Anda di halaman 1dari 9

IRIGASI DAN DRAENASE

ANALISA KUALITAS AIR IRIGASI DI DESA SELOREJO MALANG

Disusun Oleh :

Nama : Umar

NIM : 155040200111050

Kelas :J

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Irigasi merupakan komponen penting bagi kegiatan pertanian di Indonesia


yang sebagian besar berada di wilayah perdesaan. Indonesia adalah negara yang
sebagian besar penduduknya hidup dari pertanian dengan makanan pokoknya beras,
sagu, dan ubi hasil produksi pertanian. Indonesia adalah Negara dengan iklim tropis
yang memiliki dua musim yaitu musim kemaru dan penghujan. Pada musim
kemarau jumlah air yang ada tentu tidak sebanyak seperti pada musim penghujan.
Pada musim kemarau inilah para lahan pertanian memerlukan air untuk tanaman,
maka petani berusah untuk mendapatkan air dengan cara membangun saluran-
saluran air yang dapat mengairi lahan pertanian. Inilah yang dimaksud dengan
usaha untuk mendapatkan air. Pembangunan saluran irigrasi sebagai penunjang
penyediaan bahan pangan nasional tentu sangat diperlukan, sehingga ketersediaan
lahan akan terpenuhi walaupun lahan tersebut berada jauh dari sumber air
permukaan.

Pembangunan saluran irigrasi sebagai penunjang penyediaan bahan pangan


nasional tentu sangat diperlukan, sehingga ketersediaan lahan akan terpenuhi
walaupun lahan tersebut berada jauh dari sumber air permukaan. Dalam pertanian
bahwa irigasi dan drainase merupakan suatu sub system pertanian yang sangat
penting. Jika salah satunya tidak terpenuhi maka pertanian tidak akan berjalan.
Irigasi merupakan proses pemberian air sedangkan drainase adalah proses
pembuangan air. Akan tetapi , saat ini masih banyak ditemukan sistem irigasi yang
kualitasnya rendah dan tidak sesuai dengan standart yang diberlakukan oleh
pemerintah. Hal tersebut dapat dikarenakan beberapa faktor, antara lain
ketidaktauan petani akan standart sistem irigasi atau karena faktor ekonomi.

Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan prioritas dan efisiensi


penggunaan air. Apabila jumlah air yang diberikan lebih besar yang diminta, maka
efisiensinya rendah sehingga penggunaan air boros, terbuang secara percuma.
Dengan demikian penggunaan air irigasi harus efisien dan sesuai kebutuhan,
dengan sistem irigasi yang tepat akan meningkatkan taraf efisiensi tersebut.
1.2. Tujuan

Tujuan dibuatnya paper ini adalah untuk mengetahui sistem irigasi dan
drainase yang tepat pada lahan yang diobservasi dan mengetahui kualitas air yang
tepat dan sesuai peraturan pemerintah pada lahan tersebut.
2. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sistem irigasi yang telah di amati terdapat pada lahan Perkebunan Jeruk
di daerah Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kota Malang. Pada keadaan lahan
yang diamati yaitu berupa lahan yang datar, tidak terlalu jauh dengan
sungai. Sistem irigasi yang digunakan pada lahan tersebut ialah sistem
irigasi permukaan dengan memanfaatkan aliran sungai sebagai sumbernya.
Aliran air pada sistem irigasi yang diamati diatur dengan menggukan sistem
buka-tutup. Berdasarkan wawancara singkat dengan petani disana, yaitu
Pak Anto. Beliau memiliki lahan pekebunan jeruk tepat disebelah
rumahnya. Beliau mengatakan sumber air yang digunakan adalah dari
Pegunungan yang berada dekat dengan lokasi disana. Aliran dari air
pegunungan dipotong langsung dan diarahkan ke Desa Selorejo dengan cara
membuat sungai kecil. Dengan begitu dapat dikatakan sumber air dari Desa
Selorejo ini adalah aliran air Pegunungan. Kondisi air yang mengalir dari
sungai kecil tersebut cukup deras. Sungai kecil tersebut dapat dibilang telah
mengalami modernisasi karena bisa dikatakan sungai tersebut semi
mekanis, di setiap sisi sungai kecil tersebut sudah disemen dengan batu.
Pengaliran air dari sumber ke lahan pertanian dilakukan dengan cara
membuat lubang untuk lahan pertanian atau menggunakan bambu yang
dapat dialiri air di daerah lahan tersebut. Adapun lahan yang jauh dari
sumber air akan tetap teraliri karena keadaan lahan yang sedikit miring atau
tidak terlalu datar sehingga air dapat teraliri dengan baik. Berikut adalah
beberapa gambar dari sistem irigasi dan lahan yang diamati:

