Anda di halaman 1dari 27

BAB I

STATUS PENDERITA

A. PENDAHULUAN
Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung dan usus yang
memberikan gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan seringkali
disertai peningkatan suhu tubuh. Diare adalah buang air besar yang terjadi pada
bayi/ anak lebih dari tiga kali dalam sehari disertai perubahan tinja menjadi cair
dapat disertai dengan lendir atau darah.
Gastroenteritis akut merupakan salah satu penyebab umum terjadi
kematian pada bayi dan anak-anak di dunia. Diseluruh dunia, pengobatan yang
tidak memadai bagi penderita membunuh 5 sampai 8 juta orang per tahun. Di
Indonesia sendiri gastroenteritis merupakan masalah yang sering terjadi, bahkan
bisa mengakibatkan kematian khususnya pada anak anak dan balita. Penyakit
gastroenteritis biasanya terjadi karena penggunan air yang tidak bersih, kurangnya
sanitasi lingkungan, pola hidup dan makanan. Penderita gastroenteritis yang
terlalu lama dapat menyebabkan dehidrasi berat dan akhirnya menyebabkan
kematian.
Gastroenteritis disebabkan oleh banyak hal meliputi bakteri, virus, parasit,
toksin, dan obat. Penyebab utama yang paling umum adalah virus dan bakteri.
Virus dan bakteri sangat mudah menyebar melalui makanan dan air yang telah
terkontaminasi. Dalam 50% kasus tidak ditemukan penyebab yang spesifik. Virus
menjadi penyebab kasus kematian dengan persentasi yang signifikan pada semua
umur. Dengan penanganan yang baik dan tepat diharapkan bisa mencegah
terjadinya kematian pada penderita gastroenteritis pada bayi dan anak.
B.

1
B. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. S
Umur : 7 bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Anak ke : 4 dari 4 bersaudara
Agama : Islam
Alamat : Ds. Sumber Sekar Dau, Malang
Suku : Jawa
Nama Ayah : Tn. A (alm)
Nama Ibu : Ny. A
Umur : 43 tahun
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Tanggal MRS : 26 November 2012

C. ANAMNESA
1. Keluhan Utama : Diare
2. Keluhan Tambahan : Demam, muntah
3. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien masuk IGD pukul 17.15 WIB diantar oleh keluarganya.Dua
hari sebelum dibawa ke rumah sakit ibu pasien mengatakan anaknya diare
sebanyak 5x dalam sehari, BAB cair, warna kuning, kadang berlendir
dan berbusa, darah (-). satu hari sebelumnya ibu pasien mengatakan
anaknya mengalami muntah 2x dalam sehari, biasanya setelah diberi
makan, yang dimuntahkan hanya air atau seperti lendir saja dan makanan
yang baru saja diberikan. satu hari kemudian pasien juga mengalami
demam. Batuk (-), kejang (-).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Serupa : (-).
Riwayat Mondok : (-)
Riwayat Sakit Gula : (-)
Riwayat Penyakit Jantung : (-)
Riwayat Hipertensi : (-)
Riwayat Sakit Kejang : (-)
Riwayat Alergi Obat : (-)
Riwayat Alergi Makanan : (-)
Riwayat Keganasan : (-)
5. Riwayat Penyakit Keluarga :

2
Riwayat Keluarga dengan penyakit serupa : (+) kakak pasien saat
usia 2 tahun
Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat Sakit Gula : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
Riwayat keganasan : disangkal
6. Riwayat Persalinan dan Kehamilan
Lahir secara spontan ditolong oleh bidan. Usia kehamilan cukup
bulan. Anak lahir langsung menangis. Berat badan lahir 3500 gram, panjang
badan lahir 50 cm.
7. Riwayat Imunisasi
Hepatitis B : (+)
BCG : (+)
DPT : (+)
Polio : (+)
Campak : (-)
8. Riwayat Gizi
Anak setiap hari diberi ASI , kadang-kadang diberi bubur dan pisang.
Pasien tidak mau jika di beri susu selain asi.
9. Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien adalah seorang anak perempuan berusia 7 bulan. Ayah pasien
sudah meninggal dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Untuk
kebutuhan sehari-hari didapat dari penghasilan kakak pertama pasien yang
sudah bekerja.
D. ANAMNESIS SISTEM
1. Kulit : kulit gatal (-),
2. Kepala : sakit kepala (-), pusing (-), luka (-)
3. Mata : pandangan mata berkunang-kunang (-/-), penglihatan
kabur (-/-), ketajaman penglihatan dalam batas normal
4. Hidung : tersumbat (-/-), mimisan (-/-)
5. Telinga : pendengaran berkurang (-/-), berdengung (-/-), keluar cairan
(-/-)
6. Mulut : sariawan (-), mulut kering (+), lidah terasa pahit (-)
7. Tenggorokan : sakit menelan (-), serak (-)
8. Pernafasan : sesak nafas (-), batuk lama (-)
9. Kadiovaskuler : berdebar-debar (-), nyeri dada (-)

