Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebuah bangsa yang sangat beragam, sangat heterogen, dapat dipecah belah
dengan sangat mendalam oleh agama. Elite-elite politik mengembangkan tema
kampanye dan menggunakan citra keagamaan untuk membangun koalisi yang
sebagian, didasarkan pada seruan-seruan keagamaan.
Keyakinan-keyakinan dan kelompok-kelompok keagamaan merupakan
fondasi suatu budaya. Pandangan-pandangan dunia keagamaan memberikan
makna transendental bagi dunia. Pandangan-pandangan dunia keagamaan terdiri
dari nilai-nilai yang menempatkan klaim unit terhadap kebenaran serta
merasionalisasi hubungan sosial dan tujuan masyarakat. Agama mendapatkan
kekuatan yang terus bertahan dan makna politiknya dari keyakinan bahwa yang
sakral berada di belakang norma-norma sosialnya. Emile Durkheim berpendapat
bahwa, kekuatan keagamaan hanyalah sentimen-sentimen yang diinspirasikan
oleh kelompok kepada anggotanya, tetapi diproyeksikan ke luar kesadaran yang
dialami mereka, dan dimanifestasikan. Kekuatan keagamaan bergantung pada
hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara pandangan dunia.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Agama?
2. Apa pngertian Partai Politik ?
3. Bagaimana hubungan antara Agama dan Partai Politik ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian agama dan partai politik.
2. Untuk mengetahui hubungan antara agama dengan partai politik di Indonesia.

D. Manfaat
Untuk membantu penulis dan pembaca mengetahui lebih dalam mengenai
Agama Dan Partai Politik beserta pengaruhnya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Agama

Agama dari segi Bahasa berasal dari Bahasa sansekerta, a-agama. A berarti
cara, dan gama berarti to go, yaitu berjalan atau pergi. Jadi agama merupakan cara-
cara berjalan untuk sampai pada keridhaan Tuhan. Dari sini dapat dipahami bahwa
agama merupakan jalan hidup yang harus di tempuh atau pedoman yang harus di
ikuti seseorang. Pengertian ini sejalan dengan pedoman Arab Syariah, yang secara
harfiah berarrti jalan menuju sumber mata air. Air merupakan seumber kehidupan
bagi manusia. Kata syariah digunakan dalam pengertian jalan menuju sumber
kehidupan atau jalan hidup.

Dari uraian di atas dapat di pahami bahwa agama merupakan wujud yang
berdiri sendiri dan berada di luar diri manusia. Sedangkan Agama di Indonesia
memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam
ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa. Sejumlah
agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan
budaya. Di tahun 2000, kira-kira 86,1% dari 240.271.522 penduduk Indonesia
adalah pemeluk Islam, 5,7% Protestan, 3% Katolik, 1,8% Hindu, dan 3,4%
kepercayaan lainnya.

. Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam
arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku
yang memenuhi syarat untuk disebut agama (religious). Banyak dari apa yang
berjudul agama termasuk dalam suprastruktur: agama terdiri dari tipe-tipe simbol,
citra, kepercayaan, dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk manusia
menginterpretasikan eksistensi mereka (Sanderson, Stephen K., 2011: 517).

3
Dilihat dari sudut kategori pemahaman manusia, agama memiliki dua segi
yang membedakan dalam perwujudannya, yaitu:
a. Segi kejiwaan (psychological state), yaitu suatu kondisi subjek atau kondisi
dalam jiwa manusia, berkenaan dengan apa yang dirasakan oleh penganut agama.
Kondisi inilah yang disebut dengan kondisi agama, yaitu kondisi patuh dan taat
kepada yang disembah. Kondisi itu hampir sama dengan konsep religious emotion
dari Emile Durhkeim. Emosi keagamaan seperti itu merupakan gejala individual
yang dimiliki oleh setiap penganut agama yang membuat dirinya merasa sebagai
mahluk Tuhan.
b. Segi objektif (objective state), segi luar yang disebut juga kejadian objektif,
dimensi empiris dari agama. Keadaan ini muncul ketika agama dinyatakan oleh
penganutnya dalam berbagai ekspresi, baik ekspresi teologis, ritual, maupun
persekutuan. Segi objektif ini lah yang bisa dipelajari apa adanya, dan dengan
demikian bisa dipelajari dengan metode ilmu sosial. Segi kedua ini mencakup adat
istiadat, upacara keagamaan, bangunan, tempat-tempat peribadatan, cerita yang
dikisahkan, kepercayaan, dan prinsip-prinsip yang dianut oleh suatu masyarakat.

