Anda di halaman 1dari 21

RANCANGANUNDANG-UNDANGREPUBLIK INDONESIA

NO MOR...TAHUN...
TENTANG PERTEIVIBAKAUAN

BADAN LEGISLASI
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
JAKARTA 2014
RANCANGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLI( INDONESIA
NOMOR ... TAHUN ...
TENTANG
PERTEMBAKAUAN
.
DENGAN RAHMAT TUIIAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang: a, bahwa tembakau merupakan salah satu kekayaan


alam Indonesia yang memiliki peranan strategis yang
harus dikelola secara bijaksana untuk kesejahteraarr
dan kemakmuran selurul-r v'arga negara;
b . bahrva pengeiolaan tembakau perlu memperhatikan
seluruh aspek yang mencakup produksi, industri, dan
pengendalian dampak konsumsi terhadap kesehatan;
c, bal-rwa pengelolaan tembakau memerlukan kepastian
hukum yang terpadu dan komprehensif meliputi
semua aspek yang melingkupinya;
cl. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c perlu
membentuk UD.dang Undang tentang Pertembakauan.

Mengingat: Pasal 20, Pasal2T (2), Pasal 28A, Pasal 28H Ayat (1),
^yat
Pasal 2BJ, dan Pasal 33 Urldang-Undang Dasar Negara
R e p u b l i k l n d o n esiaTahun 1945,

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERqIAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

oan

PRESIDEN REPUBLIK INDONESXA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: UNDANG.UNDANGTENTANGPERTI'MBAXAUAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Pertembakauan adalah kegiatal pengelolaan tembakau dan olahan hasil
tembakau serta pengaturan yang berkaitan dengan produksi, distribusi,
industri, harga dan cukai, serta pengendalian konsumsi tembakau daII
produk hasil olahan tembakau_
2 . Produk Tembakau adalah produk hasil olahan tembakau yang berasal
daai tanaman nicotiancrtabarcum,nicotiana n'tstica darl spesies lainnya
dan/ atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau
tanpa'bahan tambahan.
3 . Rokok adalah salah satu Produk Tembakau yang dimaksudkan lutuk
dikonsumsi dengan cara dibakar dan dihisap dan/ atau dihirup asapnya
yarg dibuat.dari tembakau rajangan atau substitusinya yang dibungkus
i..r!.t dilinting tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan
"...
pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.
kretek adalah salah satu Produk Tembakau yang dimaksudkan
dikonsumsi dengan cara untuk dibakar dan dihisap dan/ atau dihirup
asapnya yang Jibuat dari bahan baku yang ditaram di Indonesiaberupa
t"*t^i.t ,n]..tgun dan cengkeh atau rempah-rempahyang dibr-rngkus
dengan cara dilinting tanpa rnengindahkan bahan pengganti atau bahan
pembantu dan merupakan ciri khas Indonesia.
5 . iklan Produk Tembikau yang seianjutnya disebut Iklan adalah setiap
tulisan, gambar bergerak atau tidak, tanda, simbol atau gambar'r'isual
lain, suaia, atau kombinasi dari keduanya atau lebih, yang dimaksudkan
untuk mempromosikan kepada masyarakat, langsung maupun tidak
langsung urituk mengkonsumsi, membeli, dan menggunakan Produk
Tembakau.
6 . Promosi Produk Tembakau yang selanjutnya disebut Promosi adalah
setiap bentuk komunikasi komersial, rekomendasi atau tindakan yang
U"iii.;,rt" atau yang mengakibatkan atau mendorong penggunaan produk
tembakau secaralangsung maupun tidak langsung
7 . Sponsor Produk temUat<au yang selanjutnya disbut Span-soradalah
sltiap bentuk kontribusi dari pelaku usaha produk tembakau untuk
kegiatarr dan atau acara yang bertujuan atau mengakibatkan atau
*"-ndorotrg penggunaan produk iembakau secara langsung maupun tidak
langsung,
8 . Lab"el Pioduk Tembakau yang selanjutnya disebut Label adalah setiap
keterangan mengenaiProduk Tembakau yang berbentuk gambar dan/atau
tulisan, yang merupakan bagian dari kemasan ProclukTembakau
9 . Cukai adalah puniutan negara yang dikenakan. terhadap barang-barang
tertentu yang menipunyai ttau karakteristik yang ditetaPkan dalam
"lfat
tentang cuka1.
undang-undang
10. Penee;dalian Frottuk iembakau adalah upaya perlindungan kesehatan
dan-tingkungan dari dampak konsumsi Produk Tembakau dengan tetap
melindungi kepentingan dan kesejahteraan petanr,
11. Kawasan Tanpa Asap Rokok adalah tempat atau ruangan yang dlnyalaKan
dilarang mengkonsumsi Produk Tembakau.
12. Pelaku Usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha
berbentuk badan hukum ata; tidak berbadan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara
Republik lndonesia, sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian
menyelenggarakan kegiatan usaha yang berkaitan dengai Produk
Tembakau.
13. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau badan usaha yang berbadan
hukum atau tidak berbadan hukum
14. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaai pemerintahar Negara
Republik Indonesia sebagalmana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
15. Pei.rerintair Daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota, dan perangkat
daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah'
BAB II
ASAS DAN TUJUAN

Pengelolaan
Pertembakauan
o,""r""lli*rlu'' berdasarkan
asas:
a. kesejahteraan;
b. kemanfaatan;
c, keterpaduan;
d. keiestarian; dan
e. keadilan.

