Anda di halaman 1dari 11

KAJIAN SISTEM TENAGA LISTRIK DI KEDIRI

Untuk memenuhi tugas matakuliah


Analisis Sistem Tenaga Listrik
Yang dibimbing oleh A.N. Afandi, ST, MT, MIAEng, MIEEE, PhD

Disusun oleh:
Ahmad Rifan Fauzi
Muhammad Yunus
Rara Wicaksono Muflikhana
Remboko Ainun Nazar
Rudi Santoso
Damar

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
MARET 2017
A. Jaringan Sistem Tenaga Listrik
Kajian jaringan sistem tenaga listrik meliputi jaringan transmisi dan distribusi.
Berikut ini merupakan kajian jaringan transmisi dan distribusi di Kediri.
Sistem transmisi di Kediri terdiri dari beberapa bagian mulai dari 500kV, 150kV,
hingga 70kV. Berikut ini merupakan peta jaringan transmisi di Kediri dan sekitarnya.

Gambar 1. Peta Jaringan Transmisi Kediri dan Sekitarnya


(sumber: KEPMEN ESDM NOMOR: 55 K/30/MEM/2003 tentang JTN)

Berdasarkan gambar 1, dapat dilihat jaringan transmisi di kediri. Jaringan


Transmisi 500kV dari Paiton menuju Kediri sepanjang 210kms. Jaringan transmisi
150kV terdiri dari jaringan Banaran-Jayakertas sepanjang 31,6kms, Banaran-Surya
Zig Zag sepanjang 12,3kms, dan Banaran-Mojoagung sepanjang 27km. Letak Gardu
Induk (GI) 150/70kV berada di Banaran. Sedangkan jaringan 70kV terdiri dari
jaringan Banaran-Gudang Garam sepanjang 5kms, Banaran-Pare sepanjang
15,8kms, dan Tulungagung-Banaran sepanjang 29,2kms. Data ini berdasarkan
Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 55 K/30/MEM/2003
tentang Jaringan Transmisi Nasional.

Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Kediri 500 kV PT.PLN (PERSERO)
sebagai perusahaan penyuplai daya listrik di daerah Kediri dan sekitarnya,
mendapat pasokan dari dua pembangkit besar yaitu Klaten dan Paiton yang
ditransmisikan melalui SUTET dimana pemasok daya atau power grid tersebut
harus selalu dalam kondisi on baik saat beban maksimum maupun beban minimum.
Terdapat 3 buah trafo daya, dimana dua trafo dengan daya 500 MVA tegangan
500/150 kV dan satu buah trafo distribusi berdaya 60 MVA dengan tegangan
150/20 kV.
Dalam upaya melayani kebutuhan listrik daerah industri dan perumahan
didaerah Kediri dan sekitarnya GITET Kediri mendapat pasokan daya dari dua
pembangkit besar di area Pembangkit Jawa Bali (PJB) yaitu Paiton dan Pedan
(Klaten), dimana daya tersebut ditransmisikan melalui SUTET dan terintegrasi
dengan dua buah trafo stepdown 500/15kV500MVA untuk selanjutnya
ditransmisikan ke GI lain seperti GI Banaran, Tulungagung, Pare, dan sebagainya.

Gambar 2. Single Line Diagram GITET Kediri Terinterkoneksi dengan GI Lainnya


(sumber: digilib.its.ac.id)

