Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN TUMOR MAMMAE

DI RUANG RAJAWALI 2A RSUP Dr. KARIADI SEMARANG

Disusun Oleh :

SHINTA NURAINI

P1337420916028

PROGRAM STUDI PROFESI NERS JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG

TAHUN AJARAN 2017


A. Pengertian
Tumor payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara.
Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar
(metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah
bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa
bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2007, hal : 39-40).
Kanker payudara adalah karsinoma yang berasal dari epitel duktus atau lobulus
payudara (Suyatno & Pasaribu, 2014). Kanker adalah proses penyakit yang bermula
ketika sel abnormal diubah oleh mutasi genetik dari DNA seluler. Sel abnormal ini
membentuk klon dan mulai berpoliferasi secara abnormal, mengabaikan sinyal mengatur
pertumbuhan dalam lingkungan sekitar sel tersebut (Smeltzer & Bare, 2002). Kanker
payudara merupakan tumor malignan yang muncul di dalam sel pada payudara. Tumor
malignan adalah sekelompok sel-sel kanker yang tumbuh di dalam (terinvasi) di seluruh
jaringan atau menyebar (metastasis) di beberapa area pada tubuh (American Cancer
Society, 2015).

B. Etiologi
Penyebab kanker payudara secara pasti belum diketahui. Penyakit ini adalah
penyakit heterogen yang kemungkinan besar berkembang sebagai hasil dari banyak
faktor (Newton et. al., 2009). Faktor risiko kanker payudara adalah:
1. Jenis kelamin wanita. Insiden kanker payudara pada wanita dibanding pria lebih
dari 100:1. Secara umum 1 dari 9 wanita Amerika akan menderita kanker
payudara sepanjang hidupnya.
2. Usia menurut National Cancer Institutes Surveillance Epidemiology and End Result
Program, insiden kanker payudara meningkat cepat selama dekade ke-4 kehidupan.
Setelah menopause insiden terus meningkat tapi lebih lambat, puncak insiden pada
dekade kelima dan keenam dan level terendah pada dekade keenam dan ketujuh. Satu
dari 8 penderita kanker payudara berusia kurang dari 45 tahun dan berkisar 2/3
penderita kanker payudara berusia lebih dari 55 tahun.
3. Riwayat keluarga: pasien dengan riwayat keluarga tingkat pertama (ibu dan
saudara kandung) mempunyai resiko 4-6 kali dibanding wanita yang tidak
mempunyai faktor risiko ini. Pasien dengan keluarga tingkat pertama pre
menopause menderita bilateral breast cancer, mempunyai risiko 9 kali. Pasien
dengan keluarga tingkat pertama post menopause menderita bilateral breast cancer
mempunyai risiko 4-5,4 kali.
4. Usia melahirkan anak pertama, jika usia 30 atau lebih risiko 2 kali dibanding wanita
yang melahirkan usia kurang dari 20 tahun.
5. Riwayat menderita kanker payudara, juga merupakan faktor risiko untuk
payudara kontralateral. Risiko ini meningkat pada wanita usia muda.
6. Predisposisi genetikal. Risiko ini berjumlah kurang dari 10% kanker
payudara.

C. Patofisiologi
Tumor/neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan cirri-ciri: proliferasi sel
yang berlebihan dan tidak berguna yang tidak mengikuti pengaruh struktur jaringan
sekitarnya. Neoplasma yang maligna terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan
proliferasi yang tidak terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan
menginfiltrasi dan memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ
yang jauh. Di dalam sel tersebut terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam
intinya.Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel di mana telah terjadi
transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel-sel ganas di antar sel-sel
normal.

Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:


a. Fase induksi: 15-30 tahun
Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi bourgeois lingkungan
mungkin memegang peranan besar dalam terjadinya kanker pada manusia. Kontak
dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun samapi bisa merubah
jaringan displasi menjadi tumor ganas.Hal ini tergantung dari sifat, jumlah, dan
konsentrasi zat karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya
terkena, adanya zat-zat karsinogen atau ko-karsinogen lain, kerentanan jaringan dan
individu.
b. fase in situ: 1-5 tahun
Pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre-cancerous yang bisa
ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru-paru, saluran cerna, kandung kemih,
kulit dan akhirnya ditemukan di payudara.
c. fase invasi
Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi meleui membrane sel ke
jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe. Waktu antara fase ke 3 dan ke 4
berlangsung antara beberpa minggu sampai beberapa tahun.
d. fase diseminasi: 1-5 tahun
Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-tempat lain
bertambah.
D. Pathways

Adanya benjolan pada payudara yang semakin membesar

Mendesak Mendesak
Mendesak
Sel syaraf Pembuluh darah
jaringan sekitar

Interupsi sel saraf


Menekan jaringan sel Aliran darah
Mensuplai pada mammae
nyeri terhambat
nutrisi ke
jaringan ca Peningkatan
konsistensi hipoxia
mammae
Hipermetabolis ke
jaringan Necrose
Mammae
Ukuran jaringan
membengkak
mammae
Suplai nutrisi abnormal
Bakteri Patogen
jaringan lain Massa tumor
mendesak ke
jaringan luar Mammae Kurang
Berat badan turun Infeksi
asimetrik pengetahuan

Perfusi jaringan
Nutrisi kurang dari
terganggu
kebutuhan Gg body cemas
image
Ulkus
Infiltrasi pleura
parietale
Gg integritas kulit/
Expansi paru menurun
jaringan

Gg pola nafas
E. Manifestasi Klinis
Menurut Otto (2005), gambaran klinis pada kanker payudara adalah :
a. Gejala yang paling sering terjadi
1) Masa (terutama jika keras, irregular, tidak nyeri tekan) atau penebalan
pada payudara atau daerah aksila.
2) Rabas putting payudara unilateral, persisten, spontan yang mempunyai
karakter serosanguinosa, mengandung darah, atau encer.
3) Retraksi atau inversi puting susu.
4) Perubahan ukuran, bentuk atau tekstur payudara (asimetris)
5) Pengerutan atau pelekukan kulit disekitarnya
6) Kulit yang bersisik di sekeliling putting susu
b. Gejala penyebaran lokal atau regional
1) Kemerahan, ulserasi, edema, atau pelebaran vena
2) Perubahan peau dorange (seperti kulit jeruk)
3) Pembesaran kelenjar getah bening aksila
c. Bukti metastesis
1) Pembesaran kelenjar gelenjar bening supraklavikula dan servikal
2) Hasil rontgen toraks abnormal dengan atau tanpa efusi pleura
3) Peningkatan alkali fosfatase, kalsium, pindal tulang positif , dan/atau nyeri tulang
berkaitan dengan penyebaran ke tulang
4) Tes fungsi hati abnormal
5) Nyeri kepala yang hebat, muntah proyektil, kesadaran menurun

F. Jenis Kanker Payudara


1. Karsinoma insitu
karsinoma insitu artinya adalah kanker yang masih berada pada tempatnya,
merupakan kanker dini yang belum menyebar atau menyusup keluar dari tempat
asalnya.

2. karsinoma duktal
karsinoma duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju puting susu.
sekitar 90% kanker payudara merupakan karsinoma duktal.
3. karsinoma lobuler
karsinoma lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi setelah
menopause.
4. karsinoma invasive
karsinoma invasive adalah kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan lainnya,
biasanya terinkalisir (terbatas pada payudara) maupun melastatik (menyebar kebagian
tubuh lainnya) .
5. karsinoma meduler
kanker ini berasal dari kelenjar susu.

