Anda di halaman 1dari 18

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA DASAR

Nama Percobaan :3. Kurva Titrasi

Kelompok :12 (Dua Belas)

Nama :1 Muhammad Dary Dzaky (1404015185)

2. Ina Subiyanti (1404015187)

3. Muhammad Rafii Nur Fauzan (1404015189)

4. Ahmad (1404015191)

5. M. Haris Hamonangan (1404015193)

6. John Peterson Serius

Parmonangan Sihotang (1404015195)

Program Studi :Kehutanan

Mengetahui, Samarinda,25 November 2014


Asisten Pendamping Tim Penyusun

Kelompok 12
Anindya Marsabella Rosiarto
NIM. 1104015013

39
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kurva titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat

dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi

biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi,

sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi

asam basa, titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi,

titrasi kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks

dan lain sebagainya.

Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang komposisi, struktur dan

sifat kimia atau materi berdasarkan perubahan yang menyertai terjadinya reaksi

kimia atau suatu materi yang di ciptakan atau memusnahkan serta dapat

dijelaskan proses atau reaksi yang ditimbulkan dari kejadian tersebut misalnya

terjadi perubahan materi dan energi.

1.2. Tujuan

Mahasiswa dapat menunjukkan atau melatih menggunakan pH meter.

Mencoba membuat kurva dari berbagai macam larutan.

40
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Titrasi atau disebut juga volumetri merupakan salah satu metode analisis zat kimia yang cepat, akurat

dan banyak digunakan untuk menentukan kadar suatu unsur atau senyawa dalam larutan. Titrasi didasarkan

pada suatu reaksi yang digambarkan sebagaiaN A + b , B hasil reaksi dimana A adalah penitrasi (titran) , B

senyawa yang dititrasi, a dan b jumlah mol dari A dan B . Volumetri (titrasi) dilakukan dengan menambahkan

(mereaksikan) sejumlah volume tertentu (biasanya dari buret) larutan standar (yang sudah diketahui

konsentrasinya dengan pasti) yang diperlukan untuk bereaksi secara sempurna dengan larutan yang belum

diketahui konsentrasinya. Titrasi menggunkan larutan indikator yang bertujuan untuk mengetahui apakah telah

mencapai reaksi yang sempurna (Fritzet 2009) .

Penetapan Kalsium Metode Fardiaz (Permanganometri) Permanganometri merupakan titrasi yang

dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi

dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih

dari seratus tahun. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi tetapi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan

permanganometri seperti: ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg yang dapat diendapkan sebagai oksalat

(Wiryadietal 2009) .

Berbagai Pereaksi dan Fungsinya Kalium permanganate (KMnO4) merupakan oksidator kuat dalam

larutan yang bersifat asam. Biasanya digunakan pada medium asam 0.1 N. kalium permanganate dalam

reaksi titrasi permanganometri berfungsi sebagai indicator untuk mengamati titik akhir titrasinya

(Wiryadiet al 2009) .

Menurut Gandjar et. al. (2007) dalam Setiyowati (2009) , kalium permanganat mempunyai

kestabilan yang terbatas . Adanya aquades umumnya mengandung zat-zat organik yang dapat mereduksi ,

maka sering terjadi penguraian sendiri dalam penyimpanan . Asam sulfat merupakan asam yang

41
paling cocok digunakan sebagai pelarutnya karena jika digunakan asam klorida maka

kemungkinan sebagian permanganatnya digunakan untuk pembentukan klorin. Asam sulfat

berfungsi dalam pembentukan asam oksalat yaitu untuk melarutkan endapan logam yang telah disaring dan

dicuci. Hasil reaksinya yang berupa asam oksalat adalah yang akan dititrasi untuk menghitung kandungan

logam tertentu (Purwanita, 2009) .