3
10. Gastrointestinal : nyeri perut (-), mual (-), muntah (+), diare (+), nafsu
makan menurun (+),
11. Genitourinaria : BAK lancar, warna dan jumlah dalam batas normal
12. Neurologik : kejang (-), lumpuh (-), kesemutan dan rasa tebal pada
kedua kaki (-)
13. Psikiatri : emosi stabil, mudah marah (-)
14. Muskuloskeletal : kaku sendi (-), nyeri/liu-linu pada lutut kanan-kiri (-),
nyeri otot (-)
15. Ekstremitas :
o Atas kanan : bengkak (-), sakit (-), luka (-)
o Atas kiri : bengkak (-), sakit (-), luka (-)
o Bawah kanan : bengkak (-), sakit (-),luka (-)
o Bawah kiri : bengkak (-), sakit (-), luka (-)

E. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak lemas
Kesadaran Compos Mentis(GCS E4V5M6)
Tanda Vital
BB :8 kg
TB : 73 cm
Tensi :- mmHg
Nadi :100 X/menit
Pernafasan : -/menit
Suhu : 39oC
1. Kulit :
turgor menurun, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-), venektasi (-), petechie
(-), spider nevi (-).
2. Kepala :
Luka (-), rambut tidak mudah di cabut, keriput (-), makula (-), papula (-),
nodula (-), kelainan mimic wajah / bells palsy (-).

3. Mata :

4
Mata cowong, konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor
(+/+), reflek kornea (+/+), radang (-/-), warna kelopak mata (coklat
kehitaman).
4. Hidung :
Nafas cuping hidung (-), secret (-/-), epistaksis (-/-), deformitas hidung
(-), hiperpigmentasi (-).
5. Mulut :
Bibir pucat (-), bibir kering (+), lidah kotor (-), papil lidah atrofi (-), tepi
lidah hiperemi (-), gusi berdarah (-), sariawan (-).
6. Telinga :
Nyeri tekan mastoid (-/-), secret (-/-), pendengaran berkurang (-/-), cuping
telinga dalam batas normal.
7. Tenggorokan :
Tonsil membesar (-/-), faring hiperemis (-)
8. Leher :
Trakea di tengah, pembesaran kelenjar limfe (-), lesi pada kulit (-).
9. Toraks :
Normochest, simetris, pernafasan thoracoabdominal, retraksi (-),
spidernevi (-), pulsasi intrasternalis (-), sela iga melebar (-)
Cor
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis kuat angkat
Perkusi : Batas kiri atas : ICS II linea para sternalis sinistra
Batas kanan atas : ICS II linea para sternalis dekstra
Batas kiri bawah : ICS V linea medio clavicularis
sinistra
Batas kanan bawah : ICS IV linea para sterna dekstra
Pinggang jantung : ICS II linea para sternalis sinistra
(kesan jantung tidak melebar)
Auskultasi : Bunyi jantug I-II intensitas normal, regular, bising (-)
Pulmo
Inspeksi : Pengembangan dada kanan sama dengan kiri, benjolan (-),
luka (-)
Palpasi : Fremitus taktil kanan sama dengan kiri, nyeri tekan (-),
krepitasi (-)

5
Perkusi :
Sonor Sonor
Sonor
Sonor Sonor

+ +
Auskultasi : suara dasar vesikuler +
+ +

Suara tambahan :
Ronkhi wheezing

- - - -
- -
- - - -

10. Abdomen:
I : dinding perut sejajar dengan dinding dada, venektasi (-)
A : peristaltik 50x/menit
P : timpani seluruh lapang perut
P : supel, (-) diregio epigastrium, hepar dan lien tak teraba, nyeri tekan
sulit di evaluasi
11. Sistem Collumna Vertebralis :
Inspeksi : Deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-)
Perkusi : NKCV (-)
12. Ektremitas : palmar eritema (-/-)
Akral dingin Odem
- - - -
- - - -
13. Pemeriksaan Neurologik :
Kesadaran : GCS E4V5M6
Fungsi luhur : dalam batas normal
Fungsi vegetative : dalam batas normal
Fungsi sensorik : N N
N N
Fungsi motorik : 5 5 N N N N - -
5 5 N N N N - -
6
Kekuatan Tonus RF RP

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tgl 27 November2012
Darah Lengkap
Item periksa Hasil Pemeriksaan Nilai Normal Satuan
Hemoglobin 11,5 12 16 g/dl
Leukosit 7.600 4 10 Ribu/mm3
LED 2 20 mm/jam
Trombosit 438.000 150 400 Ribu/mm3
PCV/HCT 37,3 37 48 %
Eritrosit 5,05 4,0 5,5 Juta/mm3
Diff.count
Hitung jenis Eosinofil 1 13
Hitung jenis Basofil 4 01
Hitung jenis N.Stab. 0 26
Hitung jenis N.Segmen 12 50 70
Hitung jenis Lymphosit 69 20 40
Hitung jenis Monosit 14 28

Serologi
Thypi O NEGATIVE
Thypi H NEGATIVE
Parathypi OA NEGATIVE
Parathypi OB NEGATIVE

