Anda di halaman 1dari 5

Perilaku Kesehatan Gigi Ibu dan Pengalaman Karies Gigi Ibu-Anak: Studi pada Kota

Satelit di Indonesia.

Abstrak

Meskipun pentingnya melakukan survei epidemiologi untuk memantau kesehatan gigi


terutama anak-anak prasekolah, hanya sedikit publikasi yang telah diterbitkan mengenai hal
tersebut. Tujuan studi ini adalah untuk mendeskripsi pengalaman karies gigi pada anak-anak
prasekolah dan ibunya serta untuk menggambarkan pengetahuan dan perilaku ibu terhadap
kesehatan gigi di daerah pinggiran kota dekat ibu kota Indonesia. Sampel terdiri atas 152
pasang ibu-anak dengan usia anak kurang dari 5 tahun. Pemeriksaan intraoral dilakukan
dengan panduan indeks gigi lubang-hilang tambal. Selain itu, wawancara dilakukan untuk
mendapatkan informasi mengenai perilaku dan penetahuan kesehatan gigi ibu. 70% anak-
anak telah menderita karies gigi dengan nilai dmf-t = 3,7, 100% diantaranya terdiri dari
komponen gigi berlubang. 90% ibu telah menderita karies dengan DMF-T = 7,8, 99%
diantaranya terdiri dari komponen karies gigi. Lebih dari 50% ibu ibu memiliki pengetahuan
dan perilaku rendah terhadap kesehatan gigi, dengan fakta yang terungkap diantaranya: (1)
tidak pernah memeriksa gigi anak-anak mereka, (2) mulai membersihkan gigi anak mereka
setelah usia anak lebih dari 1 tahun, (3) tidak mengetahui bahwa karies adalah penyakit
menular, (4) sering menggunakan peralatan makan dan minum yang sama dengan anak-anak
mereka, (5) menganggap gigi sulung tidak penting karena akan diganti dengan gigi tetap.
Prevalensi karies gigi pada sampel yang telah dianalisa tinggi, hal ini relevan dengan temuan
bahwa pengetahuan dan perilaku ibu terhadap kesehatan gigi rendah. Hasil studi ini
menunjukkan bahwa ibu memiliki kontribusi terhadap risiko karies anak. Pencegahan karies
gigi harus dilakukan pada usia dini dan peran aktif Ibu sangat penting dalam perencanaan dan
intervensi kesehatan gigi.
Kata Kunci: Kebiasaan, Karies dental, epidemiologi, Indonesia, Kesehatan gigi mulut

Pendahuluan

Telah dilaporkan bahwa pemanfaatan layanan kesehatan gigi diantara penduduk


Indonesia adalah rendah, dan hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor demografi dan
sosio-ekonomi. Sementara itu terdapat publikasi tulisan yang jarang mengenai status
kesehatan gigi di Indonesia. Dengan demikian, penting untuk secara teratur melakukan
survey epidemiologi untuk memantau status karies gigi pada penduduk dengan status sosial-
ekonomi menengah ke bawah secara khusus pada anak yang pra sekolah berdasarkan pada
kerentanan mereka terhadap masalah kesehatan gigi.

Karies gigi bisa diartikan sebagai demineralisasi dari jaringan gigi sebagai akibat dari
infeksi gigi yang bergantung pada frekuensi terpaparnya dari fermentasi karbohidrat dan
dipengaruhi oleh saliva dan fluoride serta sisa-sisa faktor lainya. Sebuah peran yang penting
dari bakteri streptococcus mutans yang dinamakan dengan jendela dari infeksi, yang mana
bertanggung jawab pada infeksi oral primer pada tahap pertama dari karies dental pada anak-
anak usia muda. Kebiasaan diet juga secara dalam berpengaruh pada perkembangan dari
kaires pada anak usia muda, meskipun kenyataanya bahwa hal tersebut dipertimbangkan
sebagai penyakit infeksius. Konsumsi yang manis dengan kadar yang tinggi dari glukosa,
sakarin, atau fruktosa, secara khusus jika dicampur dengan jus, maka akan memperpanjang

1|Page
masa kerja bakteri yang memainkan peran penting dalam perkembangan karies pada anak
dengan karies.

