Anda di halaman 1dari 42

DISPENSING SEDIAAN FARMASI

(20-25%)
Outline:

Signa
Perhitungan dosis dan adjustment dose
Perhitungan kebutuhan sediaan dalam compounding
DRP
BUD

SIGNA
Aturan penggunaan:

Kelompok Signa Kepanjangan Arti


Cara minum obat a.c Ante coenam Sebelum makan
d.c Durante coenam Pada saat makan
p.c Post coenam Setelah makan
a.p Ante prandium Setelah sarapan pagi
Waktu minum h.v/n Hora Malam hari
obat vespertina/nocte
h.s. Hora somni Waktu tidur
h.m. Hora matutina Pagi hari
Interval minum S. dd Semel de die Sekali sehari
obat
b.dd Bis de die Dua kali sehari
t.dd Ter de die Tiga kali sehari
q.dd Quarter de die Empat kali sehari
Keterangan s.o.s/s.n.s/s.prn Si necesse sit/ si opus Bila perlu
sit/ signa pro re nata
u.p Usus propius Untuk dipakai sendiri
(biasanya oleh dokter)
u.c Usus cognitus Pemakaian telah
diketahui
i.m.m In manus medici Serahkan kepada dokter
(untuk aplikasi khusus
oleh dokter)
Gtt guttae Tetes
Takaran C cochlear Sendok makan (15 ml)
c.p Cochlear parvum Sendok bubur (8 ml)
cth Cochlear theae Sendok the (5 ml)
Sumber: Informasi Seputar Obat, Volume 50, tahun 2016
Aturan peracikan:

Kelompok Signa Kepanjangan Arti


Instruksi m.f Misce fac Campur dan buatlah
Aa p.aeq Ana partes aequales Masing-masing
a.d ad Sampai
q.s Quantum satis secukupnya
ad.libit Ad libitum sesukanya
d.t.d Dos tales doses Berikan dalam dosis
demikian
d.i.d Da in dimidio Berikan setengahnya (jumlah
sediaan, bukan dosis)
Keterangan cito cito Segera
darurat
p.i.m Periculum in mora Berbahaya jika ditunda
Sumber: Informasi Seputar Obat, Volume 50, tahun 2016

Aturan lokasi penggunaan:

Kelompok Signa Kepanjangan Arti


Telinga a.d Auris dextrae Telinga kanan
a.l Auris laevae Telinga kiri
Mata i.o.d/ o.d In oculo dextro Mata kanan
i.o.s/ o.s In oculo sinistro Mata kiri
Keterangan Us. Ext./ u.e Usus externum Pemakaian luar
Loc.dol Locus dolens Untuk bagian yang nyeri
Rute i.v Intravena Pembuluh darah
i.m Intra muscular Jaringan otot
p.o Peroral Melalui mulut
s.c subkutan Dibawah kulit
Sumber:Informasi Seputar Obat, Volume 50, tahun 2016

Bentuk Sediaan:

Signa Kepanjangan Arti


Ampl ampula Ampul
Aurist auristillae Obat tetes telinga
Bol boli Pil besar
Caps. capsule Kapsul
Collut collutio Obat cuci mulut
Garg Gargarisma Obat kumur
Fl flesh botol
Sumber: Informasi Seputar Obat, Volume 50, tahun 2016
PERHITUNGAN & ADJUSTMENT DOSE

Perhitungan dosis:
*digunakan jika tidak terdapat informasi dosis spesifik
KETERANGAN RUMUS

Clarck, berdasarkan berat badan anak Dosis anak = berat badan x dosis dewasa
150

Berdasarkan BSA (body Surface Area), Dosis anak = BSA (m2) x dosis dewasa
Crawford-Terry-Rourke 1,73 m2
BSA =
() ())
(
3600
Young, anak 1-8 tahun Dosis anak = umur (tahun) x dosis dewasa
Umur (th) + 12

Cowling, anak usia 8-12 tahun Dosis anak = umur (tahun) + 1 x dosis dewasa
24

Dilling, anak usia lebih besar dari 8 tahun Dosis anak = umur (tahun) x dosis dewasa
20

Fried, untuk bayi Dosis bayi = umur (bulan) x dosis dewasa


150

Perhitungan sediaan injeksi jml tetesan/menit =


Faktor tetes; (1ml=20 tetes/menit) jumlah kebutuhan cairan x faktor tetes
waktu (jam) x 60 menit

Sumber: Math for the pharmacy technician, McGraw-Hill, 2010

Kondisi pasien khusus:


Kondisi Deskripsi

Neonates (newborn) - Sistem belum berkembang


- pH lambung lebih rendah
- kulit lebih tipis
- liver masih berkembang
- sirkulasi ke otot rendah

Geriatric - sistem mulai menurun kemampuannya


- vaskuler dan kulit menjadi rapuh
- penurunan fungsi liver dan ginjal
- sirkulasi buruk

Sumber: Math for the pharmacy technician, McGraw-Hill, 2010

Perhitungan klirens Metode Cockcroft-Gault


Pria : 140 - umur (tahun) x BB (kg)
72 x SrCr (mg/dL)
Wanita : 0,85 x CrCl (pria)
Sumber: http://pio.binfar.depkes.go.id/PIOPdf/PEDOMAN_GERIATRI_1.pdf
PERHITUNGAN & ADJUSTMENT DOSE

Informasi kebutuhan sediaan dalam compounding:


a. d.t.d = informasi yang menunjukkan bahwa dosis untuk masing-masing
sediaan sesuai dengan jumlah yang tercantum di resep
b. tanpa d.t.d = dosis yang tercantum dalam resep, digunakan untuk total jumlah
sediaan (dosis dibagi jumlah sediaan)
c. rumus perhitungan kebutuhan sediaan:
jumlah dosis per sediaan x jumlah total sediaan yang dibutuhkan
potensi dosis sediaan yang tersedia

CONTOH ADJUSMENT DOSIS DAN COMPOUNDING:


Dosis parasetamol anak usia 2 tahun, BB 12 kg
3 bln 1 thn : 60 120 mg
1 5 thn : 120 250 mg
6 12 thn : 250 500 mg
(maksimum 4 dosis / 24 jam)

Kebutuhan tablet parasetamol


- Sediaan parasetamol yang tersedia 500 mg tablet
- Parasetamol yang dibutuhkan= 120 x 10 (total pulveres)
- Sediaan parasetamol = 500 mg
- Kebutuhan parasetamol = 2,4 tablet ~ 3 tablet.
DRUG RELATED PROBLEM (DRP)

OBAT RASIONAL POIN DRP Keterangan dan tatalaksana


Tepat pasien Salah pasien Memastikan informasi pasien dengan
tepat; nama, usia, jenis kelamin, tanggal
lahir
Tepat indikasi Obat tanpa indikasi Menilai kebutuhan obat pasien dari gejala
Indikasi tanpa obat dan diagnosa yang telah di tegakkan oleh
dokter
Tepat obat Salah pemilihan obat Analisis farmakoterapi terhadap kondisi
pasien dan diagnosa
Duplikasi Satu indikasi, dua obat atau lebih. Analisa
dengan komprehensif, apakah duplikasi,
atau kebutuhan kombinasi sinergis.
Tepat dosis Dosis terlalu tinggi Mengacu pada literasi dan kondisi pasien
Dosis terlalu rendah
Tepat rute penggunaan Salah pemilihan rute sediaan Memperhatikan kondisi dan kebutuhan
pasien, darurat, tingkat kesadaran, kondisi
organ vital
Informasi efek samping Adanya efek samping mayor Monitoring efek samping obat
Informasi interaksi obat Ada interaksi mayor obat Analisa komprehensif mengenai
keputusan pemilihan obat dengan
interaksi, pengaturan jadwal minum obat
(interaksi farmakokonetik), monitoring
efek interaksi, atau penggantian obat
(interaksi farmakodinamik)

