Anda di halaman 1dari 18

Tugas Kelompok

GIZI
(ASAM FOLAT DAN VITAMIN B12)

Kelompok v
Akmal Novrian
Bani Akbar
Delfani Gemely
Fadillah

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunianya sehingga makalah ini dapat kami
selesaikan tepat pada waktunya. Dan tak lupa pula kami kirimkan salam dan
salawat kepada junjungan Nabiullah Muhammad SAW sebagai sang jurnalistik
sejati yang telah membawa umat manusia dari alam gelap gulita menuju alam
yang terang menderang.
Tak lupa pula kami menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini. Termasuk dosen
Analisa Kualitas Lingkungan yang senantiasa memberikan bimbingan.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaanya
sehingga saya mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun agar
makalah selanjutnya lebih baik lagi. Mudah-mudahan makalah ini dapat
bermanfaat bagi siapapun. Terkhusus untuk diri saya pribadi dan umumnya
untuk oranglain. Amin..
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..i
DAFTAR ISI...ii
BAB I (PENDAHULUAN)
A. LATAR BELAKANG1
B. RUMUSAN MASALAH........2

BAB II (PEMBAHASAN)

A. ASAM FOLAT.

1. Sumber Asam Folat

2. Fungsi Asam Folat.....

3. Gejala Defisiensi Asam Folat.....

4. Penyebab Defisiensi Asam Folat...

5. Akibat atau Dampak Defisiensi Asam Folat..

6. Upaya Penanggulangan/Pengobatan......

7. Proses Metabolisme

B. VITAMIN B12.

1. Sumber Vitamin B12.

2. Fungsi Vitamin B12...........................................................................

3. Gejala Defisiensi Vitamin B12..

4. Penyebab Defisiensi Vitamin B12.

5. Akibat atau Dampak Defisiensi Vitamin B12.

6. Upaya Penanggulangan/Pengobatan..

7. Proses Metabolisme

BAB III (PENUTUP)

KESIMPULAN...9
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
(PENDAHULUAN)
A. LATAR BELAKANG
Vitamin adalah molekul organik yang di dalam tubuh mempunyai
fungsi yang sangat bervariasi. Fungsi vitamin dalam metabolisme yang paling
utama adalah sebagai kofaktor. Di dalam tubuh diperlukan dalam jumlah
sedikit (micronutrient). Biasanya tidak disintesis di dalam tubuh, jika dapat
disintesis jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga harus
diperoleh dari makanan atau diet.
Vitamin dalam arti luas adalah senyawa organik, bukan karbohidrat,
lemak maupun protein, yang memiliki peranan vital uutuk berjalannya fungsi
tubuh yang normal, meskipun dibutuhkan dalam jumlah kecil. Vitamin adalah
zat gisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, karena berperan mambantu proses
metabolisme tubuh yang normal. Beberapa vitamin tidak dapat dibuat tubuh
dalam jumlah cukup, sehingga harus dilengkapi dari bahan pangan, kecuali
vitamin D. Defisiensi vitamin tertentu akan menyebabkan berkembangnya
suatu sindrome yang spesifik untuk tiap-tiap vitamin. Beberapa vitamin tidak
diperlukan dalam diet, dikarenakan vitamin-vitamin tersebut dapat disintesis
sendiri dengan bantuan mikroflora usus. Adanya vitamin dalam bahan makanan
belum merupakan suatu jaminan bahwa suatu defisiensi dari vitamin tersebut
tidak timbul, karena mungkin ada faktor-faktor lain yang terdapat dalam diet
yang menghalangi pemanfaatannya oleh tubuh, misalnya proses absorbsinya di
dalam usus.
Vitamin merupakan zat yang mengambil peran penting untuk tubuh
manusia. Bagi manusia, kebutuhan vitamin dan adalah menjadi jaminan
kesehatan kondisi tubuh dalam keadaan sehat. Karena tubuh manusia tidak
dapat memroduksi vitamin secara sendiri. Tubuh mendapatkan vitamin melalui
proses pencernaan dari makanan yang kita konsumsi.