Gambar 1. Pintu air. Gambar 2. Saluran Irigasi. Gambar 3. KondisiLahan

2.1 Korelasi dengan PP No.77 Tahun 2001


Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 77 Tahun 2001
tentang irigasi, terkait hal tersebut dengan sistem irigasi dilapangan dalam usaha
pertanian yang saya observasi pada lahan perkebunan Jeruk diketahui bahwa sistem
irigasi tersier yang digunakan telah memiliki bangunan sadap per-petak lahan akan
tetapi pada petak lahan yang saya amati kurang adanya pengamanan jaringan irigasi
karna sistem irigasi yang digunakan masih sederhana sehingga resiko saluran irigasi
tersebut dangkal cukup tinggi karena adanya sedimen yang dibawa oleh air. Air
yang berada di sekitar petak lahan berasal dari saluran irigasi sekunder bahwa di
sisi kanan dan kiri saluran banyak terdapat tanaman liar, beberapa sampah plastik
dan ranting-ranting. Hal tersebut sesuai dengan PP No 77 Tahun 2001 Pada Bab 1
Pasal 1 (15) disebutkan bahwa Perkumpulan petani pemakai air adalah
kelembagaan pengelola irigasi yang menjadi wadah petani pemakai air dalam suatu
daerah pelayanan irigasi yang dibentuk oleh petani secara demokratis, termasuk
kelembagaan lokal pengelola air irigasi. Pada saat mewawancarai petani, tidak
didapatkan informasi bahwa dilokasi tersebut terdapat pengelolaan air, petani
menggunakan aliran air dari air pegunungan sesuai dengan kebutuhan lahannya
saja. Akan tetapi dengan kondisi demikian tersebut pengamanan yang dilakukan
pada saluran irigasi dirasa kurang sebab masih terdapat tanaman liar serta beberapa
sampah yang mencemari saluran tersebut. Warga masyarakat yang berada di daerah
lokasi harus bersama-sama menjaga serta mengelola dengan baik saluran irigasi
yang memang berada didepan rumah warga agar tidak tercemar dan tidak terdapat
limbah. Kemudian pada Bab VI Bagian Keempat Pasal 24 (1) yang berbunyi
Penggunaan air irigasi hanya diperkenankan dengan mengambil air dari saluran
tersier atau saluran kuarter pada tempat pengambilan yang telah ditetapkan oleh
perkumpulan petani pemakai air. Petani dilokasi tersebut sudah mempergunakan
air dari sungai kecil sebagai saluran sekunder, kemudian diarahkan lagi dengan
parit-parit kecil sebagai saluran tersier, dalam hal ini dapat kita lihat bahwa petani
telah menjalankan peraturan yang telah dibuat.

2.2 Korelasi kualitas air dengan PP No.82 Tahun 2001


Berdasarkan hasil dari pengamatan dan observasi yang dilakukan di lahan
perkebunan tanaman jeruk ini memiliki kualitas air yang yang cukup baik. Dibilang
cukup baik karena warna air serta tingkat kekeruhannya tidak terlalu buruk.
Kandungan sedimen yang ada pada air yang di amati hanya terdapat berapa persen
dan masih tergolong baik. Jadi air yang berada pada saluran irigasi hanya terlihat
agak keruh dan tidak berbau dan rasanya masih terasa air yang segar walau warna
dari air tersebut tidak terlalu jernih namun air yang berada pada saluran irigasi
tersebut tergolong baik. Tingkat kekeruhan yang ada pada air di saluran irigasi
dapat juga diakibatkan oleh adanya beberapa sampah plastik yang ada di sekitar
saluran dan beberapa ranting dan tanaman liar namun tidak terlalu banyak jumlah
limbah dan tanaman yang ada. Menurut Effendi (2003), menyatakan bahwa
tingginya nilai kekeruhan juga dapat menyulitkan usaha penyaringan dan
mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air. Sehingga air yang
digunakan tidak dapat kita pastikan kualitasnya. Dalam hal ini tidak terlihat dengan
jelas peran pemerintah yang sesuai dengan PP No 82 Tahun 2001 Bab II pasal 5
yang menyatakan bahwa Pemerintah melakukan pengelolaan kualitas air lintas
propinsi dan atau lintas batas negara. Pada saat mewawancarai petani yang
memiliki lahan pada saluran irigasi tersebut juga mereka tidak menjelaskan dengan
pasti kualitas air yang ada pada saluran irigasinya tersebut. Dan tidak adanya upaya
pengelolaan dari pemerintah untuk saluran air pada irigasinya tsb. Keadaan normal
air masih tergantung pada faktor penentu, yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal
sumber air (Wardhana, 2004).

2.3 Rekomendasi

Berdasarkan dari hasil observasi dapat diberikan rekomendasi atau strategi


yang baik agar sesuai dengan peraturan pemerintah yang ada dimana sebaiknya
pada lahan tersebut disarankan menggunakan pompa air sehingga ketika debit air
pada sungai rendah dan tidak dapat mengalirkan air ke lahan, dapat menggunakan
pompa air agar air dapat tersalurkan. Selain itu peningkatan skill petani dalam
menjaga dan mengelola saluran irigasi juga perlu diperhatikan dengan pahamnya
petani dalam pengelolaan saluran irigasi harapannya saluran irigasi tersebut dapat
terawat. Serta dibuatkan semacam filter agar sampah-sampah tidak ikut terbawa ke
lahan budidaya. Dan saluran irigasi mendapatkan pengelolaan yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan.Penerbit Kanisius.Yogyakarta.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Nomor 77. Tahun 2001. Tentang
Irigasi.
Wardhana, W.A, 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit
Andi.Yogyakarta.
LAMPIRAN