Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 3

BLOK ILMU BAHAN DAN TEKNOLOGI KEDOKTERAN GIGI I

GENAP 2015/2016

Oleh Kelompok Tutorial VII :

Jovanna Andhara E.P. (Nim: 151610101067)

M. Idris Kamali (Nim: 151610101072)

Widy Jatmiko (Nim: 151610101075)

Ginanjar Hidayatullah (Nim: 151610101078)

Nurafifa Dwi P. (Nim:151610101079)

Nurina Dyah Ayu (Nim:151610101083)

Luaily Rizqon A. (Nim:151610101082)

Devita Titania N. (Nim:151610101084)

Karin Pinta A. (Nim:151610101085)

Titis M. H. (Nim:151610101087)

Nur Wahyu Noviyanti (Nim:151610101088)

Galuh Ayu S. (Nim:151610101089)

Putri Nila K. (Nim:151610101091)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS JEMBER

2015

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobbilalamin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang


telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah skenario kedua blok Ilmu Bahan dan Teknologi Kedokteran Gigi yang
berjudul Pengecoran Logam/Alloy. Laporan ini disusun dengan tujuan untuk
melengkapi hasil diskusi tutorial kelompok VII pada skenario keempat.
Penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena
itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. drg. Happy Harmono, M.Kes. selaku pembimbing dalam jalannya diskusi
tutorial yang dilakukan kelompok VII Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Jember dan telah membantu dan memberi masukan yang bermanfaat untuk
tercapainya tujuan belajar.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan laporan ini.
Penulisan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh
karena itu, penulis mengharap kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan-
perbaikan agar kedepannya dapat tercipta kesempurnaan dalam laporan ini.
Penulis berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jember, 15 Mei 2016

Tim Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................ i


KATA PENGANTAR ...................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................... iii

STEP 1............................................................................................... 1
STEP 2............................................................................................... 2
STEP 3............................................................................................... 3
STEP 4............................................................................................... 6
STEP 5............................................................................................... 7
STEP 7............................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 30

iii
1

STEP 1
IDENTIFYING UNFAMILIAR WORD

1. Alloy : Campuran dari beberapa logam untuk mendapatkan logam baru yang
lebih unggul. Pencampuran ini dilakukan saat alloy dalam keadaan cair.
2. Casting : Pengecoran atau penuangan suatu metode pendorongan logam cair
kedalam mold.
3. Alloy CoCr : Merupakan alloy yang terdiri dari Co (kobalt) dan Cr (kromium).
CoCr ini dipergunakan untuk implan gigi yang sifatnya keras, kaku, dan tahan
korosif.
4. Alloy AgCu : Disebut juga sebagai amalgam moderen. Merupakan campuran
dari Ag (perak) dan Cu (tembaga).
5. Alloy Ag : Merupakan alloy dari perak yang cara pembutannya ditambahkan
dengan Hg (raksa) agar menjadi alloy yang baik.
6. Bahan Restorasi Gigi : Bahan yang dipergunakan untuk memperbaiki
jaringan gigi yang rusak.
7. Logam : Golongan unsur yang bersal dari galian tambang yang mempunyai
kemampuan sebagai penghantar panas dan listrik yang baik (konduktor).
2

STEP II
RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana kriteria alloy dalam Kedokteran Gigi?


2. Apa klasifikasi alloy?
3. Apa saja komposisi alloy?
4. Bagaimana sifat fisik alloy?
5. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari CoCr, AgCu, dan Ag?
6. Apa fungsi masing-masing elemen alloy?
7. Mengapa dibentuk setengah lingkaran dengan diameter 1 cm dan ketebalan 2
cm?

STEP 3
BRAINSTORMING
3

1. Bagaimana kriteria alloy dalam Kedokteran Gigi?


a. Tidak berbahaya pada jaringan lunak
b. Tidak toksik
c. Tidak alergen
d. Ketahanan baik
e. Tidak karsinogen
f. Sifat mekanik baik
g. Modulus elastisitas tinggi
h. Konduktor yang baik
i. Tidak abrasif
j. Mudah direparasi
k. Serupa dengan jaringan gigi
l. Bahan tersedia dalam jumlah yang banyak
m. Biokontabilitas baik
n. Mudah dipoles
o. Tidak mempunyai kekuatan yang melebihi enamel
2. Apa klasifikasi alloy?
Berdasarkan campuran :
a. Asli : Emas
b. Binary alloy : Ag, Cu
c. Tersiery alloy : Fe, Ni
Menurut ADA :
a. Tipe I : Lunak
b. Tipe II : Sedang
c. Tipe III : Keras
d. Tipe IV : Ekstra Keras
e. Tipe V : Untuk mahkota dan jembatan
f. Tipe VI : Untuk mahkota dan jembatan
Menurut Craig :
a. Nobel alloy
b. Base metal alloy
c. Cramic metal restoration
d. Immune system
e. Passiving system
Berdasarkan unsur :
a. Emas
b. Paladium
c. Nikel
d. Kobalt
e. Titanium
Berdasarkan fase :
a. Isomartus
b. Eutatik
4

