Anda di halaman 1dari 10

TUGAS RMK

MATA KULIAH
MARKET BASED ACCOUNTING RESEARCH (MBAR)
EARNING RESPONSE COEFFICIENT (ERC)

OLEH
HENDRIKO RAJAGUKGUK (P3400216003)
ASYRAF MUSTAMIN (P3400216004)

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
2017
KUALITAS LABA & EARNING RESPONSE COEFFICIENT (ERC)

A. KUALITAS LABA
Dalam PSAK Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (2007)
kualitas laba merupakan karakteristik kualitatif yang membuat informasi dalam laporan
keuangan dapat berguna bagi para pengguna yang berkepentingan. Selain itu juga kualitas
laba dapat digunakan menjadi dasar untuk membuat keputusan yang tepat.
Menurut Suwardjono (2005;456) dari sudut pandang perekayasaan akuntansi, konsep
laba dikembangkan untuk memenuhi tujuan menyediakan informasi tentang kinerja
perusahaan secara luas. Sementara itu, pemakai berbeda-beda. Dari informasi laba yang
tercermin pemakai informasi dapat menunjukkan reaksinya.
Dari beberapa pengertian di atas, informasi laba menunjukkan posisi yang paling dinanti-
nantikan oleh pemakainya. Hal ini karena informasi laba digunakan untuk menilai kinerja
suatu perusahaan, apakah perusahaan tersebut melaporkan labanya lebih tinggi atau lebih
rendah dari tahun sebelumnya serta menilai keberlanjutan perusahaan di masa depan.
Informasi laba adalah salah satu bahan pertimbangan penting dalam mengambil
keputusan. Jadi merupakan informasi yang sangat menolong pemakainya apabila laba dalam
laporan keuangan perusahaan menunjukkan keadaan laba yang sebenarnya. Dengan kata lain,
kualitas laba yang dilaporkan perusahaan menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan
oleh para pengguna laporan keuangan.
Dalam literatur penelitian akuntansi, terdapat berbagai pengertian kualitas laba dalam
perspektif kebermanfaatan pada pengambilan keputusan (decision usefulness). Schipper dan
Vincent (2003) dalam Sutopo (2009) mengelompokkan konstruk kualitas laba dan
pengukurannya berdasarkan cara menentukan kualitas laba, yaitu berdasarkan: sifat runtun-
waktu dari laba, karakteristik kualitatif dalam rerangka konseptual, hubungan laba-kas-
akrual, dan keputusan implementasi. Empat kelompok penentuan kualitas laba ini dapat
diikhtisarkan sebagai berikut:
1) berdasarkan sifat runtun-waktu laba, kualitas laba meliputi: persistensi, prediktabilitas
(kemampuan prediksi), dan variabilitas. Atas dasar persistensi, laba yang berkualitas
adalah laba yang persisten yaitu laba yang berkelanjutan, lebih bersifat permanen dan
tidak bersifat transitori. Persistensi sebagai kualitas laba ini ditentukan berdasarkan
perspektif kemanfaatannya dalam pengambilan keputusan khususnya dalam penilaian
ekuitas. Kemampuan prediksi menunjukkan kapasitas laba dalam memprediksi butir
informasi tertentu, misalnya laba di masa datang. Dalam hal ini, laba yang berkualitas
tinggi adalah laba yang mempunyai kemampuan tinggi dalam memprediksi laba di masa
datang. Berdasarkan konstruk variabilitas, laba berkualitas tinggi adalah laba yang
mempunyai variabilitas relatif rendah atau laba yang smooth.
2) kualitas laba didasarkan pada hubungan laba-kas-akrual yang dapat diukur dengan
berbagai ukuran, yaitu: rasio kas operasi dengan laba, perubahan akrual total, estimasi
abnormal/discretionary accruals (akrual abnormal/ DA), dan estimasi hubungan akrual-
kas. Dengan menggunakan ukuran rasio kas operasi dengan laba, kualitas laba ditunjukkan
oleh kedekatan laba dengan aliran kas operasi. Laba yang semakin dekat dengan aliran kas
operasi mengindikasikan laba yang semakin berkualitas. Dengan menggunakan ukuran
perubahan akrual total, laba yang berkualitas adalah laba yang mempunyai perubahan
akrual total kecil. Pengukuran ini mengasumsikan bahwa perubahan total akrual
disebabkan oleh perubahan discretionary accruals. Estimasi discretionary accruals dapat
diukur secara langsung untuk menentukan kualitas laba. Semakin kecil discretionary
accruals semakin tinggi kualitas laba dan sebaliknya. Selanjutnya, keeratan hubungan
antara akrual dan aliran kas juga dapat digunakan untuk mengukur kualitas laba. Semakin
erat hubungan antara akrual dan aliran kas, semakin tinggi kualitas laba.
3) kualitas laba dapat didasarkan pada Konsep Kualitatif Rerangka Konseptual (Financial
Accounting Standards Board, FASB, 1978). Laba yang berkualitas adalah laba yang
bermanfaat dalam pengambilan keputusan yaitu yang memiliki karakteristik relevansi,
reliabilitas, dan komparabilitas /konsistensi. Pengukuran masing-masing kriteria kualitas
tersebut secara terpisah sulit atau tidak dapat dilakukan. Oleh sebab itu, dalam penelitian
empiris koefisien regresi harga dan return saham pada laba (dan ukuran-ukuran terkait
yang lain misalnya aliran kas) diinterpretasi sebagai ukuran kualitas laba berdasarkan
karakteristik relevansi dan reliabilitas.
4) kualitas laba berdasarkan keputusan implementasi meliputi dua pendekatan. Dalam
pendekatan pertama, kualitas laba berhubungan negatif dengan banyaknya pertimbangan,
estimasi, dan prediksi yang diperlukan oleh penyusun laporan keuangan. Semakin banyak
estimasi yang diperlukan oleh penyusun laporan keuangan dalam mengimplementasi
standar pelaporan, semakin rendah kualitas laba, dan sebaliknya. Dalam pendekatan
kedua, kualitas laba berhubungan negatif dengan besarnya keuntungan yang diambil oleh
manajemen dalam menggunakan pertimbangan agar menyimpang dari tujuan standar
(manajemen laba). Manajemen laba yang semakin besar mengindikasi kualitas laba yang
semakin rendah, dan sebaliknya.
Menurut Fendi (2011), Kualitas laba perusahaan merupakan salah satu informasi penting
yang tersedia untuk public dan dapat digunakan investor untuk menilai perusahaan.
Rendahnya kualitas laba akan dapat membuat kesalahan pembuatan keputusan para
pemakainya seperti investor dan kreditor, sehingga nilai perusahaan akan berkurang.

B. EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT (ERC)


Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai kualitas laba
perusahaan adalah Earning Response Coefficient (ERC). Kuatnya reaksi pasar terhadap
informasi laba yang tercermin dari tingginya ERC, menunjukkan laba yang dilaporkan
berkualitas. Demikian sebaliknya, lemahnya reaksi pasar terhadap informasi laba yang
tercermin dari rendahnya ERC, menunjukkan laba yang dilaporkan kurang atau tidak
berkualitas. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Scott (2000;159) bahwa besaran earnings
response coefecient (ERC) mencerminkan kualitas laba yang tinggi pula.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa laporan laba sebagai produk informasi
yang dihasilkan perusahaan, tidak terlepas dari proses penyusunannya. Proses penyusunan
laporan ini melibatkan pihak pengurus dalam pengelolaan perusahaan, diantaranya adalah
pihak manajemen, dewan komisaris, dan pemegang saham.
Menurut Dechow P (2010) kualitas laba dapat diukur dengan beberapa cara. Salah
satunya, kualitas laba diukur dengan Earning Response Coefficient (ERC). ERC merupakan
efek atau pengaruh setiap rupiah unexpected earnings terhadap return saham, biasanya
diukur dengan slope koefisien dalam regresi abnormal return saham dan unexpected
earnings (Agung, 2005).
Sedangkan Scott (2000) menyatakan bahwa ERC mengukur besarnya abnormal
return saham (CAR) dalam merespon komponen kejutan dari earnings yang dilaporkan
perusahaan (UE).
Besarnya earnings response coefficient diperoleh dengan melakukan beberapa tahap
perhitungan. Tahap pertama menghitung cumulative abnormal return (CAR) masing-masing
sampel dan tahap kedua menghitung unexpected earnings (UE) sampel. Tahap-tahap dalam
menghitung ERC sebagai berikut :
a. Cummulative Abnormal Return (CAR)
Penelitian ini mengukur return abnormal tiga hari di sekitar tanggal publikasi dan pada
tanggal publikasi laporan keuangan (t-3,t+3). Perhitungan Akumulasi Return Tidak Normal
(ARTN) atau Cummulative Abnormal Return (CAR) untuk masing-masing perusahaan
merupakan akumulasi dari rata-rata abnormal return selama periode jendela dengan
menggunakan rumus berikut ini:

Sumber: Jogiyanto (2007: 450)


Keterangan untuk penelitian ini :
ARTNi.t : Akumulasi Return Tidak Normal (cummulative abnormal return) sekuritas i pada
waktu t, yang diakumulasi dari return tidak normal (RTN) sekuritas ke-i mulai hari awal
periode peristiwa (t3) sampai hari ke-t
RTN i.a : Return tidak normal (abnormal return) untuk sekuritas ke-i pada hari ke-a, yaitu
mulai t3 (hari awal periode jendela) sampai hari ke-t
Abnormal return (Soewardjono, 2005) diperoleh dari :