Pasal 3
Pengelolaan Pertembakauan bertujuan:
a. meningkatkan produksi tembakau;
b. meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
c. mengembalgkan industri pertembakauan nasional;
d. meningkatkan pendapatan negara; dan
e. melindungi kesehatan masyarakat.

BAB III
, RUANGLINGKUP

Pasal 4
Ruang lingkup pengelolaanPertembakauanmeliputi:
a, produksi;
b, distribusi;
c. industri;
u, rrar B4 udjr
e. pengendaliankonsumsi Produk Tembakau.

BAB IV
PRODUKSI

Pasal 5
Produksi tembakau dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tembakau di
dalam negeri dan di luar negeri.

Pasal 6
Produksi rcmbakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dilakukan oleh
petani sebagai pelaksanaan hak budidaya tanaman sebagaimana diatur dalam
undang-undang.

Pasal 7
Luas dan wilayah tanam untuk budidaya tembakau diutamakan pada
kawasan pertanian yang memiliki karakteristik sesuai untuk komr:ditas
tembakau.

Pasal 8
(1) Penentuan luas dan wilayah tanam tembakau dilakukan oleh Pemerintah
dan/atau Pemerintai Darah berdasarkan usulan petani tembakau,
kebutuhan industri, dan ekspor.
(2) Ketentuan lebih taljut mengenai luas dan wilayah tanam tembakau
sebagaimana dimaksud pada ayat (1i diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 9
{1) Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah menetapkan standar produksi
tembakau sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).
(2) Penetapan standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan
untuk menjaga dan meningkatkan kualitas tembakau yang diproduksi
oleh petani..

Pasal 10
(11 Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah memfasilitasi kemitraan antara
petani dan Pelaku Usaha.
{2) Kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan
berdasarkan plinsip saling menguntungkan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai bentuk dan pola kemitraan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 11
Pemerintah dan Pemerintah Daerah q'ajib menyediakan sarana dan prasarana
produksi yang diperlukan oleh petar.ritembakau.

BAB V
DISTRIBUSI

Pasal 12
Distribusi tembakau dilakukan dengan memperhatikan kepentingan petani
dan Pelaku Usaha.

Pasal 13
Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajlban membantu distribusi
tembakau yang dihasilkan oleh petani agar clapat diserap langsung oleh
Pelaku Usaha:

Pasal 14
Pelaku Usaha wajib melaporkan prakiraan jumlah dan kuaiitas komoditas
tembakau yang dibutuhkan kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah
paling lambat 1 (satu) tahun sebelum melakukan pengolahan tembakau.

Pasal 15
(1) Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dapat membentuk dan
mengembangkan pasar khusus komoditas tembakau.
(2) Pelaku Usaha yang mengimpor tembakau dilarang memperdagangkan
tembakau impornya di pasar khusus komoditas tembakau yalg dibentuk
oleh Pemerintah Daerah.

Pasal 1"6
{1) Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya wajib menetapkan harga
dasar tembakau di tingkat petani yang menjadi komoditas strategis
daerah.
(2) Harga dasar tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung
berdasarkan biaya vadabel, waktu kerja, dan prakiraan keuntungan yang
d i p e ro l e hp e ta n i d a l a m I ( satu)m usir n tanam.
' (3) Harga dasar tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diinforrnasikan kepada Pelaku Usaira dan petani secara berkala.
{4) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan harga dasar tembakau
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan menteri
yalg menyelenggarakanurusan di bidang pertanian.

BAB VI
INDUSTRI

Bagian I<esatu
Usaha dan Perizinan

Pasal 17
Setiap Orang berhak melakukar-r usaha dalam industri Produk Tembakau,

Pasal 18
(1) Pelaku Usaha yang melakukan usaha dalam industri Produk Tembakau
wajib memiliki izin usaha.
{2) lzin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai
d e n g an ke te nru a n p crctu rcn p"r undang- undangan.