Prinsip interaksi obat:


Interaksi Mekanisme Efek interaksi Contoh
Farmakokinetik absorbsi Efek perubahan pH pada disebabkan oleh obat reduksi
Interaksi yang saluran cerna produksi HCl (h2 bloker, PPI)
memengaruhi Adsorpsi, kelasi, Arang aktif, pectin, kaolin
proses ADME pembentukan kompleks senyawa yang bersifat adsorben
(Absorbsi, Perubahan motilitas Obat yang memengaruhi
Distribusi, saluran cerna kecepatan pengosongan lambung
Metabolisme, Distribusi Pendesakan obat (ikatan Adanya kompetisi antara obat
Eksresi) protein) terhadap protein, salah satu akan
meningkat jumlah fraksi
bebasnya. Contoh; terhadap
warfarin
Metabolisme Penginduksi enzim Salah satu obat akan mengalami
penurunan kadar karena tingkat
metabolisme yang lebih cepat;
barbiturate, karbamazepin,
fenitoin, rifampisin
Penginhibisi enzim Salah satu obat akan mengalami
peningkatan kadar; fluoksetin,
ketokonazol, metronidazole,
siprofloksasin.
Eksresi Perubahan pH urin Pada pH tinggi, obat asam lemah
terionisasi, tidak tereabsorpsi
dalam tubulus, ter-eksresi
Perubahan eksresi Obat yang menggunakan sistem
tubulus ginjal aktif transport aktif yang sama dalam
tubulus ginjal dapat bersaing satu
sama lain untuk eksresi
Farmakodinamik Aditif Obat dengan target aksi Menyebabkan hasil efek yang
Interaksi Sinergis yang sama, memberikan lebih besar, hingga efek toksik.
kompetisi efek yang sama. Contoh; antihistamin,
terhadap reseptor benzodiazepin, klonidin,
fenotiazin
Antagonis Obat satu dan lainnya Menyebabkan hasil efek yang
mengurangi efek obat lebih kecil-hilang, contoh; beta
selainnya. agonis, salbutamol, dengan beta
bloker propranolol.
Efek Saling memengaruhi Contoh; betabloker dapat
reseptor efek reseptor, meliputi memperpanjang lamanya kondisi
tidak sirkulasi fisiologis dan hipoglikemia karena
langsung biokimia menghambat mekanisme
kompensasi pemecahan glikogen
Gangguan Interaksi akibat Hipokalemia yang terjadi
cairan dan gangguan keseimbangan memengaruhi peningkatan
elektrolit elektrolit kardiotoksik dari digoksin

BEYOND USE DATE (BUD)

BUD batas waktu penggunaan produk obat setelah diracik/disiapkan atau


setelah kemasan primernya dibuka/dirusak.

Sediaan BUD
Non aqueous dan solid formation Dibuat dari sediaan obat jadi Tidak lebih dari 25%
dari waktu kadaluarsa masing-masing bahan atau 6
bulan dari waktu peracikan, manapun yang lebih
dahulu tercapai.*Dibuat dari zat aktif
Tidak lebih dari dari waktu kadaluarsa masing-
masing bahan atau 6 bulan dari waktu peracikan,
manapun yang lebih dahulu tercapai.
Oral mengandung air Tidak lebih dari 14 hari saat disimpan dalam suhu
dingin 2-8 C
Topikal/dermal mengandung air, Tidak lebih dari 30 hari
semisolid
Tetes mata/ telinga tube 28 hari setelah pertama kali dibuka
Tetes mata minidose 3x24 jam setelah pertama kali dibuka
Sirup kering 7 -14 hari setelah diencerkan
injeksi insulin multidose 28 hari setelah digunakan pertama kali di simpan di
suhu ruangan. Dan 60 hari jika dalam suhu kulkas
(2-8 C)
Sumber: USP dan Kemenkes
FORMULASI PEMBUATAN SEDIAAN FARMASI

(10-15%)
Outline:

Eksipien dan Fungsinya BCS


Sediaan Farmasi Analisis Senyawa
Sediaan Steril dan Sitostatika Produksi
Tonisitas Industri

Eksipien dan Fungsinya

Eksipien Jenis Keterangan


Diluent Turunan selulosa; avicel PH- MCC, Menambah bobot, agar dapat
(pengisi) amilum, sukrosa, dekstrosa, mannitol, dikempa menjadi tablet
kalium sulfat/karbonat
Binder Turunan selulosa; avicel, polimer Memberi daya adhesi pada
(pengikat) selulosa; NaCMC, HPC, HPMC, gelatin, massa serbuk saat granulasi
gom alam, tragakan, pektin, amilum, PEG, dan kempa, menambah daya
Na Alginat, Magnesium, Alumunium kohesi yang telah ada pada
Silikat, povidone, kopovolidon. bahan pengisi
Desintegran Croscarmellose, Crospovidon, Amprotab, Meningkatkan daya disolusi
(penghancur) Primogel, Ac-disol, asam alginat. tablet
Anti-frictional Magnesium stearate, amilum, talcum, Lubrikan; mengurangi friksi
agent silikon dioksida antara permukaan dinding/tepi
dengan dye selama kompresi.
Glidan; meningkatkan fluiditas
massa, menambah daya alir.
Anti adheren; mencegah
sticking permukaan tablet
dengan punch atas/bawah.
Wetting agent Gliserin, propilen glikol, PEG Sebagai zat pendispersi
Basis Minyak sintetik Tidak mudah tengik, absorbsi
Supposutoria air dan emulsifikasi lebih baik,
tidak perlu lubrikan
PEG; macrogol, carbowax Tidak perlu disimpan dikulkas.
Glisero, gelatin Dapat menyebabkan iritasi,
higroskopis, dapat tumbuh
mikroba
Surfaktan; tween, span, turunan selulosa Untuk obat obatan yang larut
dalam lemak dan air.
Basis Semisolid Hidrokarbon; parafin, vaseline kuning, Sifat inert, turunan minyak
vaseline putih. bumi, sulit tercuci oleh air dan
tidak terabsorbsi oleh kulit
Basis serap; lanolin, lanolin anhidrat Sifat hidrofil, menyerap
kelebihan air pada kulit.
Basis larut air; PEG Larut dalam air, dapat dicuci,
tidak mengiritasi
Preservatif/ Amonium kuartener, formaldehid (untuk Ditambahakan untuk mencegah
pengawet topikal), asam sorbit, asam benzoat, kerusakan akibat bakteri/fungi.
paraben, alkohol.
Softener Parafin cair Membuat sediaan lebih lembut
Antioksidan Butylated Hydroxynisole (BHA), Butylated Mencegah oksidasi
Hydroxytoluene (BHT), propil galat,
tokoferol
Surfaktan Nonionik; ester polietilen, kationik; Menurunkan tegangan
benzalkonium klorida, anionik; natrium permukaan
dodesil sulfat.
Emulgator Lanolin, Span (sorbitan ester) ; W/O Memiliki komponen lipofilik dan
emulsifying agent hidrofilik
Tween (polisorbat), metil selulosa, akasia,
tragakan; O/W emulsifying agent
Gelling agent Tragakan, turunan selulosa, alginat, Hidrokoloid yang memberikan
pektin, gelatin, povidone, konsistensi tiksotropik pada gel

Sediaan Farmasi
Padat/Solid
Sediaan padat contohnya adalah serbuk, granul, tablet, dan kapsul.
Sediaan Keterangan
Serbuk Terdapat dua jenis, pulvis (tidak terbagi), dan pulveres (terbagi). Syarat
sediaan serbuk; kering, homogen, halus dan mudah mengalir (free
flowing). Ukuran: 10 mm 1 micron
Granul/pil/boli Pil berbentuk bulat dengan berat sekitar 100-500 mg, mengandung satu
atau lebih zat aktif. Sediaan padat bulat dengan masaa < 100 mg dikenal
dengan istilah granul, sedangkan yang lebih dari 500 mg dikenal dengan
istilah boli (untuk hewan ternak).
Tablet Sediaan padat yang kompak, mengandung satu atau lebih zat aktif,
mempunyai bentuk tertentu, biasanya pipih bundar, yang dibuat melalui
proses pengempaan atau pencetakan.
Kapsul Adanya cangkang yang terbuat dari gelatin atau selulosa, yang digunakan
untuk mewadahi sejumlah serbuk zat aktif atau cairan obat

Metode Pembuatan Tablet:


Jenis sediaan Metode pembuatan Keterangan

Tablet Granulasi Basah Senyawa aktif tahan air dan panas, sifat alir jelek,

dilakukan pembuatan massa dengan pengikat,

dikeringkan lalu diayak.