G. Klasifikasi Kanker Payudara


Banyak sekali cara untuk menentukan stadium, namun yang paling banyak dianut saat ini
adalah stadium kanker berdasarkan klasifikasi sistim TNM yang direkomendasikan
oleh AJCC, 1992 (American Joint Committee On Cancer) yang disponsori oleh
American Cancer Society and American College of Surgeons (Price & Lorraine, 2006).
Menurut Price & Lorraine (2006), pada sistim TNM dinilai tiga faktor utama yaitu "T"
yaitu Tumor size atau ukuran tumor, "N" yaitu Node atau kelenjar getah bening
regional dan "M" yaitu Metastase atau penyebaran jauh. Pada kanker payudara,
penilaian TNM sebagai berikut:
1) T (Tumor size), ukuran tumor:
T 0: tidak ditemukan tumor primer
T 1: ukuran tumor diameter 2 cm atau kurang
T 2: ukuran tumor diameter antara 2-5 cm
T 3: ukuran tumor diameter > 5 cm
T4: ukuran tumor berapa saja, tetapi sudah ada penyebaran ke kulit atau dinding
dada atau pada keduanya , dapat berupa borok, edema atau bengkak, kulit payudara
kemerahan atau ada benjolan kecil di kulit di luar tumor utama.
2) N (Node), kelenjar getah bening regional (KGB):
N 0: tidak terdapat metastasis pada kgb regional di ketiak/aksilla
N 1: ada metastasis ke kgb aksilla yang masih dapat digerakkan
N 2: ada metastasis ke kgb aksilla yang sulit digerakkan
N 3: ada metastasis ke kgb di atas tulang selangka (supraclavicula) atau
pada kgb di mammary interna di dekat tulang sternum
3) M (Metastase), penyebaran jauh:
M x : metastasis jauh belum dapat dinilai
M 0 : tidak terdapat metastasis jauh
M 1 : terdapat metastasis jauh
Setelah masing-masing faktor T,N,M didapatkan, ketiga faktor tersebut
kemudian digabung dan didapatkan stadium kanker sebagai berikut :
a. Stadium 0 : T0 N0 M0
b. Stadium I : T1 N0 M0
c. Stadium II A : T0 N1 M0 / T1 N1 M0 / T2 N0 M0
d. Stadium II B : T2 N1 M0 / T3 N0 M0
e. Stadium III A : T0 N2 M0 / T1 N2 M0 / T2 N2 M0 / T3 N1 M0 / T2 N2 M0
f. Stadium III B : T4 N0 M0 / T4 N1 M0 / T4 N2 M0
g. Stadium IV : Tiap T-Tiap N -M1

H. Penatalaksanaan
Modalitas terapi kanker payudara secara umum meliputi: operasi
(pembedahan), kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal dan terapi target (Suyatno &
Pasaribu, 2014).
a. Operasi (pembedahan) merupakan modalitas utama untuk penatalaksanaan kanker
payudara. Berbagai jenis operasi pada kanker payudara memiliki kerugian dan
keuntungan yang berbeda-beda.
1) Classic Radical Mastectomy adalah operasi pengangkatan seluruh
jaringan payudara beserta tumor, nipple areola komplek, kulit diatas tumor,
otot pektoralis mayor dan minor serta diseksi aksila level I-III. Operasi ini
dilakukan bila ada metastasis jauh.
2) Modified Radical Mastectomy adalah operasi pengangkatan seluruh
jaringan payudara beserta tumor, nipple areola komplek, kulit diatas
tumor dan fasia pectoral serta diseksi aksila level I-II. Operasi ini dilakukan
pada stadium dini dan lokal lanjut.
3) Skin Sparing Mastectomy adalah operasi pengangkatan seluruh jaringan
payudara beserta tumor dan nipple areola komplek dengan mempertahankan
kulit sebanyak mungkin serta diseksi aksila level I-II. Operasi ini harus
disertai rekonstruksi payudara dan dilakukan pada tumor stadium dini
dengan jarak tumor ke kulit jauh (>2 cm) atau stadium dini yang tidak
memenuhi sarat untuk BCT.
4) Nipple Sparing Mastectomy adalah operasi pengangkatan seluruh
jarungan payudara beserta tumor dengan mempertahankan nipple areola
kompleks dan kulit serta diseksi aksila level I-II. Operasi ini juga harus disertai
rekonstruksi payudara dan dilakukan pada tumor stadium dini dengan ukuran
2cm atau kurang, lokasi perifer dan potong beku sub areola: bebas tumor.
5) Breast Concerving Treatment adalah terapi yang komponennya terdiri dari
lumpektomi atau segmentektomi atau kuadrantektomi dan diseksi aksila serta
radioterapi.
b. Kemoterapi
Kemoterapi adalah penggunaan obat anti kanker (sitostatika) untuk menghancurkan
sel kanker. Regimen yang sering digunakan mengandung kombinasi siklofosfamid
(C), metotreksat (M), dan 5-FU (F). Oleh karena doksorubisin merupakan salah satu
zat tunggal yang paling aktif, zat ini sering digunakan dalam kombinasi tersebut.
c. Radioterapi
Mekanisme utama kematian sel karena radiasi adalah kerusakan DNA dengan
gangguan proses replikasi dan menurunkan risiko rekurensi lokal dan berpotensi
untuk menurunkan mortalitas jangka panjang penderita kanker payudara.
d. Terapi hormonal
Adjuvan hormonal terapi diindikasikan hanya pada payudara yang menunjukkan
ekspresi positif dari estrogen reseptor (ER) dana atau progesterone reseptor (PR)
tanpa memandang usia, status menopause, status kgb aksila maupun ukuran tumor.
e. Terapi Target (Biologi)
Terapi ini ditujukan untuk menghambat proses yang berperan dalam pertumbuhan
sel-sel kanker. Terapi untuk kanker payudara adalah tra stuzumab (Herceptin),
Bevacizumab (Avastin) dan Lapatinib ditosylate (Tykerb).