Konsumsi pola makan sehat sangat menunjang kehadiran vitamin


dalam menjawab kebutuhan vitamin pada tubuh sesuai dengan tingkat usia dan
kebutuhannya. Betapa pentingnya vitamin yang merupakan zat senyawa
kompleks untuk memperkecil peluang manusia terkena penyakit akibat
kekurangan maupun kelebihan asupan vitamin yang merupakan kebutuhan
tubuh untuk mencapai gizi seimbang sehingga kesehatan masyarakat dapat
terwujud.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Mengetahui sumber dan fungsi asam folat dan vitamin B12.
2. Mengetahui gejala difisiensi dan penyebab difisiensi kekurangan
asupan asam folat dan vitamin B12.
3. Mengetahui dampak dan penanggulangan/pengobatan kekurangan asam
folat dan vitamin B12.
4. Menjelaskan bagaimana proses metabolisme asam folat dan vitamin B12.
BAB II
(PEMBAHASAN)
A. ASAM FOLAT
Asam folat atau folic acid termasuk dalam salah satu jenis vitamin B.
Merupakan vitamin larut dalam air yang terlibat dalam berbagai proses dalam
tubuh manusia. Asam folat sangat penting bagi pertumbuhan dan
perkembangan sel. Folasin atau folat adalah nama generik sekelompok ikatan
yang secara kimiawi dan gizi sama dengan asam folat. Ikatan-ikatan ini
berperan sebagai koenzim dalam transportasi pecahan-pecahan karbon-tunggal
dalam metabolisme asam amino dan sintesis asam nukleat.

1. Sumber Asam Folat


Folat terdapat luas di dalam bahan makanan terutama dalam bentuk
poliglutamat. Folat terutama terdapat di dalam sayuran hijau (istilah folat
berasal dari kata latin folium, yang berarti daun hijau) buah-buahan, hati,
daging tanpa lemak, serealia utuh, biji-bijian, kacang-kacangan, dan jeruk.
Berikut merupakan nilai asam folat berbagai bahan makanan (g/100
gram)

No Bahan Makanan g Bahan Makanan g


1 Hati ayam 1128 Asparagus 109
2 Hati sapi 250 Bayam 134
3 Ginjal sapi 45,3 Rumput laut kering 4700
4 Ikan kembung 36,5 Daun kacang 109,8
5 Ganggang laut 61 Daun selada 88,8
6 Kepiting 56 Kucai 57,8
7 Ubi jalar 52 Kacang kedelai 210
8 Gandum 49 Kacang hijau 121
9 Bungkil kacang tanah 124 Kacang merah 180
10 Jeruk mandarin 5,1 Pindakas 125
Sumber: Food Composition Table For Use In East Asia, FAO, 1927
Sebanyak 75 % folat di dalam makanan terdapat dalam bentuk
poliglutamat dan sisanya sebagai monoglutamat. Karena folat mudah rusak
pada pemanasan, dianjurkan tiap hari makan buah dan sayur mentah, atau
sayur yang dimasak tidak terlalu matang. Ketika dipanaskan dalam suhu tinggi,
asam folat akan hilang sampai 30-80 persen. Mengonsumsi asam folat
sebaiknya disertai dengan asupan vitamin C, B6, atau B12 untuk
mengoptimalkan penyerapannya dalam tubuh. Ketersediaan biologik folat
berasal dari bahan makanan dibatasi oleh kehadiran inhibitor berupa enzim
folat hidrolase dan faktor-faktor lain. Diperkirakan bahwa hanya 50 % folat
berasal dari makanan dapat diabsorpsi. Folat ternyata disintesis dalam jumlah
cukup banyak oleh bakteri usus.

