Anda di halaman 1dari 15

A.

Faktor Risiko di Tempat Kerja

1. FAKTOR FISIK
Faktor fisik di lingkungan kerja terdiri dari :
IKLIM KERJA
Menurut Sumamur PK (1996: 84) iklim kerja adalah kombinasi dari suhu
udara, kelembaban udara, kecepatan, gerakan dan suhu radiasi

Dari suatu penyelidikan diperoleh hasil bahwa


produktivias kerja manusia akan mencapai tingkat yang paling
tinggi pada temperatur sekitar 24 derajat Celsius sampai 27
derajat Celsius (Sritomo Wigjosoebrata, 2003).

Penilaian iklim kerja menggunakan alat Heat Stress untuk mengukur besarnya
tekanan panas dan indeks suhu basah dan bola.

KEBISINGAN
Dalam kesehatan kerja, bising diartikan sebagai suara yang dapat menurunkan
pendengaran baik secara kwantitatif maupun kwalititatif, berkaitan dengan fator
intensitas, frekuensi, durasi dan pola waktu
Jadi dapat disimpulkan bahwa kebisingan merupakan bunyi yang tidak dikehendaki
dan dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan, serta dapat menimbulkan ketulian.
Nilai ambang batas kebisingan di tempat kerja adalah intensitas tertinggi dan
merupakan nilai rata-rata yang masih dapat diterima tenaga kerja tanpa
mengakibatkan hilangya daya dengar tetap untuk waktu kerja yang terus menerus
tidak lebih dari 8 jam sehari dan 40 jam seminggu
NAB di tempat kerja ditetapkan 85dB (A)

Jenis bising :
Bising continue : intensitas tidak lebih dari 6dB
Bising teputus-putus : tidak terus-menerus, ada jeda tenang
Bising impulsive : memiliki perubahan intensitas hingga 40dB dalam waktu yang
sangat cepat sehingga mengejutkan
Bising impulsive berulang

Kebisingan terutama yang berasal dari alat-alat bantu kerja atau mesin dapat
dikendalikan antara lain dengan menempatkan peredam pada sumber getaran atau
memodifikasi mesin untuk mengurangi bising. Penggunaan proteksi dengan
sumbatan telinga dapat mengurangi kebisingan sekitar 20-25 dB.
Tetapi penggunaan penutup telinga ini pada umumnya tidak disenangi oleh pekerja
karena terasa risih adanya benda asing di telinganya. Untuk itu penyuluhan terhadap
mereka agar menyadari pentingnya tutup telinga bagi kesehatannya dan akhirnya
mau memakainya.

- VIBRASI (GETARAN)

Pengertian / Arti Definisi Getaran

Getaran adalah gerakan bolak-balik yang ada di sekitar titik


keseimbangan di mana kuat lemahnya dipengaruhi besar kecilnya energi
yang diberikan. Satu getaran frekuensi adalah satu kali gerak bolak-balik
penuh.

Getaran kerja adalah getaran mekanis yang ada ditempat kerja dan
berpengaruh terhadap tenaga kerja. Getaran dihasilkan oleh :

- Mesin-mesin diesel, mesin produksi


- Kendaraan-kendaraan, Tractor, truk, bus, tank dll
- Alat-alat kerja tangan ( hand tool ) dengan menggunakan mesin :
jack hammer ( pembuka jalan ), pneumatic hammer ( pabrik besi ),
jack lec drill ( pengebor batu gunung, karang dll )

Jenis-jenis getaran kerja

1. Getaran Umum ( Whole body vibration )

Getaran ini berpengaruh terhadap seluruh tubuh, dihantarkan melalui bagian tubuh
tenaga kerja yang menopang seluruh tubuh. Misalnya : kaki saat berdiri, pantat pada
saat duduk, punggung saat bersandar, lengan saat bersandar. Getaran ini mempunyai
frekwensi 5 20 Hz.

2. Getaran Setempat ( Hand arm vibration )

Getaran yang merambat melalui tangan atau lengan dari operator atal yang bergetar.
Getaran ini mempunyai frekwensi 20 500 Hz.

PENGENDALIAN

PADA WHOLE BODY VIBRATION


Tujuan utama dari pengendalian getaran adalah mengurangi banyaknya getaran
dengan meredam resonansi yang timbul tanpa menimbulkan frekwensi resonansi yang
baru , caranya memberi bantalan lunak antara tempat duduk dengan system suspensi,
mengurangi waktu terpapar.

