Anda di halaman 1dari 22

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA DASAR

Nama Percobaan :4. Pengaruh Konsentrasi dan Suhu Pada Laju Reaksi
Kelompok :12 (Dua Belas)
Nama :1 Muhammad Dary Dzaky (1404015185)

2. Ina Subiyanti (1404015187)

3. Muhammad Rafii Nur Fauzan (1404015189)

4. Ahmad (1404015191)

5. M. Haris Hamonangan (1404015193)

6. John Peterson Serius

Parmonangan Sihotang (1404015195)

Program Studi :Kehutanan

Mengetahui, Samarinda,25 November 2014


Asisten Pendamping Tim Penyusun

Anindya Marsabella Rosiarto Kelompok 12


NIM. 1104015013

56
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat reaksi-reaksi kimia dengan

kecepatan yang berbeda-beda. Ada reaksi yang berlangsung sangat cepat seperti

petasanyang meledak, ada juga reaksi yang berlangsung sangat lambat seperti

pengkaratan besi.

Reaksi kimia adalah proses perubahan zat reaksi menjadi produk. Seiring dengan

bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah pereaksinya akan semakin sedikit, sedangkan

produk semakin banyak. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai laju perubahan konsentrasi

per satuan waktu. Waktu yang digunakan dapat berupa detik, menit, jam, hari, bulan,

maupun tahun, tergantung pada lamanya reaksi berlangsung.

Laju reaksi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya yaitu konsentrasi,

suhu, luas permukaan, tekanan dan katalis.

Oleh karena itu percobaan ini dilakukan untuk mengetahui laju reaksi kimia yang ada

dalam kehidupan dan bagaimana perlakuan untuk meningkatkan laju reaksi.

1.2. Tujuan percobaan

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi

Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan suhu terhadap laju reaksi

Untuk menentukan kecepatan laju reaksi

57
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Cabang ilmu kimia yang khusus mempelajari tentang laju reaksi disebut kinetikia

kimia. Tujuan utama kinetika kimia ialah menjelaskan bagaimana laju bergantung pada

konsentrasi reaktan dan mengetahui mekanisme suatu reaksi berdasarkan pengetahuan

tentang laju reaksi yang diperoleh dari eksperimen (oxtoby). Laju reaksi dapat didefinisikan

sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau produk per satuan waktu. Artinya terjadi

pengurangan konsentrasi pereaksi atau pertambahan konsentrasi produk tiap satuan

waktu. (Keenan, 2004) .

A+B 3C + D Persamaan laju reaksinya yaitu v = k [A] [B] 2. Dimana v adalah laju

reaksi, k adalah konstanta laju reaksi dan [A] [B] adalah konsentrasi dari zat yang

bereaksi. Nilai pangkat 2 menyatakan koefisien zat ataupun orde dari reaksi tersebut. Orde

reaksi berarti menjelaskan tentang tingkat reaksi atau hubungan antara konsentrasi

dengan kecepatan. Laju reaksi memiliki satuan mol / liter detik (Petrucci,2008).

Macam-macam orde reaksi yaitu :

1. Orde reaksi 0 yaitu laju reaksi yang tidak bergantung pada konsentrasi.

Persamaan laju reaksi yang berorde 0 yaitu v = k [A] 0

Gambar 1. Orde reaksi 0

58
2. Orde reaksi 1 yaitu laju reaksi yang berbanding lurus dengan konsentrasi

pereaksi. Jika konsentrasi dinaikkan dua kali, maka laju reaksinya pun akan naik

dua kali lebih cepat dari semula, dst.

Persamaan laju reaksi yaitu v = k [A]

Gambar 2. Orde reaksi 1

3. Orde reaksi 2 yaitu pada reaksi orde dua, kenaikan laju reaksi akan sebanding

dengan kenaikan konsentrasi pereaksi pangkat dua. Bila konsentrasi pereaksi

dinaikkan dua kali maka laju reaksinya akan naik menjadi empat kali lipat dari

semula.