Pasal 19
{1) Plaku Usaha wajib mendaftarkan setiap Produk Tembakau yang
dihasilkan sebelum diedarkan.
(2) Pendaftaran sebagaimana. dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada
kementerian yang menyelenggarakan unisan pemerintahan di bidang
perindustrian.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendaftaran sebagaimana dimaksr'rd pada
ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal 20
Pelaku Usaha wajib menggunakan tembakau dalam negeri paling sedikit 8O%
(delapan puluh persen) dan tembakau impor paling banyak 2Oo/o(dua puluh
persen) dari keseluruhan kapasitas produksi Produk Tembakau yang
dihasilkan.

Pasal 21
(1) Pelaku Usaha w4jib melakukan pemeriksaan dan memberikan informasi
secara berkala kepada Pemerintah mengenai kadar kandungan tar dan
nikotin pada setiap Produk Tembakau yang dihasilkan.
(2) Pemeriksaan kadar kandungan tar dan nikotin sebagaimana dimal<sud
pada ayat {1) dilaksanakan di Laboratorium yang sudah terakreditasi oleh
Pemerintah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemeriksaan dan pemberian informasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Pasal22
(1) Peiaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 18, Pasal 19, Pasal 20, dan Pasal 21 dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
. n Fri nd. f an t Fr f r r lia

b. penarikan produk dari peredaran;


c. penutupan sementara atau pembekuan izin usaha; dal/atau
d. pencabutan izin usaha.
3agian Kedua
, Produk Tembakau

Pasal 23
(1i Industri pengolahan tembakau menghasilkan Produk Tembakau berupa:
a. rokok;
b. kretek;
c. cerutu;
d. rokok daun;
e. tembakau ids; dan
f. hasil olahan tembakau lainnya.
(2) Rokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
a <;d ar Ft nr r f ih m e. i-
b. sigaret putih tangan; dan
c. sigaret putih tangan filter.
{3) Kretek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:
a. kretek mesin;
b. kretek tangan;
c. kretek tangan filter: dan
d. kretek klembak menvan.

Bagian Ketiga
Pengemasan dan Pelabelan

Pasal 24
Pelaku Usal:a wajib menggunakan bahasa Indonesia pada setiap pelabelan
k e m a s a n P ro d u k T e mb a ka u yang ber edar di lndoncsia.

Pasal 25
Setiap kemasan Procluk Tembakau wajlb memenul.ri ketentuan:
a. paling sedikit memuat 20 (dua puluh) batang untuk sigaret putih mesin;
b. paling sedikit memuat 12 (dua belas) batang untuk sigaret putih tangan
filter, kretek mesin, dan kretek tangan filter;
c. paling sedikit memuat 10 (sepuluh) batang untuk sigaret putih tangan dan
kretek tangan; atau
d. paling sedikit 1 (satu) batang untuk cerutrr dan rokok daun.

Pasal 26
(1) Setiap kemasan produk tembakau wEib mencantunkan label mengenai:
a . i n l o rma si l cn ta n g ka d ar ka- tdunganLar dan nikolin;
b. peringatan kesehatan; dan
c. kode produksi.
{2) informasi tentang kadar kandungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a meliputi paling sedikit nikotin darr tar sesuai dengan hasil
pemeriksaan laboratorium yang terakreditasi Pemerintah.
(3) Peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hurufb berupa
tulisan "merokok dapat menyebabkan kanker, seralgan jantung,
lmpotensi, dan gangguan kehamilan dan janin."
(4) Tulisan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus:
a. dicantumkan pada salah satu sisi lebar kemasan;
b, dibuat kotak dengan garis pinggir paling sedikit 1 {satu) milimeter;
c. warna kontras antara warna dasar dan tulisan: dan
d . u ku ra n tu l j sa n p a l j n g sedlkir 5 ( lim aJmilimer cr .
(5) Kode produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hurui c harus
dicantumkan secara jelas dalam kemasan.
Pasal 33
Pengendaliarl konsumsi Produk Tembakau dilakukan melalui pembatasan
penjualan, Iklan, Pron-rosi, Sponsor, penerapan Kawaslan Tanpa Asap Rokok,
sosialisasi dan rehabilitasi, dan pengawasan.

""-ii.*ill,,T"uii"t'"
Pasal 34
Setiap orang dilarang menjual Rokok dan produk sejenisnya kepada anak di
bawnh usia 18 {deiapan belas) tahun dan ibu hami1.

Pasal 35
Setiap orang dilarang menjual Rokok dan prodr:k sejenisnya dengan
menggunakan mesin layan diri, secara online, jasa perorangan, dan/atarr jasa
pengiriman kepada anak dibawah usia 18 (delapan belas) tahun.

Bagian Ketiga
Pembatasan lklan, Promosi, daa Sponsor

Pasal 36
Pelaku Usaha dapat melakukan Iklan dan Promosi melalui media cetak,
media elektronik, media luar ruang, media online daiam jumlah terbatas dan
waktu tertentu.