2. Fungsi Asam Folat


Fungsi utama koenzim folat (THFA) adalah memindahkan atom karbon
tunggal dalam bentuk gugus formil, hidroksimetil atau metil dalam reaksi-
reaksi penting metabolisme beberapa asam amino dan sintesis asam nukleat.
THFA berperan dalam sintesis purin-purin guanin dan adenin serta pirimidin
timin, yaitu senyawa-senyawa yang digunakan dalam pembentukan asam-asam
deoksiribonukleat (DNA) dan asam ribonukleat (RNA).
THFA berperan dalam saling mengubah antara serin dan glisin, oksidasi
glisin, metilasi hemosistein menjadi metionin denagn vitamin B 12 sebagai
kofaktor, dan metilasi prekursor etanolamin menjadi vitamin kolin. Perubahan
nikotinamida menjadi N-metil nikotinamida dengan penambahan satu gugus
metil tunggal dan oksidasi fenilalanin menjadi tirosin membutuhkan folasin.
Folat juga dibutuhkan dalam perubahan histidin menjadi asam glutamat.
Gangguan metabolisme histidin menyebabkan penumpukan produk antara,
asam forminoglutamat/FIGLU, yang dikeluarkan melalui urin. Disamping itu
folat dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan sel darah putih dalam
sumsum tulang dan untuk pendewasaannya. Folat berperan sebagai pembawa
karbon tunggal dalam pembentukan hem. Suplementasi folat dapat banyak
menyembuhkan anemia pernisiosa, namun gejala gastrointestinal dan gangguan
saraf tetap bertahan.
Selain itu, asam folat juga diyakini efektif untuk mencegah kanker usus
besar atau kanker serviks, mencegah penyakit jantung dan stroke, membantu
mengatasi masalah gangguan daya ingat seperti penyakit Alzheimer, gangguan
pendengaran yang berkaitan dengan usia, mengurangi tanda-tanda penuaan,
osteoporosis, gangguan tidur, depresi, nyeri saraf, nyeri otot bahkan penelitian
juga menunjukkan vitamin ini bermanfaat untuk terapi bagi penderita AIDS.
Selain itu, ada juga fungsi asam folat pada ibu hamil, yaitu:
1. Asam folat dapat membantu mencegah cacat tabung saraf (neural
tube defects/NTDs), seperti cacat pada sumsum tulang belakang
(misal spina bifida) dan otak (anencephaly).
Kecacatan ini terjadi pada tahapan sangat awal dari perkembangan
janin, bahkan sebelum kebanayakan perempuan menyadari bahwa dirinya
hamil. Dengan mengonsumsi asam folat satu bulan sebelum hamil dan selama
trimester pertama dapat mengurangi risiko cacat sebesar 50-70 persen.
Beberapa penelitian menunjukkan asam folat juga dapat membantu
mengurangi risiko cacat bayi lainnya, seperti bibir sumbing, cacat pada celah
langit-langit dan beberapa jenis cacat jantung.
2. Tubuh membutuhkan folat untuk membantu membuat sel-sel darah
merah normal, sehingga dapat mencegah anemia.
3. Folat sangat penting untuk proses perbaikan, produksi dan fungsi
DNA. Jadi asam folat sangat penting untuk pertumbuhan sel dari
plasenta dan perkembangan bayi yang dikandung.
4. Beberapa studi menunjukkan asam folat dapat mengurangi risiko pre-
eklamsia, yaitu gangguan kompleks yang dapat mempengaruhi
kesehatan ibu hamil dan bayinya.
3. Gejala Defisiensi Asam Folat
Gejala defisiensi asam folat dapat kita lihat dari dua sudut pandang,
yaitu sebagai berikut:
a. Gejala Klinis Kekurangan Asam Folat
1. Tanda dan gejala utama: lesu, lemas, susah bernapas, oedem,
nafsu makan menurun, depresi, dan mual.
2. Kadang-kadang pucat, glositis, dan diare.
3. Pada kasus yang berat dijumpai seperti kasus malnutrisi.
b. Gejala Laboratorium Kekurangan Asam Folat
1. Gejala pernisiosa anemia murni (kekurangan vitamin B12),
jarang terjadi.
2. Pada yang berat, Hb rendah: 4-6 gm/100 ml.
Eritrosit: 2 juta/mm3, bisa terjadi leukopeni/trombositopeni.
3. Leukosit perifer dominant bentuk segmen.
Pemeriksaan figlu test positif, terutama pada ibu hamil.
4. Sumsum tulang hiperplastik/megaloplastik (aspirasi sumsum
tulang krista iliaka) pada ibu hamil.
5. Hitung jenis bergeser ke kanan, sel darah merah dalam bentuk
makrositosis dan poikilositosis.

