Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

OTONOMI DAERAH

Nama Kelompok :7

Abdul Karim 15715002

Ahmad Gigih Radiantama 15715005

Rizal Chairul Fahmi 15715011

Chandra David H Manurung 15715017

Mariah Bening 15715020

Radhitya Alfurqon 15715026

PROGRAM STUDI REKAYASA INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan dalam jumlah yang banyak. Tak
hanya kekayaan, jumlah lahan geografis dan juga secara demografis penduduk Indonesia
merupakan salah satu jumlah penduduk terbanyak di dunia. Hal-hal tersebut merupakan beberapa
kelebihan Indonesia sebagai negara, namun juga dapat menjadi kelemahan jika tidak diatur
dengan baik dan benar atau nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila tidak diterapkan secara
baik dan benar.
Keadaan geografis Indonesia yang berupa kepulauan berpengaruh terhadap mekanisme
pemerintahan negara Indonesia. Dengan keadaan geografis yang berupa kepulauan ini
menyebabkan pemerinyah sulit mengkoordinasi pemerintahan yang ada di daerah. Kemudahan
akses dan akomodasi yang berbeda-beda tiap pulau dan provinsi menyebabkand pembangunan
yang tidak merata, baik infrastruktur keras yaitu bangunan, transportasi, dan sebagainya hingga
infrastruktur halus yaitu pengembangan masyarakatnya.
Dengan demografi yang cukup luas dan beragam, perbedaan budaya pastinya terjadi antar
suku atau adat. Budaya yang turun ke nilai dan norma dalam masyarakat pastinya berbeda-beda
karena berasal dari kebuadayaan yang berbeda walau sudah dibawah nilai dan norma pancasila.
Perbedaan nilai dan norma secara cara berfikir dapat menyebabkan terjadi sebuah penyimpangan
dalam masyarakat jika perbedaan antar masyarakat tidak melihat dan berlandaskan demokrasi
pancasila.
Sumber daya alam daerah di Indonesia yang tidak merata juga merupakan salah satu
penyebab diperlukannya suatu sistem pemerintahan yang menegakan pengolahan sumber daya
alam yang merupakan sumner pendapatan daerah sekaligus menjadi pendapatan nasional. Seperti
yang kita ketahui, bahwa terdapat beberapa daerah yang pembangunannya memang harus lebih
cepat daripada daerah lain.
Hal-hal di atas dapat menyebabkan penyimpangan dalam sebuah negara yang disebut
disintegrasi bangsa. Diisintegrasi merupakan tidak bersatu padu antara elemen dan juga
masyarakat suatu bangsa. Maka dari itu diperlukannya sistem otonomi yang dapat
menyamaratakan kebutuhan suatu daerah sesuai dengan kebutuhannya masing-masing yang tetap
memerhatikan demokrasi pancasila.
Pada kenyataannya, otonomi daerah itu sendiri tidak bisa diserahkan begitu saja pada
pemerintah daerah. Selain diatur dalam perundang-undangan, pemerintah pusat juga harus
mengawasi keputusan-keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah sebagaimana yang
tercantum pada undang-undang nomor 23 tahun 2014. Apakan sudah sesuai dengan tujuan
nasional, yaitu pemerataan pembangunan di seluruh wilayah republik Indonesia berdasarkan
pada sila kelima Pancasila, yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan gejala disintegrasi bangsa?
2. Apapengertian otonomi daerah
3. Apa prinsif dan tujuan dari otonomi daerah menurut UU no. 23 tahun 2014?
4. Bagaimana menanggulangi disintegrasi bangsa dengan menanamkan otonomi daerah?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari otonomi daerah
2. Untuk mengetahui prinsif dan tujuan dari otonomi daerah
3. Untuk mengetahui hakikat dari otonomi daerah menurut UU no. 23 tahun 2014
4. Untuk mengetahui bagaimana menanggulangi disintegrasi bangsa dengan menanamkan
otonomi daerah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Disintegrasi Bangsa
Disintegrasi merupakan keadaan tidak bersatu padu yhang menghilangnya keutuhan atau
persatuan serta menyebabkan perpecahan. Disintegrasi bangsa merupakan perpecahan atau
hilangnya persatuan bangsa yang mengakibatkan perpecahan negara tersebut. Secara umum
pernyebab disintegrasi bangsa adalah karena rasa tidak puas dan ketidakadilan masyarakat
terhadap pemerintahan yang mengakibatkan pemborantakan atau separatisme. Walaupun begitu
banyak faktor lain yang menyebabkan disintegrasi suatu bangsa seperti timbulnya perpecahan
antar, suku dan agama, konflik berkepanjangan, ketidakpercayaan, perang saudara pergolakan
daerah, kriminalitas, aksi protes dan demonstrasi, prostitusi, kenakalan remaja.
Terdapat beberapa gejala disintegrasi bangsa antara lain:

1. Tidak adanya persamaan pandangan (persepsi) antara anggota masyarakat


mengenai tujuan yang semula dijadikan patokan oleh masing-masing anggota
masyarakat.