Pada titik ekuivalen antara lain dengan memilih macam indikator yang dipakai dan

PH sebelum titik ekuivalen tercapai. Ion CI- berada dalam lapisan primer dan setelah

tercapai ekuivalen maka kelebihan sedikit AgNO3 menyebabkan ion CI- akan digantikan

oleh Ag+ sehingga ion CI- akan pada lapisan sekunder (khopkhar, 2010) .

Titrasi merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk mengetahui jumlah zat

kimia yang luas pemakaiannya. Pada dasarnya cara titrimetri ini terdiri dari pengukuran

volume larutan pereaksi yang dibutuhkan untuk bereaksi secara stoikiometri dengan zat

yang akan ditentukan. Larutan pereaksi ini biasanya diketahui kepekatannya dengan pasti

dan disebut pentiter atau larutan baku. Sedangkan proses penambahan pentiter ke dalam

larutan zat yang akan ditentukan disebut titrasi. Dalam proses titrasi pengendapan, ada

beberapa hal yang mesti diperhatikan yaitu sebagai berikut terjadinya kesetimbangan, zat

yang akan ditentukan harus bereaksi secara stoikiometri dengan zat pentiter, endapan

yang terbentuk harus cukup sukar larut, sehingga terjamin kesempurnaan reaksi sampai

99,9%, harus tersedia cara penentuan titik akhir yang sesuai (Rivai, 2008).

Titrasi yang meliputi reaksi-reaksi pengendapan tidak hampir demikian melimpah

pada analisa titrimetrik seperti yang meliputi reaksi-reaksi redoks. Titrasi yang terbatas ini

melibatkan pengendapan ion perak dengan ion seperti halogen dan tiosianat. Hal ini

disebabkan karena tidak adanya indikator yang sesuai. Pada titrasi larutan encer,

42
kecepatan reaksinya terlalu lambat untuk titrasi secara mudah. Karen titik ekivalen didekati

dan titran ditambahkan secara perlahan-lahan, maka suatu derajat lewat jenuh yang tinggi

tidak akan terjadi dan pengendapan akan berlangsung secara lambat (Underwood dan

Day, 2007).

Argentometri adalah titrasi dengan menggunakan larutan AgNO3 , argentometri

dibedakan menjadi dua golongan yaitu argentometri pembentukan endapan dan

argentometri pembentukan komplaks (Noor dan Aminhar, 2006) .

Titrasi argentometri merupakan titrasi dengan menggunakan larutan perak nitrat

untuk menentukan kadar halogen. Penelitian ini menggunakan titrasi argentometri dengan

metode Mohr yakni mula-mula Ag+ yang ditambahkan bereaksi membentuk endapan AgCl

berwarna putih. Apabila Cl- sudah habis bereaksi maka kelebihan Ag+ selanjutnya bereaksi

dengan CrO42- yang berasal dari indikator K2CrO4 yang ditambahkan dan membentuk

endapan Ag2CrO4 yang berwarna merah bata, berarti titik akhir titrasi sudah tercapai

(Antara, et al, 2008) .

Titrasi argentometri didasarkan pada reaksi :

AgNO3 + CI- , AgCl + NO3- . Metode ini membutuhkan larutan titran yang cukup banyak

dan keakuratannya sangat bergantung pada kecermatan personal yang melakukan dalam

menentukan titik akhir titrasi serta waktu titrasi yang cukup lama. Dalam praktekbiasanya

terjadi perbedaan antara titik ekuivalen dan titik akhir titrasi sehinggamenyebabkan hasil

yang sedikit biasa (Rachmat, et.al 2010) .

Pada proses titrasi, pereaksi ditambahkan secara bertetes-tetes ke dalam analit,

biasanya menggunakan buret. Pereaksi adalah larutan standar yang konsentrasinya telah

diketahui dengan pasti dengan cara distandarisasi. Penambahan pereaksi dilakukan terus

43
menerus hingga tercapai ekivalen antara pereaksi dan analit, keadaan ini disebut titik

ekivalen. Agar dapat mengetahui kapan terjadinya ekivalen antara pereaksi dan analit,

para kimiawan menambahakan zat kimia yang dinamakan indikator. Indikator akan

memberikan reaksi berupa perubahan warna larutan, terbentuknya endapan, atau

terbentuknya senyawa kompleks berwarna. Saat terjadinya tanggap tersebut disebut titik

akhir titrasi (Soebiyanto, 2005).