c. Peritatik atau antar logam


Berdasarkan tiga unsur utama :
a. Emas-Paladium-Ag
b. Paladium-Ag-Timah
c. Nikel-Cr-Berilium
d. Co-Cr-Molibdenum
e. Ti-Al-Vn
f. Fe-Ni-Cr
3. Apa saja komposisi alloy?
60 % Cu, 25% Cr, 1% Ni, 5% Mo, 0,3% C
4. Bagaimana sifat fisik alloy?
a. Titik leleh dan titik didih tinggi karena dipengaruhi oleh ikatan atom
b. Konduktor yang baik
c. Dapat ditempa dan diregang
d. Toughness, hardness, strenght, impack
e. Radiopak
f. Mengkilat
g. Dapat memanjang
h. Densitas tinggi sehingga casting cepat
i. Mudah dibentuk
5. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari CoCr, AgCu, dan Ag?
Kelebihan :
a. Tahan karat dan korosif
b. Lebih kuat
c. Konduktor yang baik
d. Stabil
Kekurangan :
a. Estetika rendah
b. Tidak menguatkan sisi gigi
c. Sering terjadi bocor pada tepi tumpatan
6. Apa fungsi masing-masing elemen alloy?
a. Tipe I : Inlay yang kecil (1 permukaan)
b. Tipe II : Crawn, inlay yang agak besar (2 permukaan)
c. Tipe III : Inlay, basis gigi tiruan, GTJ
d. Tipe IV : Gigi tiruan sebagian
e. Tipe V : Veneer
Fungsi berdasarkan unsurnya :
a. AgPd dan NiCu : Inlay, onlay, crawn, jembatan
b. Emas, CoCr, AgPd : Gigi tiruan sebagai tuangan
7. Mengapa dibentuk setengah lingkaran dengan diameter 1 cm dan ketebalan 2
cm?
Sebagai uji coba untuk menghasilkan alloy yang tidak porous, mengkilat
dan halus
5

STEP 4

MAPPING

Logam

Dasar Mulia

Alloy

Komposisi Sifat Komposisi Manipulasi

Penggunaan dalam

Kedokteran gigi
6

STEP 5

LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan logam mulia dengan alloy


2. Mahasiswa mampu menjelaskan klasifikasi, sifat, komposisi dan
manipulasi alloy
3. Mahasiswa mampu mengetahui penggunaan alloy dalam kedokteran gigi

STEP 7
REPORTING GENERALITATION

A. Mahasiswa Mampu Memahami Perbedaan Logam Murni dan Alloy


7

Dalam kedokteran gigi, logam mewakili 1 dari 4 kelas utama bahan-bahan


yang dguankan untuk rekonstruksi gigi yang karies, rusak, atau hilang (The Metal
Handbook, 1992) mendefinisikan logam sebagai substansi kimia opak mengkilap
yang merupakan penghantar (konduktor) panas atau listrik yang baik serta bila
dipoles merupakan pemantul atau reflektor sinar yang baik (Anusavice, 2003).
Kegunaan unsur logam murni dalam kedokteran gigi cukup terbatas.
Logam murni cenderung lunak dan seperti besi, kebanyakan logam tersebut
cenderung mudah terkorosi. Jadi, untuk mengoptimalkan sifat, kebanyakan dari
logam yang biasa digunakan adalah campuran dari 2 atau lebih unsur logam atau
pada beberapa keadaan, logam dengan non-logam. Meskipun campuran tersebut
dapat dibuat dengan berbagai cara, umumnya dihasilkan dari fusi unsur-unsur di
atas titik cairnya. Campuran padat dari logam dengan 1 atau lebih unsur non-
logam atau logam lain disebut dengan logam campuran (alloy). Sebagai contoh,
sejumlah kecil karbon ditambahkan pada besi untuk membentuk baja . Sejumlah
kromium ditambahkan pada besi dan karbon untuk membentuk baja antikarat,
suatu logam campur yang amat atah terhadap korosi (Anusavice, 2003).Alloy ini
biasa digunakan sebagai bahan restorasi atau dalam pembuatan gigi tiruan.
Jika ada dua unsur logam dengan logam ataupun logam dengan non-
logam, maka akan terbentuk alloy biner, jika ada tiga atau empat logam dengan
logam logam maupun logam dengan non-logam akan terbentuk alloy terner atau
kuarter, dan seterusnya. Dengan meningkatnya jumlah elemen lebih dari dua,
struktur yang terbentuk juga makin kompleks.
Pada sistem tabel periodik, terdiri dari 81 unsur logam dalam keseluruhan
103 unsur.Logam dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu golongan logam mulia
seperti Au, Pt, dll dan golongan logam dasar seperti Ti, Ag, Ni, dll.
Logam memiliki ikatan antar-logam yang disebut ikatan logam.Elekrtron
valensi terluar dari unsure logam terlepas membentuk ion (+). Hal ini akan
menyebabkan keadaan tidak stabil dan akhirnya membentuk awan yang
menyebabkan gaya tarik antar logam sehingga logam dapat berikatan satu dengan
yang lainnya. (Combe, 1992)
B. Mahasiswa mampu mengetahui klasifikasi, sifat, komposisi, dan
manipulasi alloy
8

Klasifikasi dan Komposisi


Klasifikasi Dental Casting Alloy
(a) Berdasarkan jumlah unsur penyusun:
- Binary system
- Ternary system
- Quartenary system dst

(b) Berdasarkan dental function (the Bureau of Standard):


- Type I alloy (soft):
Untuk inlai kecil dengan tekanan kecil.
- Type II alloy (medium):
Untuk gigi dengan mendapat tekanan moderat misalnya untuk : crown,
abutment, pontic, full crown.
- Type III alloy (hard):
Untuk gigi yang mendapat tekanan oklusal tinggi termasuk : crown, full
crown, cast backing, abutment, pontic, denture base, fixed partial denture
(kecil), inlay.
- Type IV alloy (extra hard):
untuk inlay, denture bar, clasp, full crown, fixed partial denture, partial
denture frame work.
- Metal ceramic alloy (hard & extra hard):
coping, veneer dental porcelain, crown (dinding tipis).
- Removable partial denture alloy:
RPD frame work ringan tetapi kuat. Alloy ini digunakan sebagai
pengganti Type IV alloy.

