Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Latar Belakang Mioma uteri merupakan salah satu masalah kesehatan
reproduksi pada wanita. Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos yang terdiri dari
sel-sel jaringan otot polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen. Mioma uteri
merupakan salah satu tumor ginekologi yang paling sering terjadi dan ditemukan pada
30% wanita usia reproduktif. Mioma uteri ini menimbulkan masalah besar dalam
kesehatan dan terapi yang efektif belum didapatkan, karena sedikit sekali informasi
mengenai etiologi mioma uteri itu sendiri. Walaupun jarang menyebabkan mortalitas,
namun morbiditas yang ditimbulkan oleh mioma uteri ini cukup tinggi karena mioma
uteri dapat menyebabkan nyeri perut dan perdarahan abnormal, serta diperkirakan
dapat menyebabkan kesuburan rendah, (Bailliere, 2006). The National Center for
Chronic Disease Prevention and Health Promotion di Amerika Serikat melaporkan
pada tahun 2000 proporsi mioma uteri pada pasien histerektomi 44,2% dan 38,7%
pada tahun 2004. Medical Surveillance Monthly Report, Armed Force Amerika
Serikat periode 2001-2010 melaporkan terdapat 11.931 kasus mioma uteri (insidens
rate 57,6 per 10.000 tiap tahun) pada wanita usia reproduksi aktif. Penelitian yang
dilakukan Rammeh di Prancis tahun 2005 terhadap 2.760 kasus tumor pelvis,
menemukan 2.709 kasus mioma uteri (proporsi 98,1 %). Di Indonesia mioma uteri
ditemukan 2,39%-11,70% pada semua penderita ginekologi yang dirawat
(Prawirohardjo, 2007).
Menurut penelitian yang dilakukan Karel Tangkudung (1977) di Surabaya
angka kejadian mioma uteri adalah sebesar 10,30%, sebelumnya di tahun 1974 di
Surabaya penelitian yang dilakukan oleh Susilo Raharjo angka kejadian mioma uteri
sebesar 11,87% dari semua penderita ginekologi yang dirawat (Yuad H, 2005 yang
dikutip Muzakir, 2008). Dari penelitian diketahui bahwa mioma berasal dari jaringan
uniseluler. Transformasi neoplastik dari miometrium menjadi mioma melibatkan
mutasi somatik dari miometrium normal dan interaksi kompleks dari hormon steroid
seks dan growth factor lokal. Mutasi somatik ini merupakan peristiwa awal dalam

1
proses pertumbuhan tumor. Namun estrogen berperan dalam pembesaran tumor
dengan meningkatkan produksi matriks ekstraseluler. Pengobatan mioma uteri
dengan gejala klinik umumnya adalah tindakan operasi yaitu histerektomi
(pengangkatan rahim) atau pada wanita yang ingin mempertahankan kesuburannya,
miomektomi (pengangkatan mioma) dapat menjadi pilihan (Djuwantono, 2004).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada mioma uteri ?

C. Tujuan
1. Dapat mengetahui konsep asuhan keperawatan dari mioma uteri.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Konsep Asuhan Keperawatan Mioma Uteri


1. Pengkajian Keperawatan
Dalam hal pemeriksaan, menurut Setiati(2009: 95-96) adalah sebagai berikut:
a. Anamnesis
Timbul benjolan di perut bagian bawah pada waktu yang relatif lama. kadang-
kadang Gangguan haid. Buang air kecil atau air besarpun terjadi. Nyeri perut
terjadi apabila mioma terinfeksi , terpuntir atau pecah.
b. Pemeriksaan fisik
Palpasi Abdomen digunakan untuk mendapatkan tumor diabdomen bagian
bawah.
c. Pemeriksaan Ginetologi
Dengan pemeriksaan bimanual. Tumor tersebut didpatkan menyatu dengan
rahim atau mengisi dengan kavum Douglasi. Konsistennya padat , kenyal,
bergerak dan permukaan tumor umumnya rata. Gejala klinisnya adalah adanya
rasa penuh pada bagian bawah, tanda massa yang padat kenyal, terjadi
perdarahan abnormal, dan muncul rasa nyeri, terutama saat menstruasi.
d. Pemeriksaan Luar
Teraba massa tumor pada abdomen bagian bawah serta pergerakan tumor dapat
terbatas atau bebas.