Granulasi Kering Senyawa aktif tidak tahan panas dan air, sifat alir

jelek, dilakukan kempa dengan bahan pengisi lalu

dihancurkan dan diayak

Kempa Langsung Senyawa aktif tidak tahan panas dan air, sifat alir

baik.

Masalah dan Solusi terkait Pembuatan Sediaan Padat:


Masalah Kondisi Solusi
Lengket pada cetakan Melekat pada die dan sulit Meningkatakan
dikeluarkan, bunyi keras antiadheren dan lubrikan,
pada mesin, sisi tablet penggantian lubrikan
menjadi kasar
Sticking dan Picking Permukaan tablet terlihat Menurunkan ukuran
ada goresan, bentuk tablet granul,
berlekuk-lekuk Mengganti lubrikan,
bersihkan,
Salut permukaan punch
dengan minyak mineral
Capping Bagian atas tablet terpisah Tambahkan pengikat
dari bagian utamanya kering,
Regranulasi,
Menurunkan jumlah
lubrikan.
Chipping/Cracking Tablet rusak di bagian tepi Poles permukaan punch
dan die,
Perkecil ukuran granul,
Tambahkan pengikat
kering,
Kurangi jumlah fines

Semipadat/Semisolid
Sediaan semipadat contohnya adalah salep, krim, pasta dan gel.

Sediaan Ciri Khas


Salep Fase minyak lebih besar, basis anhidrat, memungkinkan penetrasi optimal.
Krim Krim o/w, w/o, sediaan opaque (tidak tembus cahaya). Kadar padatan lebih
rendah dibanding pasta
Pasta Kandungan zat padat > 70%, basis yang digunakan anhidrat atau larut air.
Memiliki sifat adsorben yang tinggi, biasa digunakan sebagai lapisan kulit
yang rusak. Lebih tahan air.
Gel Komposisi air >70%, transparan, basis hidrofilik/hidrofobik. Gel memiliki
penetrasi yang tinggi.
Supposutoria Sediaan padat yang dapat meleleh pada suhu tubuh, basis yang digunakan
yang memiliki titik lebur di suhu tubuh, dan tidak meleleh di suhu ruang.
Sumber: RPS 18th, Loyd, Scoville, FI V.
Metode Pembuatan:
Jenis sediaan Metode pembuatan Keterangan

Salep Metode pelelehan Zat pembawa dan zat berkhasiat dilelehkan bersama
dan diaduk sampai membentuk fasa yang homogen
Metode triturasi Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis
yang akan dipakai atau dengan salah satu zat
pembantu, kemudian dilanjutkan dengan
penambahan sisa basis.
Metode peleburan Dibuat dalam cawan porselen, salep yang
mengandung air tidak ikut dilelehkan, diambil bagian
lemaknya, kemudian air ditambahkan terakhir.
Metode pelarutan air Bila masa salep mengandung air dan obatnya dapat
larut dalam air yang tersedia, maka obatnya
dilarutkan dulu dalam air dan dicampur dengan basis
salep yang dapat menyerap air
Krim Metode peleburan Semua atau beberapa komponen dari sediaan krim
yang harus dicarikan dicampurkan menjadi satu
sehingga komponen komponen tersebut akan
melebur, kemudian didinginkan dan diaduk konstan
hingga mengental
Metode emulsifikasi Untuk tipe krim minyak dalam air (W/O). digunakan

surfaktan untuk mengurangi tegangan permukaan.

Pasta Metode Komponen dicampur bersama, hingga homogen

pencampuran

Metode peleburan Beberapa komponen dicampur, dan dileburkan,

kemudian didinginkan sambil diaduk hingga

homogen, komponen yang belum dileburkan di

campur ketika campuran pasta sudah dingin

Gel Metode tanpa Campur bahan pada keadaan dingin, sehingga

pemanasan terdispersi dan homogen.

Metode dengan Mencampur beberapa bagian ke dalam air panas

pemanasan (mengembangkan), kemudian di aduk homogen,

ditambahkan komponen lain, perlahan tidak boleh

terbentuk gelembung udara.

Supposutoria Manual Untuk preparasi dalam jumlah sedikit

Kompresi Menggunakan alat kompresi, untuk preparasi jumlah

lebih banyak

Penuangan Menggunakan cetakan krom/nikel

Mesin otomatis Preparasi sediaan 3500-6000


Masalah dan Solusi terkait Pembuatan Sediaan :
Sediaan Masalah Keterangan/ Solusi

Supposutoria Mengandung air Mempercepat oksidasi lemak. Ditambahkan


preservatif
Higroskopisitas Gunakan basis yang kompatibel

Viskositas Saat meleleh, viskositas perlu diperhatikan.


Gunakan alumunium monostearat 2%.
Kerapuhan Penambahan castor oil, tween/ gliserin.

Volume kontraksi Adanya lubang, diatasi dengan penuangan


berlebih
Ketengikan Ditambahkan antioksidan dari golongan fenol
(hidrokinon)
Salep Ketengikan; perubahan Antioksidan

bau dan konsistensi

Terbentuk kristal Pendinginan yang terlalu cepat dapat


menyebabkan sediaan menjadi keras karena
terbentuk banyak kristal yang berukuran kecil,
sedangkan pendinginan yang terlalu lambat akan
menghasilkan sedikit kristal sehingga produk
menjadi lembek
Krim Pemisahan kedua fase Bila larutan berair tidak sama temperaturnya
dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan
menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan
antara fase lemak dengan fase cair.
Gel Syneresis/bleeding Gel mengerut secara alamiah, cairan pembawa
keluar dari matriks. Disebabkan oleh adanya
struktur gel (persentase formulasi gelling agent)
kurang.
Swelling Gel menyerap cairan, sehingga volume gel
bertambah.
Sedimentasi Gael terpisah terhadap fase padatnya

Cair/Liqud
Sediaan cair contohnya adalah larutan, suspensi dan emulsi.

Sediaan Ciri Khas


Larutan Mengandung satu atau lebih jenis obat dalam pelarut (dengan zat pelarut
yang sesuai) dan digunakan sebagai obat dalam atau obat luar.
Suspensi Mengandung obat padat, tidak melarut dan terdispersikan sempurna
dalam cairan pembawa, atau sediaan padat terdiri dari obat dalam bentuk
serbuk sangat halus, dengan atau tanpa zat tambahan yang akan
terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa yang ditetapkan
Emulsi Mengandung dua zat yang tidak tercampur, biasanya air dan minyak,
dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butiran-butiran kecil dalam
cairan yang lain.
Metode pembuatan sediaan liquid:

Jenis sediaan Metode pembuatan Keterangan

Emulsi Gom basah Membuat mucilago yang kental dengan sedikit

air dan fase minyak demi sedikit.