Klasifikasi logam berdasarkan tingkat kekerasan


1. Tipe I (lunak) angka kekerasan Vickers (VHN) 50-90
2. Tipe II (sedang) angka kekerasan Vickers (VHN) 90-120
3. Tipe II (keras) angka kekerasan Vickers (VHN) 120-150
4. Tipe IV (ekstra keras) angka kekerasan Vickers (VHN) >150

Klasifikasi alloy berdasarkan ADA


1. High noble Alloy (HN) atau logam sangat mulia dg komposisi
logam mulia > 60% dan kandungan emas > 40%
Au Pt alloy: Untuk Full Casting, Porcelain Fuse to Metal
Au Cu Ag alloy : Full casting
2. Noble alloy (N) atau logam mulia dengan komposisi logam mulia
> 25%
Ag Au Cu alloy : Full Casting
Pd Cu alloy : full casting, PFM
Ag Pd alloy : full casting, PFM
9

3. Redominantly base metal Alloy atau alloy berbahan utama logam


dasar dengan kandungan logam mulia < 25%
Ni based alloy : full casting, PFM, wrought, partial denture
Co based alloy :sda
Ti based alloy :sda + implant
Spesifikasi terbaru juga mengikut sertakan non-noble alloy sama
seperti alloy yang tidak mengandung emas tapi memiliki
kandungan palladium yang tinggi. Berdasarkan klasifikasi terbaru
maka semua tipe alloy pada klasifikasi lama merupakan high noble
alloy.

Gambar 3.1 Tabel Klasifikasi dan Komposisi Alloy Menurut ADA (Davis,
2003)
Sifat Alloy
Logam memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1. Titik didih dan titik leleh yang tinggi
Logam-logam cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi
karena kekuatan ikatan logam. Kekuatan ikatan berbeda antara logam yang
satu dengan logam yang lain tergantung pada jumlah elektron yang
terdelokalisasi pada lautan elektron, dan pada susunan atom-atomnya.
2. Memiliki daya hantar listrik yang baik
Elektron yang terdelokalisasi bebas bergerak di seluruh bagian struktur
tiga dimensi. Elektron-elektron tersebut dapat melintasi batas butiran
kristal. Meskipun susunan logam dapat terganggu pada batas butiran
kristal, selama atom saling bersentuhan satu sama lain, ikatan logam masih
tetap ada. Cairan logam juga menghantarkan arus listrik, hal ini
10

menunjukkan bahwa meskipun atom logam bebas bergerak, elektron yang


terdelokalisasi masih memiliki daya yang tersisa sampai logam mendidih.
3. Memiliki daya hantar panas yang baik
Logam adalah konduktor panas yang baik. Energi panas diteruskan oleh
elektron sebagai akibat dari penambahan energi kinetik (hal ini
memnyebabkan elektron bergerak lebih cepat). Energi panas ditransferkan
melintasi logam yang diam melalui elektron yang bergerak.
4. Dapat ditempa dan diregangkan (Malleability dan Ductility)
Logam mempunyai sifat yang mampu dibentuk dengan suatu gaya, baik
dalam keadaan dingin maupun panas tanpa terjadi retak pada
permukaannya, misalnya dengan hammer (palu).
5. Toughness
Logam dapat dibengkokan beberapa kali tanpa mengalami retak.
6. Hardness
Logam tahan terhadap penetrasi atau penusukan indentor yang berupa bola
baja, intan piramida, dll.
7. Strength
Logam memiliki kemampuan untuk menahan deformasi.
8. Weldability
Logam memiliki kemampuan untuk dapat dilas, baik dengan
menggunakan las listrik maupun dengan las karbit (gas).
9. Machinibility
Logam dapat dikerjakan dengan mesin, misalnya : dengan mesin bubut
10. Tahan impact
Logam memiliki sifat yang tahan terhadap beban kejut.
11. Elektropositif
Logam melepaskan ion (+) ketika berikatan.
12. Memiliki modulus elastisitas
Merupakan ukuran kekakuan suatu bahan. Jadi, semakin tinggi nilainya
semakin sedikit perubahan bentuk pada suatu benda apabila diberi gaya.
13. Mengalami penyusutan kecuali jika ditambahkan Pt, Pd dan Cu.
Selain sifat-sifat diatas, logam juga memiliki syarat-syarat logam yang
baik digunakan dalam kedokteran gigi, yaitu sebagai berikut :
1. Syarat kimia
Tahan terhadap korosi, tidak larut dalam cairan rongga mulut atau dalam
cairan yang dikonsumsi, tidak luntur dan tidak korosi
2. Syarat biologi
Tidak beracun terhadap pasien, dokter gigi, perawat maupun tekniker,
tidak mengiritasi rongga mulut dan jaringan pendukungnya, tidak
menghasilkan reaksi alergi dan tidak bersifat mutagen maupun karsinogen
3. Biokompatibilitas
11