Telah diketahui dengan jelas bahwa karies gigi adalah penyakit yang disebabkan oleh
produk asam oleh plak bakteri, sebagai hasil dari metabolisme mereka dalam memfermantasi
karbohidrat., dimana kemudian berdifusi ke jaringan keras gigi dan melarutkan kandungan
mineralnya. Kendati demikian, penjelasan mengenai kenapa pada beberapa anak usia muda
mengalami perkembangan karies dental adalah sesuatu yang kompleks. Belakangan ini pada
tinjauan sistematik studi epidemiologi, ditemukan lebih dari 50 faktor resiko yang berkaitan
dengan prevalensi karies atau secara parah berpengaruh pada pertumbuhan gigi susu pada
anak dengan di bawah usia 5 tahun. Pelaku utama termasuk faktor sosio-demografi seperti
pendapatan keluarga, dan tingkat pendidikan orang tua, faktor diet terutama sekali frekuensi
yang tinggi antara konsumsi makanan manis dan penggunaan botol susu, faktor kebersihan
mulut seperti frekuensi dari menyikat gigi dan tingkat plak, dan penggunaan dari fluoride.
Pada kenyaatanya, banyak dari faktor tersebut saling berkaitan. Sebagai contoh, tingkat
pendidikan orang tua berkaitan dengan pengetahuan kesehatan gigi dari orang tua tersebut
dan bagaimana mereka memperhatikan kesehatan gigi anak mereka dalam hal pemberian
makanan dan kebiasan menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pendapatan keluarga bisa juga
berpengaruh pada peralatan untuk menjaga kebersihan gigi dari anak dan kebutuhan untuk
tindakan pencegahan. Hal ini penting untuk menemukan faktor utama dari karies dental
pada anak pra sekolah di Indonesia agar dapat melakukan promosi kesehatan gigi dan mulut
yang tepat dan stratetgi pencegahan karies bisa dikembangkan. Tujuan studi ini adalah untuk
mendeskripsikan pengalaman karies gigi pada anak-anak prasekolah dan ibunya serta untuk
menggambarkan pengetahuan dan perilaku ibu terhadap kesehatan gigi di daerah pinggiran
kota dekat ibu kota Indonesia.

Metode

Studi ini telah disetujui oleh dewan peninjau institusi dari Universitas Indonesia yang
sesuai dengan etika penelitian. Populasi penelitian ialah anak dengan usia di bawah 5 tahun di
Serpong, sebuah kota satelit di dekat ibu kota dari Indonesia. 152 anak diperiksa secara acak
dari ibu-anak yang terintegrasi dengan pusat kesehatan pada Februari 2011 oleh delapan
pemeriksa yang sudah terkalibrasi. Persetujuan untuk partisipasi dalam survey telah
diperoleh dari setiap ibu. Anak dengan persetujuan orang tua dan yang dalam kondisi baik
termasuk dalam studi ini. Anak dengan penyakit sistemik yang berat atau sindrom, dan bagi
mereka yang tidak kooperatif dan menolak untuk diperiksa tidak dimasukan.

Perkiraan hasil yang utama ialah prevalensi dari anak yang memiliki pengalaman
karies pada gigi susu mereka. Indeks dmf-t digunakan untuk mengukur jumlah gigi yang
telah rusak, tanggal dan yang telah ditambal pada gigi susu tersebut. Kriteria diagnosa untuk
karies gigi tersebut berdasarkan panduan dari WHO. Gigi yang mengalami karies aktif
terdeteksi pada kedalaman kavitas dengan pengamatan visual secara cermat. Sebuah probe
dengan ujung bulut sebesar 0.5 mm digunakan untuk menghilangkan plak dan debris
makanan yang mengganggu pemeriksaan., dan untuk memastikan kehadiran dari kavitas
karies ketika diperlukan.

