Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

JARINGAN TRANSMISI RADIO


(LAPORAN 3. LINK BUDGET)

Oleh :
Kelompok 3

1. Akmal Husaimi
2. Dayinta Dwi Tanaya
3. Dhimas Dwiki Ramadhan W / 1541160081
4. Haidar Achmad
5. Mamluatus Saadah / 1541160078
6. Sike Kusuma

PROGRAM STUDI JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
BAB III

PERHITUNGAN LINK BUDGET


3.1 Tujuan Praktikum
I.1 Mempelajari dasar-dasar Link Budget
I.2 Mengetahui parameter input untuk menghitung link budget

3.2 Alat dan Bahan


PC/Laptop
Software Pathloss

3.3 Dasar Teori


3.3.1 Pengertian Link Budget dan pathloss

Pada saat ini, kebutuhan terhadap komunikasi wireless sangat tinggi sehingga
diperlukan suatu perencanaan jaringan komunikasi wireless. Dalam perencanaan
sistem komunikasi wireless diperlukan perhitungan link budget yang merupakan
perhitungan loss dari antena transmitter menuju receiver. Perhitungan link budget
mempunyai peranan penting agar rancangan jaringan komunikasi dapat mencapai
hasil yang optimum dan efisien baik dari segi kehandalan teknis maupun biaya. Link
merupakan parameter dalam merencanakan suatu jaringan yang menggunakan media
transmisi berbagai macam. Link budget ini dihitung berdasarkan jarak antara
transmitter (Tx) dan receiver (Rx). Link budget juga dihitung karena adanya
penghalang antara Tx dan Rx misal gedung atau pepohonan. Link budget juga
dihitung dengan melihat spesifikasi yang ada pada antenna.

Manfaat Link Budget ialah :

a) Untuk menjaga keseimbangan gain dan loss guna mencapai SNR yang diinginkan
di receiver,

b) Mengetahui radius sel sebab maksimum loss diperoleh

Perhitungan link budget merupakan perhitungan level daya yang dilakukan untuk
memastikan bahwa level daya penerimaan lebih besar atau sama dengan level daya
threshold (RSL Rth). Tujuannya untuk menjaga keseimbangan gain dan loss guna
mencapai SNR yang diinginkan di receiver. Parameter-parameter yang mempengaruhi
kondisi propagasi suatu kanal wireless adalah sebagai berikut :
a. Lingkungan propagasi

Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi gelombang radio. Gelombang radio


dapat diredam, dipantulkan, atau dipengaruhi oleh noise dan interferensi. Tingkat
peredaman tergantung frekuensi, dimana semakin tinggi frekuensi redaman juga
semakin besar. Parameter yang mempengaruhi kondisi propagasi yaitu rugi-rugi
propagasi, fading, delay spread, noise, dan interferensi.

b. Rugi-rugi propagasi

Dalam lingkungan radio, konfigurasi alam yang tidak beraturan, bangunan,


dan perubahan cuaca membuat perhitungan rugi-rugi propagasi sulit. Kombinasi
statistik dan teori elektromagnetik membantu meramalkan rugi-rugi propagasi dengan
lebih teliti.

c. Fading

Fading adalah fluktuasi amplituda sinyal. Fading margin adalah level daya
yang harus dicadangkan yang besarnya merupakan selisih antara daya rata-rata yang
sampai di penerima dan level sensitivitas penerima. Nilai fading margin biasanya
sama dengan peluang level fading yang terjadi., yang nilainya tergantung pada
kondisi lingkungan dan sistem yang digunakan. Nilai fading margin minimum agar
sistem bekerja dengan baik sebesar 15 dBm.

d. Noise

Noise dihasilkan dari proses alami seperti petir, noise thermal pada sistem
penerima, dll. Disisi lain sinyal transmisi yang mengganggu dan tidak diinginkan
dikelompokkan sebagai interferensi.
Gambar 1. Link Budget