Selain itu, fokus pengkajian mioma uteri terdiri dari :


a. Pengumpulan Data
Merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi dari klien sebagai berikut:
1) Mioma biasanya terjadi pada usia reproduktif, paling sering ditemukan
pada usia 35 tahun keatas.
2) Makin tua usia maka toleransi terhadap nyeri akan berkurang.
3) Orang dewasa mempunyai dan mengetahui cara efektif dalam
menyesuaikan diri terutama terhadap perubahan yang terjadi pada dirinya

3
akibat tindakan THA_BSO (Total Abdominal Hyterektomi And Bilateral
Salphingo Oopphorectomy).
b. Keluhan utama
Keluhan yang timbul hampir tiap jenis oprasi adalah rasa nyeri karena terjadi
torehan tarikan, manipulasi jaringan organ. Rasa nyeri setelah bedah biasanya
berlangsung 24-48 jam. Adapun yang perlu dikaji pada rasa nyeri tersebut
adalah pengkajian nyeri P, Q, R, S, T.
c. Riwayat reproduksi
1) Haid
Dikaji tentang riwayat menarche dan haid terakhir, sebab mioma uteri
tidak pernah ditemukan sebelum menarche dan mengalami atropi pada
masa menopause.
2) Hamil dan Persalinan
a) Kehamilan mempengaruhi pertumbuhan mioma, dimana mioma
uteri tumbuh cepat pada masa hamil ini dihubungkan dengan
hormone estrogen, pada masa ini dihasilkan dalam jumlah yang
besar.
b) Jumlah kehamilan dan anak yang hidup mempengaruhi psikologi
klien dan keluarga terhadap hilangnya organ kewanitaan.
d. Data Psikologi
Pengangkatan organ reproduksi dapat sangat berpengaruh terhadap emosional
klien dandiperlukan waktu untuk memulai perubahan yang terjadi. Oragan
reproduksi merupakan komponen kewanitaan, wanita melihat fungsi menstruasi
sebagai lambing feminitas sehingga berhentinya menstruasi biasanya dirasakan
sebagai hilangnya perasaan kewanitaan. Perasaaan seksualitas dalam arti
hubungan seksual perlu ditangani. Beberapa wanita merasa cemas bahwa
hubungan seksualitas terhalangi atau hilangan kepuasan. Pengetahuan klien
tentang dampak yang akan terjadi sangat perlu persiapan psikologi klien.
e. Status Respiratori
Respirasi bisa meningkat atau menurun. Pernafasan yang cepat dapat terdengar
tanpa stetoskop. Bunyi pernafasan akibat lidah jatuh kebelakang atau terdapat

4
sekret. Suara paru yang kasar merupakan gejala terdapat sekret pada saluran
nafas. Usaha batuk dan bernafas dalam dilaksanakan segera pada klien yang
memakai anestesi general.
f. Tingkat Kesadaran
Tingkat kesadaran dibuktikan melalui pertanyaan sederhana yang harus dijawab
oleh klien atau di suruh untuk melakukan perintah. Variasi tingkat kesadaran
dimulai dari siuman sampai ngantuk, harus diobservasi dan penurunan tingkat
kesadaran merupakan gejala syock.
g. Status Urinari
Retensi urin paling umum terjadi setelah pembedah genekologi, klien yang
hidrasinya baik biasanya kencing setelah 6-8 jam setelah pembedahan. Jumlah
output urin yang sedikit akibat kehilangan cairan tubuh saat operasi, muntah
akibat anestesi.
h. Status Gastrointestinal
Fungsi gastrointestinal biasanya pulih pada 24-74 jam setelah pembedahan,
tergantung pada kekuatan efek narkose pada penekanan intestinal. Ambulatori
dan kompres hangat perlu diberikan untuk menghilangkan dalam usus.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut b.d kerusakan jaringan otot (uterus berkontraksi)
b. Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (perdarahan)
c. Resiko syok b.d ketidakcukupan aliran darah ke jaringan tubuh (perdarahan
pervaginam berulang)
d. Resiko infeksi b.d prosedur invasive
e. Retensi urine b.d penekanan oleh masa jaringan neoplasma pada organ
sekitarnya
f. Kerusakan integritas jaringan
g. Disfungsi seksual
h. Konstipasi b.d penekanan pada rectum (prolaps rectum)
i. Ansietas b.d perubahan dalam status peran, ancaman pada status kesehatanm
konsep diri (kurangnya sumber informasi terkait penyakit).

