Anda di halaman 1dari 4

Tujuan utama dari kode etik adalah memberi pelayanan khusus dalam masyarakat tanpa

mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan demikian kode etik dan tanggung
jawab profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci
tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang
harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional.

Perkataan profesi dan profesional sudah sering digunakan dan mempunyai beberapa arti. Dalam
percakapan sehari-hari, perkataan profesi diartikan sebagai pekerjaan (tetap) untuk memperoleh
nafkah (Belanda; baan; Inggeris: job atau occupation), yang legal maupun yang tidak. Jadi,
profesi diartikan sebagai setiap kegiatan tetap tertentu untuk memperoleh nafkah yang
dilaksanakan secara berkeahlian yang berkaitan dengan cara berkarya dan hasil karya yang
bermutu tinggi dengan menerima bayaran yang tinggi. Keahlian tersebut diperoleh melalui
proses pengalaman, belajar pada lembaga pendidikan (tinggi) tertentu, latihan secara intensif,
atau kombinasi dari semuanya itu.

Pengemban profesi adalah orang yang memiliki keahlian yang berkeilmuan dalam bidang
tertentu. Karena itu, ia secara mandiri mampu memenuhi kebutuhan warga masyarakat yang
memerlukan pelayanan dalam bidang yang memerlukan keahlian berkeilmuan itu. Pengemban
profesi yang bersangkutan sendiri yang memutuskan tentang apa yang harus dilakukannya dalam
melaksanakan tindakan pengembanan profesionalnya. Ia secara pribadi bertanggung jawab atas
mutu pelayanan jasa yang dijalankannya. Karena itu, hakikat hubungan antara pengemban
profesi dan pasien atau kliennya adalah hubungan personal, yakni hubungan antar subyek
pendukung nilai.

Makalah ini memuat tentang pentingnya etika profesi, kode etik dan tanggung jawab profesi.
Kode etik di susun oleh organisasi profesi sehingga masing-masing profesi memiliki kode etik
tersendiri. Misalnya kode etik dokter, guru, pustakawan, pengacara dan pelanggaran kode etik
tidak diadili oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar hukum.
Bila seorang dokter di anggap melanggar kode etik tersebut, maka dia akan di periksa oleh
majelis kode etik kedokteran indonesia bukannya oleh pengadilan.

Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan naluriah yang telah bersatu
dengan pikiran, jiwa, dan perilaku tenaga professional. Dengan membaca makalah ini diharapkan
pembaca dapat memahami dan mengerti tentang yang disebut etika profesi dan juga dapat
memahami faktor dan hal hal yang berhubungan dengan etika dan tangguprofesi. Oleh karena
itu dapatlah disimpulkan bahwa sebuah profesi hanya dapat memperoleh kepercayaan dari
masyarakat, bilamana dalam diri para elit professional tersebut ada kesadaran kuat untuk
mengindahkan etika profesi pada saat mereka ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada
masyarakat yang memerlukannya.
Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban
moral (akhlaq); kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlaq; nilai mengenai nilai
benar dan salah, yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Hubungan etika dengan mahasiswa sangat erat kaitanya, karena dengan etika mampu mengontrol
mahasiswa-mahasiswa sehingga tidak melakukan hal-hal yang mampu merugikan banyak pihak.
Contohnya, etika mampu menjadi kontrol ketika mahasiswa berdemostrasi sehingga tidak
melakukan anarkis.

Di era globalisasi ini dimana telah banyak terjadi perubahan-perubahan besar, yang akibatkan
oleh beberapa hal (secara umum) yaitu perkembangan IPTEK, urbanisasi, dan tuntutan hidup,
dimana perubahan tersebut mengarah ke kualitas, pergeseran nilai dan norma, gaya hidup yang
semakin hedonistis/hedoniawan, budaya glamour. Sehingga seorang mahasiswa yang beretika
mampu berperan dalam dalam pembangunan masyarakat, menjadi filter dari pengaruh buruk di
era globalisasi, menjadi alat kontrol dalam melakukan aktivitasnya dan berusaha memperbaiki
dan menjaga moral agar kelestarian moral tetap terjaga.

Setiap civitas akademika diharapkan ikut membangun sistem nilai di lingkungan kampus, baik
dosen, karyawan dan mahasiswa. Antara etika dengan mahasiswa memiliki hubungan yang
sangat erat. Etika sangat berperan penting terhadap diri mahasiswa maupun orang lain, dengan
memahami peranan etika mahasiswa dapat bertindak sewajarnya dalam melakukan aktivitasnya
sebagai mahasiswa misalnya di saat mahasiswa berdemonstrasi menuntut keadilan etika menjadi
sebuah alat kontrol yang dapat menahan mahasiswa agar tidak bertindak anarkis. Dengan etika
mahasiswa dapat berperilaku sopan dan santun terhadap siapa pun dan apapun itu. Sebagai
seorang mahasiswa yang beretika, mahasiswa harus memahami kebebasan dan tanggung jawab,
karena banyak mahasiswa yang apabila sedang berdemonstrasi memaknai kebebasan dengan
kebebasan yang tidak bertangung jawab.

