Anda di halaman 1dari 4

Iodometri

Pada titrasi iodometri, analit yang dipakai adalah oksidator yang dapat bereaksi dengan I-
(iodide) untuk menghasilkan I2, I2 yang terbentuk secara kuantitatif dapat dititrasi dengan
larutan tiosulfat. Dari pengertian diatas maka titrasi iodometri adalah dapat dikategorikan sebagai
titrasi kembali.
Iodida adalah reduktor lemah dan dengan mudah akan teroksidasi jika direaksikan dengan
oksidator kuat. Iodida tidak dipakai sebagai titrant hal ini disebabkan karena factor kecepatan
reaksi dan kurangnya jenis indicator yang dapat dipakai untuk iodide. Oleh sebab itu titrasi
kembali merubakan proses titrasi yang sangat baik untuk titrasi yang melibatkan iodide.
Senyawaan iodide umumnya KI ditambahkan secara berlebih pada larutan oksidator sehingga
terbentuk I2. I2 yang terbentuk adalah equivalent dengan jumlah oksidator yang akan ditentukan.
Jumlah I2 ditentukan dengan menitrasi I2 dengan larutan standar tiosulfat (umumnya yang
dipakai adalah Na2S2O3) dengan indicator amilum jadi perubahan warnanya dari biru tua
kompleks amilum-I2 sampai warna ini tepat hilang.
Reaksi yang terjadi pada titrasi iodometri untuk penentuan iodat adalah sebagai berikut:

IO3- + 5 I- + 6H+ -> 3I2 + H2O


I2 + 2 S2O32- -> 2I- + S4O62-

Setiap mmol IO3- akan menghasilkan 3 mmol I2 dan 3 mmol I2 ini akan tepat bereaksi dengan 6
mmol S2O32- (ingat 1 mmol I2 tepat bereaksi dengan 2 mmol S2O32-) sehingga mmol IO3-
ditentukan atau setara dngan 1/6 mmol S2O32-.
Mengapa kita menitrasi langsung antara tiosulfat dengan analit? Beberapa alasan yang dapat
dijabarkan adalah karena analit yang bersifat sebagai oksidator dapat mengoksidasi tiosulfat
menjadi senyawaan yang bilangan oksidasinya lebih tinggi dari tetrationat dan umumnya reaksi
ini tidak stoikiometri. Alasa kedua adalah tiosulfat dapat membentuk ion kompleks dengan
beberapa ion logam seperti Besi(II).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan titrasi Iodometri adalah sebagai berikut:
Penambahan amilum sebaiknya dilakukan saat menjelang akhir titrasi, dimana hal ini ditandai
dengan warna larutan menjadi kuning muda (dari oranye sampai coklat akibat terdapatnya I2
dalam jumlah banyak), alasannya kompleks amilum-I2 terdisosiasi sangat lambat akibatnya
maka banyak I2 yang akan terabsorbsi oleh amilum jika amilum ditambahkan pada awal titrasi,
alasan kedua adalah biasanya iodometri dilakukan pada media asam kuat sehingga akan
menghindari terjadinya hidrolisis amilum
Titrasi harus dilakukan dengan cepat untuk meminimalisasi terjadinya oksidasi iodide oleh udara
bebas. Pengocokan pada saat melakukan titrasi iodometri sangat diwajibkan untuk menghindari
penumpukan tiosulfat pada area tertentu, penumpukkan konsentrasi tiosulfat dapat menyebabkan
terjadinya dekomposisi tiosulfat untuk menghasilkan belerang. Terbentuknya reaksi ini dapat
diamati dengan adanya belerang dan larutan menjadi bersifat koloid (tampak keruh oleh
kehadiran S).

S2O32- + 2H+ -> H2SO3 + S

Pastikan jumlah iodide yang ditambahkan adalah berlebih sehingga semua analit tereduksi
dengan demikian titrasi akan menjadi akurat. Kelebihan iodide tidak akan mengganggu jalannya
titrasi redoks akan tetapi jika titrasi tidak dilakukan dengan segera maka I- dapat teroksidasi oleh
udara menjadi I2.
Bagaimana menstandarisasi larutan tiosulfat?
Tiosulfat yang dipakai dalam titrasi iodometri dapat distandarisasi dengan menggunakan
senyawa oksidator yang memiliki kemurnian tinggi (analytical grade) seperti K2Cr2O7, KIO3,
KBrO3, atau senyawaan tembaga(II).
Bila digunakan Cu(II) maka pH harus dibuffer pada pH 3 dan dipakai tiosianat untuk masking
agent, KSCN ditambahkan pada waktu mendektitik akhir titrasi dengan tujuan untuk
menggantikan I2 yang teradsorbsi oleh CuI. Bila pH yang digunakan tinggi maka tembaga(II)
akan terhidrolisis dan akan terbentuk hidroksidanya. Jika keasaman larutan sangat tinggi maka
cenderung terjadi reaksi I- sebagai akibat adanya Cu(II) dalam larutan yang megkatalis reaksi
tersebut.

