Anda di halaman 1dari 39
NUTRISI PADA AUTISME Dr. Lanny Lestiani, MSc, SpGK 1
NUTRISI PADA AUTISME
Dr. Lanny Lestiani, MSc, SpGK
1
Pendahuluan Dunia, 1996 prevalensi autisme hanya 4,5 per 10.000 anak usia 8-10 tahun Penelitian terakhir
Pendahuluan
Dunia, 1996
prevalensi autisme hanya 4,5 per 10.000 anak
usia 8-10 tahun
Penelitian terakhir
1 per 1000, bahkan laporan beberapa tempat
menunjukkan angka 1 per 150.
♂ : ♀ = 3,4 : 1
Indonesia
Belum ada angka pasti
Autis ringan tidak terdeteksi
Overdiagnosis
2
Autisme Sindroma yang ditandai dengan gangguan: Komunikasi Konsentrasi dan hiperaktif (ADHD) Sosialisasi di masyarakat
Autisme
Sindroma yang ditandai dengan gangguan:
Komunikasi
Konsentrasi dan hiperaktif (ADHD)
Sosialisasi di masyarakat
Yang biasanya terdapat pula perilaku
austik seperti bermain dalam dunianya
sendiri dan tidak memperdulikan
lingkungannya
E/: belum diketahui
3
Gejala klinis pada autis Mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia 3 tahun; → mencakup
Gejala klinis pada autis
Mulai tampak pada anak sebelum mencapai usia
3 tahun;
→ mencakup bidang komunikasi, interaksi &
perilaku
Kuantitas dan kualitas berbeda-beda.
Penyandang autisme infantilklasik mungkin
memperlihatkan semua gejala dalam derajat yang
berat
tetapi kelompok yang ringan hanya memperlihatkan
sebagian dari gejala.
4
Kesulitan Sebagian gejala dapat muncul pada anak normal dengan intensitas dan kualitas yang berbeda. Diperlukan
Kesulitan
Sebagian gejala dapat muncul pada anak
normal dengan intensitas dan kualitas
yang berbeda.
Diperlukan pengalaman klinis yang
memadai dan pendekatan multidisiplin
untuk menentukan apakah hal tersebut
termasuk patologis atau tidak.
5
Gejala Klinis Autisme: 1. Gangguan komunikasi verbal maupun non verbal 2. Gangguan interaksi sosial 3.
Gejala Klinis Autisme:
1. Gangguan komunikasi verbal maupun
non verbal
2. Gangguan interaksi sosial
3. Gangguan dalam perilaku dan
bermain
4. Gangguan perasaan/emosi
5. Gangguan persepsi sensoris
6
Penyebab Autisme 1. Genetik 2. Virus 3. Gangguan fungsi imun 4. Kelainan organ otak 5.
Penyebab Autisme
1. Genetik
2. Virus
3. Gangguan fungsi imun
4. Kelainan organ otak
5. Gangguan GIT
6. Paparan logam berat
7
1. Genetik Kejadian autisme pada saudara kembar satu zigot lebih banyak daripada mereka yang dua
1. Genetik
Kejadian autisme pada saudara kembar
satu zigot lebih banyak daripada mereka
yang dua zigot. Bahkan akhir-akhir ini
telah ditemukan lokasi gen-autis.
Namun kemudian, beberapa peneliti lain
menyatakan bahwa gen itu adalah gen
kelemahan sistem kekebalan, sehingga
akhirnya diduga terjadinya autisme
melalui proses infeksi.
8
2. Virus Terutama: rubella, cytomegalo, yang menginfeksi ibu hamil pada trimester pertama, sering memberikan risiko
2. Virus
Terutama: rubella, cytomegalo, yang
menginfeksi ibu hamil pada trimester
pertama, sering memberikan risiko
kejadian autisme yang tinggi.
Dilaporkan kasus autisme setelah
pemberian vaksinasi
MMR diduga karena komponen campaknya
DPT karena komponen pertusisnya
9
3. Gangguan fungsi imun Autisme penurunan sel T-helper, yaitu TH1 dan TH2. Limfosit TH1 sebagai
3. Gangguan fungsi imun
Autisme penurunan sel T-helper,
yaitu TH1 dan TH2.
