Anda di halaman 1dari 38

III

PENDIDIKAN SENI DALAM PERSPEKTIF KEINDONESIAAN


Tujuan
Setelah membaca bab ini, Anda diharapkan mampu:
I. Memahami pengertian dasar tentang peranan pendidikan nasional dalam konteks
kebudayaan dan posisi strategisnya dalam pembangunan peradaban.
2. Menguraikan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia dalam konteks kebijakan Negara
di Indonesia (UUD 1945) dan implikasinya dalam pelaksanaan pendidikan seni.
3. Menjelaskan peranan pendidikan seni sebagai sebuah tradisi bagi kegiatan pemuliaan
martabat kemanusiaan.
4. Menjelaskan fenomena kenusantaraan, sebagai wilayah bentangan kebudayaan, yang
menjadi landasan bagi perencanaan, pengembangan, dan pelaksnaan pendidikan seni di
Indonesia.

A. Pendidikan Nasional dan Pembangunan Peradaban Bangsa


1. Pengantar
Dalam tulisan ini, masalah pendidikan nasional dan pembangunan peradaban bangsa
secara khusus dikaitkan dengan upaya amandemen UUD 1945, hendak dibahas dengan
menggunakan pendekatan kebudayaan. Konsep konsep kunct yang digunakan, dalam kerangka
kebudayaan yaitu: ( 1) kebudayaan, (2) pendidikan, (3) pembangunan. Yang dimaksud dengan
pendekatan kebudayaan adalah suatu cara memandang dan menempatkan suatu hal yang dikaji
sebagai masalah kebudayaan, yang dipandang sebagai suatu satuan yang terdiri dari suatu unsur-
unsur yang saling berinteraksi, interpendensi, interelasi satu dengan yang lain secara integral,
bulat, dan utuh. Dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan dapat dipahami fungsi dan
hirarki unsur-unsur dalam kebudayaan, dalam kesatuan sistemikna, sebagai model penjelasan
untuk menganalisis masalah yang tersirat dan tersurat dari judul di atas.
2. Pemahaman Dasar
Perlu dikemukakan terlebih dahulu bahwa untuk dapat melangsungkan dan
meningkatkan taraf hidupnya, manusia hams memenuhi berbagai kebutuhan yang berlangsung
secara universal. Kebutuhan manusia itu digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu: (1) kebutuhan
primer atau biologis dan orgamsme manusia, (2) kebutuhan sekunder atau sosial, yang terwujud
sebagai hasil dari usaha-usaha manusia memenuhi kebutuhan primer yang harus melibatkan
orang lain dalam suatu sistem kehidupan sosial, dan (3) kebutuhan integratif yang
mencerminkan manusia sebagai mahluk budaya. Kebutuhan-kebutuhan itu telah dan dapat
dipenuhi oleh manusia dengan menggunakan kebudayaan yang berfungsi sebagai pedoman
untuk bertindak.
Berbicara tentang kebudayaan, secara empirik, senantiasa dikaitkan dengan suatu_
kelompok manusia (masyarakat atau bangsa) yang mempunyai seperangkat nilai dan
kepercayaan yang merujuk pada cita-cita tertentu. Kebudayaan ditransmisikan pada kelompok
lain (generasi baru) melalui proses pendidikan. Hasil dari proses pendidikan itu adalah suatu
pandangan baru, yaitu cara memandang yang khas terhadap dunia sekitar.
Dengan demikian dapat dipahami bagaimana kaitan antara kebudayaan dan pendidikan,
yaitu bahwa pada dasarnya: ( 1) kebudayaan dialihkan dari satu generasi ke generasi lainnya,
sebagai warisan atau tradisi sosial, (2) kebudayaan dipelajari, ia tidak bersifat genetik, (3)
kebudayaan dimiliki dan dihayati bersama oleh masyarakat pendukungnya, sebagai hasil dari
pendidikan oleh, untuk, dan dalam masyarakat yang bersangkutan.
Pendidikan merupakan pranata sosial yang terwujud atau diciptakan untuk
memanusiakan manusia (individu, sosial, dan budaya). Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa
sesungguhnya pendidikan merupakan upaya melestarikan dan mengernbangkan kebudayaan-
sebagai pedoman atau strategi adaptif dan kreatif dalarn memanfaatkan sumber daya lingkungan
(alam-fisik dan social-buadaya) yang senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan. Tujuan akhir
dari pendidikan adalah pemilikan pengetahuan budaya (moral, cita-cita, akalpikiran) yang
relevan dan signifikan bagi individu sebagai mahluk sosial dan budaya.
Kata pembangunan sebenarnya dirujuk pada pengertian suatu kegiatan yang dirancang
( oleh pemerintah/masyarakat) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat
secara rnenyeluruh. Dalarn kaitannya dengan kebudayaan, pada hakekatnya, perubahan yang
diharapkan dalam pembangunan adalah perubahan pada cara berpikir (pada model pengetahuan
yang operasional) yang digunakan oleh warga masyarakat atau masyarakat (sebagai objek
sekaligus subjek pembangunan):
Perubahan dari cara berpikir yang dipandang tidak efektif dan efisien menjadi lebih
efektif dan efisien, khususnya dalam kemampuan . untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat yang bersangkutan, itulah esensi dari pembangunan. Salah satu alat strategis dalam
melaksanakan pembangunan, dalam konteks kebudayaan ini, adalah pendidikan.
Melalui pemahaman dasar ini, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan, pendidikan, dan
pembangunan merupakan unsur-unsur yang saling berkait satu sama lain dalam satu kesatuan
sistem. Dari sini juga kemudian kita dapat membahas pe-nerapannya untuk melihat pasal-pasal
dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan.
3. Pendidikan dan Kebudayaan dalam UUD 1945
Sesuai dengan tujuan Negara Republik Indonesia sebagaimana tersermin dafam
alinea keempat Pembukaan UUD 1945, bahwa Pemerintah Negara Indonesia antara lain
berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa, maka Pasal 31 ayat ( 1) menetapkan bahwa tiap-
tiap warga Negara berhak mendapat pengajaran. Untuk maksud itu, UUD 1945 mewajibkan
pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pengajaran nasional yang diatur dalam
UUD 1945 pasal 31 ayat 2.
Selanjutnya dalam Sisdiknas yang diatur melalui UU No. 2 tahun 1989 disebutkan bahwa
penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan
jalur pendidikan luar sekolah (PLS). jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang
dilaksanakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan
berkesinambungan. Sedangkan jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang
dilaksanakan di luar sekolah, termasuk pendidikan keluarga. Pelaksanaan UU ini dalam
Peraturan Pemerintah (PP) No. 27, 28, 29, dan 30 tahun 1990, masing-masing tentang
pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Dalam batang tubuh UUD 1945, pasal yang berkaitan dengan kebudayaan yaitu pasal 32.
Pasal 32 menetapkan agar pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Penjelasan
UUD 1945 memberikan rumusan tentang kebudayaan bangsa sebagai " kebudayaan yang timbul
sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya", termasuk "kebudayaan yang lama dan
asli yang terdapat sebagai puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia". Dalam
penjelasan UUD 1945 juga ditunjukkan ke arah mana kebudayaan itu harus diusahakan, yaitu
menuju "ke arah adab budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan barn dari negeri
asing yang dapat mengembangkan dan memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta
mempertinggi derajat ke-manusiaan bangsa Indonesia';. Salah satu unsur budaya penting yang
ditunjukkan dalam penjelaskan UUD 1945 pasal 36, yaitu bahasa daerah, yang akan tetap
dihormati dan dipelihara oleh Negara.
4. Pembahasan Rumusan tentang Pendidikan dan Kebudayaan dalam UUD 1945
Dengan menggunakan konsep-konsep yang dikemuka-kan dalam bagian pemahaman
dasar, dan uraian pasal-pasal yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan pada UUD
1945, dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut.
Pertama, konsep pendidikan telah mengalami reduksi menjadi pengajaran. Artinya,
dalam pasal-pasal yang berkaitan dengan pendidikan, pengaJaran dipandang (atau seakan-akan)
mewakili keseluruhan konsep pendidikan. Dengan demikian, sebagai acuan atau pedoman telah
menyempit ruang lingkupnya. Dengan kata lain dapat ditafsirkan bahwa rumusan pendidikan,
yang dalam UUD 1945 disebut sebagai pengaJaran telah menyempit tempat, sifat, dan
hakikatnya.
Untuk itu perlu ditegaskan bahwa UU No. 2/1989 tentang Sisdiknas, dalam banyak hal,
istilah itu masih berkesan mengacu kepada konsep pengajaran. Selain itu, tentu saja cara
pembenaran seperti_ ini merupakan suatu kesalahan berpikir konseptual yang fatal, yang
memungkinkan kerancuan dalam pelaksanaannya. Kesalahan perpikir seperti m1 merupakan
cacat penalaran, khususnya dalam memahami suatu sistem secara hirarki sibernetik.
Kedua, tentang rumusan kebudayaan dalam UUD 1945 danpenjelasannya, di satu segi
terkesan longgar, di satu segi terkesan membatasi. Dapat ditafsirkan bahwa segala bentuk
kebudayaan yang dihasilkan oleh rakyat Indonesia merupakan kebudayaan bangsa (baca:
kebudayaan nasional). Di segi lain, penyebutan istilah puncak-puncak kebudayaan di daerah
menimbulkan pertanyaan lanjutan, "Apa itu puncak kebudayaan di daerah?", "mengapa disebut
puncak kebudayaan daerah?", "Kriteria apa yang menyebabkan suatu kebudayaan (unsurnya)
disebut puncak?", dan seterusnya. Bukankah secara operasi-onal, kebudayaan ada dan
digunakan jika masih fungsional sebagai pedoman bagi tindakan manusia dan masyarakatnya
untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup sesuai dengan perubahan-perubahan sumber daya
lingkungan yang dapat mereka manfaatkan.
Dalam kaitan dua hal yang dibahas, yaitu pendidikan dan kebudayaan, dalam rumusan
pasal-pasal yang terkait, tidak tampak pertautan di antara keduanya sebagai suatu sistem.
Bukankah pertautan di antara pendidikan dan kebudayaan pada hakikatnya bersifat niscaya.
Artinya dalam pelaksanaan pendidikan terkait kebudayaan, baik sebagai sistem nilai yang hams
dioperasionalkan, dilestarikan dan dikembangkan, maupun sebagai cara-cara atau kerangka
acuan untuk melakukan pendidikan itu sendiri.
5. Kenyataan Empirik sebagai Masukan
Penelitian-penelitian kebudayaan di antaranya menunjukkan bahwa jumlah bahasa yang
masih ada dan digunakan oleh masyarakat di Indonesia saat ini ada lebih dari 500 bahasa daerah.
Jika ini dijadikan indikator, maka dapat diduga jumlah kelompok masyarakat dan kebudayaan
ada lebih dari jumlah itu. Belum lagi kebudayaan yang dibawa dan masih digunakan oleh
kelompok masyarakat, yang sering dikategorikan bukan asli pribumi, dan yang masih tetap setia
menggunakan kebudayaan yang dibawanya itu.
Kemajuan budaya buk:an saja bersifat horisontal, tetapi juga vertikal, berlapis menurut
stratifikasi sosial. Dalam garis besar, kebudayaan di Indonesia dapat digolongkan menjadi tiga
bentuk kebudayaan, yaitu: (1) kebudayaan suku bangsa, (2) ke-budayaan umum, (3)
kebudayaan nasional, yang digunakan warga masyarakat di Indonesia.
Kebudayaan suku bangsa merupakan kebudayaan yang menjadi pedoman kehidupan
sehari-hari kelompok masyarakat tertentu, yang diakuinya sebagai hak ulayatnya (wilayah
tempat hidup dan sumber kehidupan). Dalam kelompok masyarakat itu, kehidupan sehari-hari
didominasi oleh kebudayaan suku bangsa . Kebudayaan lokal atau umum adalah kebudayaan
yang berfungsi sebagai pedoman berkomunikasi dengan sesama dalam struktur hubungan yang
berkembang dari prinsip-prinsip mengakomodasi perbedaan untuk saling pengertian dan saling
menguntungkan didasarkan atas asas timbal balik yang sating menguntungkan. Kebudayaan
nasional adalah kebudayaan yang berfungsi sebagai pedoman berbagai tindakan untuk
mengakomodasi berbagai kebutuhan dalam rangka meneguhkan kepentingan nasional.
Kebudayaan ini terbentuk dalam simbol-simbol dan ideologi negara yang konstitusional.
Kabudayaan "nasional" digunakan, dalam hubungan antarwarga/ antarsuku di tempat resmi.
Masalah yang muncul dalam perubahan masyarakat Indonesia ditinjau dari konteks
kebudayaan adalah kegamangan budaya. Kegamangan budaya ini tampak dalam hal penggunaan
pedoman yang tidak sesuai dalam berbagai suasana. Dominasi budaya ini disinyalir menjadi
pemusatan, penyeragam, pemaksaan secara langsung maupun tidak, dan di segi lain menjadi
pengikis bagi kebudayaan lainnya.
Dalam bidang pendidikan tampak asas-asas pengembangan rasional dan pengendalian
tata kehidupan masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan di sekolah, dan secara bertahap juga
pelatihan dan pendidikan guru telah dipengaruhi oleh pandangan ini. Lembaga sekolah telah
memasukkan strategi pengelolaan yang hiperasional ke dalam konsepsi paedagogisnya.
Praksis pendidikan dan pengajaran di sekolah saat ini cenderung lebih mengutamakan
kemampuan aspek rasional/ kognisi semata. Lebih jauh lagi dapat dikemukakan seperti disinyalir
oleh banyak anggota pendidikan, bahwa dunia pendidikan di Indonesia kini mengalami
pendangkalan dan pemiskinan nilai.
Kebijakan pembangunan yang diberikan di negara kita yang lebih mementingkan aspek
pertumbuhan ekonomi, pada waktu yang lalu dipandang menunjukkan kenaikan angka-angka
yang memukau. Namun ternyata kebijakan tersebut telah menimbulkan perbedaan, kesenjangan
antara si kaya dan si miskin, atau ekonomi kuat dan ekonomi lemah. Orientasi semacam ini
menyebabkan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.
6. Kesimpulan
Pertama, pasal-pasal dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan pendidikan dan
kebudayaan perlu diamandemen. Rumusan pad.a pasal tersebut (seperti dikemukakan di atas)
sudah tidak la yak untuk dipertahankan. Perubahan rumusan pasal-pasal terkait seyogianya
menyangkut ruang lingkup pendidikan secara menyeluruh, pelaku terlibat (peme_rintah,
masyarakat, keluarga), dan kaitannya dengan kebudayaan. Perubahan juga seyogianya memuat
fungsi kebudayaan secara menyeluruh dan kaitannya dengan bidang-bidang lain, memberi
kerangka bagi kemajemukan di satu segi dan integrasi di segi yang lain, yang menyiratkan juga
di dalamnya bahwa kebudayaan menjadi strategi yang mendasar untuk pembangunan kehidupan
manusia Indonesia, strategi kebudayaan yang memungkinkan dilaksanakan dalam kegiatan
empirik.