Tidak mengandung substansi toksik yang dapat larut dalam saliva


sehingga tidak membahayakan system tubuh, tidak membahayakan pulpa
dan jaringan lunak, bebas dari bahan yang berpotensi dalam menimbulkan
sensitifitas atau respon alergi dan tidak memiliki potensi karsinogen
4. Mekanis
Harus mampu menerima beban yang tinggi
5. Estetik
Sesuai dengan perkembangan zaman dan memberi penampilan yang
natural pada gigi
6. Tahan suhu panas dan dingin
7. Mudah disolder dan dipoles
8. Titik leleh tinggi
9. Tahan abrasi

Manipulasi Alloy
Pengertian mengenai tahap tahap casting :
1. WAXING

Waxing adalah cara pembuatan pola malam (wax pattern). Pola malam dibuat
dengan tujuan untuk :
a. Mendapatkan suatu restorasi atau rehabilitasi gigi sesuai dengan ukuran dan
bentuk gigi yang direstorasi atau direhabilitasi.

b. Mendapatkan adaptasi yang baik dengan gigi yang direstorasi atau


direhabilitasi.
c. Mendapatkan hubungan yang baik dengan gigi tetangganya maupun gigi
antagonisnya.
d. Mendapatkan bentuk anatomi yang baik sesuai dengan bentuk restorasi gigi
atau rehabilitasi gigi.
Wax pattern berguna untuk membentuk ruang cetak (mould space) di dalam
bahan invesmen setelah malam dan pola malam (di dalam invesn) dihilangkan
(wax elimination).
Cara pembuatan pola malam ada 3 cara :
1. Cara langsung (direct).
Cara langsung ini dibuat seluruhnya di dalam mulut pasien, sehingga
tidak memerlukan die.
12

2. Cara tidak langsung.


Cara tidak langsung ini pola malam dibuat seluruhnya pada die,
sehingga pembuatannya diluar mulut pasien.
3. Cara langsung tidak langsung.
Pada cara ini mula-mula sebagian pola malam dibuat di mulut
pasien untuk mendapatkan oklusi yang baik, kemudian ditransfer ke die,
dan dibuat pola malam sampai selesai, sehingga cara ini dibutuhkan die.
Contoh :
a. Cara langsung, misalnya pembuatan tumpatan inlai kelas I dan kelas V.
(menurut klasifikasi Black)
b. Cara tidak langsung, misalnya pembuatan tumpatan inlai klas II, klas Ill,
klas IV (menurut klasifikasi Black), onlay, mahkota penuh (full crown)
dan jembatan gigi (crown and bridge).
Malam yang digunakan untuk pembuatan pola malam adalah
casting wax atau inlay wax yang berwarna biru atau hijau.Jenis malam
pola ada 2 tipe yaitu :
1. Tipe - I (tipe B) berguna untuk pembuatan pola malam secara langsung.
2. Tipe - II (tipe A) berguna untuk pembuatan pola malam secara tidak
langsung atau cara langsung tidak langsung.
Perbedaan kedua malam tersebut adalah mengenai setting time dan
flow-nya.
Komposisi malam cor untuk inlay ini terdiri dari :
1. Malam paratin (paratin wax)
2. Gum dammar (dammar gum)
3. Malam karnauba (carnauba wax)
4. Beberapa bahan pewarna
Semua substansi ini merupakan bahan alamiah asli dan derivat dan mineral
atau tumbuhan tertentu. Malam parafin umumnya merupakan substansi utama,
biasanya konsentrasinya antara 40% sampal 60%.
Gum damar atau resin damar adalah resin alamiah derivat varitas pohon
cemara. Ia dibutuhkan malam paralin untuk mempertahankan kehalusan dinding
ruang cetak (mould space) dan untuk mengembalikan resistensi yang Iebih besar
13

terhadap kerapuhan dan penggumpalan. Malam karnauba bentuknya seperti


serbuk yang halus dan veritas pohon palm tropis. Mala mini cukuo kuat dan
mempunyai titik cair relatif tinggi.
Syarat-syarat casting wax untuk pola malam :
Menurut American Dental Association Specincation (ADAS) No. 4
(cit.Peyton and Craig, 1971) menyatakan bahwa casting wax atau inlay casting
wax yang digunakan untuk pola malam harus mempunyai syarat - syarat sebagai
berikut :
a. Warnanya berbeda dengan warna jaringan disekitar gigi.
b. Pada waktu dilunakan harus bersifat kohesit.
c. Tidak mudah patah atau rapuh pada waktu dipotong atau diukir untuk
membentuk anatomi gigi sesual.
d. Pada waktu dibakar atau dipanasi pada suhu tertentu harus habis tak
tersisa atau menguap semuanya tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
2. SPRUING
Spruing adalah cara pembuatan sprue pin.
a. Kegunaan sprue pin untuk :
1) Pembentukan Sprue di dalam invesmen.
2) Pegangan pola malam pada waktu investing.
b. Pembuatan sprue pin dapat dibuat dan bahan :
1) Logam
Sprue pin yang terbuat dan logam, maka sebelum dilakukan
preheating sprue pin diambil lebih dahulu. Untuk memudahkan
pengambilan, sprue pin logam dilapisi dengan malam. Keuntungan Sprue
pin yang terbuat dan logam apabila dilekatkan pada pola malam, maka
pegangannya lebih erat dan kuat. Kerugiannya Sprue pin dan logam apabila
tidak dilapisi malam, maka akan sukar dikeluarkan atau dilepaskan dan pola
malam sesudah investing.
2) Inlay casting wax seluruhnya
Sprue pin yang terbuat seluruhnya dan malam inlal (inlay casting
wax) maka pada wax elimination tidak perlu diambil karena sprue pin akan
hilang bersama - sama dengan pola malamnya. Keuntungannya :
14