Sedangkan Pathloss adalah suatu metode yang digunakan untuk mengukur


suatu loss yang disebabkan oleh cuaca, kontur tanah dan lain-lain, agar tidak
menggangu pemancaran antar 2 buah antenna yang saling berhubungan. Nilai
pathloss menunjukkan level sinyal yang melemah (mengalami attenuation) yang
disebabkan oleh propagasi free space seperti refleksi, difraksi, dan scattering. Path
loss sangat penting dalam perhitungan Link Budget, ukuran cell, ataupun
perencanaan frekuensi. faktor-faktor yang mempengaruhi nilai level daya dan
pathloss adalah jarak pengukuran antara Tx dan Rx, tinggi antena (Tx dan Rx),
serta jenis area pengukuran.

Dengan menggunakan model path loss untuk memperkirakan tingkat


sinyal yang diterima sebagai fungsi jarak, maka ada kemungkinan untuk
memprediksi SNR untuk sistem komunikasi bergerak.

3.3.2 Fresnel Zone

Gelombang radio akan merambat lurus dari transmitter menuju receiver.


Pada saat terdapat halangan pada jalurnya, gelombang radio terpantul atau
terdifraksi oleh obyek halangan dan dapat menyebabkan interferensi desktruktif
yang dapat melemahkan daya sinyal yang diterima receiver. Interferensi yang
terjadi juga dapat menghasilkan maksima, tergantung pada posisi antena sesuai
rasio S+N/N. Itu sebabnya mengapa orang suka mengkalibrasi ketinggian antena.
Pada zona Fresnel, zona ganjil mempunyai interferensi konstruktif dan
zona genap mempunyai interferensi destruktif. Hal ini terjadi karena halangan
pada zona Fresnel yang pertama akan menghasilkan sinyal dengan fase 0 - 90
derajat, pada zona yang kedua berkisar antara 90 - 270 derajat, zona ketiga akan
berfase 270 - 450 derajat dan seterusnya.

Gambar 3.2 Visual Line Of Sight dan Fresnel Zone Dengan Hambatan
Pada gambar 3.2 dapat dilihat walaupun Visual Line of Sight tercipta,
namun karena sebuah gunung berada didalam Zona Fresnel, maka hal ini dapat
membuat data yang dikirim akan hilang atau sampai ketujuan dengan waktu yang
terlambat. Jika sebuah pohon (elemen yang lebih lembut) yang berada pada
Zona Fresnel ini, maka kekuatan dari sinyal tersebut berkurang. Alasan mengapa
fenomena tersebut bisa terjadi, dapat dilihat pada Gambar 3.3 :

Gambar 2.3 Fenomena Phase Cancelling Effect


Normalnya sinyal berjalan secara langsung dari TX menuju RX. Akan
tetapi pada dasarnya, TX juga mengirimkan sinyal yang tidak tegak lurus terhadap
RX. Dalam keadaan normal, sinyal yang lain tersebut akan terus berjalan hingga
pada akhirnya kekuatan dari sinyal tersebut hilang. Akan tetapi apabila sinyal
yang lain ini menabrak suatu rintangan, maka besar kemungkinan sinyal tersebut
akan berbelok mengenai sinyal lurus yang sedang berjalan menuju RX. Hal ini
dapat mengakibatkan sinyal yang diterima oleh RX berubah fasa, perubahan
fasa ini yang dinamakan Phase Cancelling Effect. Efek dari fenomena ini adalah
kemungkinan berkurangnya kekuatan dari sinyal yang dikirim oleh TX, hal ini
dapat mengakibatkan data kemungkinan tidak diterima oleh RX. Beberapa cara
dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini, antara lain :
Menempatkan antena pada posisi yang lebih tinggi
Membangun sebuah menara untuk menempatkan antenna
Meninggikan menara yang sudah ada
Menempatkan antena pada sebuah gedung yang tinggi atau rumah yang
Tinggi
Menggunakan teknologi Near Line of Sight yang bernama
WiMAX
Jika Zona Fresnel sudah tidak terganggu, maka komunikasi data pun dapat
berjalan dengan lancar. Gambar 3.4 menunjukkan contoh komunikasi antara dua
antena yang memenuhi syarat dalam melakukan komunikasi RF dengan
menggunakan frekuensi 2.4GHz.