Keterangan :
RAit= Return abnormal perusahaan i pada waktu t
Rit = Return perusahaan i pada waktu t
Rmt = Return pasar pada waktu t
Untuk memperoleh data abnormal return, terlebih dahulu harus mencari return saham
harian dan return pasar harian
1) Return saham harian dihitung dengan rumus:
Keterangan :
Rit= Return saham perusahaan i pada hari t
Pit = Harga penutupan saham i pada hari t
Pit-1 = Harga penutupan saham I pada hari t-1 2)
2) Return pasar harian dihitung sebagai berikut:

Keterangan :
Rmt = Return pasar harian
IHSGt = Indeks harga saham gabungan pada hari t
IHSGt-1= Indeks harga saham gabungan pada hari t-1

b. Unexpected Earnings (UE)


Unexpected Earnings diukur menggunakan pengukuran laba per lembar saham (Riyatno,
2007):

Keterangan:
UEit= Unexpected earnings perusahaan i pada periode (tahun) t
EPSit= Laba akuntansi perusahaan i pada periode (tahun) t
EPSit-1= Laba akuntansi perusahaan i pada periode (tahun) sebelumnya
c. Earnings Response Coefficient (ERC)
Earnings Response Coefficient dihitung dari slope b pada hubungan CAR dengan UE
(Teets and Wasley 1996) yaitu :
CARit = a + bUEit + it
Keterangan :
CARit :Abnormal return kumulatif perusahaan i selama perioda pengamatan + 3 hari dari
publikasi laporan keuangan
UEit :Unexpected earnings
i :Komponen error dalam model atas perusahaan i pada periode t
C. CONTOH STUDI EMPIRIS KUALITAS LABA DAN EARNINGS RESPONSE
COEFFICIENT (ERC) :