*digunakan terutama jika emulgator merupakan

cairan/ yang harus dilarutkan terlebih dahulu

Gom kering 4:2:1 (minyak, air, gom), dicampur, kemudian

ditambahkan sisa air dan bahan lainnya.

*jika terdapat komponen alkohol, maka

diberikan terakhir (karena alkohol merusak

emulsi)

HLB Berhubungan dengan sifat-sifat molekul

surfaktan mengenal sifat relatif dari

keseimbangan HLB ( Hydrophiel-Lyphopiel

Balance ).

Suspensi Dispersi Ditambahkan bahan oral kedalam mucilage yang

telah terbentuk, kemudian diencerkan

Presipitasi Zat terdispersi dilarutkan dalam pelarut organik,

dilarutkan dengan larutan pensuspensi dalam

air, terbentuk endapan halus.

Larutan Suhu Pencampuran zat terlarut dengan bantuan suhu

Mekanik Pencampuran zat terlarut dengan bantuan

mekanik (pengadukan, atau penggerusan

menjadi metode lebih kecil)

Masalah dan solusi terkait pembuatan sediaan:


Masalah Keterangan Solusi

Creaming Terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, Dikocok kembali perlahan

bersifat reversibel

Koalesen dan Pecahnya emulsi, sifatnya irreversibel Penambahan

cracking emulgator/surfaktan yang cocok.

Inversi fase Berubahnya tipe emulsi W/O menjadi

O/W, sifatnya irreversibel


Flokulasi Berkumpulnya beberapa tetesan minyak

tetapi tidak membentuk tetesan minyak

baru yang lebih besar seperti pada

peristiwa coalescence hingga

mengakibatkan distribusinya dalam

emulsi tidak merata

Masalah Sediaan Liquid

Uji disolusi dan Uji Stabilitas

Uji Disolusi Lazimnya menggunakan 2 tipe apparatus untuk uji sediaan padat, yaitu

apparatus tipe I (basket/keranjang) dan apparatus tipe II (paddle/dayung), dasar

pemilihan apparatus umumnya merujuk pada kompendial.

Kriteria Penerimaan Untuk Uji Disolusi


Tahap Sampel Uji Kriteria Penerimaan

S1 6 Tiap unit tidak kurang dari Q+5%

Rata-rata dari 12 unit (S1+S2) adalah sama dengan

S2 Ditambah 6 atau lebih dari Q dan tidak boleh ada satupun unit

yang kurang dari Q-15%

Rata-rata dari 24 unit (S1+S2+S3) adalah sama dengan

atau lebih dari Q dan tidak lebih dari 2 unit yang


S3 Ditambah 12
kurang dari Q-15% serta tidak boleh ada satupun unit

yang kurang dari Q-25%


Kondisi Penyimpanan Selama Uji Stabilitas Menurut ICH
Kondisi
Jenis Kondisi Lama Waktu Uji
Penyimpanan
Long term 25C/60% RH 12 bulan
Suhu Kamar Intermediate *
30C/65% RH 6 bulan
Accelerated 40C/70% RH 6 bulan
Lemari Long term 5C/Ambient 12 bulan
Pendingin Accelerated 25C/60% RH 6 bulan
Freezer Long term -20C/Ambient 12 bulan
Keterangan:
Suhu Chamber diatur terkontrol 2C, dan kelembaban relatif diatur terkontrol 5%
(*) Pengujian dilakukan jika terdapat perubahan signifikan pada suhu 40C/70% RH

Suatu data hasil pengujian stabilitas dipercepat dikatakan berubah secara signifikan

jika memenuhi beberapa kriteria dibawah ini.


Perubahan signifikan ditetapkan atas dasar jika tidak terpenuhinya
Zat Aktif
spesifikasi yang seharusnya

1. Terjadi perubahan potensi sebesar 5% dari nilai awal

2. Produk degradasi ditemukan dalam jumlah yang melebihi batasan

penerimaan

Sediaan Obat 3. Tidak memenuhi kriteria penerimaan dalam uji penampilan dan

fisik sediaan (seperti warna, pemisahan fase, caking, dan lain-lain)

4. pH melebihi kriteria penerimaan

5. Disolusi melebihi kriteria penerimaan untuk 12 sampel uji

Pengujian dipercepat (accelerated) umumnya digunakan untuk memprediksi

tanggal kadaluwarsa guna kepentingan registrasi, sedangkan uji jangka panjang

(long term) dimaksudkan untuk menentukan shelf-life sesungguhnya dari sediaan.


EVALUASI SEDIAAN

Evaluasi Sediaan Parameter


Laju Alir Tablet Aliran serbuk/granul baik 10 g serbuk/granul
dalam 1 detik.
Homogenitas Tablet Kadar zat aktif pada berbagai titik relatif sama
(simpangan baku relatif <2%).
Krim, Pasta, Gel Oleskan gel pada kaca objek menunjukkan
homogenitas
Kadar Zat Aktif Tablet, Pasta Melakukan sampling pada beberapa titik
tergantung zat aktif
Organoleptik Tablet Warna homogen, tidak ada binitk-bintik atau noda,
Suppositoria, Krim, bau sesuai spesifikasi (bau khas bahan, tidak ada bau
Salep, Pasta, Gel yang tidak sesuai), rasa sesuai spesifikasi
Bentuk dan ukuran Tablet Diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak
kurang dari 1 1/3 tebal tablet
Kekerasan Tablet Bobot tablet sampai 300 mg: 4 7 kg/cm2.
Bobot tablet 400 700 mg: 7 12 kg/cm2.
Suppositoria Dihitung berdasarkan beban yang dibutuhkan untuk
menghancurkan suppositoria.
Suppo hancur dalam 20 detik beban tidak
ditambahkan
Suppo hancur 20-40 detik beban ditambahkan
Suppo hancur >40 detik beban diperhitungkan
seluruhnya
Friabilitas Tablet Mengukur daya tahan permukaan tablet terhadap
gesekan alat yang berputar (friability tester) < 1%
Disintegrasi Tablet Tidak kurang dari 16 dari 18 tablet uji harus hancur
sempurna.
Melting range test Suppositoria tidak lebih 2 suppo berbeda dengan berat rata-rata >
5%, dan tidak ada satu suppo yang berbeda dengan
rata-rata > 10%
Liquefaction time Suppositoria Waktu Pelunakan tidak lebih dari 30 menit
Dialisis Suppositoria Menggunakan tube dialisis.
Seperti tercantum dalam uji dialisis umumnya,
Evaluasi pH Krim, Pasta Sesuai dengan spesifikasi
Viskositas Salep, Pasta, Gel. Viscometer Angka pembacaan x faktor koreksi =
sesuai spesfikasi.
Daya pelepasan obat Salep Bahan aktif dinyatakan mudah lepas dari sediaan
apabila waktu tunggu semakin kecil tergantung
eksipian dan jenis cairac penerima
Kebocoran Salep, Pasta Kebocoran 1 tube ulangi pada 20 tube lain.
Memenuhi syarat jika kebocoran tidak lebih 1 dari 30
tube.
Stabilitas Fisik Pasta Tidak terjadi pemisahan
Sediaan steril dan sitostatika

