioptri. Adapun temuan klinisnya antara
lain.15
Segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang relatif lebar.
Kadang-kadang juga ditemukan bola mata yang agak menonjol.
Segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau dapat disertai
kresen miopia (myopic cresent) yang ringan disekitar papil saraf optik.

2. Miopia patologik :
Miopia jenis ini secara umum herediter dan akan berkembang lebih jauh secara
kontinu dan independen dari pengaruh eksternal.15 Miopia patologi adalah miopia
tinggi yang terkait dengan perubahan patologi terutama di segmen posterior mata.
Miopia jenis ini termasuk penyakit yang cukup berat dan mempunyai konsekuensi
menurunnya tajam penglihatan serta penyakit mata yang serius. Temuan klinisnya
antara lain.16
Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks.
Gambaran yang ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-kelainan
pada :
1. Badan kaca : dapat ditemukan kekeruhan berupa kelainan-kelainan pada
degenerasi yang terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang
mengapung dalam badan kaca. Kadang-kadang ditemukan ablasi badan
kaca yang dianggap belum jelas hubungannya dengan keadaan miopia.
2. Papil saraf optik : terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia, papil
terlihat lebih pucat yang meluas terutama ke bagian temporal. Gambaran
pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks.

11
3. Makula : berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan
perdarahan subretina pada daerah makula.
4. Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan
retina. Akibat penipisan ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan
disebut sebagai fundus tigroid.

2.3.7 Diagnosis
Evaluasi pasien dengan miopia dengan melakukan pemeriksaan yang
komprehensif terhadap mata.
1. Riwayat Pasien
Komponen dari riwayat pasien termasuk keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang (sacred seven), riwayat penyakit terdahulu, riwayat penyakit keluarga,
penggunaan obat-obatan, riwayat alergi, dan riwayat sosial.10 Pasien dengan
miopia akan mengatakan melihat jelas bila dekat, sedangkan penglihatan kabur
saat melihat jauh sehingga disebut rabun jauh. Pasien dengan miopia akan
memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah
kelopak yang sempit. Pasien miopia mempunyai kebiasaan memicingkan
matanya untuk mendapatkan efek lubang kecil.6
2. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan tajam penglihatan, lakukan pada kedua mata dari jarak jauh
dengan snellen chart dan jarak dekat dengan Jaeger.
b. Refraksi, retinoskopi merupakan alat yang objektif dalam mengukur
kelainan refraksi. Autorefraktor juga dapat digunakan untuk menggantikan
retinoskopi walaupun tidak dapat memberikan informasi kualitatif.
c. Pergerakan bola mata dan pandangan dobel.
d. Pemeriksaan lapang pandang.
e. Pemeriksaan segmen anterior dengan senter atau pen light.
f. Pemeriksaan funduskopi dan tekanan intraokular, dilakukan karena
pasien dengan miopia berisiko tinggi untuk mengalami glaukoma, dan
ablasio retina.10 Pada pemeriksaan funduskopi terdapat miopik kresen yaitu
gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus posterior fundus mata
miopia, yang terdapat pada daerah papil saraf optik akibat tidak tertutupnya
sklera oleh koroid. Mata dengan miopia tinggi akan terdapat pula kelainan

12
pada fundus okuli seperti degenerasi makula dan degenerasi retina bagian
perifer.6