B. Pendidikan Seni sebagai Tradisi Pemuliaan Kemanusiaan:


Rejleksi Paradigmatik dalam Konteks Kebudayaan

1. Pengantar
Dalam dunia yang semakin jenuh dengan berbagai tumpukan persoalan yang semakin rumit,
kehidupan ( dan implikasinya dalam bidang pendidikan) pun baik bersifat konseptual maupun
empirik, tampaknya harus semakin bijak disiasati. Sebagian besar dari persoalan tidak lagi mampu
dihadapi secara linier, fragmentaris, sektoral atau terpisah-pisah satu dengan yang lainnya. Persoalan
atau masalah yang dihadapi dewasa ini, dipandang sebagai fenomena yang saling berkaitan satu
dengan yang lainnya sebagai masalah yang sistemik. Satu masalah merupakan bagian dari
serangkaian masalah lain yang secara global menantang dan bahkan mengancam ruang hidup dan
kehidupan manusia. "Kepak sayap kupu-kupu di California bisa menimbulkan badai di belahan
benua lain". Ungkapan retorik itu untuk menunjukkan butterfly effect yang memperlihatkan betapa
rumit kaitan suatu fenomena dengan fenomena lainnya, seperti yang dikemukakan oleh Capra
(1996) dalam bukunya "The Web of Life: A New Scientific Understanding of Living Systems".
Untuk memahami persoalan sebagai masalah sistemik, dipersyaratkan satu perubahan
yang asasi dalam persepsi, pikiran, dan nilai-nilai yang kita miliki. Perubahan cara memandang
ini -dari linier ke holistik, dan kemudian ke budaya- merupakan sebah proses menuju paradigma
baru; yaitu paradigma budaya. Paradigma budaya merupakan suatu pandangan holistik dan
sistemik yang memandang dunia sebagai keseluruhan yang terintegrasi bukan kelompok yang
terceraiberai. Paradigma budaya memperluas pandangan manusia dengan memasukkan
lingkungan alam dan lingkungan sosio-budaya dalam lingkup yang luas. Kesadaran budaya
adalah kesadaran religius atau spiritual; bentuk kesadaran yang di dalamnya individu merasa
memiliki dan terkait dengan alam kosmos sebagai suatu keseluruhan.
Dalam konteks kehidupan masyarakat, khususnya pendidikan, masyarakat atau negara
yang sedang membangun, dihadapkan pada tantangan-tantangan besar yang mesti dihadapi
secara seksama. Tantangan penting pertama yang harus dihadapi adalah globalisasi dengan
berbagai produk atau jiwa ikutannya yaitu antara lain ilmu pengetahuan, teknologi, informasi,
media, ekonomi, dan kekuatan politik yang masuk seperti belitan gurita ke dalam berbagai sendi
kehidupan masyarakat. Globalisasi diasumsikan sebagai pengaruh yang tak dapat dicegah, dan
kemudian diterima sebagai suatu pandangan yang sah yang harus diterima; sesuatu yang,
sesungguhnya, merupakan mistifikasi dari kesadaran budaya menjadi ideologi. Tantangan m1
lebih bersifat tantangan ekstemal. Tantangan penting yang kedua bagi masyarakat yang memiliki
sejarah yang panjang, yang juga terdiri dari aneka ragam masyarakat etnik dan bangsa, dan aneka
ragam budaya sebagai warisan --dan sekaligus menjadi strategi dasar untuk mengembangkan
kehidupan-- adalah menemukan dan membentuk identitasnya sendiri &ebagai sarana untuk
meraih tujuan dan masa depan yang dicita-citakan. Tantangan kedua lebih bersifat tantangan
internal. Kedua tantangan itu dalam realitasnya, saling berkaitan, dan bahkan dalam berbagai hal
seringkali salah satunya mendominasi yang lainnya, yang berdampak pada pelestarian,
peningkatan, dan penurnnan kuantitas dan kuantitas lingkungan hidup.
Bidang pendidikan, sesungguhnya Juga dihadapkan dengan tantangan-tantangan itu,
yang merangsang tumbuhnya ilmu pengetahuan barn, teoriteori barn, paradigm-paradigma barn,
yang akan menjadi Jtwa dari pendidikan itu sendiri, ditinjau dari kepentingan akademiknya dan
kepentingan nyata masyarakatnya. Berkaitan dengan _masalah yang hendak dibahas dalam
bagian ini, dalam hubungannya dengan pendidikan seni, muncul pertanyaan: Bagaimana posisi
dan peranan pendidikan seni di dalam perbincangan ilmu pengetahuan dan pernbahan zaman
Yfil!& berlangsung sekarang ini?
Tulisan pada bagian ini tidak berpretensi untuk menjawab pertanyaan itu secara
menyeluruh, tuntas,, dan mendalam, melainkan untuk mengajak dan melihat kembali dan
merefleksi posisi dan peranan pendidikan seni, kemudian mencoba menegaskannya (sebagai
sebuah paradigma) dalam konteks pernbahan-pernbahan yang sedang terjadi. Pembahasan akan
dilakukan dengan meletakkan permasalahan dalam konteks kebudayaan. Kebudayaan dalam
tulisan ini hendak dipandang sebagai keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, dan nilai-nilai
yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial. Kebudayaan berfungsi sebagai pedoman
hidup, yang berupa blueprint atau desain menyeluruh, bagi kehidupan warga masyarakat
pendukungnya. Ia Juga merupakan sistem simbol dan pemberian makna yang ditransmisikan
melalui kode-kode simbolik, yang juga berfungsi sebagai strategi adaptif bagi pelestarian dan
pengembangan kehidupan dalam rangka menyesuaikan dan menyerap sumber daya lingkungan
yang dihadapinya. (lihat Geertz, 1973:89; Suparlan, 1985:3-5; Rohidi, 200:6-7).
Secara ringkas, uraian dalam kertas kerja ini mencakup pembahasan tentang pendidikan
dalam konteks kebudayaan, seni dan Pendidikan Seni sebagai sarana pendidikan yang berfungsi
bagi pemuliaan nilai kemanusiaan, tantangan-tantangan yang dihadapi oleh pendidikan dan
pendidikan seni, serta terakhir yaitu penegasan mengenai paradigma pendidikan seni dan
implikasinya dalam rnenganggapi tantangan-tantangan yang rnuncul baik secara umum rnuapun
khusus.
2. Pendidikan
Dalam pengertian kebudayaan senantiasa terkandung tiga aspek penting, yaitu bahwa:
(1) kebudayaan dialihkan dari satu generasi ke generasi lainnya, (2) kebudayaan dipelajari,
bukan dialihkan dari keadaan jasmaniah manusia yang bersifat genetik, dan (3) kebudayaan
dihayati dan dimiliki bersama oleh para masyarakat pendukungnya. Dalam pengertian ini tersirat
bahwa pengalihan kebudayaan senantiasa terjadi melalui proses pendidikan.
Pendidikan adalah proses budaya. Dalam konteks ini, pendidikan dipandang sebagai
upaya pengalihan, pengembangan, dan penciptaan nilai-nilai, pengetahuan, dan keyakinan,
melalui suatu tradisi yang disepakati bersama oleh anggota masyarakat pendukungnya, baik
dilakukan bersama-sama atau antarpribadi, dengan tujuan agar anggota masyarakat didikannya
dapat memainkan pera:nan (sebagai individu di dalam kerangka sistem sosial-budayanya) di
dalam kehidupan dan dunia yang dihadapinya.
Pendidikan di satu pihak dipandang sebagai upaya pelestarian bagi mempertahankan sifat
tradisional kebudayaan, yaitu suatu proses yang bersifat konservatif. Di segi lain, dalam
pendidikan pun terkandung maksud adanya proses bagi pengembangan kebudayaan yang
dihubungkan dengan dinamika pernbahan masyarakat dan kebudayaannya. Pendidikan juga
membawa misi pembaharuan kebudayaan, yaitu suatu proses yang bersifat kreatif. Tegasnya,
pendidikan menunjukkan dua fungsi penting, yaitu melestarikan dan mengembangkan
kebudayaan sesuai dengan kebutuhan (individu, sosial, dan budaya) para anggota
masyarakatnya, yang hasilnya terwujud di dalam cara berfikir, bersikap (menghayati), berbicara,
dan bertindak dari mereka yang menjadi peserta didikan.
Pendidikan dilakukan melalui sebuah tradisi yaitu sistem norma dan peranan yang
mengatur bagaimana sepatutnya anggota masyarakat berperilaku--, yang melalui jejaring atau
matriksnya dapat ditunjukkan kedudukan hari ini dan harapan kehidupan manusia di masa depan
yang jelas. Sebagai sebuah tradisi, pendidikan sepatutnya mengandung nilai-nilai fitrah manusia
yang dapat membedakan semangat dari angkara murka, yang mampu mengaitkan belajar dan
mengaJar sekaligus dan mengidentifikasinya dengan cermat, memadukan berpikir dan
berbuat, dan memahami nilai-nilai yang berada di balik pemberian dan penerimaan.
Pendidikan sebagai sebuah tradisi dapat berlangsung di mana dan kapan saja. Pendidikan
bisa berlangsung di rumah, di dalam lembaga keluarga, antara orang tua dengan anak-anaknya,
kakak dengan adik-adiknya, atau kakek dengan cucunya, atau juga di antara anggota keluarga
sekerabat lainnya. Pendidikan bisa juga berlangsung di dalam masyarakat, di antara anggota
masyarakat, kawan sebaya, dan anggota minat. Pendidikan juga dapat berlangsung di lembaga
khusus, yang disebut sekolah; suatu tempat atau lembaga yang diberi kepercayaan, kewenangan,
dan kebenaran oleh orang tua, masyarakat, dan pemerintahan untuk menyelenggarakan
pendidikan secara lebih teratur dan lebih terancang.
Pendidikan juga bedangsung dengan berbagai sifatnya. Pendidikan dapat berlangsung
sacara formal, yaitu apabila dilaksanakan secara teratur, terstruktur, dan terancang dalam jangka
masa tertentu secara bertahap. Pendidikan formal umumnya berlamgsung di sekolah, walaupun
juga dapat berlangsung di rumah dan di masyarakat. Pendidikan berlangsung juga secara
nonformal. Pendidikan nonformal biasanya diselenggarakan di lingkungan masyarakat, yang
berlangsung bagi pencapaian suatu kemahiran tertentu saja, dan lazirnnya dirancang dalam
jangka waktu yang singkat. Pendidikan ndnformal umumnya dilaksanakan di kalangan
masyarakat, walaupun mungkin saja dilakukan di sekolah atau di dalam keluarga. Jenis
pendidikan yang lain, yang ditentukan karena sifatnya, yaitu pendidikan informal. Pendidikan
informal ialah segala sesuatu aktivitas, yang melibatkan dua atau lebih individu, yang tak
terancang namun justru berdampak pada perubahan perilaku. Pendidikan informal berlangsung
sebagai sebuah peristiwa, baik disadari ataupun tak disadari, lebih membentuk perilaku-perilaku
tertentu. Keteladanan adalah peristiwa yang dapat menjadi contoh yang baik dari pendidikan
informal.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan dapat berlangsung di berbagai
tempat dan dalam berbagai sifatnya. Pendidikan berlangsung sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan kebudayaannya secara menyeluruh. Dengan
demikian, seyogianya dipahami bahwa pendidikan merupakan refleksi dari masyarakat atau
bangsa yang tersurat dan tersirat dalam seluruh perancangan dan pelaksanaannya.
3. Seni dan Pendidikan Seni
Pendidikan Seni adalah upaya pendidikan dengan menggunakan seni sebagai medianya.
Pendidikan Seni merupakan bagian penting dalam sistem pendidikan secara menyeluruh, ia
merupakan unsur yang strategis dan fungsional bagi upaya pemuliaan kemanusiaan.
Hal ini bekaitan dengan sifat-sifat yang melekat pada seni. Seni bersifat imajinatif. Sifat
imajinatif merangsang orang yang terlibat di dalamnya untuk mengkombinasikan berbagai
perasaan yang ada dengan relalitas yang diabstraksikan dalam suatu komunikasi yang memberi
kenikmatan estetik. Kenikmatan estetik itu tersusun dan diperoleh dalam cara yang sangat tidak
diduga, baik sadar maupun tidak sadar. Kenikmatan estetik tidak tunduk pada "aturan kepastian
mutlak", ia bukanlah realitas; dan memang bukan realitas. Dunia seni adalah dunia imajinasi,
dan dunia imajinasi adalah dunia mimpi dari permainan mental yang tidak ada batasnya.
Seni seri sering kali dibandingkan dengan suatu permainan,; memang kedua kegiatan itu
sangat erat berkaitan. Apabila kita bermain, sama dengan jika kita menikmati karya seni. Kita
menjalani suatu kehidupan imajiner yaitu suatu kehidupan kehilangan daya tariknya seandainya
tidak ada bedanya dengan kehidupan sesungguhnya. Imajinasilah yang membuat suatu
permainan menjadi sangat menarik. Permainan dan seni memungkinkan kita hidup di dunia
khayal. Kombinasi berbagai khayalan inilah yang membentuk kenikmatan permainan dan
kenikmatan seni. Alam tidak pemah ditiru secara membabi-buta. Konsekuensinya imajinasilah
yang mentransformasikan alam, dan menentukan keindahannya melalui kesan dan emosi tertentu
yang ditimbulkannya (sui generis) .
Seni adalah suatu permainan, justru keduanya merupakan suatu bagian dari kehidupan.
Manusia tidak dapat bekerja sepanjang masa., karena manusia pun tidak akan mampu
melakukannya. Konsekuensi energi hanya untuk mencapai suatu tujuan saja adalah sesuatu yang
hampir abnormal dan tidak bisa bertahan lama. Kerja keras harus diimbangi dengan kesantaian.
Di sini, seni sebagai permainan mempunya1 signi fikansinya. Permainan dalam bentuk seni
adalah permainan yang menjanjikan karekter tingkat tinggi, menyiratkan suatu sikap tanpa
pamrih, mandiri, menjaga jarak dari kepentingan..:kepentingan material yang terlalu kasar, dan
memberi wama spiritual tertentu terhadap perasaanperasaan dan hasrat kita.
Dari uraian di atas, kemudian dapat dilihat relevansi seni sebagai media untuk
pengembangan kreativitas. Sifat imajinatif dan permainan yang tnelekat pada seni menegaskan
suatu kebebasan berkhayal dan dalam bentuk pengungkapannya. Disiplin seni adalah disiplin
yang "membebaskan", disiplin yang senantiasa lebih baik daripada tidak disiplin dan/atau
disiplin ketat tanpa hati nurani. Itulah sebebnya mengapa pendidikan seni ditempatkan sebagai
bagian yang tak terpisahkan dalam pendidikan secara umum. Pendidikan seni adalah pendidikan
yang akan membawa kebanggaan dan keagungan jasmaniah dan rohaniah, dan justru itu seni
seharusnya menjadi dasar pendidikan; that art should be the basis of education, demikian kata
Herbert Read (1970) mengutip tesis plato, pemikir Yunani Klasik, berabad-abad yang lalu.
Di dalam pendidikan umum, yaitu proses pendidikan yang diselenggarakan 4i sekolah
rendah dan sekolah menengah, Pendidikan Seni merupakan bagian yang bukan hanya dapat ada,
melainkan harus ada. Pendidikan Seni fungsional bagi menjaga keseimbangan dalam rangka
mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan sem memberikan keseimbangan manus1aw1 bagi
pendidikan logika rasional, etik-moral, dengan menekankan pada pendidikan estetik-emosional.
Pendidikan seni menawarkan aktivitas yang memberi peluang untuk memandang persoalan
secara multi perspektif. Dengan melalui aktivitas seni ditawarkan dimensi-dimensi makna yang
baru. Seni memeberikan suatu epistemology pililhan lain suatu cara memahami yang
mentranseden bentuk-bentuk pengetahuan yang deklaratif. Dengan seni sebagai cara, seseorang
didorong untuk melihat dan mendengar, menerobos lapisan permukaan "apa yang terlihat dan
terdengar". Dengan seni kita disadarkan dari penampilan satu dimensi kehidupan yang
membelenggu alam pikiran kita. Seni akan bersifat transformatif ketika diterapkan dalam
pendidikan.
Sekalipun demikian, pendidikan seni Juga mengajarkan bahwa manusia sekreatif
apapun, ia tidak hanya merupakan subjek perajut makna saja, melainkan pada waktu yang sama
ia terstruktur dalam jejaring atau matriks tradisi budaya. Di dalamnya, kebebasan berkreasi atau
berekspresi dihadapkan pada kesepakatan-. kesepakatan masyarakat pengguna makna. Dengan
kata lain, seni atau estetika ketika berkomunikasi dan menyentuh kesadaran serta intuisi rasa
indah sesama manusia, maka secara intrinsik (from within) harus mematuhi kode-kode simbolik
yang berlangsung di dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaannya. Seni, dan demikian juga
pendidikan seni, tidak akan pemah lepas dari masalah keseluruhan kebudayaan, cara berpikir,
suasana cita rasa, diafragma pandangan kesejagatan, dan politik mengurus kehidupan masyarakat
dan bangsanya.
4. Tantangan bagi Dunia Pendidikan dan Pendidikan Seni
Pandangan yang menekankan pada akal pikiran yang diawali oleh Copernicus, kemudian
Galileo hingga Newton, menjadi awal bagi kokohnya pemikiran yang didasarkan pada
objektivitas ilmiah empiris. Hal ini rriendapatkan tempat yang lebih baik lagi bagi pandangan
Descartes yang mengemukakan corgito ergo sum; yaitu kesadaran dan aka] pikiran manusia,
dengan rumusan-rumusan yang pasti dan ketat, untuk memecahkan berbagai fenomena alam
yang dihadapi manusia (Lavine, 1984:125; Mahoney dan Lyddon, 1988:192). Selanjutnya
Augustus Comte mempertegasnya dengan "rasionalistik-positif'. Ia menegaskan bahwa
perkembangan harus ditujukan pada kemajuan bagi mendapat signifikannya secara positif.
Dampak dari pandangan positivistik itu kemudian melahirkan modet-model ilmu pengetahuan
positif beserta hukum-hukumnya yang umum, dan dinyatakan berlangsung bagi segala macam
hal atau benda, yang bebas dari jangkauan spekulatif (van Peursen, 1985; Wibisono, 1982).
Inilah tampaknya yang dimaknai sebagai hakikat pandangan modem, yang telah
berkembang menjelajah (dan juga menjajah) seluruh peloksok dunia, yang seakan-akan tak
dapat dicegah dan harus dan diterima sebagai satu pandangan yang sah. Modemisasi, dalam
hal ini juga berarti globalisasi, dengan alat tumpangannya yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi,
ekortomi dan politik, serta informasi dan media, yang datang searah (dari Barat ke Timur atau
Utara ke Selatan, dari global ke lokal, dari homogen ke heterogen, dari yang tunggal ke yang
beraneka ragam) menjadi tantangan yang hams dihadapi secara arif dan bijak.
Meskipun demikian, apa yang Sesungguhnya berlangsung di dalam wacana dunia global
ini bukanlah wacana yang berdiri bersaingan, melainkan wacana yang bersilang, saling mengisi,
saling melengkapi, dan saling memperkuat satu dengan yang lainnya, yang menumbuhkan
fenomena "kompleksitas budaya (cultural complexity). Kompleksitas ini karena wujud dari
berperannya bentuk-bentuk pandangan lain dalam kehidupan masyarakat yang memiliki sejarah
dan kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat yang merasa atau yang dipandang sebagai
"asal" globalisasi.
Upaya-upaya untuk melindungi, mengembangkan, dan melestarikan warisan budaya dan
identitas pengelompokan etnik, ras, agama, dan bangsa acapkali menjadi sikap resistensi,
permusuhan, dan penentangan terhadap budaya luar. Akibatnya terjadilah pertentangan atau
perbenturan budaya, yang dapat menimbulkan berbagai situasi ketidakamanan, dan
ketidakstabilan pada masyarakat yang sedang menerima pengaruh global. Hal yang lebih
mengkhawatirkan lagi adalah pertentangan atau perbenturan budaya dianggap sebagai suatu
ancaman bagi keberlangsungan sekelompok masyarakat dan kebudayaannya, serta
kesinambungan "identitas budaya" yang diterima dan dipertahankan di dalamnya. Pertemuan
budaya lebih dipandang sebagai "padang pertempuran", yaitu sebuah medan yang di dalamnya
suatu kebudayaan berupaya mempertahankan keaslian, originalitas, dan keutuhan budaya dari
berbagai pengaruh luar.
Pikiran-pikiran modem telah mempengaruhi pendidikan modern dengan penerapan asas-
asas pengembangan rasional dan pengawalan tata kehidupan masyarakat, yang dilandasi oleh
pandangan positivistik. Penyelenggaraan sekolah urnurn, dan juga pelatihan dan/atau pendidikan
guru, telah dipengaruhi dengan kuat oleh pandangan modern. Lembaga persekolahan telah
rnernasukkan strategi pengelolaan yang "hiperasional" ke dalam konsepsi-konsepsi
paedagoginya saat rnenuju abad ke 21 ini (Kincheloe, 1993 :7). Pengaruh "ilmiah" yang
rnengubah objek rnelalui perilakunya.
Selanjutnya, ketika psikologi perilaku (behaviorisrne) diterima sebagai bagian penting
dalam paedagogi, guru-guru pun rnulai dipandang sebagai satuan-satuan atau angka-angka yang
dapat dikendalikan dan diatur. Pikiran rnanusia mernpakan suatu instrumen yang pasti untuk
mengukur perilaku setepat-tepatnya. Guru-guru dianggap tidak mampu untuk melakukan
pengukuran semacam itu, oleh sebab itu rumusan-rumusan strategi pengajaran dan
pengembangan kurikulum hams diserahkan pada pakar psikologi yang berpengalaman. Tentu
tidak mengejutkan jika kemudian para pakar psikologi behaviorisme menguasai jiwa
pelaksanaan pendidikan di sekolah, membentuk kecakapan dengan rnengendalikan rnelalui
desain instruksional. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemudian menjadi pengagungan terhadap
strategi, daya dorong efisiensi, produktivitas dan pengelolaan pengajaran dari satu hal saja; yaitu
dari pandangan modern yang positivistik.
Hal tersebut, seakan-akan menjadi perkara global setelah ilmu pengetahuan rnodern-
dengan dasar metode natural sciences -dengan pisau analisisnya yang tajam dan berlangsung
urnum, memperlihatkan keampuhannya dalam bidang-bidang sains mumi. Ironisnya,
tuntutantuntutan itu dengan daya paksa yang sangat kuat melanda bidang-bidang ilmu yang ipso
facto sangat sukar menerapkan dasar-dasar yang bersifat reduksionistik dan rasionalisasi
dengan kebenaran tunggal. Dalam posisi seperti inilah pendidikan seni sekarang ini hadir dan
dilaksanakan sebagai media dalam pendidikan umum. Jargon yang muncul "think globally act
locally" menambah kekalutan yang telah berlangsung dengan penyamarataan metodik pada
semua bidang ilmu; yang sepatutnya harus kita pikirkan secara arif dan bijak, dan jika perlu
haru_s segera dihentikan. Akibat yang tampak adalah pendidikan seni amat terkungkung,
sedemikian rasionalnya sehingga menjadi pendidikan kognitifyang tidak bercita rasa.
Dengan desain pengajaran, bahan pengajaran, dan periiaku diubah secara fragmentaris,
pencapaian tujuan dan penilaian yang tinier, dan terukur penuh dengan angka-angka yang
bersifat kuantitatif. Subtansi pendidikan seni sebagai upaya pendidikan melalui seni, menjadi
tenggelam digantikan dengan tujuan-tujuan yang linier. Keseluruhannya itu, dilaksanakan
sebagai akibat dari konsekuensi atau hasrat untuk merasionalisasi pendidikan seni. Akibat lebih
jauh lagi, tidaklah mengherankan jika pendidikan sem semakin lama semakin kurang mendapat
perhatian dan mendapat tempat di dalam kurikulum pendidikan secara menyeluruh. alasannya,
karena pendidikan seni kurang mendukung pendidikan rasional (karena sifat-sifatnya yang khas
irasional). Jika pun pendidikan sem dilaksanakan (dalam segala keterbatasannya) maka ia harus
tunduk pada kaidah model instruksional yang rasionalistik.
Dari jurusan lain, kita juga memahami, bahwa upaya masyarakat dan bangsa untuk
meneguhkan diri sendiri, mengemukakan dan menemukan identitas berdasarkan sejarah dan
warisan sosial-budayanya, tidak pemah hilang atau pupus begitu saja ketika berhadapan dengan
pengaruh luar. Dari berbagai bidang pengajaran, di antaranya pendidikan senilah yang dipandang
sesuai, relevan atau strategis bagi penerapan dan pelaksanaan harapan-harapan yang bersifat
budaya ini. Pendidikan seni dengan jumlah satuan waktu pengajaran yang terbatas kini menerima
beban besar bagi proses penyampaian atau pelaksanaan harapan budaya tersebut. Akibat yang
tampak adalah pendidikan seni semakin tertatih-tatih jalannya, karena sarat dengan beban.
Hampir semua jenis seni tradisional, tampaknya ingin dibebankan kepada pendidikan seni.
Pendidikan seni tidak lagi menjadi bidang pelajaran yang menyenangkan dan membanggakan,
tetapi menjadi beban demi pencapaian tujuan yang berlebihan untuk memperoleh pemahaman
dan kemahiran yang melebihi takarannya.
Beban itu menjadi semakin berat karena guru pendidikan seni tampaknya harus memikul
sendiri tanggung jawab itu. Sementara, para orang tua, memahami pendidikan sebagai investasi
bagi peningkatan kesejahteraan hidup secara ekonomi di masa depan. Bagi mereka, pendidikan
yang diharapkan dapat mendukung pencapaian cita-cita inilah yang harus diutamakan (lihat
misalnya fenomena kursus berbagai mata pelajaran yang dipandang bergengsi), sedangkan mata
pelajaran lainnya hanya dianggap sebagai pelengkap saja; boleh ada tetapi tidak harus ada.
Demikian pula media informasi yang sangat kuat pengaruhnya, seperti berbagai siaran televisi
lebih mengutamakan kebutuhan kepentingan pasar yang dipandang sangat menguntungkan
secara finansial, dengan melakukan berbagai komodifikasi dan melakukan manipulasi perilaku
manusia melalui aspek komunikasi pemasaran (marketing communication), daripada melakukan
activtas budaya yang signifikan bagi pendidikan.