Limfosit TH1 sebagai pemerang
serangan virus dan jamur, sedangkan
TH2 sebagai pemroduksi antibodi dan
bertanggung jawab pada reaksi alergi.
Hal ini menyebabkan kecenderungan
alergi, penyakit autoimun dan
penurunan fungsi imun secara umum
10
4. Kelainan organ otak Bauman dan Lemper: Penelitian post-mortem penderita autisme dua kelainan didaerah system
4. Kelainan organ otak
Bauman dan Lemper:
Penelitian post-mortem penderita autisme
dua kelainan didaerah system limbic:
amigdala, dan hipokampus
(pengatur emosi, agresivitas, masukan
sensori, serta proses belajar).
Juga adanya defisiensi sel purkinje dalam
serebelum
11
Courchesne: Dengan MRI kelainan di dua tempat di serebelum, di lobulus vermal VI dan VII,
Courchesne:
Dengan MRI kelainan di dua tempat
di serebelum, di lobulus vermal VI dan
VII, ukurannya lebih kecil pada
penderita autisme.
Daerah ini dikenal sebagai pusat untuk
pemusatan perhatian.
12
5. Gangguan GIT A). Jamur & bakteri yang resisten at.biotika, mengalami pertumbuhan berlebihan mengeluarkan bahan
5. Gangguan GIT
A). Jamur & bakteri yang resisten at.biotika,
mengalami pertumbuhan berlebihan
mengeluarkan bahan kimia (asam organik)
yaitu glitoxin yang berpengaruh terhadap
fungsi otak.
13
- Atau menempel pada dinding usus mengeluarkan enzim yang merusak epitel usus dan menyebabkan kebocoran
- Atau menempel pada dinding usus
mengeluarkan enzim yang merusak
epitel usus dan menyebabkan
kebocoran ”leaky gut syndrome”
- mengganggu produksi enzim
pencernaan
-
proses pencernaan tidak sempurna
14
B). Protein yang tidak tercerna sempurna mjd peptide terserap ke dalam darah dan dapat meracuni
B). Protein yang tidak tercerna sempurna
mjd peptide terserap ke dalam darah
dan dapat meracuni otak karena dapat
berfungsi sebagai false transmitter
ditangkap reseptor opioid berfungsi
sebagai opium atau morfin.
Melimpahnya bahan yang bekerja sebagai
opium ke otak terganggunya fungsi otak
(persepsi, kognisi, emosi dan perilaku)
15
Protein yang sulit dicerna dan sering diserap sebagai peptide adalah: casein (protein yang berasal dari
Protein yang sulit dicerna dan sering diserap
sebagai peptide adalah:
casein (protein yang berasal dari susu sapi/domba)
gluten, protein gandum (wheat, oats, rye, barley).
casein bila diserap kedalam otak berubah
menjadicasomorphin,
gluten berubah menjadi gliadinomorphin atau
gluteomorphin.
Penderita autisme kehilangan fungsi dari enzim
DDPIV (dipeptidil-peptidase IV), yang
bertanggung jawab memecah peptida tersebut
16
Gula sederhana (glukosa, fruktosa dan galatoksa) bisa berpengaruh pada flora usus Pengumpulan gula sederhana over
Gula sederhana (glukosa, fruktosa dan
galatoksa) bisa berpengaruh pada flora usus
Pengumpulan gula sederhana over growth
candida menurunkan jumlah mikrobakteri
yang baik dalam mukosa intestine
mengganggu absorbsi nutrien-nutrien yang
masuk timbul penyimpangan metabolisme
yang mengganggu metabolisme di otak.
17
6. Paparan logam berat Kadar antioksidan yang rendah, usus yang overpermeabel tubuh penderita autisme tidak
6. Paparan logam berat
Kadar antioksidan yang rendah, usus yang
overpermeabel tubuh penderita autisme
tidak mampu mendetoksifikasi toksin
Cenderung mengalami defisiensi
glutathione, suatu elemen kunci bagi hati
dalam melindungi tubuh dari substansi yang
tidak diinginkan.
