Anda di halaman 1dari 1

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pendahuluan
Epilepsi berasal dari bahasa Yunani (Epilepsia) yang berarti serangan. Otak adalah
struktur yang kompleks, terbuat dari jutaan sel saraf (neurones). Otak mengkontrol banyak
tugas, seperti kesadaran, gerakan, dan postur. Otak mengirim dan menerima pesan-pesan
sehingga kegiatan-kegiatan ini terjadi.Jika ada kesalahan dalam pengiriman atau penerimaan
pesan yang disebabkan oleh lepas muatan listrik abnormal atau berlebihan sel saraf, beberapa
atau bahkan seluruh fungsi otak akan berhenti untuk sementara. Jika itu terjadi, orang akan
merasakan bangkitan epilepsi (seizure). Jadi secara klinis, suatu bangkitan dinyatakan
epilepsi jika disebabkan oleh hiperaktifitas listrik di saraf otak, bukan karena penyakit otak
akut (Epilepsi Indonesia, 2007).
Epilepsi merupakan salah satu masalah kesehatan yang menonjol di masyarakat,
karena permasalahan tidak hanya dari segi medik tetapi juga sosial dan ekonomi yang
menimpa penderita maupun keluarganya (Djoenaidi, Benyamin, 2000).
World Health Organization menyebutkan, insidens epilepsi di negara maju berkisar
50 per 100.000 penduduk, sedangkan di negara berkembang 100 per 100.000 ribu. Salah satu
penyebab tingginya insidens epilepsi di negara berkembang adalah suatu kondisi yang dapat
menyebabkan kerusakan otak permanen. Kondisi tersebut di antaranya:infeksi, komplikasi
prenatal, perinatal, serta post natal (WHO, 2001)
Penatalaksanaan epilepsi sendiri tidak hannya terapi medisinal. Terapi medisinal yang
bertujuan untuk memberantas atau mengelola timbulnya serangan hanya merupakan salah
satu aspek dari perawatan seorang penderita epilepsi. Penatalaksaan epilepsi sebenarnya
terdiri dari penerangan tentang epilepsi, advis cara hidup sehari-hari, follow up, pemberian
antikonvulsan dan advis mengenai tindakan-tindakan yang harus dikerjakan bila serangan
epileptik bangkit. Sedangkan tujuan utama dari terapi farmakologik untuk epilepsi adalah
mengendalikan serangan epilepsi dengan satu jenis obat. Sebisa mungkin dengan dosis
terendah namun dapat mengendalikan epilepsi (lowest but best control) (Sudomo, 2004).