2. Perilaku para warga masyarakat cenderung melawan/melanggar nilai-nilai dan


norma-norma yang telah disepakati bersama.

3. Kerap kali terjadi pertentangan antara norma-norma yang ada di dalam


masyarakat

4. Nilai-nilai dan norma-norma yang ada di masyarakat tidak lagi difungsikan


dengan baik dan maksimal sebagaimana mestinya.

5. Tidak adanya konsistensi dan komitmen bersama terhadap pelaksanaan sanksi


bagi mereka yang melanggar norma-norma yang ada di masyarakat.

6. Kerap kali terjadinya proses-proses sosial di masyarakat yang bersifat disosiatif,


seperti persaingan tidak sehat, saling fitnah, saling hasut, pertentangan
antarindividu maupun kelompok, perang urat syaraf, dan seterusnya.
Selain itu terdapat pula beberapa penyebab dari disintegrasi bangsa antara lain:
1. Geografi :Keadaan geografi indonesia yang memiliki banyak pulau juga
merupakan salah satu penyebab Disintegrasi, ketidakmerataan pembangunan tiap
pulau serta kekayaan alam yang berbeda tiap pulau akan menjadi faktor penyebab
disintegrasi suatu negara.
2. Demografi : Meledaknya jumlah penduduk Indonesia dengan sumber daya
manusia rendah akan menambah jumlah kemiskinan. Masyarakat yang memiliki
SDM rendah ini akan mudah dipengaruhi, sehingga mereka akan merasakan
ketidakadilan terhadap pemerintah yang menimbulkan gerakan separatisme.
3. Kekayaan alam : Kekayaan alam yang berbeda tiap pulau membuat pembangunan
tiap daerah tidak merata, akibatnya akan ada perbedaan pembangunan yang cukup
besar, dimana suatu kota / pulau akan sangat tinggi dan juga akan sangat rendah.
4. Ideologi :Ideologi negara Indonesia yaitu Pancasila, akan tetapi semakin kesini
paham akan idelogi semakin memudar dan akibatnya masyarakat mudah
dipengaruhi kelompok - kelompok tertentu demi kepentingan mereka pribadi.
5. Politik : Politik di Indonesia kini semakin banyak masalah, mereka hanya ingin
mengutamakan kepentingan partai politik mereka sendiri dibandingkan demi
negara.
6. Sosial budaya : Akibat dari keadaan geografi Indonesia yang berpulau - pulau
mengakibatkan lahirnya banyak budaya yang berbeda ( suku, agama, budaya dan
ras ), kurangnya toleransi di dalam masyarakat ini akan mudah terjadi konflik
antar daerah.
7. Pertahanan dan keamanan : Ancaman kedaulatan bisa berasal dari dalam ataupun
di luar negeri, selain sarana dan prasarana untuk pertahanan dan keamanan juga
dibutuhkan rasa kesatuan di dalam masyarakat.

B. Pengertian Otonomi Daerah


Istilah otonomi berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti sendiri dan namos yang
berarti Undang-undang atau aturan. Dengan demikian otonomi dapat diartikan sebagai
kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri (Bayu Suryaninrat; 1985).
Beberapa pendapat ahli yang dikutip Abdulrahman (1997) mengemukakan bahwa :
1) F. Sugeng Istianto, mengartikan otonomi daerah sebagai hak dan wewenang untuk mengatur
dan mengurus rumah tangga daerah.
2) Ateng Syarifuddin, mengemukakan bahwa otonomi mempunyai makna kebebasan atau
kemandirian tetapi bukan kemerdekaan. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud
pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan.
3) Syarif Saleh, berpendapat bahwa otonomi daerah adalah hak mengatur dan memerintah daerah
sendiri. Hak mana diperoleh dari pemerintah pusat.
Pendapat lain dikemukakan oleh Benyamin Hoesein (1993) bahwa otonomi daerah
adalah pemerintahan oleh dan untuk rakyat di bagian wilayah nasional suatu Negara secara
informal berada di luar pemerintah pusat. Sedangkan Philip Mahwood (1983) mengemukakan
bahwa otonomi daerah adalah suatu pemerintah daerah yang mempunyai kewenangan sendiri
yang keberadaannya terpisah dengan otoritas yang diserahkan oleh pemerintah guna
mengalokasikan sumber sumber material yang substansial tentang fungsi-fungsi yang berbeda.
Dengan otonomi daerah tersebut, menurut Mariun (1979) bahwa dengan kebebasan yang
dimiliki pemerintah daerah memungkinkan untuk membuat inisiatif sendiri, mengelola dan
mengoptimalkan sumber daya daerah. Adanya kebebasan untuk berinisiatif merupakan suatu
dasar pemberian otonomi daerah, karena dasar pemberian otonomi daerah adalah dapat berbuat
sesuai dengan kebutuhan setempat.
Kebebasan yang terbatas atau kemandirian tersebut adalah wujud kesempatan pemberian
yang harus dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, hak dan kewajiban serta kebebasan bagi
daerah untuk menyelenggarakan urusan-urusannya sepanjang sanggup untuk melakukannya dan
penekanannya lebih bersifat otonomi yang luas. Pendapat tentang otonomi di atas, juga sejalan
dengan yang dikemukakan Vincent Lemius (1986) bahwa otonomi daerah merupakan kebebasan
untuk mengambil keputusan politik maupun administrasi, dengan tetap menghormati peraturan
perundang-undangan. Meskipun dalam otonomi daerah ada kebebasan untuk menentukan apa
yang menjadi kebutuhan daerah, tetapi dalam kebutuhan daerah senantiasa disesuaikan dengan
kepentingan nasional, ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Terlepas dari itu pendapat beberapa ahli yang telah dikemukakan di atas, dalam Undang-
undang Nomor 32 tahun 2004 dinyatakan bahwa otonomi daerah adalah kewenangan daerah
untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