Distribusi Area Pelayanan dan Jaringan Kediri melayani Kota Kediri, Kota Blitar,
Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Blitar. Wilayah kerja APJ
Kediri dengan luas wilayah 4.226.22km2 dan jumlah penduduk 4.064.450 jiwa.
Jumlah pelanggan PT PLN (Persero) APJ Kediri yaitu 837.486 pelanggan (Juni 2011).
APJ Kediri memiliki gawang Saluran Udara Tegangan Menengah adalah 67.936
m. Panjang Jaringan Saluran Udara Tegangan Menengah adalah 3.249.506Kms,
panjang Jaringan Tegangan Rendah adalah 6.782.015kms , jumlah trafo terpasang
sebanyak 3.742 Unit, dengan kapasitas 446.33kVA, Jumlah Gardu Induk sebanyak
113 buah, jumlah trafo gardu induk sebanyak 223 buah, dengan kapasitas
8.244MVA. Jumlah gardu distribusi transformator sebanyak 42.635 buah dengan
kapasitas 5.456MVA. Jumlah penyulang sebanyak 945 buah. Beban tertinggi Jatim
adalah 3.916MW dengan beban tertinggi rata-rata per penyulang sebesar 3,50MW.
Dalam operasionalnya PT PLN (Persero) APJ Kediri dipasok dari 7 (tujuh) Gardu
Induk, yaitu: GI Banaran, GI Tulungagung, GI PLTA Tulungagung, GI Pare, GI Blitar
Baru, dan GI Wlingi serta khusus untuk 2 pelanggan I-4 dilayani oleh GI Surya ZigZag
(150kV) dan GI Gudang Garam (70kV) dengan total penyulang sebanyak 53 buah.
B. Sistem Proteksi
Pada bagian ini, kami mengutip jurnal oleh Muhammad Rafi yang berjudul
Analisis Rele Pengaman Peralatan dan Line Transmisi Switchyard GITET Baru 500kV
PT PLN (PERSERO) di Kediri. Berikut ini merupakan kajian rekomendasi koordinasi
proteksi rele arus lebih pada GITET Kediri 500kV.
Untuk koordinasi proteksi fasa, pada GITET Kediri 500kV dipilih 3 tipikal yang
mewakili keseluruhan sistem. Pemilihan tipikal serta rekomendasi koordinasi
proteksi fasa dapat dilihat pada gambar 3 dengan pertimbangan jalur koordinasi
rele terpanjang serta adanya transformator dengan kapasitas besar yang berbeda
nilainya pada tiap jalur.

Gambar 3. Pemilihan Tipikal dan Rekomendasi Koordinasi Proteksi Rele Arus Lebih
(sumber: digilib.its.ac.id)
Pada gambar 3, tipikal 1 ditunjukkan dengan garis warna merah, tipikal 2
ditunjukkan dengan garis warna biru, dan tipikal 3 ditunjukkan dengan warna hijau.
Analisa untuk setting dan koordinasi proteksi pada GITET Kediri 500 kV
memperhatikan beberapa hal, diantaranya:
1. Suplai daya dari keempat power grid harus selalu on baik pada beban
puncak maupun beban minimum.
2. Koordinasi waktu untuk satu langkah antara sisi hulu dengan hilir
berdasarkan IEEE 242 untuk perbedaan waktu minimum untuk relay digital
berbasis mikroprosesor antara 0,2 s/d 0,4 detik.
Untuk mempermudah analisis dari sistem kelistrikan, maka diagram kelistrikan
dibagi menjadi tiga tipikal. Tipikal 1 menunjukkan koordinasi antara Relay50, OCR
Sekunder Trafo3, OCR Primer Trafo3, OCR S T1, dan OCR P T1. Berdasarkan hasil
plot setelan existing rele pada tipikal 1, diketahui adanya beberapa setelan dan
koordinasi yang kurang baik diantaranya yaitu
1. Kurva yang menabrak karakteristik trafo, hal ini masih kurang benar karena
seharusnya grafik rele berada di sebelah kiri trafo yang bertujuan untuk
melindungi trafo dari gangguan.
2. Terdapat mismatch dan overlapping pada kerja kedua rele yaitu OCR ST1
dan OCR PT1 dimana kedua rele ini berfungsi melindungi trafo 1 Elin 500
MVA jika terjadi gangguan arus lebih, sehingga jika kurva karakteristiknya
saling tumpang tindih koordinasi ini dirasa masih kurang sesuai karena
dikhawatirkan akan terjadi kesalahan koordinasi.
Sedangkan dari hasil plotting hasil resetting tipikal 1, dapat diketahui adanya
beberapa setelan dan koordinasi yang sudah dirubah diantaranya:
1. Setelan pickup dari rele OCR Trafo1, dan Trafo3 sudah tepat karena berada
di sebelah kanan FLA trafo.
2. Grading time antar rele sebesar kurang lebih 0.2 - 0.4 detik. Hal ini dianggap
paling sesuai menginget rele yang digunakan adalah rele digital dan CB
yang digunakan adalah CB SF6. Dan dengan grading time sebesar 0.339 dan
0.315 detik dapat dipastikan bahwa rele-rele tidak akan trip secara
bersamaan apabila terjadi gangguan hubung singkat.
Pada tipikal 2 terdapat lima buah rele arus lebih yang akan diatur, yaitu
Relay55, OCR S T2P, OCR PT2P, OCR Arah Pare, OCR S TP, OCR P TP di GI Banaran1.
Rele arus lebih yang pertama adalah adalah rele yang melindungi hubung singkat
didekat beban (load A) yang selanjutnya dibackup oleh OCR S T2P, OCR P T2P untuk
melindungi Bus-9 20kV. Kemudian OCR Arah Pare melindungi Bus-8 70 kV. OCR S
TP dan OCR P TP dalam hal ini berperan sebagai backup OCR Arah Pare dan
pelindung utama bus di GI Banaran, yaitu Bus-5.
Berdasarkan hasil plot setelan existing rele pada tipikal 2 diketahui bahwa ada
mismatch dan overlapping pada kerja kedua rele pengaman trafo, baik pada GI Pare
maupun Trafo Pauwels pada GI Banaran1, sehingga koordinasi ini dirasa masih
kurang sesuai karena dikhawatirkan akan terjadi kesalahan koordinasi karena kurva
karakteristik yang masih bertabrakan. Selain itu waktu range kerja dari kedua rele
juga masih kurang sesuai. Oleh sebab itu, direkomendasikan untuk dilakukan
penyetelan ulang rele arus lebih yang ada.
Sedangkan berdasarkan hasil plot setelan resetting rele pada tipikal 2,
diketahui adanya beberapa setelan dan koordinasi yang sudah dirubah,
diantaranya:
1. Setelan pickup dari rele OCR GI Pare dan Trafo Pauwels pada GI Banaran 1
sudah tepat karena berada di sebelah kanan FLA trafo.
2. Grading time antar rele sebesar kurang lebih 0.2 - 0.4 detik. Hal ini dianggap
paling sesuai menginget rele yang digunakan adalah rele digital dan CB
yang digunakan adalah CB SF6. Dan dengan grading time sebesar 0.315 dan
0.318 detik dapat dipastikan bahwa rele-rele tidak akan trip secara
bersamaan apabila terjadi gangguan hubung singkat.
Selain rele arus lebih, berikut ini dipaparkan Pola Rele Diferensial Sebagai
Pengaman Busbar dan Rele Diferensial Sebagai Pengaman Trafo.