4. Penyebab Defisiensi Asam Folat


Kekurangan asam folat dapat terjadi karena kurangnya mengkonsumsi
asam folat itu sendiri, terganggunya absorpsi, kebutuhan metabolisme yang
meningkat akan vitamin ini atau pada pembelahan sel yang berjalan sangat
cepat, pengaruh obat-obatan dan kecanduan alkohol. Kurangnya konsumsi folat
terutama terjadi pada masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak dapat
memperoleh makanan kaya folat secara teratur. Kurang konsumsi dapat juga
terjadi pada manula yang susunan makanannya terbatas.
Berikut merupakan faktor penyebab defisiensi asam folat, yaitu:
1. Diet rendah folat, bisa disebabkan oleh mutu makanan, jenis
makanan, dan penyediaan makanan.
2. Sakit berat, gangguan gastro intestinal dan antibiotik oral
menyebabkan gangguan absorsi asam folat dari usus.
3. Kekurangan vitamin C, penyakit hepar menyebabkan cadangan
energi berkurang.
4. Muntah pada ibu hamil, terutama hamil kembar menyebabkan
kebutuhan akan folic acid meningkat.
5. Anemia hemolitik seperti pada malaria, menyebabkan terjadinya
eritropoisis dan perkisaran berlebih dari sel darah merah
sehingga permintaan folic acid meningkat sehingga terjadi folic
acid defisiensi di dalam haemoglobinopati.
6. Pemakaian obat-obatan antikonvulsan, alkohol, dan pada ibu
dengan preeklamsi-eklamsi.

5. Akibat atau Dampak Defisiensi Asam Folat


Kekurangan asam folat terutama menyebabkan gangguan metabolisme
DNA. Akibatnya terjadi perubahan dalam morfologi inti sel, terutama sel-sel
yang sangat cepat membelah, seperti sel darah merah, sel darah putih serta sel-
sel epitel lambung dan usus, vagina dan serviks rahim. Kekurangan folat
menghambat pertumbuhan, menyebabkan anemia megaloblastik dan gangguan
darah lain, peradangan lidah (glositis) dan gangguan saluran cerna. Alkohol
mengganggu absorpsi atau meningkatkan ekskresi folat.
Kekurangan asam folat dapat terjadi karena terganggunya absorpsi,
kebutuhan metabolisme yang meningkat akan vitamin ini atau pada
pembelahan sel yang berjalan sangat cepat, pengaruh obat-obatan dan
kecanduan alkohol. Kurangnya konsumsi folat terutama terjadi pada
masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak dapat memperoleh makanan
kaya folat secara teratur. Kurang konsumsi dapat juga terjadi pada manula yang
susunan makanannya terbatas. Penggunaan folat dapat terganggu pada
kekurangan protein dan pada keadaan dimana kebutuhan meningkat, seperti
pada kehamilan, anemia hemolitik, leukemia dan penggunaan obat-obatan
tertentu.
Beberapa obat mempunyai struktur kimia yang sama dengan folat dan
dapat menggantikan vitamin ini pada enzim-enzim, sehingga menutup alur
metabolisme folat. Obat-obat semacam ini adalah obat-obat anti kanker, aspirin
dan antasid. Pil antihamil dan rokok juga dapat mengganggu penggunaan folat
oleh tubuh. Salisilazosulfapiridin, obat yang digunakan pada penyakit
peradangan usus besar dapat menyebabkan defisiensi folat, karena
menghambat hidrolisis dan absorpsi folat. Sebanyak 30-80% pecandu alkohol
kronik menderita defisiensi folat. Penyebabnya berbagai faktor. Penyakit hati
disebabkan oleh alkohol meningkatkan kemungkinan terjadinya defisiensi
folat. Simpanan folat pada penyakit ini sangat rendah. Alkoholisme kronik
menyebabkan perubahan sumsum tulang megaloblastik dan anemia. Alkohol
secara berlebihan menurunkan ketersediaan biologik folat bagi sumsum tulang.
Minuman beralkohol, kecuali bir rendah dalam folat peminum berat cenderung
tidak memakan sayuran segar atau sumber folat lain. Etanol ternyata
menurunkan transpor folat melintasi dinding usus, menurunkan pengambilan
folat oleh hati dan meningkatkan ekskresi asam folat oleh ginjal.