B. Pengertian Partai Politik

Dalam perspektif sosiologi politik, partai politik merupakan kumpulan dari


kelompok orang dalam masyarakat yang berusaha untuk meraih atau
mempertahankan kekuasaan suatu pemerintahan atau negara. Adapun dalam ilmu
politik, istilah partai politik bisa disebut dengan suatu kelompok yang terorganisir
yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai, dan cita-cita yang sama.
Secara umum, tujuan di bentuknya partai politik adalah memperoleh keukasaan
politik dan merebut kedudukan politik biasanya denagan cara konstitusional untuk
melaksanakan kibujaksanaan-kebijaksanaan mereka.
Setiap kelembagaan politik, termasuk partai politik, tentunya memiliki
fungsi-fungsi politik. Hanya saja, fungsi partai politik akan berbeda-beda satu sama
lain, khususnya dalam hal pengejawantahanya, apabila dikaitkan dengan
beragamanya system politik yang dianut dan dijalankan oleh suatu negara. Namun

4
demikian secara umum, fungsi utama partai politik dimanapun adanya, adalah
mencari dan mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan progam-progam yang
disusun berdasarkan ideology tertentu.

Beberapa fungsi partai politk bagi negara berkembang:

1. Dukungan basis masa yang stabil,


2. Sarana integrase dan mobilisasi,
3. Memelihara kelangsungan kehidupan politik.

C. Hubungan Agama dan Partai Politik

Hubungan politik dengan agama tidak dapat dipisahkan. Dapat dikatakan


bahwa politik berbuah dari hasil pemikiran agama agar tercipta kehidupan yang
harmonis dan tentram dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini
disebabkan, pertama, oleh sikap dan keyakinan bahwa seluruh aktifitas manusia,
tidak terkecuali politik, harus dijiwai oleh ajaran-ajaran agama; kedua, disebabkan
oleh fakta bahwa kegiatan manusia yang paling banyak membutuhkan legitimasi
adalah bidang politik, dan hanya agamalah yang dipercayai mampu memberikan
legitimasi yang paling meyakinkan karena sifat dan sumbernya yang transcendent.

Agama secara hakiki berhungan dengan politik. Kepercayaan agama dapat


mempengaruhi hukum, perbuatan yang oleh rakyak dianggap dosa, seperti sodomi
dan incest, sering tidak legal. Seringakali agamalah yang memberi legitimasi
kepada pemerintahan. Agama sangat melekat dalam kehidupan rakyat dalam
masyarakat industri maupun nonindustri, sehingga kehadirannya tidak mungkin
tidak terasa di bidang politik. Sedikit atau banyak, sejumlah pemerintahan di
seluruh dunia menggunakan agama untuk memberi legitimasi pada kekuasaan
politik.
Di dalam sejarah Islam, masuknya faktor agama (teologi) ke dalam politik muncul
ke permukaan dengan jelas menjelang berdirinya dinasti Umayyah. Hal ini terjadi
sejak perang Siffin pada tahun 657, suatu perang saudara yang melibatkan khalifah

5
Ali b. Abi Talib dan pasukannya melawan Muawiyah b. Abi Sufyan, gubernur
Syria yang mempunyai hubungan keluarga dengan Uthman, bersama dengan
tentaranya. Peristiwa ini kemudian melahirkan tiga golongan umat Islam, yang
masing-masing dikenal dengan nama Khawarij, Shia, dan Sunni.