I. Komplikasi
Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke paru,pleura, tulang dan
hati. Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan pembuluh darahkapiler (
penyebaran limfogen dan hematogen, penyebaran hematogen dan limfogen dapat
mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang ,otak ,syaraf. Selain itu juga dapat
menyebabkan fibrosis payudara.

J. Pencegahan
Perilaku pencegahan sangat berhubungan dengan terjadinya suatu penyakit, jika
perilaku pencegahannya kurang baik, maka akan memicu risiko terkena penyakit.
Sebaliknya jika perilakunya baik maka akan menghilangkan risiko terpajan faktor
penyebab. Kurangnya kesadaran para wanita dalam melakukan praktik pencegahan
dapat meningkatkan risiko mereka untuk terkena kanker payudara.
Berikut ini adalah beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah
terjadinya kanker payudara:
1. Makanlah makanan yang bergizi seimbang
2. Hindari memiliki berat badan berlebihan atau kegemukan.
3. Konsumsi makanan yang diolah dengan cara direbus.
4. Jangan merokok.
5. Perbanyak olahraga secara teratur.
6. Hindari stres, jaga keseimbangan mental dan rohani (Eni S., 2009).
7. Periksakan Diri Secara Teratur dengan deteksi dini kanker payudara.

Cara pemeriksaan adalah sebagai berikut :


1. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada payudara.
Biasanya kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada ketinggian
yang sama. Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting susu tertarik ke
dalam. Bila terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari puting susu,
segeralah pergi ke dokter.
2. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara.
3. Bungkukkan badan hingga payudara tergantung ke bawah, dan periksa lagi.
4. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan sebuah
bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari
kanan.Periksalah apakah ada benjolan pada payudara.Kemudian periksa juga apakah
ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri.
5. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila
diraba dengan telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan. Bila
ada tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat
dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau lebih,
segeralah pergi ke dokter.Makin dini penanganan, semakin besar kemungkinan untuk
sembuh secara sempurna. Lakukan hal yang sama untuk payudara dan ketiak kanan

