Anda di halaman 1dari 7

INDUKSI OVULASI PADA KATAK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan
Tujuan dilakukannya pengamatan ini adalah untuk memperoleh telur dan proses pembuahan
pada saat yang diinginkan dalam jumlah yang bayak.
B. Dasar Teori
Ovulasi adalah suatu proses terlepasnya sel telur (ovum) dari ovarium sebagai akibat
pecahnya folikel yang telah masak. Mekanisme terjadinya ovulasi dipengaruhi oleh hormonal,
neural dan perioditas cahaya.Ovulasi pada katak terjadi setelah oosit melepaskan badan polar
pertama, dinding teka eksterna dan folikel sel dari folikel, pecah. Folikel mengalami
pertumbuhan karena pengaruh hormone FSH (Folikel Stmulating hormon) yang dihasilkan
kelenjar hipofisis anterior, maka sel-sel folikel mampu menghasilkan hormon estrogen dan
progesterone. Kedua hormon ini dalam jumlah kecil memberi dorongan ke kelenjar hipofisa
anterior untuk menghasilkan hormone LH yang penting dalam menggertak terjadinya ovulasi
(Adnan, 2006).

Pada katak dewasa bagian anterior glandulae pituitaria menghasilkan hormon yang
merangsang gonad untuk menghasilkan sel kelamin. Jika kita mengadakan Implantasi kelenjar
ini dengan sukses pada seekor katak dewasa yang tidak dalam keadaan berkembang biak, maka
mulai saat itu segera terjadi perubahan. Implantasi pada hewan betina mengakibatkan hewan itu
menghasilkan ovum yang telah masak. Sedangkan, implantasi pada hewan jantan mengakibatkan
hewan itu menghasilkan sperma (Jasin, 1992).

FSH dan LH adalah hormone yang paling bertanggung jawab terhadap siklus
reproduksi normal. FSH menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan folikel pada ovarium
selama 10 sampai 14 hari pertama dari siklus. Sekitar hari ke-12 hingga hari ke-16 kelenjar
hipofisis meningkatan produksi LH, ini disebut LH Surge. Pada hari-hari terakhir sebelum ovulasi,
folikel Graaf bertambah besar dengan cepat dibawah pengaruh FSH dan LH, dan membesar hingga
mencapai garis tengah 15 mm. bertepatan dengan perkembangan terakhir folikel Graaf, oosit primer,
dimana pada saat itu masih dalam tahap diktoten mengakhiri pembelahan mitosis pertamanya.
Sementara itu permukaan ovarium menonjol tanpa pembuluh darah dan disebut stigma, cairan folikel
merembes keluar melalui stigma yang berangsur-angsur membuka. Bila cairan yang keluar semakin
banyak, tekanan di dalam folikel semakin berkurang dan oosit bersama sel cumulus oofurus yang
mengelilinginya terlepas dan hanyut meninggalkan ovarium. Beberapa diantara sel-sel cumulus oofurus
tersebut kemudian menyusun diri di sekeliling zona pellusida membentuk corona radiata. Pada saat
oosit dengan cumulus oofurusnya dikeluarkan dari ovarium (ovulasi), pembelahan miosis pertama
berakhir dan oosit sekunder memulai pembelahan miosis II (Adnan, 2008).
Banyak amphibia melakukan fertilisasi eksternal yang memperlihatkan perilaku kawin
secara spesifik, yang berakhir dengan seekor jantan membuahi telur-telur seekor betina.
Fertilisasi eksternal memerlukan suatu ligkungan di mana sebuah telur dapat berkembang tanpa
kekeringan atau cekaman panas, oleh karena itu fertilisasi terjadi di habitat yang lembab.
Feromon adalah sinyal kimiawi yang dihasilkan oleh satu organisme dan mempengaruhi perilaku
individu lain dari spesies yang sama. Feremon adalah molekul kecil yang mudah menguap serta
larut dalam air, ia dapat terdispersi dengan mudah ke dalam lingkungan dan aktif dalam jumlah
sedikit.
Telur katak bersifat telolesital artinya, mengandung cukup banyak kunir yang
terkosentrasi pada salah satu kutub yang berlawanan dengan rotasi sitoplsma dan letak inti sel. Pada
waktu ovulasi, ovum dikeluarkan dari ovarium dan disertai pendarahan (hemorragi), tetapi dirangsang
oleh hormon hipofisis. Kwlompok kromosom telofase paling luar diapit oleh sitoplasma tampa
membentuk badan polar I )polar body I). Ovum dapat mencapai ostium dan oviduk, karena digerakkan
oleh silia lapisan peritonium (Syahrum, 1994).

B. Alat dan Bahan

1. Alat f. Mangkok
a. Papan bedah dan alat seksi g. Alat suntik, volume 2 cc
b. Bejana Plastik h. Termometer
c. Gunting 2. bahan
d. Pinset a. Katak betina dewasa 7 ekor
e. Cawan Petri b. Katak jantan dewasa 2 ekor
c. Alkohol 70 % e. Aquadestilata
d. Kapas f. Kertas tisu

C. Prosedur kerja
1. Mengankat kelenjar pituari

Memasukkan gunting di sudut rahang katak betina, memotong di belakang mata


secara posteromedial, kemudian melewati kepala hingga daerah oksipital dan
akhirnya ke rahang yang lain sehingga mengangkat kepala

Membalikkan tengkorakknya dan mencari bentangan yang luas yang dibentuk oleh
tulang-tulang di dasar kranium.

