Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

ABORTUS INKOMPLIT

PEMBIMBING :
dr. Ihsan Oetama, Sp.OG

DISUSUN OLEH :
Noversly Saerang
030.10.208

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI & GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT TNI AL MINTOHARDJO
PERIODE 19 DESEMBER 2016 25 FEBRUARI 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN.3
BAB II. LAPORAN KASUS.4
BAB III. ANALISA KASUS12
BAB IV. TINJAUAN PUSTAKA.14
DAFTAR PUSTAKA25

2
BAB I
PENDAHULUAN

Dewasa ini, terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan,


danyang paling sering terjadi adalah abortus. Abortus adalah keluarnya
janinsebelum mencapai viabilitas, dimana masa gestasi belum mencapai usia 20
minggu dan beratnya kurang dari 500gr. Angka kejadian abortus, terutama
abortus spontan berkisar 10-15 %. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% jika
diperhitungkan banyaknya wanita mengalami yang kehamilan dengan usia sangat
dini, terlambatnya menarche selama beberapa hari, sehingga seorang wanita tidak
mengetahui kehamilannya. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per
tahun,dengan demikian setiap tahun terdapat 500.000- 750.000 janin
yangmengalami abortus spontan.

Abortus terjadi pada usia kehamilan kurang dari 8 minggu,


janindikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua
secara mendalam. Pada kehamilan 8-14 minggu villi koriales menembus desidua
secara mendalam, plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak
perdarahan. Pada kehamilan diatas 14 minggu, setelah ketubah pecah janin yang
telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dankemudian
plasenta. Menariknya pembahasan tentang abortus dikarenakan pemahaman
dikalangan masyarakat masih merupakan suatu tindakan yang masih dipandang
sebelah mata.

3
BAB II
LAPORAN KASUS

2.1 IDENTITAS
Identitas pasien
Nama : Ny K
Umur : 40 tahun
Pekerjaan : karyawan swasta
Pendidikan : SMA
Alamat : Jl. Kebon jahe VIII No. 67 RT 008/002 Petojo Selatan Gambir Jakarta
Pusat
Agama : islam
Suku : Jawa
Status : menikah
Masuk RS : 11 Januari 2017
No RM : 17-01-11

Identitas suami
Nama : Tn. A
Umur : 45 tahun
Pekerjaan : karyawan swasta
Pendidikan : SMA
Alamat : Jl. Kebon jahe VIII No. 67 RT 008/002 Petojo Selatan Gambir Jakarta
Pusat
Agama : Islam
Suku : Jawa
Status : menikah

2.2 ANAMNESIS
Dilakukan autoanamnesis dengan pasien Ny. K bertempat di kamar bersalin RSAL Dr.
Mintohardjo pada hari Rabu, 11 Januari 2017 pukul 23.00 WIB.

4
Keluhan Utama
Keluar darah disertai jaringan dari vagina sejak 2 jam SMRS.
Keluhan Tambahan
OS juga mengeluh mules (+)

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien GIVP1A2 hamil 14-15 minggu datang ke Kamar Bersalin RSAL Dr. Mintohardjo dengan
keluhan keluar darah disertai jaringan sejak 2 jam SMRS. Perdarahan yang terjadi berupa darah
berwarna merah gelap disertai dengan gumpalan-gumpalan. Keluarnya darah juga disertai rasa
mules di perut pasien. Sesampai di RS, perdarahan sudah berhenti dan pasien masih merasakan
nyeri perut.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat diabetes mellitus : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat Kebiasaan
Pasien tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, dan tidak minum jamu-jamuan.
Riwayat Pengobatan
Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan sebelumnya.
Riwayat Menstruasi
Menarche : 12 tahun
Dysmenorrhea : tidak ada
Siklus haid : 28 hari teratur
Lama haid : 7 hari
HPHT : 3 Oktober 2016
Taksiran partus : 10 Juli 2017