B. Aspek Otonomi Daerah


Beranjak dari rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah pada prinsipnya
mempunyai tiga aspek, yaitu :
1) Aspek Hak dan Kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.
2) Aspek kewajiban untuk tetap mengikuti peraturan dan ketentuan dari pemerintahan di atasnya,
serta tetap berada dalam satu kerangka pemerintahan nasional.
3) Aspek kemandirian dalam pengelolaan keuangan baik dari biaya sebagai perlimpahan
kewenangan dan pelaksanaan kewajiban, juga terutama kemampuan menggali sumber
pembiayaan sendiri.
Yang dimaksud dengan hak dalam pengertian otonomi adalah adanya kebebasan
pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangga, seperti dalam bidang kebijaksanaan,
pembiyaan serta perangkat pelaksanaannnya. Sedangkan kewajban harus mendorong
pelaksanaan pemerintah dan pembangunan nasional. Selanjutnya wewenang adalah adanya
kekuasaan pemerintah daerah untuk berinisiatif sendiri, menetapkan kebijaksanaan sendiri,
perencanaan sendiri serta mengelola keuangan sendiri.
Dengan demikian, bila dikaji lebih jauh isi dan jiwa undang-undang Nomor 23 Tahun
2004, maka otonomi daerah mempunyai arti bahwa daerah harus mampu :
1) Berinisiatif sendiri yaitu harus mampu menyusun dan melaksanakan kebijaksanaan sendiri
2) Membuat peraturan sendiri (PERDA) beserta peraturan pelaksanaannya.
3) Menggali sumber-sumber keuangan sendiri.
4) Memiliki alat pelaksana baik personil maupun sarana dan prasarananya.

C. Prinsip dan Tujuan Otonomi Daerah Menurut UU. N0. 23 Tahun 2014.
UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dikeluarkan untuk
menggantikan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang sudah
tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan. dan tuntuuan pernyelenggaraan
pemerintahan daerah. UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah
disempurnakan sebanyak dua kali. Penyempurnaan yang pertama dengan dikeluarkannya
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Adapun perubahan kedua
ialah dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua
atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Serangkaian UU Nomor 23 Tahun 2014 beserta perubahan-perubahannya tersebut
menyebutkan adanya perubahan susunan dan kewenangan pemerintahan daerah. Seusunan
pemerintahan daerah menurut UU ini meliputi pemerintahan daerah provinsi, pemerintahan
daerah kebupaten, dan DPRD. Pemerintahan daerah terdiri atas kepala daerah dan DPRD dibantu
oleh perangkat daerah. Pemerintahan daerah provinsi terdiri atas pemerintah daerah provinsi dan
DPRD provinsi. Aadapun pemerintah daerah kabupaten/kota terdiri atas pemerintah daerah
kabupaten/kota dan DPRD kabupaten/kota.

Seiring berubahnya susunan pemerintahan daerah, kewenangan pemerintah daerah pun


mengalami beberapa perubahan. Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014, kewenangan
pemerintahan daerah meliputi hal-hal sebagai berikut.

