Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

DAMPAK PACARAN PADA KALANGAN REMAJA MASA KINI

(Disusun untuk memenuhi tugas guru BP/BK)


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul PENGARUH PACARAN di
KALANGAN REMAJA.

Makalah ini berisikan tentang informasi Meningkatkan Rasa Percaya Diri, Diharapkan
Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang pacaran diusia
remaja itu seperti apa.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Amin.

Sukabumi, Agustus 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul ..............................................................................................


Kata Pengantar ............................................................................................. i
Daftar Isi ...................................................................................................... ii

BAB I. PENDAHULUAN ......................................................................... 1


A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 1
C. Tujuan Makalah ................................................................................ 2
D. Manfaat Makalah ............................................................................. 2
BAB II. PEMBAHASAN ........................................................................... 3
A. Pengertian Pacaran ............................................................................ 3
B. Penyebab Pacaran di Usia Remaja .................................................... 4
C. Dampak Pacaran di Usia Remaja ...................................................... 5
D. Dampak Pacaran Terhadap Prestasi belajar ...................................... 8
E. Cara Menghindari Dampak Negatif Dalam Pacaran Di Usia Remaja 10
F. Pembimbingan Remaja yang Berpacaran .......................................... 12
BAB III. PENUTUP ................................................................................... 14
A. Kesimpulan ....................................................................................... 14
B. Saran ................................................................................................ 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dahulu, pacaran merupakan suatu hal yang tabu bagi masyarakat Indonesia. Tetapi dengan
semakin berkembangnya zaman dan semakin berkembangnya teknologi informasi, presepsi
tentang pacaran mulai berubah menjadi sebuah hal yang sangat lumrah bahkan menjadi trend.
Trend ini menjadi semakin berkembang terlebih lagi dengan adanya dukungan dari media
massa, baik radio, surat kabar, tetapi media massa yang paling gencar menyebarkan
hubungan pacaran televisi. Ada banyak sekali tayangan di televisi yang bertemakan pacaran,
mulai dari sinetron, drama, maupun reality show.

Dalam setiap tayangan pasti memiliki sasaran pasar. Sasaran yang dituju oleh tim media
massa dalam penyebaran trend pacaran adalah para remaja. Hal ini dikarenakan remaja
masih berada dalam proses transisi, dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Di masa ini
mereka cenderung lebih banyak mengikuti hal-hal yang menjadi trend, tanpa
mempertimbangkan secara matang mengenai resiko-resikonya, termasuk trend pacaran.

Demikian trend pacaran dengan cepat dapat menyebar ke sebagian besar remaja. Selain itu
penulis pun menduga bahwa makna pacaran telah bergeser di masa kini. Dari yang awalnya
pacaran adalah sebuah proses perkenalan lebih jauh antara dua umat manusia yang ingin
melangsungkan kehidupan yang lebih serius, yakni menuju jenjang pernikahan. Kini tujuan
pacaran malah berubah menjadi salah satu syarat bagi remaja agar dikatakan sebagai remaja
normal atau bahkan remaja eksis. Hal ini disebabkan karena kondisi lingkungannya yang
menganggap bahwa jika ada remaja yang tidak memiliki pacar, ia adalah remaja yang tidak
gaul dan tidak rupawan.

Tidak akan menjadi masalah ketika remaja berpacaran digunakan untuk menuju jenjang yang
lebih serius dan tetap berperilaku positif. Akan tetapi yang menjadi masalah adalah apabila
remaja memilih berpacaran hanya untuk menunjukkan eksistensi diri di hadapan teman-
temannya. Apalagi jika mereka menggunakan ikatan pacaran sebagai sarana penyalur hasrat
dan fantasi seksual dirinya dengan pasangan. Penulis menduga bahwa kesalahan pola pikir
dan pemaknaan pacaran inilah yang menjadikan banyak remaja menjadi seperti sekarang ini,
hamil di luar nikah, meningkatnya kasus pelecehan seksual, pemerkosaan, pencabulan yang
oknum pelakunya adalah kekasihnya sendiri, dan meningkatnya jumlah remaja yang
mengidap penyakit menular seksual. Pacaran tidak lagi menjadi pengikat menuju hubungan
yang lebih serius, tetapi berubah menjadi pacaran yang tidak sehat yang malah mengarahkan
kita pada jalan menuju zina dan kesesatan.