Titrasi asam basa merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar

suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui

konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di

dalam proses titrasi, sebagai contoh bila melibatkan reaksi asam basa maka disebut

sebagai titrasi asam basa ,t i t r a s i r e d o k s u n t u k t i t r a s i y a n g m e l i b a t k a n

r e a k s i r e d u k s i o k s i d a s i , t i t r a s i kompleksometri untuk titrasi yang melibatan

pembentukan reaksi kompleks danlain sebagainya. Zat yang akan ditentukan

kadarnya disebut sebagai

titrant konsentrasinya disebut sebagai titer dan biasanya diletakkan di dalam buret. Baik

titer maupun titrant biasanya berupa larutan (Indigomorie, 2008).

Prinsip Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam

ditentukandengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya.T i t r a n t d i t a m b a h k a n

titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaanekuivalen

(artinya secara stoikiometr i titrant dan titer tepat habis

b e r e a k s i ) . Keadaan ini disebut sebagai titik ekivalen.P a d a s a a t t i t i k e k i v a l e n

ini maka proses titrasi dihentikan, k emudian kitamencatat volume

t i t e r y a n g d i p e r l u k a n u n t u k m e n c a p a i k e a d a a n t e r s e b u t . Dengan

44
menggunakan data volume titrant, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa

menghitung kadar titrant(Indigomorie, 2008).

Asidi Alkalimetri a d a l a h p e n g u k u r a n k o n s e n t r a s i a s a m d e n g a n

m e n g g u n a k a n l a r u t a n baku basa, sedangkan alkalimetri adalah pengukuran

konsentrasi basa denganmenggunakan larutan baku asam. Endapan adalah zat yang

memisahkan diti sebagai suatu fase padat yang keluar dari larutan. Endapan dapat berupa

kristal atau koloid, dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan penyaringan atau

penyusingan (centrifuge). Endapan terbentuk jika larutan menjadi larutan jenuh dengan zat

yang bersangkutan. Kelarutan tidak bergantung pada tekanan karena prosesnya dilakukan

dalam bejana terbuka pada tekanan atmosfer. Kelarutan zat bergantung pada sifat dan

konsentrasi zat lain, terutama ion-ion dalam campuran tersebut (Vogel, 2005) .

Penambahan larutan tembaga (II) sulfat dan larutan natrium hidrogsida kedalam

larutan zat dalam air akan menghasilkan warna biru yang merupakan akibat dari

terbentunya kompleks etambutol dengan tembaga. Reaksi ini merupakan reaksi khas dari

obat yang mempunyai struktur amino alhokol atau 1,2 diamin, kompleks etambutol dengan

tembaga mempunyai sarapan maksimal panjang gelombang 256 M, dan 610 M dan lebih

mungkin ditentukan secara kolorimetri (Roth, 2005) .

Metode titrimetri masih digunakan secara luas karena merupakan metode yang

tahan, murah dan mampu memberikan ketetapan (presisi) yang tinggi. Titrasi asam basa

sering disebut asidi alkalimetri, sedang untuk titrasi pengukuran lain-lain sering digunakan

akhiran ometri menggantikan imatri. Kata metri berasal dari bahasa yunani yang berilmu

proses seni mengukur 1 dan 0 dalam hubungan mengukur sama saja yaitu dengan atau

dari (with atau off). Akhiran 1 berasal dari kata latin dan 0 berasal dari kata yunani. Jadi

45
asidimetri dapat diartikan pengukuran jumlah asam ataupun pengukuran dengan basa

(Haijadi, 2010) .

