Anda di halaman 1dari 13

Tugas Kelompok

KOMUNIKASI KESEHATAN DI TEMPAT


KERJA

OLEH :
KELOMPOK
DELFANI GEMELY (70200110026)
MUHLIS MUBARAK (702001100 )

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayahNya kepada, sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada
waktunya.

Tak lupa pula salam dan shalawat kepada baginda Rasulullah Muhammad
SAW, yang telah membawa umat manusia dari alam kebodohan menuju ke alam
kepintaran seperti saat ini.

Saran dan kritik senantiasa saya harapkan guna kesempurnaan dari


makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Semoga Allah senantiasa meridhoi hamba-hambaNya yang menuntut ilmu. Amin.

Gowa, April 2013

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagaimana diketahui, manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk


yang selalu membutuhkan satu sama lain dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh
karena itu tidak dapat dihindari bahwa manusia harus selalu berhubungan dengan
manusia lainnya. Hubungan manusia dengan manusia lainnya, atau hubungan
manusia dengan kelompok, atau hubungan kelompok dengan kelompok inilah
yang disebut sebagai interksi sosial.

Banyak pakar menilai bahwa komunikasi adalah suatu kebutuhan yang


sangat fundamental bagi seseorang dalam hidup bermasyarakat. Profesor Wilbur
Schramm menyebutnya bahwa komunikasi dan masyarakat adalah dua kata
kembar yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Sebab tanpa komunikasi
tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat maka manusia
tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi (Schramm; 1982) Apa yang
mendorong manusia sehingga ingin berkomunikasi dengan manusia lainnya. Teori
dasar Biologi menyebut adanya dua kebutuhan, yakni kebutuhan untk
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungannya.Narold D. Lasswell salah seorang peletak dasar ilmu
komunikasi lewat ilmu politik menyebut tiga fungsi dasar yang menjadi penyebab,
mengapa manusia perlu berkomunikasi:

Pertama, adalah hasrat manusia untuk mengontrol lingkungannya. Melalui


komunikasi manusia dapat mengetahui peluang-peluang yang ada untuk
dimanfaatkan, dipelihara dan menghindar pada hal-hal yang mengancam alam
sekitamya seperti halnya di tempat kerja. Melalui komunikasi manusia dapat
mengetahui suatu kejadian atau peristiwa. Bahkan melalui komunikasi manusia
dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni belajar dan pengalamannya,
maupun melalui informasi yang mereka terima dari lingkungan sekitarnya.
Misalnya dengan promosi tentang penggunaan Alat Pelindung Diri di tempat
kerja, tentunya akan membutuhkan komunikasi antara penyuluh dan karyawan
yang diberi penyuluhan.

Kedua, adalah upaya manusia untuk dapat beradaptasi dengan


lingkungannya. Proses kelanjutan suatu masyarakat Sesungguhnya tergantung
bagaimana masyarakat itu bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Penyesuaian di
sini bukan saja terletak pada kemampuan manusia memberi tanggapan terhadap
gejala alam seperti banjir, gempa bumi dan musim yang mempengaruhi perilaku
manusia, tetapi juga lingkungan masyarakat tempat manusia hidup dalam
tantangan. Dalam lingkungan seperti ini diperlukan penyesuaian, agar manusia
dapat hidup dalam suasana yang harmonis.

Ketiga, adalah upaya untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi.


Suatu masyarakat yang ingin mempertahankan keberadaannya, maka anggota
masyarakatnya dituntut untuk melakukan pertukaran nilai, perilaku, dan peranan.
Misalnya bagaimana berkomunikasi yang baik antara atasan dan pekerja.
Bagaimana seorang pemimpin perusahaan memberikan contoh yang baik dalam
berkomunikasi.
Ketiga fungsi ini menjadi patokan dasar bagi setiap individu dalam
berhubungan dengan sesama anggota masyarakat dan di tempat kerja. Profesor
David K. Berlo dari Michigan State University menyebut secara ringkas bahwa
komunikasi sebagai instrumen dan interaksi sosial berguna untuk mengetahui dan
memprediksi sikap orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan diri sendiri
dalam menciptakan keseimbangan dengan masyarakat (Byrnes, 1965).