5
Riwayat Obstetrik
No Umur Tahun Tempat Jenis Anak
kehamilan persalinan pertolongan persalinan
1. An.A 2006 RS Normal BB : 2800
gram
PB : 49 cm

Riwayat Pernikahan
Pasien menikah satu kali, usia pernikahan 13 tahun, usia saat menikah 27 tahun.
Riwayat Kontrasepsi
Pasien tidak menggunakan kontrasepsi (-)

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Generalis

Keadaan umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Compos mentis, GCS = 15 (E4M6V5)
Antropometri
o BB sekarang : 59 kg
o Tinggi badan : 160 cm
Tanda vital
o Tekanan darah : 120/80
o Nadi : 76x/menit
o Suhu : 36,9oC
o Pernafasan : 20x/ menit

Kepala : normocephali
Mata : Konjunctiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Hidung : deviasi septum (-),
pernapasan cuping hidung (-)

Mulut : bibir kering (-), sianosis (-)


Leher : tidak ada pembesaran KGB dan tiroid

Jantung : Bunyi jantung I &II reguler, murmur (-), gallop (-)

6
Paru : Suara nafas vesikuler, wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
Abdomen : Datar, nyeri tekan perut bagian kiri bawah (+), bising usus (+)
Ekstremitas : Superior : Akral hangat, edema (-)
Inferior : Akral hangat, edema (-)

B. Status Obstetrik
a) Pemeriksaan Luar
Abdomen
- Palpasi :
o Supel, turgor baik
o Tinggi fundus uteri : belum dapat ditentukan
o Nyeri tekan di daerah kiri bawah (+)
o Ballottement (+)
- Auskultasi : Bising usus (+)
Genitalia
- Inspeksi :
o Edema (-), darah (+), lendir (-)
b) Inspekulo : Tidak dilakukan
c) Pemeriksaan dalam :
- Nyeri goyang serviks (-)
- Vulva/ uretra tenang
- Dinding vagina dalam batas normal
- Ostium uteri terbuka, darah (+)

7
2.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Laboratorium
12 Januari 2017

Hematologi Hasil Satuan Nilai Rujukan


Darah rutin
Leukosit 8.700 /L 5000 -10000/L

Eritrosit 4,27 juta/L 4,2-5,4 juta/L

Hemoglobin 13,2 g/L 12-14 g/Dl

Hematokrit 39 % 37 - 42 %

Trombosit 210.000 /L 150.000 450.000 /L


Hemostasis
Masa pendarahan/BT 2 30 Menit 1 - 3 menit
Masa pembekuan/CT 11 00 Menit 5 - 15 menit

B. USG
12 Januari 2017

8
2.5 HASIL FOLLOW UP

Tanggal 11 Januari 2017

Tanggal 12 Januari 2017

9
Tanggal 13 Januari 2017

2.6 RESUME

Pasien GIVP1A2 hamil 19-20 minggu datang ke Kamar Bersalin RSAL Dr.
Mintohardjo dengan keluhan keluar darah disertai jaringan sejak 2 jam SMRS. Perdarahan
berupa darah berwarna merah gelap disertai dengan gumpalan-gumpalan. Keluarnya darah
juga disertai rasa mules di perut pasien.
Pada pemeriksaan status generalis pasien tampak sakit sedang, compos mentis
dengan GCS 15 (E4M6V5), tekanan darah = 120/80, nadi = 76x/ menit, suhu = 36,6 OC,
pernapasan = 18x/ menit. Pada pemeriksaan status obstetric pada palpasi abdomen
ditemukan ballottement (-), pada pemeriksaan inspekulo dinding vagina dalam batas
normal, portio livide utuh, ostium uteri terbuka, tidak tampak jaringan dan darah keluar
dari ostium uteri. Pada pemeriksaan dalam didapatkan vulva/ uretra tenang, dinding vagina
dalam batas normal, ostium uteri terbuka, darah (+), nyeri goyang (-).