ANALISIS PENGARUH MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP


NILAI PERUSAHAAN DENGAN KUALITAS LABA SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI
BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2004-2007
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mekanisme corporate Governance
terhadap nilai perusahaan dengan kualitas laba sebagai variabel intervening. Mekanisme
corporate governance menggunakan empat variabel yaitu kepemilikan manajerial,
kepemilikan institusional, komposisi komisaris independen dan keberadaan komite audit.
Pengukuran kualitas laba menggunakan proksi Earnings Response Coefficient (ERC) dan
untuk nilai perusahaan menggunakan proksi Price Book Value (PBV). Rasio PBV
merupakan perbandingan antara nilai saham menurut pasar dengan nilai buku ekuitas
perusahaan. Nilai buku dihitung sebagai hasil bagi antara ekuitas pemegang saham dengan
jumlah saham yang beredar. PBV = Harga pasar per lembar saham / Nilai buku per lembar
saham.
Penelitian ini menggunakan data empiris dari Bursa Efek Indonesia dengan sampel
sebanyak 28 perusahaan untuk periode 2004-2007. Terdapat beberapa hipotesis dalam
penelitian ini yaitu:
H1 : kualitas laba berpengaruh terhadap nilai perusahaan
H 2a : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap kualitas laba
H 2b : Kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai perusahaan
H 3a : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kualitas laba
H 3b : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai perusahaan
H 4a : Komposisi komisaris independen berpengaruh terhadap kualitas laba
H 4b :Komposisi komisaris independen berpengaruh terhadap nilai perusahaan
H 5a : Keberadaan komite audit berpengaruh terhadap kualitas laba
H 5b : Keberadaan komite audit berpengaruh terhadap nilai perusahaan
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang
memiliki kriteria tertentu. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive
samplingyaitu pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut ini.
a) Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari
tahun 2004-2007.
b) Perusahaan yang menerbitkan laporan keuangan tahunan dengan periode yang berakhir
31 Desember.
c) Laporan keuangan disajikan dalam rupiah
d) Perusahaan yang memiliki data mengenai kepemilikan manajerial, kepemilikan
institusional, dewan komisaris, dan komite audit.
Variabel dependen yaitu nilai perusahaan (NP) yang diukur dengan price
book value (PBV) adalah 5607.12, mempunyai mean 1268.1070 dengan nilai minimum 0.69,
yang berarti rata-rata sampel telah memiliki nilai pasar lebih besar dari nilai bukunya.
Variabel intervening yaitu kualitas laba yang diukur dengan menggunakan ERC (Earnings
Response Coefficient) menunjukkan ratarata ERC sebesar -1.965887 dengan nilai maksimum
11.78971 dan nilai minimum -16.68186. Rata-rata koefisien ERC negatif dimungkinkan
karena pasar belum menyerap informasi laba perusahaan 3 hari setelah pengumuman laporan
keuangan. Untuk variabel kontrol, yaitu leverage (LEV) nilai maksimumnya 0.87750, nilai
minimum 0.17750 dengan rata-rata 0.4622321.
Pengujian hipotesis dibagi menjadi beberapa analisis regresi yaitu yang pertama,
Persamaan regresi 1 digunakan untuk menguji hipotesis 1 yaitu apakah kualitas laba yang diukur
dengan ERC (Earnings Response Coefficient) berpengaruh terhadap nilai perusahaan (NP).
Persamaan 1 mempunyai nilai F hitung sebesar 3.539 dan nilai signifikansi 0.044 (lihat tabel IV.3).
Karena signifikansi < 0.05, maka ERC dan LEV secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel
dependen. Melalui hasil regresi persamaan 1 dapat diketahui bahwa ERC berpengaruh terhadap NP.
Dengan nilai signifikansi yang jauh lebih kecil dari 0.05 maka bisa ditarik kesimpulan bahwa kualitas
laba yang diproksikan dengan ERC berpengaruh terhadap nilai perusahaan, sehingga hipotesis 1
diterima. Variabel kontrol leverage tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan (nilai signifikansi >
0.05). Analisis regresi kedua yaitu, Persamaan regresi 2 digunakan untuk menjawab hipotesis 2 a 3, a 4,
a, dan 5a serta untuk mengetahui apakah variabel kontrol juga berpengaruh terhadap kualitas laba.
Hasil regresi 2 memberikan nilai F hitung sebesar 2.826 dan nilai signifikansi 0.041 (lihat tabel IV.4).
Karena signifikansi < 0.05, maka variabel independen dan variabel kontrol secara bersama-sama
berpengaruh terhadap variabel dependen. Regresi ke 3 yaitu digunakan untuk memutuskan apakah
hipotesis 2b 3, b 4, b dan 5b diterima atau ditolak serta untuk mengetahui apakah leverage (LEV)
berpengaruh terhadap nilai perusahaan (NP). Hasil regresi 3 mempunyai nilai F hitung sebesar 3.031
dan nilai signifikansi 0.031 (lihat tabel IV.5). Karena signifikansi < 0.05, maka variable independen
dan variabel kontrol secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen.
Dari hasil penelitian yang dilakukan dengan metode regresi berganda dapat diambil
kesimpulan bahwa kualitas laba yang diukur dengan ERC berpengaruh terhadap nilai
perusahaan. Variabel yang berpengaruh terhadap kualitas laba adalah keberadaan komite
audit dan kepemilikan manajerial. Variabel lainnya yaitu kepemilikan institusional dan
komposisi komisaris independen tidak berpengaruh terhadap kualitas laba. Untuk variabel
yang berpengaruh terhadap nilai perusahaan yaitu kepemilikan manajerial dan kepemilikan
institusional, sedangkan variabel yang tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan
adalah komposisi komisaris independen dan keberadaan komite audit.
DAFTAR PUSTAKA

Agung Suaryana, 2005. Pengaruh Komite Audit Terhadap Kualitas Laba. Kumpulan
Makalah, Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VIII, Solo.

Bambang, Sutopo, 2009, Manajemen Laba dan Manfaat Kualitas Laba dalam keputusan
Investasi, UPT Perpustakaan UNS, Maret.

Cho, J.Y and K. Jung. 1991. Earnings Response Coefficient: A Sythesis of Theory and
Empirical Evidence. Journal of Accounting Literature. 10: 85-116

Dechow P. 2010. Understanding Earnings Quality: A Review of The Proxie, their


determinants and their consequences. Journal of Accounting and Economics 50
(2010) Pages 344-40

Fendi Permana Widjaja dan Rovila El Maghviroh. 2011. Analisis Perbedaan Kualitas Laba
dan Nilai Perusahaan Sebelum dan Sesudah Adanya Komite pada Bank-bank Go
Public di Indonesia. The Indonesian Accounting Review. Vol. 1 (2). Juli: 117-134.
IAI.2007. Kerangka Dasar Penyusunan & Penyajian Laporan Keuangan . PSAK. Salemba
Empat. Jakarta
Rifani, Aulia., 2013. Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Hubungan
Manajemen Laba dan Kualita Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Go Public yang
Terdaftar di CGPI). Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang
Suwardjono. 2005. Teori Akuntansi dan Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta:
BPFE-YOGYAKARTA

Scott, William R., 2000. Financial Accounting Theory. Second edition. Canada: Prentice
Hall.

Susanti, Angraheni Niken. 2009. Analisis Pengaruh Mekanisme Corporate Governance


Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kualitas Laba Sebagai Variabel Intervening Pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2007.
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret. Surakarta