Anda di halaman 1dari 8

CHAPTER I

INTRODUCTION OF OPERATION MANAGEMENT

I. DIFINISI MANAJEMEN OPERASI


Dari perspektif organisasi maka Manajemen Operasi merupakan proses konversi

manajemen yang dimulai dari tranformasi input (bahan baku) atau komponen lain

untuk dijadikan output yang terdiri dari barang dan jasa.

Dalam proses konversi yang menjadi elemen dasar adalah factor masukan (input

factor) untuk diproses dan keluaran (out put) sebagi hasil dari proses masukan

yang disertai informasi umpan balik (information feedback) yang merupakan

system operasional ( Adam and Ebert, 1995)

Gambar : 1.1

Input proses Output


A konversi M Barang/jasa

Membandingkan
hasil dengan ukuran
(selera)

Umpan Balik

PERKEMBAGAN KEPUTUSAN MANAJEMEN DALAM FUNGSI OPERASI

TERDIRI DARI : ( Seperti gambar 1.1.)

1. Keputusan strategis (jangka panjang), pada tingkatkan ini muncul berbagai

issue tentang :

- Bagaimana kita membuat produk

- Dimana kita meletakan fasilitas

- Berapa banyak kapasitas yang kita perlukan


- Kapan sebaiknya kita harus menambah kapasitas

2. Keputusan taktis (jangka menengah), pada tingkatkan ini muncul berbagai

issue tentang :

- Berapa banyak tenaga kerja yang kita perlukan

- Kapan kita memerlukannya

- Haruskah kita bekerja lembur atau meletakan pada shift kedua

- Kapan seharusnya kita mengirimkan material

- Haruskah kita melakukan persediaan barang jadi

3. Keputusan operasional (jangka pendek), pada tingkatkan ini muncul berbagai

issue tentang :

- Pekerjaaan apa yang seharusnya kita kerjakan hari ini atau minggu ini

- Kepada siapa kita bertanya tentang tugas-tugas

- Pekerjaan apa yang prioritas

Gambar 1.2 :

PROSES TRANSFORMASI DALAM MANAJEMEN OPERASIONAL

MELIPUTI :
Physical dikenal dengan manufacture

Locational dikenal dengan transportasi

Exchange dikenal dengan perdagangan eceran

Storage dikenal dengan pergudangan

Physiological dikenal dengan pelayanan kesehatan

Informational dikenal dengan telokomunikasi

II. KONTRIBUSI MANAJEMEN OPERASI BAGI MASYARAKAT DAN

PRAKTEK

Secara riil dalam setiap aktivitas kehidupan masyarakat sangat memerlukan peran

dari manajemen operasi, mulai dari penyediaan makanan, transportasi, sarana

hiburan dsb . Disamping itu adanya Manajemen Operasional diharapkan mampu :

a. Meningkatkan produktivitas

b. Menurunkan biaya produksi

c. Meningkatkan kualitas dari barang dan jasa

d. Meningkatkan pengelolaan lingkungan

e. Meningkatkan kondisi kerja dalam organisasi

III.APLIKASI MANAJEMEN OPERASI UNTUK MANUFACTUR DAN

PERUSAHAAN JASA

Dasar pengembangan manajemen operasi bagi manufactur dan perusahaan jasa

karena adanya :

a. Kebutuhan aplikasi Manajemen Operasional bagi perusahaan jasa

b. Peningkatan makna dari mutu

c. Kebutuhan konsep Manajemen Operasional bagi fungsi pemasaran dan

pengembangan sumberdaya manusia


d. Konsep Manajemen Operasional dapat meningkatkan nilai tambah bagi

produk akhir

Perbedaan antara barang dan jasa :

1. Barang terukur dan jasa tidak

2. Barang dapat diinventarisir sedangkan jasa tidak

3. Tidak adanya interkasi langsung antara konsumen dan proses tetapi kalau jasa

harus berinteraksi secara langsung.

Dalam kegiatan operasional suatu perusahaan memang sulit sekali kita bedakan

adanya kontek operasional yang murni antara manufactur dan jasa dari keduanya

yang dapat dilihat adalah letak kecendurangan dari opaerationalnya saja, hal ini

dalam kita lihat dalam gambar dibawah ini :

Gambar : 1. 3

Sedangkan untuk sistem operasional dalam manufactur maupun jasa dapat dapat kita

lihat dalam table 1.1. dibawah ini :