Berkaitan dengan etika yang perlu dibangun mahasiswa, dewasa ini sedang marak tema tentang
character building dalam dunia pendidikan, yakni suatu pembentukan karakter dan watak
seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun
perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut etika baik yang sudah seharusnya diterapkan mahasiswa dalam lingkungan kampus ;

o Berpakaian rapi dan sopan

o Melakukan peraturan yang berlaku

o Member contoh yang baik dalam berperilaku

o Saling menghormati

o Berperilaku dan bertutur kata yang sopan


Status terkeren setelah seseorang menamatkan pendidikan menengah atasnya
adalah mahasiswa. Status istimewa ini mencerminkan orang-orang dengan segudang
potensi untuk kemajuan bangsa. Dahulu para pejuang kemerdekaan kita berkorban
darah dan nyawa. Kini sebagai generasi penerus di era kemerdekaan, kita hanya perlu
membawa negara ini ke arah yang lebih baik dan merdeka dari penjajahan tidak
langsung negara-negara adidaya. Maka dari itu, mahasiswa dituntut untuk berprestasi
dengan memiliki pengetahuan dan kemampuan yang luas. Namun, bukan berarti
prestasi dalam hal etika dan moral dapat dikesampingkan.

Sebagai calon pembawa perubahan yang akan terjun ke masyarakat, sudah tentu etika dan
moral merupakan esensi penting dalam hidup bermasyarakat. Apalagi bila mahasiswa tersebut
merupakan mahasiswa perguruan tinggi ternama baik dalam lingkup internasional, nasional,
maupun lokal di lingkungan masyarakat sekitar kampus, tentunya ia memiliki kewajiban untuk
menjaga nama baik almamaternya di masyarakat.

Sayangnya, banyak mahasiswa yang belum menyadari bahkan lupa akan hak dan kewajiban
yang diterima dari statusnya sebagai mahasiswa. Mereka mengejar status akademik yang baik,
namun mengesampingkan kewajibannya beretika dalam masyarakat. Seperti tindakan acuh dan
apatis terhadap lingkungan sosial dan jauh dari kegiatan sosial baik di lingkungan kampus
maupun di masyarakat. Statusnya yang bergengsi sebagai mahasiswa suatu perguruan tinggi
maupun jurusan ternama pun terkadang menjadikan mahasiswa tidak begitu santun kepada
masyarakat sekitar kampus, khususnya yang lebih tua dari mereka. Acap kali mereka lupa bahwa
mereka hidup berdampingan dengan warga sekitar kampus, sehingga masalah yang disebabkan
mereka bukan hal baru bagi warga. Jangan sampai menjadi mahasiswa yang tidak diinginkan
berada dalam masyarakat. Kemana lagi kita kembali setelah lulus kalau bukan ke masyarakat.

Belum lagi kehidupan mahasiswa yang sudah mandiri dan jauh dari pengawasan orangtua.
Tidak menutup kemungkinan, mereka dapat terjerumus ke hal-hal negatif seperti narkoba dan
pergaulan bebas. Hal tersebut tentunya akan menghambat pertumbuhan prestasi mahasiswa baik
di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat.
Bak mata uang yang memiliki dua sisi, kehidupan mahasiswa yang bebas rentan
menyebabkan jatuhnya moral mahasiswa. Pentingnya keberadaan moral bagi seorang mahasiswa
ini sebenarnya telah diajarkan pada kita semua sejak sekolah dasar. Sebanyak apa pun angka nol
dibelakang satu, ketika dikali nol hasilnya adalah nol. Ibarat mahasiswa yang memiliki prestasi
yang amat luar biasa, namun ketika ia tidak memiliki moral maka hasilnya sama saja dengan
gagal. Contohnya saja, vokalis band papan atas di Indonesia yang pernah terjerat kasus video
asusila maupun yang terjerat kasus narkoba. Semua prestasi dan nama baik yang telah dicapai
dalam waktu yang tidak singkat itu jatuh hanya dalam hitungan menit di hadapan masyarakat.
Kini kepercayaan masyarakat terhadap mereka telah pudar bahkan mereka dicela dan dicekal
untuk hadir di berbagai kota di tanah air.

Untuk menjadi mahasiswa yang lulus dengan sukses dan membanggakan memang lah tidak
cukup dengan indeks prestasi akademi yang tinggi saja. Namun, indeks prestasi sosial dalam
beretika dan bermoral juga perlu ditinggikan lalu kemudian dijaga untuk tetap tinggi. Sehingga
ketika mahasiswa lulus lalu terjun ke masyarakat, ia telah memiliki public trust sebagai
mahasiswa berprestasi yang bermoral dan beretika. Dengan demikian, semakin memudahkan
mahasiswa dalam bermasyarakat untuk mengarahkan Indonesia ke arah yang lebih baik. Hidup
mahasiswa! Bermoral dan beretika!