Di bawah ini merupakan kasus yang terjadi pada Partai Keadilan Sejahtera.

Sekitar 3 tahun yang lalu, KPK mengamankan seorang pemuka partai terkait
dugaan korupsi dan suap. Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), presiden dari Partai Keadilan
Sejahtera (PKS) adalah korban-nya yang mencuat kemudian. Geger massal pun
tak bisa dihindarkan. Publik tercengang dengan temuan yang disajikan oleh komisi
anti korupsi tersebut. Bagaimana tidak? Seseorang yang dikenal agamis ini tiba-
tiba berubah menjadi tikus yang harus menanggalkan predikat ustadz, kyai dan
ulama dan kemudian turun predikatnya menjadi tersangka seperti yang ditetapkan
KPK yang kurang dari 24 jam. Rekor terbaru.

Penyelidikan masih berlanjut. Akhirnya bagaimana bisa ditunggu tanggal


mainnya. Jika melihat dari kasus seperti ini, jika terbukti bahwa LSI benar
melakukan tindak pidana yang melanggar pasal 12 a atau b atau pasal 5 ayat 2 atau
pasal 11 No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi
sebagaimana diubah pada UU no 20 tahun 2001 Jo pasal 55 ayat 1 ke satu, maka
hal itu adalah tamparan yang sangat keras yang berimbas pada kepercayaan
masyarakat terhadap partai politik.

Public distrust akan semakin menguat. Itu semua akan bermuara


pengaruhnya terhadap masa depan dunia pemerintahan di negara ini. Survei LHI
baru-baru ini yang menyatakan bahwa partai politik Islam akan sulit berpeluang
masuk lima besar partai pemenang pemilu pada 2014 nanti adalah warning yang
perlu diperhatikan oleh partai politik yang mengusung ideologi agama pada
partainya. Banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Termasuk kurangnya figur
yang bisa dijadikan acuan untuk menjadi pemimpin pilihan dalam pemilu ke depan
ini nantinya.

6
Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, bahkan menyatakan dengan tegas
bahwa agama tidak boleh dijadikan kedok politik. Politisasi agama sudah tidak
perlu dilakukan. Tujuannya sudah jelas, hal tersebut akan merubah citra agama
ketika partai politik yang mengusung ideologi agama tadi melakukan
penyelewengan seperti yang sedang terjadi di tubuh PKS saat ini. Tampaknya, ini
mulai sejalan dengan apa yang diserukan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) jauh-
jauh hari dengan slogan Islam Yes! Partai Islam No!. Pernyataan dari dua pakar
di atas tadi memang masih mungkin untuk diperdebatkan dan dikaji ulang. Tapi,
jika kasus seperti yang dialami PKS ini terulang kembali, dampaknya akan semakin
melebar. Pernyataan gurauan di masyarakat yang berbunyi Kalau partai yang
Islami saja orang-orangnya menyeleweng seperti gitu, bagaimana dengan partai
yang biasa-biasa saja? mungkin akan semakin membuka jurang yang lebar bahwa
semua partai politik itu sudah rusak semua.

Masih relevankah ideologi agama untuk dijadikan tunggangan politik? Saya


kira tidak terlalu tepat kalau kondisinya seperti dialami oleh PKS. Sebaliknya, kalau
para aktor politiknya istiqamah dan tawadhu di jalannya, ada kemungkinan
ideologi agama punya kecocokan dengan politik yang berketuhanan secara penuh
dalam pola-tingkah politiknya. Tapi, kemungkinannya sangat kecil untuk bisa
seperti ini. Perebutan kekuasaan dengan intrik-intrik politik yang kotor sudah ada
sejak lama dalam sejarah peradaban manusia. Dalam Islam sendiri, terbunuhnya
keempat khulafaur rasyidin adalah contoh nyata bahwa politik kekuasaan tak
pernah berafiliasi dengan agama apapun. Nampaknya, hal ini yang terangnya
terjadi sekarang ini.