Persamaan laju reaksi yaitu v = k [A]1 [B]1 ; v = k [A]2 ; v = k [B]2

59
Gambar 3. Orde reaksi 2

Dengan demikian, jika konsentrasi suatu zat dinaikkan a kali, maka laju reaksinya

menjadi b kali sehingga orde reaksi terhadap zat tersebut adalah : a x = b. Dimana x = orde

reaksi (Petrucci,2008).

Persamaan laju reaksi mempunyai dua penerapan utama, yaitu penerapan praktis

dan penerapan teoritis. Dikatakan untuk penerapan praktis adalah dimana telah diketahui

persamaaan laju reaksi dan konstanta laju reaksi sehingga dapat diramalkan laju reaksi

dari komposisi campuran. Sedangkan penerapan teoritis adalah dimana laju persamaan

digunakan untuk menentukan mekanisme reaksi (Atkins,2007).

Laju reaksi sebanding dengan konsentrasi reaktan suatu pangkat. Contohnya laju

reaksi sebanding dengan konsentrasi reaktan A dan B, sehingga :

v =k [A] [B]

60
Koefisien k disebut konstanta laju reaksi yang tidak bergantung pada konsentrasi

tetapi bergantung pada temperatur. Persamaan sejenis ini yang ditentukan secara

eksperimen disebut hukum laju reaksi. Secara formal, hukum laju reaksi adalah

persamaan yang menyatakan laju reaksi, dimana v sebagai fungsi dari konsentrasi semua

spesies yang ada termasuk produknya (Atkins, 2007).

Laju reaksi adalah laju pengurangan konsentrasi molar pereaksi atau laju

pertambahan konsentrasi molar hasil reaksi dalam satuan waktu. Laju reaski menyatakan

molaritas zat terlarut dalam reaksi yang dihasilkan setiap detik. Reaksi kimia berlangsung

dengan laju yang berbeda-beda.(Purba, 2007)

Hubungan kuantitatif antara konsetrasi pereaksi dengan laju reaksi dinyatakan

dalam suatu persamaan, yaitu persamaan laju reaksi. Untuk reaksi :

ma + nb pc + qd

Persamaan laju reaksinya adlah v = k[A]x [B]y

Dimana :

v : kecepatan laju reaksi

k : tetapan laju reaksi

[A] : konsentrasi A

[B] : konsentrasi B

x : orde reaksi terhadap pereaksi A

y : orde reaksi terhadap pereaksi B

(Purba, 2007)

Orde reaksi menyatakan besarnya pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju reaksi.

beberapa di antaranya adalah :

61
1. Orde nol

Reaksi dikatakan berorde nol terhadap salah satu satu pereaksinya apabila perubahan

konsentrasi pereaksi tersebut tidak mempengaruhi lau reaksi. Persamaan laju reaksi yang

berorde 0 yaitu v = k [A]0.

2. Orde satu

Suatu reaksi dikatan berorde satu terhadapa salah satu pereaksinya jika laju reaksi

berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi tersebut. Jika konsentrasi pereaksi tersebut

dilipat-tigakan maka laju reaksi akan menjadi 3 1 atau tiga kalinya. Persamaan laju reaksi

yaitu v = k [A] .

3. Orde dua

Suatu reaksi dikatakan berorde dua terhadap salah satu pereaksi jika aju reaksi

merupakan pangkat dua dari konsentrasi pereaksi itu. Apabila konsentasi zat itu dilipat-

tigakan, maka laju pereaksi akan menjadi 3 2 atau 9 kali lebih besar.

Laju reaksi terlihat dari perubahan konsentrasi molekul reaktan atau konsentrasi

molekul produk terhadap waktu. Laju reaksi tidak tetap melainkan berubah terus-menerus

seiring dengan perubahan konsentrasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi

adalah sebagai berikut :

1. Luas permukaan

Luas permukaan zat yang digunakan untuk bereaksi mempengaruhi kecepatan laju

reaksi. Suatu zat yang berbentuk serbuk lebih cepat bereaksi daripada zat yang berbentuk

62
kepingan. Hal ini karena zat yag berbentuk serbuk mempunyai bidang sentuh yang lebih

luas sehingga tumbukan akan lebih sering terjadi. Luas permukaan total zat akan semakin

bertambah bila ukurannya diperkecil. Semakin halus suatu zat maka laju reaksi akan

semakin besar karena luas permukaan yang bereaksi semakin besar.