Beberapa contoh reaksi iodometri adalah sebagai berikut


1. 2MnO4- + 10 I- + 16 H+ <-> 2Mn2+ + 5 I2 + 8H2O
2. Cr2O72- + 6I- <-> 14 H+ <-> 2Cr3+ + 3 I2 + 7H2O
3. 2Fe3+ + 2I- <-> 2Fe2+ + I2
4. 2 Ce4+ + 2I- <-> 2Ce3+ + I2
5. Br2 + 2I- <-> 2Br- + I2

http://mhiakhanpuspaningrum.blogspot.co.id/2011/05/iodometri.html

(diakses : jumat, 2 desember 2016 pukul 17.00)

Iodometri & Iodimetri

A. Pengertian Iodimetri

Iodimetri merupakan suatu metode analisis kuantitatif volumetri berdasarkan redoks dimana
senyawa dan pereaksinya bereaksi secara langsung atau sering disebut dengan Direct Titration. Dalam
proses penitaran, titran mengoksidasi titrat maka metode ini termasuk dalam oksidimetri dan
menggunakan penambahan indikator kanji di awal titrasi.
Dalam reaksi redoks harus selalu ada oksidator dan reduktor ,sebab bila suatu unsur
bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan electron ), maka harus ada suatu unsur yang bilangan
oksidasinya berkurang atau turun (menangkap electron) ,jadi tidak mungkin hanya ada oksidator
ataupun reduktor. Dalam metoda analisis ini , analat (titrat) dioksidasikan oleh I2 , sehingga I2 tereduksi
menjadi ion iodide, dengan kata lain I2 bertindak sebagai oksidator dengan reaksi:
I2 + 2 e - 2 I-
Karena iodimetri merupakan suatu penentuan kuantitatif, maka yang dicari adalah jumlah
I2 yang bereaksi dengan sample atau terbentuk dari hasil reaksi antara sample dengan ion iodide.
Contoh senyawa yang dapat ditetapkan dengan iodimetri adalah : Sn2+, As3+, Zn2+, Hg2+, Pb2+, ion
sulfit, glukosa (dan gula-gula pereduksi lain), vitamin C.

B. Proses Iodimetri

Proses titrasi dengan menggunakan larutan Iod (I2) dapat dibedakan menjadi dua yaitu

a) Proses tidak langsung (Iodometri)


Proses Iodometri adalah suatu titrasi tidak langsung dimana titrasi menggunakan larutan
standar Na2S2O3 sebagai penitar. Penambahan indikator kanji di akhir di karenakan kanji akan
mengadsorbsi I2 dalam larutan. Sehingga I2 tidak dapat bereaksi dengan Na2S2O3.
b) Proses langsung (Iodimetri)

Suatu titrasi langsung dimana titrasi menggunakan kanji di awal penitaran. Sebagai larutan
standar digunakan I2. Penambahan indikator kanji di awal di karenakan kanji tidak akan mengadsorbsi I2
dalam larutan. Zat-zat yang mungkin dititrasi dengan metode ini adalah zat yang merupakan pereaksi
pereduksi (reduktor) yang cukup kuat dititrasi secara langsung dengan menggunakan larutan Iodium
diantaranya adalah Tio (Na2S2O3), Arsenat (III), Antimon (III), Sulfida, Sulfit, Timah-Putih (II) dan
Ferisianida (Fe(CN)2.

C. Perbedaan Iodometri & Iodimetri


Meski Iodometri dan Iodimetri memiliki beberapa persamaan dan juga merupakan termasuk
kedalam metoda redoks tetapi keduanya memilki beberapa perbedaan diantaranya :
Iodometri Iodimetri

Termasuk kedalam Reduktometri Termasuk kedalam Oksidimetri


Larutan Na2S2O3 (Tio) sebagai penitar (Titran) Larutan I2 sebagai Penitar (Titran)
Penambahan Indikator Kanji disaat mendekati Penambahan Indikator kanji saat awal
titik akhir. penitaran
Termasuk kedalam Titrasi tidak langsung Termasuk kedalam Titrasi langsung
Oksidator sebagai titrat Reduktor sebagai titrat
Titrasi dalam suasana asam Titrasi dalam suasana sedikit basa/netral
Penambahan KI sebagai zat penambah Penambahan NaHCO3 sebagai zat penambah
Titran sebagai reduktor Titran sebagai oksidator

Selain itu juga terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode iodimetri yaitu sebagai
berikut :

Kelebihan :

1. Penitaran berlangsung lebih cepat karena titrat dan titran langsung bereaksi.
2. Penambahan kanji diawal titrasi.
3. Warna titik akhir lebih mudah teramati dari tidak berwarna menjadi biru.

Kekurangan :

1. Penitarnya mudah terurai oleh cahaya sehingga preparasi contoh harus dilakukan terlebih
dahulu.
2. Pada saat titrasi dikhawatirkan kehilangan ion iod.
3. Dalam keadaan asam, larutan iod dapat dioksidasi oleh udara

http://ilmukita98.blogspot.co.id/2015/02/iodometri-iodimetri.html
(diakses : jumat, 2 desember 2016 pukul 17.05)