2.7 DIAGNOSIS
GIVP1A2 hamil 14-15 minggu dengan abortus inkomplit

10
2.8 PENATALAKSANAAN
Medikamentosa
Cefadroxyl 2x1
Asam mefenamat 3x1
Infus RL 20 tpm

Non medikamentosa
Pro USG
Rencana konsul Sp.An
Pro curettage

2.9 PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad fungsionam : bonam
Ad sanationam : bonam

11
BAB III
ANALISIS KASUS

Wanita GIVP1A2 hamil 14-15 minggu datang ke kamar bersalin RSAL DR. Mintohardjo
datang dengan keluhan keluar darah dan jaringan dari vagina sejak 1 jam yang lalu. Pasien
mengaku usia kehamilan 14-15 minggu maka dapat dipastikan bahwa keluhan ini termasuk
perdarahan pada kehamilan muda. Kemungkinan perdarahan kehamilan muda yang dapat
terjadi adalah abortus, kehamilan ektopik terganggu, dan mola hidatidosa, maka diperlukan
anamnesis dan pemeriksaan lebih lanjut untuk pasien ini. Pada pasien ini terdapat perdarahan
yang disertai keluarnya jaringan-jaringan, maka kemungkinan terjadi abortus pada pasien ini.
Pada anamnesis, pasien mengaku perdarahan keluar terus menerus, maka dapat membahayakan
ibu hamil karena dapat terjadi syok hipovolemik apabila tidak ditangani.

Pada status generalis tidak didapatkan kelainan. Pada tanda vital didapatkan keadaan
umum pasien baik, kesadaran pasien compos mentis dengan GCS 15 (E4M6V5), dengan
tekanan darah 120/80, nadi 76x/menit, pernapasan 20x, dan suhu 36,9oC. Pada pemeriksaan
obstetric didapatkan balotement (+), namun tinggi fundus uteri masih sulit ditentukan yang
berarti ukuran uterus sudah membesar. Selain itu, pada pemeriksaan inspekulo ditemukan
adanya ostium uteri terbuka, darah keluar dari ostium uteri. Berdasarkan penemuan di
pemeriksaan inspekulo ini kemungkinan perdarahan masih keluar terus menerus dari dalam
uterus menunjukkan adanya sisa jaringan yang masih tersisa di dalam uterus. Pada pemeriksaan
dalam didapatkan vulva/uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, ostium uteri
terbuka, darah (+), dan nyeri goyang (-).

Pada kasus ini secara anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan obstetri dan
pemeriksaan ginekologi maka dapat ditegakkan diagnosis abortus inkomplit dengan
menyingkirkan kemungkinan lain. Diagnosis abortus ditegakkan dari anamnesis didapatkan
keluhan utama yaitu perdarahan yang disertai keuarnya gumpalan-gumpalan darah.Selain itu
dari anamnesis, pasien tidak mengeluh adanya nyeri hebat pada abdomen. Sedangkan, pada
pemeriksaan inspekulo didapatkan ostium uteri yang terbuka dan ditemukan jaringan-jaringan
yang keluar dan terdapat perdarahan yang masih keluar.

12
Penatalaksanaan pada pasien ini direncanakan tindakan kuretase yaitu untuk
mengeluarkan sisa jaringan yang tersisa dalam cavum uteri sehingga uterus dapat berkontraksi
dengan baik dan perdarahan dapat teratasi sehingga pasien tidak mengalami syok hipovolemik.

13
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kemampuan
kandungan, sebagai batasan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari
500 gram.

II. ETIOLOGI
Faktor genetik
Sekitar 5 % abortus terjadi karena faktor genetik. Paling sering ditemukannya
kromosom trisomi dengan trisomi 16. Penyebab yang paling sering menimbulkan
abortus spontan adalah abnormalitas kromosom pada janin. Lebih dari 60% abortus
spontan yang terjadi pada trimester pertama menunjukkan beberapa tipe abnormalitas
genetik. Abnormalitas genetik yang paling sering terjadi adalah aneuploidi
(abnormalitas komposisi kromosom) contohnya trisomi autosom yang menyebabkan
lebih dari 50% abortus spontan. Poliploidi menyebabkan sekitar 22% dari abortus
spontan yang terjadi akibat kelainan kromosom.