HAND ARM VIBRATION

Ada 4 cara untuk mengurangi bahaya keterpaparan vibrasi atau Hav

- Dengan meredam peralatan disebelah dalam


- Dengan menyisipkan peredam antara tool housing dan tangan
- Mengoperasikan alat dengan remote controle
- Dengan mengurangi waktu terpapar dengan operator

- RADIASI

Radiasi dapat diartikan sebagai energi yang dipancarkan dalam bentuk partikel
atau gelombang.
Dalam istilah fisika, radiasi pada dasarnya adalah suatu perambatan energi dari
sumber energi ke lingkungan tanpa membutuhkan medium

Jenis radiasi :
Ionisasi
merupakan bentuk-bentuk radiasi yang pada interaksi dengan materi,
membangkitkan partikel-partikel bermuatan listrik (ion)
Deteksi partikel-partikel ionisasi dengan tabung Geiger Muller

sumber :
Dari lingkungan alami manusia
Buatan manusia yang digunakan secara luas dalam industri, pertanian, kedokteran dan
riset ilmiah
Sumber-sumber radiasi ionisasi dapat berupa alat-alat listrik berenergi tinggi (misalnya
mesin X-Ray), maupun radionuklir

Pengendalian :
Mengurangi lamanya paparan
Mempertahankan jarak yang aman antara pekerja dgn sumber
Membentengi sumber dengan bahan yg dapat menyerap radiasi

Non ionisasi
merupakan bentuk-bentuk radiasi dengan energi yang cukup untuk mengeluarkan
elektron, tetapi tidak cukup untuk membangkitkan ion.

Sumber :

Sinar Ultra-ungu ( Ultra-violet )

Radiasi oleh pancaran gelombang elektromagnetik dengan kisaran panjang gelombang


180 nm 400 nm.

Sinar Ultra Ungu dihasilkan oleh pengelasan suhu tinggi, benda-benda pijar suhu tinggi,
lampu-lampu pijar. Terdapat juga pada sinar matahari.

Pengukuran menggunakan Direct reading instrument yang disebut radiometer sinar


ultra ungu

Gelombang Mikro ( Microwaves )

radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang 180 nanometer sampai 400 nano
meter.

Biasanya ditemukan pada pemancar radio, radar dan televisi

Sinar Inframerah ( Infra-red )

Dihasilkan dari benda-benda pijar seperti tanur atau benda-benda pijar lainnya.

Sinar laser

Emisi energi tinggi yang dihasilkan dari kegiatan pengelasan, pemotongan, pelapisan,
alat-alat optis, pembuatan mesin-mesin mikro dan operasi kedokteran.

Pengendalian :

Shielding
Restrictions Exposure Time

Personal Protective Equipment

- PENERANGAN
Pencahayaan adalah berhubungan dengan sifat-sifat indera penglihatan manusia
sertausaha-usaha yang dilakukan untuk melihat benda-benda
yang ada disekitarnya denganmudah

Kebutuhan penerangan ditempat kerja tergantung dari jenis p


e k e r j a a n y a n g dilakukan ditempat tersebut. Pekerjaan yang membutuhkan
ketelitian yang tinggimemerlukan penerangan dengan intensitas yang besar,
semakin tinggi ketelitianyang diperlukan maka semakin besar pencahayaan yang
diperlukan

Berdasarkan ketentuan yang berlaku di Indonesia (Peraturan Menteri Perburuhan Nomor 7 Tahun
1964) diatur sebagai berikut:
a. Pekerjaan yang hanya membedakan barang-barang kasar seperti menyisihkan barang-barang
yang besar, mengerjakan bahan tanah atau baku, mengangkutdan meletakkan barang
digudang berdasarkan ketentuan membutuhkan penerangan paling sedikit 50 lux.
b. Pekerjaan yang harus membedakan barang-barang yang kecil, tetapi dilakukansecara sepintas
seperti mengerjakan barang-barang besi dan baja yang setengah
s e l e s a i , p e n g g i l i n g a n p a d i , p e n yi s i h a n b a h a n k a p a s , r u a n g p e n e r i m a d a n pen
giriman barang memerlukan penerangan sedikitnya 100 lux.