2.3.8 Tatalaksana
Koreksi miopia dengan menggunakan lensa konkaf atau lensa negatif.
Permukaan refraksi mata yang mempunyai daya bias terlalu besar, seperti pada
miopia, mengakibatkan kelebihan daya bias ini dapat dinetralisasi dengan meletakkan
lensa sferis konkaf di depan mata. Besarnya kekuatan lensa yang digunakan untuk
mengoreksi mata miopia ditentukan dengan cara trial and error, yaitu dengan mula-
mula meletakkan sebuah lensa kuat dan kemudian diganti dengan lensa yang lebih
kuat atau lebih lemah sampai memberikan tajam penglihatan yang terbaik. 9
Pemeriksaan dimulai dengan memberikan lensa sferis +0,25 dioptri. Pemeriksaan
tajam penglihatan diulang dengan meminta penderita membaca semua deretan huruf
snellen chart apabila tidak memberikan tajam penglihatan yang membaik berikan
lensa negatif dimulai dari -0,25 dioptri, ditambahakan berturut-turut -0,25 dioptri
sampai pada lensa negatif terlemah penderita dapat membaca deretan huruf 6/6 pada
snellen chart. Pasien yang dikoreksi dengan -2.00 dioptri memberikan tajam
penglihatan 6/6, demikian juga bila diberi sferis -2.50 dioptri mendapat tajam
penglihatan yang sama, maka sebaiknya diberikan koreksi -2.00 dioptri untuk
memberikan istirahat mata yang baik setelah dikoreksi.6 Koreksi miopia juga dapat
menggunakan lensa kontak, lensa kontak adalah lensa yang diletakkan di atas kornea
dan memiliki daya kohesi sehingga tetap menempel pada kornea, tujuannya adalah
untuk memperbesar bayangan yang jatuh di retina. Kerugian menggunakan lensa
kontak adalah lebih mudah terkena infeksi, apabila pemakainannya kurang
memperhatikan kebersihan, dan lebih mudah terjadi erosi kornea, terutama apabila
dipakai terlalu lama.14
Miopia yang agak berat dapat dilakukan koreksi dengan LASEK (Laser
Epithelial Keratomileusis), dimana dilakukan untuk koreksi miopia -6.00 dioptri,
umumnya sampai -8.00 dioptri. Kekurangan dari prosedur ini adalah nyeri paska
operasi. Selain itu dapat dilakukan LASIK (Laser In Situ Keratomileusis) dimana
dilakukan untuk koreksi miopia -8.00 dioptri, umumnya sampai -10.0 dioptri.

13
Komplikasi post operasi adalah dry eye, sebab banyak saraf kornea yang terpotong.
Kasus miopi yang berat bisa dilakukan tindakan operasi berupa Clear Lens
Extraction (CLE) yang diikuti penanaman lensa intraokuler.10
Pencegahan dapat dilakukan untuk mencegah kelainan mata sejak anak-anak
dan menjaga jangan sampai kelainan mata menjadi parah. Tindakan pencegahan
seperti dengan cara.10
Ambillah waktu istirahat setiap 30 menit ketika membaca atau melakukan
pekerjaan dekat yang intensif. Berdiri dan melihat keluar
jendela saat beristirahat.
Pertahankan jarak yang benar dari buku ke mata yaitu 40 - 45 cm.
Pastikan pencahayaan sudah cukup untuk membaca.
Membaca atau melakukan pekerjaan visual lainnya dengan menggunakan postur
tegak yang santai.
Tentukan batas waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi dan bermain
video game. Duduk 5-6 meter dari televisi.

2.3.9 Komplikasi
Komplikasi miopia adalah ablasio retina. Risiko untuk terjadinya ablasio retina
pada 0 sampai (- 4,75) D sekitar 1/6662, pada (- 5) sampai (-9,75) D risiko meningkat
menjadi 1/1335, lebih dari (-10) D risiko ini menjadi 1/148. Penambahan faktor risiko
pada miopia, lebih rendah tiga kali sedangkan pada miopia tinggi, meningkat secara
signifikan. Komplikasi lain berupa Vitreal Liquefaction dan Detachment. Vitreus
humor yang berada di antara lensa dan retina mengandung 98% air dan 2% serat
kolagen yang seiring pertumbuhan usia akan mencair secara perlahan-lahan, namun
proses ini akan meningkat pada penderita miopia tinggi, hal ini berhubungan dengan
hilangnya struktur normal kolagen. Tahap awal, penderita akan melihat bayangan-
bayangan kecil (floaters), pada keadaan lanjut, dapat terjadi kolaps badan viterus
sehingga kehilangan kontak dengan retina. Keadaan ini nantinya akan menimbulkan
risiko untuk terlepasnya retina dan menyebabkan kerusakan retina. Vitreus
detachment pada miopia tinggi terjadi karena luasnya volume yang harus diisi akibat
memanjangnya bola mata.6