Kelainan Anatomik
Insiden kelainan bentuk uterus berkisar 1/200 sampai 1/600 perempuan. Pada
perempuan dengan riwayat abortus, ditemukan anomali uterus pada 27% pasien.
Klamidiami maternal yang dihubungkan dengan kejadian abortus spontan yang
berulang termasuk inkompetensi serviks, kongenital dan defek uterus yang didapatkan
(acquired). Malformasi kongenital termasuk fusi duktus Mulleri yang inkomplit yang
dapat menyebabkan uterus unikornus, bikornus atau uterus ganda. Defek pada uterus
yang acquired yang sering dihubungkan dengan kejadian abortus spontan berulang
termasuk perlengketan uterus atau sinekia dan leiomioma. Adanya kelainan anatomis
ini dapat diketahui dari pemeriksaan ultrasonografi (USG), histerosalfingografi (HSG),
histeroskopi dan laparoskopi (prosedur diagnostik).

14
Penyebab autoimun
Terdapat hubungan yang nyata antara abortus berulang dan penyakit autoimun,
misalnya pada systematic Lupus Eritematous (SLE) dan Antiphospholipid Antibodies
(aPa). aPa merupakan antibody spesifik yang didapati pada perempuan SLE. Kejadian
abortus spontan diantara pasien SLE sekitar 10% disbanding populasi umum.

Penyebab infeksi
Infeksi intrauterin sering dihubungkan dengan abortus spontan berulang.
Beberapa jenis organisme yang berdampak pada kejadian abortus antara lain :
- Bakteria
o Listeria monositogenes
o Klamidia trakomatis
o Ureaplasma urealitikum
o Mikoplasma hominis
o Bakterial vaginosis
- Virus
o Sitomegalovirus
o Rubela
o Herpes simpleks virus (HSV)
o Human immunodeficiency virus (HIV)
o Parvovirus
- parasit
o Toksoplasmosis gondii
o Plasmodium falsiparum
- Spirokaeta
o Treponema pallidum

Faktor lingkungan
Diperkirakan 1-10 % malformasi janin akibat dari paparan obat, bahan kimia, atau
radiasi dan umumnya berakhir dengan abortus, misalnya paparan terhadap buangan gas
anestesi dan tembakau. Sigaret rokok diketahui mengandung ratusan unsur toksik.
Antara lain nikotin yang telah diketaui mempunyai efek vasoaktif sehingga
mengahambat sirkulasi uteroplasenta. Karbon monoksida juga menurunkan pasokan

15
oksigen ibu dan janin serta memacu neuroksin. Dengan adanya gangguan pada system
sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin yang berakibat
terjadinya abortus.

Faktor hormonal
Pada ovulasi, implantasi, dan kehamilan dini bergantung pada koordinasi yang
baik system pengaturan hormone maternal. Oleh karena itu, perlu perhatian
langsung terhadap system hormon keseluruhan, fase luteal, dan gambaran
hormone setelah konsepsi terutama hormone progesteron. Progesteron punya
peran penting dalam mempengaruhi reseptivitas endometrium terhadap
implantasi embrio. Kadar progesterone yang rendah berhubungan dengan
resiko abortus.

- Diabetes mellitus
Perempuan dengan diabetes yang dikelola dengan baik risiko abortusnya tidak
lebih buruk dibandingan perempuan tanpa diabetes.Akan tetapi, perempuan
diabetes dengan kadar HbA1c tinggi pada trimester pertama risiko abortus dan
malformasi janin meningkat signifikan. Diabetes jenis insulin dependen
dengan control glukosan tidak adekuat punya peluang 1-3 lipat mektorngalami
abortus.