2|Page
Kuisioner mengenai kebiasan dan pengetahuan kesehatan gigi ibu-anak telah diisi
oleh orang tua, beberapa saat sebelum pemeriksaan intraoral dilakukan. Pertanyaanya
meliputi: (1) pada anak usia berapa seorang ibu mulai melakukan pembersihan atau menyikat
gigi anak mereka, (2) kapan seorang ibu mulai mengecek atau memperhatikan kondisi
kesehatan gigi dan mulut anak mereka, (3) apakah seorang ibu mengetahui bahwa karies gigi
merupakan sebuah penyakit menular, (4) apakah mereka menggunakan peralatan makan dan
minum yang bersamaan dengan yang anak mereka gunakan. (5) apakah seorang ibu
mempertimbangkan bahwa gigi susu tidak begitu penting karena nantinya akan digantikan
oleh gigi permanen. Data yang dikumpulkan dimasukan kedalam komputer dan dianalisa
menggunakan program statistic SPSS. T-test bivariate digunakan dengan nilai p < 0.05.

Hasil dan Diskusi

Hanya tiga puluh persen anak yang bebas dari karies. Distribusi dari skor dmf-t
diperlihatkan pada Tabel 1. Nilai mean (rerata) dari skor dmf-t yang berpengaruh pada anak
ialah 3.67. Seratus persen dari dmf-t skor dihasilkan oleh gigi yang decay (dt). Hasil ini juga
menunjukan semakin tua usia anak; semakin besar nilai dmf-t-nya. Gigi dengan nilai decay
tertinggi berada pada kelompok usia 5-6 tahun. Selain itu, anak perempuan memliki skor
dmf-t yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki. Delapan puluh persen
dari anak yang mengalami karies gigi merasa tidak perlu untuk dilakukan perawatan gigi
(Tabel 2). Hasil ini mirip dengan yang ditemukan di Filipina dan Cina. Selain itu, gigi yang
karies dibiarkan tanpa perhatian. Ketiadaan dari program promosi kesehatan gigi dan mulut
diantara anak pra sekolah dan kebiasaan pemberian makanan yang salah sehingga bisa
berkontribusi pada tingginya prevalensi karies telah diobservasi.

Prevalensi karies pada anak yang dilakukan studi ialah tinggi. Tujuh dari sepuluh
orang anak memiliki karies dengan rata rata tiap anak memiliki tingga hingga empat karies.
Alasan yang mungkin terjadi berkaitan dengan prevalensi karies yang tinggi dalam studi ini
karena kebiasaan menyikat gigi yang buruk (seperti frekuensi menyikat gigi yang rendah),
keterbatasan terhadap akses peleyanan kesehatan pencegahan, pasokan air tanpa fluor, faktor
diet (seperti menyusu pada botol dan frekuensi yang tinggi dalam mengonsumsi makanan
yang mengandung gula) dan rendahnya perhatian mengenai kesehatan gigi dan mulut oleh
orang tua mereka.

Orang tua dengan perilaku kesehatan gigi yang positif dan pengetahuan kesehatan
gigi yang baik kemungkinan akan membangun kebiasaan yang baik tentang kesehatan gigi
pada anak mereka dan menjaga kesehatan gigi anak anak mereka. Selain itu, hal tersebut
merupakan hal hebat yang penting untuk melibatkan orang tua dalam program promosi
kesehatan gigi dan mulut untuk anak prasekolah. Sebagai tambahan, tidak ditemukan adanya
penambalan. Ini dengan kuat menunjukan bahwa adanya halangan dari sisi ekonomi dan
geografi pada untuk perawatan kesehatan gigi, menyebabkan mereka tidak dapat meminta
bantuan dari para pakar kesehatan gigi. Harus didorong kepada mereka bahwa kunjungan ke
dokter gigi sudah harus pada umur satu tahun dan semua anak harus minimal mengunjungi
dokter gigi dua kali dalam setahun. Pada hasil dari studi ini bisa disimpulkan bahwa anak
3|Page
anak ini tidak pernah pergi ke dokter gigi sebelumnya untuk memperoleh perawatan terhadap
masalah kesehatan gigi mereka. Ini memastikan bahwa para anak prasekolah tersebut tidak
mendapatkan perawatan kesehatan gigi yang adekuat. Hasil dari studi ini menekankan
pentingnya untuk memperkuat komunitas pelayanan berbasis kesehatan kesehatan gigi untuk
anak prasekolah di Indonesia.