c.Penerangan untuk pekerjaan yang akan membedakan barang


- b a r a n g kecilndengan teliti seperti pemasangan alat-alat, pekerjaan bubut yang
kasar,menjahit bahan yang bewarna-
warni, mengerjakan kayu dan melapisinyammerlukan kekuatan penerangan sebesar 200 lux.

d.Pekerjaan yang membedakan secara teliti terhadap barang-barang yang


kecildan halus seperti percobaan-percobaan yang teliti, pekerjaan dengan
mesinya n g r u m i t d a n m e m b u t u h k a n k e t e l i t i a n , p e m b u a t a n t e p u n g , p e n e n u n a
n , pekerjaan kantor dalam arti menulis, membaca, mengarsip dan menyeleksisurat-
surat, membutuhkan kekuatan penerangan sebesar 300 lux.

e. Penerangan yang diperlukan untuk pekerjaan yang akan membedakan barang- barang yang
sangat halus dan kontras dala waktu yang lama, seperti pekerjaand e n g a n m e s i n -
m e s i n ya n g h a l u s d a n p e m o t o n g a n k a c a , m e n g u k i r k a yu , mengetik, pekerjaan
akuntansi, memerlukan kekuatan antara 500-1000 lux
f. Penerangan untuk pekerjaan membedakan barang yang sangat halus dan
kurangkontras, seperti pekerjaan service dan pembuatan jam tangan, tukang mas, pnila
ian dan penyisiha tembakau, memerlukan kekuatan penerangan sebesar 1000lux

JENIS PENCAHAYAAN
Jenis sumber cahaya pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a.Cahaya (Penerangan) Alami, yang berasal dari matahari
U n t u k m e n d a p a t k a n p e n e r a n g a n ( c a h a y a ) a l a m i b a n ya k h a l ya n g h a r u s diperh
atikan antara lain:
Jarak antara bangunan dengan bangunan harus sedemikian rupa
Ukuran luas permukaan jendela, lubang-lubang angin, dinding gelas dll
Tinggi Jendela
Warna cat dinding, lengit-langit dan lantai

b.Cahaya (Penerangan) Buatan, berupa lampu dll


Jika penerangan dari sinar matahari kurang mencukupi, perlu diupayakan peneranga
n tambahan yang didapat dari penerangan buatan yang
biasanya b e r u p a b o l a l a m p u h a r u s m e m e n u h o b e b e r a p a k e t e n t u a n , a n
t a r a l a i n : penerangan buatan harus aman, intensitasnya cukup, tidak
boleh menimbulkan panas dan tidak merusak susunan udara.Jika penerangan buatan menimbulkan
kenaikan suhu ditempat kerja, kenaikanini tidak boleh mencapai lebih dari 32OC. Sumber cahaya yang
digunakan tidak boleh menyebabkan kesilauan pada mata, berkedip-kedip atau menimbulkan bayangan yang
dapat mengganggu.Dalam ruang lingkup dengan pekerjaan, factor yang menentukan adalah ukuranobjek,
derajat kontras diantara objek dan sekelilingnya, luminansi (brightness)dari penglihatan, yang
tergantung dari penerangan dan pemantauan pada arahsipengamat serta lamanya melihat

2. FAKTOR KIMIA

Faktor kimia adalah faktor didalam tempat kerja yang bersifat kimia, yang meliputi bentuk padatan (partikel, cair,
gas, kabut, aerosol, dan uap yang berasal dari bahan- bahan kimia, mencakup wujud yang bersifat partikel adalah
debu, awan, kabut, uap logam, dan asap ; serta wujud yang tidak bersifat partikel adalah gas dan uap (pasal 1,
butir 11, dan butir 12. Permennakertransi No.PER. 13/MEN/X/2011, tentang NAB (Nilai Ambang Batas) Faktor
Fisika dan Kimia di Tempat Kerja).