Faktor hematologik
Beberapa kasus abortus berulang ditandai dengan defek plasentasi dan adanya
mikrotrombi pada pembuluh darah palsenta.
Berbagai komponen koagulasi dan fibrinolisis memegang peran penting pada
implantasi embrio, invasi trofoblas, dan plasentasi. Pada kehamilan terjadi keadaan
hiperkoagulasi dikarenakan :
- Peningkatan kadar faktor koagulan
- Penurunan factor antikoagulan
- Penurunan aktivitas fibrinolitik

16
Faktor nutrisi
Malnutrisi umum yang sangat berat memiliki kemungkinan besar menjadi predisposisi
abortus. Meskipun demikian, belum ditemukan bukti yang menyatakan defisiensi salah
satu/ semua nutrient dalam makanan merupakan suatu penyebab abortus.
Faktor eksternal
- Radiasi
Dosis 1-10 rad bagi janin dengan usia kehamilan 9 minggu pertama dapat merusak
janin, dan pada dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan kematian.
- Obat-obatan
Peranan penggunaan obat-obatan rekreasional tertentu yang dianggap
teratogenik harus dicari dari anamnesis seperti tembakau dan alcohol.
Sebaiknya pada pasien dengan usia kehamilan < 16 minggu tidak menggunakan
obat-obatan, kecuali ada indikasi tertentu yang mengharuskan pasien
mengkonsumsi obat tersebut.

Faktor psikologis
Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus yang berulang dengan keadaan mental
akan tetapi belum dapat dijelaskan sebabnya. Yang peka terhadap terjadinya abortus
ialah wanita yang belum matang secara emosional dan sangat penting dalam
menyelamatkan kehamilan.

III. PATOLOGI

Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh bagian
embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua. Kegagalan fungsi plasenta yang
terjadi akibat perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya kontraksi uterus
dan mengawali proses abortus. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, embrio rusak atau
cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi chorialis cenderung
dikeluarkan secara in toto , meskipun sebagian dari hasil konsepsi masih tertahan dalam
cavum uteri atau di canalis servicalis. Perdarahan pervaginam terjadi saat proses
pengeluaran hasil konsepsi. Pada kehamilan 8 14 minggu, mekanisme diatas juga terjadi
atau diawali dengan pecahnya selaput ketuban lebih dulu dan diikuti dengan pengeluaran
janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal dalam cavum uteri. Plasenta mungkin

17
sudah berada dalam kanalis servikalis atau masih melekat pada dinding cavum uteri. Jenis
ini sering menyebabkan perdarahan pervaginam yang banyak. Pada kehamilan minggu
ke 14 22, Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta
beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam uterus sehingga
menyebabkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi perdarahan pervaginam yang banyak.
Perdarahan umumnya tidak terlalu banyak namun rasa nyeri lebih menonjol. Dari
penjelasan di atas jelas bahwa abortus ditandai dengan adanya perdarahan uterus dan nyeri
dengan intensitas beragam.

IV. KLASIFIKASI

A. Abortus spontan
o Abortus iminens
Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai
dengan perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan konsepsinya masih
baik dalam kandungan.
Diagnosis abortus iminens biasanya diawali dengan perdarahan pervaginam pada
umur kehamilan kurang dari 20 minggu. Pasien mengeluh mulas sedikit atau tidak
ada keluhan sama sekali kecuali perdarahan pervaginam. Ostium uteri masih
tertutup besarnya uterus masih sesuai dengan umur kehamilan dan tes urin
kehamilan masih positif. Untuk menetukan prognosis abortus iminens dapat
dilakukan dengan melihat kadar hormone hCG pada urin dengan cara melakukan
tes urin menggunakan urin tanpa pengenceran dan pengenceran 1/10. Bila hasil tes
urin positif keduanya maka prognosisnya baik, bila pengenceran 1/10 hasilnya
negative maka prognosisnya dubia ad malam.