2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana realitas pacaran remaja di masa kini?
2. Bagaimana usaha kita sebagai remaja sekaligus bagian dari masyarakat untuk
melindungi diri dan generasi muda Indonesia dari pacaran yang tidak sehat?
3. Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan:
1. Mengetahui realitas pacaran remaja masa kini.
2. Mengetahui usaha apa yang harus kita lakukan untuk menjaga diri dan generasi muda
Indonesia dari pacaran yang tidak sehat.

4. Manfaat
Manfaat dari makalah ini adalah agar kita sebagai masyarakat Indonesia dapat lebih paham
kondisi konkrit kehidupan remaja masa kini, khususnya mengenai kondisi mereka yang
berhubungan dengantrend pacaran. Sehingga kita dapat melakukan antisipasi untuk
melindungi keluarga, teman, atau tetangga kita yang masih remaja agar dapat lebih bijak dan
selektif jika hendak memutuskan untuk berpacaran, dan apabila ia memutuskan berpacaran,
ia tetap bisa menjaga diri dari pacaran yang tidak sehat. Apabila kita menerapkan edukasi ini,
maka setidaknya kita dapat membantu memperkecil resiko kehamilan diluar nikah dan tindak
asusila yang dilakukan sepasang kekasih di lingkungan sekitar kita.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi Pacaran
Menurut DeGenova & Rice (2005) pacaran adalah menjalankan suatu hubungan dimana dua
orang bertemu dan melakukan serangkaian aktivitas bersama agar dapat saling mengenal satu
sama lain. Menurut Bowman (1978) pacaran adalah kegiatan bersenang-senang antara pria
dan wanita yang belum menikah, dimana hal ini akan menjadi dasar utama yang dapat
memberikan pengaruh timbal balik untuk hubungan selanjutnya sebelum pernikahan di
Amerika.

Kyns (1989) menambahkan bahwa pacaran adalah hubungan antara dua orang yang
berlawanan jenis dan mereka memiliki keterikatan emosi, dimana hubungan ini didasarkan
karena adanya perasaan-perasaan tertentu dalam hati masing-masing.

2. Jenis-Jenis Pacaran
a. Pacaran Sehat
Pacaran sehat adalah pacaran yang memperhatikan batasan-batasan apa yang boleh dan
apa yang tidak boleh dilakukan dalam berpacaran menurut norma umum di masyarakat.
Memang norma di masyarakat bergerak dinamis, dan berubah dari waktu ke waktu.
Namun setidaknya ada batasan minimal tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh
dilakukan. (Slamet,http://forum.detik.com/pacaran-sehat-apa-itu-pacaran-sehat-
t369946.html, diakses 16 Agustus 2017).

Faktor pacaran sehat menurut kementerian dan kebudayaan harus memenuhi empat
sehat, yaitu: sehat fisik, sehat emosional, sehat sosial dan sehat seksual. Sehat fisik
artinya tidak ada kekerasan fisik, dilarang saling memukul, menampar dan menendang.
Sehat emosional artinya hubungan harus terjalin baik dan nyaman, saling pengertian dan
keterbukaan. Harus mengenali emosi diri sendiri dan emosi orang lain. Sehat sosial
artinya pacaran tidak boleh mengikat, dimana hubungan social dengan orang lain harus
tetap dijaga agar tidak terasa asing di lingkungan sendiri. Dikatakan bahwa tidak baik
jika menghabiskan waktu seharian penuh dengan pacar. Sehat sosial artinya dalam
pacaran harus saling menjaga, yaitu tidak melakukan hal yang beresiko, jangan
melakukan aktivitas sampai beresiko, apalagi melakukan hubungan seks
(Hafizh, http://www.suara-islam.com/read/index/12382/-Pacaran-Sehat-Ala-Kemdikbud-
, diakses 16 Agustus 2017).