6. Upaya Penanggulangan atau Pengobatan

7. Proses Metabolisme Asam Folat


Folat dalam makanan terdapat sebagai poliglutamat yang terlebih
dahulu harus dihidrolisis menjadi bentuk monoglutamat di dalam mukosa usus
halus. Pencernaan ini dilakukan oleh enzim hidrolase, terutama konjugase pada
mukosa bagian atas dinding halus. Hidrolisis poliglutamat folat dibantu oleh
seng.
Setelah dihidrolisis, monoglutamat folat diikat oleh reseptor folat
khusus pada mikrovili dinding usus halus yang kemungkinan juga merupakan
alat angkut vitamin tersebut. Folat di dalam sel kemudian diubah menjadi 5-
metil-tetrahidrofolat (5-metil-H4 folat) dan dibawa ke hati melalui sirkulasi
darah portal untuk disimpan. Jumlah simpanan folat di dalam tubuh orang
dewasa sehat ditaksir sebanyak 7,5 mg. hati merupakan tempat simpanan
utama folat. Di dalam hati, asam metil tetrahidrofolat diubah menjadi asam
tetra hidrofolat (THFA) dan gugus metil disumbangkan ke metionin.
Tetrahidrofolat kemudian bereaksi dengan enzim poliglutamat sintetase untuk
membentuk kembali poliglutamil folat yang kemudian berkaitan dengan
berbagai macam enzim dan melakukan sebagian besar fungsi dalam plasma
dan empedu sebagai 5-metil-H4 folat. Setelah diambil dan digunakan oleh
sumsum tulang, folat bersirkulasi sebagai poliglutamat di dalam pool/simpanan
sel darah merah. Folat dikeluarkan melalui feses dan urin sebagai 5-metil-H4
folat. Jumlah folat yang dikeluarkan setiap hari melalui feses dan urin hampir
sama dengan jumlah yang terdapat dalam simpanan tubuh, yang umurnya
adalah 100 hari. Persediaan folat habis dalam waktu dua puluh minggu.