K. Pemeriksaan penunjang
Prosedur diagnosis pada kanker payudara terdiri dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang (Suyatno & Pasaribu, 2014).
a. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Anamnesis bertujuan untuk
mengidentifikasi identitas, penderita, faktor risiko, perjalanan penyakit, tanda dan
gejala kanker payudara, riwayat pengobatan dan riwayat penyakit yang pernah
diderita. Pemeriksaan fisik ditujukan untuk menentukan karakter (nature) dan
lokasi lesi. Inspeksi dilakukan pada kedua payudara, aksila dan sekitar klavikula
yang bertujuan untuk identifikasi tanda dan gejala tumor primer dan kemungkinan
metastasis ke kelenjar getah bening ataupun metastasis jauh
b. Ultrasonografi Payudara melihat lesi hipoekoik dengan tepi tidak teratur
(irregular) dan shadowing disertai orientasi vertikal kemungkinan merupakan lesi
maligna. USG secara umum diterima untuk membedakan masa kistik dengan solid
dan sebagai pengarah untuk biopsi serta pemeriksaan skrining pasien usia muda.
Peran USG lain adalah untuk evaluasi metastasis ke organ visceral.
c. Mamografi memegang peranan mayor dalam deteksi dini kanker payudara,
sekitar 75% kanker terdeteksi paling tidak satu tahun sebelum ada gejala atau
tanda. Tipe pemeriksaan mamografi adalah skrining dan diagnostik. Skrining
mamografi dilakukan pada wanita yang asimptomatik. Skrining mamografi
direkomendasikan setiap 1-2 tahun untuk usia 50 tahun atau lebih. Pada kondisi
tertentu direkomendasikan sebelum usia 40 tahun (missal wanita yang keluarga
tingkat pertama menderita kanker payudara). Mamografi diagnostik dilakukan
pada wanita yang simptomatik, tipe ini lebih rumit dan digunakan untuk
menentukan ukuran yang tepat, lokasi abnormalitas payudara, untuk evaluasi
jaringan sekitar dan getah bening sekitar payudara.
d. MRI (Magnetic Resonance Imaging) merupakan instrumen yang sensitif
untuk deteksi kekambuhan lokal pasca BCT atau augmentasi payudara
dengan implant, deteksi multifocal cancer dan skrining pasien usia muda
dengan densitas payudara yang padat yang memiliki risiko tinggi.
e. Biopsi memberikan informasi sitologi atau histopatologi. FNAB (Fine needle
Aspiration Biopsy) merupakan salah satu prosedur diagnostik awal dan merupakan
biopsi yang memberikan informasi sitologi. Biopsi yang memberikan informasi
histopatologi adalah Biopsi Core, biopsi insisi, biopsi eksisi, potong beku dan
ABBI (advance breast biopsy instrument).
f. Bone Scan, Foto toraks dan USG Abdomen. Bone scan bertujuan untuk
evaluasi metastasis di tulang. Foto toraks dan USG abdomen rutin dilakukan
untuk melihat adanya metastasis di paru, pleura, mediastinum, tulang-tulang dada
dan organ visceral (terutama hepar).
g. Pemeriksaan Laboratorium dan Marker yang dianjurkan adalah darah rutin,
alkaline phosphatase, SGOT, SGPT dan tumor marker.
L. Asuhan keperawatan
A. PENGKAJIAN
Wawancara
a. Identitas
Identitas Pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, status, agama, suku
bangsa, kewarganegaraan, pendidikan, bahasa, pekerjaan, alamat, diagnose
medis, no.Rekam medis
Identitas Penanggung Jawab meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku
bangsa, alamat, kewarganegaraan, pekerjaan, pendidikan, hubungan dengan
pasien.