Gambar 2.4 Visual Line Of Sight dan Fresnel Zone Tanpa Hambatan

Konsep kejernihan zona Fresnel dapat digunakan untuk menganalisa


interferensi dan gangguan yang disebabkan oleh halangan yang terdapat pada
jalur sorotan gelombang radio. Zona yang pertama harus diletakkan pada suatu
ketinggian yang bebas hambatan untuk menghindari interferensi pada penerimaan
gelombang radio. Walaupun demikian, sejumlah tingkat hambatan masih dapat
ditoleransi, sesuai aturan tangan kanan, hambatan maksimum yang dapat
ditoleransi adalah 40%, hambatan yang disarankan adalah kurang dari 20%.

Untuk membuat sebuah zona Fresnel, pertama kali haruslah ditentukan RF


Line of Sight (RF LoS), yaitu suatu garis lurus antara antena pemancar dan
penerima. Zona di sekitar RF LoS tersebut akan menjadi zona Fresnel.[3]

Persamaan zona Fresnel pada titik P sepanjang garis lurus RF LoS adalah:
Dimana :

Fn adalah radius zona Fresnel urutan ke n (meter)

d1 adalah jarak dari titik P ke salah satu antena (meter)

d2 adalah jarak dari titik P ke antena yang lain (meter)

adalah panjang gelombang dari sinyal yang dipancarkan (meter)

Radius maksimal penampang melintang dari zona Fresnel yang


pertama yang terletak pada titik tengah garis lurus RF LoS dapat dihitung:

Dimana :

r adalah radius (feet)

D adalah jarak antara antena pemancar dan penerima (mil)

f adalah frekuensi gelombang yang dipancarkan (gigahertz).

Atau :

Dimana :

r adalah radius (meter)


D adalah jarak antara antena pemancar dan penerima (kilometer)

f adalah frekuensi gelombang yang dipancarkan (gigahertz)

3.3.3 Perhitungan Link Budget

Gain Antena

Gain Antena mengukur kemampuan antena untuk mengirimkan gelombang


yang diinginkan ke arah tujuan. Pada antena parabola, efisiensi tidak mencapai
100% karena beberapa daya hilang. Secara komersial, efisiensi antena parabola
antara 50% hingga 70%. Besarna nilai gain dapat dicari menggunakan persamaan
G = 20 log f + 20 log d + 10 log + 20,4 (1)
Dengan,
G = Gain atau penguatan antena (dBi)
D = Diameter antena (m)
= Efisiensi antena (55%)
F = Frekuensi antena (Ghz)

Free Space Loss (FSL)

Besarnya FSL dapat dihitung dengan persamaan


FSL = 92,45 + 20 log f (GHz) + 20 log D (km) (2)
Dengan,
FSL = Free Space Loss
F = Frekuensi
D = Jarak antara antena pemancar dan penerima (km)

EIRP (Effective Isotropic Radiated Power)

EIRP diperoleh dengan menjumlahkan daya output dari antena pemancar


gain antena lalu dikurangkan oleh loss atau dapat dituliskan seperti persamaan

EIRP = PTx +Gant LTx (3)


Dengan,
EIRP = Effective Isotropic Radiated Power (dBm)
PTx = Daya pancar (dBm)
Gant = Gain antena (dBi)
Ltx = Transmitter loss (dB)

IRL (Isotropic Received Level)

Besar nilai IRL didapatkan dari persamaan


IRL = EIRP FSL (4)
Dengan,
IRL = Isotropic Received Level (dBm)
EIRP = Effective Isotropic Radiated Power (dBm)
FSL = Free Space Loss (dB)

RSL (Received Signal Level)