5. Kesimpulan
Berhadapan dengan berbagai tantangan yang : telah dikemukakan di muka, beberapa
saran dikemukakan di sini sebagai penutup dalam pembahasan ringkas ini.
Pertama, sangat penting untuk: mengubah pemahaman pendidikan seni sebagai mata
pelajaran, atau juga sebagai bagian dari pendidikan saja, menjadi suatu pemahaman
paradigmatik. Pandangan yang bersifat paradigmatik ini menduduki posisi yang esensial,
terutama jika dipandang sebagai suatu gugusan sistem, konsep, teori, metode, dan cara
pendekatan yang mendasari arah dan memandu sikap dalam mengerjakan atau mempraktekkan
sesuatu yang patut dipilih dengan sikap dan komitmen bagi pengembangan ilmu pengetahuan
dan mengembangkan sumber daya manusia (lihat Kuhn, l 970). Paradigma yang tepat dan
sesuaia dengan sifatsifat sem dan pendidikan seni adalah kebudayaan. Paradigma budaya
merupakan suatu s istem keyakinan sebagai sudut atau cara memandang dan sekaligus cara bagi
menganalisis dan mengaudit pera.ncangan, proses pelaksanaan, dan keberhasilan pendidikan
seni. Dalam paradigma budaya, pendidikan seni dipandang, dianalisis, dan diaudit sebagai suatu
sistem yang menyeluruh, yang unsur-unsurnya. terkait satu dengan yang lainnya, manusia
(peserta didikan dan pendidik) dan lingkungannya dalam jagat kecil dan jagat besarnya.
Pandangan ini menempatkan manusia clan nilai-nilainya sebagai pusatnya, dalam kaitan dengan
unsur-unsur lainnya yang secara fungsional membentuk jaringan tempatan kehidupannya, tetapi
bersangkut-paut dengan jaringan dunia dan jagat semesta. artinya, jaringan kehidupan lokal
sebagai suatu sistem kehidupan merupakan bagian dari jaringan kehidupan manusia secara
menyeluruh; dan demikian juga sebaliknya.
Pendidikan seni sudah sepatutnya juga diarahkan untuk memproduksi diri sendiri yza.ng
berdasarkan kesenangan dan sekaligus bertumpu pada aspek kemanusiaan sebagai human
agency. Para pelaksana pendidikan (guru dan murid) bukan hanya bertindak sebagai penerima
saja, melainkan sebagai sumber atau sebagai pusat, sehingga akan justru semakin . tampak
dinamika pendidikan. Para pelaksana pendidikan ibaratnya masuk ke dalam permainan, sebagai
pemain, pemerhati, penganalisis, pengaudit, dan di sinilah, atau seperti itulah, seni menjadi
fungsional dalam pendidikan. Kita tidak semata-mata mengilmiahkan pendidikan, tetapi sangat
perlu juga untuk "menyenikan pendidikan"; suatu proses pemuliaan nilai kemanusiaan.

C. Seni Nusantara dan lmplikasinya dalam Pendidikan


1. Pengantar
Seni Nusantara, sebagaimana kita ketahui seringkali ditafsirkan melalui berbagai
kepentingannya, misalnya politik dan ideologi. Namun dalam bagian ini pembahasan akan
dilakukan dalam perspektif kebudayaan. Oleh karena itu, konsekuensinya diperlukan definisi
kerja yang operasional, dalam bentuk pendekatan dan konsep, untuk menjelaskan dan
mernahami Seni Nusantara tersebut. Dengan dernikian, kemudian daripadanya akan kita peroleh
suatu pernahaman yang utuh untuk kepentingan penelaahan yang bersifat akademik, sebagai
bagian kesadaran kita tentang fenomena budaya yang hams dan semestinya rnenjadi dasar
kehidupan berkesenian. Daripadanya juga dirnungkinkan wujudnya suatu asas pemikiran yang
menjadi titik tolak pelaksanaan pendidikan seni dewasa ini, yang dirasakan sangat didominasi
oleh pernikiran Barat.
2. Kebudayaan
Kebudayaan adalah keseluruhan unsur-unsur yang terdiri dari kepercayaan yang dianut,
pengetahuan yang dimiliki, bahasa yang digunakan, nilai-nilai yang merupakan konsepsi
mengenai apa yang dianggap baik, dan aturan-aturan yang merumuskan hak-hak dan kewajiban
masing-masing orang, pelaku dalam kondisi sosial tertentu. Kebudayaan adalah seluruh total dari
kehidupan rnanusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan oleh karena itu hanya dapat dan
dipelajari dan diungkapkan rnanusia melalui suatu proses belajar yang rnenghabiskan waktu
yang panjang.
Kebudayaan itu, sekurang-kurangnya, rnerniliki tiga wujud, yaitu:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari gagasan-gagasan, nilai-nilai, kepercayaan,
dan pengetahuan.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas perilaku berpola dari manusia dalam
masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
3. Seni
Istilah seni atau Juga dalam arti luas senng disebut kesenian, mencakup makna yang
terkait dengan wujudnya, baik sebagai kebudayaan ideal, sistem sosial dalam bentuk aktivitas
perilaku berpola, atau juga benda-benda hasil karya manusia. Sebagai kebudayaan ideal, seni
berfungsi sebagai pedoman menyeluruh bagi manusia untuk melakukan aktivitas berkeseniannya.
Isi dari pedoman itu adalah model-model kognitif-estetik, sistem simbolik, atau pemberian
makna yang ditransmisikan secara historis oleh masyarakat yang berkenaan. Model kognisi-
estetik ini digunakan secara selektif oleh masyarakat pendukungnya untuk berkomunikasi,
melestarikan, menghubungkan pengetahuan, dan bersikap atau bertindak untuk memenuhi
kebutuhan estetiknya.
Seni juga hadir dalam bentuk aktivitas berpola ketika manusia berinteraksi, atau
berkomunikasi berkenaan dengan keindahan, yang pada asasnya mencakup aktivitas kreatif dan
aktivitas apresiatif. Seni dalam hal ini dapat dipandang sebagai aktivitas kreatif dan apresiatif
berpola yang berlangsung melalui komunikasi estetik. Seni juga terwujud sebagai karya, yang
menunjukkan corak, gaya, bentuk, dan strukturnya, atau sebagai simbol, baik menyiratkan nilai
estetik atau juga menyiratkan makna ekspresifnya. Karya seni sebagai kategori tanda yang dibuat
oleh manusia dengan penuh kesedaran, di dalamnya tersirat baik makna arbitrarinya atau juga
makna ikoniknya, dan di dalam strukturnya nampak prinsip-prinsip estetiknya (keseimbangan,
harmoni, pengulangan, abstraksi, dsb. ).
4. Seni Nusantara
Nusantara, adalah satu istilah yang berasal daii kata "nusa antara", yaitu kepulauan atau
gugusan pulau yang berada di antara jalur lalu lintas antarbenua. Sederhananya, secara geografik
kata Nusantara me-nunjuk pada kepulauan atau segugusan pulau yang mencakup wilayah
Semenanjung Malaysia dan Malaysia timur di Pulau Kalimantan utara, serta gugusan-gugusan
pulau mulai dari Pulau Sumatera dan lingkungannya _di bagian barat hingga Papua di wilayah
bagian timur Indonesia. Dilihat dari kesejarahannya, kata ini merujuk kepada satu kondisi
sebelum penjajahan bangsa lnggris, Portugal, dan Belanda hadir di bumi yang disebut Nusantara
ini. Sekalipun, secara politik seringkali Nusantara dikaitkan dengan wilayah yang dicakup oleh
kekuasaan kerajaan Melaka di Malaysia dan kerajaan Majapahit di Indonesia pada masa yang
lalu, kata ini lebih bermakna sebagai suatu wilayah yang dibina kerana jalinan dua kekuasaan
yang akrab di masa lalu, yang diselenggarakan dengan prinsip saling menghormati satu dengan
yang lainnya.
Dilihat dari sudut pandang kebudayaan, Nusantara menunjukkan arti sebagai suatu
wilayah geografi yang dihuni oleh masyarakat yang ber-anekaragam dengan kebudayaan yang
beranekaragam pula, yang hidup bersama-sama dengan prinsip saling menghormati dan
menyadari keberbagaiannya itu sebagai sesuatu yang bersifat conditio sine qua non dalam
kebersamaannya. Kebersamaan, kesepahaman, dan kesadaran budaya itulah yang menjadi sarana
persatuan di dalam perbedaan yang tumbuh pada kehidupan masyarakatnya; yaitu sesuatu
kesadaran yang lebih daripada sekadar kesadaran berbeda secara etnik atau kaum, melainkan
kesadaran budaya yang bersifat multikultural.
Nilai-nilai kebersamaan, kesepahaman, dan kesedaran akan perbezaan itulah yang
menjadi panduan bagi wujudnya kegiatan atau tindakan atau pola-pola kegiatan dan tindakan
untuk berinteraksi antara warga, kelompok, dan masyarakatnya, yang menjamin diperolehnya
kondisi, atau tercapainya prinsip hidup, yang saling menguntungkan di antara para warga atau
masyarakatnya. Dari segi ini dapat ditarik kesimpulan bahawa dalam istilah Nusantara, tersirat
kehadiran apresiasi budaya yang bersifat empatik dan partisipatif, yang memberi kondisi yang
tepat bagi penciptaan kreatif di bidang seni, yang juga berfungsi bagi mendukung dan
mengekalkan kolektivitas sosial sebagai masyarakat bangsa (Nusantara) yang besar yang
memiliki keanekaragaman budaya. Kebudayaan Nusantara, dalam hal ini Seni Nusantara,
merupakan zamrud mutu manikamnya seni dalam rentangan katulistiwa kesepahaman dan
kebersamaan yang berasaskan kesadaran budaya.
Seiring dengan perjalanan sejarahnya, masyarakat yang berada dalam wilayah
kebudayaan Nusantara itu sentiasa menyesuaikan dirinya dengan perubahan-perub.;ihan yang
terjadi, sebagai akibat dari meluasnya interaksi masyarakatnya dengan masyarakat dan bangsa
lain. Di dalam hal ini juga menjadi pertimbangan juga untuk mengelompokkan karya-karya sem,
yang dihasilkan berdasarkan pencerapan, perpaduan, gabungan, atau bentukan baru akibat dari
kondisi yang sernakin terbuka sekarang ini untuk dikategorikan juga sebagai Seni Nusantara,
sepanJang spirit atau asas rokhaniah yang tarnpak di dalarnnya rnasih rnencerminkan nilai-nilai
kebudayaan Nusantara.

5. Implikasi dalam Bidang Pendidikan


Sebagai penutup tulisan ini hendak dikernukakan di bawah ini irnplikasi dari penerapan
Seni Nusantara dalarn Pendidikan.
a) Penerapan Seni Nusantara dalarn bidang pendidikan rnengandung makna memilih asas
filsafat pendidikan seni yang diterapkan, yang semestinya bertumpu kepada kesadaran
budaya sendiri. Kebudayaan Nusantara harus menjadi acuan bagi pelaksanaan pendidikan
seni, pelaksanaannya harus mampu mengubah kerangka acuan yang selama ini lebih
didominasi oleh pemikiran dan konsep-konsep Barnt. Ia perlu rnenjadi penyeimbang pada
gejala globalisasi yang datang sea'rah, dan perlu menjadi asas bagi pengembangan identitas
yang berakar pada sejarah dan kebudayaan sendiri.
b) Seni Nusantara, oleh karena itu perlu dipandang sebagai sumber gagasan bagi
pelaksaaan pendidikan dan penciptaan karya. Dalam dunia yang semakin menantang m1, di
mana kebenaran tunggal dipersoalkan kembali, rnaka Seni Nusantara sebagai sumber
gagasan mernberi landasan yang kuat dan berbagai ragam bagi terbentuknya wacana
konternporer.
c) Kekayaan penggunaan media dan teknik dalarn proses pennciptaan karya pada
rnasyarakat yang mempraktekkan Seni Nusantara perlu menjadi bahan rujukan bagi
ditemukannya media dan teknik-teknik baru, yang selaras dan ramah terhadap lingkungan
alam dengan senantiasa mengingat kepada zat yang rnenjadikannya.
IV
ISU-ISU PENDIDIKAN SENI:
IMPLIKASI KONSEP DAN IMPLEMENTASI
Tujuan
Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu:
1. Memahami potensi pendidikan seni sebagai sarana bagi pengembangan kreativitas dan
kesadaran budaya
2. Menjelaskan masalah-masalah sosial-budaya yang dihadapi masyarakat Indonesia dan
signifikansi pendidikan seni sebagai sarana bagi penanggulanganannya.
3. Menguraikan pendidikan seni sebagai sarana bagi penumbuhan manusia budaya yang kreatif
dan berkarakter.
4. Menjelaskan pendidikan seni sebagai bidang kajian dalam wilayah ilmu pengetahuan.
5. Mengidentifikasi kompetensi yang dipersyaratkan bagi pendidik "pendidikan seni" berkaitan
dengan prasyarat keilmuan dan pemahaman kebudayaannya.
6. Memahami pertautan antara ilmu pengetahuan dan seni sebagai potensi dasar manusia untuk
menegaskan kehadirannya sebagai makhluk budaya.
7. Menjelaskan kemampuan penalaran dan emosi sebagai dasar bagi pengembangan
intelektualitas manusia secara menyeluruh.
8. Menguraikan pendidikan estetik sebagai sarana penting dalam menumbuhkan kemampuan
penalaran dan artististik dengan mengambil contoh beberapa tokoh terkemuka dalam bidang
sains,teknologi, dan seni.'

A. Pendidikan Seni Kreativitas, Produk Sosial, dan Modal Budaya


1. Pendahuluan
Isu global, baik secara konseptual maupun praktis telah banyak dibahas dan ditanggapi
oleh para pakar, teknokrat, politisi, intelektual, artis, dan berbagai kalangan akademik dari
berbagai sudut pandang dan dari berbagai kepentingan pula. Dewasa ini tidak ada perkara yang
lebih menarik untuk membicarakan gejala kehidupan manusia- interelasinya dengan diri dan
dunia luar serta yang supernatural--, jejak-jejaknya pada masa lampau, kehadirannya pada masa
ini, dan cita-citanya pada masa depan secara menyeluruh, selain dikaitkan dengan isu global.
Eksistensi, identitas, dan pembangunan sebuah bangsa dan rnasyarakat senantiasa dipertaruhkan
secara vis a vis, baik secara pars pro toto atau pun diskrepansinya (berupa penolakan dan
pertentangan) dengan isu-isu global. Ini menandakan dari suatu segi bukan hanya tidak ada
masyarakat yang tidak terjerat dalam jaringan global, tetapi juga tidak ada masyarakat yang'
begitu saja rela melepaskan diri dari masa lalu yang menjadi sejarah kebanggaannya.
2. Masalah yang Dihadapi dan Implikasi Penanganannya
Masai.ah yang dihadapi manusia dewasa ini begitu kompleks, faktor-faktor penyebab dan
akibatnya berkaitberkelindan satu dengan yang lainnya, merajut sebuah fonomena rumit yang
perlu pemahaman dan penanganan yang seksama, efektif, dan inovatif. Masalah yang dihadapi
bukan hanya berkenaan dengan lingkungan, pemanasan global tetapi juga masalah kemanusiaan
dan kesejahteraan hidup secara menyeluruh, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan
sebagai faktor penyebab dan akibat timbal balik dalam suatu sistem global.
Pemanasan global telah menjadi bencana di sejumlah wilayah Asia clan kawasan Eropa.
Banjir, kebakaran hutan, perubahan iklim, gempa bumi, dan berbagai fenomena alam terjadi
akhir-akhir m1. Persoalan lingkungan dan pemanasan global berdampak luas tidak hanya berupa
kesengsaraan manusia, tetapi juga berdampak pada aspek geopolitik, ekonomi, dan keamanan.
Di segi lain, pertumbuhan penduduk, masalah kemiskinan, ketidak-adilan dalam memperoleh
kesejahteraan hidup, persaingan ekonomi politik global, secara timbal balik juga telah menjadi
penyebab bagi kerusakan lingkungan, pemanasan global, dan berbagai perilaku kekerasan yang
diakibatkannya.
Untuk menghadapi dan menangani masalah tersebut, salah satu usaha kritis yang perlu
dilaksanakan adalah membangun keunggulan kompetitif yang mewujud dalam tekonologi,
pengetahuan , dan keterampilan kreatif melalui suatu proses pendidikan yang dirancang secara
kreatif pula. Pendidikan kreatif adalah pendidikan yang dirancang melalui cara-cara dan pola-
pola tertentu, yang mampu memberi peluang kepada para pembelajamya untuk berimaginasi,
mampu mengekspresikannya secara bebas dan mandiri, serta memberi dukungan bagi
pendidikan yang menyeluruh terhadap perkembangan fisik, intelektual, moral, dan spiritual.
3. Pendidikan Seni: Penumbuhkembang Individu dan Manusia Budaya
Pendidikan Seni adalah pendidikan yang menggunakan seni sebagai media dan
metodenya (Arts Education and Arts-in-education), baik dalam bentuk formal, informal, maupun
nonformal, dan berlangsung di berbagai tempat (sekiolah, keluarga, dan masyarakat). Perlu
ditegaskan bahwa kebudayaan dan kesenian sesungguhnya merupakan komponen asasi dari
suatu pendidikan untuk mengembangkan individu secara utuh dan menyeluruh. Pendidikan Seni
memiliki posisi yang strategis karena memberikan pengalaman seerta tumbuhnya apresiasi dan
pengetahuan tentang seni yang memungkinkan berkembangnya suatu cara pandang yang unik
tentang sesuatu dalam konteks yang luas; cara pandang yang tidak dapat ditempuh melalui
caracara dalam pendidikan lainnya, yaitu penyampai kebenaran imaginasi, emosi, spiritual dan
instingtif dari kebutuhan manusia yang mendasar.
Setiap manusia mempunyai potensi kreatif. Dalam hal ini, seni menyediakan lingkungan
dan praktik kepada para pembelajar terlibat secara aktif dalam pengalaman, proses, dan
pengembangan kreatif. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa mengenalkan pembelajar
kepada proses seni, sambil menyertakan unsur-unsur budaya miliknya ke dalam pendidikan,
telah menanam benih dalam diri setiap individu suatu kesadaran krativitas dan keberanian
mengambil langkah, imaginasi yang subur, kecerdasan emosi dan "kompas" moral, kemampuan
refleksi yang kritis, kesadaran otonomi, dan kebebasan berpikir dan bertindak (Report of the
Asian Regional Symposia on Arts Education, UNESCO 2005).
Pendidikan Seni memberi sumbangan yang signifikan terhadap pendidikan untuk
mengintegrasi-kan aspek fisik, intelektual dan kreatif dan mendinamisasi serta menyuburkan
kaitan antara pendidikan, kebudayaan, dan seni. Dewasa ini, terdapat kecenderungan untuk
memisahkan antara proses kognitif dengan emosi, yang mencerminkan perhatian yang lebih
besar terhadap kemahiran kognitif di satu segi, dan kurangnya perhatian terhadap nilai-nilai yang
ditempatkan pada proses emosi. Menurut Profesor Antonio Damasio, seorang pakar Pendidikan
Seni, penekanan terhadap pengembangan kemahiran kognitif, dan pengabaian ruang emosi,
merupakan faktor dalam kemerosotan perilaku moral pada masyarakat modem. Proses emosi
merupakan bagian integral dalam proses pengambilan keputusan, ia bekerja sebagai wahana bagi
tindakan dan gagasan yang menegaskan refleksi dan penilaian. Tanpa melibatkan emosi, suatu
tindakan, gagasan atau keputusan hanya didasarkan semata-mata atas aspek rasional. Padahal
perilaku moral, yang menunjukkan landasan kokoh kewargaan individu, mempersyaratkan
keterlibatan emosi.
Seni merupakan manifestasi budaya dan sekali juga sebagai cara komunikasi dari
pengetahuan budaya. Setiap kebudayaan memiliki ekspresi artistik yang unik dan praktek
budaya. Keanekaragaman budaya, produk artistik dan kreatifnya menunjukkan bentuk tradisional
dan kontemporer dari kreativitas manusia yang menyumbang secara unik kepada kegungan,
keindahan, dan intergritas peradaban manusia. Kesadaran dan pengetahuan praktek budaya dan
bentuk seni memperk:uat indentitas dan nilai-nilai peribadi dan kolektif, serta inenyumbang
dalam menjaga dan meningkatan kebergaman budaya. Pendidikan Seni, dalam hal ini, menjaga
dan memupuk kesadaran budaya, meningkatkan praktek-praktek budaya, serta menjamin cara-
cara yang tepat untuk mentransmisikan pengetahuan dan apresiasi seni dan kebudayaan dari satu
generasi ke generasi berikuntnya.
4. Kreativitas sebagai Produk Sosial dan Modal Budaya:
Kreativitas sebagai sebuah konsep pada umumnya dipahami sebgai pengelolaan mental
dan intelektual yang engejawantahkan sesuatu yang baru yang belum pemah ada sebelumnya,
alam bentuk gagasan, susunan, kompisisi, konsep, sistem, bentuk, gaya, atau juga produk.
Dalam pandangan ini, pengembangan kreativitas hams memiliki modus vivendi dengan
nilai-nilai lama, tanpa menjadi sanderanya. Tradisi yang seringkali dimusuhi perlu dilihat dengan
pandangan yang barn pula; penyesuaian kreatif ini berarti bahwa perlu dicari dan dibangkitkan
kebudayaan sehingga menegaskan prinsip-prinsip otonom, yang ata.s kekuatan sendiri, mampu
mendorong dan menuntun masyarakat pengakunya dalam menghadapi masalah-masalah barn,
menyesuaikan dengan kehidupan barn di masa yang akan datang dengan lebih baik.

B. Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Seni:


Refleksi Paradigmatik dalam Konteks Kebudayaan
1. Pengantar
Dalam dunia yang semakin jenuh dengan berbagai tumpukan persoalan yang semakin
rumit, kehidupan (dan impli-kasinya dalam bidang pendidikan) baik bersifat konseptual atau
empms, tampaknya hams semakin bijak disiasati. Sebagian besar dari persoalan itu tidak lagi
dapat dihadapi secara linier, fragmentaris, atau terpisah-pisah satu dengan yang lainnya.
Persoalan atau masalah yang dihadapi dewasa ini, dipandang sebagai fenomena yang kompleks.
Satu masalah merupakan bagian dari serangkaian masalah lain yang secara global menantang
dan bahkan mengancam ruang hidup dan kehidupan manusia. "Kepak sayap kupu-kupu di satu
wilayah bentangan utara bisa menimbulkan badai di salah satu pantai bagian selatan dunia".
Ungkapan retorik itu untuk menunjukkan butterfly effect yang memperlihatkan betapa rumit
kaitan suatu fenomena dengan fenomena lainnya, seperti yang dikemukakan oleh Capra ( 1996)
dalam bukunya "The Web of Life: A New Scientific Understanding of Living Systems".
Dalam konteks kehidupan masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan, masyarakat
atau negara yang sedang berkembang dihadapkan pada tantangan-tantangan besar yang mesti
dihadapi secara seksama. Tantangan penting pertama yang hams dihadapi adalah globalisasi
dengan berbagai produk atau jiwa ikutannya yaitu antara lain ilmu pengetahuan, teknologi,
infonnasi, media, ekonomi, dan kekuasaan politik yang masuk bagai belitan gurita ke dalam
berbagai sendi kehidupan masyarakat. Globalisasi diasumsikan sebagai peng-amh yang tak bisa
dicegah, dan kemudian diterima sebagai suatu pandangan yang sah yang hams diterima; sesuatu
yang, sesungguhnya, merupakan mistifikasi dari kesadaran budaya menjadi ideologi. Tantangan
ini lebih bersi fat tantangan dari luar. Tantangan penting yang kedua bagi masyarakat yang
memiliki sejarah yang panjang, yang juga terdiri dari aneka ragam masyarakat etnik dan bangsa,
dan aneka ragam budaya sebagai warisan dan sekaligus strategi dasar untuk mengembangkan
kehidupan, adalah menemukan dan membentuk identitasnya sendiri sebagai sarana untuk meraih
tujuan dan masa depan yang dicitacitakan. Tantangan kedua lebih bersifat tantangan dari dalam.
Kedua tantangan itu dalam kehidupan nyata, sating berkait berkelindan, dan bahkan dalam
berbagai hal seringkali salah satunya mendominasi yang lainnya, yang berdampak pada
pelestarian, peningkatan, dan penurunan kuantitas dan kualitas lingkungan hidup.
Bidang pendidikan kini dihadapkan pada tantangan-tantangan itu. Tantangan-tantangan
itu te!ah merangsang tum-buhnya paradigma-paradigma baru, yang akan menjadi jiwa dari
pendidikan itu sendiri. Yang pertama diperlukan usaha untuk menumbuhkembangkan wawasan
yang lebih luas dan kreatif untuk mengatasinya, dan yang kedua diperlukan landasan mental atau
karakter yang kuat dalam mencapai tujuan yang berimplikasi pada pemenuhan kebutuhan
akademik dan kebu-tuhan nyata masyarakat. Berkaitan dengan masalah yang hendak dibahas
dalam tulisan ini, dalam hubungannya dengan Pendidikan Seni, muncul pertanyaan: Bagaimana
pendidikan sem dapat memainkan peranannya atau dapat menjadi landasan bagi pendidikan
karakter?
Tulisan ini tdiak berpretensi untuk menjawab pertanyaan itu secara menyeluruh, tuntas,
dan mendalam, melainkan untuk mengajak dan menengok kembali dan merefleksi posisi dan
peranan pendidikan sem, kemudian mencoba menegaskannya (sebagai sebuah paradigma) dalam
konteks perubahan-perubahan yang sedang berlaku. Pembahasan akan dilakukan dengan
meletakkan permasalahan dalam konteks kebudayaan. Kebudayaan dalam tulisan ini dipandang
sebagai keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh manusia
sebagai makhluk sosial. Kebudayaan berfungsi sebagai pedoman hidup, yang berupa blueprint
atau desain menyeluruh, bagi kehidupan warga masyarakat pendukungnya.
Kebudayaan juga dapat dipandang sebagai sistem simbol dan pemberian makna yang
ditransmisikan melalui kodekode simbolik, yang berfungsi sebagai strategi adaptif bagi
pelestarian dan pengembangan kehidupan dalam upaya menyesuaikan dan menyerap sumber
daya lingkungan yang dihadapinya. (lihat Geertz, 1972; Suparlan, 1984; Rohidi, 2001).
Secara ringkas, uraian dalam tulisan m1 mencakup pembahasan tentang pendidikan
dalam konteks kebudayaan, seni dan pendidikan seni sebagai sarana pendidikan yang berfungsi
sebagai penyeimbang nilai kemanusiaan, pendidikan karakter, dan peran pendidikan seni
sebagai pendidikan karakter.
Pendidikan berlangsung dalam berbagai sifatnya. Pendidikan dapat berlaku sacara formal,
yaitu ketika dilaksanakan secara teratur, terstruktur, dan terancang dalam jangka masa tertentu
secara bertahap. Pendidikan formal umumnya berlaku di sekolah, walaupun juga dapat berlaku di
rumah dan di masyarakat. Pendidikan berlaku juga secara nonformal. Pendidikan nonformal
biasanya diselenggarakan di lingkungan masyarakat, berlangsung bagi pencapaian suatu
kemahiran tertentu, dan lazimnya dirancang dalam jangka waktu yang singkat. Pendidikan
nonformal umumnya dilaksanakan di kalangan mesyarakat, walaupun mungkin saja dilakukan di
sekolah atau di dalam keluarga. Jenis pendidikan yang lain, yang ditentukan karena sifatnya,
yaitu pendidikan informal. Pendidikan informal ialah segala sesuatu aktivitas, yang melibatkan
dua atau lebih individu, yang tak terancang namun justru berdampak pada perubahan perilaku.
Pendidikan informal berlaku sebagai sebuah peristiwa, baik disadari maupun tidak disadari, lebih
membentuk perilaku-perilaku tertentu. Keteladan-an adalah peristiwa yang dapat menjadi contoh
yang baik dari pendidikan formal.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan dapat berlaku di berbagai tempat
dan dalam berbagai sifatnya. Pendidikan berlangsung sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan masyarakat dan kebudayaannya secara menyeluruh. Oleh karena itu, seyogianya
dipahami bahwa pendidikan merupakan refleksi dari masyarakat atau bangsa yang tersurat dan
tersirat dalam seluruh perancangan dan pelaksanaan pendidikan yang diselenggarakan.
2. Seni dan Pendidikan Seni
Pendidikan seni adalah upaya pendidikan dengan menggunakan seni sebagai medianya.
Pendidikan seni merupakan bagian penting dalam sistem pendidikan secara menyeluruh. Pen-
didikan seni merupakan unsur yang strategis dan fungsional bagi upaya pemuliaan kemanusiaan.
Ini semua bekaitan dengan sifat-sifat yang melekat pada seni. Seni bersifat irnajinatif
Sifat imajinatif merangsang orang yang terlibat di dalamnya untuk mengkombinasikan berbagai
perasaan yang ada dengan realitas yang diabstraksikan dalam suatu komunikasi yang memberi
kenikrnatan estetik. Kenikrnatan estetik itu tersusun dan diperoleh dalam cara yang sangat tidak
diduga, baik sadar maupun tidak sadar. Kenikrnatan estetik tidak tunduk pada "aturan kepastian
mutlak", karena kenikrnatan itu bukan realitas; seni bukan realitas. Dunia seni adalah dunia
imajinasi, dan dunia imajinasi adalah dunia mimpi dari permainan mental yang tidak ada
batasnya.
Seni seringkali dibandingkan dengan suatu permainan,; memang kedua kegiatan itu
sangat erat berkaitan. Ketika kita bermain, sama dengan jika kita menikrnati karya seni. Kita
menjalani suatu kehidupan imajiner yaitu suatu kehidupan yang akan kehilangan daya tariknya
seandainya tidak ada bedanya dengan kehidupan nyata. Imajinasilah yang membuat suatu
permainan menjadi sangat menarik. Permainan dan seni memungkinkan kita hidup di dunia
khayal. Kombinasi berbagai khayalan inilah yang membentuk kenikmatan permainan dan
kenikmatan seni. Alam tidak pemah ditiru secara membabi-buta. Konsekuensinya imajinasilah
yang mentransformasikan alam, dan menentukan keindahannya melalui kesan dan emosi
tertentu yang ditimbulkannya (sui generis ).
Seni adalah suatu permainan, keduanya merupakan bagian dari kehidupan. Manusia
tidak dapat bekerja sepanjang masa., karena manusia pun tidak akan mampu melakukannya.
Konsentrasii energi semata-mata untuk mencapai suatu tujuan saja adalah sesuatu yang hampir
abnormal dan tidak bisa bertahan lama. Kerja keras harus diimbangi dengan kesantaian. Di sini,
seni sebagai permainan mempunyai signifikansinya. Permainan dalam bentk seni adalah
permainan yang menjanjikan karakter tahap tinggi, menyiratkan suatu sikap tanpa pamrih,
mandiri, menjaga jarak dari kepentingankepentingan material yang terlalu kasar, dan memberi
warna spiritual tertentu terhadap perasaan-perasaan dan hasrat kita.
Dari uraian di atas, kernudian dapat dilihat relevansi seni sebagai media untuk
pengernbangan kreativitas. Sifat irnajinatif dan permainan yang rnelekat dalarn seni rnenegaskan
suatu kebebasan berkhayal dan dalam bentuk pengungkapannya. Disiplin seni adalah disiplin
yang "membebaskan", disiplin yang senantiasa lebih baik daripada tidak disiplin dan/atau
disiplin ketat tanpa hat( nurani. Itulah sebabnya rnengapa pendidikan seni ditempatkan sebagai
bagian yang tak terpisahkan dalam pendidikan secara umum. Pendidikan seni adalah pendidikan
yang akan membawa kebanggaan dan keagungan jasmaniah dan rohaniah, dan oleh karena itu
seni seharusnya menjadi dasar pendidikan; that art should be the basis of education, demikian
kata Herbert Read (1970) mengutip tesis Plato, pernikir Yunani Klasik, berabad-abad yang lalu.
Di dalam pendidikan umum, yaitu proses pendidikan yang diselenggarakan di sekolah
rendah dan sekolah menengah, pendidikan seni mempakan bagian yang bukan hanya bisa ada,
melainkan harus ada. Pendidikan seni fungsional bagi menjaga keseimbangan dalam upaya
mencapai tujuan pen-didikan. Pendidikan sem memberikan keseimbangan manu-siawi bagi
pendidikan logis-rasional, etik-moral, dengan menekankan pada pendidikan estetik-emosional.
Pendidikan seni menawarkan aktivitas yang memberi peluang untuk memandang persoalan
secara multi perspektif. Dengan melalui aktivitas sem ditawarkan dirnensi-dimensi makna yang
barn. Seni memberikan suatu epistemologi pilihan lain suatu cara memaharni yang
mentransenden bentuk-bentuk pengetahuan yang deklaratif. Dengan seni sebagai cara,
seseorang didorong untuk melihat dan mendengar, menerobos lapisan permukaan "apa yang
terlihat dan terdengar". Dengan seni kita disadarkan dari penampilan satu dirnensi kehidupan
yang membelenggu alam pikiran kita. Seni akan bersifat transformatif ketika diterapkan dalam
pendidikan.
3. Pendidikan Karakter
Istilah karakter merupakan istilah yang lebih dekat ke ranah psikologis, yang kemudian
disorotbesarkan ke dalam ranah kebudayaan ketika posisi dan potensinya dipandang menjadi
bagian penting bagi menumbuhkan ketahanan bangsa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
membangun orientasi nilai budaya ke arah yang lebih unggul.
Dalam perspektif managemen dijelaskan bahwa keberhasilan seseorang lazimnya
disebabkan oleh tiga hal, yaitu: (1) Pengetahuan (knowledge). Pengetahuan adalah koleksi teori,
konsep, dan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Pengetahuan terutama diperoleh dari
bangku pendidikan formal dan juga pengetahuan teknis yang diperoleh melalui pekerjaan; (2)
Keterampilan (skill), yaitu kemampuan praktis yang dikuasai seseorang. Keterampilan adalah
kemampuan praktek seseorang dalam mengoperasionalkan pengetahuan yang dimiliki; (3) Sikap
(attitude) adalah semangat, tabiat, watak, kejujuran, kerja keras, kesungguhan. Sikap merupakan
potensi kepribadian yang paling erat hubungannya dengan karakter.
Namun demikian perlu dijelaskan bahwa karakter terefleksikan dalam penampilan
kepribadian seseorang secara menyeluruh. Secara nyata karakter dapat dideteksi melalui
perbuatan seseorang ketika berinteraksi dengan lingkun&_an sosial dan alam fisiknya. Artinya,
karakter dapat dideteksi dari tindakan sebagai bentuk perilaku yang merefleksikan pengetahuan,
kemahiran, dan sikap-ketika berinteraksi dalam suatu peristiwa tertentu. Dalam hal ini, sikap
menjadi landasan utama bagi munculnya karakter yang unggul.
Berkaitan dengan karakter bangsa, De Vos ( 1998) mengemukakan bahwa istilah ini
digunakan untuk menggambarkan ciri-ciri kepribadian yang tetap dan gaya hidup yang khas pada
warga masyarakat bangsa tertentu. Karena terkait dengan masalah kepribadian yang merupakan
bagian dari aspek kejiwaaan, maka diakui oleh De Vos bahwa dalam konteks perilaku karakter
bangsa dianggap sebagai istilah yang abstrak yang terikat oleh aspek budaya dan termasuk dalam
mekanisme psikologis yang menjadi karakteristik masyarakat tertentu.
Dalam konteks kebudayaan, orientasi nilai-nilai budaya yang dapat menunjukkan
karakter kepribadian maupun karakter bangsa, dapat dilihat melalui lima masalah pokok yang
dihadapi oleh manusia dalam kehidupannya. Lima masalah pokok tersebut dihadapi dengan cara
menentukan sikap tertentu dalam pola tindakannya. Cara bagaimana kebudayaan memberi
pedoman kepada manusia untuk mengungkapkan konsepsi masalah pokok dalam kehidupannya
mencakup: hubungan manus1a dengan hidup (MH); manusia dengan karya atau kerja (MK);
manusia dengan waktu (MW); manusia dengan alam (MA); manusia dengan manusia atau
sesamanya (MM).
Sudah hampir 40 tahun yang lalu Koentjaraningrat (1974) mengingatkan kita tentang
karakter yang diperlukan untuk pembangunan bangsa Indonesia. Koentjaraningrat menyebutnya
sebagai mentalitas pembangunan (lihat juga Seminar UPI, 1970) yang mencakup: (1) berusaha,
bekerja dan menghemat, (2) memiliki nilai-nilai budaya yang berorientasi ke masa depan, (3)
memiliki hasrat eksplorasi lingkungan dan kekuatan alam, (4) menilai tinggi hasil dari kerja atau
karya manusia, dan (5) menilai tinggi orang yang berhasil atas upaya sendiri.
Mentalitas pembangunan tersebut dirumuskan untuk memberi solusi -berupa orientasi
nilai budaya-terhadap kegamangan masyarakat bangsa Indonesia dalam melihat dan menentukan
posisi dirinya ketika berhadapan dengan masalah: hakikat hidup (MH) -hidup itu buruk, hidup itu
baik, hidup itu buruk tetapi dapat diperbaiki; hakikat karya (MK) -karya untuk hidup, karya
untuk pos1s1, karya untuk menambah karya; persepsi waktu (MW) -masa kini, masa lalu, masa
depan; pandangan alam (MA) -tunduk pada alam, selaras alam, hasrat menguasai alam, dan;
hubungan manusia dengan sesamanya (MM) -ketergantungan pada sesama, ketergantungan pada
tokoh atasan, menilai tinggi upaya sendiri.
Nilai-nilai abstrak tersebut telah dicoba dioperasionalkan melalui pranata pendidikan
oleh Cronbach (1997). la menyatakan bahwa karakter sebagai aspek kepribadian terbentuk oleh
kebiasaan dan gagasan sebagai suatu kesatuan yang berkaitan erat satu dengan yang lain. Untuk
membentuk karakter, menurutnya, perlu melakukan reorgamsas1 terhadap kepribadian secara
menyeluruh yang mencakup aspek keyakinan, perasaan, dan tindakan. Dalam hal ini, pendidikan
sebagai upaya rekonstruksi dan reorganisasi kepribadian menjadi penting dan bermakna dalam
membangun mentalitas atau karakter warga masyarakat sebagai waga bangsa.
Dan, dalam kaitan ini pula, perlu ditegaskan bahwa pendidikan seni memiliki posisi dan
peran yang sangat strategis dalam membantu merekonstruksi dan mereorganisasi kepribadian
individu ke arah yang lebih kreatif, inovatif, bertanggung jawab, disiplin, jujur, terbuka, tekun,
dan apresiatif,
4. Kesimpulan
Pendidikan seni, yaitu pendidikan dengan menggunakan seni sebagai medianya,
menyimpan potensi nilai-nilai positif sebagai pendidikan karakter. Melaluinya dapat dilestarikan
dan dikembangkan sistem nilai yang unggul, seperti yang terkandung dalam kebudayaan, baik