Tgl 28 November2012
Darah Lengkap
Item periksa Hasil Pemeriksaan Nilai Normal Satuan
Hemoglobin 10,7 12 16 g/dl
Leukosit 6.300 4 10 Ribu/mm3
LED 2 20 mm/jam
Trombosit 387.000 150 400 Ribu/mm3
PCV/HCT 34,4 37 48 %
Eritrosit 4,69 4,0 5,5 Juta/mm3
Diff.count
Hitung jenis Eosinofil 2 13

7
Hitung jenis Basofil 5 01
Hitung jenis N.Stab. 0 26
Hitung jenis N.Segmen 7 50 70
Hitung jenis Lymphosit 73 20 40
Hitung jenis Monosit 13 28

G. RESUME
Dua hari sebelum dibawa ke rumah sakit ibu pasien mengatakan
anaknya diare sebanyak 5x dalam sehari, BAB cair, warna kuning,
kadang berlendir dan berbusa, darah (-). satu hari sebelumnya ibu pasien
mengatakan anaknya mengalami muntah 2x dalam sehari, biasanya setelah
diberi makan, yang dimuntahkan hanya air atau seperti lendir saja dan
makanan yang baru saja diberikan. satu hari kemudian pasien juga
mengalami demam. Batuk (-), kejang (-). Dari pemeriksaan fisik
didapatkan keadaan umum tampak lemas, suhu 39 C. Turgor menurun,
bibir kering, mata cowong.
H. DIAGNOSA KERJA
GEA + dehidrasi sedang e.c suspect bakteri
I . DIAGNOSA BANDING
GEA + dehidrasi sedang e.c suspect virus
GEA + dehidrasi sedang e.c suspect parasit

I. PENATALAKSANAAN
Non medika mentosa
Edukasi kepada orangtua pasien mengenai penyakit pasien dan
menghimbau agar tetap tenang dan sabar serta terus memberikan asi
pada pasien. Anjurkan Dalam perawatan perlu sekali dijaga
kebersihan tempat tidur, pakaian, dan perlengkapan yg dipakai.
hygiene penderita tetap dijaga dan diperhatikan untuk
meminimalisir penularan. Istirahat yang cukup bertujuan untuk
mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan
Menjaga kebersihan lingkungan rumah dan menjaga kebersihan diri.
Medikamentosa
infus Kaen-3B 47 tpm diberikan selama 1 jam pertama, untuk
resusitasi pasien selanjutnya diberikan 10 tpm untuk maintenance
pasien selama 24 jam
Injeksi
Ondansetron 3x2 mg iv
Antrain diencerkan 10 cc

8
Taxegram 2x185 mg
Obat oral
Dialac 2x1 sachet
Neocaulana 3x3/4 cth
Sanmol 3x3/4 cth
J. PLANNING DIAGNOSA
Feces lengkap
K. FOLLOW UP
Tanggal 27 november 2012
S: Panas (-), diare (+), mual muntah (-)
O: KU cukup, GCS 456, gizi cukup
Tanda vital: T : - RR : 20x/menit
N : 100x/menit S : 37oC
A: GEA
P: Lanjut intervensi

Tanggal 28 november 2012


S: Panas (-), diare (+), mual muntah (-)
O: KU cukup, GCS 456, gizi cukup
Tanda vital: T : - RR : 20x/menit
N : 100x/menit S : 37oC
A: GEA
P: Lanjut intervensi

L. DIAGNOSTIK HOLISTIK

1. Diagnosis dari Segi Biologis


GEA + Dehidrasi sedang
2. Diagnosis dari Segi Psikologis
Hubungan An.S dengan ibu dan kakak-kakaknya cukup harmonis. Pasien
mendapat kasih sayang dan perhatian yang cukup dari keluarganya.
3. Diagnosis dari Segi Sosial
Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan sosial tertentu di masyarakat,
hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Keluarga ini mengikuti beberapa
kegiatan dilingkungannya. Hubungan dengan tetangga baik dan rukun.

9
1. Aspek Personal
Keluhan utama : diare.
Harapan : ingin cepat sembuh
Kekhawatiran : penyakitnya bertambah parah, dan tidak sembuh-
sembuh
2. Aspek Klinis
GEA + dehidrasi sedang
3. Aspek Resiko Internal
Hubungan dengan anggota keluarga yang lain baik. An. S sering bermain
dengan kakak-kakaknya.
4. Aspek Resiko Ekternal
Pasien masih bayi, belum bisa berinteraksi dengan orang lain atau
masyarakat.
5. Aspek Fungsional
Derajat fungsionalnya dengan score 5 karena pasien masih bayi dan
belum mampu melakukan perawatan diri.