b. Keluhan Utama
Biasanya Pasien mengeluh adanya luka di mamae dekstra, basah dan berbau
dan pasien juga merasa sedih dan malu dengan penyakit yang dialaminya, pasein
mengeluh tidak nafsu makan.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya Pasien datang dengan keluhan terdapat benjolan yang timbul di
bagian payudara, dan semakin hari benjolan semakin membesar. Jika sudah
menyebar makan dilakukan pembedahan dan mengeluh nyeri dengan skala 3 (0-5)
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Kaji pada pasien sudah berapa lama terdapat benjolan tersebut dan kaji apakah
ada penyakit-penyakit lain.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Kaji apakah ada keluarga pasien yang memiliki penyakit yang sama atau
penyakit menular lainnya.
Pengkajian pada klien dengan kanker payudara menurut Doenges, Marilynn E (2000)
diperoleh data sebagai berikut:
1. Aktifitas/istirahat:
Gejala: kerja, aktifitas yang melibatkan banyak gerakan tangan/pengulangan, pola
tidur (contoh, tidur tengkurap).
2. Sirkulasi
Tanda: kongestif unilateral pada lengan yang terkena (sistem limfe).
3. Makanan/cairan
Gejala: kehilangan nafsu makan, adanya penurunan berat badan.
4. Integritas Ego
Gejala: stresor konstan dalam pekerjaan/pola di rumah. Stres/takut tentang
diagnosa, prognosis, harapan yang akan datang.
5. Nyeri/kenyamanan
Gejala: nyeri pada penyakit yang luas/metastatik (nyeri lokal jarang terjadi pada
keganasan dini). Beberapa pengalaman ketidaknyamanan atau perasaan lucu pada
jaringan payudara. Payudara berat, nyeri sebelum menstruasi biasanya
mengindikasikan penyakit fibrokistik.
6. Keamanan
Tanda: massa nodul aksila. Edema, eritema pada kulit sekitar.
7. Seksualitas
Gejala: adanya benjolan payudara, perubahan pada ukuran dan
kesimetrisan payudara. Perubahan pada warna kulit payudara atau suhu, rabas
puting yang tak biasanya, gatal, rasa terbakar atau puting meregang. Riwayat
menarke dini (lebih muda dari usia 12 tahun), menopause lambat (setelah 50
tahun), kehamilan pertama lambat (setelah usia 35 tahun). Masalah tentang
seksualitas/keintiman.
Tanda: perubahan pada kontur/massa payudara, asimetris. Kulit cekung,
berkerut, perubahan pada warna/tekstur kulit, pembengkakan, kemerahan atau
panas pada payudara. Puting retraksi, rabas dari puting (serosa, serosangiosa,
sangiosa, rabas berair meningkatkan kemungkinan kanker, khususnya bila disertai
benjolan)
8. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala: riwayat kanker dalam keluarga (ibu, saudara wanita, bibi dari ibu
atau nenek). Kanker unilateral sebelumnya kanker endometrial atau ovarium.
Pertimbangan Rencana Pemulangan : DRG menunjukkan rata-rata lama dirawat 4
hari. Membutuhkan bantuan dalam pengobatan/rehabilitasi, keputusan, aktivitas
perawatan diri, pemeliharaan rumah.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu.
3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh.
4. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah
5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi.
6. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan serta pengobatan
penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.
7. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake tidak
adekuat.