Nilai RSL dapat dihitung dengan Persamaan


RSL = IRL + GRx LRx (5)
Dengan,
RSL = Received Signal Level (dBm)
IRL = Isotropic Received Level (dBm)
GRx = Gain Antena (dBi)
LRx = Receiver Loss (dB)

3.4 Hasil Praktikum


3.4.1 Antenna

3.4.2 Kabel
3.4.3 Radio ODU

3.4.4 Redaman Hujan

3.4.5 Worksheet
3.4.6 Hasil Data

3.4.7 Full Report


3.5 Analisa Hasil Praktikum
Perhitungan Data
a. Perhitungan pada Lokasi A (GD. Sipil Politeknik Negeri Malang)
FSL = 32,45 + 20 log D (km) + 20 log F (MHz)
EIRP = Po Loss Connector Loss Feeder + GTX
RSL = IRL + GRX + Connector Loss
IRL = EIRP FSL (dB)
Rugi-rugi antenna = Power Output feeder + GTX
FSL = 32,45 + 20 log D (km) + 20 log F (MHz)
= 32,45 + 20 log 3,21 (km) + 20 log 13.000 (MHz)
= 32,45 + 10,13 + 82,278
= 124,8 dB
EIRP = Po Loss Connector Loss Feeder + GTX
= 26,99 dB 1 dB 0,94 dB + 36 dBi
= 61 dBm

IRL = EIRP FSL (dB)


= 61 dBm 124,8 dB
= -63,8 dB

RSL = IRL + GRX + Connector Loss


= -63,8 dB + 36 dBi 1 dB
= -28,8 dB

Rugi-rugi antenna = Power Output feeder + GTX


= 26,99 dB 0,94 dB + 36 dBi
= 62 dB

b. Perhitungan pada Lokasi B (New Site Rusun 2 UMM)


FSL = 32,45 + 20 log D (km) + 20 log F (MHz)
EIRP = Po Loss Connector Loss Feeder + GTX
RSL = IRL + GRX + Connector Loss
IRL = EIRP FSL (dB)
Rugi-rugi antenna = Power Output feeder + GTX
FSL = 32,45 + 20 log D (km) + 20 log F (MHz)
= 32,45 + 20 log 3,21 (km) + 20 log 13.000 (MHz)
= 32,45 + 10,13 + 82,278
= 124,8 dB
EIRP = Po Loss Connector Loss Feeder + GTX
= 26,99 dB 1 dB 0,99 dB + 36 dBi
= 61 dBm

IRL = EIRP FSL (dB)


= 61 dBm 124,8 dB
= -63,8 dB

RSL = IRL + GRX + Connector Loss


= -63,8 dB + 36 dBi 1 dB
= -28,8 dB

Rugi-rugi antenna = Power Output feeder + GTX


= 26,99 dB 0,99 dB + 36 dBi
= 62 dB

Hasil Perhitungan
c. Sisi Lokasi A (GD. Sipil Politeknik Negeri Malang)
Diketahui :
Gain TX = 36 dBi
Gain RX = 36 dBi
Diameter Antenna = 0,6 m
Jarak (D) = 3,21 km
Power Output = 26,99 dBm
Connector Loss = -1 dB
Feeder Loss = 2,30 dB
Sehingga menghasilkan nilai :
FSL = 124,8 dB
EIRP = 61 dBm
IRL = -63,8 dB
RSL = -28,8 dB
d. Sisi Lokasi B (New Site Rusun 2 UMM)
Diketahui :
Gain TX = 36 dBi
Gain RX = 36 dBi
Diameter Antenna = 0,6 m
Jarak (D) = 3,21 km
Power Output = 26,99 dBm
Connector Loss = -1 dB
Feeder Loss = 2,30 dB
Sehingga menghasilkan nilai :
FSL = 124,8 dB
EIRP = 61 dBm
IRL = -63,8 dB
RSL = -28,8 dB

3.6 Analisa Hasil Perhitungan

3.7 Kesimpulan

Lampiran