Berikut ini adalah cara pacaran yang sehat: (1) tentukan batasan-batasan anda berdua, (2)
selalu menjalin komunikasi, (3) kurangi kontak fisik, (4) bertukar pikiran dan pendapat,
(5) saling mendukung satu sama lain dalam hal-hal positif, (6) jalin hubungan dengan
keluarga sang pacar, (7) hindari pacaran di tempat pribadi anda berdua, (8) pendidikan
dan pemahaman tentang seks, (9) mendekatkan diri pada Tuhan, (10) pikirkan masa
depan (Anonim,http://www.top10indo.com/2013/06/10-cara-pacaran-yang-sehat.html,
diakses 16 Agustus 2017).

b. Pacaran Tidak Sehat


Pacaran tidak sehat merupakan lawan dari pacaran sehat, yang berarti pacaran tanpa
memperhatikan batasan-batasan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan
dalam berpacaran menurut norma umum di masyarakat, mendekati zina, atau bahkan
berzina.

Berikut ini adalah ciri-ciri pacaran tidak sehat, diantaranya: (1) Pacaran cenderung tidak
melalui tahap persahabatan, (2) pacaran yang menyamakan cinta dengan hubungan fisik
atau seks, (3) pacaran yang mengisolasi pasangan dari hubungan penting lain, (4)
pacaran yang mengalihkan remaja dari tanggung jawab menata masa depan, (5) pacaran
yang menyebabkan rasa tidak puas ketika tidak memiliki pasangan, (6) pacaran
menciptakan lingkungan palsu tanpa benar-benar mengenal karakter dan sifat pasangan,
(7) pacaran hanya menjadi sebuah tujuan akhir, tidak menuju pada pernikahan,
(Zuliliyan,http://zulliyan.blogspot.com/2010/09/ciri-ciri-pacaran-tidak-sehat.html,
diakses 16 Agustus 2017).

Berikut ini adalah tahapan pacaran tidak sehat: (1) perkenalan, (2) pendekatan, (3)
pacaran, (4) mulai mengumbar janji, (5) memegang tangan, (6) diawali dari memeluk
pundak, lalu memeluk erat, hingga terbiasa berpelukan, (7) berciuman, diawali dari cium
tangan, lalu cium kening, lalu pipi, lalu bibir, lalu leher, dan ke beberapa bagian tubuh
bagian atas lainnya, (8) mulai mengajak pacaran di tempat yang sepi dan pribadi, (9)
mulai meraba bagian tubuh pasangan, hingga menjadi kebiasaan, (10) melakukan
hubungan intim, lalu dilakukan berulang-ulang hingga kecanduan.
(Agus,http://aluviku.blogspot.com/2012/12/tahapan-pacaran.html, diakses 16 Agustus
2017).

3. Pembahasan Fenomena Pacaran dan Remaja di Masa Kini


Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Di masa ini
mereka cenderung ingin mengetahui lebih banyak hal, mencoba hal-hal baru, meniru sesuatu
yang dianggap keren. Mereka merasa sudah mulai dewasa, padahal pola pikirnya cenderung
tidak berpikir jangka panjang dan masih cenderung kekanak-kanakan.

Ketika pacaran sering muncul dalam tayangan televisi, mulai dari sinetron, drama, reality
show, hal itu membuat remaja tertarik. Hasrat ingin mencoba pun tumbuh, dan akhirnya
mereka memutuskan untuk mencobanya. Kemudian mereka menceritakan pada teman-
temannya, melalui obrolan santai, sms, chat, atau banyak media lainnya. Lalu teman-
temannya pun ikut tertarik dan mencoba hal yang sama.

Pacaran yang ketika pada tahun 1970an menjadi tabu dan dirahasiakan dari muka umum, kini
malah dipertontonkan, dijadikan bahan pembicaraan santai, bahkan diumumkan di akun
media sosial, kemudian temannya mengucapkan selamat, semoga langgeng, dan lain
sebagainya. Karena semakin banyak remaja yang meniru perilaku pacaran, maka pacaran pun
semakin berkembang hingga menjadi sebuah trenddan beberapa orang menganggap pacaran
seakan menjadi bagian wajib dari kehidupan remaja.

Mengenai pacaran sehat dan tidak sehat, semua berawal dari niat remaja tersebut
memutuskan untuk berpacaran. Jika ingin serius untuk mengenal lebih dalam lawan jenis dan
berniat untuk menikah, atau untuk memotivasi, itu merupakan tujuan yang positif. Tetapi bila
niat awal memang sudah buruk, untuk menyalurkan hasrat seksual, atau hanya sekedar untuk
menunjukkan pada teman jika dia adalah remaja eksis dan bisa memiliki pacar, maka awalan
tersebut adalah awalan yang sangat buruk untuk menjalin sebuah hubungan.