14
Glaukoma juga menjadi salah satu komplikasi pada miopia tinggi. Risiko
terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia sedang 4,2%, dan
pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi dikarenakan stres akomodasi
dan konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung pada trabekula.
Pasien miopia mempunyai pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam
atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia
konvergensi. Kedudukan mata yang menetap seperti ini, menunjukkan penderita akan
terlihat juling ke dalam atau esotropia.6

BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama : GA

15
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 25 Februari 1999
Umur : 18 tahun 6 bulan 11 hari
Alamat : Jl. Binginsari 1 Bukit Jimbaran Badung
Agama : Kristen Katolik
Kebangsaan : WNI
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan : SMA
Status Perkawinan : Belum menikah
No Rekam Medik : 17037492
Tanggal Pemeriksaan : 30 Agustus 2017

3.2 Anamnesis
Keluhan Utama : Penglihatan kabur.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik Mata RSUP Sanglah pada tanggal 30 Agustus
2017 pukul 13.00 WITA, pasien datang dengan keluhan kedua mata kabur sejak
sekitar 8 bulan yang lalu. Pasien merasakan penglihatan pada kedua matanya kabur
terutama saat melihat jauh. Keluhan penglihatan kabur tersebut dirasakan terjadi
perlahan-lahan sejak 8 bulan yang lalu, keluhan dirasakan setiap saat dan semakin
memberat. Ketika pasien ingin melihat objek yang jauh, pasien seringkali
memicingkan mata untuk bisa memperjelas penglihatannya. Pasien mengatakan
sudah menggunakan kacamata untuk memperbaiki penglihatannya yang kabur sejak
SD dengan ukuran -1.00 terakhir dengan ukuran -3.00 dan sudah sangat tidak nyaman
sejak lama. Keluhan yang dialami pasien dikatakan cukup mengganggu namun pasien
masih dapat melakukan aktivitas sehari-sehari sendiri. Keluhan lain seperti nyeri pada
mata, sakit kepala, pusing, mata merah, perih, terasa silau, gatal, melihat bintik-bintik
disangkal oleh pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu, Alergi, dan Pengobatan


Pasien mengatakan mengalami keluhan kabur dan telah menggunakan
kacamata sejak SD dengan ukuran -1.00 terakhir dengan ukuran -3.00. Riwayat
penyakit lain pada mata dan riwayat menggunakan obat-obatan untuk memperbaiki
penglihatan disangkal oleh pasien. Riwayat penyakit sistemik seperti hipertensi dan
diabetes mellitus disangkal oleh pasien. Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat
alergi terhadap makanan maupun obat-obatan.

16
Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien merupakan anak tunggal. Pasien mengatakan tidak ada di keluarga
yang mengalami keluhan yang sama maupun yang menggunakan kacamata. Penyakit
sistemik seperti hipertensi, DM, penyakit jantung, dan ginjal disangkal oleh pasien.

Riwayat Sosial
Pasien adalah pelajar mahasiswa semester satu di Fakultas MIPA Universitas
Udayana. Pasien mengisi kegiatan sehari-hari dengan membaca buku dan novel serta
bekerja di depan komputer. Pasien mengatakan sering membaca buku atau novel di
ruangan yang agak gelap sambil berbaring di tempat tidur selama seharian. Saat
bekerja di depan komputer, pasien biasanya menghabiskan waktu selama 5-6 jam
sehari. Pasien tidak memiliki riwayat merokok maupun meminum alkohol.