Selain itu, pengalaman karies meningkat dengan umur. Pada usia 4 tahun, seorang
anak bisa memiliki enam hingga tujuh gigi yang rusak. Hal itu bisa dijelaskan oleh sejumlah
faktor dimana termasuk jangka waktu sejak erupsi dari gigi susu dan perubahan dari
kebiasaan diet seiring dengan bertambah dewasanya anak. Hal tersebut juga menunjukan
bahwa karies berasal dari mal-nutrisi selama masa sebelum dan sesudah kelahiran. Sakit gigi
secara konsisten berkaitan dengan tingginya tingkatan pengalaman karies. Hal ini penting
untuk menemukan faktor resiko dari karies dental pada anak prasekolah di Indonesia jadi
tindakan promosi kesehatan gigi dan strategi pencegahan karies yang tepat dapat
dikembangkan. Keterbatasan pada studi ini ialah, merujuk pada populasi yang tidak
menampilkan temuan pada keseluruhan daerah dalam penelitian ini tidak dapat dirata-ratakan
sebagai gambaran nasional.

Rendahnya kesehatan gigi pada anak beriringan dengan ibu mereka. 90% para ibu
memiliki karies dengan skor DMF-T=7.8, terdiri dari dari 99% komponen gigi yang rusak
(decay). Tingginya prevalensi karies gigi ini menunjukan pentingnya agar memberikan
perhatian khusus untuk Oral Hygiene dan penanganan dari karies dan termasuk oleh ibu ibu
atau oleh para pemerhati secara terencana, melaksanakan dan mengevaluasi program
pencegahaan dan perawatan kesehatan gigi. Meningkatkan penyaluran dari kegiatan
pelayanan promosi kesehatan gigi dan aktivitas dari komunitas berbasis promosi kesehatan
gigi aalah krusial. Program kesehatan gigi yang khusus harus dibuat tersedia untuk anak yang
berasal dari klas sosio-ekonomi menengah kebawah karena mereka merupakan kelompok
dengan resiko karies yang tinggi.

Terdapat tingkat kelalaian yang tinggi didalam menjaga Oral Hygiene anak. Pentingya
gigi geligi susu didalam promosi kesehatan gigi harus difokuskan pada edukasi dari seorang
ibu agar memotivasi anak mereka untuk menjaga Oral Hygiene mereka. Sangat disayangkan,
kami menemukan keyakinan yang buruk dari para ibu mengenai gigi susu bahwa nantinya
gigi geligi tersebut akan digantikan., sehingga mengabaikan perawatan gigi anak mereka
(tabel 3). Kerjasama dari para ibu ialah sangat penting dalam menanggulangi keyakinan
bahawa gigi geligi susu bisa diabaikan perawatanya.

Kurangnya nilai dari gigi bayi dan pengalaman orang tua yang kurang merupakan
faktor yang mendasari dari keyakinan tertentu dalam kesehatan dan kebiasaan. Oleh karena
itu, saling pengertian dari pemerhati masalah melingkupi kesehatan gigi anak ialah penting
untuk mengembangkan pembuatan panduan yang sukses agar menyediakan campur tangan
kesehatan masyarakat didalam populasi tingkat karies yang tinggi. Membangkitkan
ketertarikan dari para ibu dalam mempelajari tentang strategi pencegahan yang baru untuk
mengurangi penyakit gigi dan mulut merupakan langkah awal untuk meningkatkan kesehatan
gigi dan mulut anak.