yang bersifat estetik, simbolik, maupun kreatif. Dari berbagai bidang pengajaran, antara lain
pendidikan senilah yang dipandang sesuai atau strategis bagi penerapan atau pelaksanaan
harapanharapan yang bersifat budaya ini. Melaluinya, karakt.er bangsa dapat ditumbuh-
kembangkan atau dibangun menjadi modal budaya.
Pertama, sangat penting untuk mengubah pemahaman pendidikan seni -sebagai mata
pelajaran atau pun sebagai bagian dari pendidikan saja-- menjadi suatu pemahaman
paradigmatik. Pandangan yang bersifat paradigmatik ini menduduki posisi yang esensial,
terutama jika dipandang sebagai suatu gugusan sistem, konsep, teori, kaidah, dan cara
pendekatan yang mendasari arah dan memandu sikap dalam mengerjakan atau mengamalkan
sesuatu yang patut dipilih dengan sikap dan komitmen bagi pengembangan ilmu pengetahuan
dan membangun manusia (lihat Kuhn, I 970).
Paradigma yang tepat dan sesuai dengan sifat-sifat seni dan pendidikan seni adalah
budaya. Paradigma budaya merupakan suatu sistem keyakinan sebagai sudut atau cara
memandang dan sekaligus cara bagi menganalisis dan mengaudit perancangan, proses
pelaksanaan, dan keberhasilan pendidikan seni. Dalam paradigma budaya, pendidikan seni
dipandang, dianalisis, dan diaudit sebagai suatu sistem yang menyeluruh, yang unsur-unsumya
terkait satu dengan yang lainnya, manusia (peserta didikan dan pendidik) dan lingkungannya
dalam jagat kecil dan jagat besamya. Pandangan ini menempatkan manusia dan nilai-nilainya
sebagai pusatnya, dalam kaitan dengan unsur-unsur lainnya yang secara fungsi-onal membentuk
jaringan lokal kehidupannya, tetapi bersangkut-paut dengan jaringan dunia dan jagat semesta.
Artinya, jaringan kehidupan lokal sebagai suatu sistem kehidupan merupakan bagian dari
jaringan kehidupan manusia secara menyeluruh; dan demikian pula sebaliknya.
Pendidikan seni sudah selayaknya diarahkan untuk memproduksi diri sendiri dengan
muatan karakter yang kuat yang sekaligus juga mendasari pengem-bangan aspek kemanusiaan
sebagai human agency. Para pelaksana pendidikan (guru dan murid) bukan hanya bertindak
sebagai penerima saja, melainkan sebagai sumber atau sebagai pusat yang semakin menunjukkan
dinarnika suatu bentuk pendidikan. Para pelaksana pendidikan ibaratnya masuk ke dalam
permainan, sebagai pemain, pemerhati, penganalisis, pengaudit, dan di sinilah, atau semacam
itulah, seni menjadi fungsional dalam pendidikan. Pendidikan tidak semata-mata mengilmiahkan
pendidikan, tetapi sangat perlu pula untuk "menyenikan pendidikan"; suatu proses pembinaan
karakter secara halus, estetik, simbolik, dan kreatif.
C. Memosisikan Pendidikan Seni sebagai Bidang Kajian dalam Peta Ilmu Pengetahuan
Bahasan Paradigmatik dalam rangka menyusun Standar Kompetensi Kependidikan Seni
Rupa dan Desain
1. Pengantar
Tulisan ini berupaya menjelaskan posisi pendidikan seni sebagai bidang kajian dalam peta
ilrnu pengetahuan pada umumnya, dan khususnya dalam konteks sosio-budaya. Di dalam tulisan
ini pula dikernbangkan gagasan bahwa posisinya di dalarn ilmu pengetahuan itu akan
berirnplikasi kepada cara-cara memandang, menyelesaikan masalah baik teoretik maupun
metodologis, dan signifikansi pendidikan seni dalam kehidupan manusia. Lebih jauh lagi,
penjelasanpenjelasan itu akan diarahkan kepada jawaban atas pertanyaan: (1) bagaimana
pendidikan seni diposisikan sebagai bidang kajian, sebagai sebuah paradigrna, dalarn konteks
ilrnu pengetahuan, (2) dalarn konteks pragmatisnya, bagaimana pula standard kornpetensi yang
perlu dirumuskan bagi para lulusan yang rnenekuni bidang kajian pendidikan seni itu? Erat
berkaitan dengan hal ini adalah perkernbangan sejarah dari bidang pendidikan seni itu. Secara
tidak langsung, pembahasannya juga akan mengaitkan bidang pendidikan dan bidang seni
sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam bidang kajian "pendidikan seni". Sekalipun demikian,
akan dicoba ditegaskan dalarn tulisan ini bahwa pendidikan seni, sepatutnya, dipandang dan
dijalankan sebagai bidang kajian yang relatif mandiri, walaupun di dalarnnya di gunakan berbagai
konsep yang dianggap relevan dari berbagai bidang ilrnu yang terkait.
Tantangan yang dihadapi dalarn bidang pendidikan seni saat ini tirnbul dari berbagai
kenyataan, yaitu antara lain berkaitan dengan: ( 1) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,
dan seni, (2) perubahanperubahan lingkungan termasuk pula perubahan sosiobudaya yang
terjadi, khususnya yang berkaitan dengan pendidikan, (3) identitas budaya -yang senng
dipertanyakan-- yang senantiasa berada dalam konteks pelestarian di satu segi, dan penyesuaian
atau bahkan perubahan pada segi-segi yang lainnya, (4) kebutuhankebutuhan hidup, baik estetis
maupun simbolik, atau bahkan puia praksis yang senantiasa pula berubah akibat dari tuntutan
yang datang dari dalam (pribadi, sosial, dan budaya) maupun tekanan atau tantangan dari luar,
dan (4) upaya-upaya pembentukan dan pengembangan perilaku' yang sesuai dan kreatif untuk
menghadapi tantangan zamannya. Kenyataan-kenyataan yang dihadapi itu berkait berkelindan
satu dengan yang lain sebagai satu satuan masalah yang perlu dijawab di dalam menegaskan
posisi pendidikan seni baik secara teoretik maupun praksis dalam dunia pendidikan pada
khususnya, dan dalam peta ilmu pengetahuan pada umumnya.
Dalam kondisi semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang cenderung semakin
terbuka, temuantemuan teknologi dan dengan akses semakin mudahnya diperoleh berbagai
infmmasi yang berkaitan dengannya, maka kecenderungan sebuah bidang kajian untuk menjadi
lebih terbuka semakin lebar. Di segi yang lain asas-asas filsafati yang menyangkut aspek
ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari suatu bidang kajian (dalam hal ini: pendidikan seni)
perlu diposisikan dalam tuntutan yang baru. Pendidikan seni yang selama ini lebih didefinisikan
sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan "mata pelajaran pendidikan seni di sekolah",
tampaknya sekarang harus lebih dipandang sebagai suatu "bidang kajian" dalam konteks ilmu
pengetahuan. Untuk keperluan itu, kita senantiasa dituntut untuk memeriksa dan memeriksa
kembali keberadaan pendidikan seni (sebagai sebuah fenomena yang dijadikan sasaran kajian)
dalam konteks ilmu pengetahuan dan dalam perkembangan lingkungan sosio-budayanya.
Tuntutan masyarakat, sebagai akibat dari perubahan sosio-budaya yang sedang
berlangsung, tampaknya telah memberi pula tekanan tersendiri bagi pelaksana pendidikan seni,
khususnya lernbaga-lernbaga penyelenggara pendidikan seni di tingkat perguruan tinggi.
Tuntutan itu tidak hanya berkaitan dengan dihasilkannya lulusan guru pendidikan seni yang
rnemadai kuantitas dan kualitasnya, tetapi juga perluasan keperluannya (pendidik seni di
masyarakat dalam berbagai kategorinya) dan penjenjangannya. Kini sudah sangat terasa bahwa
sudah waktunya untuk diselenggarakan program pendidikan seni setingkat program master dan
program doktor di Indonesia. Beberapa perguruan tinggi sudah berancang-ancang untuk segera
mendirikan program-program itu, dengan Universitas Negeri Semarang sebagai pelopomya yang
sejak taliun 2000/2001 sudah rnemulai pelaksanaannya.
Globalisasi sebagai sebuah peristiwa budaya yang cenderung menyatukan dunia rneiljadi
tanpa sekatan agama, politik, dan etnik, tampaknya dalam dunia kontemporer selalu mendapat
respons yang kuat dari kekuatan-kekuatan lokal yang rnenjadi ciri yang unik bagi sebuah
kelompok masyarakat untuk mengada. Tampaknya, sekalipun manusia atau masyarakat semakin
terbuka terhadap perubahan-perubahan baru yang diperkenalkan oleh kekuatan-kekuatan luar,
tetapi secara pasti pula tidak ada manusia atau kelompok masyarakat yang dengan ikhlas
melucuti sejarah atau warisan masa lalunya yang selama m1 menjadi acuan dalam kehidupannya
untuk menggantikannya dengan yang barn sama sekali. Dunia kini menjadi semacam kesatuan
tetapi di dalamnya Juga tampak noktah-noktah perbedaan, percampuran, pergesekan,
perbenturan, dialog, dan pergandengan, yang tampak sebagai untaian peristiwa alegoris; sebuah
bentuk eklektik budaya dalam satu medan bersama yang harus kita pahami bersama pula. Dunia
yang kita namakan sebagai dunia kontemporer itu, sebagai kenyataan ( atau pula kenyataan yang
dibentuk) juga memberi tantangan yang kuat bagi perancangan dan pelaksanaan pendidikan,
khususnya dalam bidang kajian pendidikan seni.
Jika pendidikan, khususnya pendidikan seni, menjadi suatu pranata pendidikan yang
merupakan acuan operasional bagi para pelaku pendidikan yang terlibat di dalamnya, maka akan
timbul dua pertanyaan pragmatis yaitu: (1) tergolong ke dalam ilmu pengetahuan apakah
pendidikan seni itu?, (2) bagaimana bidang kajian pendidikan seni dilembagakan sehingga layak
dan pantas menjadi sistem acuan norma dan peranan bagi pembangunan atau peningkatan
kehidupan manusia ke arah yang lebih bermartabat. Dari sm1 muncul pula pertanyaan yang
sangat praktis dan kontekstual dengan tuntutan masyarakat terhadap pendidikan seni, yaitu: (3)
peri laku macam apakah yang dipersyaratkan tumbuh atau wujud sebagai standard kompetensi
lulusan kependidikan seni di Negara kita_ini?
2. Seni, Pendidikan, dan Pendidikan Seni: Asumsi Ontologis
Memasuki dunia seni ibarat masuk ke dalam hutan belantara simbol yang rumit -simbol-
simbol yang jalinannya kita tenun sendiri dan sekaligus kita terjerat di dalamnya (lihat Geertz,
1973)-- yang mempesonakan walaupun tidak selalu mudah untuk memahaminya. Kerumitan
seni muncul karena sifatnya yang multidimensional, multiekspresif, dan juga multiinterpretatif.
Dalam berbagai hal refleksi mengenamya dan pemenuhan kebutuhannya bercampur baur
dengan refleksi dan pemenuhan kebutuhan lain misalnya religi, sosio-politik, ekonomi,
teknologi, ilmu pengetahuan, dan bahasa (lihat Koentjaraningrat, 1987). Namun, bagaimanapun
tidak boleh dinafikan bahwa seni senantiasa bersentuhan dengan aspek emosi atau cita rasa,
yang perwujudannya tampak dalam berbagai bentuk dan corak simbol ekspresif. Penghayatan
terhadapnya memerlukan pemahaman bersama yang berkadar kelenturan rasa.
Dalam pandangan ontologis kita selalu menghadapi dan mendekati seni sebagai bagian
yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia; masalah seni adalah masalah kemanusiaan. Kita
bisa menyimpulkan bahwa kebutuhan untuk berekspresi estetik, secara universal, bertalian erat
dengan ciri dan sifat-sifat asasi kehadiran manusia. Tidak ada masyarakat yang kita kenal yang
kebudayaannya menafikan kehadiran seni. Seni hadir dan setia menyertai kehidupan manusia
kapan pun dan di mana pun. Kenyataan pun menunjukkan bahwa cara-cara pemenuhan
kebutuhan untuk berekspresi dan berapresiasi seni itu ditentukan secara budaya, sejalan dengan
fungsi-fungsinya dalam ruang lingkup yang lebih luas, dan yang terintegrasi dengan banyak
aspek kehidupan lainnya (Rohidi, 2000).
Fakta biologis juga dapat dikemukakan sejalan dengan diketahuinya fungsi otak
manus1a yang memungkinkan berlakunya asosiasi bahasa dan emosi, atau penglihatan dan
pendengaran dengan emos1, sehingga dapat dipahami bagaimana emosi yang mendalam dapat
ditransformasikan menjadi karya-karya agung dalam seni (lihat Pope, 1984). Dari sudut biologis
jelaslah bahwa perilaku tertentu dari manusia letaknya lateral dafam otak manusia. Penegasan ini
dimaksudkan untuk lebih . memahami ekspresi manusia dalam berkarya, seperti nilai-nilai,
pengetahuan, kepercayaan, aturan-aturan, dan cara-cara berperilaku, melainkan untuk
menghargai "sebuah sajian yang lezat dengan mengetahui bahan-bahan dasarnya":
Fakta psikologis, khususnya dari perspektif psikoanalisis, dapat pula ditunjukkan
keterlibatan seseorang dengan seni. Keterlibatan itu merupakan peluang atau menJamm
eksternalisasi dorongan-dorongan naluriah bawaan untuk diakui secara budaya. Berkesenian
memberi kesempatan pada manusia untuk melepaskan dorongan-dorongan libidonya atau id
bertransformasi melalui ego. Proses transfonnasi ini dikenal sebagai sublimasi, yaitu suatu
proses yang mengarahkan energi naluriah dorongan egoistik instiktif dari tujuan-tujuan seksual
ke tujuan yang lebih lebih tinggi, seperti seni, agama, moral, dan sebagainya yang mempunyai
kemanfaatan secara sosial serta sesuai dengan kegiatan, pikiran, dan cita-cita yang disepakati
bersama (lihat Freud, 1979: 33; 1986, 33-43; Read, 1973).
Di segi lain, karya sem sebagai bentuk perwujudan fisik dari seni juga menjadi fokus
perhatian karena bentuknya yang mencakup bentuk, struktur, gaya, corak, dan prinsip-prinsip
estetika visualnya. Dalam perwujudan fisik, atau manipulasi bentuk, karya seni ini tercermin
prinsip-prinsip intraestetik suatu karya. Prinsip-prinsip intraestetik ini secara menyeluruh dan
mendalam dapat dipahami dari latar belakang dan kaitannya dengan lingkungan dan kebutuhan
estetik, serta secara empirik hanya mungkin muncul karena adanya pranata seni. Gejala yang
didefinisikan sebagai seni pada hakikatnya menunjuk ke dua arah. Arah pertama menunjuk
kepada fenomena bendawi sebagai bentuk ekspresi yang lazim disebut sebagai faktor
intraestetik; arah kedua, menunjuk kepada muatan, latar belakang, nilai-nilai, pengetahuan,
keyakinan, serta lingkungan yang turut mewarnai pewujudan karya tersebut yang lazim disebut
sebagai faktor ekstraestetik. Dalam keluasannya itu, secara tematik kehadiran seni dalam bentuk
dan coraknya terkait dengan alam kosmologi pendukungnya yang mencakup hubungan manusia
dengan dirinya sendiri, manusia lainnya, alam dan fisik lingkungannya, dengan karya dan
teknologi ciptaannya sendiri, dan dengan yang bersifat adikodrati.
Uraian di atas menunjukkan betapa sem menunjukkan, mengandungi, serta terkait dengan
berbagai faktor lain yang ikut menentukan atau mempengaruhi perwujudannya. Seni merupakan
sebuah fenomena yang rumit, yang memerlukan kajian yang lebih mendasar; menyeluruh, dan
yang memungkinkan hasil kajian dari berbagai disiplin ilmu dapat didudukkan. Pemahaman
terhadap sem memerlukan suatu wawasan yang mantap dan boleh diuji secara terbuka, yang
memungkinkan pula menjadi kerangka acuan bagi komitmen bersama dalam implementasi
instrumental, teoretik, dan metafisiknya.
Dalam kehidupan manusia, baik ketika mempertahankan diri dari ancaman terhadap
kehidupannya atau pun dalam mengembangkan kehidupannya ke arah yang lebih bermartabat,
terkandung tiga hal yang senantiasa dilakukannya, yaitu bahwa: (I) ia selalu berusaha untuk
mengalihkan nilai-nilai, keyakinan, dan pengetahuanya dari satu generasi ke generasi lainnya
nilai-nilai, pengetahuan, dan keyakinan itu dipandang sebagai suatu warisan atau tradisi sosial;
(2) nilai-nilai, pengetahuan, dan keyakinan itu dipelajari -dalam kadar tertentu ia bukan bersifat
genetik dari keadaan jasmani manusia; (3) nilai-nilai, pengetahuan, dan keyakinan itu dihayati
dan dimiliki bersama oleh anggota masyarakat pendukungnya (lihat Parsons, 1951).
Pengertian tersebut mengandung maksud bahwa proses pengalihan nilai-nilai,
pengetahuan, dan keyakinan senantiasa terwujud melalui proses pendidikan. Di sini
berlangsung adanya upaya pengalihan (oleh pendidik) dan penerimaan (oleh peserta didik)
berkenaan dengan substansi tertentu (bahan ajar) dengan tujuan agar dapat dijadikan sebagai
pedoman hidup (penghayatan dan pemilikan). Dalam pandangan ini berjayanya suatu pendidikan
bisa dipandang dari sejauh mana proses pengalihannya mampu untuk tetap mempertahankan
kesinambungan budaya dari satu generasi ke generasi lainnya. Pendidikan di sini dipandang
sebagai upaya pelestarian guna mempertahankan sifat tradisional dari nilai-nilai, pengetahuan,
dan keyakinan-keyakinan; ia berupa proses yang konservatif