3.3 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan Fisik Umum
Status Present
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis (E4V5M6)
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36 C
VAS : 0 (tidak ada nyeri)
Status General
Mata : dijelaskan pada status ophthalmology
THT : kesan tenang
Mulut : sianosis (-)
Leher : pembesaran kelenjar (-)
Thoraks : simetris (+)
Cor : S1S2 tunggal, regular, murmur (-)
Pulmo : vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : distensi (-), bising usus (+) normal
Ekstremitas :
hangat edema - -
- -

Pemeriksaan Fisik Khusus


Status Ophthalmology

17
OD OS
UCVA 2/60, PH 6/24 UCVA 1/60, PH 6/48
Visus
BCVA 6/6 BCVA 6/6
Posisi: Orthophoria
Normal Palpebra Normal
Tenang Konjungtiva Tenang
Jernih Kornea Jernih
Dalam Bilik mata depan Dalam
Bulat, regular Iris Bulat, regular
RP (+) RAPD (-) Pupil RP (+) RAPD (-)
Jernih Lensa Jernih
Jernih Vitreous Jernih
Papil N II bulat, batas Papil N II bulat, batas
tegas tegas
CDR 0,3 CDR 0,3
aa/vv 2/3 Funduskopi aa/vv 2/3
Myopic Cresent Myopic Cresent
Retina: baik Retina: baik
Makula: refleks (+) Makula: refleks (+)
17,3 Tekanan Intraokuler 10,4
Baik ke segala arah Baik ke segala arah
Gerakan Bola Mata

OD OS

REFRAKSI SUBJEKTIF
OD : S -7,50
OS : S -10,00

18
3.4 Usulan Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan karena tidak ada indikasi.

3.5 Diagnosis Kerja


ODS high miopia

3.6 Penatalaksanaan
a. Terapi non-farmakologi
Koreksi dengan pemakaian kacamata.
b. Monitoring
Kontrol ke poliklinik RSUP Sanglah setelah 6 bulan.

3.7 KIE
1. Penggunaan kacamata dengan kontrol ukuran kacamata setiap 6 bulan.

3.8 Prognosis
Ad vitam : bonam.
Ad fungsionam : dubius ad bonam.
Ad sanationam : dubius ad bonam.

BAB IV
PEMBAHASAN

Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di


depan retina, ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. Miopia adalah penyebab
umum yang menyebabkan pandangan kabur. Penelitian tahun 2011 di RSUP Sanglah
mendapatkan prevalensi penderita perempuan lebih tinggi (69,7%) dibanding laki-
laki, dan lebih tinggi pada usia 11-20 tahun (57%). Data epidemiologi tersebut sesuai
dengan keadaan pasien dimana pasien berjenis kelamin perempuan.