Jenis :
a. Non hazard
bahan kimia yang aman, tidak berisiko.
Cth : gula, garam, kosmetik
b. hazard (B3)
Bahaya kimia (chemical hazard) adalah bahan kimia yang digolongkan kedalam bahan-bahan berbahaya
atau memiliki informasi yang menyatakan bahwa bahan tersebut berbahaya, biasanya informasi tersebut
dalam lembar data keselamatan (chemical safety data sheet), yang memuat dokumen dan informasi
penting untuk para pengguna yang bertalian dengan sifat kandungan bahayanya dan cara-cara
penggunaan yang aman, ciri-ciri,supplier, penggolongan, bahayanya, peringatan-peringatan, bahaya dan
prosedur tanggap darurat.
Tabel 1. Chemical hazard berdasarkan sifat

Faktor-faktor yang menciptakan kondisi intensitas bahaya di area lingkungan tempat kerja yang berhubungan
dengan penggunaan bahan kimia meliputi ; (i) derajat racun, (ii) sifat-sifat fisik dari bahan, (iii) tata cara kerja, (iv)
sifat dasar, (v) tempat/jalan masuk, (vi) kerentanan individu para pekerja, dan (vii) kombinasi faktor-faktor (i)
sampai dengan (vi) akan menibulkan situasi yang berbahaya

3. FAKTOR BIOLOGI

Bahaya biologi dapat didefinisikan sebagai debu organik yang berasal dari sumber-sumber biologi yang
berbeda seperti virus, bakteri, jamur, protein dari binatang atau bahan-bahan dari tumbuhan seperti
produk serat alam yang terdegradasi.
Bahaya biologi dapat dibagi menjadi dua yaitu (i) yang menyebabkan infeksi dan (ii) non-infeksi.
Bahaya dari yang bersifat non infeksi dapat dibagi lagi menjadi (i) organisme viable, (ii) racun biogenik dan (iii)
alergi biogenik.

MIKROORGANISME PENYEBAB PENYAKIT DI TEMPAT KERJA


Beberapa literatur telah menguraikan infeksi akibat organisme yang mungkin ditemukan di tempat kerja,
diantaranya :
3.1 Daerah pertanian :
Lingkungan pertanian yang cenderung berupa tanah membuat pekerja dapat terinfeksi oleh
mikroorganisme seperti : Tetanus, Leptospirosis, cacing, Asma bronkhiale atau keracunan Mycotoxins
yang merupakan hasil metabolisme jamur.
3.2. Di lingkungan berdebu (Pertambangan atau pabrik) :
Di tempat kerja seperti ini, mikroorganisme yang mungkin ditemukan adalah bakteri penyebab penyakit
saluran napas, seperti : tuberculosis (paru), burcelosis (sakit kepala,atralagia, enokkarditis), Bronchitis
dan Infeksi saluran pernapasan lainnya seperti Pneumonia.
3.3. Daerah peternakan : terutama yang mengolah kulit hewan serta produk-produk dari hewan
Penyakit-penyakit yang mungkin ditemukan di peternakan seperti ini misalnya : Anthrax yang
penularannya melalui bakteri yang tertelan atau terhirup, burcelosis (sakit kepala,atralagia, enokkarditis),
Infeksi Salmonella.
3.5. Di Laboratorium :
Para pekerja di laboratorium mempunyai risiko yang besar terinfeksi, terutama untuk laboratorium yang
menangani organisme atau bahan-bahan yang megandung organisme pathogen
3.6. Di Perkantoran : terutama yang menggunakan pendingin tanpa ventilasi alami

Para pekerja di perkantoran seperti itu dapat berisiko mengidap penyakit seperti : Humidifier fever yaitu suatu
penyakit pada saluran pernapasan dan alergi yang disebabkan organisme yang hidup pada air yang terdapat pada
sistem pendingin, Legionnaire disease penyakit yang juga berhubungan dengan sistem pendingin dan akan lebih
berbahaya pada pekerja dengan usia lanjut

MENGONTOROL BAHAYA DARI FAKTOR BIOLOGI


Faktor biologi dan juga bahaya-bahaya lainnya di tempat kerja dapat dihindari dengan pencegahan
antara lain dengan :
1. Penggunaan masker yang baik untuk pekerja yang berisiko tertular lewat debu yang mengandung
organism patogen
2. Mengkarantina hewan yang terinfeksi dan vaksinasi
3. Imunisasi bagi pekerja yang berisiko tertular penyakit di tempat kerja
4. Membersihkan semua debu yang ada di sistem pendingin paling tidak satu kali setiap bulan
5. Membuat sistem pembersihan yang memungkinkan terbunuhnya mikroorganisme yang patogen pada
system pendingin.