o Abortus insipiens
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah mendatar dan
ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri
dan dalam proses pengeluaran. Pasien akan merasa mulas karena kontraksi yangs
erring dan kuat, perdarahannya bertambah sesuai dengan pembukaan serviks uterus
dan umur kehamilan. Besar uterus masih sesuai dengan usia kehamilan dengan tes
urin kehamilan masih positif. Pada pemeriksaan USG akan didapati pembesaran

18
uterus yang masih sesuai dengan usia kehamilan, gerak janin dan gerak jantung
janin masih jelas walau mungkin mulai sudah tidak normal.
o Abortus inkompletus
Adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada
yangtertinggal di kavum uteri. Kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan
dalamkavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum.Bila terjadi
perdarahan hebat , dianjurkan segera melakukan pengeluaran sisa hasilkonsepsi
secara manual agar jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi uterus
segeradikeluarkan, kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan bisa
berhenti.Selanjutnya dilakukan tindakan kuretase

o Abortus kompletus
Adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilankurang
dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.Semua hasul konsepsi telah
dikeluarkan, osteum urteri telah menutup, uterussudah mengecil sehingga
perdarahan sedikit. Besar uterus tidak sesuai dengan usiakehamilan. Pemeriksaan
USG tidak perlu dilakukan bila pemeriksaan klinis sudahmemadai. Penderita tidak
memerlukan tindakan khusus ataupun pengobatan.Uterotonika tidak perlu
diberikan.

o Missed abortion
Missed abortion adalah abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah
meninggal dalamkehamilan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi
seluruhnya masihtertahan dalam kandungan. Penderita merasakan pertumbuhan
janinnya tidak sepertiayng diharapkan, rahimnya semakin mengecil dengan tanda-
tanda kehamilan sekunder pada payudara mulai menghilang. Biasanya diawali
dengan abortus iminens yangkemudian merasa sembuh, tetapi pertumbuhan janin
terhenti.Pada pemeriksaan USG akan didapatkan uterus mengecil, kantong
gestasimengecil dan bentuk tidak beraturan disertai gambaran fetus yang tidak ada
tanda-tanda kehamilan.Pada umur kehamilan kurang dari 12 minggu tindakan
evakuasi dapat dilakukansecara langsung dnegan melakukan dilatasi dan tindakan
kuretase. Bila kehamilan lebih dari 12 atau kurang dari 20 minggu dengan keadaan
serviks masih kakudianjurkan untuk melakukan tindakan induksi terlebih dahulu
untuk mengeluarkan janin.Beberapa cara dapat dilakukan dengan pemberian infus

19
intravena cairanoksitosin dimulai dari dosis 10 unit dalam 500cc dekstrose 5%
tetesan 20 teter per menit dan dapat diulangi sampai total oksitosin 50 unit. Setelah
janin atau jaringan konsepsi berhasil dikeluarkan dilanjutkan dengan tindakan
kuretase sebersih mungkin.
o Abortus habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-
turut.
o Abortus infeksiosus, abortus septic
Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman
atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering ditemukan
ada abortus inkompletus atau abortus buatan, terutama yang kriminalis tanpa
memperhatikan syarat-syarat asepsis dan antisepsis. Antara bakteri yang dapat
menyebabkan abortus septik adalah seperti Esherichia coli, Interobacter acrogenes,
Proteus vulgaris, Streptococcus hemolyticus dan staphylococcus.

o Kehamilan anembrionik ( blighted ovum)