19
Melakukan sejumlah besar pekerjaan dengan jarak dekat dapat meningkatkan
risiko miopia. Miopia berhubungan dengan waktu yang dihabiskan untuk membaca
dan mengerjakan pekerjaan jarak dekat, pendidikan bertahun-tahun, kemampuan
akademis yang lebih tinggi, hal ini sesuai dengan pasien. Pasien memiliki kebiasaan
membaca dan bekerja di depan komputer di ruangan yang agak gelap dan terkadang
dengan posisi berbaring di tempat tidur. Pasien memiliki tingkat pendidikan yang
cukup tinggi yaitu SMA dan sekarang merupakan seorang mahasiswa di Fakultas
MIPA Universitas Udayana yang mengindikasikan pasien menjalani pendidikan
bertahun-tahun.
Penyebab miopia sampai saat ini belum diketahui pasti, diperkirakan bersifat
multifaktorial dan berhubungan dengan faktor genetik (internal) serta lingkungan
(eksternal). Faktor internal meliputi genetik, riwayat keluarga, panjang bola mata,
usia, jenis kelamin, dan etnik. Faktor eksternal meliputi pencahayaan saat tidur,
membaca, pendidikan, penghasilan, dan aktivitas melihat dekat. Faktor internal pada
pasien yang mungkin menjadi penyebab miopia yaitu faktor jenis kelamin. Pasien
merupakan perempuan dimana myopia lebih sering pada anak perempuan. Faktor
eksternal yang mungkin menjadi penyebab miopia pada pasien ini yaitu kebiasaan
pasien membaca dan bekerja di depan komputer di ruangan yang agak gelap.
Keluhan tersering pasien dengan kelainan refraksi miopia berupa penglihatan
kabur saat melihat jauh dan harus melihat dekat apabila melihat benda-benda yang
kecil, juga cepat lelah bila membaca jauh. Seseorang yang mengalami miopia akan
menyipitkan mata atau mengerutkan kening dan sering mengalami sakit kepala.
Pasien ini mengeluh kedua mata kabur sejak sekitar 2 bulan yang lalu saat melihat
jauh dan seringkali memicingkan mata untuk bisa memperjelas penglihatan saat
melihat benda jauh sehingga mengarahkan diagnosis menuju miopia. Miopia
berdasarkan derajat beratnya dibagi dalam miopia ringan, dimana miopia lebih kecil
daripada 1-3 dioptri; miopia sedang, dimana miopia antara 3-6 dioptri; miopia berat,
dimana miopia lebih besar dari 6 dioptri. Hasil pemeriksaan mata kanan pasien
memiliki kuat lensa 7,50 dioptri dan mata kiri memiliki kuat lensa 10,00 dioptri
sehingga digolongkan ke dalam miopia berat.

20
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis miopia berupa
pemeriksaan tajam penglihatan dari jarak jauh dengan snellen chart dan jarak dekat
dengan Jaeger, retinoskopi, pergerakan bola mata dan pandangan dobel, lapang
pandang, segmen anterior dengan senter atau pen light, funduskopi dan tekanan
intraokular. Pasien ini dilakukan pemeriksaan mata berupa pemeriksaan tajam
penglihatan jarak jauh dengan snellen chart, pergerakan bola mata, segmen anterior
dengan pen light, tekanan intraokular, dan funduskopi, sesuai dengan teori.
Pemeriksaan tajam penglihatan jarak jauh dengan snellen chart mendapatkan
penurunan tajam penglihatan pada mata kanan 2/60 dan mata kiri 1/60 yang
kemudian membaik setelah koreksi menggunakan pin hole menjadi 6/24 pada mata
kanan dan 6/48 pada mata kiri mengarahkan pada diagnosis kelainan refraksi.
Koreksi miopia dapat dilakukan dengan menggunakan lensa konkaf atau lensa
negatif, besarnya kekuatan lensa yang digunakan untuk mengoreksi mata miopia
ditentukan dengan cara trial and error, yaitu dengan mula-mula meletakkan sebuah
lensa kuat dan kemudian diganti dengan lensa yang lebih kuat atau lebih lemah
sampai memberikan tajam penglihatan yang terbaik. Pasien yang dikoreksi dengan
-2.00 dioptri dan memberikan tajam penglihatan 6/6, demikian juga bila diberi sferis
-2.50 dioptri mendapat tajam penglihatan yang sama, maka sebaiknya diberikan
koreksi -2.00 dioptri untuk memberikan istirahat mata yang baik setelah dikoreksi.
Koreksi miopia dapat berupa menggunakan lensa kacamata dan dapat menggunakan
lensa kontak. Miopia yang berat dapat dilakukan koreksi dengan LASEK (Laser
Epithelial Keratomileusis), LASIK (Laser In Situ Keratomileusis), atau tindakan
operasi berupa Clear Lens Extraction (CLE) yang diikuti penananam lensa
intraokuler. Pasien ini dilakukan koreksi dengan pemberian kacamata dengan lensa
konkaf atau lensa negatif pada mata kanan -7,50 dioptri dan mata kiri -10,00 dioptri
yang dapat memberikan tajam penglihatan 6/6. Pada pasien tidak dilakukan koreksi
dengan LASEK (Laser Epithelial Keratomileusis), LASIK (Laser In Situ
Keratomileusis) karena belum dapat dilakukan di RSUP Sanglah Denpasar.