NO SYSTEM INPUT KOMPONEN FUNGSI OUTPUT


TRANSFORMASI YANG
DIHASILKAN
1 Rumah sakit Pasien, Dokter, Perawatan Kesehatan
peralatan perawat dan kesehatan individu
medis perlatan (Physical)
2 Restoran Pelanggan Koki, Makanan yang Kepuasan
yang lapar, pelayan, lezat, pelayanan pelanggan
makanan lingkungan yang baik sesusi
pesanan(Physical
and Exchange)
3 Pabrik Baja, mesin Alat, Pabrik dan Manajemen
Manajemen dan suku peralatan dan perakitan Operasionalbil
Operasionalbil cadang tenaga kerja (Physical) yang
berkualitas
4 Universitas Lulusan SMU, Guru dan Pengembangan Pendidikan
buku-buku ruangan pengetahuan dan individu
keahlian
(information)
5 Department Pembelian, Pelayan , Pembeli yang Kepuasam
store persediaan pajangan aktif, pelanggan
barang (display) proManajemen
Operasionalsi
produk, pesanan
tetap (exchange)
6 Pusat Distribusi Tenaga bagian Gudang, Penyimpanan dan Pengiriman
gudang tenaga pendistribusian yang cepat dan
bongkar muat tepat

IV. PERAN STRATEGIS MANAJEMEN OPERASI DALAM SUATU

ORGANISASI

Peran strategis Manajemen Operasinal sangat ditentukan kondisi ekonomi dan

aspek engineering (proses teknologi) didalam proses konversi yang paling

mendasar harus diperhatikan. Sudah menjadi fakta pada banyak perusahaan bahwa

permasalahan yang ada adalah factor ekonomi dan efisiensi dari proses konversi

operasional, tetapi masalah ini hanya merupakan factor kedua dari keseluruhan

sasaran yang ada didalam suatu organisasi, sasaran utama adalah permasalahan

yang berhubungan dengan kebutuhan pasar (market opportunity).

Perspektif Strategi (A Strategic Perspective)

Menjawab persepektif strategi akan dimulai dengan memberi jawaban atas

pertanyaan sebagai berikut :


- Dimana industri kita saat ini dan apa yang akan dilakukan selanjutnya

- Apa yang menjadi kebutuhan dan potensi pasar

- Apa ada kesenjangan dalam pasar dan kompetensi apa yang kita miliki untuk

dikembangkan

Dengan analisis segmen pasar dan kemampuan pesaing serta pemenuhan

keinginan segmen akan merupakan pengaruh yang memberi petunjuk dan menjadi

focus upaya organisasi dalam mencari jawabnya.

V. HUBUNGAN FUNGSI MANAJEMEN OPERASI DENGAN FUNGSI-

FUNGSI LAIN DALAM ORGANISASI

Aplikasi fungsi manajemen operasi juga diterapkan dalam fungsi-fungsi lain

dalam suatu organisasi seperti fungsi pemasaran, keuangan dan akuntansi.,

misalnya dalam kegiatan perekrutan karyawan maka diperlukan adanya suatu

proses operasional .

VI. PERKEMBANGAN PERAN MANAJEMEN OPERASI DALAM DUNIA

NYATA

PENTINGYA INTEGRASI RANTAI SUPLAI STRATEGIS


Selama dekade terakhir terdapat perjanjian atau konsensus yang berkembang

tentang pentingnya mengintegrasikan para suplier, para pengusaha dan para konsumen

strategis (Reck dan Long, 1988; Leender dan Blenkhorn, 1988; Bowersox et al..,

1989; Freeman dan Cavinato, 1990; Syson, 1989; McGinnis dan Kohn, 1990, 1993;

Manajemen Operasionalrris dan Calantone, 1991; Cammish dan Keough, 1991;

Eloranta dan Hameri, 1991; Burt dan Doyle, 1992; Clinton dan Closs, 1977). Seperti

Carothers dan Adams (1991), Langley dan Holcomb (1992), dan Shapiro et al. (1993)

yang secara meyakinkan berpendapat, satu subyek sempit logistik telah menjadi

sebuah konflik komprehensif yang sekarang menjangkau sistem nilai keseluruhan

dari para suplier kepada konsumen.

Menekankan poin ini, Ragatz et al. (1997) mencatat bahwa integrasi efektif

para suplier kedalam rantai suplai atau nilai produk akan menjadi sebuah faktor kunci

untuk beberapa pengusaha dalam mencapai kemajuan-kemajuan yang diperlukan

untuk tetap kompetitif. Untuk para praktisi, pentingnya integrasi strategis dengan

cara yang sama direfleksikan dalam Dewan Rantai Suplai Manajemen Operasionaldel

populer (SCOR) Supply Chain Operation Refererence yang menganggap semua bisnis

termasuk pencarian (sourcing), pembuatan (making), dan proses-proses pengiriman

secara strategis menghubungkan para suplier dan para konsumen dengan para

pengusaha

Proses transformasi antara pemasok dan konsumen dalam organisasi melibatkan

semua fungsi yang ada dalam organisasi sehingga mampu menciptakan nilai tambah

suatu produk (value chain rantai nilai). Melalui startegi pemasok (supply chain

strategy) diketahui adanya hubungan seperti dalam gambar dibawah ini :


Persh

Gambar 1.4.

Lingkungan

Pembelian Pembelian
Pemasok Proses Konsumen
Transformasi
TranTransformas
i
Pembelian Pembelian