Setelah niatan, tahap selanjutnya yang perlu kita pastikan adalah proses ketika menjalani
hubungan tersebut. Jika selama menjalani hubungan tetap memegang teguh komitmen, saling
menjaga diri, menjaga komunikasi, saling percaya, dan saling memotivasi, maka hubungan
tersebut dapat dikatakan sebagai hubungan yang sehat. Tetapi jika pasangan terlalu mengikat
kita dalam berhubungan dengan lingkungan, maka segeralah komunikasikan dengan
pasangan agar kejadian itu tak terulang kembali. Karena berpacaran seharusnya tidak
membuat kita menjadi terasingkan dari wilayah sekitar kita. Lalu apabila terjadi kekerasan
fisik, mental, dan terjadi pelecehan seksual, walau hanya sekali saja, sebaiknya segera
hentikan hubungan tersebut. Karena dengan munculnya salah satu dari tiga indikasi tersebut
menunjukkan pada kita bahwa pasangan kita memang benar-benar tidak lagi berniat untuk
melindungi kita, tetapi justru akan membawa kita pada hubungan yang tidak sehat.

Lalu untuk tahapan kontak fisik yang pernah dilakukan remaja, hal ini masih dapat dikatakan
wajar apabila mereka pernah menggenggam tangan kekasihnya, sesekali saja. Tapi akan
mulai menjadi tidak wajar ketika mereka sudah mulai memeluk, karena apabila mereka telah
berpelukan, maka secara alamiah akan muncul keinginan untuk melakukannya lagi dan
melakukannya terus menerus, hingga remaja tersebut akan mulai kecanduan dan ingin
mengembangkan menuju yang lebih dari sekedar pelukan. Lama kelamaan remaja ingin
mulai merasakan rasanya ciuman, lalu mencobanya lagi dan lagi hingga menjadi kebiasaan.
Lalu kebiasaan itu berkembang dan mulai meraba bagian tubuh pasangan, bila tidak ada
penolakan dari pasangan, maka proses tersebut akan terus berlangsung hingga menjadi
kebiasaan yang kemungkinan besar akan dilakukan di tempat-tempat yang sepi, maupun di
tempat pribadi mereka, seperti kamar, atau rumah ketika dalam keadaan kosong.

Lama kelamaan tahapan kontak fisik ini akan terus berkembang hingga melakukan hubungan
intim, lalu dilakukan berulang-ulang hingga kecanduan. Apabila pasangan sudah terbiasa
melakukan hubungan intim, maka peluang terjadinya penularan penyakit menular seksual,
kehamilan di luar nikah akan semakin besar, dan sangat sulit untuk terhindarkan.
4. Penyebab Pacaran di Usia Remaja
1. Globalisasi
Globalisasi pada masa sekarang ini tidak dapat lagi dibendung. Globalisasi yang paling
mempengaruhi para remaja sekarang adalah globalisasi akibat berkembangnya internet.
Dari situlah para remaja mendapat dorongan untuk mencontoh budaya bangsa barat yang
tidak sesuai diterapkan di Indonesia seperti konsuntif, hedonisme dan gonta-ganti pasangan
hidup. Sehingga mendorong para remaja untuk berpacaran di usia dini.

2. Membuktikan diri cukup menarik


Pada saat ini, para remaja sudah melewati batas bergaul yang telah di tetapkan oleh orang
tua. Mereka sudah mengenal pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka
merupakan salah satu bentuk gensi yang membanggakan. Selain itu, pacar merupakan
sesuatu yang dapat membuktikan bahwa mereka cukup menarik dan patut untuk mendapat
perhatian dari lingkungan sekelilingnya.

3. Adanya pengaruh kawan


Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan merupakan salah satu bentuk prestasi
tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya.

Akan tetapi, jika tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecawaan.
Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup tertentu pula seperti
halnya berpacaran. Apabila si remaja berusaha mengikuti tetapi tidak sanggup
memenuhinya maka remaja tersebut kemunginan besar akan di jauhi oleh teman-temannya.