B. VITAMIN B12 (Cyanocobalamin)


Vitamin B12 atau kobalamin (cobalt) adalah mineral esensial. Tubuh
kita membutuhkan vitamin ini kecil sekali jika dibanding vitamin B lainnya,
yaitu rata-rata 3-4 mkg per hari. Vitamin B12 memiliki struktur molekul yang
sangat kompleks. Selain mengandung cobalt, kobalamin juga mengandung
karbon, oksigen, fosfor, dan nitrogen. Viamin B12 termasuk tahan panas, tetapi
peka terhadap larutan asam (acid) atau basa yang dipanaskan, cahaya, oksigen,
dan beberapa logam berat.
Vitamin B12 diketahui digunakan pertama kali tahun 1926 untuk
mengobati sejenis penyakit anemia yang merusak saraf-saraf otak (pernicious
anemia). Penyerapan vitamin B12 membutuhkan asam lambung, kalsium, dan
hormon tiroid. Karena itu, mereka yang berpotensi kekurangan zat tersebut,
yaitu wanita hamil dan manula, juga akan berpeluang kekurangan vitamin B12.
Konsentrasi Vitamin B12, paling tinggi terdapat pada semua jaringan organ
metabolik aktif seperti hati (liver), jantung, ginjal, pankreas, otak, testis, darah,
dan tulang sumsum.
1. Sumber Vitamin B12
Semua vitamin B12 alami diperoleh sebagai hasil sintesis bakteri, fungi
atau ganggang. Sumber vitamin B12 adalah makanan protein hewani yang
memperolehnya dari hasil sintesis bakteri dalam usus, seperti hati, ginjal.
Kemuadian ada juga telur, susu, ikan, keju, dan daging. Vitamin B 12 dalam
sayuran ada bila terjadi pembusukan atau pada sintesis bakteri. Vitamin B 12
yang terjadi melalui proses sintesis bakteri pada manusia tidak diabsorpsi
karena sintesis terjadi di dalam kolon. Bentuk vitamin B12 dalam makanan
terutama sebagai 5-deoksiadenosil dan hidroksikobalamin, sedikit sebagai
metilkobalamin dan sedikit sekali sebagai sianokobalamin. Kandungan vitamin
B12 beberapa bahan makanan dapat dilihat pada tabel berikut:
No Bahan Makanan g Bahan Makanan g
1 Hati sapi 52,7 Keju 1,0
2 Hati ayam 27,9 Susu sapi segar 0,4
3 Ginjal 16,3 Sardin 14,4
4 Jantung 13,3 Ikan belanak 8,6
5 Daging sapi 1,4 Ikan bandeng 3,4
6 Ayam 0,4 Ikan tuna 3,0
7 Kuning telur 6,0 Ikan kembung 2,4

Sumber: Food Composition Table For Use In East Asia, FAO, 1927

Adapun suplemen vitamin B12 dipasaran adalah sianokobalamin


(cyanocobalamin, mengandung molekul cyanide), hidroksikobalamin
(hydroxycobalamin/vitamin B12 a), aquakobalamin (aqua-cobalamin/vitamin
B12 b), dan nitrokobalamin (nitrocobalamin/ vitamin B12 c).

2. Fungsi Vitamin B12


Vitamin B12 diperlukan untuk mengubah folat menjadi bentuk aktif dan
dalam fungsi normal metabolime semua sel, terutama sel-sel saluran cerna,
sumsum tulang dan jaringan saraf. Vitamin B12 merupakan kofaktor dua jenis
enzim pada manusia , yaitu metionin sintetase dan metil malonil-KoA mutase.
Reaksi metionin sintetase melibatkan asam folat. Gugus metil 5-metil
tetrahidrofolat (5-metil-H4 folat) dipindahkan ke kobalamin untuk membentuk
metilkobalaminyang kemudian memberikan gugus metil ke homosistein.
Produk akhir adalah metionin, kobalamin, H4 folat, yang dibutuhkan dalam
pembentukan poliglutamil folat dan 5,10-metil-H4 folat yang merupakan
kofaktor timidilat sintetase dan akhirnay untuk sintesis DNA. Terjadinya
anemia megaloblastik pada kekurangan Vitamin B12 dan folat terletak pada
peranan Vitamin B12 dalam reaksi yang dipengaruhi oleh metionin sintetase ini.
Reaksi metilmalonil-KoA mutase terjadi dalam mitokondria sel dan
menggunakan deoksiadenosilkobalamin sebagai kofaktor. Reaksi ini mengubah
metimalonil-KoA menjadi suksinil-KoA. Reaksi-reaksi ini diperlukan untuk
degradasi asam propionat dan asam lemak rantai ganjil terutama dalam sistem
saraf. Diduga gangguan saraf pada kekurangan vitamin B12 disebabkan oleh
gangguan aktifitas enzim ini.
Manfaat vitamin B12 sangat berperan dalam metabolisme jaringan-
jaringan saraf pusat dan kesehatan seluruh seluruh sistem saraf pusat. Vitamin
ini juga penting untuk usia pertumbuhan dan meningkatkan nafsu makan anak.
Vitamin B12, bersama-sama dengan besi, asam folat, tembaga, protein, dan
vitamin C seta vitamin B6 penting untuk pembentukan sel-sel darah merah.
Vitamin B12 membantu metabolisme protein, lemak, karbohidrat, juga zat besi
dalam tubuh. Juga penting dalam sintesa DNA dan RNA, juga produksi kolin
(choline, jenis vitamin B yang lain), dan metionin (methinine, jenis asam
amino esensial).
Vitamin B12 juga dijuluki vitamin panjang umur karena khasitanya
dalam peningkatan energi dan aktivitas sistem saraf pusat pada orang lanjut
usia. Pemberian vitamin B12 dengan cara injeksi merupakan terapi yang
banyak dilakukan dokter untuk mengatasi gangguan kelelahan kronis (chronic
fatigue). Cara ini baik hanya untuk kelelahan kronis akibat defisiensi vitamin
B12 saja.