Kelengkapan Personil dan Penanganan Kegawat Daruratan


Sediaan Prosedur personil Penanganan kegawat-daruratan
Injeksi steril - Menggunakan APD
non sitostatika - Melakukan
dekontaminasi dan
desinfeksi
- Menghidupkan LAF
- Menyiapkan kantong
buangan sampah
- Melakukan desinfeksi
sarung tangan
Injeksi steril - Gunakan APD - Jika ada tumpahan gunakan spill kit kemoterapi
sitostatika - Menyalakan BSC 5 dan lakukan tindak sesuai prosedur
menit sebelum KULIT
digunakan - Bilas dengan air hangat
- Melakukan - Cuci dengan sabun
dekontaminasi dan - Seka area dengan klorin 5% (jika kulit tidak sobek)
desinfeksi BCS - Seka dengan h202 3% (jika kulit sobek)
- Menyiapkan kantong - Catat jenis obat dan siapkan antidotum
sampah khusus MATA
- Melakukan desinfeksi - Bilas di air mengalir, rendam dengan air hangat
sarung tangan selama 5 menit
- Cuci mata terbuka dengan NaCl 0,9%
TERTUSUK JARUM
- Tarik kembali plunger
- Jika perlu gunakan spuit barum jarum bersih untuk
menarik obat yang kemungkinan terinjeksi
- Bilas bagian tertusuk dengan air hangat, cuci
bersih dengan sabun.
- Catat jenis obat, dan berapa banyak terinjeksi

Persyaratan Ruang:
Ruang Keterangan Syarat ruang
Ruang persiapan Administrasi, penyiapan alat, dan
bahan obat
Ruang cuci tangan memakai APD
dan ruang ganti
pakaian
Ruang antara Ruang batas antara non steril dan steril
Ruang steril - Jumlah partikel berukuran 0,5 mikron
tidak lebih dari 350.000 partikel
- Jumlah jasad renik tidak lebih dari 100
per meter2
- Suhu 18 22C
- Kelembaban 35 50%
- Di lengkapi High Efficiency Particulate
Air (HEPA) Filter
- Tekanan udara di dalam ruang lebih
positif dari pada tekanan udara di luar
ruangan (non sitostatika)
- Tekanan udara di dalam ruang lebih
negatif dari pada tekanan udara di luar
ruangan (sitostatika).
Pass box tempat masuk dan keluarnya alat - terletak di antara ruang persiapan dan
kesehatan dan bahan obat sebelum ruang steril.
dan sesudah dilakukan pencampuran. - Airlock
TONISITAS

Metode Penentuan :
Metode Keterangan Rumus

Metode Didefinisikan sebagai suatu faktor Metode Wells:

Ekuivalensi yang dikonversikan terhadap sejumlah


L = dan E =

NaCl tertentu zat terlarut terhadap jumlah Keterangan:


NaCl yang memberikan efek osmotik L = turunnya titik beku molal
yang sama I = turunnya titik beku akibat zat

terlarut

C= konsentrasi molal zat terlarut

E= ekuivalensi NaCl

M= berat molekul zat

Dapat digunakan untuk menentukan Metode Liso

nilai E dan Tf E =

dan Tf =

Keterangan:

E = ekuvalensi NaCl

Liso= harga tetapan (non elektrolit

1.86, elektrolit lemah 2.0,

univalen 3.4

M = berat molekul zat

Tf= penurunan titik beku

m = berat zat terlarut (g)

V = volume larutan (mL)

Metode Jika konsentrasi tidak dinyatakan, Metode I

Penurunan Titik maka a = 0 W=


,

Beku Metode penghitungan tonisitas Keterangan:


dengan mengetahui data titik beku W = jumlah (g) bahan pembantu
suatu senyawa isotonis dalam 100 mL larutan

a = turunanya titik beku air akibat zat

terlarut, dihitung dengan

memperbanyak nilai untuk

larutan 1% b/v
b = turunnya titik beku air yang

dihasilkan oleh 1% b/v bahan

pembantu isotonis

Metode II
1000
Tb =

Keterangan:

Tb = turunnya titik beku larutan

teradap pelarut murninya

K= turunnya titik beku pelarut dalam

molar (konstanta krioskopik air

1,86 yang menunjukkan turunnya

titik beku 1 mol zat terlarut dalam

1000 g cairan)

m = zat yang ditimbang

n = jumlah ion

M = berat molekul zat terlarut

L = massa pelarut (g)

Contoh Perhitungan Tonisitas:

R/Ranitidin HCl 27,9 mg

Na2HPO4 anhidrat 0,98 mg

KH2PO4 1,5 mg

Aqua Pro Inj ad 1 mL

Metode Ekuivalensi NaCl

A. Penentuan nilai Ex%

Ranitidin HCl 27,9 mg/mL = 2,79 g/100 mL

= 2,79% 3%, maka E3% = 0,16



Na2HPO4 anhidrat 0,98 mg/mL = ( 0,98)

159,96
= (141,96 0,98)

= 1,1 mg/mL

= 0,11 g/100 mL

= 0,11% 0,5%, maka E0,5% = 0,44


KH2PO4 = 1,5 mg/mL = 0,15 g/100 mL = 0,15% 0,5%, maka E0,5% = 0,48

Zat E Kesetaraan NaCl


Ranitidin HCl 0,16 0,4464
Na2HPO4 0,44 0,0484
KH2PO4 0,48 0,0720

B. Perhitungan jumlah NaCl yang ditambahkan

NaCl yang ditambahkan agar isotonis adalah:

NaCl = 0,9 (0,4464 + 0,0484 + 00720)

= 0,3332 g/100 mL

= 3,3 mg/mL

Metode Penurunan Titik Beku (Tf)

Zat %
C (%) C %

Ranitidin HCl 0,1 2,79 0,279


Na2HPO4 0,24 0,11 0,0264
KH2PO4 0,25 0,15 0,0375
Jumlah 0,3429 0,34
Tf isotonis = 0,52

Agar isotonis, maka Tf menjadi = 0,52 0,34 = 0,18


0,18
Setara dengan NaCl = 0,52 0,9%

= 0,31 g/100 mL

= 3,1 mg/mL

Jadi NaCl yang ditambahkan agar larutan menjadi isotonis adalah 3,1 mg/mL
BCS (Biopharmaceutical Classification System)

Kelas BCS Rate Limiting Step Solusi

Menambahkan bahan

I (kelarutan besar, permeabilitas tinggi) Kecepatan disolusi untuk mempercepat

disolusi

Menambahkan bahan

II (kelarutan kecil, pemeabilitas tinggi) Kelarutan senyawa yang dapat meningkatkan

kelarutan senyawa

Menambahkan
Permeabilitas
III (kelarutan tinggi, permeabilitas rendah) permeability enhancer
senyawa
pada formulasi

Tidak diketahui

(tidak ada
IV (kelarutan rendah, permeabilitas rendah) -
hubungan antara

in vitro dan in vivo)

Analisis Senyawa

Metode analisis sederhana


Metode Prinsip Keterangan

Perbedaan bobot tetap saat Umumnya pada analisis kadar abu dan
Gravimetri
ditimbang susut pengeringan

Reaksi asam basa yang dapat


Titrasi Bebas Air Analisis asam dan basa lemah
diganggu oleh adanya air

Reaksi diazotasi menimbulkan Analisis nitrit dan senyawa turunan


Nitrimetri
perubahan warna sulfanilamid

Reaksi kompleks antara EDTA


Kompleksometri Analisis logam valensi 2 dan 3
sehingga menimbulkan warna

Analisis serimetri (Ce),


Titrasi Redoks Reaksi redoks dalam larutan
permanganometri, iodo-iodimetri

Titrasi Kelarutan senyawa hasil reaksi yang


Analisis argentometri untuk kadar NaCl
Pengendapan mudah mengendap

Reaksi asam basa yang tidak


Asidi-alkalimetri Analisis basa dan asam kuat
diganggu air
Metode Analisis Instrumen
Metode Prinsip Keterangan

Penyerapan spektrum Digunakan untuk analisis senyawa

Spektrofotometri gelombang cahaya kuantitatif. Panjang gelombang UV 190-

UV/Vis elektromagnetik oleh senyawa 380 nm, larutan yang dianalisis harus

dalam larutan jernih.

Vibrasi, rotasi, dan translasi.