5. Dampak Pacaran Di Usia Remaja


A. Dampak Positif
1. Belajar bersosialisasi
Dengan berpacaran kita akan mampu bersosialisasi dengan pasangan kita, sehingga
kita mampu mengetahui karakteristik seseorang dan membuat kita tidak canggung
dalam bersosialisasi dengan orang asing yang baru kita jumpai. Karena kita telah
belajar bersosialisasi dengan pasangan kita.
2. Mempelajari karakteristik berbagai macam orang
Namun, kalau kita perhatikan apa yang dapat remaja lakukan ketika dia mendapati
bahwa pasangannya itu tidak cocok dengannya? Kata yang keluar adalah putus!
Bukannya mencoba untuk bisa mengerti satu sama lain, para remaja hanya
mempelajari untuk bercerai. Bagaimana tidak? Karena faktor usia yang dibawakan
dalam diri hanya emosi sesaat.

Jika dikatakan alangkah lebih menyenangkan untuk mempelajari diri sendiri dulu,
membenahi diri, dan berupaya untuk bisa beradaptasi dengan banyak orang.
Ketimbang mengikatkan diri dengan satu orang yang kadang kala membuat sakit hati,
lebih baik seorang remaja mencoba untuk berbaur dengan yang lainnya. Di situ dia
bisa mempelajari karakteristik orang lain. Dan, dia juga sedang mempelajari dirinya
sendiri tentunya.
Setelah dia bisa mengendalikan emosinya ini merupakan saat yang tepat untuk
berpacaran tentunya dia sudah berani berkomitmen. Jadi, berpacaran bukan hanya
untuk having fun. Tidaklah pantas menurut penulis jika seseorang mempermainkan
perasaan orang lain. Lagipula, masa remaja yang penuh gejolak ini akan sangat
memberikan keragu-raguan dalam hal berpacaran. Maka dari itu, beberapa orang tua
melarang anaknya untuk berpacaran (walau ada juga yang tidak).

B. Dampak Negatif
1. Kekerasan fisik
Koalisi Antikekerasan di Alabama menyebutkan bahwa satu dari tiga anak mengalami
kekerasan fisik selama pacaran usia dini. Bentuknya seperti mendorong, memukul,
mencekik, dan membunuh. Kejahatan tersebut sangat tertutup karena pihak korban
ataupun pelaku tidak mengakui adanya masalah selama hubungan kencan. Penyebab
kekerasan fisik pada remaja di antaranya kecemburuan, sifat posesif, dan temperamen
dari pasangan si anak remaja. Pelaku, misalnya, mengontrol cara berpakaian si anak.
Hal itu sebenarnya adalah bentuk kekerasan, yang sering kali dilihat oleh si anak
sebagai bentuk perhatian.

2. Kekerasan seksual
Pemerkosaan dalam pacaran adalah bentuk kekerasan seksual dalam pacaran. Komisi
Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Indonesia
mengategorikan kekerasan jenis itu sebagai kekerasan dalam pacaran (KDP). KDP
secara seksual terjadi ketika seseorang diserang secara seksual oleh orang lain yang
dikenal dan dipercaya, seperti teman kencan. Kekerasan seksual dapat juga terjadi
saat korban mabuk di suatu pesta, misalnya. Pesta menjadi ajang yang paling mudah
bagi pelaku untuk mengincar remaja dengan lebih dahulu memberikan narkoba,
kemudian menjadikannya korban kekerasan seksual.

3. Cenderung menjadi pribadi yang rapuh


Anak remaja yang mulai pacaran sejak usia dini lebih banyak mengalami sakit kepala,
perut dan pinggang. Mereka juga lebih banyak depresi dibanding rekan seusianya
yang belum pernah pacaran.Seseorang, yang mengenal cinta lebih dini cenderung
menjadi pribadi yang rapuh, sakit-sakitan, merasa tidak aman dan mudah depresi,
contohnya remaja, akan memiliki alarm rasa sakit yang lebih tinggi, terutama jika
remaja itu menjalin hubungan yang buruk dengan pasangannya.