Pasal 37
Setiap Orang dilarang membuat Iklan dan/atau Promosi yang mengandung
muatan:
a. mendorong atau menyarankan orang untuk merokok;
b. menggamfarkan atau lnnyarankan bahwa merokok rnemberikan manfaat
h' oi Lc< c h a ta n '
c. menggambarkan daiam bentuk gambar, tulisan atau gabungan keduanya,
bungkus Rokok, Rokok, atau orang yang sedang merokok, atau mengarah
pada orang yang sedang merol<ok;
d, ditujukan terhadap, atau menampilkan dalam bentuk gambar atau tulisan
atau gabungan keduanya, anak, remaja, atau wanita hamil;
e. mencantumkan nama produk yang bersangkutan adalah Rokok; dan/atau
f. bertentangan dengan norma yang berlaku bagi masyarakat.

Pasal 38
(1) Setiap Orang wajib mencantumkan peringatan kesehatan pada setiap lklan
dan Promosi baik di media elektronik. media cetak, dan media luar ruang.
(2) Pencantuman peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditulis dengan hurufyangjelas, mudah dibaca, dan proporsional.

Pasal 39
Setiap Orang dilarang memanfaatl<al anak di bawah usia 18 {delapan belas)
tahun dalam Iklan dan Promosi Produk Tembakau.

Pasal 40
. Setiap Orang yang melakukan usaha dalam industri pertembakauan dilai'ang
melakukan iSponsor untuk kegiatan yang ditujukan untuk anak di bawah usia
18 (delaDanbelas) tahun.
Bagian KeemPat
Kawasan Tanpa AsaP Rokok

Pasal 41
( 1 ) Pemerintah dan Pemerintah Daerah menetapkan Kawasan Tanpa Asap
Rokok di wilayah pemerintahannya.
pada ayat {1)
\2) Kawasan Tanpa Asap Rokok sebagaimana dimaksud
meliputi:
a. fasilitas pelayanan kesehatan;
b . l e m p a i p ro se s b e l a j a rmengajar :
c. tempat anak bermain;
d. tempat ibadah;
c. arrE ^u 14, r ur r r ur r r ,
i tempat kerja; dan
g. tempat umum.

Pasal 42
( 1 ) Tempat sebagaimana climaksud dalam Pasal 4I ayat (2) huruf f darr hurrf
g wajib meiryediakan tempat khusus untxk mengkonsumsi Produk
Tembakau.
(2) Tempat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
persyaratan tertentu.
(3) ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah

Bagian Kelima
Sosialisasi dan Rehabilitasi

Pasal 43
DaLam rangka melindungi kesehatan warga negara dari dampak konsumsl
Produk T;bakau, Pemerintah dan Pemerintah Daerah melaksanakan
sosialisasi clampak konsumsi Produk Tembakau dan rehabilitasi penderita
ketergantungan konsumsi Produk Tembakau.

Pasal 44
(1) Pemerintah dan Pemerintah Dacrah menyelenggarakan sosialisasi dampak
konsumsi Produk Tembakau
(2) Sosialisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara
terarah dan terpadu untuk menumbuhkan kesadaran mengenai dampak
konsumsi Produk TFmbakau
(3) Sosialisasi dilakukan melalui berbagai media komunikasi, informasi, dan
edukasi.

Pasal 45
(1)Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi tersedianya layanan
kesehatan untuk diagnosa, konseling, pencegahan, dan perawatan dalam
rangka rehabilitasi bagi penderita ketergantungan terhadap konsumsi
Produk Tembakau.
{2) Rehabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh
instansi kesehatan, rumah sakit, dan masyarakat.
Bagian Keenarn
Pembinaan dan Pengawasan

Pasal 46
(1) Pemerintah 'dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaal dan
pengawasan dalam penyelenggaraan pengendalian konsumsi Produk
Tembakar-r.
(2) Pembinaan dan penganvasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilakukan terhadap:
a. pembatasan penjualan;
b. pembatasan Iklan, Promosi, dan Sponsor;
c. Kawasan Tanpa Asap Rokok; dan/ atau
d. sosialisasi dan rehabilitasr.

Pasal 47
Ketentuan lebih lanjut mengenai sosialisasi dan rehabilitasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 43 sampai dengan Pasal 45 serta pembinaan dan
pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 diatur dalam Peraturan
Pemerintah

BAB D(
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

Pasal 48
(1) Penelitian dan pengembangan dalam pengclolaan Pertembakauan
diperlukan untuk mningkatkan kualitas dan hasil tembakau agar berdaya
saing tinggi dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan teknologi dan
ilm r r n c n o c fa h r ra n
(2) Penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dalam bidang:
a nr n rl ,rL c i +Fnh. k ^ r r'

b. industri pengolahan tembakau;


c. pengendalian dampak konsumsi Produk Tembakau; dar,/atau
d . p c ma n fa a ta nte mb rk;u unr uk kepentinganlainnya.