Digunakan untuk analisis kualitatif,
Spektrofotometri Untuk senyawa yang memiliki
identifikasi gugus fungsi, dan kuantitatif
IR gugus fungsi dan kovalen
pada Spektro- FTIR
tunggal

Berdasarkan penguapan

larutan sampel, kemudian

Spektrofotometri logam yang terkandung Digunakan untuk menganalisis logam

SAA didalamnya diubah menjadi berat golongan IA dan II A.

atom bebas. Atom

mengabsorpsi radiasi cahaya

Dapat digunakan fase normal (fase gerak


Pemisahan berdasarkan
Kromatografi Lapis nonpolar dan fase diam polar) atau fase
polaritas senyawa dan ikatan
Tipis terbalik (fase gerak polar dan fase diam
pada fase gerak
nonpolar)

Apabila senyawa yang akan dianalisis


Pemisahan berdasarkan
susah menguap dilakukan derivatisasi
Kromatografi Gas perbedaan titik didih dan
menggunakan senyawa tertentu agar
volatilitas senyawa
mudah menguap

Dapat digunakan fase normal (fase gerak


Pemisahan berdasarkan
nonpolar dan fase diam polar) atau fase
KCKT (HPLC) polaritas senyawa dan ikatan
terbalik (fase gerak polar dan fase diam
pada fase gerak
nonpolar)

Pemisahan berdasarkan Biasanya digunakan pada analisis asam

Elektroforesis muatan listrik senyawa dan amino dan protein

ukuran molekul
Perhitungan dalam Analisis Instrumental

Contoh 1

Lima larutan baku obat X (Mr = 288,4 g/mol) diukur absorbansinya pada

spektrofotometer-UV dengan panjang gelombang maksimum 285 nm terhadap

blanko etanol. Hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel berikut.

Konsentrasi (ppm) Absorbansi


2,5 0,140
5 0,281
7,5 0,421
10 0,562
12,5 0,697

Tentukan nilai 1%
1 dan absorptivitas molar () dari obat X pada panjang gelombang

285 nm !

Jawab:

Penentuan nilai %

Misalnya digunakan larutan baku dengan konsentrasi 10 ppm

10 ppm = 0,001 g/100 mL

= 0,001% b/v

Karena a = 1%
1 (dengan a = absorbansi; b = tebal kuvet; c = konsentrasi)

Maka,

0,562 = 1%
1 1 0,001

1 = 562
1%
Penentuan nilai

Dengan merujuk pada persamaan yang sama, yakni a = 1%


1 , nilai dapat

ditentukan, namun konsentrasi harus dibuat dalam satuan molar bukan %b/v,

sehingga:

10 ppm = 10 mg/L = 0,01 g/L

0,01 /
Karena M = n V dan n = , maka M = 288,4 / Molar

0,01
Dengan persamaan a = , maka 0,562 = 288,4 1, sehingga

= 16208,08 16208

Contoh 2

Sebanyak 100 mg sampel yang mengandung parasetamol dilarutkan dalam etanol

hingga 100 mL. Setelah itu diambil 10 mL dan diencerkan hingga 100 mL pada labu

takar. Larutan tersebut kemudian diukur serapannya pada spektrofotometer dan

diperoleh A = 0,465. Berapakah kadar parasetamol tersebut jika diketahui

persamaan kurva bakunya adalah y = 0,013x + 0,096?

Jawab:

y = 0,013x + 0,096

0,465 = 0,013x + 0,096

x = 28,38 ppm = 28,38 mg/L


% Kadar = 100%

28,38 / 10 0,1
% Kadar = 100
100%

% Kadar = 28,38%

Contoh 3

Sebanyak 500 mg sampel yang mengandung vitamin C dilarutkan dalam 250 mL

pelarut yang sesuai sehingga diperoleh larutan stok 2000 ppm. Setelah itu dilakukan
pengenceran bertingkat dengan pengenceran pertama dilakukan dengan

mengambil 2 mL dan diencerkan hingga 100 mL, setelah itu 25 mL dari hasil

pengenceran pertama diencerkan kembali hingga 100 mL pada labu takar. Larutan

tersebut kemudian diukur serapannya pada spektrofotometer dan diperoleh A =

0,506. Berapakah kadar vitamin C tersebut jika diketahui persamaan kurva bakunya

adalah y = 0,0379x 0,0312?

Jawab:

y = 0,0379x 0,0312

0,506 = 0,0379x 0,0312

x = 14,17 ppm


% Kadar =
100%

14,17 / 200 0,1


% Kadar = 500
100%

% Kadar = 56,68%
PRODUKSI

Uji klinis - Pra klinis


Perbedaan Uji Pra Klinis Klinis
Definisi Pengujian yang dilakukan pada hewan Pengujian khasiat pada manusia
uji untuk meneliti sifat untuk memastikan efektivitas,
farmakodinamik, farmakokinetik, keamanan dan efek samping
farmasetik dan efek toksik suatu yang muncul akibat suatu
senyawa baru. senyawa.
Lingkup Pengujian 1. Uji Farmakodinamik: 1. Uji Klinik Fase I
Mengetahui kesesuaian efek Meneliti Toksisitas
farmakologi. Dilakukan secara in Keamanan Tolerabilitas
vivo dan in vitro obat.
2. Uji Farmakokinetik: Dilakukan pada sukarelawan
Mengetahui ADME sehat menentukan
Merancang dosis dan aturan pakai besarnya dosis tunggal yang
3. Uji Farmasetika dapat diterima (MTD).
Uji kesesuaian farmasetika dari segi 2. Uji Klinik Fase II
formulasi, standarisasi, stabilitas Pada sekelompok kecil
hingga pemilihan bentuk sediaan sukarelawan sakit melihat
dan cara penggunaan. efek farmakologik/efek terapi
4. Uji Toksikologi obat.
Mengetahui keamanan dan Diteliti juga eliminasi dan
toksisitas zat. metabolisme obat.
3. Uji Klinik Fase III
Memastikan khasiat, aman
dan efektif sekelompok
besar sukarelawan sakit.
4. Uji Klinik Fase IV
Paska Pemasaran (Post
Marketing Drug Surveillance)
Bioavalibilitas/Bioekivalensi (BA/BE)
Diferensiasi Bioavailibilitas Bioekivalensi
Definisi Persentase dan kecepatan Dua produk obat disebut bioekivalen
zat aktif mencapai/ jika keduanya mempunyai ekivalensi
tersedia dalam sirkulasi farmaseutik atau merupakan
sistemik dalam bentuk alternatif farmaseutik dan pada
utuh/aktif setelah pemberian pemberian dengan dosis moral yang
produk obat tersebut. sama akan menghasilkan
Diukur dari kadarnya dalam biovailabilitas yang sebanding
darah terhadap waktu atau sehingga efeknya akan sama, dalam
dari ekskresinya dalam urin. hal efikasi maupun keamanan.

Parameter Bioavailabilitas absolut: Faktor kemiripan (F2) : 50-100 ->


bila dibandingkan dengan menunjukkan kesamaan atau
sediaan intravena yang ekivalensi ke 2 kurva, yang berarti
bioavailabilitasnya 100%. kemiripan profil disolusi ke 2 produk.
Bioavailabilitas relatif: bila *Jika produk Copy dan produk
dibandingkan dengan pembanding memiliki disolusi yang
sediaan bukan intravena. sangat cepat (> 85 % melarut dalam
waktu < 15 menit dalam ke-3 media
dengan metode uji yang dianjurkan),
perbandingan profil disolusi tidak
diperlukan.