1. Pada wax elimination sprue pin akan menguap bersama sama dengan
pola malamnya, sehingga tidak meninggalkan malam sedikitpun dalam
mould space.
2. Perlekatannya dengan pola malam kuat dan tidak mudah lepas.
Kerugiannya : Mudah patah, karena malam inlai apabila sudah keras bersitat
getas.
3) Plastik / resin
Sprue pin yang terbuat seluruhnya dan malam inlai (inlay casting
wax) maka pada wax elimination tidak perlu diambil karena sprue pin akan
hilang bersama - sama dengan pola malamnya. Kerugiannya:
1. Sukar dilepaskan dan pola malam sesudah investing dan dibiarkan tidak
diambil pada waktu wax elimination.
2. bahan plastik / resin apabila dipanasi akan memuat lebih besar, sehingga
akan merusak dinding invesmennya.
3. Suhu cair plastik Iebih besar daripada malam, sehingga pada waktu wax
elimination malam pola sudah mencair dan menguap, tetapi plastik / resin
belum cair atau menguap, akibatnya ada sisa plastik di dalam sprue dan ini
akan menyumbat aliran logam cair.
c. Diameter sprue pin
Diameter sprue pin tidak ada ketentuan yang pasti, tergantung dan; pertama,
besarnya pola malam yang dibuat dan yang kedua, jenis casting machine yang
digunakan untuk casting.
Sebagai standar diameter sprue pin sebagai berikut :
a. Untuk inlai yang kecil 1,3 mm
b. Untuk inlai yang besar I ,b mm
c. Untuk mahkota penuh 1,6 mm
d. Untuk inlai yang paling besar 2,6 mm
Menurut Skinner (1960) dan Peyton and Craig Menurut Skinner (1960) dan
Feyton and Craig. (1971) menyatakan bahwa diameter sprue pin, menurut Brown
adalah gauge no. 10 atau 0,259 cm, sedangkan menurut Sharpe adalah gauge no.
16 atau 0,129 cm.
d. Pemasangan sprue pin
15

Pemasangan Sprue pin pada pola malam hendaknya pada daerah yang tebal
dan jauh dan pinggiran pola malam. Sedangkan posisinya pada pola malam dapat
tegak (90%) atau miring (450) terhadap permukaan pola malam.
Penempatan sprue pin pada pola malam dengan posisi tegak lurus apabila
daerah yang ditempati cukup ketebalannya. Penempatan sprue pin pada pola
malam dengan posisi miring, apabila daerah yang ditempati sprue pin pada pola
malam tidak cukup ketebalannya atau tipis. Hal ini ada hubungannya dengan
gerakan turbolensi yang diakibatkan adanya back presser / tekanan baik.
e. Pembuatan Sprue pin yang berhubungan dengan casting machine yang
digunakan.
Apabila menggunakan chorizontal casting macnine pada casting, maka sprue
pin diameternya harus besar dan pendek, sebab pelelehan logam dilakukan pada
fire clay. Apabila menggunakan hand casting sistem (slinger aparat) yang
gerakannya vertikal maka diameter sprue pin kecil dan panjang serta ditambah
reservoir former / reservoir former karena pelelehan logam dilakukan pada sprue
hold (crucible). Pada sprue pin tidak harus ditambah / dibuat reservoir modul.
Untuk sprue pin yang diameternya besar tidak perlu ditambah reservoir modul,
tetapi sprue pin yang diameternya kecil perlu ditambah reservoir modul. Ukuran
panjang sprue pin juga tidak ada ketentuan yang pasti, karena tergantung dan
besar kecilnya dan bentuknya pola malam.
3. INVESTING
Investing adalah cara untuk menanam pola malam dalam bahan invesmen.
Yang perlu diperhatikan pada investing :
a. Letak pola malam di dalam casting ring.
Pola malam letaknya harus ditengah tengah agar jarak antar pola malam
dan dinding dinding casting ring sama.
b. Jarak pola malam dan dasar casting ring terletak antara (6 - 8 mm)
Perbandingan antara air dan puder (w/p ratio) harus tepat. W/p ratio suatu
bahan invesmen tergantung dan petunjuk pabrik yang memproduksinya sebagai
contoh invesmen merek Duroterm w/p ratio-nya adalah 10 : 29, dan invesmen
merek Durotreem wf p ratio-nya adalah 1 : 3.
Bahan invesmen (invesment materials)
16