1. Pemerintah daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya sesuai dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
2. Pemerintah daerah melaksanakan urusan pemerintahan konkuren yang diserahkan oleh
pemerintah pusat menjadi dasar pelaksanaan otonomi daerah dengan berdasar atas asas tugas
pembantuan.
3. Pemerintahan daerah dalam melaksanakan urusan pemerintahan umum yang menjadi
kewenangan presiden dan pelaksanaannya dilimpahkan kepada gubernur dan bupati/wali kota,
dibiayai oleh APBN.
D. Hakikat Otonomi Daerah
Desentralisasi dalam kerangka sistem penyelenggaraan pemerintah sering digunakan
secara campur baur (interchangeably). Desentralisas sebagai mana didefinisikan perserikatan
bangsa-bangsa (PBB) adalah:
Desentralisasi terkait dengan masalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat yang
berada di ibu kota negara baik melalui secara dekonsentrasi, misalnya pendelegrasian, kepada
pejabat di bawahnya maupun melalui pendelegasian kepada pemerintah atau perwakilan d
daerah.
Sedangkan pengertian otonomi dalam makna sempit dapat diartikan sebagai mandiri .
Sedangkan dalam makna yang luas diartikan sebagai berdaya. Otonomi daerah engan
demikian berarti kemandirian suatu daerah dalam kaitan pembuatan dan pengambilan keputusan
mengenai kepentingan daerahnya sendiri.
Namun demikian, pelaksanan desentralisasi haruslah dilandasi argumentasi yang kuat
baik secara teoritik ataupun empirik. Kalangan teoritis pemerintah dan politik mengajukan
sejumlah argumen yang menjadi dasar atas pilihan tersebut sehingga dapat dipertanggung
jawabkan baik secara empirik atau pun normatif-teoritik. Di antara berbagai argumentasi dalam
memilih desentralisasi-otonomi daerah adalah:
1. Untuk terciptanya efesensi dan efektifitas penyelenggara pemerintah.
2. Sebagai sarana pendidikan politik.
3. Pemerintah daerah sebagai persiapan untuk karir politik lanjutan.
4. Stabilitas politik.
5. Kesetaraan politik (political equlity).
6. Akuntabilitas publik
Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah akan dapat diawasi secara langsung dan
dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat karena masyarakat terlibat secara langsung
dalam penyelenggaraan pemerintah malalui proses pemilihan secara langsung.
Visi Otonomi Daerah
Otonomi daerah sebagai kerangka penyelenggaraan pemerintah mempunyai visi yang
dapat dirumuskan dengan yang lainnya: politik, ekonomi, sosisl dan budaya. Visi otonomi daerah
di bidang sosial dan budaya mengandung pengertian bahwa otonomi daerah harus diarahkan
pada pengelola , penciptaan dan pemeliharaan integrasi dan harmoni sosial. Pada saat yang sama,
visi otonomi daerah dibidang sosial dan budaya adalah memelihara dan mengembangkan nilai,
tradisi, karya cipta, bahasa dan karya sastra lokal yang di pandang kondusif dalam mendorong
masyarakat untuk merespon positif dinamika kehidupan di sekitarnya dan kehidupan global.
Bentuk dan Tujuan Desentralisasi dalam Konteks Otonomi Daerah
Rondinelli membedakan empat bentuk desentralisasi, yaitu deconcentration, delegtion to
semi-autonomous and parastatal agencies, develution to local governments, dan nongovernment
institutions(privatization). Dekonsentrasi hanya berupa pergeseran volume pekerjaan dari
departemen pusat kepada perwakilannya
Desentralsasi dalam Negara Kesatuan dan Negara Federal: Sebuh Perabandingan.
Dalam dimensi karakter dasar yang dimilki oleh struktur pemerintahan regional/lokal
pemerintah daerah dalam negara kesatuan tidak memiliki soverienitas (kedaulatan), sedangkan
dalam nagara federal merupakan struktur asli yang memiliki karakter kedaulatan. Dalam
pembahasan sistem federal dikenal pembagian kekuasaan dan kewenangan secara vertikal antara
negara bagian dan federal. Soveneritas dalam negara federal lazimnya didefinisikan sebagai
kompetensi dan bukan sebagai kedaulatan awal negara bagian. Dalam perspektif teori negara
federal dualitis (dualistiche bundesstaatstheorie), kepemilikan bersanma kedaulatan antara
negara bagian dan federal bukanlah suatu kemustahilan.