Pasal 49
Penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 dapat
dilakukan oleh:
a. Pemerintah;
h PFn Frih r ah nr Fr ah

r ne ro,,rla n t inooi

d. lembaga penelitian swasta;


e. perorangan; dan/atau
L iembaga penelitian dan pengembangan lainnya.

Pasal 50
Pemerintah, Pemerintah Daerah provinsi, Pemerintah Daerah kabupaten/kota
dan/atau Pelal<u Usaha industri hasii tembakau memfasilitasi peningkatan
kemampual pelaksana penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dal
teknologi Pertembakauan.
BAB X
KETENTUAN PIDANA

Pasal 51
Setiap Orang yarrg menjual rokok dan produk sejenisnya kepada an:rk
dibawah usia 18 {delapan belas) tahun dan ibu hamil sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 34), dipidana dengar pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp10.000.000 (sepuluhjuta mpiah)

tX""
setiap orang yang menjual .""X"# produk sejenisnya dengan
menggunakan mesin layan diri, secara online, jasa perorangan, dan pada jasa
pengiriman kepada anak di bawal] usia 18 (delapan beLas)tahun sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35, dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp5O.O00.O00 (lima puluh juta rupiah).

Pasal 53
Setiap Orang yang membuat iklan dan promosi yang mengandung muatan:
a. mendorong atau menyarankan orang untuk mcrokok;
b. menggambarka.n atau menyarankan bahrqa merokok memberikan
manfaat bagi kesehatan;
c. menggambarkan dalam bentuk gambar, tulisan atau gabungan keduanya,
bungkus rokok, rokok, atau or:ang yang sedang merokok, atau men6jarah
p a d a o ra n g ya n g se d a n gmer okok:
d. ditujukan terhadap, atau menampilkan dalam bentuk gambar atau
tulisan atau gabungan keduanya, anak, remaja, atau wanita hamil;
e. mencantumkan nama produk yang bersangkutan adalerh rokok; dan/atau
f. bertentangan dengan norma yang berlaku bagi masyarakat,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, dipidana penjara paling lama 3 (tiga)
tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu milyar rupiah).

Pasal 54
Setiap Orang yang tidak mencantlunkan peringatan kesehatan pada setiap
iklan dan promosi Produk Tembakau baik di medja elektronik, media cetak
dan media luai ruang dengan huruf yang jelas, mudah dibaca, dan
proporsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dipidana dengan pidara
penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000
(satu milyar trpiah).
Pasal 5 5
Setiap Orang yang dengan sengaja memanfaatkan anak di bawah usia 18
(delapan belas) tahun dalam lklan dan Promosi Produk Tembakau
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu
milyar rupiah).

Pasal 56
Setiap Orang yallg dengan sengaja melakukan Sponsor untuk kegiatan yang
ditujukan untuk alak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun, sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 40, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 {tiga)
dan denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu milyar rupiah).
. :"nrt

11
BAB XI
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 57
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, semua ketentuan mengenai
pertembakauan wajib disesuaikan dengan ketentuan dalam Undang-Urrdang
ini paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini berlaku

BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 58
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, sernua peraturan perundang-
undangan yang mengatur atau berkaitan dengan pertembakauan dinyatakan
tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan 1(etentuan dalam Undang-
Undang ini.

Pasal 59
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-


Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.

Disahkan di Jakarta
p a d at a n g g a l, . . , . . , . .

PRESIDENREPUBLIKINDONESI,A,

SUSILOBAMBANGYUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
p a d ata n g gal ...,....,

MENTERIHUKUM DAN HAK ASASTMANUSIA


REPUBLIKINDONESIA,

AMIR SYAMSUDDIN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIKINDONESIATAHUN...NOMOR,...


PENJELASAN
ATAS
UNDANG-UNDANGREPUBLIK INDONESIA
NOMOR..,..,.TAHUN......
TENTANG
PERTEMBAKAUAN
.