Di segi lain, karena fenomena-fenomena yang ada di 'tingkungan yang dihadapi manusia
cenderung berubah, baik jenis atau macamnya, atau pula kualitas dan kuantitasnya, maka nilai-
nilai, pengetahuan, dan keyakinan-keyakinan itu juga cenderung berubah dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, pengertian pendidikan sebagai proses pengalihan nilai-nilai, pengetahuan, dan
keyakinan-keyakinan itu mempunyai dimensi yang lebih luas daripada semata-mata
pelestariannya saja. Pendidikan memang seharusnya mempunyai makna sebagai proses
pengembangan nilai, pengetahuan, dan keyakinan yang dikaitkan dengan dinamika perubahan
masyarakat dan kebudayaannya; pendidikan Juga selayaknya membawa m1s1 pembaharuan.
Mead (1972) menegaskan bahwa pendidikan menunjukkan dua fungsi utama yaitu
melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai, pengetahuan, dan keyakinan sesuai dengan
kebutuhan individu, sosial, dan budaya anggota masyarakatnya, yang hasilnya tercermin dengan
jelas dalam cara berpikir, bersikap, atau menghayati, berbicara, dan bertindak dari mereka yang
menjadi peserta didik. Dengan demikian, sesungguhnya, pendidikan dapat dipandang sebagai
suatu pranat,a sosial yang melibatkan interaksi sejumlah orang dengan mengacu pada sistem
norma dan peranan yang jelas terwujud sebagai tradisi sosial dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pendidikan sebagai kebutuhan sosial. Fungsi dari pranata ini adalah memobilisasi
sumber-sumber daya lingkungan bagi mengakomodasi kebutuhan akan pendidikan. Dalam
kehidupan sehari-hari, hasil pendidikan tersebut akan tampak sebagai perilaku anggota
masyarakat yang memungkinkan mereka memiliki kecakapan dalam memainkan peranan yang
sesuai dengan tuntutan moral, akal pikiran, dan estetika dari masyarakat yang bersangkutan, serta
memungkinkan memiliki pandangan barn yang khas terhadap diri dan kehidupan lingkungannya.
Pendidikan dapat berlangsung di berbagai tempat, situasi, dan juga dengan berbagai
sifatnya. Pendidikan pertama umumnya berla.ngsung di rumah, di kalangan keluarga sendiri.
Pendidikan selanjutnya dapat berlangsung di lingkungan masyarakat, di lingkungan teman
sebaya, dalam berbagai suasana yang dapat membentuk perilaku sehingga mereka yang terlibat
di dalamnya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. T empat pendidikan yang
dianggap strategis membekali peserta didik agar dapat mengekalkan dan mengembangkan nilai-
nilai, pengetahuan, dan keyakinan yang dipandang positif oleh masyarakat dan bangsanya, dan
dalam rangka menghadapi masa depan yang penuh dengan tantangan dan yang senantiasa
berubah itu adalah: sekolah.
Sekolah merupakan tempat berlangsungnya proses pendidikan yang dirancang secara
formal (walaupun secara tidak langsung juga terjadi proses pendidikan informal dan nonfonnal
di dalamnya), dengan kurikulum dan tujuan pencapaiannya yang diterapkan dengan ketat, yang
menjadi tumpuan seluruh kelompok masyarakat dan bangsa yang mengharapkan terwujudnya
generasi yang diharapkan. Pendidikan di sekolah adalah pendidikan yang bukan semata-mata
mencakup kegiatan belajar anak di sekolah, melainkan mencakup juga kegiatan menghayati
kehidupan kelompok untuk memantapkan dan mengembangkan suatu kebudayaan,
Sekolah, sesungguhnya merupakan sebuah institusi pendidikan, yang merupakan salah
satu daripada institusi-institusi sosial yang dimiliki oleh masyaraka.t. Fungsi institusi 1m adalah
menJamm wujudnya pengalihan pengetahuan, yang mencakup nilai-nilai dan pola-pola bagi
perilaku dari generasi yang satu ke generas1 lainnya, dan berlangsung dengan sebaikbaiknya. Ia
pula menjamin bahwa pengembangan kemahiran, kecakapan, kesadaran, atau keahlian yang
berguna bagi kehidupan masyarakat dapat dilakukan dengan produktif. Sekolah atau institusi
pendidikan tidak hanya terwujud sebagai pendidikan formal yang pengabdiannya semata-mata
diarahkan kepada tujuan persekolahan saja, melainkan pula termasuk berbagai kegiatan yang
tidak formal ( atau secara tidak langsung) yang bertujuan untuk melestarikan warisan nilai-nilai
budaya yang signifikan dari masyarakat yang bersangkutan dan pengembangan _keahlian peserta
didik baik bersifat individual maupun kelompok.
Dalam proses pendidikan di sekolah itulah dirancang suatu program (dalam bentuk
kurikulum), sebagai satuan sistem yang terdiri dari berbagai bidang program, yang berisikan
tujuan, materi, kegiatan, fasilitas, alat bantu pengajaran, penyeliaan dan evaluasinya mengenai
bagaimana suatu pendidikan harus dijalankan. Tujuan program ini secara menyeluruh adalah
untuk mengembangkan atau mengantar peserta didik ke arah kedewasaan atau kematangannya
sebagai individu, manusia sosial dan budaya. Artinya, melalui proses pendidikan di sekolah itu
diharapkan di kemudian hari peserta didik memiliki kemampuan sebagai dirinya sendiri, dan
mampu pula memainkan peranan dalam kehidupan sosialnya sesuai dengan norma-norma yang
berlaku dan memiliki martabat sebagai warga bangsa yang cakap.
Dalam konteks itulah seni diberikan sebagai materi pembelajaran di sekolah-sekolah
umum, dengan istilah yang dipadankan kepadanya: "Pendidikan Seni". Pendidikan seni adalah
pendidikan yang menggunakan seni sebagai alat atau medianya. Artinya, sebagaimana
pentingnya mata ajaran yang lainnya, pendidikan seni merupakan bagian utuh dari pelaksanaan
pendidikan yang melalui berbagai kegiatan dan proses pembelajarannya diharapkan dapat
memacu murid ke arah kedewasaannya sebagai manusia yang bermartabat. Dengan pendidikan
seni diharapkan tercapai martabat yang utuh dan luhur, yaitu dengan cara memberi perlakuan
yang merangsang kepekaan estetik peserta didik.
Dengan demikian, perkara pendidikan seni dalam konteks hubungan seni dan pendidikan,
atau sebaliknya, dapat diringkas sebagai berikut. Pembicaraan mengenai sem sebagai media
pendidikan, setidak-tidaknya, mengacu ke dua arah. Pertama, seni dapat dipandang sebagai
bahan, alat dan media, serta metode yang tercakup dalam mata pelajaran pendidikan seni. Kedua,
ia dapat dipandang sebagai metode dalam rangka "menyenikan" (proses memberikan
keseimbangan estetik, kreatif, ekspresif, dan apresiatif) terhadap program pendidikan yang
rasionalistik yang sangat kuat tampak pada mata pelajaran lainnya.
Dalam kaitan inilah, program pendidikan (berupa jurusan atau program studi) di tingkat
pendidikan tinggi menyelenggarakan program pendidikan seni dengan tujuan utamanya adalah
menciptakan tenaga-tenaga terdidik di bidang mt. Penyelenggaraan program pendidikan seni di
lembaga pendidikan tinggi ini pulalah yang hendak dibahas dalam tulisan ini, khususnya dalam
mempertanyakan, memahami, dan menjelaskan keberadaannya saat ini, dalam konteks
kebutuhan akan tenaga terdidiknya yang semakin meluas secara kategoris dan meningkat secara
berjenjang dan dalam konteks ilmu pengetahuan dan perkembangannya saat ini.
3. Pendidikan Seni dalam Peta Ilmu Pengetahuan: Asumsi dan Fakta Epistemologis
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segala sesuatu yang kita ketahui tentang objek
tertentu, sedangkan yang dimaksudkan dengan ilmu pengetahuan adalah rangkaian prinsip dan
argumen yang disusun secara sistematik. Demikian, lebih kurangnya, definisi ringkasnya. Ilmu
pengetahuan merupakan bentuk pemikiran yang sistematik di mana suatu teori dirumuskan
melalui proses pengkajian yang kritis dengan tujuan untuk memperoleh pengertian yang
semakin objektif.
Ilmu pengetahuan dalam gans kontinuumnya secara konvensional sering dibedakan ke
dalam tiga bidang, yaitu ilmu pengetahuan alam (natural science) di satu ujung, ilmu
pengetahuan sosial (social science) di tengah-tengah, dan ilmu pengetahuan budaya ( cultural
science) di ujung yang lain (lihat van Peursen,). Kutub ilmu yang secara asasi bertolak belakang
paradigmanya adalah ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan budaya. Sekalipun
pembagian seperti ini dapat pula mendatangkan persoalan-persoalan baru (atau belum juga
terselesaikan), baik dari segi filsafat maupun aspek empirikalnya, namun sebagai ancang-ancang
untuk membahas posisi pendidikan sem dalam ilmu pengetahuan tampaknya hal ini perlu
dikemukakan sebagai dasar pertimbangannya.
Ilmu pengetahuan alam berupaya untuk menemukan hukum alam sebagai penyebab
yang menimbulkan kehadiran suatu feno_mena tertentu. Sekali hukum itu ditemukan, ia
dianggap berlaku secara universal. Melalui hukum-hukum itu suatu fenomena alam terjelaskan.
Dalam proses pengkajian terhadap alam, pengamat atau pengkaji berada di luar objek
pengamatannya subjek terpisah secara tajam dari objeknya. Ilmu pengetahuan alam berangkat
dari pandangan yang mendasarkan tujuan pengkajiannya terhadap "fenomena-fenomena alam"
sebagai upaya untuk menemukan dan mengungkapkan hukum-hukum yang merupakan hakikat
dari hubungan-hubungan di antara fenomena-fenomena alam tersebut. Tujuan yang ingin dicapai
adalah pemecahan masalah dari "teka-teki" yang terwjud di dalam, dan dari, hubungan di antara
fenomena-fenomena alam yang dikaji. Objek dalam hal ini, ditampilkan menurut kategori angka,
jumlah, ruang, waktu, dan kepadatan yang dapat diukur (lihat pula Suparlan, 1999).
Sebaliknya, sebagai ancangan yang bersifat ideografis, ilmu pengetahuan budaya tidak
berupaya menemukan hukum-hukum yang tidak dapat diubah-ubah oleh manusia, melainkan
yang hendak diketahui adalah faktor-faktor apa dalam diri manusia, baik sebagai makhluk
individual maupun sebagai makhluk sosial, yang mendorongnya berperilaku menurut pola-pola
tertentu. Karena dalam hal ini "objek" adalah manusia seperti halnya dengan "subjek" yang juga
manusia, tetapi yang bertindak sebagai pengamat dengan memiliki kehidupan "dalam dirinya"
pula, maka akan lebih sesuai jika upaya memperoleh pengetahuan berlangsung melalui empati
dan simpati. Empati dan simpati adalah proses pemahaman (verstehen) yang berusaha
menempatkan subjek seakan-akan berada dalani kondisi . "objek"- nya, dan memandang dunia
sekeliling dari sudut penglihatan "objek" itu. Ancangan ideografis berfokus pada yang individual,
yang unik pada manusia. Keunikan ini diberlakukan pula terhadap kelompok sosial atati
masyarakat yang danggap sebagai kesatuan khas melalui kebudayaannya (lihat pula
Masinambouw, 1998).
Masing-masing bidang ilmu pengetahuan dapat dibagi lagi ke dalam disiplin-disiplin
yang berbeda. Misalnya, secara umum, dapat dikemukakan antara lain fisika, kimia, astronorni,
botani, biologi, dan ilmu-ilmu yang berobjek benda atau bukan manusia digolongkan ke dalam
ilmu pengetahuan alam. Psikologi, sosiologi, politik, komunikasi, dan antropologi dapat
digolongkan ke dalam ilmu pengetahuan sosial, sedangkan susastera, sejarah, filsafat, filologi,
dan ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan kemanusiaan dapat digolongkan ke dalam ilmu
pengetahuan budaya. Penggolongan-penggolongan untuk masing-masing bidang ilrnu itu juga
mengandung risiko rnunculnya perbedaan pendapat, khususnya bidang-bidang yang sekaligus
dapat digolongkan baik ke dalam ilmu pengetahuan budaya rnaupun ilrnu pengetahuan sosial.
Perbedaan dan persarnaan itu terjadi berkaitan dengan bagaimana suatu fenornena didefinisikan
secara teoretik, dan bagaimana penentuan itu berpengaruh terhadap kedudukan bidang ilrnu
pengetahuan yang berkepentingan untuk mengembangkan dan menerapkan konsepnya masing-
masing.
Perbedaan masing-rnasing bidang ilmu pengetahuan tersebut juga disebabkan oleh
adanya perbedaan asasi dalam paradigmanya. Paradigma pada masing-masing disiplin ilmu
pengetahuan tersebut didukung oleh teori dan konsep, metodologi atau pendekatan dan prinsip-
prinsip yang digunakan dalam kegiatan ilmiahnya. Dengan demikian, konsep kunci yang
digunakan dalam pembidangan ilmu pengetahuan adalah paradigma.
Dalam pengertian secara umum paradigma dipahami sebagai suatu model yang harus
diikuti atau ditiru. Pa;adigma juga dapat diartikan sebagai suatu keyakinan yang melandasi sudut
pandang atau cara melihat dan memperlakukan fenomena-fenomena yang menjadi sasaran
kajian yang tercakup dalam ruang lingkup 'permasalahan yang menjadi fokus perhatiannya.
Kuhn (1970) menegaskan bahwa paradigma menjadi acuan bagi komuniti ilmiah tertentu, yang
isinya adalah peraturan-peraturan, metodologi, dan teori yang hams diikuti, instrumen-instrumen
yang hams digunakan, masalah-masalah yang menjadi fokus dalam kajian, dan patokan-patokan
penilaian terhadap kegiatankegiatannya.
Paradigma dapat dipandang sebagai sistem teori, metode, dan pendekatan yang asasi
dan/atau mempakan sistem keyakinan yang terwujud dalam suatu model teori, konsep, dan
metodologi yang disepakati bersama, dan digunakan oleh suatu kelompok masyarakat
(khususnya masyarakat ilmiah). Untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya dalam
sistem ilmu pengetahuan. Paradigma menduduki posisi yang utama, temtama jika dipandang
sebagai gugusan sistem, teori, konsep, metode, dan cara pendekatan yang menegaskan arah dan
memandu sikap dalam mengerjakan atau mengutamakan sesuatu; yaitu sesuatu yang layak
dipilih dengan sikap dan komitmen untuk mengembangkan ilmu penget'ahuan dan membangun
manus1a. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa dalam konteks masyarakat ilmiah,
paradigma mempakan suatu keyakinan ilmiah, yang menjadi sudut pandang anggota masyarakat
ilmiahnya, dalam rangka memahami dan memperlakukan fenomena-fenomena, kegiatan-
kegiatan penelitian, dan hasil-hasilnya.
Sernuanya itu rnenunjukkan bahwa masalah pendidikan seni (atau pendidikan seni
sebagai suatu bidang kajian) menjadi semakin kompleks dan tidak cukup mantap dikaji begitu
saja melalui salah satu disiplin dari satu bidang ilmu. Diperlukan berbagai pakar dari berbagai
bidang ilrnu untuk bersama-sama memecahkan masalah pendidikan seni melalui kajiankajian
yang dapat diuji secara cermat, akurat, mendalam, dan bisa dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Keadaan seperti m1, sesungguhnya, menunjukkan bahwa pendidikan seni
(sebagaimana juga dalarn seni) mencakup suatu wilayah kehidupan manusia yang luas. Masalah
pendidikan seni yang dihadapi sernakin meluas bagai kumparan yang masih dan tetap akan
melingkar sernakin kornpleks, yang di dalamnya tercermin keluasan kehidupan manusia.
Dalarn kondisinya seperti itu, dalam pendidikan sem terbuka peluang bagi berbagai
kajian yang dilakukan dari berbagai disiplin ilrnu secara lebih terbuka. Pendidikan seni perlu
memberi peluang bagi seluruh disiplin atau bidang ilmu untuk rnernberi sumbangannya.
Tegasnya diperlukan suatu turnpuan yang bersifat paradigmatik, yang secara teoretik dan
metodologis menyiratkan kompleksitas, keluwesan, kelonggaran, dan keterbukaan, yang dapat
disusun dalam kerangka pikiran yang sistematik dan sistemik guna rnenembus kerumitan
fenomena yang disebut "pendidikan seni" itu, yang sekaligus juga untuk menemukan jawaban
yang layak dan memadai, mendalam dan komprehensif. 4. Pendidikan Seni sebagai Bidang
Kajian: Aksiologi dan Implikasi Pragmatisnya
Dalam perancangan dan pelaksanaannya, pendidikan seni (sebagai bagian utuh dari
pendidikan secara umum) akan senantiasa terkait dengan berbagai faktor yang secara sistemik
dan terstruktur menjadi bagian integral dari kehadirannya. Faktor-faktor yang terkait itu
mencakup: (1) kebudayaan, (2) falsafah dan ideologi negara atau nasion, (3) lingkungan sosio-
budaya dan alam-fisik serta perubahan-perubahannya, (4) kebutuhan hidup individual, sosial, dan
budaya, (5) ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangannya, (6) pranata-pranata sosial