Jadi komunikasi jelas tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan umat


manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ia
diperlukan untuk mengatur tatakrama pergaulan antarmanusia, sebab
berkomunikasi dengan baik akan memberi pengaruh langsung pada struktur
keseimbangan seseorang dalam bermasyarakat, apakah ia seorang dokter, dosen,
manajer, pedagang, pramugari, pemuka agama, penyuluh lapangan, pramuniaga
dan lain sebagainya. Pendek kata, sekarang ini keberhasilan dan kegagalan
seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkan termasuk karir mereka,
banyak ditentukan oleh kemampuannya berkomunikasi.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan, adapun rumusan


masalah dari makalah ini :

1. Mengetahui defenisi komunikasi kesehatan


2. Mengetahui unsur-unsur komunikasi
3. Mengetahui jenis-jenis media komunikasi
4. Mengetahui factor-faktor penunjang komunikasi
5. Mengetahui komunikasi di tempat kerja
6. Mengetahui manfaat komunikasi di tempat kerja
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Komunikasi

Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin communio atau common


yang artinya memadukan atau sama. Jadi, secara etimologis komunikasi berarti
proses untuk memperoleh pengertian yang sama. Berdasarkan pengertian
praktisnya komunikasi adalah suatu proses pengiriman atau penerimaan informasi
antara dua orang atau lebih dengan menggunakan cara yang tepat, sehingga
informasi, berita atau pesan dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.

Pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih
sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Kamus Besar bahasa Indonesia
2001).

Komunikasi kesehatan adalah proses penyampaian pesan kesehatan oleh


komunikator melalui saluran/media tertentu kepada komunikan dengan tujuan
untuk mendorong perilaku manusia tercapainya kesejahteraan sebagai kekuatan
yang mengarah kepada keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani),
dan sosial.

Komunikasi Kesehatan merupakan pendekatan yang beragam dan


multidisiplin untuk mencapai audiens yang berbeda dan berbagi informasi
kesehatan terkait dengan tujuan mempengaruhi, menarik dan mendukung
individu, masyarakat, profesional kesehatan, kelompok khusus, pembuat
kebijakan dan masyarakat untuk juara, memperkenalkan, mengadopsi, atau
mendukung perilaku, praktek atau kebijakan yang pada akhirnya akan
meningkatkan hasil kesehatan. "Schiavo, R. 2007, p. 7 atau mekanisme dimana
pesan-pesan kesehatan dikomunikasikan dari para pakar di bidang kesehatan
medis dan masyarakat untuk orang-orang yang dapat dibantu dengan pesan-pesan
ini.

2. Unsur- unsur Komunikasi


Adapun unsur-unsur komunikasi terdiri dari Communicator, Messages,
Transmits, Communicatee dan Respone.

a. Communicator (pengirim berita)


Dalam menyampaikan berita atau pesan, komunikator harus
memperhatikan dengan atau kepada siapa pesan itu disampaikan.
Penyampaian berita atau pesan sudah barang tentu harus disesuaikan
dengan tingkat pengetahuan dan pengalaman pihak penerima berita.
b. Messages (berita atau pesan)
Isi berita atau pesan harus jelas, sehingga apa yang dimaksud oleh
pengirim berita dapat diterima oleh pihak penerima berita. Berita atau
pesan dapat disampaikan dalam berbagai bentuk, seperti perintah,
permintaan, pendapat, saran, atau usul, dapat disampaikan secara lisan
maupun tulisan,gambar,kode, dan lain-lain.
c. Communicatee (penerima berita)
Pihak penerima berita harus memberikan tanggapan terhadap berita atau
pesan yang diterimanya.
d. Transmits (proses pengiriman berita)
Sarana dan media yang diperlukan dan digunakan dalam proses
komunikasi tergantung pada jenis dan sifat berita atau pesan yang akan
disampaikan.

e. Respone (reaksi atau tanggapan)


Dengan adanya respon atau feed back dari pihak komunikan maka akan
terjadi proses komunikasi dua arah yang dikenal dengan sebutan two
ways communication.

Komunikasi sebagai suatu proses pengiriman berita atau pesan, meliputi


tiga tahap sebagai berikut:
1. Tahap pertama, diawali dengan menetapkan informasi, berita, ide, gagasan,
atau pesan (messages) oleh pihak pengirim berita atau communicator/sender.