Dengan mengenal bahaya dari faktor biologi dan bagaimana mengotrol dan mencegah penularannya diharapkan
efek yang merugikan dapat dihindari.

4. FAKTOR PSIKOLOGI

Merupakan suatu bahaya non fisik di tempat kerja. Timbul karena adanya interaksi dari aspek-aspek job
description, desain kerja dan organisasi, manajemen di tempat kerja, serta konteks lingkungan yang berpotensi
menimbulkan gangguan fisik, sosial, dan psikologi.

5. FAKTOR ERGONOMI

Merupakan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan kepada pekerja karena ketidaksesuaian desain
kerja dengan pekerja.

6. BAHAYA ELEKTRIK MEKANIK

Merupakan bahaya yang diakibatkan listrik yang berada di tempat kerja

Jenis :
a. bahaya sentuhan langsung

b. bahaya sentuhan tidak langsung

c. bahaya kebakaran

B. EFEK JANGKA PANJANG FAKTOR RISIKO DI TEMPAT KERJA

1. Biological Monitoring

Pada umumnya penilaian paparan bahan kimia terhadap manusia adalah dengan cara pemantauan
lingkungan. Telah diketahui bahwa untuk mengevaluasi suatu paparan bahan kimia terhadap manusia,
tergantung dari faktor sifat fisikokimia suatu bahan, higiene manusia itu sendiri serta beberapa faktor
biologi antara lain umur dan jenis kelamin. Untuk mempelajari kandungan bahan kimia di dalam tubuh
manusia dan efek biologi dari bahan kimia tersebut dipakai metode pemantauan biologi (biological
monitoring). Keuntungan dari pemakaian metode ini adalah terkaitnya bahan kimia secara sistematik
yang dapat dipakai untuk memperkirakan risiko yang terjadi.

Biomonitoring adalah pengujian sampel dari manusia, seperti darah dan air kemih, untuk mengetahui
metabolisme kimiawi. Kapasitas ini adalah kunci dari fungsi inti untuk efektivitas sebuah laboratorium
kesehatan masyarakat. Tanpa biomonitoring, diagnosis dan pengobatan terhadap paparan bahan kimia
dapat tertunda.

Biomonitoring adalah alat yang penting untuk pencegahan penyakit. Ketika hal ini dikombinasikan
dengan usaha penelusuran penyakit, biomonitoring memungkinkan petugas kesehatan masyarakat untuk
mengerti dengan lebih baik apa, dimana dan kapan keterpaparan terjadi, hal inilah yang dikaitkan
dengan faktor-faktor lingkungan

Pemantauan biologi suatu paparan merupakan aktifitas pencegahan yang sangat penting dan mendeteksi
efek akibat bahan kimia. Hal ini disebut sebagai aktifitas survailen kesehatan (Health Surveillance).
Khusus untuk petanda biologi yang peka (sensitive biological marker), suatu pemantauan biologi
bertujuan untuk mendeteksi tanda keracunan secara dini sebagai aktifitas pencegahan.

Pemantauan biologi dipakai untuk mengidentifikasi suatu paparan bahan kimia yang bekerja secara
sistemik pada organisme. Untuk menilai risiko kesehatan dari suatu bahan kimia yang masuk tubuh lebih
efektif memakai cara pemantauan biologi. Bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh melalui kulit, saluran
pencernaan dan pernapasan yang bersumber dari tempat kerja dan lingkungan lainnya dapat dilakukan
dengan pemantauan biologi.

TES BIOLOGI SUATU PAPARAN

Untuk mengukur bahan kimia atau metabolik umumnya digunakan media biologi. Media biologi yang
sering dipakai adalah urine, darah, udara alveolus. Sedangkan media biologi yang jarang dipakai untuk
pengukuran bahan kimia atau metabolik adalah ASI, lemak, air liur, rambut, kuku, gigi dan plasenta.
Pada umumnya urine dipakai sebagai media untuk mengukur bahan kimia anorganik dan organik yang
mudah larut dalam air. Darah dipakai sebagai media untuk sebagian besar bahan kimia anorganik dan
organik yang sukar dilakukan biotransformasi, sedangkan udara alveolus dipakai untuk bahan yang
mudah menguap.
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pengukuran suatu parameter dan waktu pengambilan
sampel adalah:

Sifat fisiko-kimia dari bahan

Kondisi paparan

Parameter toksokinetik: distribusi, biotransformasi dan eliminasi

Sensitivitas dari metode analisis

Gangguan kesehatan

Dosis organ (besar dosis pada organ)

Dosis target (besar dosis pada sasaran)


Sebagai contoh adalah Cadmium dalam darah merupakan logam berat yang secara umum dapat
mengganggu kesehatan. Tetapi cadmium dalam urine merupakan indikator yang baik terakumulasinya
logam berat tersebut di dalam ginjal. Berdasarkan selektifitas dari pemeriksaan bahan kimia atau
metabolitnya, maka pemeriksaan dapat bersifat selektif dan non selektif. Pemeriksaan yang selektif untuk
bahan-bahan kimia tunggal sedangkan pemeriksaan non selektif untuk gabungan bahan kimia.
Pemantauan biologi dapat pula berisi gas invasife dan non invasife. Pemeriksaan invasife memerlukan
misalnya sampel darah dan sampel jaringan, sedangkan yang non invasife hanya memerlukan sampel
urine, udara alveolus dan kuku.

Selain uji pengukuran bahan kimia atau metabolit di dalam media biologi ada tes lain yang termasuk uji
biologi yaitu:

Uji yang didasarkan pada tidak adanya kelainan biologi, contoh: pengukuran aktifitas eritrosit
cholinesterase

Uji pengukuran bahan kimia yang terikat pada molekul sasaran, contoh: uji karboksi haemoglobin pada
masyarakat sekitar industri

Jadi secara umum istilah biomonitoring dipakai sebagai alat/cara yang penting dan merupakan metode
baru untuk menilai suatu dampak pencemaran lingkungan.

Istilah yang lebih spesifik adalah monitoring biologi (Biological Monitoring). Di dalam praktek
penggunaan monitoring biologi (MB) adalah untuk memonitor populasi yang terpapar oleh bahan
polutan di tempat kerja maupun di lingkungan.

Kegiatan monitoring dapat dipakai untuk mengevaluasi risiko kesehatan yang berhubungan dengan
bahan polutan. Dikenal ada 3 jenis monitoring yaitu:

1. Monitoring ambien untuk menilai risiko kesehatan Monitoring ambien tersebut digunakan untuk
memonitor paparan eksternal dari bahan kimia untuk mengetahui berapa kadar bahan kimia di
dalam air, makanan, dan udara. Risiko kesehatan dapat diperkirakan (diprediksi) berdasarkan batas
paparan lingkungan, misalnya Treshold Limit Value (TLV) dan Time Weighted Average (TWA) dari
suatu paparan.

2. Monitoring biologi dari paparan (MB paparan) Monitoring biologi suatu paparan adalah
pemantauan suatu bahan yang mengadakan penetrasi ke dalam tubuh dengan efek sistemik yang
membahayakan. Monitoring biologi dari suatu paparan dapat dipakai untuk mengevaluasi risiko
kesehatan. Monitoring biologi tersebut dilaksanakan dengan memonitor dosis internal dari bahan
kimia, misalnya jumlah dosis efektif yang diserap oleh organisme. Risiko terhadap kesehatan
diprediksi dengan membandingkan nilai observasi dari parameter biologi dengan Biological Limit
Value (BLV) dan/atau Biological Exposure Index (BEI).

3. Monitoring biologi dari efek toksikan (health surveillance) Tujuan monitoring biologi dari efek
toksikan adalah memprediksi dosis internal untuk menilai hubungannya dengan risiko kesehatan,
mengevaluasi status kesehatan dari individu yang terpapar dan mengidentifikasi tanda efek negatif
akibat suatu paparan, misalnya kelainan fungsi paru.