5
3. Intervensi
Tujuan dan Kriteria
Diagnosa
No : Hasil Intervensi ( NIC )
Keperawatan
( NOC )
1. Nyeri akut b.d NOC NIC
kerusakan 1. Pain Level Pain management
jaringan otot 2. Pain Control a. Lakukan pengkajian
3. Comfort Level nyeri secara
(uterus
komprehensif
berkontraksi)
Kriteria Hasil: termasuk lokasi,
a. Mampu karakteristik, durasi,
mengontrol nyeri frekuensi, kualitas,
b. Melaporkan dan faktor presipitasi
bahwa nyeri b. Observasi reaksi
berkurang dengan nonverbal dari
menggunakan ketidaknyamanan
manajemen nyeri c. Gunakan teknik
c. Mampu mengenali komunikasi
nyeri (skala, terapeutik untuk
intensitas, mengetahui
frekuensi dan pengalaman nyeri
tanda nyeri) pasien
d. Menyatakan rasa d. Kontrol lingkungan
nyaman setelah yang dapat
nyeri berkurang mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan,
kebisingan
e. Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi, dan
inter personal)
f. Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk

6
menentukan
intervensi
g. Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi
h. Berikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
i. Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
j. Tingkatkan istirahat
k. Kolaborasikan
dengan dokter jika
ada keluhan dam
tindakan nyeri tidak
berhasil

Analgesic administration
a. Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas
dan derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
b. Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis dan frekuensi
c. Cek riwayat alergi
d. Pilih analgesic yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesic ketika
pemberian lebih dari
satu
e. Tentukan pilihan
analgesic tergantung

7
tipe dan beratnya
nyeri
f. Tentukan analgesic
pilihan, rute
pemberian, dan dosis
optimal
g. Pilih rute pemberian
secara IV, Im untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
h. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesic
pertama kali
i. Berikan analgesic
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
j. Evaluasi efektivitas
analgesic, tanda dan
gejala
2. Resiko NOC NIC
kekurangan 1. Fluid balance Fluid management
volume cairan 2. Hydration a. Timbang
3. Nutritional popok/pembalut jika
b.d kehilangan
status: food and diperlukan
cairan aktif
fluid intake b. Pertahankan catatan
(perdarahan) intake dan output
Kriteria Hasil: yang akurat
a. Mempertahankan c. Monitor status hidrasi
urine output sesuai (kelembaban
dengan usia dan membrane mukosa,
BB, BJ urine nadi adekuat, tekanan
normal, HT darah ortostatik) jika
normal diperlukan
d. Monitor vital sign

8
b. Tekanan darah, e. Monitor masukan
nadi, suhu tubuh makanan/cairan dan
dalam batas hitung intake kalori
normal harian
c. Tidak ada tanda- f. Kolaborasikan
tanda dehidrasi, pemberian cairan IV
elastisitas turgor g. Monitor status nutrisi
baik, membrane h. Berikan cairan IV
mukosa lembab, i. Dorong masukan oral
tidak ada rasa haus j. Berikan penggantian
yag berlebihan nesogatrik sesuai
output
k. Dorong keluarga
untuk membantu
pasien makan
l. Tawarkan snack (jus
buah, buah segar)
m. Kolaborasi dengan
dokter
n. Atur kemungkinan
transfusi
o. Persiapan untuk
transfuse