21
BAB V
KESIMPULAN

Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di


depan retina ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. High myopia
didefinisikan sebagai speris lebih besar dari -6,0 dioptri. Miopia dan high myopia
diperkirakan masing-masing mempengaruhi 27% (1893 juta) dan 2,8% (170 juta)
populasi dunia pada tahun 2010. Penyebab miopia sampai saat ini belum diketahui
pasti, diperkirakan bersifat multifaktorial dan berhubungan dengan faktor genetik
(internal) serta lingkungan (eksternal). Keluhan tersering pasien berupa penglihatan
kabur saat melihat jauh dan harus melihat dekat apabila melihat benda-benda yang
kecil, juga cepat lelah bila membaca jauh. Tatalaksana miopia dapat dilakukan
dengan koreksi menggunakan lensa konkaf atau lensa negatif. Miopia yang berat
dapat dilakukan koreksi dengan LASEK (Laser Epithelial Keratomileusis), LASIK
(Laser In Situ Keratomileusis), atau tindakan operasi berupa Clear Lens Extraction
(CLE) yang diikuti penananam lensa intraokuler. Komplikasi miopia adalah abalsio
retina, vitreal liquefaction dan detachment, serta glaukoma.

DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Ophthalmology. Refractive Errors. 2014. Tersedia


dalam http://eyesightandsurgery.com/Data/forpatients/patienteducation/
Refractive_Errors.pdf (diakses 1 September 2017).

22
2. Riordan-Eva P dan Whitcher JP. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum.
Jakarta : EGC. 2012.
3. Resnikoff S. Global magnitude of visual impairment caused by uncorrected
refractive errors in 2004. Bulletin of the World Health Organization.
2008;86(1):63-70.
4. Handayani AT , I GN Anom S, and C.I. Dewayani P. Characteristic of patients
with refractive disorder At eye clinic of sanglah general hospital
denpasar,bali-indonesia. Bali Medical Journal (BMJ). 2012;1(3):101-107.
5. Moore KL dan Agur AM. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta : Hipokrates. 2013.
6. Ilyas HS. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2010.
7. Azar DT dan Koch DD. Lasik Fundamentals, Surgical Techniques, and
Complications. New York : Marcel Dekker, Inc. 2002.
8. Wu S. Layers of the Human Eye. Tersedia dalam :
www.studenthealth.ucla.edu/.../Layers%20of%20the%20Human%20Eye.pdf
(diakses 1 September 2017).
9. Guyton AC dan Hall JE. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta :
EGC. 2012.
10. American Optometric Association. Optometric clinical practice guideline:
Care of the patient with myopia. United States. 2006:7-8.
11. Upadhyay, S. Myopia, hyperopia and astigmatism: A complete review with
view of differentiation. International Journal of Science and Research.
2015;5(8):125-129.
12. Yu L, Li Z, Gao J, Liu J, Xu C. 2011. Epidemiology, genetics and treatments
for myopia. Int J Ophthalmol. 2011;4(6).
13. Czepita, D. Myopia: incidence, pathogenesis, management and new
possibilities of treatment. Russian Ophthalmological Journal. 2014:1;96-101.
14. Hayatillah. Prevalensi miopia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada
mahasiswa program studi pendidikan dokter Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.
UIN Hidayatullah: Jakarta. 2011.
15. Lang, G. A short textbook of ophtalmology. Thieme Stuttgart: New York.
2000.
16. Goss, DA, et all. Care of the patient with myopia. American Optometric
Association. 2006;5(7):21-22.

23
24