MACAM BIOMONITORING

1. Biomonitoring Logam

Biomonitoring logam dapat dilakukan dengan pemeriksaan suatu media untuk menentukan bahan logam.
Media yang dipakai antara darah/urine, jaringan tubuh, ikan, binatang invertebrata, dan tanaman
perairan.

a. Logam yang dapat ditemukan pada darah/urine: Cadmium, Zat besi, Manganese, Tembaga, Merkuri,
Zink

b. Logam berat di atmosfer yang ditemukan pada jaringan burung: partikel timbal, Cadmium, Arsen,
Merkuri. Logam berat tersebut berasal dari pabrik pengelasan logam dan secara tidak langsung burung
memakan serangga dengan yang terkontaminasi oleh logam berat. Tempat akumulasi logam berat di
dalam tubuh burung terletak pada jaringan dan bulu burung.

c. Logam berat di perairan yang ditemukan pada ikan: Chromium, Tembaga, Timbal, Zink. Logam
tersebut akan meningkat kadarnya, apabila ada peningkatan BOD di perairan.

d. Logam berat di perairan yang ditemukan pada binatang invertebrata: Chromium, Cadmium, tembaga,
timbal, cobalt, nikel. Adanya logam berat tersebut pada tubuh invertebrata merupakan indikator
tercemarnya lingkungan.

e. Tanaman perairan dan tanaman darat dapat dipakai sebagai bio indikator lingkungan yang
terkontaminasi oleh logam berat. Pabrik pengecoran besi yang mengeluarkan bahan pencemar udara
logam berat dapat dideteksi pada tanaman dengan analisis Neutron Activation Analysis.

2. Biomonitoring Zat Organik


Akumulasi zat organik pada beberapa spesies mamalia merupakan bio indikator yang potensial untuk
mendeteksi pencemaran lingkungan. Beberapa zat organik yang dipakai indikator antara lain:

a. perubahan non protein sulfhidril pada sel liver dari tikus sebagai indikator terpapar oleh pestisida.

b. Meningkatnya bilirubin pada tikus, menunjukkan adanya paparan oleh Tri Nitro Toluen (TNT).

c. Terdapatnya hubungan antara pencemaran lingkungan dengan Poly Chlorinated Bifenil (PCB), dioxin,
dan furan pada manusia.

d. Terdapatnya dioxin, furan, PCB, DDE, dan lindane pada telur burung sebagai indikator tercemarnya
lingkungan oleh zat organik

e. Terakumulasinya PCB, pestisida, dan bahan antropogenik pada tubuh ikan sebagai indikator
tercemarnya ekosistem perairan

f. Meningkatnya aktifitas Mixed Function Oxidase (MFO) pada ikan di sungai yang tercemar oleh bahan
organik, PAH, Dioxin, dan PCB.

g. Aktivitas Xenobiotik DNA adduct, Cytochrome P 450 induksi dan oryl hidrokarbon hidroksilase pada
ikan dipakai sebagai biomarker pencemaran pantai oleh PCB dan DDT.

h. Mengurangnya komunitas phytoplankton dapat dipakai sebagai biomonitoring pencemaran pestisida


dalam perairan.

3. Biomonitoring Limbah Cair

Ada beberapa studi toksisitas yang dipakai untuk menilai buangan limbah cair antara lain pemakaian
bakteri dan pemakaian invertebrata. Limbah pabrik kertas yang mengandung bahan kimia pemutih
dilakukan studi memakai biota air misalnya ikan.

Cara baru untuk menilai kualitas air laut yang terkontaminasi oleh bahan kimia pemutih adalah dengan
cara bio assay antara lain: uji inhibisi pertumbuhan algae dan uji larva biota air.

4. Biomonitoring Pencemar Udara

Perubahan ambien atmosfer oleh adanya bahan pencemar udara akan dapat mempengaruhi kehidupan
tanaman. Daun pinus jarum dapat dipakai sebagai indikator pencemaran alifatik hidrokarbon. Dengan
pemeriksaan gas kromatografi ditemukan bahwa kadar hidrokarbon lebih tinggi pada daun pohon pinus
yang berumur tua. Tanaman tingkat rendah antara lain lichen parmalia sulcata dapat sebagai indikator
pencemaran udara. Dengan demikian maka lichen dapat dipakai sebagai biomonitor untuk pencemar
udara.

5. Biomonitoring Asidifikasi

Perairan yang mempunyai pH rendah akan bersifat asam. Keasaman perairan dapat dideteksi dengan
memakai biomarker biota yang hidup dalam perairan tersebut. Dalam keadaan pH rendah (pH=3), maka
logam besi dan manganese akan terdeteksi dalam perairan. Efek perairan dengan pH rendah, logam yang
toksis dan Dissolve Organic Carbon (DOC) terhadap hewan amfibi akan menyebabkan terlambatnya
metamorfosa, menurunnya daya tahan dan menurunnya berat badan hewan amfibi.