E. Sejarah Otonomi Daerah di Indonesia.


Undang-undang nomor 22 tahun 1948 berfokus pada pengaturan tentang susunan
pemerintahan daerah yang demokratis. Di dalam undang-undang ini ditetapkan 29 (dua) jenis
daerah, yaitu daerah otonom biasa dan daerah otonom istimewa, serta 3(tiga) tingkatan daerah
otonom yaitu propnsi, kabupaten/kota besar dan desa/kota kecil.
Sistem Otonomi Daerah
Yang dimaksud dengan faham atau sistem otonomi disini ialah patokan tentang cara
penentuan batas-batas urusan rumah tangga daerah dan tentang tata cara pelimpahan wewenang
dari pemerintah pusat kepada daerah menurut suatu prinsip atau pola pemikiran tertentu.
(Sujamto; 1990)
Banyak istilah yang digunakan oleh para ahli untuk menerjemahkan maksud tersebut
diatas. Penulis paling tidak mengidentifikasi ada empat istilah yang digunakan oleh para ahli
untuk memahaminya. Istilah-istilah itu antara lain sistem, paham, ajaran, pengertian.
Adapun mengenai faham atau atau system otonomi tersebut pada umumnya orang
mengenal ada dua faham atau system pokok, yaitu faham atau system otonomi materiil dan
faham atau system otonomi formal. Oleh Sujamto (1990) kedua istilah ini lazim juga disebut
pengertian rumah tangga materiil (materiele huishoudingsbegrip) dan pengertian rumah tangga
formil (formeele huishoudingsbegrip)
Koesoemahatmadja (1978) menyatakan ada tiga ajaran rumah tangga yang terkenal yaitu :
a. Ajaran Rumah Tangga Materiil (materiele huishoudingsleer) atau Pengertian Rumah Tangga
Materiil (materiele huishoudingsbegrip),
b. Ajaran Rumah Tangga Formil (formil huishoudingsleer) atau Pengertian Rumah Tangga
Formil (formeele huishoudingsbegrip)
c. Ajaran Rumah Tangga Riil (riele huishoudingsleer) atau Pengertian Rumah Tangga Riil (riele
huishoudingsbegrip)
Pada ajaran rumah tangga meteril bahwa dalam hubungan antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah ada pembagian tugas yang jelas, dimana tugas-tugas tersebut diperinci dengan
jelas dan diperiinci dengan tegas dalam Undang Undang tentang pembentukan suatu daerah.
Artinya rumah tangga daerah itu hanya meliputi tugas-tugas yang telah ditentukan satu persatu
dalam Undang-Undang pembentukannya. Apa yang tidak termasuk dalam perincian tidak
termasuk dalam rumah tangga daerah, melainkan tetap berada ditangan pemerintah pusat. Jadi
ada perbedaan sifat materi antara tugas pemerintah pusat dam pemerintah daerah.
Adapun mengenai ajaran rumah tangga formil disini tidak terdapat perbedaan sifat antara
tugas-tugas yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat dan oleh pemerintah daerah. Apa yang
dapat dikerjakan oleh pemerintah pusat pada prinsipnya dapat dikerjakan pula oleh pemerintah
daerah demikian pula sebaliknya. Bila ada pembagian tugas maka itu didasarkan atas
pertimbangan rasional dan praktis. Artinya pembagian tugas itu tidaklah disebabkan karena
materi yang diatur berbeda sifatnya, melainkan semata-mata karena keyakinan bahwa
kepentingan daerah itu lebih baik dan berhasil jika diselenggarakan sendiri daripada
diselenggarakan oleh pemerintah pusat. Jadi pertimbangan efisiensilah yang menentukan
pembagian tugas itu bukan disebabkan oleh perbedaan sifat dari urusan yang menjadi tanggung
jawab masing-masing.
Perkembangan kebijakan otonomi daerah di Indonesia
a. UU Nomor 1 Tahun 1945 Tentang Pembentukan Komite Nasional Daerah.
Dalam pasal 18 UUD 1945, dikatakan bahwa, Pembagian daerah Indonesia ataas dasar
daerah besar dan daerah kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan
Undang-Undang, dengabn memandang dan mengingat dasar permusyawaratan dalam system
pemerintahan Negara, dan hak-hak asal usul dalam daerah yang bersifat istimewa. Oleh karena
itu Indonesia dibagi dalam daerah-daerah yang lebih kecil yang bersifat otonom yang
pengaturanya dilakukan dengan Undang-undang.
Peraturan perundangan yang pertama yang mengatur otonomi daerah di Indonesia adalah
Undang-Undang Nomor 1 tahun 1945. Undang-Undang ini dibuat dalam keadaan darurat,
sehingga sehingga hanya mengatur hal-hal yang bersita darurat dan segera saja. Dalam batang
tubuhnyapun hanya terdiri dari 6 (enam ) pasal saja dan sama sekali tidak memiliki penjelasan.
Penjelasan kemudian dibuat oleh Menteri Dalam Negeri dan tentang penyerahan urusan
kedaerah tidak ada penjelasdan secara eksplisit[6].
Dalam undang-undang ini menetapkan tiga jenis daerah otonom, yaitu keresidenan,
kabupaten dan kota berotonomi. Pada pelaksanaannya wilayah Negara dibagi kedalam delapan
propinsi berdasarkan penetapan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 19