a. Komposisi
Komposisi dasar dan invesmen terdini dari :
1) Binder material (bahan pengikat)
2) Refractory material (bahan tahan panas)
3) Asher chemical (bahan kimia lain)
b. Macam-macam Jenis Bahan Invesmen
1. Berdasarkan bahan pengikatnya, maka ada 3 jenis invesmen yaitu :
a) Gypsum bonded invesmen materials adalah invesmen yang mengandung
bahan pengikat gip. Invesmen ini digunakan pada proses casting untuk
pengecoran logam yang titik cairnya kurang dan 10000 C, sebab apabila logam
yang dicor itu Iebih besar dan 1000 C, maka invesmen akan retak-retak.
Bahan pengencernya adalah air (aquadestilata).
b) Phospate / sulfate bonded invesment materials adalah bahan invesmen yang
mengandung bahan pengikat as. phosphat atau as. sulfat. Invesmen ini
digunakan pada proses casting untuk pengecoran logam yang titik cairnya lebih
besar dan 10000. Bahan pengencernya adalah liquit, yang merupakan satu
paket dengan puder invesmennya.
c) Silicate bonded invesment materials adalah bahan invesmen yang
mengandung bahan pengikat silikon (silica). Invesment ini digunakan pada
proses casting untuk pengecoran logam yang titik cairnya lebih besar dan
10000. Bahan pengencernya adalah liquit, yang merupakan satu paket dengan
puder invesmennya.
2. Berdasarkan titik cair logam yang di casting (dicor) ada 2 jenis invesmen,
yaitu :
a) Gypsum bonded invesment materials, digunakan untuk mengecor logam
yang mempunyat titik cair kurang dari 1000 oC.
b) Phosphate / silicale bonded invesment materials digunakan untuk mengecor
logam yang mempunyai titik cair lebih dari 1000 oC.
c. Cara Investing
Casting yang dilakukan di kedokteran gigi proses yang disebut lose wax
proccess terdapat 2 teknik investing, yaitu :
1. Manual (hand) investing technic
17

Teknik ini ada 2 cara, yaitu:


a) Single investing

Pada pninsipnya puder invesmen kering dicampur dengan air


(aquades) dengan w/p ratio tertentu. Kemudian diaduk selanjutnya
dituangkan ke dalam casting ring, apabila konsistensinya sudah baik.
Selanjutnya pola malam dimasukkan / ditanam kedalam casting ring
yang
b) Double investing
Prinsipnya puder invesmen kering dibagi menjadi bagian, misalnya
A dan B. Bagian A dibagi menjadi 2 bagian, ialah bagian A1 dan A2.
Bagian Al dicampur dengan air (aquades) sampai rata dan bersifat
encer. Selanjutnya dengan kuas halus, adonan invesmen A, dioleskan
pada seluruh permukaan pola malam secara merata. Kemudian
invesmen A2 yang kering ditaburkan diatas seluruh permukaan pola
malam, yang telah diolesi dengan invesmen A1 tadi, sehingga
berbentuk seperti buah talok / cherry. Pada invesmen B kering dicampur
dengan air diaduk sarnpai mendapatkan konsistensi yang baik dan lebih
kental dan adonan invesmen Al. Adonan B ini ditungakan ke dalam
casting ring sampai penuh, yang sebelumnya pola malam sudah
dimasukkan / diletakkan ke dalam casting ring dan ditunggu sampai
kering.
Pada double investing ini terdapat 3 lapisan, yaitu:
lapisan adonan invesmen yang encer
lapisan invesmen kening
lapisan adonan invesmen yang agak kental
Pada kedua cara tersebut diatas pencampuran antara puder
invesmen kering dan air dilakukan pada rubber bowl dan alat
pengadukannya spalula. Pengadukan dan penuangannya dalam casting ring
dilakukan dengan tangan. Pencampuran juga dapat dilakukan pada rubber
bowl khusus dan pengadukan dilakukan dengan alat yang disebut vacuum
mixer (pengadukan dengan hampa udara). Penuangan adonan invesmen ke
dalam casting ring dilakukan dengan tangan diatas alat yang disebut vibrator
18

(alat penggetar) agar gelembung - gelembung udara di dalam adonan


invesmen dapat keluar.
Liquid invesmen atau aquades adalah bahan pelarut / pencampur
yang berguna untuk membuat adonan invesmen. Liquit invesmen digunakan
apabila pada investing digunakan jenis bahan jenis invesmen berupa
phosphate / silicate bonded invesment materials dan liquit ini merupakan
satu paket dengan puder invesmennya.
Air / aquades digunakan apabila pada investing digunakan jenis bahan
invesmen berupa gypsum bonded invesment materials. Pada investing ini
dilakukan dengan alat khusus yang hampa udara. Di fakultas kedokteran
gigi tidak dilakukan karena tidak ada alatnya.
4. PRE HEATING, WAX ELIMINATION DAN HEATING
Di Fakultas Kedokteran Gigi pada semester - 4 hanya menggunakan
invesmen jenis gypsum bonded invesmen materials. Sebelum wax elimination,
dilakukan dahulu preheating pada temperatur kamar sampai 150 oC dalam waktu
15 menit di dalamalat pemanas yang disebut furnace, yang dapat distel mengenam
temperatur dan waktunya. Pre heating dilakukan dengan tujuan agar adonan
invesmen betul-betul kering. Masih di dalam furnace, lalu dilakukan wax
elimination dari 150 oC dinaikkan sampai 350 oC dengan perlahan lahan dalam
waktu 30 menit. Pada temperature 350 oC diperkirakan seluruh malam yang ada di
dalam adonan invesmen sudah hilang tak bersisa.
Setelah wax elimination yang menghasilkan mould space di dalam
invesmen, kemudian dilakukan heating yaitu temperatur dinaikkan dan 350 C
sampai 700C.
Dalam waktu 30 menit. Heating ini bertujuan agar terjadi baik pemuaian
invesmen maupun pemuaian mould space dapat maksimal. Pemanasan hanya
sampai 700 C, karena stabilitas bahan invesmen jenis gypsum bonded invesmen
materials diperkirakan dalam keadaan stabil. Selanjutnya pada temperatur 700 oC
didiamkan selama 30 menit, kemudian casting ring diambil dari casting machine.
5. MELTING DAN CASTING
Setelah didiamkan selama 30 menit pada 700 oC dengan cepat dipindah ke
alat casting machine dan selanjutnya dilakukan melting.
19