2. Tahap kedua, proses pengiriman informasi, berita, gagasan, ide, atau pesan
yang telah disusun (encoding) dalam bentuk simbol, sandi, isyarat, atau
kode, melalui saluran atau media komunikasi audio, visual, audio-visual
(transmitter), secara lisan atau tertulis, vertikal maupun horizontal, formal
maupun informal.
3. Tahap ketiga, penerimaan informasi, gagasan, ide, berita, atau pesan oleh
pihak penerima berita (komunikan/receiver). Pihak komunikan kemudian
mengadakan interpretasi (decoding) terhadap informasi, berita, ide, gagasan,
atau pesan yang diterimanya. Selanjutnya komunikan melakukan tindakan
(response), dan respon tersebut merupakan umpan balik (feed back) dari
komunikan kepada komunikator.

3. Jenis-jenis Media Komunikasi

Berdasarkan cara penggunaannya terdapat tiga jenis media komunikasi,


yaitu media komunikasi audial, media komunikasi visual, dan media komunikasi
audio-visual. Ketiga jenis media komunikasi tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:

a. Media Komunikasi Audial


Alat komunikasi yang dapat ditangkap, didengar, dan dipahami oleh
alat pendengaran. Misalnya telepon, intercom, radio serta tape
recorder.
b. Media Komunikasi Visual
Alat komunikasi yang dapat ditangkap, dilihat, dan dipahami oleh alat
penglihatan. Misalnya surat, surat kabar, faksimili, majalah, buku,
bulettin, dan sejenisnya.
c. Media Komunikasi Audio-Visual
Alat komunikasi yang dapat ditangkap, dilihat, didengar, dan dipahami
melalui alat pendengaran dan penglihatan. Misalnya televisi, film layar
lebar, VCD, internet, dan sejenisnya.

4. Jenis-jenis Komunikasi

Komunikasi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, tergantung dari


segi peninjauannya. Adapun kriteria yang dapat digunakan untuk mengadakan
klasifikasi komunikasi, yaitu:

a. Komunikasi menurut lawan bicara


- komunikasi individu
- komunikasi umum
b. komunikasi menurut jumlah
- komunikasi perseorangan
- komunikasi kelompok
c. komunikasi menurut cara penyampaian
- komunikasi untuk memberi perintah
- komunikasi untuk memberi ucapan selamat
- komunikasi untuk memberi saran
- komunikasi untuk member pidato atau ceramah
- komunikasi untuk rapat/ meeting
- komunikasi untuk perundingan
- komunikasi untuk wawancara
d. komunikasi menurut prosesnya
- komunikasi langsung
- komunikasi tidak langsung

5. Faktor-faktor Penunjang Komunikasi yang Efektif


Agar komunikasi dapat berlangsung secara mudah, cepat, dan tepat maka
di dalam berkomunikasi harus memperhatikan faktor-faktor penunjang
komunikasi yang efektif, yaitu:
- Komponen pesan :
a. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa menarik
perhatian komunikan.
b. Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada
pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga
sama-sama mengerti.
c. Pesan harus mampu membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan
dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan
tersebut.
d. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan
tadi yang layak bagi situasi kelompok dimana komunikan berada pada
saat ia digerakan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.
- Komponen komunikan :
a. Ia dapat dan benar-benar mengerti pesan komunikasi.
b. Pada saat mengambail keputusan ia sadar bahwa keputusannya itu
sesuai dengan tujuannya.
c. Pada saat mengambil keputusan ia sadar bahwa keputusannya itu
bersangkutan dengan kepentingan pribadinya.
d. Ia mampu untuk menepatinya baik secara mental maupun fisik.

- Komponen komunikator :
a. Trustworthiness atau kepercayaan pada komunikator.
b. Attractiveness atau daya tarik komunikator.
c. Source power atau kekuasaan : kemampuan untuk menimbulkan
ketundukan atau kepatuhan (Kelman dalam Rakhmat, 1992 : 255)
d. Expertise atau keahlian komunikator.
6. Komunikasi di Tempat Kerja

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita selalu berkomunikasi dengan


orang lain, apalagi di tempat kerja karena komunikasi merupakan salah satu factor
yang sangat penting dalam melakukan relasi (hubungan ) baik komunikasi secara
tatap muka (face to face), kelompok kecil atau dalam forum.

Dalam prakteknya, komunikasi bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.


Tidak sedikit perusahaan yang bermasalah disebabkan oleh terhambatnya
komunikasi. Misalnya, seorang pemimpin perusahaan sering menyalahkan
bawahannya ketika terdapat kekeliruan yang dilakukan bawahannya. Sebaliknya,
bawahan menganggap atasannya tidak bisa memberikan informasi, perunjuk, atau
perintah secara jelas. Terhambatnya proses komunikasi bukan hanya dialami oleh
perusahaan, tetapi dialami juga hampir oleh setiap orang atau profesi.