Hypovolemia management
a. Monitor status cairan
termasuk intake dan
output cairan
b. Pelihara IV line
c. Monitor tingkat Hb
dan hematocrit
d. Monitor tanda vital
e. Monitor respon
pasien terhadap
penambahan cairan

9
f. Monitor berat badan
g. Dorong pasien untuk
menambah intake
oral
h. Pemberian cairan IV
monitor adanya tanda
dan gejala kelebihan
volume cairan
i. Monitor adanya tanda
gagal ginjal
3. Resiko syok b.d NOC NIC
ketidakcukupan 1. Syok prevention Syok prevention
aliran darah ke 2. Syok a. Monitor status
management
jaringan tubuh sirkulasi BP, warna
(perdarahan kulit, suhu kulit,
Kriteria Hasil:
pervaginam a. Nadi dalam batas denyut jantung, HR,
berulang) yang diharapkan dan ritme, nadi

b. Irama jantung perifer, dan kapiler

dalam batas yang refill

diharapkan b. Monitor tanda

c. Frekuensi nafas inadekuat oksigenasi

dalam batas yang c. Monitor suhu dan

diharapkan pernapasan

d. Irama pernapasan d. Monitor input dan

dalam batas yang output

diharapkan e. Pantau nilai labor :

e. Natrium serum HB, HT, AGD, dan

dbn elektrolit

f. Kalium serum dbn f. Monitor

g. Klorida serum hemodinamik invasi

dbn yang sesuai

10
h. Kalsium serum g. Monitor tanda dan
dbn gejala asites
i. Magnesium serum h. Monitor tanda awal
dbn syok
j. PH darah serum i. Tempatkan pasien
dbn pada posisi supine,
kaki elevasi untuk
peningkatan preload
dengan tepat
j. Lihat dan pelihara
kepatenan jalan
napas
k. Berikan cairan iv dan
atau oral yang tepat
l. Berikan vasodilator
yang tepat
m. Ajarkan keluarga dan
pasien tentang tanda
dan gejala datangnya
syok
n. Ajarkan keluarga dan
pasien tentang
langkah untuk
mengatasi gejala
syok
Syok management
a. Monitor fungsi
neurologis
b. Monitor fungsi renal
c. Monitor tekanan nadi

11
d. Monitor status cairan,
input output
e. Catat gas darah arteri
dan oksigen di
jaringan
f. Monitor EKG
g. Memanfaatkan
pemantauan jalur
arteri untuk
meningkatkan
akurasi pembacaan
tekanan darah
h. Memantau tingkat
karbon dioksida
sublingual dan/atau
tonometry lambung
i. Monitor adanya
gejala gagal
pernapasan
j. Monitor nilai
laboratorium
k. Masukkan dan
memelihara besarnya
kebosanan akses IV
4. Resiko infeksi NOC NIC
b.d prosedur 1. Imunne Status Infection Control
invasive 2. Knowledge: a. Bersihkan
Infection dlingkungan setelah
control dipakai pasien lain
3. Risk control b. Pertahankan teknik
isolasi

12
Kriteria Hasil: c. Batasi pengunjung
a. Klien bebas dari bila perlu
tanda dan gejala d. Instruksikan pada
infeksi pengunjung untuk
b. Mendeskripsikan mencuci tangan saat
proses penularan berkunjung dan
penyakit, faktor setelah berkunjung
yang meninggalkan pasien
mempengaruhi e. Gunakan sabun
penularan serta antimikroba untuk
pelaksanaannya cuci tangan
c. Menunjukkan f. Cuci tangan setiap
kemampuan untuk sebelum dan sesudah
mencegah tindakan keperawatan
timbulnya infeksi g. Gunakan baju, sarung
d. Jumlah leukosit tangan sebagai alat
dalam batas pelindung
normal h. Pertahankan
e. Menunjukkan lingkungan aseptic
perilaku hidup selama pemasangan
sehat alat
i. Ganti letak IV perifer
dan line central dan
dressing sesuai
dengan petinjuk
umum
j. Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kencing
k. Tingkatkan intake
nutrisi
l. Berikan terapi
antibiotic bila perlu