a. Macam macam casting machine


1) Centri fugal casting machine
Casting machine macamnya ada 2 jenis ;
a) Horizontal centri fugal casting machine.
Casting machine ini gerakan memutarnya secara horizontal / mendatar.
b) Vertical centrifugal casting machine.
Casting machine ini gerakan memutarnya secara vertical / tegak lurus.
2) Air pressure casting machine
Alat casting yang menggunakan tekanan udara. Bekerjanya alat ini
pnnsipnya sama dengan bekerjanya alat casting vertikal (vertical centri fugal
casting machine) hanya bedanya vertical casting machine menggunakan gaya
sentri tugal, tetapi air pressure casting machine menggunakan tenaga / tekanan
udara.
Pada melting (pelelehan) terhadap logam yang akan dicor, dilakukan dengan
alat penyemprot api yang disebut blow pipe atau blow torch.
b. Macam macam blow torch
Berdasarkan bahan pembakarnya blow torch ada 4 macam yaitu :
1) Blow torch dengan menggunakan bahan pembakar bensin dan tenaga angin.
2) Blow torch dengan gas elpiji
3) Blow torcfl dengan gas elpiji dan O2
4) Blow torch dengan gas acetilen (gas karbit = C2H2) dan O2
Biasanya O2 digunakan untuk melelehkan logam yang akan dicor dengan
titik cairnya lebih besar dari 1000 oC.
Untuk logam yang titik lelehnya kurang dan 1000 oC cukup menggunakan
bensin dan udara.
Api yang disemprotkan oleh blow torch ada 4 zone, yaitu :
1. Zone I, disebut air dan gas zane transparan.
2. Zone II, disebut combution zone warnanya kering.
3. Zone IIl, disebut reduction zone.
Zone ini warnanya biru yang dapat mereduksi logam menjadi
meleleh.
4. Zone IV, disebut oxidising zone.
20

Zone ini warnanya merah yang mengoksidasi dari logam, tetapi


tidak meleleh.
Pada proses casting yang menggunakan horizontal casting machine,
pelelehan logam dilakukan pada fire clay, yang terbuat dari bahan ceramic yang
tahan panas. Apabila pada proses casting yang menggunakan vertical casting
machine (slinger apparate) pelelehan dilakukan pada crucible, tepatnya pada sprue
hold.
Casting / pengecoran logam ke dalam mould space dilakukan apabila
lelehan logam baik pada fire clay, maupun pada crucible sudah bergerak-gerak
seperti gerakan air raksa, karena tiupan dari blow torch.
Setelah casting dilakukan, kemudian casting ring diambil dan casting
machine dan didiamkan sampai dingin sekali dengan sendirinya Selanjutnya hasil
cor cliambil dengan merusakkan invesmennya.
Hasil casting yang terjadi ada 2 bentuk :
1. Bentuknya bersih seperti warna logam sebelum dicor. Hal ini terjadi
apabila logam yang dicor non precius, artinya logam tersebut tidak mengandung
logam mulia sebagai dasar dan logam campur / aloy. Pada bentuk ini tidak perlu
dilakukan pickling.
Bentuknya berubah menjadi warna hitam dan tidak sama dengan warna
sebelum dicor. Hal ini terjadi apabila logam campur / aloy yang dicor
mengandung bahan dasar logam mulia, misalnya emas atau perak. Keadaan ini
terjadi karena adanya peristiwa oksidasi pada permukaan logam cor tersebut.
Untuk mengembalikan warna seperti warna semula dilakukan pickling.
6. PICKLING
Pengertian pickling adalah suatu cara penghilangan / pembersihan oksidasi
yang terjadi pada permukaan logam cur yang mengandung logam mulia dengan
larutan pickling.
Larutan pickling ada 2 jenis :
1. Larutan asam hidro chlorida (HCl)
2. Larutan asam sulfat (H2SO4)
Cara pickling :
21

Hasil casting logam aloy yang mengandung dasar logam mulia warnanya
hitam diikat dengan benang dan dipanasi dahulu. Sebelumnya sudah dipersiapkan
dahulu salah satu larutan pickling yang sudah diencerkan. Sesudah panas, hasil
cor dimasukkan ke dalam larutan pickling sebentar sarnpai warna hilang dan
warna semula muncul. Oleh karena larutan pickling ini sangat toksis, maka untuk
menetralisir, hasil cur dimasukkan ke dalam larutan sodium bicarbonat.
7. FINISHING DAN POLISHING
1) Pengertian finishing
Finishing adalah suatu cara untuk membentuk hasil casting menjadi
suatu bangunan yang diinginkan dengan jalan menghilangkan / membuang
ekses-ekses pada permukaan hasil casting dan logam yang tidak berguna.
Setelah dilakukan finishing maka bentuk bangunan, misalnya yang berbentuk
inlay, lull crown atau bridge work, menjadi baik tetapi masih kasar. Kemudian
dilakukan polishing.
2) Pengertian polishing
Polishing adalah suatu cara untuk membuat suatu bangunan, setelah
dilakukan finishing, menjadi rata, halus dan mengkilap, sehingga bentuk
bangunan tersebut menjadi amat bagus dan indah.
Dan inilah merupakan syarat utama di bidang kedokteran gigi bahwa
polishing selalu dilakukan pada alat-alat yang dipasang dalam mulut pasien.
8. KEGAGALAN KEGAGALAN PADA PROSES CASTING
1. Macam macam kegagalan dan penyebabnya
a. Distrsion (distorsi atau pengoletan)
Distorsi ini dapat terjadi pada waktu pembuatan pola malam atau
pada waktu pengambilan hasil casting dan dalam invesmen.
Menurut Phillips, (1982), penyebab terjadinya distorsi adalah sebagai
berikut :
1) Terjadinya perubahan temperatur yang besar.
2) Manipulasi bahan tidak benar.
3) Teknik pembuatan malam tidak benar.
Penyebab ini terjadi pada pembuatan pola malam. Adapun penyebab
terjadinya distorsi pada hasil cor, karena pengambilan hasil casting dan dalam
22