2. Konsentrasi

Suatu zat yang bereaksi mempunyai konsentrasi yang berbeda-beda. Konsentrasi

menyatakan pengaruh kepekatan atau zat yang berperan dalam proses reaksi. Semakin

besar nilai konsentrasi, maka laju reaksi akan semakin cepat. Hal ini dikarenakan zat yang

konsentrasinya besar mengandung jumlah partikel yang lebih banyak, sehingga partikel-

partikelnya tersususn lebih rapat dibanding zat yang konsentrasinya rendah. Partikel yang

susunannya lebih rapat, akan sering bertumbukan dibanding dengan partikel yang

susunannya renggang, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi makin besar.(Utami, 2009)

3. Temperatur

Setiap partikel selalu bergerak. dengan menaikkan temperatur, energi gerak atau

energi kinetik partikel bertambah, sehingga tumbukan lebih sering terjadi. dengan

frekuensi tumbukan yang semakin besar, maka kemungkinan terjadiya tumbukan efektif

yang mampu enghasilkan reaksi juga semakin besar.

Suhu atau temperatur juga mempengaruhi energi potensial suatu zat. Zat-zat yang

energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan sukar menghasilkan tumbukan efektif.

Hal ini karena zat-zat tersebut tidak mampu melampui energi aktivasi. Dengan menaikkan

suhu, maka hal ini akan memperbesar energi potensial sehingga ketika bertumbukan akan

menghasilkan enrgi.(Utami, 2009)

63
Archenius, seorang ahli kimia Swedia mengemukakan persamaan empiriknya pada tahun

1889 sebagai berikut:

k = A.

dengan:

k = tetapan laju

A = faktor Archienius, faktor pra eksponensial

= energi pengaktifan

R = tetapan gas

T = temperatur absolut

e = 2,71828

Jika persamaan dikalikan dengan log, maka diperoleh

log k = log A -

log k = log A -

Grafik log k terhadap 1/T menghasilkan garis lurus dengan slope =- dan intersep.

(Supardi, 2008)

4. Katalis

Katalis adalah suatu zat yang berfungsi mempercepat terjadinya reaksi, tetapi pada

akhir reaksi dapat diperoleh kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan enrgi aktivasi

sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan katalis, maka reaksi akan lebih mudah

terjadi. Hal ini disebabkan karena zat-zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui

energi aktivasi. (Budi Utami, 2009). Katalis adalah zat yang mempengaruhi laju reaksi

yang pada umumnya jumlahnya tidak diubah oleh reaksi keseluruhan. Komposisi kimia

katalis tidak berubah pada akhir reaksi. Katalis diperlukan dalam jumlah sedikit untuk suatu

64
reaksi, tidak mempengaruhi harga tetapan kesetimbangan, tidak memulai suatu reaksi

tetapi hanya mempengaruhi laju reaksi, dan bekerjanya spesifik. Katalis yang

meningkatkan laju reaksi disebut katalis positif sedang katalis yang menurunkan laju reaksi

disebut katalis negatif. Katalis bekerja dengan optimum pada temperatur tertentu dan

dapat diracuni oleh zat tertentu dalam jumlah yang sedikit yang disebut racun katalis.

Kehadiran katalis dalam suatu reaksi dapat memberkan ekanisme alternatif untuk

menghasilkan hasil reaksi dengan energi yang lebih rendah dibandingkan dengan reaksi

yang tanpa katalis. Energi pengaktifan yang lebih rendah menunjukkan bahwa jumlah

bagian dari molekul-molekul yang memiliki energi kinetik cukup untuk bereaksi jumlahnya

lebih banyak. Jadi kehadiran katalis adalah meningkatkan adanya tumbukan yang efektif,

yang berarti juga memperbesar laju reaksi. (Supardi, 2008)

Reaksi kimia terjadi karena adanya tumbukan yang efektif antara partikel-partikel zat

yang bereaksi. Tumbukan efektif adalah tumbukan yang mempunyai energi cukup untuk

memutuskan ikatan-ikatan pada zat yang bereaksi. Sebelum suatu tumbukan terjadi,

partikel-partikel memerlukan suatu energi minimum yang disebut energi pengaktifan atau

energi aktivasi (Ea). Energi pengaktifan atau energi aktivasi adalah energi minimum yang

diperlukan untuk belangsungnya suatu reaksi. Ketika reaksi sedang berlangsung akan

terbentuk zat kompleks teraktivasi. zat kompleks teraktivasi berada pada puncak energi.

jika reaksi berhasil, maka zat kompleks etraktivasi akan terurai menjadi zat hasil reaksi.