Gambar 4. Pola Rele Diferensial Sebagai Pengaman Busbar pada Gardu Induk 150 kV
Gambar 5. Rele Diferensial Sebagai Pengaman Trafo

C. Perkembangan Beban
Mengkaji dari sistem tenaga listrik yang ada di Indonesia yang mana pada
pembuatan pengkajian ini, digunakan untuk mengetahui kondisi perkembangan
beban/konsumen yang ada di daerah Kediri. Sebelum kita membahas
perkembangan beban yang ada di daerak Kediri kita bahas terlegih dahulu di Jawa
Timur mengapa demikian sebab daerah Kediri merupakan daerah perpecahan dari
Propinsi Jawa Timur. Data yang telah kami kutip dari Rencana umum
Ketenagalistrikan Nasional 2015-2034 menyatakan bahwa rasio elektrifikasi di
Propinsi Jawa Timur ditargetkan meningkat dari sekitar 86.74 % pada tahun 2015
menjadi sekitar 100% pada tahun 2021. Untuk mencapainya diperlukan kenaikan
jumlah rumah tangga berlistrik rata-rata sekitar 308.826 rumah tangga per tahun.
Sementara itu untuk mempertahankan rasio elektrifikasi sekitar 100% sampai
dengan tahun 2034 diperlukan kenaikan jumlah rumah tangga berlistrik rata-rata
sekitar 23.518 rumah tangga per tahun. Kebutuhan tenaga listrik di Propinsi Jawa
Timur diproyeksikan akan tumbuh rata-rata sekitar 10.3 % pertahun dalam periode
10 tahun ke depan, atau sekitar 8.1 % pertahun untuk periode 20 tahun ke depan.
Berdasarkan proyeksi tersebut, kebutuhan tenaga listrik yang diperkirakan
sekitar 33,388 GWh pada tahun 2015 akan meningkat menjadi 80,402 GWh pada
tahun 2024 dan 147,764 GWh pada tahun 2034. Sebagai upaya untuk memenuhi
kebutuhan tenaga listrik yang tinggi tersebut, maka dalam periode 10 tahun ke
depan diperlukan tambahan kapasitas rata-rata sekitar 1,154 MW pertahun, untuk
periode 20 tahun rata-rata sekitar 1,398 MW pertahun.
Dengan pertambahan kapasitas tersebut, pasokan tenaga listrik di Propinsi
Jawa Timur akan meningkat dari sekitar 8,311 MW pada tahun 2015 menjadi sekitar
18,119 MW pada tahun 2024 dan 32,898 MW pada tahun 2034. Adapun
penambahan pasokan tenaga listrik tersebut dapat berasal dari penambahan
pembangkit di Propinsi Jawa Timur maupun transfer daya dari Propinsi lain melalui
sistem penyaluran.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa di Propinsi Jawa Timur setiap tahun akan
mengalami peningkatan yang sangat pesat seperti yang dijabarkan pada data di
atas yang mana setiap tahunya akan mengalami peningkatan sebesar kira-kira 11
MW pertahunnya.
Kota Kediri merupakan salah satu kota yang memiliki industry yang cukup
banyak sehingga perkembangan jumlah daya terhubung (MHA) sampai mencapai
sebesar 1.749/tahun, sedangkan jumlah perkembangan listrik terjual (MWh)
mencapai jumlah 38.216/tahun dat tersebut kami ambil dari Badan Statistik PLN
Propinsi Jawa Timur (2007).
Tabel 1. Perkembangan Daya Tersambung (MVA) Menurut Area Distribusi Jawa Timur