invesmen. Misalnya masih dalam keadaan panas Iangsung diambil, sehingga pada
waktu logam dingin akan mengkerut dan pengkerutan ini tidak ada yang menahan,
akibatnya terjadi distorsi.
b. Surface roughness (permukaan kasar)
1) Air bubbler (gelembung - gelembung udara).
Hal ini terjadi akibat pada waktu investing masih terdapat
gelembung-gelembung udara yang terperangkap di dalam adonan
invesmen dan menempel pada permukaan pola malam. Pada waktu
casting, maka bekas-bekas gelembung udara ini akan diisi oleh lelehan
logam.
2) Too rapid heating (pemasanan yang terlalu cepat)
3) W / p ratio (perbandingan antara air dan bahan invesmen)
W / p ratio ini adalah sangat penting. Apabila w/p ratio tidak tepat
misalnya terlalu kecil atau terlalu besar dapat menimbulkan permukaan
kasar dan flash casting.
4) Prolonged healing (pemanasan yang terlalu lama)
5) Casting pressure (tekanan pada waktu casting yang kurang benar)
6) Composition of the invesment (komposisi bahan invesmen)
Misalnya bahan invesmen yang sudah lama atau sudah
kadaluwarsa, sehingga terjadi kerusakan dan salah satu komponen bahan
invesmennya.
7) Foreign body (benda-benda asing) Adanya benda- benda asing yang
masuk ke dalam mould space, misalnya pasir atau debu, dapat
menimbulkan surface roughness pada permukaan hasil casting.
c. Porosity (poros)
Penyebab porositas pada hasil casting, karena adanya pengaruh dari
faktor faktor teknis. Ada 3 macam porositas, yaitu :
1) Localized shrinkage porosity : Porositas ini akibat adanya
pengerutan setempat / lokal.
2) Sub surface porosity : Porositas yang terjadi pada permukaan dalam
dari hasil casting.
3) Micro-porosity. Penyebabnya antara lain :
23

1. Besar kecilnya sprue


2. Panjang pendeknya sprue
3. Temperature melting yang terlalu besar : Temperatur pada waktu
pemanasan mould space terlalu besar.
d. Incomplete casting (hasil casting yang tidak lengkap)
Penyebabnya antara lain :
1) Wax elimination yang tidak sempurna sehingga masih terdapat sisa
malam di dalam mould space. Hal ini terjadi apabila waktu wax elimination
tergesa-gesa atau terlalu cepat.
2) Benda asing yang menyumbat sprue, misalnya sprue kemasukkan debu
atau pasir atau terjadi kerontokan dan bahan invesmen yang membatasi
mould space.
3) Pemutaran casting machine yang lambat, sehingga gaya centri fugal
kecil, lelehan logam tidak dapat memasuki seluruh permukaan mould space.

C. Mahasiswa mampu mengetahui penggunaan alloy di kedokteran gigi


Alloy dalam kedokteran dapat digunakan pada berbagai bidang, baik bidan
prosthodonsia, orthodonsia, ataupun konservasi. Dalam pengaplikasiannya di
kedokteran gigi, aplikasi alloy di bagi menjadi 2, yaitu berdasarkan bahan
penyusunnya dan klasifikasi tepenya.
Aplikasi berdasarkan bahan penyusunnya:
1. Dental amalgam: bahan tambal gigi, alloy yang dipergunakan adalah alloy
silver
2. Aloy emas : inlay, onlay, mahkota, gigi tiruan jembatan
3. Alloy Ag Pd dan Ni - Cu : inlay, onlay, mahkota, gigi tiruan jembatan
4. Alloy emas, alloy Co Cr, alloy Ag Pd, aluminium bronze: gigi tiruan
sebagian tuangan
5. Alloy emas, alloy Co Cr, alloy Ni Cu, beta titanium : bentuk kawat

Aplikasi berdasarkan klasifikasi tipenya:


1. Tipe I : inlay satu permukaan
2. Tipe II : inlay beberapa permukaan
3. Tipe III : untuk semua mahkota dan jembatan
4. Tipe IV : kerangka gigi tiruan sebagian
24

DAFTAR PUSTAKA

Annusavice, Kenneth J. 2003. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi.
Jakarta: EGC
ASM Metal Handbook, 1992, Volume 13, Corrosion.
Combe, EC. 1992. Sari Dental Material. Penerjemah : Slamat Tarigan. Jakarta:
Balai Pustaka
Davis J.R. 2003. Hand book of Material for Medical Devices. ASM International
copyright 2003.

Anda mungkin juga menyukai