(Utami, 2009)

Katalisator adalah suatu zat yang ditambahkan untuk mempercepat laju reaksi.

Katalisator tidak mengalami perubahan kekal dalam reaksi namun mungkin terlibat dalam

reaksi. Katalis mempercepat suatu reaksi dengan menurunkan energi aktivasi, namun

65
tidak mengubah entalpi reaksi. Katasis ditambahkan pada zat dalam jumlah yang sedikit

dan umumnya bersifat spesifik untuk setiap reaksi (Arsyad, 2009).

Jadi, katalis tidak muncul dalam laju persamaan kimia secara keseluruhan, tetapi

kehadirannya sangat mempengaruhi hukum laju, memodifikasi dan mempercepat lintasan

yang ada. Katalis menimbulkan efek yang nyata pada laju reaksi, meskipun dengan jumlah

yang sangat sedikit. Dalam kimia industri, banyak upaya untuk menemukan katalis yang

akan mempercepat reaksi tertentu tanpa meningkatkan timbulnya produk yang tidak

diinginkan (Oxtoby, 2010).

Gambar 4. Hubungan energi pereaksi terhadap penggunaan katalis

Sebelum terjadi reaksi, molekul pereaksi harus saling bertumbukan membentuk suatu

molekul kompleks aktif, yang kemudian berubah menjadi hasil reaksi (Produk). Energi

yang di butuhkan untuk membentuk kompleks aktif ialah yang dinamakan energi aktivasi

(Sukarjo, 2009).
Berdasarkan hasil pengamatan, ada dua faktor yang mempengaruhi keefektifan suatu

molekul untuk bertumbukan, yaitu :


1. Hanya molekul yang lebih energetik dalam campuran reaksi akan menghasilkan reaksi

sebagai hasil tumbukan.


2. Probabilitas tumbukan untuk menghasilkan reaksi bergantung pada orientasi molekul

yang bertumbukan (Petrucci,2008).

66
Percobaan pengaruh konsentrasi dan suhu ini bersifat semi kualitatif yang dapat

digunakan untuk menentukan pengaruh perubahan konsentrasi dan pengaruh suhu pada

laju reaksi. Reaksi yang diamati adalah reaksi pengendapan koloid belerang yang

terbentuk apabila tiosulfat direaksikan dengan asam. Yang diukur dalam percobaan ini

adalah waktu yang dperlukan agar koloid belerang mencapai suatu intensitas tertentu.

Reaksi pengandapan belereng dapat ditulis sebagai berikut :