yang ada dan dapat dimanfaatkan atau dikembangkan menjadi acuan bagi pembentukan perilaku
yang diharapkan. Dalam keseluruhan kehadirannya juga, pendidikan seni secara timbal balik
bermakna bagi pendidikan secara umum di satu segi, dan seni (baik pengernbangan maupun
pelestarian -nya) di segi lainnya.
Perancangan dan pelaksanaan pendidikan sem senantiasa terkait dengan kebudayaan
yang didukung oleh rnasyarakat penyelenggara pendidikan yang bersangkutan. Pendidikan sem
memberi makna dan sekaligus diberi makna pada/oleh nilai-nilai, pengetahuan, dan keyakinan-
keyakinan yang mendasar yang menjadi pedoman bagi rnasyarakat yang bersangkutan. Melalui
pendidikan seni diharapkan tercerap atau tertanam suatu pedoman hidup bagi peserta didik.
Pedoman hidup itu di dalamnya berisikan perangkat-perangkat model kognisi, sistem simbolik
atau pemberian makna yang akan digunakan secara selektif oleh peserta didik (lulusan
pendidikan) untuk berkomunikasi, melestarikan, rnenghubungkan pengetahuan, dan bersikap
serta bertindak untuk memenuhi kebutuhan integratifnya yang berkaitan dengari pengungkapan
atau penghayatan estetiknya. Ia juga berfungsi sebagai sarana untuk menata ekspresi estetik yang
berkaitan dengan segala macarn perasaan atau emosi rnanusia yang ditransmisikan secara
historis sejak anak-anak, baik antargenerasi rnaupun intragenerasi sebaya.
Tujuan pelaksanaan pendidikan seni dalam hal ini adalah manusia sadar budaya (lihat
Winner, 1989, Masuda, 1992, Hubbard, 1969). Amerika yang tersengat oleh kemajuan Uni
Soviet (pada waktu yang lalu) di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, merasakan bahwa
kreativititas bangsanyalah yang harus dipacu agar dapat bersaing dan unggul dalam pertarungan
antarbangsa. Oleh karena itu, mereka menempatkan dan memprioritaskan pendidikan seni
sebagai pendidikan kreatif bagi masyarakatnya. Demikian pula, banyak negara yang
menempatkan pendidikan seni sebagai pendidikan kreatif; gambaran tentang manusia kreatif
yang dikemukakan itu dipandang sebagai wujud ideal untuk mendukung kemajuan bangsa (lihat
Eisner dan Ecker, 1966).
Pendidikan seni Juga menjadi pranata yang secara operasional signifikan bagi
pemenuhan dan pengembangan kebutuhan individu, sosial, dan budaya, baik secara hierarkis
maupun secara kategoris, dan menyesuaikan dengan (kondisi dan tuntutan) lingkungan sosio-
budaya dan alam fisik beserta perubahanperubahannya. Dengan demikian, di satu segi memang,
pendidikan seni fungsional bagi pemenuhan kebutuhan minat dan bakat, serta perkembangan
kepribadian anak; kemampuan bekerjasama dan menghargai orang lain; serta pula kesadaran
akan kebudayaannya sendiri dan hasrat untuk mengembangkannya sesuai dengan tuntutan
lingkungannya. Di segi yang lain, keberadaannya secara berjenjang dan kategoris juga
rnemberikan sumbangan bagi pemenuhan kebutuhan tenaga terdidik dalam pengembangan
pendidikan seni pada khususnya, serta pendidikan dan seni pada umumnya.
Secara berjenjang, di sekolah dasar dan sekolah menengah umum pendidikan seni lebih
berfungsi sebagai mata pelajaran yang diterapkan sebagai bagian dari pendidikan secara umum.
Namun demikian, di tingkat pendidikan tinggi (khususnya pendidikan tenaga kependidikan)
pendidikan seni sepatutnya lebih dipandang sebagai bidang kajian dengan konsekuensi
pengembangan dan penerapannya untuk menghasilkan tenaga profesional dan akademis. Secara
berjenjang pula sudah mulai perlu dipertimbangkan dengan seksama perancangannya sebagai
suatu pranata formal (sejalan dengan tuntutan professional dan akademisnya) yang menyeluruh
dan berjenjang dari mulai program S 1 (sarjana), S2 (magister), sampai S3 (doktor), yang pada
waktu-waktu yang lalu belum sempat terpikirkan secara tuntas.
Secara kategoris juga perlu dipertimbangkan tuntutan akan tenaga pendidikan seni yang
lebih meluas tidak hanya untuk kepentingan sekolah saja, yaitu guruguru untuk tingkatan sekolah
menengah saja (Sekolah Dasar?) melainkan juga untuk berbagai kepentingan akan pendidikan
seni di berbagai lembaga masyarakat atau luar sekolah.
5. Bidang Kajian Pendidikan Seni sebagai Kajian lnterdisiplin
Pengkajian Gray dan Pirrie ( 1996) menegaskan bahwa bidang kajian seni ( dan demikian
juga pendidikan seni /pen/) tidaklah bersifat eksklusif, sebaliknya bahkan ia menyajikan suatu
karakteristik yang bersifat eklektik: pengadopsian berbagai metode, pendekatan pada
pernerolehan informasi, pemilihan, penstrukturan, analisis, penilaian, penyajian, dan
kornunikasinya. Kecenderungan semacam ini sangat tampak dalam bidang kajian yang tergolong
ke dalam ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan budaya saat ini.
Setiap bidang kajian lazimnya melaksanakan kegiatan ilmiahnya secara ketat, dengan
cara-cara dan ciri-cirinya yang khas yang menandai bidang kajian itu, dan membedakannya
dengan bidang kajian lainnya. Perbedaan itu tampak secara mendasar ketika menentukan fakta
orttologis, kegiatan epistemologis, dan signifikansi aksiologisnya. Objek yang menjadi fakta
ontologis dalam bidang kajian tertentu secara khas ditentukan berdasarkan asas filsafatinya, yang
berkonsekuensi pada penentuan atau penciptaan teori dan metode kajian yang digunakan, serta
signifikansi yang diperolehnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dan
pengembangan kehidupan manusia secara menyeluruh pada umumnya.
Persoalannya, bagaimana mungkin paradigma yang berbeda-beda dapat menjadi satu,
atau bagaimana suatu paradigma barn sebagai suatu revolusi dapat berintegrasi dengan
paradigma lama? Dapatkah disusun sebuah metaparadigma yang dapat dijadikan landasan
ilmiah bagi mempertanyakan keabsahan pengetahuan tentang seni dan pendidikan seni?
Secara ringkas dapat dikemukakan di sini, bahwa pada dasamya penggabungan dua atau
lebih disiplindisiplin ilmiah menjadi satu yang dapat mewujudkan suatu paradigma
(metaparadigma) baru dimungkinkan kehadirannya sepanJang relevan dalam konteks
permasalahan, teori, dan metodologis yang menjadi kajiannya. Pendekatan multi disiplin dan
interdisiplin merupakan jawaban atas pertanyaan mengenai cara-cara yang terbaik dalam
mendefinisikan masalah-masalah bidang kajian semacam ini. Bukankah pendidikan seni
sebagai bidang kajian.menunjukkan dirinya, sekurangkurangnya dalam dua bentuk, yaitu:
pertama, secara tradisi berada di luar kajian yang biasa menjadi perhatian suatu disiplin ilrniah
tertentu; kedua, sebaliknya pula, pendidikan seni sering menjadi masalah kajian, atau sering
mendapat perhatian, berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Tawaran pertama adalah kajian multidisiplin. Kajian multidisiplin, sesungguhnya, adalah
kajian berbagai monodisipilin terhadap suatu masalah tertentu yang secara ontologis sudah
ditentukan wujudnya. Bidang kajian, yang menjadi perhatian kajian multidisiplin adalah bidang
yang memerlukan atau sehamsnya dikaji dari berbagai bidang ilmu. Masing-masing bidang ilmu
itu menjalankan kegiatan ilmiahnya secara ketat sesuai dengan cara-cara dan ciri-ciri disiplin
ilmunya masing-masing, yang hasilnya diharapkan dapat memberi jawaban yang lebih
menyeluruh dan mendalam.
Dengan demikian, jika bidang kajian pendidikan seni memilih bentuk kajian
multidisiplin sebagai dasardasar paradigmatiknya maka konsekuensinya adalah menggunakan
berbagai bidang ilmu secara ketat untuk memecahkan masalah-masalah yang melekat atau yang
dihadapinya. Misalnya, dari sudut antropologi mengkaji nilai-nilai, pengetahuan, dan keyakinan
serta perubahanperubahannya berkaitan dengan pelakasanaan pendidikan seni; dari sudut
sosiologi dipelajari interaksi sosial dan integrasi sosial yang terjadi dalam pelaksanaan dan
dampak pelaksanaan pendidikan seni; dari sudut psikologi dipelajari mengenai emost,
imaginasi, dan motivasi dalam pelaksanaan pernbelajaran dan pengajaran pendidikan seni; dari
sudut estetika dipelajari mengenai aspek-aspek formal, prinsip-prinsip keindahan, dan unsur-
unsur serta bentuk karya seni yang diekspresikan maupun diapresiasi oleh peserta didik; dst.
Jika kajian ini dilakukan dalam satu program maka kajian ini disebut kajian multidisiplin.
Tawaran kedua, yaitu kajian interdisiplin, dikernukakan sebagai kajian komprehensif
dengan pertimbangan praktis rnaupun teoretik. Bidang kajian pendidikan seni, sepatutnya,
dipandang sebagai bidang kajian yang senantiasa berkernbang untuk menemukan bentuknya dan
mengukuhkan dirinya sebagai suatu disiplip, berasaskan pada penghimpunan teori dan
paradigma yang lentur, luwes, dan lintas-sektoral. Dengan perkataan lain, karena pendidikan seni
sebagai bidang kajian terkompilasi dengan bidang-bidang kajian lainnya yang berbeda-beda
maka diperlukan suatu pendekatan yang bersifat interdisiplin. Untuk itu diperlukan acuan-acuan
teoretik, konseptual, dan metodologis yang terintegrasi, yang memungkinkan dibuat suatu
rekonstrnksi mengenai keseluruhannya yang dapat digunakan sebagai acuan ilmiahnya. Dengan
demikian, kajian interdisiplin mempunyai paradigmanya tersendiri yang tidak sama dengan
disiplin-disiplin induknya (bandingkan dengan kajian multidisiplin). Kajian interdisiplin
menghasilkan teori-teori yang relevan dengan, dan berguna bagi, pemecahan yang komprehensif
terhadap bidang kajian yang bersangkutan, yang belum tentu dapat dihasilkan oleh bidang-
bidang kajian yang menjadi disiplin induknya.
6. Standard Kompetensi?
Jika bidang kajian pendidikan seni sudah ditentukan asumsi ontologisnya, diposisikan
dalam peta ilmu pengetahuan, dihadapkan pada kenyataan empirik psikososio-budayanya serta
ideologi bangsa dan negaranya, dan sudah dicoba dirumuskan paradigmanya, rnaka pertanyaan
selanjutnya adalah perilaku apa yang diharapkan dapat terwujud dari pelaksanaan
pendidikannya? Atau lebih tegas lagi, kompetensi apa yang diharapkan dimiliki oleh mereka
yang telah mengikuti penyelenggaraan pendidikan pada bidang kajian pendidikan seni itu?
Tersirat juga dalam pertanyaan itu peranan pranata pendidikan yang perlu dikukuhkan untuk
menjamin kelancaran tindakan-tindakan yang diperlukan sebagai acuan bagi pembentukan
perilaku atau kompetensi yang diharapkan itu.
Kompetensi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai kemampuan, kecakapan,
kemahiran yang terwujud dalam berbagai sifat perilaku (sikap, moral, kognitif, teknis, dan
tindakan) dalam satu atau beberapa hal, yang diperoleh melalui proses belajar yang sistematik
dalam satuan waktu atau tingkatan tertentu. Dalam istilah kompetensi juga tercakup kewenangan
yang diberikan dan dihargai secara formal, yang juga menentukan kadar profesionalitas
seseorang yang diakui secara sah dan umum. Artinya, kompetensi hanya dapat diperoleh oleh
seseorang setelah mengikuti suatu program tertentu yang terancang dan terlaksana secara teratur.
Terwjudnya suatu kompetensi tertentu berkaitan erat dengan pranata-pranata yang
dirancang dan diselenggarakan untuk melahirkan orang-orang yang diharapkan memiliki
kompetensi itu. Pranata pendidikan yang clirancang dan dilaksanakan dengan baik akan memberi
suasana atau kondisi terciptanya hasil didikan yang memiliki kompetensi yang baik pula. Oleh
karena itu, seperti yang telah diuraikan di atas, pranata pendidikan seni (sebagai sebuah program
atau bidang kajian) seyogianya dirancang dengan landasan falsafati yang kokoh dalam rangka
mengukuhkan kedudukan ilmiahnya, yaitu dengan memahami dan meajelaskannya secara
terinci, menyeluruh, mendalam, dan logis, baik ditinjau dari aspek ontologis, epistemologis,
maupun aksiologisnya. Di segi yang lain, perancangan pranata pendidikan harus mengacu pada
kenyataan-kenyataan yang dihadapi yang mencakup: (a) kebudayaan dan masyarakat
penyelenggara atau pengguna hasil pendidikan yang bersangkutan, (b) kebutuhan-kebutuhan
individual, sosial, dan budaya yang harus dipenuhi yang menjadi tuntutan dasar dari individu dan
masyarakatnya, (c) lingkungan sosial-budaya dan alam-fisik yang menjadi sumber daya yang
dapat dimanfaatkan, ( d) ideologi bangsa dan negara tempat pendidikan itu diselenggarakan,
dengan memperhatikan pula nilainilai universal kemanusiaan dalam kesejagatannya, (e) ilmu
pengetahuan dan perkembangannya yang sedang berlangsung, ( e) pranata-pranata sosial yang
ada yang mampu mendukung terciptanya pranata pendidikan seni sebagai suatu sistem nom1a
dan peranan yang dipilih untuk memandu tindakan secara operasional, yang memberi peluang
terciptanya atau terwujudnya kompetensi-kompetensi yang diharapkan.
Kompetensi, oleh karena itu, mencencerminkan dua pertimbangan utamanya yaitu:
pertama, ia merefleksikan dasar-dasar keilmuan yang menjadi landasan bidang kajiannya, dan
kedua, merefleksikan tuntutan-tuntutan empirikalnya yang mencakup kemampuan
penyesuaiannya dengan ideologi negara atau bangsa, perkembangan masyarakat dan
kebudayaannya, dan perkembangan teknologi yang senantiasa berlangsung. Dalam kaitannya
dengan hal ini, sesungguhnya juga kompetensi perlu pula mencem1ikan kemampuan individual,
sosial, dan budaya seseorang dalam memahami, menafsirkan, menjelaskan, dan membina
hubungannya dengan sesamanya, dengan dirinya sendiri, alam lingkungannya, dengan yang
supranatural, dan dengan karya ciptaannya sendiri. Kompetensi tersebut perlu dirumuskan
dengan memperhatikan pula tingkat penjenjangannya, sehingga dapat ditentukan kualitas dan
sifat kemampuan yang dimiliki seseorang berdasarkan tahapan -tahapan hierarkis
pendidikan yang diperolehnya. Oleh karena itu, tentu akan berbeda (clan harus dibedakan)
lulusan pendidikan Sl (sarjana), S2 (magister), dan S3 (doktor) pada satu bidang kajian.
Khususnya, di bidang kajian pendidikan seni perlu dirancang secara seksama penjenjangan
kurikulum yang berimplikasi pada kompetensi yang harus dimiliki oleh para lulusan masing-
masing tahapan pendidikan tersebut.
Sekarang, sudah selayaknya, setiap program pendidikan seni (dengan memandangnya
sebagai bidang kajian) menyusun pranata pendidikannya secara menyeluruh, yang pada waktu-
waktu yang lampau penyelenggaraan programnya lebih terorientasi kepada program S 1. Kita
memahami, bahwa kita perlu memeriksa kembali seluruh acuan program yang sekarang ini lebih
berorientasi pada penyelenggaraan pendidikan professional menjadi lebih komprehensif dan
sistemik dengan meletakkannya dalam konteksnya yang menyeluruh. Artinya, perlu dipahami
bahwa penyelenggaraan program S1 merupakan bagian dari penyelenggaraan pendidikan secara
menyeluruh dalam satu penjenjangan yang sudah dibakukan, yaitu penjenjangan SI, S2, dan S3.
Dengan demikian, juga perlu disadari bahwa kompetensi yang diharapkan dimiliki oleh
lulusannya baik sifat maupun kualitasnya harus mencerminkan tingkatan kemampuan profesional
dan akademik yang berjenjang dari yang dasar ke arah yang lebih tinggi.
Dengan memahami permasalahan falsafati, teoretik, dan empiriknya, untuk mengakhiri
tulisan ini hendak ditegaskan bahwa penjenjangan program pendidikan seni itu sepatutnya
diletakkan pada satu garis kontinum, yang terdiri dari professional di satu titik (S 1) dan
akademik di titik yang lain (S3), dan professional dan akademik berada di tengah-tengah (S2).
Selanjutnya perbincangan operasional mengenai hal ini, atau standard kompetensi yang perlu
dirumuskan untuk masing-masing tahapan (Sl, S2, dan S3) eloklah kita bicarakan dalam seminar
dan lokakarya ini.
7. Kesimpulan
Sebagai penutup tulisan ini dikemukakan model pemikiran yang ditawarkan sebagai asas
untuk merumuskan kompetensi di bidang kajian pendidikan seni, untuk dibahas, disokong,
dikukuhkan, dikurangkan, ditambahkan, dikritik, disanggah, atau mungkin juga ada alternatif
lain yang lebih baik. Terima kasih, semoga bermanfaat.