I. UMUM
Tembakau merupakan sumber kekayaan alam yang memiliki peran
strategis dalam memakmurkan dan mensejahterakan masyarakat
Indonesia. Segala kegiatan pengelolaan tembakau dan olahan hasil
tembakau atau pertembakauan telah menjadi kegiatan pengelolaan sumber
kekayaan alam untuk pertahanan ekonomi bangsa Indonesia di tengah-
tengah persaingan ekonomi global.
Tembakau dan hasil olahan tembakau menjadi sumber penghidupan dan
kehidupan rakyat Indonesia. Ternbakau dan hasil olahan tembakau selain
menjadi bagian penting dalam budaya bangsa Indonesia, juga menjadi
sumberdayer alam hayati yangtelah memberikan sumbangsih yang besar
bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Tembakau yang dimar-rfaatkan Llntuk membuat rokok, bersama dengan
cengkeh telah membuat kretek menjadi sumber penghasilan dan kehidupan
rakyat lnilonesia. Kretek merupakan olai.ran hasil tembakau asli yang khas
dan menjadi budaya bangsa. Kretekberbeda dengan sigaret atau rokok pada
umumnya, karena mengandung bahan baku lain yang tidak dimiliki oleh
hasil tembakau lainnya, karena clitambah dengan cengkeh.
Berdasarkan pertimbangan mantaat terscbut, maka pengeiolaan
pertembakauan harus dapat diberdayakan untuk menggerakkan
perekonomian nasional, sosial, dan budaya masyaral<at. Saiah satu cara
untuk menggerakan perehonomian masyarLrkat secara massif adalah
menghidupkan industri tradisional maupun modern yang membuka dan
menyediakan lapangan kerja, baik dari budidaya, pengolahan,
pendistritrusian, periklanan, hingga penjualan tembakau dan cengkeh
beserta hasil olahanya.
Potensi perekonomian tidak hanya dimanfaatk,:rn demi kepentingan
masyarakat dalam ekonomi riil, namun juga mcmberikan manfaat ke
negara melalui sumbangan cukai tembakall dan olahan tembakau. Di
tengah keterbatasan sumber pendapatan dan kebutuhan pembiayaan yang
terus meningkat, maka segala sumberdaya, termasuk sumberdaya alam
hayati dari tembakau dan olerhan tembakarl, hams dapat dimanfaatkan
sebesar besarnya untuk pendapatan negara.
Pengaturan pertembakauan secara terencana, terpadu, dan komprehensif
dengan mempertimbangkan semua aspek yalrg berkaitan dengannya sangat
diperlukan rlntuk meminimaiisasi dampak keruglan yang belum Capat
diperkiral<an, dari aspek ekonomi, politik, budaya, iingkungan, dan
kemandirian bangsa Indonesia, di samping mengatur kekhalvatiran
dampak kcsehatan akibat merokok. Pengaturan merrgenai
pertembakauanmerupakan upaya untuk memberikan kepastian dapat
terlaksananya hak pribadi dan hak asasi manusia yang rnengacu kepada
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bzrhwa
setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya. Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan
dan menikmati hidupnya selama hal itu merupakan suatu kegiatan dan
sesuai dengan peraturat yang berlaku.

13
Undang-Undang ini mengatur pertembakaual secara terencana, terpadu,
dan komprehensif dengan mempertimbangkan semua aspek yang berkaitan
denganpya. Pengaturan mengenai pertembakauan dilakukan mula-i dari
hulu hingga ke hilir, mulai dari aspek budidaya, produksi, perdagangan,
pemanfaatan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan, maupun
pengendalian komsumsi tembakau dan produk tul:unannya Dengan
d"-ikian, pelgaturan pertembakauan sesuai dengan tujuan nasional
sebagaimana alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Da'sar Negara
RepriUtit< lndonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa "untuk
membentuk pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
meriqukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadiian sosiai'".

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.

Pasai 2
Huruf a
Yang dimaksud dengan "kesejahtetaan" adalah bahwa pengaturan
pertembakauan dilaksa.nakan untuk memberikan kesejahteraan yang
sebesar-besarnya bagi masyarakat, baik petani, industria, pekerja,
dan masyaral<ett yang melakukan usaha yang berkaitan dengan
pertembakauan..

Huruf b
Yang dimaksud dengan "kemanfaatan" adalah bahwa pengaturan
Dertembakauan dilaksanakan untuk memberikan manfaat kehidupan
perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Huruf c
Yang dimaksud dengan "keterpaduan dan keserasian" adalah bahwa
pengaturan pertembakauan dilaksanakan secara seimbang dalam
mewujudkan keterpaduan dan keserresianber bagai kepentingan, baik
pertanian, perd^gtttgan, kepentingan ekonomi (cukai)'
ketenagakerjaan, kesejahteraan masyarakat, dan kesehatan

Huruf d
Yang dimaksud dengan "kelestarian" adalah bahwa pengaturan
pertlmbakauan dilaksanakan untuk melakukan pemanfaatan
sumberdaya alama hayati secara berkesinambungan sebagai salah
satu sumberdaya alam strategis nasional

Huruf e
Yang dimaksud dengan asas "keadilan" adalah bahwa pengaturan
pertimbakauan dilakukan secara adil dari semua aspek yang
terkaitan dengan pengelolaan tembakau dan dampaknya bagi
seluruh ral'l'at Indonesia.

Pasal 3
Cukup jelas.

74
rasat +
Cukxrp jelas.

Pasal 5 !
Cukup jelas.

Pasal 6
Yarg dimaksud "petani tembakau" adalah petani mandiri atau yang
tergabung dalam kelompok tani atau asosiasi petani tembakau.

Pasal 7
Cukup jelas.

Pasal 8
Cukup jelas.

Pasal 9
Cukup jelas.

Pasal 10
Cukup jelas.