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa
tumor ditandai dengan :
DS : Klien mengeluh nyeri pada sekitar payudara sebelah kiri menjalar ke kanan.
DO :
Klien nampak meringis
Klien nampak sesak
Nampak luka di verban pada payudara sebelah kiri
Tujuan : Nyeri teratasi
Kriteria :
Klien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
Nyeri tekan tidak ada
Ekspresi wajah tenang
Luka sembuh dengan baik
Intervensi :
a. Kaji karakteristik nyeri, skala nyeri, sifat nyeri, lokasi dan penyebaran.
Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan rasa nyeri yang
dirasakan oleh klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan untuk intervensi
selanjutnya.
b. Beri posisi yang menyenangkan.
Rasional : Dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk rileks/istirahat
secara efektif dan dapat mengurangi nyeri.
c. Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.
Rasional : Relaksasi napas dalam dapat mengurangi rasa nyeri dan
memperlancar sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
d. Ukur tanda-tanda vital
Rasional : Peningkatan tanda-tanda vital dapat menjadi acuan adanya
peningkatan nyeri.
e. Penatalaksanaan pemberian analgetik
Rasional : Analgetik dapat memblok rangsangan nyeri sehingga dapat nyeri
tidak dipersepsikan.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu Ditandai
dengan :
DS :
Klien mengeluh sakit jika lengan digerakkan.
Klien mengeluh badan terasa lemah.
Klien tidak mau banyak bergerak.
DO : klien tampak takut bergerak.
Tujuan : Klien dapat beraktivitas
Kriteria :
Klien dapat beraktivitas sehari hari.
Peningkatan kekuatan bagi tubuh yang sakit.
Intervensi :
a. Latihan rentang gerak pasif sesegera mungkin.
Rasional : Untuk mencegah kekakuan sendi yang dapat berlanjut pada
keterbatasan gerak.
b. Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai keperluan
Rasional : Menghemat energi pasien dan mencegah kelelahan.
c. Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur.
Rasional : Untuk menghindari ketidakseimbangan dan keterbatasan dalam
gerakan dan postur.
3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan takut ditolak oleh orang lain.
Ekspresi wajah tampak murung.
Tidak mau melihat tubuhnya.
DO : klien tampak takut melihat anggota tubuhnya
Tujuan : Kecemasan dapat berkurang
Kriteria :
Klien tampak tenang
Mau berpartisipasi dalam program terapi
Intervensi :
a. Dorong klien untuk mengekspresikan perasaannya
Rasional : Proses kehilangan bagian tubuh membutuhkan penerimaan, sehingga
pasien dapat membuat rencana untuk masa depannya.
b. Diskusikan tanda dan gejala depresi.
Rasional : Reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan dapat dikenali dan
diukur.
c. Diskusikan tanda dan gejala depresi
Rasional : Kehilangan payudara dapat menyebabkan perubahan gambaran diri,
takut jaringan parut, dan takut reaksi pasangan terhadap perubahan tubuh.
d. Diskusikan kemungkinan untuk bedah rekonstruksi atau pemakaian prostetik.
Rasional : Rekonstruksi memberikan sedikit penampilan yang lengkap, mendekati
normal.
4. Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah Ditandai dengan :
DS : klien mengatakan malu dengan keadaan dirinya
DO :
Klien jarang bicara dengan pasien lain
Klien nampak murung
Tujuan : klien dapat menerima keadaan dirinya
Kriteria :
Klien tidak malu dengan keadaan dirinya.
Klien dapat menerima efek pembedahan
Intervensi :
a. Diskusikan dengan klien atau orang terdekat respon klien terhadap penyakitnya
Rasional : membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses
pemecahan masalah
b. Tinjau ulang efek pembedahan
Rasional : bimbingan antisipasi dapat membantu pasien memulai proses adaptasi.
c. Berikan dukungan emosi klien.
Rasional : klien bisa menerima keadaan dirinya.
d. Anjurkan keluarga klien untuk selalu mendampingi klien.
Rasional : klien dapat merasa masih ada orang yang memperhatikannya.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi Ditandai dengan :
DS : Klien mengeluh nyeri pada daerah sekitar operasi.
DO :
- Adanya balutan pada luka operasi.
- Terpasang drainase
- Warna drainase merah muda
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria :
- Tidak ada tanda tanda infeksi.
- Luka dapat sembuh dengan sempurna.
Intervensi :
a. Kaji adanya tanda tanda infeksi.
Rasional : Untuk mengetahui secara dini adanya tanda tanda infeksi sehingga
dapat segera diberikan tindakan yang tepat.
b. Lakukan pencucian tangan sebelum dan sesudah prosedur tindakan.
Rasional : Menghindari resiko penyebaran kuman penyebab infeksi.
c. Lakukan prosedur invasif secara aseptik dan antiseptik.
Rasional : Untuk menghindari kontaminasi dengan kuman penyebab infeksi.
d. Penatalaksanaan pemberian antibiotik.
Rasional : Menghambat perkembangan kuman sehingga tidak terjadi proses infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall (2008), Buku saku diagnosa keperawatan, edisi 8, alih Bahasa Monica
Ester, Jakarta, EGC
Theodore R. Schrock, M. D (2007), Ilmu Bedah, Edisi 7, Alih Bahasa Drs. Med Adji Dharma,
dr. Petrus Lukmanto, Dr gunawan. Penerbit Kedokteran Jakarta, EGC
Thomas F Nelson, Jr M. D (2007), Ilmu Bedah, edisi 4, Alih Bahasa Dr. Irene Winata, dr.
Brahnu V Pendit. Penerbit Kedokteran, Jakarta, E G C
Kusyati, Eni. Pengkajian Luka Secara Komprehensive. Semarang : 2012

NANDA. International Inc. Diagnosis Keperawatan. Ed 10. Jakarta : Ecg, 2015

Terjemahan Nursing Outcoes Classification (NOC). 5th, oleh Sue Moorhead, Marion Johnson,

Meridean L. Mass, Elizabeth Swanson, dikerjakan oleh CV. Mocomedia dan diterbitkan

dengan pengawasan Elsevier Inc

Terjemahan Nursing Intervension Classification (NIC). 6th, oleh Gloria Bulecheck, Howard

Butcher, Joanne Dochterman dan Cheryl Wagner dikerjakan oleh CV. Mocomedia dan

diterbitkan dengan pengawasan pihak Elsevier Inc

Saputra, Heri, (2012) Askep keperawatan medical bedah. Diakses di http://andessa-


hesa.blogspot.com/2012/12/Asuhan-keperawatan-mammae.html.