BAB II
IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI DALAM KELUARGA

A. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA


Nama Kepala Keluarga : Ny. A
Alamat Lengkap : Sukun
Bentuk Keluarga : nuclear family
Daftar Anggota Keluarga
No. Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien Ket.
Klinik

1. Tn. A Ayah L - SD Sudah meninggal


(Alm)

2. Ny. A Istri P 43 thn SD - Tidak Sehat

3. Sdr. N Anak L 22 thn SMA pegawai Tidak Sehat

4. Sdr.Y Anak L 14 thn SMP - Tidak Sehat

5. An. B Anak P 10 thn SD - Tidak Sehat

10
6. An. S Anak P 7 bln - - Ya GEA + Dehidrasi

B. FUNGSI HOLISTIK
1. Fungsi Biologis : Keluarga terdiri dari ayah pasien (Tn.A Alm), ibu
pasien (Ny.A 43 tahun), kakak pasien (Sdr. N 22 tahun),
(Sdr. Y 14 tahun), (An. B 10 tahun) dan Pasien ( An. S 7
bulan). Diagnosis klinis An. S adalah GEA + Dehidrasi
sedang.
2. Fungsi Psikologis :
Setelah ayah pasien meninggal 1 tahun yang lalu, ibu pasien
menjadi kepala keluarga dan untuk kebutuhan sehari-hari
didapat dari penghasilan kakak pasien yang bekerja sebagai
buruh pabrik.
3. Fungsi Sosial :
Hubungan pasien dan keluarga dengan masyarakat sekitar baik.
Kesimpulan : Fungsi holistik keluarga An. S terganggu dari sisi
biologis dan psikologis.
C. FUNGSI FISIOLOGIS
ADAPTATION
Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota
keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota
keluarga yang lain.
PARTNERSHIP
Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara
anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga
tersebut.
GROWTH
Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan
anggota keluarga tersebut.
AFFECTION
Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota
keluarga.
RESOLVE
Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan
waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.

11
APGAR Terhadap Keluarga Ny. A
A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga 2
saya bila saya menghadapi masalah
P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan 2
membagi masalah dengan saya
G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan 2
mendukung keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup yang baru
A Saya puas dengan cara keluarga saya 2
mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon
emosi saya seperti kemarahan, perhatian, dll
R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 2
membagi waktu bersama-sama
SKOR 10

APGAR skor = Fungsi fisiologis keluarga baik


Keterangan :
Skoring :
Hampir selalu : 2 poin
Kadang kadang : 1 poin
Hampir tak pernah : 0 poin
Total APGAR score keluarga Ny.A adalah = (10)
Kesimpulan: Fungsi fisiologis keluarga Ny.A baik.

D. FUNGSI PATOLOGIS DENGAN ALAT SCREEM


SCREEM
SUMBER PATHOLOGY KET
Social Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga dengan -
saudara. Partisipasi mereka dalam masyarakat misalnya
mengikuti tahlil rutin, pengajian, dan kegiatan pesantren
Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal ini dapat -
dilihat dari pergaulan sehari-hari baik, banyak tradisi budaya
yang masih diikuti. Sering mengikuti acara-acara yang bersifat
hajatan. Menggunakan bahasa jawa dan Indonesia, tata krama
dan kesopanan

12
Religius Pemahaman terhadap ajaran agama baik, demikian juga dalam -
ketaatannya dalam beribadah.
Economy Ekonomi keluarga ini kurang. Pendapatan hanya dari penghasilan +
Sdr. N yang bekerja di pabrik.
Educatio Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga ini masih kurang, +
n dimana Ny. A merupakan lulusan SD.
Medical Keluarga ini belum menganggap pemeriksaan rutin kesehatan -
sebagai kebutuhan, akan tetapi pasien jika merasa sakit, pasien
mencari pelayanan dokter terdekat.

Kesimpulan : fungsi patologis pada keluarga ini ada yaitu faktor economy
dan educational.

13
E. GENOGRAM :
Bentuk Keluarga : nuclear Family

Tn. A Ny. A

Sdr. N Sdr. Y An. B An. S

Keterangan:
= Laki-laki = Perempuan

= pasien

F. INFORMASI POLA INTERAKSI KELUARGA

An. B

An. B Sdr. Y

An. B Sdr. Y

Keterangan:
: Hubungan Baik
: Hubungan tidak baik

Kesimpulan :
Hubungan antara anggota keluarga di keluarga ini baik

14
BAB III
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
MASALAH KESEHATAN

A. IDENTIFIKASI FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU


KELUARGA
1. Faktor Perilaku Keluarga
a. Pengetahuan
Keluarga kurang memahami kesehatan penderita.
b. Sikap
Keluarga ini peduli terhadap kesehatan penderita
c. Tindakan
keluarga membawa An. S ke pelayanan kesehatan terdekat
2. Faktor Non Perilaku
a. Lingkungan
Rumah yang dihuni keluarga ini cukup memenuhi standar
kesehatan. Kebersihan lingkungan terjaga dengan baik dengan
pencahayaan ruangan dan ventilasi rumah yang cukup memadai.
Untuk kebutuhan air sehari-hari diperoleh dari sumber air di desa.
b. Keturunan
tidak ada faktor keturunan.
c. Pelayanan Kesehatan
Keluarga Ny. A biasanya pergi kerumah sakit sebagai sarana untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan.