Agustus 1945. Propinsi-propinsi ini diarahkan untuk berbentuk administrative belaka, tanpa
otonomi. Dalam perkembangannya khususnya, Propinsi Sumatera, propinsi berubah menjadi
daerah otonom. Di propinsi ini kemudian dibentuk Dewan Perwakilan Sumatera atas dasar
Ketetapan Gubernur Nomor 102 tanggal 17 Mei 1946, dikukuhkan dengan PP Nomor 8 Tahun
1947. Peraturan yang terakhir menetapkan Propinsi Sumatera sebagai Daerah Otonom.
Dari uraian diatas maka tidak dapat dilihat secara jelas system rumah tangga apa yang dianut
oleh Undang-undang ini.
b. Undang-Undang Pokok tantang Pemerintahan Daerah Nomor 22 Tahun 1948.
Peraturan kedua yang mengatur tentang otonomi daerah di Indonesia adalah UU nomor
22 tahun 1948 yang ditetapkan dan mulai berlaku pada tanggal 15 April 1948.
Dalam UU dinyatakan bahwa daerah Negara RI tersusun dalam tiga tingkat yakni :
Propinsi
Kabupaten/ Kota Besar
Desa/ Kota Kecil, negeri, marga dan sebagainya a s/d c tyang berhak mengatur dan
mengurus rumah tangganya sendiri. (Soejito;1976)
Dalam undang-undang ini tidak dinyatakan mengenai system rumah tangga yang
dianutnya. Oleh karena itu untuk mengetahui system mana yang dianutnya, kita harus
memperhatikan pasal-pasal yang dimuatnya. Terutama yang mengatur batas-batas rumah tangga
daerah.
Ketentuan yang mengatur hal ini terutama terdapat pada pasal 23 yang terdiri dari 2
ayatsebagi berikut
1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya daerahnya.
2. Hal-hal yang masuk urusan rumah tangga tersebut dalam ayat 1 ditetapkan dalam undang-
undang pembentukan bagi tiap-tiap daerah. (Sujamto;1990)
Dari kedua pasal diatas terlihat bahwa luas daripada urusan rumah tangga atau
kewenangan daerah dibatasi dalam undang-undang pembentukannya. Daerah tidak memiliki
kewenangan untuk mengatur atau mengurus urusan-urusan diluar yang telah termasuk dalam
daftar urusan yang tersebut dalam UU pembentukannya kecuali apabila urusan tersebut telah
diserahkan kemudian dengan UU.
Dari uraian di atas terlihat bahewa UU ini menganut system atau ajaran materiil. Sebagai
mana dikatakan Nugroho (2001) bahwa peraturan ini menganut menganut otonomi material.,
yakni dengan mengatur bahwa pemerintah pusat menentukan kewajiban apasaja yang diserahkan
kepada daerah. Artinya setiap daerah otonom dirinci kewenangan yang diserahkan, diluar itu
merupakan kewenangan pemerintah pusat.
Hanya saja system ini ternyata tidak dianut secara konsekwen karena dalam UU tersebut
ditemukan pula ketentuan dalam pasal 28 ayat 4 yang berbunyi: Peraturan daerah tidak berlaku
lagi jika hal-hal yang diatur didalamnyakemudian diatur dalam Undang-Undang atau dalam
Peraturan pemerintah atau dalam teraturan Daerah yang lebih tinggi tingkatannya.
(Sujamto;1990)
Ketentuan ini terlihat jelas membawa ciri system rumah tangga formil bahwa. Jadi pada
dasarnya UU ini menganut dua system rumah tangga yaitu formil dan materil. Hanya saja karena
sifat-sifat system materiil lebih menonjol maka namyak yang beranggapan UU ini menganut
system Materil.
Perlu dicatat bahwa pada 27 Desember 1949 RI menandatangani Konferensi Meja
Bundar, dimana RI hanya sebagai Negara bagian dari Republik Indonesia Serikat yang
wilayahnya hanya meliputi Jawa, Madura, Sumatera ( minus Sumatera Timur), dan Kalimantan.
Dengan demikian maka hanya pada kawasan ini sajalah UU ini diberlakukan sampai tanggal 17
Agustus 1950 saat UUD sementara diberlakukan.
c. Undang-Undang Nomor 1 tahun1957
Dalam perjalannya UU ini mengalami dua kali penyempunaan yaitui dengan Penetapan
Presiden Nomor 6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden Nomor 5 Tahun 1960. Adapun nama
resmi dari system otoniomi yang dianut adalah system otonomi riil, sebagaimana secara tegas
dinyatakan dalam memori penjelan UU tersebut. (Soejito;1976)
Ketentuan yang mencirikan tentang system otonomi yang dianutnya terdapat pada pasal 31 ayat
1,2 dan 3 sebagai berikut:
1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengatur dan mengurus segala urusan rumah tangga
daerahnya kecuali urusan yang oleh Undang-undang diserahkan kepada peguasa lain.
2. Dengan tidak mengurangi ketentuan termaksud dalam ayat 1 diatas dalam peraturan
pembentukan ditetapkan urusan-urusan tertentu yasng diatur dan diurus oleh dewan perwakilan
Rakyat Daerah sejak saat pembentukannya.
3. Dengan peraturan pemerintah tiap-tiap waktu dengan memperhatikan kesanggupan dan
kemampuan dari masing-masing daerah, atas usul dari dewan perwakilan rakyat daerah yang
bersangkutan dan sepanjang mengenai daerah tingkat II dan III setelah minta pertimbangan dari