4|Page
Dalam studi pada komunitas dengan beragam kebudayaan, hanya beberapa ibu baru
yang dilaporkan bahwa mereka secara aktif mencari tau informasi untuk orang tua selama
masa kehamilan mereka. Studi tersebut juga melaporkan bahwa pengalaman orang tua yang
cenderung menghindar dan sikap acuh tak acuh untuk kesehatan gigi susu diidentifikasi
sebagai penghalang yang utama yang harus disampaikan dalam setiap program baru agar
dapat berjalan ekektif. Mempunyai para ibu baru yang terbuka terhadap informasi dan
strategi - strategi untuk mengurangi prevalensi dari karies pada anak usia dini bisa
dipertimbangkan sebagai faktor yang penting, sehingga promosi kesehatan gigi dan mulut
dapat sukses dan bertahan.

Menyikat gigi dua kali sehari merupakan cara penting dalam pencegahan karies gigi.
Menyikat gigi secara efektif akan menghilangkan plak dental, dimana hal tersebut merupakan
faktor pertama pada proses kerusakan gigi. Menggunakan pasta gigi yang mengandung
fluoride mengurangi kerusakan dengan membuat email menjadi lebih tahan. Hasil dari studi
menunjukan prevalensi dari karies dental yang telah dipelajari di populasi. Ini merupakan
keterbatasan pada kebiasaan menyikat gigi mereka, dimana menyikat gigi tidak mereka
lakukan pada usia yang masih dini. Disamping bahwa tingginya prevalensi dari karies dental
yang nampak dari kebiasan menjaga Oral Hygiene yang tidak adekuat, hal ini juga menunjuk
pada kebiasan memberi makan yang kurang tepat sebagai penyebabnya. Sebuah studi yang
dilakukan pada wilayah yang sama mengungkapkan tingginya prevalensi dari kebiasaan
memberi makan yang salah., seperti makan pada malam hari pada usia lebih dari dua tahun
dan menambahkan gula pada susu formula. Akumulasi dari kebiasaan negatif yang mengarah
ke kesehatan gigi dan mulut, menyebabkan proses mulainya karies dental pada usia yang
masih sangat awal dan berlanjut dengan pasti setelahnya. Sebuah program yang bersifat
intervensi bertujuan untuk meningkatkan kesehatan Oral Hygiene diantara anak prasekolah
diperlukan sesegera mungkin.

Kesimpulan

Karies dental diantara anak usia muda merupakan masalah global. Kurangnya
perhatian pada gigi susu, mengakibatkan tingginya prevalensi dari karies dental. Hanya
terdapat beberapa studi yang telah dipublikasikan di Indonesia, menyampaikan bahwa
kesehatan Oral Hygiene pada anak prasekolah juga berkaitan dengan dengan kebiasaan
menjaga kesehatan gigi dan mulut dari ibu mereka. Bukti ilmiah diperlukan untuk
meyakinkan para pihak yang berwenang untuk membuat sebuah program promosi kesehatan
gigi dan mulut diantara anka prasekolah. Studi ini menyimpulkan bahwa prevalensi dari
karies dental pada sampel ialah tinggi, hal ini relevan dengan temuan bahwa pengetahuan dan
kebiasaan dari para ibu terhadap kesehatan gigi adalah rendah. Hal ini sebaliknya,
memperlihatkan bahwa para ibu berperan besar terhadap kesehatan gigi anak mereka. Oleh
karena itu, pencegahan harus bisa dilakukan pada usia yang masih awal dan ini merupakan
hal yang esensial bahwa ibu semestinya secara aktif termasuk dalam merencanakan dan
melakukan apapun kegiatan menjaga kesehatan gigi dan mulut.

5|Page