15
Pemahaman: keluarga kurang memahami penyakit penderita Lingkungan : rumah cukup memenuhi syarat ke

Sikap: keluarga sudah peduli terhadap penyakit penderita Keturunan : Tidak ada faktor keturuna
Keluarga An. S

Pelayanan Kesehatan :
Tindakan: keluarga ikut mengantarkan An. S untuk berobat Jika sakit ke dokter
praktek

Faktor Perilaku

Faktor Non Perilaku


Kesimpulan :
Faktor perilaku keluarga berpengaruh positif terhadap kesehatan An.S karena
pengetahuan keluarga tentang kesehatan masih kurang terutama tentang
penyakit yang diderita.
Faktor non-perilaku keluarga berpengaruh positif terhadap kesehatan An. S.
B. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH
Lingkungan Luar Rumah
Keluarga tinggal disebuah perkampungan. Tidak memiliki pekarangan
rumah tetapi terdapat pagar pembatas. Saluran pembuangan limbah sudah
tersalur ke got. Pembuangan sampah di rumah diangkut oleh petugas
kebersihan.
Lingkungan Dalam Rumah
Dinding rumah terbuat dari batu bata yang di cat, sedangkan lantai
rumah sudah menggunakan keramik. Rumah ini terdiri dari Lima ruangan
yaitu ruang tamu, 3 kamar tidur, satu dapur dan satu kamar mandi. Rumah ini
hanya mempunyai satu pintu untuk keluar masuk (di bagian depan) serta dua
jendela kaca. Keluarga ini sudah mempunyai fasilitas MCK keluarga dan
fasilitas air dari sumber air desa. Ventilasi udara cukup karena hanya tedapat
jendela pada tiap ruangan.

16
BAB IV
DAFTAR MASALAH

A. MASALAH MEDIS :
a. Gastroenteritis
b. Dehidrasi
B. MASALAH NON MEDIS :
1. Rendahnya tingkat pengetahuan kesehatan
2. Rendahnya tingkat ekonomi keluarga pasien
C. DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN
1. Rendahnya pengetahuan tentang kesehatan 2.Rendahnya
tingkat ekonomi
keluarga keluarga
pasien

An. S
Gastroenteritis +
dehidrasi sedang

D.KESIMPULAN HOLISTIK
Diagnosis Holistik:
An. S. usia 7 bulan datang dengan keluhan diare. An.S tinggal dalam
bentuk keluarga nuclear family. Hubungan An. S dengan keluarganya
cukup harmonis. Keluarga An. S adalah anggota masyarakat biasa dalam
kehidupan kemasyarakatan.
1.Diagnosis dari segi biologis:
GEA + Dehidrasi sedang
2.Diagnosis dari segi psikologis:
Setelah ayah pasien meninggal 1 tahun yang lalu, ibu pasien menjadi
kepala keluarga dan untuk kebutuhan sehari-hari didapat dari penghasilan
kakak pasien yang bekerja sebagai buruh pabrik.
3. Diagnosis dari segi sosial:
Hubungan mereka dengan anggota masyarakat yang lain (tetangga) baik.
sering mengikuti kegiatan kemasyarakatan di rumahnya.

17
BAB V
PEMBAHASAN
A. Defenisi Gastroenteritis
Gastroenteritis adalah peradangan pada lambung dan usus yang
memberikan gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan seringkali
disertai peningkatan suhu tubuh. Diare adalah buang air besar yang terjadi
pada bayi/ anak lebih dari tiga kali dalam sehari disertai perubahan tinja
menjadi cair dapat disertai dengan lendir atau darah.
Gastroenteritis juga dikenal dengan gastro, gastric flu, atau stomach flu.
Keluhan yang biasa dilaporkan pada penderita gastroenteritis bervariasi dari
sakit ringan di perut selama satu atau dua hari sampai menderita muntah dan
diare selama beberapa hari atau lebih lama. Gastroenteritis adalah infolamasi
pada lapisan membran gastrointestinal disebabkan oleh beberapa varian
enteropatogen yang luas, yaitu bakteri, virus, dan parasit. Manifestasi klinik
tergantung pada respon penderita terhadap infeksi yaitu infeksi asimptomatik,
diare, diare dengan darah, diare kronik, dan manifestasi ekstrainternal dari
infeksi. Gastroenteritis dikatakan akut jika diare berlangsung singkat, dalam
beberapa jam sampai 7 atau 14 hari.
B. Etiologi Gastroenteritis
Etiologi dapat dibagi dalam beberapa faktor, yaitu :
1. Faktor infeksi
a) Infeksi enteral, yaitu infeksi pada saluran pencernaan dan merupakan
penyebab utama diare pada anak, meliputi :
1). Infeksi Bakteri : E.Coli, Salmonella, Shigella SPP, Vibrio Cholera
2). Infeksi Virus : Enterovirus, Protozoa, Adenovirus
3). Infeksi Jamur : Protozoa, Candida SPP, Entamoeba Histolityca
b. Infeksi parental, yaitu infeksi di bagian tubuh laindi luar alat
pencernaan, seperti OMA, broncopneumonia, tonsilofaringitis
2. Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat
Malabsorbsi lemak
Malabsorbsi protein
3. Obat-obatan : zat besi, antibiotika
4. Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
5. Faktor psikologis
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi

18
a. Faktor Host
Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman yang masuk ke dalam
saluran pencernaan. Terjadinya penularan gastroenteritis sebagian besar melalui
makanan/minuman yang tercemar oleh bakteri, virus, dan parasit yang berasal dari
penderita atau carrier yang biasanya keluar bersama dengan tinja atau urine. Dapat
juga terjadi melalui udara yang di hirup oleh penderita. Selain itu factor imun host
sangat berpengaruh terhadap proses terjadinya gastroenteritis
b. Faktor Agent
Gastroenteritis bisa disebabkan oleh virus bakteri dan bisa
mikroorganisme lain yang masuk ke dalam tubuh host dan berkembang biak
sehingga menyebabkan manifestasi klinis.
c. Faktor Environment
Gastroenteritis biasanya disebabkan factor lingkungan dengan kualitas
sumber air yang tidak memadai dengan standar hygiene dan sanitasi yang rendah,
kepadatan penduduk, sumber air minum dan standart hygiene industri pengolahan
makanan yang masih rendah. Serta kesadaran dalam hygienitas perseorangan yang
rendah.
D. Manifestasi Klinis
1. Anamnesis
Anamnesis anak dengan gejala diare akut perlu dimulai dengan mengambil
informasi yang mungkin mengarahkan kita pada penyakit lain yang presentasi
klinisnya mirip dengan diare akut. Gejala respiratori seperti batuk, sesak nafas
atau takipneu mengarahkan pada adanya penyakit dasar pneumonia. Adanya sakit
telinga mungkin merupakan gejala otitis media akut. Frekuensi berkemih, urgensi,
dan nyeri saat berkemih mengarahkan kita pada pielonefritis. Anamnesis yang
baik akan memberi petunjuk kemungkinan penyebab diare tanpa harus melakukan
pemeriksaan penunjang.
Tujuan kedua anamnesis adalah untuk menilai beratnya gejala dan resiko
komplikasi seperti dehidrasi. Pertanyaan spesifik mengenai frekuensi, volume dan
lamanya muntah serta diare, diperlukan untuk menentukan derajat kehilangan
cairan dan gangguan elektrolit yang terjadi. Ringkasan cara penilaian dehidrasi
dapat dilihat pada tabel 1.

2. Pemeriksaan fisik

19
Pemeriksaan fisik dimaksudkan untuk 2 tujuan utama, mencari tanda-
tanda penyakit penyerta dan memperkirakan derajat dehidrasi. Penilaian yang
tidak akurat terhadap defisit cairan dan kehilangan cairan yang terus terjadi
merupakan faktor penting penyebab kesakitan dan kematian pada muntah dan
diare akut. Gejala dan tanda dehidrasi perlu ditemukan dan tentukan derajat
dehidrasi (lihat tabel 1).
3. Kriteria Diagnosis
Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 7 hari. Pada diare
terjadi perubahan konsistensi tinja yang terjadi tiba-tiba akibat kandungan air di
dalam tinja melebihi normal (10ml/kg/hari), dan menyebabkan frekuensi defekasi
lebih dari 3 kali sehari. Derajat dehidrasi dibedakan menjadi tanpa dehidrasi,
dhidrasi ringan-sedang, dan dehidrasi berat
Tabel 1 Penilaian derajat dehidrasi diare akut
Derajat Keadaan Rasa Kelopak/air
Mulut Kulit Urin
dehidrasi umum haus mata
Tanpa Baik,
Minum Norma
dehidrasi, kompos Normal Basah Normal
normal l
(<5%BB) mentis
Pucat,
Ringan- Minum capilla
Cekung,
sedang, Rewel, seperti ry Berkuran
produksi Kering
(5- gelisah kehaus refill g
kurang
10%BB) an <2
detik
Letargi,
Pucat,
lemah, Malas
capilla
Berat, kesadaran minum/ Sangat
Sangat ry Tidak
(>10%BB menurun, tidak cekung, tidak
kering refill ada
) nadi dan dapat ada
>2
nafas minum
detik
cepat

4. Pemeriksaan Penunjang

20
Pada sebagian besar kasus tanpa dehidrasi atau dengan dehidrasi ringan
tidak diperlukan pemeriksaan penunjang. Pada dehidrasi berat perlu dilakukan
pemeriksaan elektrolit serum, nitrogen urea, kadar gula darah dan analisis gas
darah.
Pemeriksaan virologik dan mikrobiologik perlu dilakukan hanya bila
hasilnya dapat digunakan untuk mengganti tata laksana. Adanya darah secara
makroskopik dan mikroskopik mengarah pada Shigella, Campylobacter, atau
Enterohemorrhagic Escherichia coli sp sebagai penyebab.
Pemeriksaan untuk mendeteksi virus seperti tes antigen rotavirus dapat
mengkonfirmasi penyebab, tetapi tidak mengubah tata laksana. Pemeriksaan
antigen Giardia dan apusan feses untuk telur dan parasit umumnya tidak
diperlukan kecuali diare berlanjut lebih dari 10 hari atau ada riwayat paparan.
5. Tata Laksana
a. Rehidrasi Oral
Pada anak dengan diare akut dehidrasi ringan sedang, perlu segera
diberikan cairan rehidrasi oral. Kandungan natrium dalam cairan rehidrasi oral
yang direkomendasikan oleh WHO adalah 90 mmol/L, yaitu sesuai dengan
kandungan natrium dalam tinja pasien kolera (90-140 mmol/L). kadar natrium
yang direkomendasikan oleh ESPGHAN (European Society of Pediatric
Gastroenterology anad Nutrition) adalah 60-75 mmol/L mengingat kadar natrium
dalam tinja pasien rotavirus hanya sekitar 35-45 mmol/L.
Pada diare umumnya saat ini dianjurkan untuk menggunakan cairan sesuai
anjuran ESPGHAN.
Tabel 2. Pedoman Tata Laksana diare akut berdasarkan derajat dehidrasi
Derajat dehidrasi
Rehidrasi Penggantian cairan
% defisit
Tanpa dehidrasi 10 ml/kg tiap diare
Tidak perlu
(<5% BB) 2-5 ml/kg tiap muntah
Ringan sedang 10 ml/kg tiap diare
CRO 75 ml/kg/3 jam
(5-10% BB) 2-5 ml/kg tiap muntah
Cairan intravena
Berat 10 ml/kg tiap diare
<12 bulan: 30 ml/kg/1 jam atau
(>10% BB) 2-5 ml/kg tiap muntah
70 ml/kg/5 jam
BB=berat badan, CRO=cairan rehidrasi oral