Produk obat yang memerlukan uji ekivalensi in vivo:


1. Produk obat oral lepas cepatyang bekerja sistemik, jika memenuhi satu atau
lebih kriteria berikut ini :
A. Obat-obat untuk kondisi yang serius yang memerlukan respon terapi yang pasti
(critical use drugs), misal: antituberkulosis, antiretroviral, antibakteri,
antihipertensi, antiangina, obat gagal jantung, antiepilepsi, antiasma.
B. Batas keamanan/ indeks terapi yang sempit; kurva doses-respons yang curam,
misal: digoksin, antiaritmia, antikoagulan, obat-obat sitostatik, litium, feniton,
siklosporin, sulfonilurea, teofilin.
C. Terbukti ada masalah bioavailabilitas atau bioinekivalensi dengan obat yang
bersangkutan atau obat-obat dengan struktur kimia atau formulasi yang mirip
(tidak berhubungan dengan masalah disolusi,) misal:
- absorpsi bervariasi atau tidak lengkap;
- eliminasi presistemik yang tinggi;
- farmakokinetik nonlinear;
- sifat-sifat fisiokimia yang tidak menguntungkan (misal: kelarutan rendah,
permeabilitas rendah, tidak stabil, dsb.)
D. Eksipien dan proses pembuatannya diketahui mempengaruhi bioekivalensi

2. Produk obat non-oral dan non parenteral yang didesain untuk bekerja
sistemik,misal : sediaan transdermal, supositoria, permen nikotin, gel
testosteron dan kontraseptif bawah kulit,
3. Produk obat lepas lambat atau termodifikasi yang bekerja sistemik.
4. Produk kombinasi tetapuntuk bekerja sistemik, yang paling sedikit salah satu zat
aktifnya memerlukan studi in vivo.
5. Produk obat bukan larutan bukan untuk penggunaan non sistemik (oral nasal,
okular, dermal, rektal, vaginal, dsb), dan dimaksudkan untuk bekerja lokal (tidak
untuk diabsorpsi sistemik). Untuk produk demikian, bioekivalensi harus
ditunjukkan dengan studi klinik atau farmakodinamik, dermatofarmakokinetik
komparatif dan / atau studi in vitro. Pada kasuskasus tertentu, pengukuran kadar
obat dalam darah masih diperlukan dengan alasan keamanan untuk melihat
adanya absorpsi yang tidak diinginkan.

Semua tablet oral wajib melakukan uji ekivalensi in vitro.

Produk obat yang tidak memerlukan uji ekivalensi:


1. Produk obat copy untuk penggunaan intravena sebagai larutan dalam air
yang mengandung zat aktif yang sama dalam kadar molar yang sama dengan
produk pembanding.
2. Produk obat copy untuk penggunaan parenteral yang lain (misal:
intramuskular, subkutan) sebagai larutan dalam air dan mengandung zat aktif
yang sama dalam kadar molar yang sama dan eksipien yang sama atau mirip
(similar) dalam kadar yang sebanding seperti dalam produk pembanding.
3. Produk obat copy berupa larutan untuk penggunaan oral(termasuk sirup),
eliksir, tingtur atau bentuk larutan lain tetapi bukan suspensi), yang
mengandung zat aktif dalam kadar molar yang sama dengan produk
pembanding, dan hanya mengandung eksipien yang diketahui tidak
mempunyai efek terhadap transit atau permeabilitas dalam saluran cerna dan
dengan demikian terhadap absorpsi atau stabilitas zat aktif dalam saluran
cerna.
4. Produk obat copy berupa bubuk untuk dilarutkan
5. Produk obat copy berupa gas
6. Produk obat copy berupa sediaan obat mata atau telinga sebagai larutan
dalam air dan mengandung zat (-zat) aktif yang samadalam kadar molar yang
sama dan eksipien yang praktis sama dalam kadar yang sebanding.
7. Produk obat copy berupa sediaan obat topikal sebagai larutan dalam air
8. Produk obat copy berupa larutan untuk aerosal atau produk inhalasi nebulizer
atau semprot hidung, yang digunakan dengan atau tanpa alat.
(Sumber: PEDOMAN UJI BIOEKIVALENSI, BPOM).
In Proccess Control
pengawasan yang dilakukan selama proses produksi sebelum proses produksi
selesai dilakukan.
Tujuan mencegah produksi obat yang tidak memenuhi spesifikasi

Fungsi monitoring dan bila perlu untuk menyesuaikan proses produksi agar

memenuhi spesifikasi pemeriksaan produk jadi.

Pengawasan mengambil sample mengadakan pemeriksaan dan pengujian

terhadap produk yang dihasilkan pada tahap-tahap tertentu dari proses

pengolahan.

Pengawasan dilaksanakan oleh 2 pihak, yaitu :

1. Bagian produksi menjamin bahwa mesin dan peralatan produksi serta proses

yang digunakan akan menghasilkan produk yang memenuhi spesifikasi yang

ditetapkan.

2. Bagian pengawasan mutu meyakinkan bahwa produk yang dihasilkan pada

tahap tertentu telah memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sebelum dilanjutkan

proses berikutnya. Bagian pengawasan mutu menentukan apakah tahap lanjutan

dari proses pengolahan dapat dilaksanakan berdasarkan hasil pengujian yang

dilakukan.

Skema kontrol proses produksi


Berikut proses produksi dan IPC dari berbagai jenis sediaan:
Pemastian kualitas produksi:

Kebersihan Ruang Pembuatan Obat

Nonoperasional Operasional

Kelas Jumlah maksimum partikel/m3 yang diperbolehkan

0,5 m 5 m 0,5 m 5 m

A 3.520 20 3.520 20

B 3.520 29 3.520 20

C 352.000 2.900 3.520.000 29.000

D 3.520.000 29.000 - -

E 3.520.000 29.000 - -

Rekomendasi dalam Pembuatan Sediaan


Kelas Sebutan Suhu (C) Humiditas (%) Keterangan

- Pengelolaan dan pengisian

aseptis
A Under LAF 16-25 45-55
- Pengisian salep mata, bubuk

dan suspensi steril

- Lingkungan latar belakang

B Steril 16-25 45-55 kelas A dan untuk pengolahan

dan pengisian aseptis

- Pembuatan larutan bila ada

C Steril 16-25 45-55 resiko

- Pengisian produk non-aseptis

- Pembuatan obat steril dengan


D Bersih 20-27 40-60
sterilisasi akhir

- Ruang pengolahan dan

pengemasan primer obat non-


E Umum 20-27 Maks 70
steril, pembuatan salep kecuali

salep mata

- Pengolahan bahan higroskopis


E Khusus 20-27 Maks 40
(e.g Effervescent)
Spesifikasi dan Persyaratan Alat dalam Formulasi:
INDUSTRI
Validasi
Validasi merupakan tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap

bahan, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan, atau mekanisme yang

digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil yang

diharapkan. Validasi yang dikenal adalah validasi metode analisis, validasi proses,

dan validasi pembersihan. Kualifikasi dilakukan sebelum validasi.

A. Validasi Proses

Tindakan pembuktian yang di dokumentasikan bahwa proses yang

dilakukan dalam batas parameter yang ditetapkan dapat bekerja secara efektif

dan memberi hasil yang dapat terulang untuk menghasilkan produk jadi yang

memenuhi spesifikasi dan atribut mutu yang ditetapkan sebelumnya. Validasi

proses dapat dibedakan atas validasi prospektif, konkuren dan retrospektif.

1) Validasi Prospektif

Validasi yang dilakukan sebelum pelaksanaan produksi rutin dari produk yang

akan dipasarkan.

2) Validasi Konkuren

Validasi yang dilakukan pada saat pembuatan rutin produk untuk dijual

3) Validasi Retrospektif

Validasi dari suatu proses untuk suatu produk yang telah dipasarkan

berdasarkan akumulasi data produksi, pengujian, dan pengendalian bets.