Reaksi penelitian asam basa dapat digunakan untuk menentukan kadar larutan

asam atau larutan basa. Dalam hal ini sejumlah tertentu larutan asam ditetesi dengan

larutan basa atau sebaliknya sampai mencapai titk ekuivalen (asam dan basa tepat habis

bereaksi) . jika molaritas salah satu larutan (asam atau basa) diketahui maka molaritas

larutan yang satu lagi dapat ditentukan (Michael, 2007).

Kurva titrasi asam lemah dan basa kuat dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Asam lemah mempunyai PH yang rendah pada awalnya.

2. PH naik lebih cepat pada awalnya tetapi kurang cepat saat mendekati titik

ekuivalen.

3. PH titik ekuivalen tidak dapat tepat 7 .

pH yang dihasilkan oleh titrasi asam lemah dan dan asam kuat lebih dari 7 , pada

titrasi asam lemah dan basa kuat. PH akan berupa agar cepat pada awalnya naik sedikit

demi sedikit sampai mendekati titik ekuivalen kenalkan sedikit demi sedikit ini adalah

karena larutan buffer (penyangga) yang dihasilkan oleh perubahan basa kuat. Sifat

penyangga ini akan mempertahankan PH sampai basa yang ditambahkan berlebihan dan

kemudian PH naik lebih cepat pada saat titik ekuivalen. Prinsip titrasi asam dan basa.

Titrasi asam dan basa melibatkan asam maupun basa sebagai titran ataupun titrant. Titrasi

asam basa berdasarkan reaksi penetralan kadar larutan asam ditentukan dengan

menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titik ekuivalen suatu titrasi ketika kamu

menyelesaikan sebuah titrasi asam basa yang sederhana. (Michael, 2007)

46
BAB III

METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum

Hari dan tanggal : Kamis, 30 Oktober 2014

Pukul : 15.30-16.30 WITA

Tempat : Laboratorium Kimia Hasil Hutan

Fakultas : Kehutanan, Universitas Mulawarman

3.2. Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

1. Gelas piala

2. Pipet 25 mL

3. Buret

4. Standar Besi

5. Corong

6. pH meter

3.2.2 Bahan

1. HCl 0,1 M

2. NaOH 0,1 M

3. Indikator PP (fenolftalin)

4. Aquades

47
3.3. Prosedur kerja

1. Dicelupkan 2 tetes indikator PP ( yang telah dicuci didalam air suling )

kedalam 25 ml 0,1 HCl ukur PH larutan.

2. Ditambahkan 5 ml NaOH dengan memakai buret dan ukurlah pH pada

setiap penambahan 5 ml sampai 200 ml. Bila dekat titik akhir dengan

sedikit penambahan NaOH pH akan berubah dengan cepat. Tambahkan

lagi 5 ml NaOH hingga larutan berubah menjadi warna merah muda.

3. Diukur dan dicatat pH pada setiap penambahan dan pada titik akhir.

4. Dicuci dan dikembalikan alat seperti semula.

48
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

(Tabel 5. Hasil praktikum titasi asam dan basa)


PH Larutan Jumlah NaOH (ml)
HCI (ml) Ditambah (ml)
2,5 5
2,48 5
2,76 5
2,70 5
3,22 2,5
11,22 Titik Akhir Reaksi

4.2. Pembahasan

Setelah larutan HCI sebanyak 25 ml dimasukan kedalam gelas piala (beaker) ,

siapkan dan dimasukan larutan NaOH kedalam buret sebanyak 25 ml. Setelah itu teteskan

indikator PP (Fenolftalein) sebanyak 2 tetes kedalam larutan HCI. Kemudian larutan

NaOH dengan memakai buret sebanyak 5 ml dan PH larutan diukur serta dicatat.

Penambahan dilakukan terus sebanyak 5 ml (berulang-ulang) dan setelah dilakukan

penambahan larutan NaOH ternyata perlahan-lahan warnanya akan berubah menjadi

merah muda. Hal ini dinamakan sebagai titik akhir reaksi antara larutan HCI (asam) dan

larutan NaOH (basa) .