POSISl PENDIDIKAN SENI DALAM ILMU


PENGETAHUAN
(ASAS UNTUK MERU:MUSKAN KO:MPETENSI)
D. Pendidikan Estetik: Mempertautkan Seni dan Ilmu Pengetahuan
Sangat sering kita mendengar perbedaan antara sem dan ilmu pengetahuan ( dalam
tulisan ini lebih diartikan sebagai sains ), bahkan pada umumnya kita cenderung melihat kedua
bidang ini sebagai sesuatu yang bertentangan. Orang-orang sem (seniman) dipandang berpikir
dan bertindak dengan emosi dan tidak menggunakan penalaran yang baik; sebaliknya para
ilmuwan bertindak dengan penalaran tanpa terganggu emosi. Tulisan ini mencoba
mengeksplorasi pertautan antara seni dan ilmu, dengan menunjukkan beberapa kasus
pertautannya. Secara lebih khusus lagi, melaluinya, hendak dijelaskan hubungan antara ilmu
pengetahuan sebagai penelusuran "kebenaran" yang dihadapi manusia pada masa tertentu di
satu segi, dan seni sebagai pembawa kebenaran tersebut ke dalam kenyataan "emosional"
manusia di segi yang lainnya.
Tujuannya sederhana saja; yaitu terletak pada cara menjelaskannya. Dengan demikian,
tujuan penulisan ini adalah menyampaikan suatu cara pengajaran humaniti berasaskan pada
estetika, yaitu dengan cara menggunakan tokoh-tokoh yang dipilih sebagai penjelasan yang
saling melengkapi khususnya yang menunjukkan keseimbangan sensual dan rasional. Titik
pandang khususnya adalah argumentasi berikut: jika pengajaran humaniti diikat secara
paedagogis pada seni, dan juga ilmu pengetahuan, dan juga disiplin-disiplin lainnya, maka
akan mewujudkan kurikulum dalam sebuah bentuk yang integral, sehingga mampu memberi
sumbangan bagi pendidikan siswa secara menyeluruh: fisik, intelektual, moral, dan spiritual.
1. Seni dan Ilmu Pengetahuan
Seni adalah dunia misteri: suatu belantara tempat bersemayamnya imaginasi, ruang bagi
emosi, dan relung-relung terdalam dan tergelap dari kehidupan manusia. Seni merupakan ruang
bagi bersemayamnya "pikiran dan rasa", keheningan, dan abstraksi. Seni menjadi bagian dari
kehidupan manusia, baik secara individual, sosial, maupun budaya yang menunjukkan
kesejagatan di satu segi, dan kemajemukan di segi lainnya.
Dalam keanekaragamannya, perwujudan sem sering dikaitkan dengan penggunaan
prinsip-prinsip dan simbol-simbol. Penggunaan simbol dalam sem merupakan bentuk ekspresi
yang bermuatan isi sebagai substansi ekspresi yang merujuk pada berbagai tema, interpretasi,dan
pengalaman hidup tertentu. Yang pertama, karya seni berisikan pesan dalam idiom komunikasi,
dan kedua merangsang semacam perasaan misteri; suatu perasaan yang lebih dalam dan
kompleks daripada apa yang tampak dari luar dalam koteks pemikiran rasional. Simbol-simbol
sem adalah simbol ekspresif yang berkaitan dengan perasaan dan emosi manusia.
Ilmu pengetahuan adalah rangkaian prinsip dan argumentasi yang. disusun secara
sistematik. Ilmu pengetahuan merupakan bentuk pemikiran yang sistematik, yang di dalamnya
suatu teori dirumuskan melalui proses pengkajian yang kritis dengan tujuan untuk memperoleh
pengertian yang semakin objektif. Ilmu pengetahuan, sesungguhnya, adalah pengetahuan yang
cara memperolehnya harus rnemenuhi syarat tertentu. Syarat yang harus dipenuhi agar
pengetahuan dapat rnenjadi ilmu pengetahuan terletak dalam metode ilrniah; metode ilmiah
adalah cara-cara yang dilakukan ilrnu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Yang bertumpu
pada fenomena nyata. Pernahaman dan penjelasan dalam ilmu pengetahuan didasarkan pada
pikiran dan penalaran kognitif. Oleh karena itu, simbolsimbol yang digunakan adalah . simbol
kognitif atau representatif. Simbol-simbol ilmu pengetahuan dipahami relatif tunggal.
Pemahaman terhadap ilmu pengetahuan bersifat paradigmatik, yaitu paradigma yang menjadi
sistem keyakinan berpikir para ilmuwan yang mendulcungnya dalam memecahkan masalah
nyata. Penafsiran yang muncul dalam ilmu pengetahuan didasarkan atas penggunaan paradigma
secara ketat dan konsisten berdasarkan pada penalaran logis dan lebih bersifat induktif.
2. Pertautan Seni dan Ilmu Pengetahuan
Leo Tolstoy dalam tulisannya "What 1s Art" mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan
seni memiliki
kaitan yang erat seperti jantung dan hati pada tubuh manus1a. Jika organ yang satu mengalami
gangguan maka organ Iainnya tidak akan berfungsi dengan baik. Ilrnu pengetahuan menelusuri
dan rnernbawa ke dalam persepsi rnanusia kebenaran dan pengetahuan pada masa tertentu dan
masyarakat mempertimbangkannya sebagai hal yang amat penting. Seni rnengalihkan kebenaran
tersebut dari wilayah persepsi ke dalam wilayah emosi.
Betapa eratnya pertautan sem dan ilmu pengetahuan dapat kita telusuri pada para
ilmuwan peringkat tinggi, para penemu, pemenang hadiah Nobel. J.H. van't Hoff, peraih pertama
hadiah Noble di bidang kimia, mengatakan bahwa imaginasi memainkan peranan penting baik
untuk melakukan penelitian ilmiah maupun peranannya dalam rnengernbangkan kapabilitas ini.
Kernarnpuan imaginatif juga rnelekat dengan sendirinya dalarn diri ilrnuwan terkemuka. la juga
rnenegaskan bahwa Galileo adalah seorang seniman dan Leonardo da Vinci adalah seorang
pelukis hebat. van 't Hoff sendiri mernpunyai hobi artistik yang kuat, ia rnernainkan flute dengan
baik dan menulis puisi dalam empat bahasa, membuat model dari berbagai bahan, dan suka
mengirim kartu tahun barn buatan sendiri.
Kajian statistik telah menunjukkan contoh-contoh tentang hal itu dan menegaskan bahwa
sem menyumbang dan memelihara kemampuan ilmiah para ilmuwan terkemuka. Pengkajian
biografi dan otobiografi dari semua (510 orang) pemenang hadiah Nobel (sampai tahun 2005)
dalam bidang ilmu pengetahuan dan membandingkannya dengan biografi 1634 anggota "United
Kingdom Royal Society", 1266 anggota "U.S. National Academy of Sciences", dan 4406
anggota organisasi ilmiah non-elit, "Sigma Xi", yang membuka keanggotaannya bagi setiap
praktisi keilmuan, menunjtlkkan basil sebagai berikut. Dibandingkan dengan para ilmuwan
khusus ini, peraih Nobel sekurangkurang 2 kali lebih mungkin untuk menjadi fotografer, 4 kali
lebih mungkin untuk menjadi pemusik, 17 kali lebih mungkin untuk menjadi seniman, 15 kali
lebih mungkin untuk menjadi kriyawan, 25 kali lebih mungkin untuk menjadi penulis non-
ilmiah; seperti puisi dan fiksi, 22 kali lebih mungkin menjadi seniman pertunjukan seperti aktor,
penari, atau pesulap. Kajian berikutnya tentang kinerja para pakar teknologi, yaitu para teknolog
yang memiliki kemampuan rata-rata dan para teknolog sukses, dapat diprediksi bahwa
keterlibatan dengan seni, penulisan, dan kekriyaan merupakan petunjuk bagi keberhasilan
profesional mereka (Robert dan Michele Root-Bernstein, 2010).
3. Penalaran Darwin dan Emosi Gauguin
Charles Darwin (1809-1882), seorang ilmuwan besar dalam bidang ilmu pengetahuan,
dan Paul Gauguin (1848-1903), seorang pelukis cerdas, dapat menjadi contoh untuk membahas
pertautan seni dan ilmu pengetahuan. Melalui cara-cara mereka mempertanggungjawabkan
pikiran dan perasaannya, penalaran dan emosinya, dapat dijelaskan pertautan antara seni dan
ilmu pengetahuan yang terwujud dalam pikiran dan cara bertindak yang diperolehnya melalui
proses pendidikan yang mengasah perasaan mereka.
Darwin melihat alam melalui mata penalaran. Darwin mengajak melihat alam sekeliling
kita melalui mata ilmuwan, bukan melalui mata 'rambang'. Alam menurut Darwin, dipandang
dari mata 'rambang' hanya akan menghasilkan ketiadaan hubungan, tidak tertib, tidak ada
kesatuari, tidak dapat diramal, tidak dapat dipertautkan satu sama lain, dan tidak dapat
dijelaskan, sebaliknya melalui mata ilmuwan akan terlihat alam menunjukkan keteraturan,
berkaitan, dan dalam kesatuan, dapat diramal, dipertautkan dalam kesatuannya dan dapat
dijelaskan.
Darwin, sejak muda, telah dihadapkan pada berbagai pengalaman artistik melalui
pementasan Joshua Reynolds, Wordsworth, Coleridge, Milton, Byron, Shelley, dan
Shakespeare. Ia juga mengalami keter-pesonaan dengan mendengarkan musik, melihat lukisan,
dan membaca novel, yang merupakan 'karya-karya imaginasi'. Darwin menuturkan rasa
nikmatnya ketika melihat keindahan alam yang mempesona saat tiba di alam tropik tempat
penelitiannya, yang menimbulkan kesan mendalam pada pikirannya. Darwin memperoleh rasa
pesonanya melalui penelitian sistematik terhadap alam, dengan meneropong asal-usul spesies;
selera bagi kenikmatan pikiran yang bersifat eksklusif; perhatian yang terarah, penalaran, dan
prediksi.
Darwin mengajar kita tentang ranah estetik dalam ilmu pengetahuan. Singkatnya,
penelitian Darwin 'The Origin of Species' sebagaimana karya seni juga karya ilmu pengetahuan;
di dalamnya menunjukkan baik aspek perasaan maupun intelektualitas, keindahan yang
diejawantahkan dari kenikmatan instingtif ketika berhadapan dengan alam, dan dalam waktu
yang sama, dari kenikmatan rasional dalam memandang kesatuan, keteraturan, dan dapat
dipahami.
Gauguin mendengar alam melalui mata mimpi. Mengalihkan pembahasan dari Darwin ke
Gauguin, sama dengan mengarahkan penalaran ke pengarnatan instingtif, dari fenomena atau
fakta ke misteri, dari penjelasan ke takterjelaskan, dari suara ke keheningan, dari cenderung
berubah atau perubahan ke keabadian atau takterubahkan, dari fisik ke spiritual, dari ilmu ke
mitologi dan seni, dari induksi ke deduksi, dari penalaran ke imaginasi.
Gauguin, sebagaimana juga Darwin, datang ke Samudera Selatan. Berbeda dengan
Darwin, Gauguin mendapatkan keterpesonaan dal_am keheningan dan keindahan yang
misterius dari alam tropik; 1a mengapresiasi secara instingtif hadirnya suasana sakral di tengah-
tengah alam, sebagaimana ia juga mengapresiasi ketenangan alam. Alam Samudera Selatan
merangsang Gauguin untuk bermimpi tentang irama, dari keselarasan, dari kesatuan, dari
keteraturan. Berbeda dengan kasus Darwin yang menelusurinya melalui penalaran.
Apa yang menarik perhatian dari pandangan Gauguin adalah irama, keteguhan,
ketakziman atau religiusitas, misteri orang-orang Tahiti, seperti juga aroma dan keheningan
alam yang hakiki, seakan-akan setiap hal di sekelingnya penuh keselarasan, tenteram, menjadi
bagian perasaan yang menyenangkan atau menggetirkan. Semuanya ini merupakan perasaan
yang taktergambarkan tentang ketuhanan yang memaksa Gauguin menutup mata dan bermimpi,
tanpa dimediasi oleh penalaran dan pemahaman, tentang Yang Adikodrati, Yang Misteri, dan
Yang Hening itu sendiri. Bagi Gauguin, m1mp1 itu sendiri dapat menembus sesuatu yang asali,
bukan penalaran atau logika: Tuhan tidak sernata-mata mencintai kearifan, yang berpikir
logis ... Ia juga mencintai ... yang bermimpi.
Tidak seperti Darwin, yang mengamati alam dengan perhatian penuh, Gauguin
sepenuhnya diserap, atau dibuat terpesona melalui kontemplasi alam yang hening,' ia tidak
dikaitkan dengan hukum yang mengatur alam tetapi diterpa sensas1 keheningan yang
dibangkitkan alam. Kesatuan dan harmoni bagi Darwin adalah fungsi dari logika atau penalaran,
sedangkan harmoni bagi Gauguin adalah fungsi dari mimpi, dari keheningan alam. Ketika
Gauguin rnendengarkan alarn, irnaginasinya mulai untuk melukis. Oleh karena itu, definisinya
mengenai seni adalah abstraksi. Abstrak dari alam sebagaimana kita mimpi ketika berhadapan
dengan alam.
Metafora bagi pengertian abstrak bagi Gauguin adalah 'musik lukisan', ia tidak
menggambarkan alam sebenamya, tetapi melukiskan hannoni alam melalui susunan wama,
cahaya, dan bayangan. Jika lukisan digambarkan secara realistik, menurutnya, ia bukanlah seni
abstrak karena tidak ada musikalitas di dalamnya; karya seni tersebut tidak merangsang
pemikiran. Musikalitas atau harmoni dalam lukisan bukanlah semata-mata untuk
membangkitkan pengertian seni kaum simbolis, tetapi lebih penting lagi, mengaitkannya dengan
pandangan Platonis tentang dunia yang tersusun, bertautan, atau berkaitan yang direnungkan
dalam pikiran. Oleh karena itu, wama, cahaya, dan bayangan bagi Gauguin tidak ada
hubungannya dengan wama alam, dengan cahaya dan bayangan yang terlihat. Sesungguhnya,
ham1oni dicipta oleh imaginasi, yang membuat kita berpikir secara imaginatif seperti yang
berlaku dalam musik.
Gambar 1 Lukisan Realistik Berdasarkan Teori Evolusi, (Sumber: www.teknologivirtual.com)

Gambar 2. Lukisan Imajinatif tentang Realitas, Karya


Paul Gauguin dengan Judul "Jacob Wrestling With the
Angel", Oil on Canvas, Tahun 1888. (Sumber:
http://id.aliexpress.corn/ cheap/ cheap - paul-gauguin.
html).Gambar

3. Gambar Realistik Berdasarkan


Pengamatan Saintifik (Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/ komunikasi_
hewan)

Gambar 3. Lukisan Imajinatif tentc;1ng


Realitas, Karya Paul Gaugl.lin dengan Judul
"Arearea Joyousness", Oil on Canvas, 1892.
(Sumber: ttp://id.aliexpress.com/
cheap/cheap-paul-gauguin.html).
4. Pendidikan Estetik: Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, kita dapat elihat atu titik yang menunjukkan pertautan ilmu
pengetahuan dan seni; yaitu estetik. Latar belakang para ilmuwan terkemuka menunjukkan
bahwa betapapun rasionalnya mereka, betapapun cintanya pada ilmu pengetahuan, tidak dapat
disangkal bahwa mereka juga sensitif terhadap perasaan yang sangat mendasar. Mereka
mendapat pengalaman estetik sejak masa muda, bahkan ada yang mendapatkan pada masa anak-
anak, yang menumbuhkan kemampuan imajinatif, pengelolaan emosi, dan kesadaran moral yang
tinggi. Sebagai keseimbangan bagi kemampuan penalarannya. Pendidikan yang hanya
didasarkan atas penalaran dan logika semata-mata, memungkinkan munculnya 'penderitaan
karakter moral'. Di segi lain, karya-karya, konsep-konsep, dan perenungan para seniman besar,
merefleksikan penalaran yang mendukung kepada pembaharuan pemikiran dalam memahami
alam semesta dan segala isinya. Pemikiran yang merangsang para ilmuwan untuk terns
mempertanyakan kehadiran dan signifikansi ilmu pengetahuan yang dimilikinya agar tetap
memenuhi fungsinya sebagai bentuk kegiatan yang mencerdaskan manusia.
PENUTUP
Upaya untuk mengembangkan kapasitas kreatif dan kesadaran budaya dewasa ini
merupakan upaya yang tidak mudah dan kritis, akan tetapi tidak dapat dielakkan.
Berbagai komponen dalam masyarakat perlu menyingsingkan lengan baju, baik dalam
bentuk tenaga maupun pikiran, mengantar generas1 baru agar memperoleh ilmu
pengetahuan dan kemampuan, terutama sikap dan nilai-nilai, prinsip etika, dan arah moral
untuk menjadi masyarakat dunia yang bertanggung jawab di samping menjamin masa
depan yang aman dan sejahtera. Pendidikan universal yang berkualitas tinggi merupakan
suatu kebutuhan. Pendidikan seperti itu, bagaimanapun juga, hanya berkualitas tinggi jika
dilaksanakan melalui pendidikan seni, dapat meningkatkan wawasan dan sudut pandang,
kreativitas dan initiatif, serta pandangan kritis dan kapasitas pekerjaan, yang sangat
penting bagi kehidupan untuk menghadapi abad baru ini.
akan tetapi tidak dapat dielakkan. Berbagai komponen dalam masyarakat perlu
menyingsingkan lengan baju, baik dalam bentuk tenaga maupun pikiran, mengantar generas1
baru agar memperoleh ilmu pengetahuan dan kemampuan, terutama sikap dan nilai-nilai, prinsip
etika, dan arah moral untuk menjadi masyarakat dunia yang bertanggung jawab di samping
menJamm masa depan yang aman dan sejahtera. Pendidikan universal yang berkualitas tinggi
merupakan suatu kebutuhan. Pendidikan seperti itu, bagaimanapun juga, hanya berkualitas
tinggi jika dilaksanakan melalui pendidikan seni, dapat meningkatkan wawasan dan sudut
pandang, kreativitas dan initiatif, serta pandangan kritis dan kapasitas pekerjaan, yang sangat
penting bagi kehidupan untuk menghadapi abad baru ini.
Mudah-mudahan buku ini dapat menjadi rujukan, gambaran umum, perangkat pedoman
rencangan dan tindakan dalam rangka mempromosikan pendidikan seni; dapat digunakan, dan
jika perlu diubah dan dikembangkan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan yang spesifik di
berbagai kelompok masyarakat dan kebudayaan.
Sebagai penutup buku 1m disarankan para pembacanya untuk:
(l) Metigakui bahwa pembangunan, melalui pendidikan seni, secara estetik, kreatif, dan
potensi berpikir kritis dan sesuai dengan untuk keberadaan manusia merupakan hak
setiap anak dan generasi muda.
(2) Menyadari bahwa kesadaran yang lebih tinggi perlu dipupuk sejak anak-anak dan pada
generasi muda berkaitan dengan diri-sendiri serta lingkungan alam dan kebudayaan
mereka. Demikian juga, segala hal dan benda budaya, layanan dan praktek budaya harus
menjadi tujuan dari sistem pendidikan dan kebudayaan.
(3) Mengidentifikasi peran pendidikan sem dalam mempersiapkan pemirsa dan masyarakat
umum untuk mengapresas1 sem dalam berbagai perwujudannya.
(4) Memahami berbagai tantangan keaneka-ragaman budaya dan akibat globalisasi serta
kebutuhan yang sernakin mendesak bagi pengembangan irnaginasi, kreativitas, dan
kerjasama ketika masyarakat menjadi semakin berturnpu pada ilmu pengetahuan.
(5) Menyadari bahwa di sebagian besar kelompok masyarakat, seni dalam tradisinya dan
sampai saat ini merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari dan memainkan peran
penting dalam penyebaran budaya, individu, dan komunitas.
(6) Mengakomodasi kebutuhan kelompok generas1 muda yang memerlukan ruang untuk
menjalankan aktivitas kesenian, seperti pusat kebudayaan komunitas dan museum seni.
(7) Menyesuaikan dengan tantangan yang paling rnendesak dewasa ini, yaitu kebutuhan
untuk meningkatkan kreativitas dan imaginasi dalampersamgan masyarakat antarbangsa
-pendidikan seni dalam hal ini mempunyai potensi strategis untuk menanganinya secara
efisien.
(8) Mengakui bahwa menjadi kebutuhan bagi masyarakat dewasa m1 untuk mengembangkan
pendidikan, strategi, serta. kebijakan kebudayaan yang dapat menyebarkan dan
melestarikan nilai estetik dan identitas budaya, serta juga dapat meningkatkan kesadaran
tentang keanekaragaman budaya selain membina masyarakat yang aman, maju dan
berdayatahan.
(9) Memahami bahwa di negara yang terdiri dari berbagai sukubangsa dengan kebudayaan
yang kompleks sebagai hasil dari persinggungan' akibat hubungan sosial-budaya
masyarakatnya, yang telah membentuk sumber daya manusia kreatif dalam pendidikan,
saat ini sedang menghadapi ancaman dalam berbagai bentuk masalah sosialbudaya,
ekonomi, dan lingkungan ..
(10) Menyadari peranan dan relevansi kesenian dalam proses pembelajaran, mengembangkan
kemampuan sosial dan kognitif, meningkatkan pemikiran kreatif, inovatif, serta
mengembangkan sikap dan nilai-nilai saling menghargai keberbedaan.
(11) Menyadari bahwa pendidikan sem dapat meningkatkan taraf pembelajaran dan
pengembangan kemampuan melalui strukturnya yang fleksibel, relevan untuk peserta
didik, dan kerjasama formal dan nonformal secara sistemik.
(12) Menyadari bahwa pertautan antara konsep kesenian tradisional dengan pemahaman
kontemporer dalam bentuk pembelajaran melalui kesenian dapat meningkatkan
kemampuan pembelajaran dan pengembangan kemahiran.
(13) Memahami bahwa pendidikan sem Juga dapat rnemainkan peranan penting sebagai
media terapi bagi anak-anak luar biasa atau berkebutuhan khusus, serta mereka yang
menjadi korban bencana alam dan peperangan.
(14) Memperhitungkan pendidikan seni sebagai salah satu bentuk pembinaan kesadaran
kewarganegaraan dan etika, asas untuk integrasi sosial yang dapat membantu
menyelesaikan banyak isu penting yang dihadapi masyarakat dewasa ini seperti
kejahatan dan kekejaman, buta huruf, ketidakadilan gender, kekerasan terhadap
anakanak, korupsi, dan pengangguran.

DAFTAR PUSTAKA
Alfian. 1986. Transformasi Sosial Budaya dalam Pembangunan. Jakarta: UI Press.
Alisjahbana, S. Takdir (ed.). 1983. Kreativitas. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Arieti, S. 1976. Creativity: The Magic Synthesis. New York: Basic Books. Inc.
Aronowitz, S. dan H. Horoux. 1991. Post Modern Education; Politics, Culture, and Socialism.
Minneapolis: University of Minneasota Press.
Bachtiar, H.W. 1986. "Bhinneka Tunggal Ika dalam Kebudayaan dan MasalahPersatuan
Bangsa". Dalam: analisis kebudayaan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Badcock, CR. 1987. Kegilaan dan Modernitas; Kajian dalam Psikoanalisis Sosial.
Terjemahan. Jakarta: Arcan.
Barret, M. 1982. Art Education: A Strategy for Course Design. London: Heinnemann
Educational Books. Bauman, Richard. 1992. Folklore, Cultural Pe,formance and Popular
Entertainment (A Communication Centered Handbook). New York: Oxford
University Press.
Bertens, K. 2007 Etika. Jakarta: Penerbit PT Gramedi