Mereka punya kecenderungan tingkat rasa sakit yang lebih mendalam. Mereka benar-
benar meresapi perasaan buruk seperti sedih atau kesal karena secara psikologi
mereka sudah mengenalnya ketika berhubungan dengan pasangannya. Akibat terlalu
mendalami perasaan sedih dan emosional itu adalah depresi dan penyakit lainnya.
Karena terlalu sedih atau marah, perasan depresi pun bisa muncul. Akibatnya mereka
jadi tidak mau makan, kurang tidur atau tidak mau melakukan apa-apa. Dari situlah
muncul penyakit-penyakit seperti pusing, sakit perut dan lainnya
Mereka yang mengenal cinta dan mengalami masalah dalam berhubungan dengan
pasangan lebih dulu memiliki pandangan yang lebih serius dan sikap yang lebih
tertutup. Hal itu memicu perasaan stres dan penyakit fisik lainnya.

4. Kehamilan dan penularan penyakit menular seksual


Anak yang berpacaran di usia dini mengarah pada kemungkinan yang lebih besar
untuk melakukan hubungan seksual. Hal itu sangat memungkinkan terjadinya
kehamilan dan penularan penyakit menular seksual (PMS). Menurut The Centers for
Disease Control (CDC), kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah
kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk tertular PMS.

Sekedar mengingatkan bahaya kehamilan pada remaja:


1. Hancurnya masa depan karena tidak bisa melanjutkan sekolah.
2. Remaja wanita yang terlanjur hamil akan mengalami kesulitan selama
kehamilan karena jiwa dan fisiknya belum siap.
3. Pasangan pengantin remaja, sebagian besar diakhiri oleh perceraian (umumnya
karena terpaksa kawin karena nafsu, bukan karena cinta).
4. Remaja wanita yang berusaha menggugurkan kandungan pada tenaga non
medis (dukun bayi, tenaga tradisional) sering mengalami kematian karena
mengalami sakit dan pendarahan yang hebat.
5. Pengguguran kandungan yang diperbolehkan oleh undang-undang, kecuali
indikasi medis (misalnya si ibu sakit jantung berat, sehingga kalau ia
meneruskan kehamilan dapat timbul kematian). Baik yang meminta,
pelakunya maupun yang mengantar dapat dihukum berat .
6. Bayi yang dilahirkan dari perkawinan remaja, sering mengalami kecacatan dan
gangguan kejiwaan saat ia dewasa.
7. Jadi bahan pembicaraan dan ejekan masyarakat sekitar .
8. Stress berkepanjangan dan bisa jadi GILA.

5. Menurunkan konsentrasi
Hal ini terjadi jika remaja telah mengakhiri hubungan dengan pacarnya sehingga
emosinya menjadi labil, konsentrasi menjadi buyar karena terus memikirkan pacarnya
sehingga remaja tersebut tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang di berikan
kepadanya dan mengerjakan ulangan dengan baik sehingga dapat menurunkan
prestasi remaja tersebut.

6. Menguras harta
Akan menguras harta, karena orang yang pacaran akan selalu berkorban untuk
pacarnya, bahkan uang yang seharusnya untuk ditabung bisa habis untuk membelikan
hadiah untuk pacarnya.

5. Dampak Berpacaran Terhadap Prestasi Belajar


Bagi remaja (siswa) pacaran merupakan sesuatu yang sudah biasa dilihat atau juga dilakukan
oleh para remaja (siswa), secara langsung maupun tidak langsung hal tersebut dapat
berpengaruh terhadap prestasi belajar mereka menjadi menurun atau semakin giat belajar,
Berpacaran dapat membuat prestasi belajar seorang siswa menurun antara lain contoh-contoh
tersebut adalah sebagai berikut, ketika belajar seorang siswa yang berpacaran pasti akan
terganggu konsentrasinya untuk belajar karena pasanganya selalu mengirim SMS kepadanya
dan siswa tersebut pasti hanya fokus untuk membalas SMS pasangan dan melupakan waktu
belajarnya, kemudian siswa yang berpacaran juga dapat membuat malas untuk masuk sekolah
di saat bertengkar dengan pasangan atau berpisah dengan pasangan karena malas bertemu
denganya di sekolah, mungkin beberapa contoh tadi dapat mewakili dampak negative yang
ditimbulkan berpacaran pada saat usia remaja mesi masih banyak contoh-contoh lainya.