Merupakan kehamilan patologi dimana mudigah tidak terbentuk sejak awal
walaupun kantong gestasi tetap terbentuk.Disamping mudigah, kantong kuning
telur juga tidak ikut terbentuk. Kelainan ini merupakan suatu kelainan kehamilan
yang baru terdeteksi setelah berkembangnya ultrasonografi. Bila tidak dilakukan
tindakan, kehamilan ini akan berkembang terus walaupun tanpa ada janin di
dalamnya. Diagnosis kehamilan embrionik ditegakkan pada usia kehamilan 7-8
minggu bila pada pemeriksaan USG didapatkan kantong gestasi tidak berkembang
atau pada diameter 2,5 cm yang tidak disertai gambaran mudigah. Untuk itu,
apabila pada USG didapatkan gambaran seperti itu dilakukan evaluasi USG 2
minggu kemudian. Bila tetap tidak didapatkan struktur mudigah atau kantong
kuning telur dan diameter kantong gestasi sudah mencapai 25 mm maka dapat
dinyatakan sebagai kehamilan anembrionik. Pengelolaan kehamilan anembrionik
dilakukan terminasi kehamilan dengan dilatasi dan kuretase secara efektif.

B. Abortus provokatus

Abotus provokatus merupakan abortus yang sengaja dilakukan, baik dengan menggunakan
alat-alat maupun obat-obatan.

20
Abortus provokatus ini terbagi lagi menjadi :

a. Abortus provokatus medisinalis


Abortus ini merupakan abortus yang dilakukan dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan dan dapat membahayakan nyawa ibu.

Syarat dilakukan abortus provokatus medisinalis :

Dilakukan oleh tenaga kesehatan yeng memiliiki keahlian dan kewenangan untuk

melakukannya ( dokter ahli kebidanan danpenyakit kandungan) sesuai dengan


tanggungjawab profesi

Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama,hukum, psikologi)

Harus ada persetujuan tertulis dari pendeerita atau suaminya atau keluarga terdekat.

Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/peralatan yang memadai.

Prosedur tidak dirahasiakan

Dokumen medik harus lengkap

b. Abortus provokatus kriminalis


Yaitu tindakan abortus yang tidak mempunyai alasan medis yang dapat
dipertanggungjawabkan atau tanpa mempunyai arti medis yang bermakna. Jelas
tindakan pengguguran kandungan di sini semata-mata untuk tujuan yang tidak baik dan
melawan hukum. Tindakan abortus tidak bias dipertanggungjawabkan secara medis,
dan dilakukanhanya untuk kepentingan si pelaku,walaupun ada kepentingan juga dari
si-ibu yang malu akan kehamilannya. Abortus kriminal dapat dilakukan oleh wanita itu
sendiri ataudengan bantuan orang lain (dokter, bidan, perawat, dukun beranak dan lain-
lain). Tindakan ini biasanya dilakukan sejak yang bersangkutan terlambat datang bulan
dan curiga akibat hamil. Biasanya kecurigaan ini datang pada minggu ke-5 sampai
minggu ke 10.

21
V. GAMBARAN KLINIS
Gejala abortus berupa amenorea, sakit perut kram, dan mules-mules.
Perdarahan pervaginam bisa sedikit atau banyak dilihat dari pads atau tampon yang
telah dipakai, dan biasanya berupa darah beku tanpa atau desertai dengan keluarnya
fetus atau jaringan. Ini penting untuk melihat progress abortus. Pada abortus yang sudah
lama terjadi atau pada abortus provokatus sering terjadi infeksi yang dilihat dari
demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeri tekan,dan
leukositosis. Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru saja terjadi didapati
serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis
atau kavum uteri, serta uterus berukuran kecil dari seharusnya. Pada pemeriksaan
USG,ditemukan kantung gestasional yang tidak utuh lagi dan tiada tanda-tanda
kehidupan dari janin.

Menurut gambaran klinis abortus dapat dibedakan menjadi:


a) Abortus imminens yaitu abortus tingkat permulaan
dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil
konsepsi masih baik dalam kandungan.
b) Abortus insipiens
yaitu abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium
uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri.
c) Abortus inkomplit
jika hanya sebagian hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua
atau plasenta.
d) Abortus komplit
artinya seluruh hasil konsepsi telah keluar (desidua atau fetus), sehingga rongga
rahim kosong.
e) Missed abortion
abortus dimana fetus atau embrio telah meninggal dalam kandungan sebelum
kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam
kandungan selama 6 minggu atau lebih.
f) Abortus habitualis
keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.