Pembahasan Soal

1. Tuliskan reaksi yang terjadi pada 25 ml HCI 0,1 M dengan NaOH 0,1 M ?

2. Jika 20,60 ml larutan HCI 0,0100 M digunakan untuk mentitrasi 30,00 ml larutan

NaOH sampai titik ekuivalen. Berapakah konsentrasi larutan NaOH ?

49
Jawaban/rumusan soal

1. Larutan HCI (ag)

Larutan NaOH (ag)

HCI (ag) + NaOH (ag) NaCI (s) + H2O (g)

2. Diketahui: V1 = 20,60

V2 = 30,00

M1 = 0,01 M

Ditanya M2 = ?

Jawab : M1 . V1 = M2 . v2

0,01 . 20,60 = M2 . 30,00

0, 206 = M2 . 30,00

M2 = 0, 206

30,00

= 0,00687 M

50
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

1. Pada proses titrasi suatu larutan ditambahkan sedikit demi sedikit pada larutan

yang volumenya telah diketahui sampai mencapai titik ekuivalen yaitu dimana titer

dan titran sudah habis bereaksi.

2. Titik akhir pada titrasi dapat diketahui ketika indikator yang digunakan tepat

mengalami perubahan warna menjadi merah muda yaitu saat penambahan larutan

NaOH sebanyak 2,5 ml.

3. Indikator yang digunakan adalah indikator fenolftalein (PP) dengan pH yang

berkisar antara 8,0-10,00 . hal ini sesuai dengan PH akhir titrasi yaitu 11,22.

4. Reaksi yang terjadi antara 25 ml HCI 0,1 M dan NaOH 0,1 M adalah sebagai

berikut.

HCI (ag) + NaOH (ag) NaCI (s) + H2O (e)

5. Konsentrasi NaOH dalam titrasi 20,6 ml , HCI 0,01 M dan 30 ml NaOH adalah

0,00687 M.

5.2. Saran

Disarankan kepada para praktikum selalu menggunakan alat pelindung diri agar

terlindung dari cipratan atau tumpahan larutan yang berbahaya karena dapat

mengakibatkan gatal-gatal, melepuh, dan sebagai berikut. Kemudian para praktikum juga

harus teliti serta berhati-hati dalam mentitrasi suatu larutan agar didapatkan hasil yang

51
maksimal. Satu lagi yang harus diperhatikan praktikan dalam membuka kran yang terdapat

pada buret sebaikannya hati-hati agar tidak terjadi kelebihan larutan.

52
LAMPIRAN

Berikut ini merupakan dokumentasi dari hasil percobaan Kurva Titrasi yang dilaksanakan

pada hari Kamis tanggal 30 Oktober 2014 di Laboratorium Kimia Hasil Hutan, Fakultas

Kehutanan, Universitas Mulawarman, Samarinda.

1. Gambar dibawah ini merupakan alat yang dipergunakan dalam praktikum

(Lampiran 12. alat yang digunakan)

53
2. Gambar bahan yang digunakan dalam proses titrasi

(Lampiran 13. bahan yang digunakan)


3. Gambar proses memasukkan 25 mL larutan NaOH 0,1 M kedalam buret.

(Lampiran 14. proses memasukkan 25 mL larutan NaOH 0,1 M)

54
4. Gambar proses memasukkan HCl 0,1 M kedalam gelas piala dan ditambahkan

indikator PP (fenolftalin) sebanyak 2 tetes)

(Lampiran 15. proses memasukkan HCl 0,1 M)

5. Gambar proses menentukan pH lautan

(Lampiran 16. proses menentukan pH lautan)

55
6. Gambar proses titrasi dengan penambahan 5 mL NaOH kedalam gelas piala

(Lampiran 17. proses titrasi)

7. Gambar titik eqivalen

(Lampiran 18. hasil dari titrasi)

56