3. Gejala Defisiensi Vitamin B12


Gejala-gejala defisiensi vitamin B12 adalah nyeri/lemah pada otot
lengan dan kaki, penurunan daya tangkap, kesulitan berjalan/berbicara, dan
refleks berkurang atau sebaliknya tidak terkontrol (terutama anggota tubuh).
Kekurangan vitamin B12 menyebabkan sel-sel darah merah membesar dan
terjadinya anemia megalobastik.
Gangguan haid (aliran darah kurang) juga dapat disebabkan kekurangan
vitamin B12. Adapaun gangguan pada sistem saraf akibat kekurangan vitamin
B12 dapat menyebabkan kerusakan permanen yang tidak bisa diperbaiki dengan
pemberian suplemen vitamin B12.
Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan kekurangan darah
(anemia), yang sebenarnya disebabkan oleh kekurangan folat. Tanpa vitamin
B12, folat tidak dapat berperan dalam pembentukan sel-sel darah merah. Gejala
kekurangan lainnya adalah sel-sel darah merah menjadi belum matang
(immature), yang menunjukkan sintesis DNA yang lambat. Kekurangan
vitamin B12 dapat juga mempengaruhi sistem syaraf, berperan pada regenerasi
syaraf peripheral, mendorong kelumpuhan. Selain itu juga dapat menyebabkan
hipersensitif pada kulit.

4. Penyebab Defisiensi Vitamin B12


Ada sejumlah faktor penyebab defisiensi vitamin B 12. Misalnya karena
asupan vitamin lewat makanan kurang. Jumlah yang ditelan sedikit, atau
kurang memenuhi standar yang ditetapkan. Ini bisa terjadi pada mereka yang
alergi makanan hewani, yang notabene merupakan sumber kobalamin (nama
lain vitamin B12).
Pola makan vegetarian (hanya makan dari sumber nabati) juga dapat
menjadi faktor penyebab kekurangan vitamin ini. Sebab, vitamin B12
ditemukan dalam produk hewan, dan jarang terdapat pada makanan nabati,
kecuali kalau bahan itu berasal dari rumput laut atau yang terkontaminasi oleh
feses. Beberapa rumput laut mengandung kobalamin kecuali spirulina karena
hampir seluruh vitamin B12 pada spirulina merupakan analog.
Makanya, mereka yang menganut pola makan vegetarian (pantang susu,
telur, daging) menjadi berisiko kekurangan vitamin ini. Hampir sepertiga
vegetarian yang berusia di atas 60 tahun tidak mampu lagi menyerap B 12 ketika
mereka makan daging dan produk susu. Hal ini karena perut mereka tidak
cukup menghasilkan asam lambung, bahan pemecah bahan makanan supaya
B12 dapat disimpan dalam tubuh (hati dan ginjal) hingga diperlukan lagi. Tanpa
asam lambung, orang yang menyantap menu dengan B12 dalam jumlah cukup
pun bisa mengalami defisiensi.
Sumber utama kobalamin antara lain daging beserta produk olahannya,
ginjal, hati, kerang, ketam, kepiting, ikan (salmon, tuna), berbagai makanan
laut (seafood) lain, unggas, dan telur. Juga susu dan produk olahannya.
Sumber lainnya adalah miso (produk fermentasi kedelai, semacam
tauco) dan tempe (terutama yang dibuat secara tradisional). Pada tempe buatan
pabrik tidak ditemukan kobalamin. Bagi kaum vegetarian yang akan
meningkatkan jumlah vitamin B12, dapat makan sereal ataupun susu kedelai
yang diperkaya dengan vitamin dan mineral.