B. Validasi Metode Analisis

Tindakan pembuktian bahwa semua metode tetap yang digunakan sesuai

dengan tujuan penggunaannya dan selalu memberikan hasil yang dapat

dipercaya. Validasi metode analisis umumnya dilakukan terhadap empat jenis,

yaitu uji identifikasi, uji kuantitatif kandungan impuritas, uji batas impuritas, dan

uji kuantitatif zat aktif dalam sampel bahan aktif obat atau obat atau komponen

tertentu dalam obat.


Pengujian Penetapan

Parameter Impuritas Kadar


Identifikasi
Validasi - Disolusi
Kuantitaitf Batas
- Kandungan

Akurasi - + - +

Presisi

Ripitabilitas - + - +

Presisi Int - + - +3

Spesifisitas1 + + + +

LOD - -2 + -

LOQ - + - -

Linearitas - + - +

Rentang - + - +

(-) Tidak dipersyaratkan

(+) Dipersyaratkan

(1) Kekurangan spesifisitas dari salah satu prosedur analisis dapat

dikompensasikan dengan prosedur analisis yang lain yang dapat

menunjang

(2) Hanya dilakukan pada kasus tertentu

(3) Dalam hal telah dilakukan tes reprodusibilitas, maka presisi

intermediet tidak dipersyaratkan

C. Validasi Pembersihan

Tindakan pembuktian bahwa prosedur yang telah ditetapkan untuk

membersihkan suatu peralatan pengolahan, hingga pengemasan primer

mampu membersihkan sisa bahan aktif obat dan zat pembersih yang digunakan

untuk proses pencucian dan juga dapat mengendalikan cemaran mikroba pada

tingkat yang dapat diterima. Metode pembersihan meliputi metode apus (swab),

metode pembilasan terakhir (rinse), dan metode dengan plasebo.


Kualifikasi
Kualifikasi merupakan proses pembuktian secara tertulis berdasarkan data

yang menunjukkan kelayakan suatu peralatan, fasilitas, sistem penunjuang sesuai

dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Tahapan kualifikasi ada empat, yaitu :

DQ IQ OQ PQ

a. Kualifikasi Desain (DQ) Kualifikasi yang dilakukan pertama kali dalam

melakukan validasi fasilitas, peralatan atau sistem yang baru.

b. Kualifikasi Instalasi (IQ) Kualifikasi dilakukan terhadap fasilitas, sistem dan

peralatan baru atau yang dimodifikasi, mencakup :

Instalasi peralatan, pipa dan sarana penunjang hendaklah sesuai dengan

spesifikasi dan gambar teknik yang didesain.

Pengumpulan dan penyusunan dokumen pengoperasian dan perawatan

peralatan dari pemasok.

Ketentuan dan persyaratan kalibrasi.

Verifikasi bahan konstruksi.

c. Kualifikasi Operasional (OQ) Kualifikasi operasional dilakukan setelah

kualifikasi instalasi selesai dilaksanakan, dikaji dan disetujui. Kualifikasi

operasional hendaklah mencakup:

Kalibrasi

Prosedur pengoperasian dan pembersihan

Pelatihan operator dan ketentuan perawatan preventif.

d. Kualifikasi Kinerja (PQ) Menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem

atau peralatan yang telah diinstalasi beroperasi sesuai dengan spesifikasi yang

diinginkan.
Fungsi bagian (struktural) industri farmasi

Struktur Tipe B

Struktur Tipe C

Struktur Tipe D

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan


Kefarmasian, Industri Farmasi minimal harus memiliki 3 orang Apoteker yang
masing-masing menempati posisi sebagai kepala bagian Produksi, manager
Pengawasan Mutu (QC) dan manager Pemastian Mutu (QA). Sedangkan
berdasarkan Permenkes RI Nomor 6 tahun 2012 tentang Industri Usaha Obat
Tradisional, Industri Obat Tradisional (IOT) dan Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA)
minimal memiliki 1 orang apoteker sebagai penanggung jawab.
Kepala Bagian Produksi
Produksi hendaklah diberi kewenangan dan tanggung jawab penuh dalam
produksi obat, termasuk:
1. memastikan bahwa obat diproduksi dan disimpan sesuai prosedur agar
memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan;
2. memberikan persetujuan petunjuk kerja yang terkait dengan produksi dan
memastikan bahwa petunjuk kerja diterapkan secara tepat;
3. memastikan bahwa catatan produksi telah dievaluasi dan ditandatangani
oleh kepala bagian Produksi sebelum diserahkan kepada kepala bagian
Manajemen Mutu (Pemastian Mutu);
4. memeriksa pemeliharaan bangunan dan fasilitas serta peralatan di bagian
produksi;
5. memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan; dan
6. memastikan bahwa pelatihan awal dan berkesinambungan bagi personil
di departemennya dilaksanakan dan diterapkan sesuai kebutuhan.

Kepala QC
Kepala bagian Pengawasan Mutu hendaklah diberi kewenangan dan tanggung
jawab penuh dalam pengawasan mutu, termasuk:
1. menyetujui atau menolak bahan awal, bahan pengemas, produk antara,
produk ruahan dan produk jadi;
2. memastikan bahwa seluruh pengujian yang diperlukan telah dilaksanakan;
3. memberi persetujuan terhadap spesifikasi, petunjuk kerja pengambilan
sampel, metode pengujian dan prosedur pengawasan mutu lain;
4. memberi persetujuan dan memantau semua analisis berdasarkan kontrak;
5. memeriksa pemeliharaan bangunan dan fasilitas serta peralatan di bagian
pengawasan mutu;
6. memastikan bahwa validasi yang sesuai telah dilaksanakan; dan
7. memastikan bahwa pelatihan awal dan berkesinambungan bagi personil
di departemennya dilaksanakan dan diterapkan sesuai kebutuhan.

Kepala QA
Kepala bagian Manajemen Mutu (Pemastian Mutu) hendaklah diberi
kewenangan dan tanggung jawab penuh untuk melaksanakan tugas yang
berhubungan dengan sistem mutu/ pemastian mutu, termasuk:
1. memastikan penerapan (dan, bila diperlukan, membentuk) sistem mutu;
2. ikut serta dalam atau memprakarsai pembentukan manual mutu
perusahaan;
3. memprakarsai dan mengawasi audit internal atau inspeksi diri berkala;
4. melakukan pengawasan terhadap fungsi bagian Pengawasan Mutu;
5. memprakarsai dan berpartisipasi dalam pelaksanaan audit eksternal
(audit terhadap pemasok);
6. memprakarsai dan berpartisipasi dalam program validasi;
7. memastikan pemenuhan persyaratan teknik atau peraturan Badan
Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) yang berkaitan dengan
mutu produk jadi;
8. mengevaluasi/mengkaji catatan bets; dan
9. meluluskan atau menolak produk jadi untuk penjualan dengan
mempertimbangkan semua faktor terkait.
(Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik, 2012).

Alur penanganan keluhan:

Tiap keluhan hendaklah diselidiki dan dievaluasi secara menyeluruh dan


mendalam serta mencakup:

1. pengkajian seluruh informasi mengenai laporan atau keluhan;


2. inspeksi atau pengujian sampel obat yang dikeluhkan dan diterima serta,
bila perlu, pengujian sampel pertinggal dari bets yang sama; dan
3. pengkajian semua data dan dokumentasi termasuk catatan bets,
catatan distribusi dan laporan pengujian dari produk yang dikeluhkan atau
dilaporkan.

Tindak lanjut hasil evaluasi dan penelitian dapat berupa tindakan perbaikan
antara lain:

1. perubahan formula (eksipien, komposisi, bentuk sediaan);


2. perubahan prosedur pembuatan;
3. perubahan bahan pengemas; dan
4. perubahan kondisi penyimpanan.

(POPP CPOB 2012, Jilid I).