Memasukkan gunting yang tajam ke dalam rongga otak, dan memotong tulang
kearah anterior melalui dasar kranium. membalik dasar kranium menggunakan pinset
kecil dan mencari kelenjar pituitary.

menempatkan kelenjar pituitary dalam cawan petri yang berisi aquadestilata 2 cc,
menempatkan keenam kelenjar dalam air yang sama, setelah beberapa menit
dilanjutkan dengan melakukan injeksi

2. Penyuntikan

Memegang kaki katak betina dengan kuat, menginjeksi rongga perut posteriolateral

menempatkan betina yang sudah diinjeksi dalam bejana plastik yang berisis air pada
kkedalaman 1 inci
3. Penampungan telur

Pada suhu 230 C - 250C, telur nampak dalam uterus sekitar 24-36 jam

Melakukan stripping pelan dengan membengkokkan ke arah depan pelvis, kemudian


dilakukan penekanan dari depan ke belakang perut

Menghindari kerusakan telur dan pendarahan

4. Pembuahan telur

Mengankat sepasang testis dari dua ekor jantan dan memotong dengan gunting kemudian meletakkan
dalam 20 cc air kolam yang sebelumnya disaring, membiarkan selama 20 menit pada suhu kamar dan
membagi kedalam dua mangkok

Mengangkat katak betina yang mengamali ovulasi dari wadahnya, menekan beberapa telur secara
pelan dari uterus ke dalam mangkok yang berisi suspensi sperma

Memutar mangkok sehingga suspensi bertemu setiap telur dan mendiamkan selama 3 menit,
kemudian menyiram telur dengan air yang sama dan mendiamkan selama 2 jam

Memisahkannya dari dasar mangkok setelah telur-telur berputar hingga kutub animal berada di
bagian paling atas (membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit),

B. Pembahasan
Kelenjar pituitari berperang dalam sekresi FSH dan LH. FSH diangkut oleh kelenjar
pituitari anterior oleh darah ke ovarium, dimana ia akan mempengaruhi perkembangan folikel
mensekresikan estrogen/hormone seksual wanita dan menghasilkan sebuah oosit sekunder yang
lepas (berupa sel telur matang), proses ini disebut ovulasi.
Dalam kegiatan ini diperlukan suatu perlakuan yang sangat baik dan hati-hati, karena
apabila terjadi suatu kesalahan, maka akan menimbulkan dampak bagi proses selanjutnya.
Misalnya, dalam pengangkatan kelenjar pituitary yang harus dilakukan dengan sangat hati-hati
agar tidak tercampur dengan darah. Keraj hormon akan terganggu bila tercampur dengan darah.
Selain itu perlakan pada saat peginjeksian juga harus diperlihatkan, karena apabila tidak
diinjeksikan pada tempat yang seharusnya maka induksi ovulasi ini tidak akan berhasil.
Percobaan yang kami lakukan kali ini tidak berhasil, karena ada beberapa hal yang
menjadi penyebabnya, yaitu :
a. Kelenjar pituitari yang sedikit sehingga suspensi yang dibuat tidak terlalu mencukupi untuk
merangsang terjadinya ovulasi pada katak betina.
b. Pengaruh suhu tidak sesuai karena kelenjar pituitary agak lama didapat sehingga suhu pada
saat pembedahan dan pada waktu masih di dalam otak berbeda dan mempengaruhi kerja
hormone.
c. Daerah yang diinjeksi kemungkinan bukan ovarium hanya sampai pada daerah bawah kulit
saja dan tidak menembus otot dan ovarium. Akibatnya kelenjar pituitary tidak bereaksi sama
sekali.

DISKUSI
1. Bagaimana mekanisme ovulasi pada katak?
2. Bagaimana tandatanda telur yang sudah dibuahi?

A. Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan maka telur yang diharapkan keluar dari katak yang telah
diinjeksi kelenjar pitutarinya ternyata tidak berhasil mungkin disebabkan pengaruh suhu tidak
sesuai karena kelenjar pituitary agak lama didapat sehingga suhu pada saat pembedahan dan
pada waktu masih di dalam otak berbeda dan mempengaruhi kerja hormone.
B. Saran
Diharapkan agar praktikan dapat melakukan proses pengamatan atau kegiatan dengan sebaik-
baiknya agar dapat diperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2006. Reproduksi dan Embriologi. Badan Penerbit FMIPA UNM.


Makassar.
Adnan, 2008. Perkembangan Hewan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Vertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya.

Syahrum, Mohamad Hatta, dkk. 1994. Reproduksi dan Embriologi. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

JAWABAN PERTAYAAN

1. Apakah peranan ekstrak hipofisa terhadap ovulasi ?


Jawab :
Peranan ekstrak hipofisa pada ovulasi yaitu merangsang folikel untuk mengalami
pertumbuhan menjadi sel telur yang masak dan siap untuk diovulasikan dan merangsang
pecahnya folikel yang telah masak sehingga terjadi proses ovulasi.
2. Mengapa ekstrak hipofisa segera diinjeksikan pada katak betina ?
Jawab :
Ekstrak hifopofisa segera diinjeksi pada katak betina agar potensi kerja hipofisa tidak segera
turun karena berada di suhu kamar dalam waktu yang lama.
3. Apa yang terjadi pada telur setelah terfertilisasi ? Jelaskan !
Jawab :
Setelah fertilisasi, telur mengalami pembelahan. Pembelahan terjadi dalam beberapa tahapan
yang dimulai dengan tahap blastulasi, gastrulasi, morulasi dan tahap neurolasi. Tahapan
pembelahan ini dimasukkan untuk pertumbuhan dan spesialisasi sel menjadi organ atau yan biasa
disebut proses diferensiasi.