22
g) Abortus infeksius
abortus yang disertai infeksi genital.
h) Abortus septic
abortus yang disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ataupun toksinnya
kedalam peredaran darah atau peritonium.

VI. DIAGNOSIS

Diagnosis abortus ditegakkan berdasarkan :

6.1 Anamnesis

3 gejala utama (postabortion triad) pada abortus adalah nyeri di perut bagian bawah
terutamanya di bagian suprapubik yang bisa menjalar ke punggung,bokong dan
perineum, perdarahan pervaginam dan demam yang tidak tinggi. Gejala ini
terutamanya khas pada abortus dengan hasil konsepsi yang masih tertingal di dalam
rahim. Selain itu, ditanyakan adanya amenore pada masa reproduksi kurang 20
minggu dari HPHT. Perdarahan pervaginam dapat tanpa atau disertai jaringan hasil
konsepsi. Bentuk jaringan yang keluar juga ditanya apakah berupa jaringan yang
lengkap seperti janin atau tidak atau seperti anggur. Rasa sakit atau keram bawah
perut biasanya di daerah atas simpisis.

6.2 Pemeriksaan Fisik

Bercak darah diperhatikan banyak, sedang atau sedikit. Palpasi abdomen dapat
memberikan idea keberadaan hasil konsepsi dalam abdomen dengan pemeriksaan
bimanual. Yang dinilai adalah uterus membesar sesuai usia gestasi, dan konsistensinya.
Pada pemeriksaan pelvis, dengan menggunakan spekulum keadaan serviks dapat dinilai
samaada terbuka atau tertutup , ditemukan atau tidak sisa hasil konsepsi di dalam uterus
yang dapat menonjol keluar, atau didapatkan di liang vagina.

VII..PENATALAKSANAAN

Pada abortus insipiens dan abortus inkompletus, bila ada tanda- tanda syok maka diatasi
dulu dengan pemberian cairan dan transfusi darah. Kemudian, jaringan dikeluarkan
secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu, beri obat-obat

23
uterotonika dan antibiotika. Pada keadaan abortus kompletus dimana seluruh hasilkonsepsi
dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rongga rahim kosong, terapi yangdiberikan
hanya uterotonika. -ntuk abortus tertunda, obat diberi dengan maksud agar terjadi his
sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil, dilatasi dan kuretase
dilakukan. histerotomia anterior juga dapat dilakukan dan pada penderita,diberikan tonika
dan antibiotika. Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih
besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya. Merokok dan
minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan. Pada serviks inkompeten, terapinya
adalah operation yaitu operasi Shirodkar atau Mcdonald.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Sulaiman S,dkk. 2005. Abortus. Dalam : Obstetri Patologi. EGC : Jakarta. Hal 1-11
2. Hadijanto, 2008. Perdarahan pada kehamilan muda. Ilmu Kebidanan Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
3. McPhee S, Obsterics and obstretrics disoders,Current medical diagnosis and treatment,
2009 edition, Mc Graw Hill, 2008
4. F. G Cunningham, KJ. Leveno, SL. Bloom. Abortion in William Obstetrics, 22nd
edition. Mc-Graw Hill, 2005
5. Silver RM, Branch DW, Goldenberg R, et al. 2011: Nomenclature for pregnancy
outcomes. Obstet Gynecol. 118 (6) : 1402
6. Virk. Jasveer. 2007. Medical abortion and the risk of subsequent adverse pregnancy
outcomes. N Engl J Med, 2007; 357 :648-53
7. Pazol K, Zane SB, Parker WY, et al : Abortion surveillance, 2008 ; 60 (15): 1 ,2011
8. Valley, VT. Abortion Incomplete. In :
Emedicine.http://www.emedicene.com/emerg/obs-tetrics and gynecology.htmlast
update: agust, 2008. Accessed : January 20, 2017

25