Tabel 3. Komposisi cairan Parenteral dan Oral :

21
Na+ CI- K+
Osmolalitas(m Glukosa Basa(m
(mEq/L (mEq (mEq/
Osm/L) (g/L) Eq/L)
) /L) L)
NaCl 0,9
308 - 154 154 - -
%
NaCl 0,45
428 50 77 77 - -
%+D5
NaCl
0,225% 253 50 38,5 38,5 - -
+D5
Riger Laktat
273 - 130 109 4
Laktat 28
Laktat
Ka-En 3B 290 27 50 50 20
20
Laktat
Ka-En 3B 264 38 30 28 8
10
Standard
WHO- 311 111 90 80 20 Citrat 10
ORS
Reduced
osmalarity
245 70 75 65 20 Citrat 10
WHO-
ORS
EPSGAN
recommen 213 60 60 70 20 Citrat 3
dation

b. Pemberian Makanan Secepatnya (early refeeding)


Makanan per oral diberikan sesegera mungkin saat kondisi sudah
membaik. Rekomendasi pemberian makanan secepatnya pada tata laksana diare
akut terutama ditekankan pada meneruskan pemberian ASI dan makanan sehari-
hari. Hal ini dapat mencegah terjadinya gangguan gizi, menstimulasi perbaikan
usus, dan mengurangi derajat serta lamanya penyakit.
Anak yang lebih besar yang telah menerima bermacam variasi makanan sebaiknya
diberikan makanan yang seimbang, cukup energi dan mudah dicerna. Karbohidrat
kompleks seperti nasi, mie, kentang, roti, biskuit dan pisang sebaiknya diberikan
sejak awal, kemudian ditambahkan sayuran dan daging matang. Makanan yang

22
perlu dihindari adalah yang mengandung gula sederhana seperti minuman ringan
(soft drink), jus buah kental, minuman mengandung kafein, dan sereal yang
dilapisi gula.
c. Pemberian Probiotik
Terdapat banyak laporan tentang penggunaan probiotik dalam tatalaksana
diare akut pada anak. Hasil meta analisa Van Niel dkk menyatakan lactobacillus
aman dan efektif dalam pengobatan diare akut infeksi pada anak, menurunkan
lamanya diare kira-kira 2/3 lamanya diare, dan menurunkan frekuensi diare pada
hari ke dua pemberian sebanyak 1 2 kali. Kemungkinan mekanisme efek
probiotik dalam pengobatan diare adalah perubahan lingkungan mikro lumen
usus, produksi bahan anti mikroba terhadap beberapa patogen, kompetisi nutrien,
mencegah adhesi patogen pada anterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin,
efektrofik pada mukosa usus dan imunno modulasi.
Mengurangi durasi diare juga dapat dilakukan dengan pemberian probiotik
bersamaan dengan makanan. Produk susu yang difermentasi merupakan
"palatable source of nutriens". Proses fermentasi akan mengurangi konsentrasi
laktosa dan peningkatan konsentrasi asam laktat, galaktosa, asam amino bebas,
asam lemak, dan beberapa vitamin B. sehingga dapat terjadi ketahanan terhadap
serangan infeksi dan perbaikan kembali keseimbangan lingkungan flora normal
dalam usus.
d. Obat-obatan
Pemberian antiemetik, antimotilitas, dan antidiare sebagai pengobatan diare
kurang bermanfaat bahkan dapat menyebabkan komplikasi yang serius. Obat-
obatan tersebut tidak mengurangi volume tinja ataupun memperpendek lama sakit.
Efek sedasi atau anoreksia yang ditimbulkan akan mengurangi keberhasilan terapi
rehidrasi oral. Penggunaan antibiotik tidak efektif pada infeksi virus dan hanya
terindikasi pada keadaan tertentu antara lain : (1)patogen telah teridentifikasi,
(2)bayi atau anak dengan defek imun, (3)terapi terhadap kolera, (4)bayi kurang
dari 3 bulan dengan biakan tinja positif.
e. Mikronutrien
Dasar pemikiran pengunaan mikronutrien dalam pengobatan diare akut
didasarkan kepada efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan fungsi
saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel seluran cerna selama diare.
Seng telah dikenali berperan di dalam metallo enzymes, polyribosomes , selaput
sel, dan fungsi sel, juga berperan penting di dalam pertumbuhan sel dan fungsi