5. Akibat Atau Dampak Defisiensi Vitamin B12


Kekurangan Vitamin B12 jarang terjadi karena kekurangan dalam
makanan, akan tetapi sebagian besar sebagai akibat penyakit saluran cerna atau
pada gangguan absorpsi dan transportasi. Karena Vitamin B 12 dibutuhkan untuk
mengubah folat menjadi bentuk aktifnya, salah satu gejala kekurangan Vitamin
B12 adalah anemia karena kekurangan folat. Anemia pernisiosa terjadi pada
atrofi/lisutnya lambung yang menyebabkan berkurangnya sekresi faktor
intrinsik. Separuh dari kejadian ini bersifat keturunan dan selebihnya karena
proses menua (usia sesudah 40 tahun) dengan meningkatnya proses atofi
jaringan tubuh.
Kekurangan Vitamin B12 menimbulkan dua jenis sindroma. Gangguan
sintesis DNA menyebabkan gangguan perkembangbiakan sel-sel, terutama sel-
sel yang cepat membelah. Sel-sel membesar (megaloblastosis), terutama
prekursor sel-sel darah merah dalam sumsum tulang, dan sel-sel penyerap pada
permukaan usus. Magloblastosis menyebabkan anemia megaloblastosis,
glositis, serta gangguan saluran cerna berupa gangguan absorpsi dan rasa
lemah.
Sindroma kedua berupa gangguan saraf yang menunjukkan degenerasi
otak, saraf mata, saraf tulang belakang dan saraf perifer. Tanda-tandanya adalah
mati rasa, semutan, kaki terasa panas, kaku dan rasa lemah pada kaki.
kekurangan Vitamin B12 lebih banyak terjadi pada orang tua karena makan yang
tidak teratur.

6. Upaya Penanggulangan atau Pengobatan


Pengobatan kekurangan vitamin B 12 atau anemia pernisiosa adalah
pemberian vitamin B12. Namun sebagian besar penderita tidak dapat menyerap
vitamin B12 per-oral (ditelan), karena itu diberikan melalui suntikan.
Pada awalnya suntikan diberikan setiap hari atau setiap minggu, selama
beberapa minggu sampai kadar vitamin B12 dalam darah kembali normal.
Selanjutnya suntikan diberikan 1 kali/bulan. Penderita harus mengkonsumsi
tambahan vitamin B12 sepanjang hidupnya.

7. Proses Metabolisme
Penyerapan adekuat dari vitamin B12 (kobalamin) menyebabkan
anemia pernisiosa. Vitamin B12 banyak terdapat di dalam daging dan dalam
keadaan normal telah diserap di bagian akhir usus halus yang menuju ke usus
besar (ilium).
Supaya dapat diserap, vitamin B12 harus bergabung dengan faktor
intrinsik (suatu protein yang dibuat di lambung), yang kemudian mengangkut
vitamin ini ke ilium, menembus dindingnya dan masuk ke dalam aliran darah.
Tanpa faktor intrinsik, vitamin B12 akan tetap berada dalam usus dan dibuang
melalui tinja.
Tetapi ada anemia pernisiosa, lambung tidak dapat membentuk faktor
intrinsik, sehingga vitamin B12 tidak dapat diserap dan terjadilah anemia,
meskipun sejumlah besar vitamin dikonsumsi dalam makanan sehari-hari.
Tetapi karena hati menyimpan sejumlah besar vitamin B12, maka anemia
biasanya tidak akan muncul sampai sekitar 2-4 tahun setelah tubuh berhenti
menyerap vitamin B12.

BAB III
(PENUTUP)