Berpacaran dapat pula membuat prestasi belajar seorang remaja (siswa) meningkat dan
semakin giat belajar antara lain contoh-contoh tersebut adalah sebagai berikut, pada saat
seorang siswa yang sedang berpacaran mereka dapat merasa tidak ingin kalah dari
pasanganya dalam hal apapun karena di saat dia kalah dari pasanganya maka dia akan merasa
malu dan ingin melebihi apa yang di raih pasanganya itu terutama dalam hal pelajaran
teradang mereka membuat suatu permainan kecil dimana apabila salah satu seorang pasangan
mendapat nilai yang jelek dari pasanganya maka pasangan yang menang dia dapat meminta
apa saja pada pasanganya tetapi dalam batas kewajaran seperti dibelikan coklat,snack dll. Hal
tersebut juga dapat membuat mereka menjadi giat belajar dan apabila seoarang siswa yang
sedang berpacaran maka mereka akan selalu ingin masuk sekolah setiap hari karena ingin
bertemu pasanganya hal ini juga dapat mempengaruhi absensi siswa dapat juga menjadi
dorongan semangat untuk lebih giat belajar.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Dengan kemajuan teknologi, trend pacaran kian menjadi-jadi. Dengan berbagai
alasan, para remaja memilih untuk berpacaran. Proses pacaran merekapun beraneka
ragam, ada yang tetap di batasan yang seharusnya, ada juga yang melewati batas.
Akan tetapi semakin lama semakin banyak remaja Indonesia yang gaya pacarannya
tidak sehat, sehingga angka kehamilan diluar nikah, pemerkosaan yang dilakukan oleh
pacar, dan remaja penderita penyakit menular seksual semakin meningkat.

B. Saran
1. Kuatkan iman, perdalam pengetahuan agama, dan terapkan nilai-nilai agama
dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini sangat ampuh untuk menjadi benteng
pelindung agar kita terminimalisir dari kesesatan dan godaan-godaan setan yang
terkutuk.
2. Sebagai remaja hendaklah kita membiasakan diri untuk berpikir ke depan.
Berpikir sebelum bertindak, jangan ikut-ikutan, dan jangan hanya memikirkan
kenikmatan sesaat saja.
3. Sebelum memutuskan untuk berpacaran, coba pikirkan lebih matang lagi apakah
alasan anda untuk berpacaran sudah kuat memang untuk tujuan yang positif atau
hanya untuk sekedar main-main saja. Jika sekedar main-main atau berniatan
buruk, lebih baik urungkanlah niat anda. Jika sudah dirasa kuat, coba pikirkan
sekali lagi. Jika memang benar-benar sudah mantap, dan siap dengan segala
konsekuensi, lanjutkanlah.
4. Lakukanlah aktivitas bersama pasangan di tempat-tempat yang ramai, atau
minimal ada orang ketiga yang berfungsi sebagai pemantau agar tidak terjadi hal-
hal yang tidak diinginkan. Bila perlu, sertakan orang tua atau anggota keluarga
dalam setiap aktivitas kalian berdua.
5. Urungkan niat untuk berbuat hal yang negatif dan tolaklah keinginan pasangan
untuk melakukan kontak fisik yang lebih dari sekedar berpegang tangan. Terlepas
dari apapun latar belakang pasangan kita melakukan kontak fisik tersebut,
perbuatan itu memuktikan jika pasangan kita telah tergoda dengan rayuan setan
dan justru akan membawa kita ke arah yang negatif.
DAFTAR PUSTAKA

http://cahnjuwet.blogspot.com/2011/04/pengaruh-pacaran-terhadap-prestasi.html
http://www.anneahira.com/pengaruh-pacaran-terhadap-prestasi-belajar.htm
http://id.scribd.com/doc/96548972/Dampak-Positif-Dan-Negatif-Pacaran-Bagi-Remaja
Ahira, Anne. (2010). Pengaruh Pacaran Terhadap Prestasi Belajar Siswa. Retrieved
Desember 10, 2013, from anneahira.com/Pengaruh Pacaran Terhadap Prestasi Belajar
Siswa.htmlp
Seo, Dany. (2013). Retrieved Desember 10, 2013, from Makalah Bahasa Indonesia Pengaruh
Berpacaran Saat Usia Remaja ~ Pusat Sekolah.html
(Anonim,http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23381/3/Chapter%20II.pdf, diakses
16 Agustus 2017).