Untuk itu komunikasi berperan sebagai media untuk melakukan hubungan


antara manusia dan akan berjalan dengan baik apabila setiap orang mampu
mengekpresikan ide atau keinginan, kehendak dan sikapnya melalui komunikasi.
Demikian pula di dunia kerja khususnya di tempat bisnis, pihak penjual harus
mampu berkomunikasi dengan pelanggan dan mitra bisnis secara interaktif.

Komunikasi di tempat kerja ada yang dilakukan secara vertikal yaitu


antara atasan perusahaan dengan bawahannya. Sedangkan komunikasi secara
horizontal adalah komunikasi diantara sesama pekerja yang tingkatannya sama.
Kemunikasi dengan pihak luar diluar tempat kerja adalah kegiatan komunikasi
yang dilakukan secara personal perusahaan dengan pihak pemerintah, langganan,
rekanan maupun dengan masyarakat secara umum bahkan berkomunikasi juga
dengan saingannya.

Untuk keberhasilan dalam tempat kerja, semua jajaran dalam perusahaan


harus mampu melakukan komunikasi yang efektif baik kepada pelanggan intern di
dalam perusahaan maupun kepada pelanggan ekstern di luar perusahaan. Untuk
memudahkan dan mengarahkan agar komunikasi berjalan efektif hendaknya
komunikasi dilakukan dengan cara berfikir positif (Positive Thinking).

Pihak komunikator maupun pihak komunikan hendaknya berfikir positif.


Komunikasi dengan cara berfikir positif adalah proses berkomunikasi dengan
didasari pola pikir yang sehat dan logis agar pesan yang ingin disampaikan dapat
ditangkap komunikan secara utuh. Komunikasi yang didasarkan kepada akal sehat
adalah penggunaan daya pikir secara objektif dalam mengelola materi yang akan
dikomunikasikan sedangkan yang dimaksud dengan logis yaitu mengolah materi
pesan yang mudah diterima akal sehat sehingga terhindar dari kesan di buat-buat
dan bertele-tele.

Jadi, penyampaian pesan sebaiknya diusahakan se-objektif mungkin,


sesuai dengan pengetahuan dan fakta yang ada, dengan penyampaian yang runtut
(sistematis).

Komunikasi intern perusahaan adalah komunikasi yang dilakukan antara


pimpinan perusahaan dengan staf atau pegawai lain, didalam rangka penyampaian
strategi atau kebijaksanannya yang berhubungan dengan berbagai pekerjaan.
Dalam komunikasi intern perusahan biasanya dibicarakan tentang produksi,
pembelian, penjualan, pemasaran, promosi, kepegawaian, kesejahteraan dan
sebagainya.

Komunikasi ekstern perusahaan adalah komunikasi yang dilakukan antara


pimpinan perusahaan dengan pihak luar yang berkaitan dengan usaha atau bisnis.
Adapun komunikasi ekstern perusahaan antara lain sebagai berikut :

a. Komunikasi dengan lembaga pemerintah. Komunikasi dengan lembaga


pemerintah ini sangat penting. Hal ini berkaitan dengan peraturan undang-
undang, perizinan, pajak, asuransi, keuangan dan sebagainya.
b. Komunikasi dengan pembeli/pelanggan. Komunikasi dengan
pembeli/pelanggan harus terus menerus dibina, sehingga akan selalu ingat
terhadap perusahaan atau produk tertentu. Pembeli/pelanggan ini terdiri
atas berbagai macam, yang dapat dikelompokkan sebagai berikut :
- Pembeli/pelanggan perorangan, yaitu para pembeli atau pelanggan
yang terdiri atas orang-orang yang termasuk kelompok rumah tangga
konsumen.
- Pembeli/pelanggan instansional, yaitu pembeli/pelanggan dari instansi
pemerintah/swasta.
c. Komunikasi dengan rekanan. Rekanan usaha atau bisnis adalah pihak yang
membantu perusahaan dalam kegiatan usaha atau bisnis seperti bank,
perusahaan asuransi, perusahaan angkutan, perusahaan advertensi.
Perusahaan asosiasi perdagangan sejenis maupun tidak dan sebagainya.
Komunikasi dengan rekanan dilakukan untuk kegiatan yang berkaitan
dengan usaha atau bisnis, maupun kegiatan-kegiatan sampingan lain yang
bersifat membina relasi kerja.
d. Komunikasi dengan pesaing. Komunikasi dengan pesaing seringkali perlu
dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang
berhubungan dengan kegiatan usaha atau bisnis.
e. Komunikasi dengan pers. Komunikasi dengan pers perlu dibina
sedemikian rupa agar mempunyai hubungan yang harmonis. Para
wirausahawan sangat memerlukan pihak pers untuk berbagai hal,
diantaranya untuk melakukan publikasi ataupun kegiatan lainnya yang dianggap
perlu.
f. Komunikasi dengan masyarakat. Komunikasi dengan masyarakat perlu
dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Perusahaan harus
memaklumi bahwa masyarakat umum merupakan sumber potensial untuk ditarik
menjadi pembeli/pelanggan.