S2O32-(aq) + 2H+(aq) H2O(l) + SO2(g) + S(s) (Basuki, Atastina Sri, dan

Setijo Bismo, 2003

BAB III

METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum

Hari/Tanggal : Kamis, 6 November 2104

Pukul : 15.30-16.30 WITA

Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia Hasil Hutan

Fakultas : Kehutanan, Universitas Mulawarman

3.2. Alat dan Bahan

3.2.1. Alat-alat

1. Gelas Kimia 100 ml

2. Gelas ukur

3. Pipet Tetes

4. Pipet Mohr

5. Pengaduk Plastik

67
6. Stopwatch

7. Tallysheet

3.2.2. Bahan-bahan

1. Larutan Na2S2O3 ( Larutan Tiusulfat )

2. Larutan HCl Pekat ( Larutan Asam Klorida )

3. Aquades.

3.3. Prosedur Percobaan

1. Di tempatkan 50 ml Na2S2O3 0,2 ke dalam gelas ukur yang mempunyai alas rata

2. Ditempatkan gelas ukur diatas kertas putih rutan tiosulfat tepat diatas tanda silang

hitam

3. Ditambahkan 2 ml HCL 1 M dan nyalakan stopwatch. kemudian aduk larutan sampai

warna keruh tanda silang hitam tidak terlihat lagi dari atas

4. Dicatat waktu yang dibutuhkan sampai tanda silang hitam tidak dapat terlihat lagi dari

atas

5. Diukur dan dicatat suhu larutan

68
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

(Tabel 6. Hasil percobaan dengan berbagai volume larutan untuk menentukan laju reaksi)
Volume Waktu 1 / waktu
System Volume H2O Volume HCL
Na2S2O3 (detik) (detik)
1 50 0 2 28 0,0357
2 40 10 2 29 0,0344
3 30 20 2 30 0,0333
4 20 30 2 21 0,0476
5 10 40 2 183 0,0054
6 5 45 2 433 0,0023

4.2. Pembahasan

Pada pengamatan yang kami lakukan pada tanggal 6 November 2014 jam 15.30

16.30 dapat kami simpulkan bahwa semakin sedikit volume tiosulfat maka waktu yang

dibutuhkan untuk sampai kondisi hilangnya tanda (x) akan semakin lama. Warna cairan

akan berubah pada saat waktu percobaan pertama menunjukkan 21 detik sampai tanda

silang hitam tidak terlihat dan membutuhkan waktu 433 detik pada percobaan keenam.

69
1. Hasil percobaan pertama sebanyak 50 ml Na 2S2O3 ditambahkan 2 ml HCL pekat 1 M

mampu membuat tanda silang hitam tidak terlihat lagi dari atas dalam waktu 21 detik

dengan laju reaksi 0,0357

2. Hasil percobaan kedua sebanyak 40 ml Na 2S2O3 ditambahkan 10 ml air aquades dan

2 ml HCL pekat mampu membuat tanda silang hitam tidak terlihat lagi dari atas dalam

waktu 29 detik dengan laju reaksi 0,0344

3. Hasil percobaan ketiga sebanyak 30 ml Na 2S2O3 ditambahkan 20 ml air aquades dan

2 ml HCL pekat mampu membuat tanda silang hitam tidak terlihat lagi dari atas dalam

waktu 30 detik dengan laju reaksi 0,0333

4. Hasil percobaan keempat sebanyak 20 ml Na 2S2O3 ditambahkan 30 ml air aquades

dan 2 ml HCL pekat mampu membuat tanda silang hitam tidak terlihat lagi dari atas

dalam waktu 21 detik dengan laju reaksi 0,0476

5. Hasil percobaan kelima sebanyak 10 ml Na 2S2O3 ditambahkan 40 ml air aquades dan

2 ml HCL pekat mampu membuat tanda silang hitam tidak terlihat lagi dari atas dalam

waktu 183 detik dengan laju reaksi 0,0054

6. Hasil percobaan keenam sebanyak 5 ml Na 2S2O3 ditambahkan 45 ml air aquades dan

2 ml HCL pekat mampu membuat tanda silang hitam tidak terlihat lagi dari atas dalam

waktu 433 detik dengan laju reaksi 0,0023

70
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah :

Suhu

Luas permukaan

Konsentrasi

Tekanan

Katalis

2. Dari percobaan ini didapat pengaruh konsentrasi dan suhu.

3. Pengaruh konsentrasi yaitu apabila konsentrasi suatu reaktan semakin besar, maka

laju reaksi juga meningkat.

4. Pengaruh suhu yaitu apabila suhu dinaikkan maka laju suatu reaksi juga meningkat.

5.2. Saran-Saran

71
Sebaiknya dalam setiap percobaan laju reaksi menggunakan persepsi tingkat

kekeruhan larutan yang sama, meskipun tanda silang tidak benar-benar tak terlihat.

Sehingga dapat mengefisiensikan waktu dan hasil yang lebih akurat.