6. Biomonitoring Kesehatan Manusia

Biomonitoring Pb dan Cd pada wanita yang melahirkan, dilakukan dengan pemeriksaan ASI dan darah.
Karyawan industri petrokimia yang terpapar dengan PAH pada pemeriksaan urine ditemukan biomarker
hidroksipyrene.

b. Environment monitoring

Lingkungan kerja diartikan sebagai segala sesuatu yang berada di sekitar tenaga kerja yang dapat
mempengaruhi dirinya dalam melakukan tugas-tugas yang dibebankan.

Lingkungan kerja yang lestari dan manusiawi adalah faktor pendorong bagi kegairahan dari efisiensi
kerja

Kondisi lingkungan kerja yang kurang baik dan melebihi toleransi manusia untuk menghadapinya tidka
saja akan menurunkan produtivitas kerja tetapi juga akan menjadi sebab terjadinya penyakit akubat
kerja, pencemaran lingkungan, cacat, dan bahkan kematian

Pemantauan lingkungan menggambarkan proses dan kegiatan yang perlu dilakukan untuk
mengkarakterisasi dan memantau kualitas lingkungan. Pemantauan lingkungan digunakan dalam
penyusunan analisis dampak lingkungan, serta di banyak situasi di mana aktivitas manusia membawa
risiko efek yang merugikan pada lingkungan alam. Semua strategi dan program pemantauan memiliki
alasan dan pembenaran yang sering dirancang untuk menetapkan status lingkungan atau untuk
menetapkan tren dalam parameter lingkungan. Dalam semua kasus hasil monitoring akan ditinjau,
dianalisis secara statistik dan diterbitkan. Rancangan program pemantauan karena itu harus
memperhatikan penggunaan akhir data sebelum mulai pemantauan.

Tahap environment monitoring :

1. Mengenai masalah
- Memahami proses produksi (jenis industry, product dan by product, lay-out
mesin,imbah)
- Mencari dan memahami sumber informasi melalui keluhan-keluhan karyawan, pengawas
K3, serikat pekerja, majalah, jurnal, dsb)
- Melakukan survey pendahuluan untuk mengetahui sumber-sumber yang diperkirakan
terdapat bahaya, lingkungan kerja, sanitasi dan fasilitasnya, IPAL, Alat pengendali,
poster dan tanda-tanda peringatan dan ketata rumah tanggan perusahaan

Alat-alat monitoring lingkungan kerja

Dilakukan dengan survey pendahuluan untuk mengetahui :


- Proses produksi
- Bahan yang dipakai
- Hasil produksi dan hasil samping
- Faktor-faktor bahaya
- Jumlah karyawan yang terpapar
- Lamanya waktu terpapar
- Ketatarumahtanggaan perusahaan
- Alat epengendai yang telah ada
- Dll
2. Evaluasi/penilaian

-Melakukan pengukuran untuk mengetahui secara kualitatif dan kuantitatif tingkat


bahaya yang terdapat di lingkungan kerja secara direct reading ataupun mengambil
contoh.sampel untuk dianaisa di laboratorium
- Membandingkan hasil ukur atau hasil analisa dengan standar yang ada
3. Usaha-usaha pengendalian
- Pengendalian secara mekanis,yaitu pengendaian pada sumber bahaya dan jalan transmisi
atau penjalaran kepada tenaga kerja
- Pengendalian secara administrative, yaitu pengendalian untuk membatasi pemaparan
dengan rencana kerja misalnya mengurangi waktu kerja, pemeiksaan kesehatan dan
monitoring lingkungan kerja
- Pengendalian dengan APD

Kesimpulan

Evaluasi jangka panjang faktor risiko di tempat kerja dapat menggunaan 2 metode, yaitu :

a. biomonitoring, yang fokus pada aspek biologi

b. environmental monitoring fokus ke aspek lingkungan di tempat kerja

Evaluasi bertujuan untuk mengukur risiko di tempat kerja yang mengancam pekerja dalam jangka
panjang

Daftar pustaka

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2235957-
pengertian-iklim-kerja/#ixzz2gNVfMVql
http://organisasi.org/pengertian-getaran-dan-penjelasan-dasar-frekuensi-periode-
dan-amplitudo-ilmu-pengetahuan-fisika