dewan pemerintah daerah dari daderah setingkat diatasny, urusan-urusan tersebut dalam ayat 2
ditambah denga urusan lain.
Dari ketentuan-ketentuan tersebut terlihat bahwa ciri-ciri system otonomi riil jauh lebih
menonjol dibandingkan dengan yang tedapat dalam UU nomor 22 tahun 1948. karena itu tidak
aneh jika banyak para ahli yang tetap menganggabnya sebagai sistem otonomi formil. Tetapi
karena dualisme yang dianutnya seperti telihat pada pasal 31 ayat 2 diatas maka tidak salah juga
unutk mengatakan bahwa UU ini menganut system yang dapat diberi nama sendiri yaitu system
otonomi riil. (Sujamto;1990)
Penyempurnaan pertama terhadap UU ini dilakukan berdasarkan Penetapan Presiden
Nomor 6 tahun1959. pemberlakukan PP dilatar belakangi oleh kembalinya RI kedalam sistem
Negara kesatuan dengan diberlakukannya kembali UUD 1945 melalui dDekrit Presiden 5 Juli
1959 menggantikan UUD Sementara tahun 1950. dalam peraturan ini daerah tetap dibagi dalam
tiga tingkatan, namun dengan perbedaan bahwa Kepala Daerah I dan II tidak bertanggung jawab
kepada DPRD I dan II sehingga dualisme kepemimpinan di daerah dihapuskan. Kepala Daerah
berfungsi sebagi alat pusat di Daerah dan Kepala Daerah diberi kedududukan sebagai Pegawai
Negara.
d. Undang-undang Nomor 18 tahun 1965
UU ini hampir seluruhnya melanjutkan ketentuan yang ada dalam UU Nomor 1 tahun
1957 dan Penetapan Presiden Nomor 6 tahun 1959 serta Nomor 5 tahun 1960.
Dikatakan oleh Sujamto (1990) Seperti halnya UU Nomor 1 Tahun 1957 UU ini juga
menyatakan diri menganut Sistem Otonomi Riil. Bahkan dalam penjelasan umumnya banyak
sekali mengoper bagian dari penjelasan umum UU Nomor 1 Tahun 1957.
Dalam pelaksanaannya meski konsepsinya menyatakan adalah penyerahan otonomi
daerah secara riil dan seluas-luasnya, namun kenyataannya otonomi daerah secara kesel;uruhan
masih berupa penyerahan oleh pusat.daerah tetap menjadi actor yang pasif.
e. UU Nomor 5 tahun 1974
Berbeda dengan dua UU terdahulu ( UU Nomor 1 tahun 1957 dan UU Nomor 18 tahun
1965) yang menyatakan diri menganut system otonomi riil UU nomor 5 tahun 1974 tidak
berbicara apa-apa mengenai system otonomi yang dianutnya. UU ini menyatakan otonomi yang
nyata dan bertanggung jawab bukan sebagai system atau faham atau pengertian akan tetapi
sebagai suatu prinsip. (Sujamto; 1990)
Sebagaimana diketahui pada masa pemerintahan Orde baru melakukan perombakan
secara mendasar dalam penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah, melalui kebijakan
yang tertuang di garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dalam Ketetapan MPR No.
IV/MPR/1973, yang antara lain mengatakan :
a. Asas desentralisai digunakan seimbang dengan asas dekonsentrasi dimana asas dekonsentrasi
tidak lagi dipandang sebagai suplemen atau pelengkap dari asas desentralisasi ;
b. Prinsip yang dianut tidak lagi prinsip otonomi yang seluas-luasnya, melainkan otonomi yang
nyata dan bertanggungjawab. Di kemudian hari, MPR dengan ketetapan MPR Nomor
IV/MPR/1978 menambahkan kata dinamis di samping kata nyata dan bertanggungjawab.
Menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974, otonomi daerah adalah hak, wewenang
dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan
Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku. Dalam Undang-undang ini juga menganut prinsip
otonomi yang nyata dan bertanggung jawab. Prinsip ini dianut untuk mengganti sistem otonomi
rill dan seluas-luasnya yang dianut oleh Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965.
Adapun ketentuan yang mengatur mengenai pembatasan terhadap luasnya urusan rumah
tangga daerah dapat dilihat dalam beberapa pasal berikut :
1. Pasal 5 yang merupakan ketentuan yang belum pernah ada pada semua UU terdahulu yaitu
yang mengatur tentang penghapusan suatu daerah.
2. Pasal 7 yang berbunyi daerah berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur dan mengurus
rumah tangga sendiri sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku;
3. Pasal 8 ayat 1 berbunyi Penambahan penyerahan urusan pemerintahan ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah
4. Pasal 9 yang berbunyi sesuatu urusan pemerintahan yang telah diserahkan kepada daerah
dapat ditarik kembali dengan pengaturan perundang-undangan yang setingkat.
5. pasal 39 yang mengatur pembatasan-pembatasan terhadap ruang lingkup materi yang yang
dapat diatur oleh Peraturan Daerah.
Dari ketentuan-ketentuan diatas maka terlihat sesungguhnya UU adalah menganut system
atau ajaran rumah tangga material .dalam UU ini tidak ditemukan ketentuan yang mengatakan
tentang gugurnya suatu Peraturan Daerah apabila materinya telah diatur dalam Peraturan