13
m. Monitor tanda dan
gejala infeksi sitemik
dan lokal
n. Monitor perhitungan
granulosit, WBC
o. Monitor kerentanan
terhadap infeksi
p. Batasi pengunjung
q. Inspeksi kulit dan
membrane mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase
r. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
s. Laporkan kecurigaan
infeksi
t. Laporkan kultur
positif
5. Retensi urine NOC NIC
b.d penekanan 1. Urinary Urinary retention care
oleh masa elimination a. Monitor intake dan
2. Urinary output
jaringan
continence b. Monitor penggunaan
neoplasma pada
obat antikolionergik
organ sekitarnya Kriteria Hasil: c. Monitor derajat
a. Kandung kemih distensi bladder
kosong secara d. Instruksikan pada
penuh pasien dan keluarga
b. Tidak ada residu untuk mencatat
urin > 100-200 cc output urine
c. Bebas dari ISK e. Sediakan privacy
d. Tidak ada spasme untuk eliminasi
bladder f. Stimulus refleks
bladder dengan

14
e. Balance cairan kompres dingin pada
seimbang abdomen
g. Kateterisasi jika perlu
h. Monitor tanda dan
gejala ISK
6. Kerusakan NOC NIC
integritas 1. Tissue integrity :Pressure ulcer prevention
jaringan skin and mucous wound care
2. Wound healing : a. Anjurkan pasien
primary and untuk menggunakan
secondary pakaian yang longgar
intention b. Jaga kulit agar tetap
bersih dan kering
Kriteria Hasil: c. Mobilisasi pasien
a. Perfusi jaringan setiap du jam sekali
normal d. Monitor kulit akan
b. Tidak ada tanda- adanya kemerahan
tanda infeksi e. Oleskan lotion atau
c. Ketebalan dan minyak/baby oil pada
tekstur jaringan daerah yang tertekan
normal f. Monitor aktivitas dan
d. Menunjukkan mobilisasi pasien
pemahaman dalam g. Monitor status nutrisi
proses perbaikan pasien
kulit dan h. Memandikan pasien
mencegah dnegan sabun dan air
terjadinya cidera hangat
berulang i. Observasi luka :
e. Menunjukkan lokasi, dimesi,
terjadinya proses kedalaman luka,
penyembuhan jaringan nekrotik,
luka tanda-tanda infeksi
local, formasi traktur

15
j. Ajarkan keluarga
tentang luka dan
perawatan luka
k. Kolaborasi ahli gizi
pemberian diet TKTP
(Tinggi Kalori Tinggi
Protein)
l. Cegah kontaminasi
feses dan urin
m. Lakukan teknik
perawatan luka
dengan steril
n. Berikan posisi yang
mengurangi tekanan
pada luka
o. Hindari kerutan pada
tempat tidur
7. Disfungsi
seksual
8. Konstipasi b.d NOC NIC
penekanan pada 1. Bowel Constipation/impaction
rectum (prolaps elimination Management
2. Hydration a. Monitor tanda dan
rectum)
Kriteria Hasil: hejala konstipasi
a. Mempertahankan b. Monitor bising usus
bentuk feses lunak c. Monitor feses :
setiap 1-3 hari frekuensi, konsistensi
b. Bebas dari ketidak dan volume
nyamanan dan d. Konsultasi dengan
konstipasi dokter tentang
c. Mengidentifikasi penurunan dan
indicator untuk peningkatan bising
mencegah usus
konstipasi

16
d. Feses lunak dan e. Monitor tanda dan
berbentuk gejala rupture
usus/peritonitis
f. Jelaskan etiologi dan
rasionalisasi tindakan
terhadap pasien
g. Identifikasi factor
penyebab dan
kontribusi konstipasi
h. Dukung intake cairan
i. Kolaborasikan
pemberian laksatif
j. Pantau tanda-tanda
dan gejala konstipasi
k. Pantau tanda-tanda
dan gejala impaksi
l. Memantau bising
usus
m. Konsultasikan
dengan dokter
tentang penurunan /
kenaikan frekuensi
bising usus
n. Evaluasi profil obat
untuk efek samping
gastrointestinal
o. Anjurkan pasien /
keluarga untuk
mencatat warna,
volume, frekuensi,
dan konsistensi tinja
p. Anjurkan
pasien/keluarga untuk
diet tinggi serat