Dari uraian singkat di atas, kebutuhan pemimpin yang benar-benar bisa


memegang amanah kerakyatan sangat urgent dibutuhkan. Mungkin orang-orang
yang tewas dibunuh karena gigih membela rakyat seperti Marthin Luther King Jr.
ataupun Munir adalah beberapa contoh bahwa nyawa adalah taruhannya jika ingin
menjadi orang yang lurus. Orang-orang tak takut mati seperti merekalah yang kita
butuhkan. Yang berani berjihad bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan

7
curahan pemikiran dan kerja konkret yang menjunjung kemanusiaan. Sudah
waktunya kita merubah total segala sistematika yang ada di masyarakat.

Ambil keputusan yang menyangkut hajat orang banyak. Bukan hanya atas
kepentingan kelompok apalagi pribadi. Jika agama tak relevan untuk dijadikan
pembebas rasa keadilan di masyarakat, sudah sepatutnya agama dialih-fungsikan
mengurusi persoalan yang lain. Terutama masalah akhlak di grass root. Untuk
masalah politik, tak terlalu butuh orang yang beragama tapi tak bisa bekerja. Lebih
butuh yang biasa-biasa saja tapi amanah dan paham apa kemauan publik. Tapi, akan
sangat bersyukur sekali bila ada pemimpin yang agamis dan bisa bekerja membela
rakyatnya dan bukan hanya dakwah literal semata. Semoga bisa dijadikan refleksi.

8
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Agama dari segi Bahasa berasal dari Bahasa sansekerta, a-agama. A berarti
cara, dan gama berarti to go, yaitu berjalan atau pergi. Jadi agama merupakan cara-
cara berjalan untuk sampai pada keridhaan Tuhan. Dari sini dapat dipahami bahwa
agama merupakan jalan hidup yang harus di tempuh atau pedoman yang harus di
ikuti seseorang.

Sedangkan pengertian partai politik Dalam perspektif sosiologi politik,


partai politik merupakan kumpulan dari kelompok orang dalam masyarakat yang
berusaha untuk meraih atau mempertahankan kekuasaan suatu pemerintahan atau
negara. Adapun dalam ilmu politik, istilah partai politik bisa disebut dengan suatu
kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai,
dan cita-cita yang sama. Secara umum, tujuan di bentuknya partai politik adalah
memperoleh keukasaan politik dan merebut kedudukan politik biasanya denagan
cara konstitusional untuk melaksanakan kibujaksanaan-kebijaksanaan mereka.
Hubungan politik dengan agama tidak dapat dipisahkan. Dapat dikatakan
bahwa politik berbuah dari hasil pemikiran agama agar tercipta kehidupan yang
harmonis dan tentram dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini
disebabkan, pertama, oleh sikap dan keyakinan bahwa seluruh aktifitas manusia,
tidak terkecuali politik, harus dijiwai oleh ajaran-ajaran agama; kedua, disebabkan
oleh fakta bahwa kegiatan manusia yang paling banyak membutuhkan legitimasi
adalah bidang politik, dan hanya agamalah yang dipercayai mampu memberikan
legitimasi yang paling meyakinkan karena sifat dan sumbernya yang transcendent.

9
DAFTAR PUSTAKA

Adeng Muchtar Ghazali. Antropologi Agama. Bandung, Alfabeta, 2011.

Adon Nasrullah, Agama dan Konflik sosial, Bandung: CV Pustaka Setia, 2015.
Muslim Mufti, Teori-Teori Politik, Bandung: CV Pustaka Setia, 2013

A.A. Said Gatara, Sosiologi Politik, Konsep dan Dinamika Perkembangan


Kajian, Bandung: CV Pustaka Setia, 2011

Weber, Max. Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 2006

10
11