Tabel 2. Perkembangan Listrik Terjual (MWh) Menurut Area Distribusi Jawa Timur
Konsumsi energi listrik di Propinsi Jawa Timur khususnya Kediri untuk tiap
tahunnya semakin meningkat. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang semakin
meningkat setiap tahunnya, serta berkembangnya faktor-faktor lain misalkan
industri, publik dan lian-lain. Pada Kediri pelanggan terbanyak adalah pelangan
rumah tangga, di ikuti oleh bisnis, industri, sosial, penerangan jalan umun kemudian
kantor pemerintahan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel yang ada
dibawah ini.
Tabel 3. Jumlah Pelanggan, Daya Tersambung, Tenaga Listrik Terjual

D. Penyediaan
Mengkaji penyedian sistem tenaga listrik di kediri, di kediri sendiri memiliki
penyediaan sistem tenaga listrik di apembangkit yaitu PLTA dan pembangkit
Mikrohidro. Dimana sumber yang diperoleh dari pembangkit PLTA yaitu dari PLTA
siman kediri, sedangkan untuk pembangkit yang satunya yaitu pembangkit
mikrohidro yang terdapat di daerah Brumbung kabupaten kediri, pada pembangkit
PLTMH hanya bisa mencapai daya sebesar 40 KW oleh sebab itu pada pembangkit
ini tidak dijadikan sumber tegangan pokok bagi daerah kabupaten kediri, tetapi
hanya bisa menyangku desa Brumbung kecamatan kepung kabupaten kediri.