23
kekebalan . Sazawal S dkk melaporkan pada bayi dan anak lebih kecil dengan
diare akut, suplementasi seng secara klinis penting dalam menurunkan lama dan
beratnya diare.
6. Pencegahan dan Edukasi
Ada beberapa kiat pencegahan terjadinya diare antara lain : (1)pemberian
ASI eksklusif 4-6 bulan, (2)sterilisasi botol setiap sebelum penberian susu
formula, (3)persiapan dan penyimpanan makanan bayi/anak secara bersih,
(4)gunakan air bersih dan matang untuk minum, (5)kebiasaan mencuci tangan,
(6)membuang tinja di jamban, (7)pemberian makanan seimbang untuk menjaga
status gizi.

24
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan holistik
Diagnose holistic: An. S (7 bulan) adalah penderita Gastroenteritis akut
dengan dehidrasi sedang, tinggal dalam nuclear family dengan kondisi
keluarga yang harmonis. Status perekonomian pasien menengah kebawah,
cukup dalam kebutuhan sehari-hari. Lingkungan keluarga yang cukup
sehat dan merupakan anggota masyarakat biasa dalam kehidupan
kemasyarakatan yang mengikuti beberapa kegiatan dilingkungannya.
1. Segi biologis
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang
didapatkan hasil, bahwa An. S adalah penderita Gastroenteritis akut
dengan dehidrasi sedang, tinggal di lingkungan yang cukup memenuhi
kesehatan.
2. Segi psikologis
Keluarga An. S memiliki APGAR score 10 menunjukkan hubungan
antar keluarga yang baik. Diantara keluarga apabila ada salah satu
anggota keluarga yang sakit semua saling memperhatikan.
3. Segi sosial
Keluarga ini memiliki status ekonomi yang cukup, pasien merupakan
anggota masyarakat biasa yang mengikuti acara di lingkungannya, dan
hubungan antar tetangga juga baik.
B. Saran komprehensif
1. Promotif :
Memberikan edukasi ke keluarga pasien tentang pentingnya menjaga
kebersihan lingkungan, dan memberikan edukasi mengenai pencegahan dan
penangganan gastroenteritis akut dan dehidrasi sedang yang dialami pasien
2. Preventif :
Perbaikan higiene dan sanitasi lingkungan :
Keluarga hendaknya cuci tangan setelah dari toilet dan khususnya
sebelum makan atau mempersiapkan makanan.
Hindari minum susu mentah (yang belum dipasteurisasi)
Hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih.

25
3. Kuratif
Terapi yang selama ini dilakukan diteruskan. Terapi yang dilakukan adalah :
1. infus
Rehidrasi :IVFD : Kaen-3B : 47 tetes/menit diberikan selama
1 jam pertama jam setelahnya diberi IVFD : Kaen-3B : 10
tetes/menit untuk terapi maintenance.
untuk mengembalikan cairan yang hilang saat diare dan
muntah
2. Injeksi
R/ - Ondansetron 3x2 mg (IV)
Untuk mengurangi gejala mual dan muntah
3. Obat oral
R/ - Dialac 2x1 sachet
Untuk mengembalikan fungsi normal usus dan membantu
meredakan diare
R/ - Calistin 3x250.000 iu
Membunuh bakteri

4. Rehabilitatif
Rehabilitatif bertujuan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi
dan agar pasien cepat kembali sehat dan bisa beraktifitas secara normal
perlu diberikan edukasi mengenai pola makan dan komplikasi yang
mungkin timbul pada pasien dengan gastroenteritis.

DAFTAR PUSTAKA

26
Sudoyono, Aru W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi 1V.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Edisi III. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Behrman, Richard. Alih Bahasa: Samik, Wahab. (1999). Ilmu Kesehatan Anak
Nelson. Jakarta; EGC
Carpenito, Linda Juall. Ahli bahasa Monica, Ester (1999). Rencana Asuhan Dan
Dokumentasi Keperawatan. Jakarta; EGC
Price, Sylvia Anderson. Alih bahasa: Brahm. (2005). Pathofisiologi: Konsep
konsep
Klinis Proses Penyakit. Jakarta; EGC
Sarwono, Waspadji dan Soeparman. (2003). Ilmu Penyakit Dalam II. Jakarta;
FKUI
DeCamp LR et al. Use of Antiemetic Agents in Acute Gastroenteritis: A
Systematic Review and Meta analysis. Arch Pediatr Adolesc Med 2008;
162(9): 858-865
Freedman SB et al. Oral Ondansetron Administration in Emergency Departments
to Children with Gastroenteritis: An Economic Analysis. PLoS Medicine
2010; 7 (10) (published online on October 1, 2010,
doi:10.1371/journal.pmed.1000350).

27