Pasal 1 1
Cukup jelas.

Pasal 12
Cukup jelas.

Pasal13
Cukup jelas.

Hasal 1+
Cukup jelas.

Pasal 15
Cukup jelas,

Pasal 16
Cukup jelas.

Pasal 17
Cukup jelas.

Pasal 18
Cukup jelas.

Pasa-l19
Cukup jelas.

Pasal 20
Cukup jelas.

Pasal 21
Cukup jelas.

15
Pasal22
Cukup jelas.

Pasal 23
Ayat (1)
Huruf a'
Cukup jelas.

Hur-uf b
Cukup je1as.

Huruf c
Yang dlmaksud dengan "cerutu" adalah hasil tembakau yang
dibuat dari lembaran-lembaran daun tembakau diiris atau tidak,
dengan cara digulung demikian rupa dengan daun tembakau
untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan
p (mb a n tu 1a n g d i gur r ak:r ndalam pembuatannya.

Humf d
Yang dimaksud dengan 'rokok daun" adalah hasil tembakau yang
d i b u a t d e n g a n d a un njpah. daun jaeung lklobot) ,atau sejeni s n;a,
dengan cara dilinting, untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan
pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam
pembuatannya.

Huruf e
Yano dimaksrrrl rlenoan "tembakau iris" adalah hasil tembakau
yang dibuat dari daun tembakau yang dirajang, untuk dipakai,
dengan atau tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan
pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.

Huruf f
Yang dimaksud dL'ngan hasil olahan tembakau lainnya" adalah
l:asil tembakau yang dibuat dari daun tembakau selain rokok,
kretek, cerutu, rokok daun atau tembakau iris yang dibuat secara
lain sesuai dengan perkembangan tcknologi dan selera konsumen,
tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang
digunakan dalam pembuatannya.

Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan "sigaret putih mesin" adalah sigaret yang
dalam pembuatannya tanpa dicamprlri dengan cengkeh,
kelembak, atau kemenyan yang dalam pembuatannya mulai dari
pelintingan, pemasangan filter, pengemasannya dalam kemasal
untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekalan pita cukai,
se l u ru hn va . a ra l r scLagianmenggundkdn nlesin.

Hurr:f b
Yang dimaksud dengan "sigaret putih tangan" adalah sigaret yang
d a l a m p e mb u a tannya lanpa dicampur i dengan cengk eh.
kelembak, atau kemenyan yang dalam proses pembuatannya
mulai dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasan dalam
kemasan untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita
\ u ka i . ta n p a me n ggunakanmesin.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "sigaret putih tarrgan filter" adalah siSaret
' yang dalam pembuatannya tanpa dicampuri dengan cengkeh atau
bagiannya, yang dalam proses pembuatannya mulai dari
pelintingan, mulai dari pelintingan, pemasangan filter,
pengemasan daiam kemasan untuk penjualan eceral, sampal
dengin pelekatan pita cukai, dengan menggunakan mesin

Ayat (3)
Huruf a
Yano dimaksrrrl dengan "kretek mesin" adalah hasil tembakau
yang dalam pembuatannya dicampur dengan cengkeh atau
bagiannya, baik asli maupun tiruan yang dalan pembuatannya
mulai dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasannya dalam
kemasan untuk penjualan eceran, sarlpai dengan pelekatan pita
cukai, seluruhnya. atau sebagian menggunakan mesin.

Hurrrf b
Yang dimaksud dcngan " kretek tangan" adalah hasil tembakau
yang dalam pembuatannya dicampur dengan cengkeh atau
bagiannya, baik asli maupun tiruan, yang dalam proses
pembuatannya mulai dari pelintingan, pengemasan dalam
kemasan Llntuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita
cukai, tanpa menggunakan mesin.

Huruf c
Yang dimaksud "kretek tangan filter" adalah hasil tembakau yang
dalam pembuatannya dicampur dengan cerngkeh atau bagiannya,
baik asli maupun tiruan, yang dalam proses pembuatannya mulai
dari pelintingan, pemasangan filter, pengemasan dalam kemasan
untuk penjualan eceran, sampai dengan pelekatan pita cukai,
ranpa menggunaka n mesin.

Huruf d
Yang dimaksud "kretek kelembak menyan" adalah hasil tembakau
yang dalam pembuatannya dicampur dengan kelembak dan/atau
kemenyan asli maupun tiruan.

Pasal 24
Cukup jelas.

Pasal 25
Cukup jelas

Pasal 26
Ayat (1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "iaboratodum yang sudah teratreditasi"
adalah laboratorium yang telah memenuhi standar akreditasi yang
ditetapkan oleh lembaga yang berwenang.

Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

nyat lsl
Cukup je1as.

Pasal27
Cukup jelas.

Pasal 28
Cukup jelas.

Pasal 29
Cukup jelas.