Komunikasi yang dipergunakan di tempat kerja ada tiga macam :

1. Komunikasi Tertulis. Komunikasi tertulis adalah komunikasi


menggunakan lambing misalnya jika akan menyampaikan pesan melalui
surat biasanya menggunakan huruf-huruf atau abjad dan lain sebagainya.
2. Komunikasi lisan. Komunikasi lisan adalah komunikasi pembicaraan
langsung, ceramah, diskusi dan lain sebagainya.
3. Komunikasi gambar. Kadang-kadang berkomunikasi secara tertulis sulit
dilaksanakan, sehingga untuk itu perlu dilaksanakan dengan komunikasi
gambar. Misalnya; dalam mengkomunikasikan perencanaan suatu
bangunan yang rumit, apabila disampaikan dengan tertulis atau lisan hanya
akan menimbulkan Miss communication.
4.
e. Manfaat Komunikasi Kesehatan di Tempat Kerja
Ada dua perspektif utama yang diambil ketika mempertimbangkan
komunikasi kesehatan dalam praktik promosi kesehatan saat ini. Beberapa praktisi
memandang komunikasi massa sebagai proses menyeluruh yang membingkai
penerapan intervensi promosi kesehatan. Praktisi ini memandang komunikasi
kesehatan sebagai strategi atau aktifitas sempit seperti publikasi informasi atau
sejenis komunikasi. Antar personal yang mungkin berlangsung antara pendidik
kesehatan dan kliennya. Kedua pemikiran itu menyebabkan komunikasi kesehatan
rentan terhadap penafsiran yang luas dan kesalahpahaman.

Jadi, komunikasi kesehatan diperlukan di bidang kesehatan karena


komunikasi dalam kesehatan merupakan kunci pencapaian peningkatan tarap atau
tingkat kesehatan masyarakat. Sejauh ini komunikasi senantiasa berkembang
seiring berkembangnya dunia teknologi komunikasi. komunikasi yang dulunya
biasa dilakukan dengan penyuluhan yang secara langsung berhadapan dengan
masyarakat dan dilakukan dengan media audio/radio sekarang lebih popular
dengan penyampaian pesan atau informasi kesehatan melalui media internet
maupun media cetak dan elektronik. Tidak hanya bernilai praktis namun
mempunyai nilai ekonomis dan tampilannya lebih menarik. Media yang
berkembang tersebut sangat membantu dalam ketercapaian komunikasi kesehatan
karena tercapai atau tidaknya komunikasi kesehatan lebih dikarenakan
penggunaan media informasi yang tepat, pesan yang sistematis dan mudah
dimengerti.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Komunikasi kesehatan adalah proses penyampaian pesan kesehatan oleh


komunikator melalui saluran/media tertentu kepada komunikan dengan tujuan
untuk mendorong perilaku manusia tercapainya kesejahteraan sebagai kekuatan
yang mengarah kepada keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani),
dan sosial.

2. Saran

Komunikasi yang baik seharusnya ada perhatian satu sama lain antara
komunikator dan komunikan sehingga terjalin komunikasi yang baik dan pesan
yang ingin disampaikan bisa sampai kepada komunikan.

DAFTAR PUSTAKA

Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Jalaludin Rakhamat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya.

Onong Effendy, 1994, Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung, Remaja
Rosdakarya.

Sutrimo, Sistem Komunikasi Indonesia, hands-out, Fisip Unas, 2005

http://adiprakosa.blogspot.com/2008/10/komunikasi-verbal-dan-non-verbal.html

http://adiprakosa.blogspot.com/2007/12/pengertian-komunikasi.html