LAMPIRAN

Berikut ini merupakan dokumentasi dari hasil percobaan Pengaruh Konsentrasi dan Suhu

Pada Laju Reaksi yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 06 November 2014 di

Laboratorium Kimia Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman,

Samarinda

1. Gambar dibawah ini merupakan proses pengukuran larutan Natrium tiosulfat

dengan menggunakan gelas ukur

(Lampiran 19. proses pengukuran larutan Natrium tiosulfat)

2. Proses penuangan larutan Natrium Tiosulfat kedalam Gelas Piala

72
(Lampiran 20. penuangan larutan Natrium Tiosulfat)

3. Proses pengukuran aquades dengan menggunakan gelas ukur

(Lampiran 21. pengukuran aquades)

4. Penuangan aquades ke dalam tempat gelas piala yang telah disediakan.

(Lampiran 22. Penuangan aquades ke dalam tempat gelas piala)

73
5. Proses penambahan HCl pekat kedalam gelas piala

(Lampiran 23. penambahan HCl pekat)

6. Aduk dan hitunglah lama waktu yang diperlukan hingga berubah menjadi keruh

menggunakan stopwatch

(Lampiran 24. Aduk dan menghitung lama waktu)

74
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2008.http//www.smkn1bandung.com/adaptif-larutan-asam-basa.tangerang

(diakses pada tanggal 29 oktober 2014 )

Anonim.2009.http://www.kimialedge.org/kimia-dasar-asam-basa ( diakses pada tanggal 29

oktober 2014 )

Anonim.2010.http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/asam_dan_basa/sifat-

sifat-asam-basa-dan-garam/ (diakses pada tanggal 29 oktober 2014 )

Anonim.20111.http://sitirachmawati.wordpress.com/2011/12/14/pengenalan-ilmu-kimia/

(diakses pada tanggal 20 Oktober 2014)

Anonim.20112.https://benzenaddict.wordpress.com/2011/05/30/pengenalan-alat-alat-

laboraturium/(diakses pada tanggal 20 Oktober 2014)

Anonim.2012.http://fadliqnoze.blogspot.com/2012/03/laporan-pengenalan-alat-

alat.html(diakses pada tanggal 20 Oktober 2014)

75
Anonim.2013d.http://kartiakaputrisanti.wordpress.com/2013/08/21/laporan-tetap-praktikum-

kimia/(diakses pada tanggal 29 oktober 2014 )

Anonim.2013e.http://dsikreatif.blogspot.com/2013/11/pengenalan-alat-alat-

laboratorium.html(diakses pada tanggal 20 Oktober 2014)

Anonim.2014a.http://adlanfadhillah.blogspot.com/2014/01/laporan-penelitian-asam-

basa.html (diakses tanggal 29 oktober 2014)

Anonim.2014b.http://kasandika.blogspot.com/2014/05/alat-kerja-laboratorium.html

Antara, I K. G., I W. Budiarsa Suyasa, dan A. A. Bawa Putra, 2008, Kajian Kapasitas dan

Efektivitas Resin Penukar Anion untuk Mengikat Klor dan Aplikasinya pada Air,

Jurnal Kimia 2. Vol. 2 No. 87.

Badawi, Rachmat, Ismulawardi, Agoes Noegraha, dan Subroto, 2010, Pemanfaatan Grafit

Pensil sebagai Elektrode Selektif Ion Bermembran AgCl/Ag2S untuk Analisa Ion

Klorida, Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, Surabaya.

Keenan Kleinfelter, Wood. 2005. Kimia untuk Universitas Jilid 1 . Jakarta : Erlangga

Muslim.f. dan Suhendar.c.2008 kimia unsur SMK kelompok teknologi dan

Bandung. Grafindo media pratama.

Khopkhar, SM., 2010, Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press, Jakarta.

Rivai. H., 2008, Asas Pemeriksaan Kimia, Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Soebiyanto, Nur Hidayati, Dewi Sulistyawati, 2005, Konsentrasi Indikator Terkontrol Pada

Argentometri Mohr, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi, Surakarta.

Sugiarto Teguh dan Eny.I.2008 ilmu pengetahuan alam , Jakarta . PT Widya Pustaka

Sukamto. 1989. Kimia Fisika. Jakarta : PT Bhineka Cipta

76
Vogel, 2005, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Jilid I , PT.

Kalman Media Pustaka, Jakarta.

Underwood, A.L, dan Day, R.A., 2007, Analisis Kimia Kuantitatif, Erlangga, Jakarta

Wood, Charles. 1996. Ilmu Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga

77