perundang-undangan atau dalam peraturan daerah yang lebih tinggi yang merupakan ciri dari
system rumah tangga formil.
f. UU Nomor 22 tahun 1999
Sebagaimana UU Nomor 5 tahun 1974 dalam UU ini juga tidak dinyatakan secara
gamblang tentang system atau ajarang rumah tangga yang dianutnya. Unutk dapat mengetahui
system atau ajaran yang dianut kita harus melihatnya pada pasal-pasal yang mengatur tentang
pembatasan kewenangan atau luasnya uruasan yang diberikan kepada daerah.
Dalam UU sebutan daerah tingkat I dan II sebagaimana UU Nomor 5 tahun 1974
dihilangkan menjadi hanya daerah propinsi dan daerah kabupaten/ kota. Hierarki antara propinsi
dan Kabupaten/ kota ditiadakan. Otonomi yang luas diberikan kepada daerah kabupaten dan
daerah kota. Sedangkan propinsi.
Adapun ketentuan yang mengatur mengenai pembatasan terhadap luasnya urusan rumah
tangga daerah dapat dilihat dalam beberapa pasal berikut :
1. Dalam pasal 7 dinyatakan bahwa kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh
bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam politik luar negeri, pertahanan keamanan,
peradilan, moneter dan fiscal, agama serta kewenangan bidang lain.
2. Dalam pasal 9 dinyatakan Kewenangan propinsi sebagai daerah otonom mencakup
kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota serta
kewenangan yang tidak atau belum dilaksankan oleh kabupaten dan kota. Selain itui kewenangan
propinsi sebagai daerah administrative mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan
yanmg dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah pusat.
3. Dalam pasal 10 ayat 1 daerah berwenang mengelola sumberdaya nasional yang tersedia
diwilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan
perundang-undangan.
4. Dalam pasal 11 dinyatakan bahwa kewenangan daerah kabupaten dan kota mencakup semua
kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam pasal 7 dan yang diatur
dalam pasal 9.
Dari uraian diatas terlihat system atau ajaran rumah tangga yang digunakan atau danutnya
adalah perpaduan antara ajaran rumah tangga material dan ajaran rumah tangga formil.
Dikatakan menganut ajaran materil karena dalam pasal 7, pasal 9 dan pasal 11dinyatakan secara
jelas apa-apa saja yang menjadi urusan rumah tangga yang merupakan ciri daripada system atau
ajaran rumah tangga material. Sedangkan dikatakan menganut pula ajaran formil antara lain
terlihat pada pasal 10, pasal 70 dan pasal 81 didalamnya dinyatakan bahwa daerah kabupaten dan
kota memiliki kewenangan untuk mengelola sumberdaya nasional yang tersedia di wilayahnya.
Selain itu dkatakan bahwa peraturan daerah daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan
umum, peraturan daerah lain dan peraturan perundangan-undangan yang lebih tinggi yang
meruapakan ciri daripada system atau ajaran rumah tangga formil.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Otonomi daerah adalah kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ada tiga aspek otonomi daerah yaitu :
1. Aspek Hak dan Kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.
2. Aspek kewajiban untuk tetap mengikuti peraturan dan ketentuan dari pemerintahan di atasnya,
serta tetap berada dalam satu kerangka pemerintahan nasional.
3. Aspek kemandirian dalam pengelolaan keuangan baik dari biaya sebagai perlimpahan
kewenangan dan pelaksanaan kewajiban, juga terutama kemampuan menggali sumber
pembiayaan sendiri.
Keadaan geografis indonesia yang berupa kepulauan berpengaruh terhadap mekanisme
pemerintahan negara, sehingga diperlukan adanya otonomi daerah untuk memudahkan
pengaturan atau penataan pemerrintahan yang ada di Indonesia.
Dalam otonomi daerah terdapat prinsip dan tujuan dari otonomi daerah, Adapun tujuan
pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna
penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan guna meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat.
Kemudian dalam otonommi daerah, terdapat demokrasi yang menjadi titik temu antara
otonomi daerah dan keindonesiaan, dan karena itu penguatan demokrasi menjadi prasarat bagi
terbentuknya hubungan yang kongruen antara keindonesiaan dan kedaerahan, antara otonomi
daerah dan NKRI.
PERTANYAAN
1. Bisakah suatu daerah itu dihapuskan daerah kalo misal otda si daerah itu tdk memuaskan?
2.
Daftar Pustaka
Sarundajang,S.H, 1999, Arus balik Kekuasaan Pusat Ke daerah, Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta
Soejito, Irawan, 1976, Sejarah Pemerintahan Daerah Di Indonesia jilid 1&2, Pradnya Paramita,
Jakarta
Koesoemahamadja,R.D.H., 1978, Fungsi & Struktur Pamongpraja, Alumni, Bandung