Pasal 30
Cuk upj el as

Pasal31
Cukup jelas.

Pasal32
Cukup jelas.

Pasal 33
Cukup jelas.

Pasal 34
Cukup jelas.

Pasal 35
Yang diinaksud dengan "mesin layan diri" adalah mesin otomatis yang
dapat digunakan untuk membeli produk tembakau tanpa ada orang
wano m e n i r ra l

Pasal 36
Cukup jelas,

Pasal 37
Cukup jelas,

Pasal 38
Cukup jelas.

Pasal39
Cukup jelas.

Pasal 40
Cukup jelas.

Pasal41
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Huruf a
,. Cukup--jelas.
i
Huruf b
Cukup jelas.

ftul_llT c
Cukup jelas.

Huruf d
Yang dimaksud dengan "tempat ibadah" adalah ruang utama
tempat dilakukan ibadah.

Huruf e
Cukup jelas.

Huruf f
Yang dimaksud dengan "tempat kerja" adalah setiap ruangar
tertutup, bergerak atau tidak bergerak, di mana tenaga kerja
bekerja.

Huruf g
Yang dimaksud dengan "tempat umum" adalah setiap ruangan
tertutup yang dapat diakses masyarakat umum dan/atau tempat
yang dapat dimanfaatkan bersama-sama untlrk kegiatan
masyarakat,

Pasal42
Cukup jelas.

Pasal 43
Cukup jelas.

Pasal 44
Cukup jelas.

Pasal 45
Cukup jelas.

Pasal 46
Ayat {1)
Cukup jelas.

Ayat (2)
Huruf a
Cukup jelas

Huruf b
Cukup jelas.

Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
adalah antara lain
t: Yarrg dimaksud dengan "kepentingan lainl'a"
'p,emanfaatal tembakau untuk produk kosmetik dan terapi
kesehatan.

Pasal47
Cukup jelas.

Pasal 48
Cukup jelas.

Pasal 49
Cukup jelas.

Pasal 50
Cukup jelas.

Pasal51
Cukup jelas.

Pasal 52
Cukup jelas.

Pasal 53
Cukup jelas.

Pasal c+
Cukup jelas.

Pasal 55
Cukup jelas.

Pasal 56
Cukup jelas.

Pasal 57
Cukup jelas.

Pasal 58
Cukup jelas.

Pasal 59
Cukup jelas.

TAMBAHANLEMBARANNEGARAREPUBLIKINDONESIANOMOR'"

20
Pasal27
Pelaku Us3ha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
26 dikenai sanksi administrasi bcrupa penarikan produk dari peredaran.

Pasal 28
Ketentuan mengenai pelabelan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
dikecualikan untuk cerutu, rokok daun, tembakau iris, da-n produk olahare
tembakau lainnva.

BAB VII
IIARGA DAN CUKAI

Pasal 29
(1) Pemerintah menetapkan kebijakan harga dan Cukai Produk Tembakau dan
r--L.L.rl itr n ^ r

(2) Penetapan harga dan Cukai Produk Tembakau impor dan tembakau impor
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menggunakan tembakau impor
ditentukan paling sedikit 3 (tiga) kali lebih besar dibanding harga dan
Cukai Produk Tembakau dengan menggunakan tembakau dalam negen
(3) Ketentuan iebih lanjut mengenai harga dan Cukai Produk Tembakau
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam peraturan perundang-
undangalr.

Pasal 3O
Pcmerintah Daerah penghasil tembakau dan daerah industri pengolahan
tembakau berhak menerima dana bagi hasil Cukai Produk Tembakau paling
sedikit 5% (lima persen).

Pasal 31
(1i Pemerintah wajib mengalokasikan sebagian dari penerimaan Cukai Floduk
Tembakau dalam bentuk dana bagi hasil Cukai Produk Tembakau.
(2) Dana bagi hasil Cukai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan
untuk sebesar-besarnya kepentingan pertanian tembakau.
(3) Kepentingan pertanian tembakau sebagaimana dimaksud pada avat {2)
meliputi:
a. pengembangan infrastruktur pcrtanian;
b. pembudidayaan pertanian tembakau;
c . p e n i n g ka ta n mu tu p ro duk per ldnian tembakaul
d. penelitian dan pengembangan tembakau; dan/ atau
e. oermodalan Dertanian tembakau.

BAB VIII
PENGENDALIAN KONSUMSI PRODUK TEMBAKAU

Bagian Kesatu
Umum

Pasal 32
(1) Pengendalian konsumsi Produk Tembakau dilakukan untuk melindungi
dan menjanil kesehatan setiap warga negara.
(2) Pengendalian konsumsi Produk Tembakau sebagaimana dimaksud pada
ayat (11 dilakukan pada Produk Tembakau yang dapat mengakibatkan
bahaya bagi kesehatan individu, masyarakat, dan lingkungal, baik
langsung ataupun tidak langsung.