17
9. Ansietas b.d NOC NIC
perubahan 1. Anxiety self- Anxiety Reduction
dalam status control a. Lakukan pendekatan
2. Anxiety level yang menenangkan
peran, ancaman
3. Coping b. Nyatakan dengan
pada status
Kriteria Hasil: jelas harapan
kesehatanm a. Klien mampu terhadap perilaku
konsep diri mengidentifikasi pasien
(kurangnya dan c. Jelaskan semua
sumber mengungkapkan prosedur dan apa
gejala cemas yang dirasakan
informasi terkait
b. Mengidentifikasi, selama prosedur
penyakit)
mengungkapkan d. Pahami perspektif
dan menujukkan pasien terhadap
teknik untuk situasi stres
mengontrol cemas e. Temani pasien untuk
c. Vital sign dalam memberikan
batas normal keamanan dan
d. Postur tubuh, mengurangi takut
ekspresi wajah, f. Dorong keluarga
bahasa tubuh, dan untuk menemani
tingkat aktivitas pasien
menunjukkan g. Lakukan back/neck
berkurangnya rub
kecemasan h. Dengarkan dengan
penuh perhatian
i. Identifikasi tingkat
kecemasan
j. Bantu pasien
mengenal situasi
yang menimbulkan
kecemasan
k. Dorong pasien untuk
mengungkapkan

18
perasaan, ketakutan,
dan persepsi
l. Instruksikan pasien
melakukan teknik
relaksasi
m. Berikan obat untuk
mengurangi
kecemasan

4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi yang dibuat.

5. Evaluasi

a. Nyeri akut dapat berkurang


b. Resiko kekurangan volume cairan dapat terpenuhi
c. Resiko syok dapat teratasi
d. Resiko infeksi dapat teratasi
e. Retensi urine dapat teratasi
f. Kerusakan integritas jaringan dapat teratasi
g. Disfungsi seksual
h. Konstipasi dapat teratasi
i. Ansietas dapat teratasi

19
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Mioma uteri merupakan suatu pertumbuhan jinak dari sel-sel otot polos rahim.
Neoplasma jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpanginya,
sehingga dalam kepustakaan dikenal dengan istilah fibromioma, leiomioma, ataupun
fibroid. Mioma uteri banyak menimbulkan gangguan tapi ada juga yang tidak menimbulkan
keluhan dan bahkan akan mengecil pada usia menopause. Tetapi beberapa mioma akan
menimbulkan gejala nyeri, gejala penekanan pada organ visera yang lain, perdarahan dan
anemia atau menyebabkan permasalahan kehamilan. Mioma uteri ini menimbulkan
masalah besar dalam kesehatan dan terapi yang efektif belum didapatkan, karena sedikit
sekali informasi mengenai etiologi mioma uteri itu sendiri. Walaupun jarang menyebabkan
mortalitas, namun morbiditas yang ditimbulkan oleh mioma uteri ini cukup tinggi karena
mioma uteri dapat menyebabkan nyeri perut dan perdarahan abnormal, serta diperkirakan
dapat menyebabkan kesuburan rendah. Pengobatan mioma uteri dengan gejala klinik
umumnya adalah tindakan operasi yaitu histerektomi (pengangkatan rahim) atau pada
wanita yang ingin mempertahankan kesuburannya, miomektomi (pengangkatan mioma)
dapat menjadi pilihan

20
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi Keenam.
Yogyakarta: Moco Media

Moorhead, Sue, dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi Kelima.
Yogyakarta: Moco Media

Nanda Internasional. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10.
Jakarta : EGC

Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC Edisi revisi Jilid 3. Jakarta : Mediaction4
Setiati, Eni. 2009. Waspadai 4 Kanker Ganas Pembunuh Wanita. Yogyakarta: Penerbit Andi

Wiknjosastro H et al.,. 2005. Ilmu Kandungan Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka,
pp: 338-384.

21