Gambar 6. Konstruksi PLTA Siman Kediri


PLTA Siman adalah pembangkit listrik berkapasitas 3x3.6 MW. Proses produksi
listrik PLTA Siman tergantung pada volume air di kolam tando harian (KTH). Air pada
KTH didapat dari outflow PLTA mendalan dan air suplesi/tambahan dari sungai
konto. Kemudian air melewati pipa tekan menuju rumah katub yang jaraknya
3121 m. Selama melalui pipa tekan, air melewati 3 spui yaitu di rekesan, kali celeng
dan sambirejo dan 2 ventil yaitu di bocok dan kaliceleng. Pada rumah katub terdiri
dari surge tank yang berfungsi untuk menyerap pukulan air (water hammer) apabila
debit air pada turbin tiba tiba berubah dan juga sebagai peredam pukulan air
bilamana terjadi pelepasan beban secara mendadak dimana menimbulkan tekanan
balik dan Katub induk yang berfungsi untuk membuka dan menutup aliran air serta
mengamankan dan mengosongkan penstock baik saat operasi maupun pada waktu
pemeliharaan. Jenis valve-nya yaitu butterfly. Kemudian air melalui pipa pesat
(penstock) yang berfungsi mengalirkan air dari pipa tekan menuju turbin. Pada
turbin terdapat main valve jenisnya spherical valve yang dipasang sebelum rumah
keong turbin dimana fungsinya untuk menutup dan membuka aliran air yang masuk
ke turbin. Turbin berfungsi untuk merubah energi kinetik air menjadi energi
mekanis berupa daya putar pada poros turbin. Jenis turbin yang digunakan yaitu
francis vertikal. Poros shaft turbin dikopel dengan shaft generator sehingga bagian
rotor generator ikut berputar. Berdasarkan prinsip kerjanya, generator
menghasilkan energi istrik dengan tegangan keluaran 6 kV yang kemudian masuk
ke bus 6 kV. Dari bus 6kV masuk ke transformator 6/70kV yang berfungsi merubah
tegangan 6 kV ke 70 kV dan setelah itu masuk ke bus 70 kV.
Mikrohidro atau yang dimaksud dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro
(PLTMH), adalah suatu pembangkit listrik skala kecil yang
menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya seperti, saluran irigasi,
sungai atau air terjun alam dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan
jumlah debit air. Mikrohidro merupakan sebuah istilah yang terdiri dari kata mikro
yang berarti kecil dan hidro yang berarti air. Secara teknis, mikrohidro memiliki tiga
komponen utama yaitu air (sebagai sumber energi), turbin dan generator.
Mikrohidro mendapatkan energi dari aliran air yang memiliki perbedaan ketinggian
tertentu. Pada dasarnya, mikrohidro memanfaatkan energi potensial jatuhan air
(head). Semakin tinggi jatuhan air maka semakin besar energi potensial air yang
dapat diubah menjadi energi listrik. Di samping faktor geografis (tata letak sungai),
tinggi jatuhan air dapat pula diperoleh dengan membendung aliran air sehingga
permukaan air menjadi tinggi[2]. Air dialirkan melalui sebuah pipa pesat kedalam
rumah pembangkit yang pada umumnya dibagun di bagian tepi sungai untuk
menggerakkan turbin atau kincir air mikrohidro. Energi mekanik yang berasal dari
putaran poros turbin akan diubah menjadi energi listrik oleh sebuah generator.
Mikrohidro bisa memanfaatkan ketinggian air yang tidak terlalu besar, misalnya
dengan ketinggian air 2.5 meter dapat dihasilkan listrik 400 watt[3]. Relatif kecilnya
energi yang dihasilkan mikrohidro dibandingkan dengan PLTA skala besar,
berimplikasi pada relatif sederhananya peralatan serta kecilnya areal yang
diperlukan guna instalasi dan pengoperasian mikrohidro. Hal tersebut merupakan
salah satu keunggulan mikrohidro, yakni tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.
Perbedaan antara Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan mikrohidro
terutama pada besarnya tenaga listrik yang dihasilkan, PLTA dibawah ukuran 200
KW digolongkan sebagai mikrohidro. Dengan demikian, sistem pembangkit
mikrohidro cocok untuk menjangkau ketersediaan jaringan energi listrik di daerah-
daerah terpencil dan pedesaan.
Berikut ini adalah data yang telah diperoleh dari mahasiswa yang melakukan
riret di desa blumbung dengan pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Dengan atas
nama Agus Indarto, Pitojo Tri Juwono dan Rispinngtati. Berikut hasil data
perhitungan total produksi energi dan hasil sekarang manfaat (PV manfaat) yang
diperoleh dalam waktu satu tahun.

Gambar 7. Hasil Perhitungan total produksi energi dan nilai sekarang manfaat (PV
manfaat)

Daftar Rujukan
Abdillah, Isa. 2010. STUDI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PLTP IJEN BAERKAITAN
DENGAN TARIF LISTRIK REGIONAL JAWA TIMUR. Surabaya: Institut
Teknologi Sepuluh Nopember.
Ardhana, Putry. 2014. PLTA SIMAN KEDIRI. (Online),
(https://www.academia.edu/21757031/BAB_II_PLTA_KEDIRi) diakses
pada 17 Maret 2017.
Dirjen Ketenagalistrikan. 2015. RENCANA STRATEGIS 2015-2019. Jakarta.
Kepmen ESDM. 2003. JARINGAN TRANSMISI NASIONAL (JTN). Jakarta:
Kementerian ESDM.
Muhammad, Rafi dkk. 2013. Analisis Rele Pengaman Peralatan dan Line Transmisi
Switchyard GITET Baru 500kV PT PLN (PERSERO) di Kediri. Surabaya:
Institut Teknologi Sepuluh Nopember