Sumber asupan logam berat dapat berupa
makanan, air, cat dan obat-obatan
18
PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan biokimia: Peningkatan kadar serotonin darah & cairan serebro-spinal
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan biokimia:
Peningkatan
kadar
serotonin
darah
&
cairan
serebro-spinal (sedangkan pada kelainan lain
seperti pada Down Syndrome kadarnya turun)
Peningkatan kadar beta-endorphins dan
“endogenus opiate-like substance” ketahanan
terhadap rasa sakit yang tinggi.
Pemeriksaan urine: sering didapat peptida asing,
hasil sampingan metabolisme protein yang tidak
sempurna
19
Terapi autisme 1. Applied Behavioral Analysis (ABA) 2. Terapi Wicara 3. Terapi Okupasi 4. Terapi
Terapi autisme
1. Applied Behavioral Analysis (ABA)
2. Terapi Wicara
3. Terapi Okupasi
4. Terapi Fisik
5. Terapi Sosial
6. Terapi Bermain
7. Terapi Perilaku
8. Terapi Perkembangan
9. Terapi Visual
10. Terapi Biomedik
20
INTERVENSI GIZI Anak autis harus diupayakan untuk tetap dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Salah
INTERVENSI GIZI
Anak autis harus diupayakan untuk tetap
dapat tumbuh dan berkembang secara
optimal.
Salah satu etiologi autisme adalah
gangguan pencernaan dan penyimpangan
metabolisme, maka peranan makanan
sangat penting modal untuk tumbuh
kembang dan menghindari timbulnya
penyimpangan metabolisme yang kurang
perlu dilakukan untuk suatu intervensi.
21
Makronutrien Sebagian besar penderita autis intoleransi terhadap casein dan gluten diet bebas protein casein, gluten
Makronutrien
Sebagian besar penderita autis intoleransi
terhadap casein dan gluten diet bebas
protein casein, gluten dan eliminasi gula
sederhana dilaporkan sering memberikan hasil
yang sangat menggembirakan.
Sebaiknya tidak terlalu sering diberi makanan
manis menambah suburnya perkembangan
jamur dan mikroba usus.
Diet yang diberikan harus mampu menumbuh
kembangkan anak secara normal.
22
Substitusi nutrisi yang dieliminir harus diberikan Pemberian multivitamin, kalsium serta minyak ikan juga dianjurkan.
Substitusi nutrisi yang dieliminir harus
diberikan
Pemberian multivitamin, kalsium serta minyak
ikan juga dianjurkan.
Setiap pembatasan diet dilakukan monitoring
ketat, dengan berbagai pemeriksaan
laboratorium yang dapat memantau adanya
gangguan metabolisme
Pemberian diet pada penderita autis tidaklah
menyembuhkan seluruh gejalanya, tetapi
sering dilaporkan terjadinya berbagai
kemajuan pada sifat-sifat penderita.
23
Mikronutrien Vogelaar (2000): Pada 20 anak dengan autisme lebih dari 50%nya memiliki kadar berbagai zat
Mikronutrien
Vogelaar (2000):
Pada 20 anak dengan autisme lebih dari
50%nya memiliki kadar berbagai zat gizi
yang rendah, yaitu vitamin A, B1, B3, B5,
dan biotin; selenium, zinc, dan magnesium;
asam amino essensial, omega-3
(eicosapentaenoic acid (EPA)) dan omega-6
dihomogammalinolenic acid (DGLA))
24
Flora normal usus sehingga sering defisiensi vitamin yang diproduksi atau memerlukan peranan dari flora normal
Flora normal usus sehingga sering
defisiensi vitamin yang diproduksi
atau memerlukan peranan dari flora
normal seperti vitamin B12, biotin,
dan vitamin K.
Sifat pemilih makanan (“picky eater”)
juga dapat menyebabkan terjadinya
defisiensi vitamin dan mineral pada
anak.
25
Rimland: Orang dewasa dan setengah dari anak dengan ASD menunjukkan perbaikan dari suplementasi multivitamin. Adams
Rimland:
Orang dewasa dan setengah dari anak
dengan ASD menunjukkan perbaikan dari
suplementasi multivitamin.
Adams (2002):
Penelitian dengan desain uji buta ganda dan
kontrol placebo pada suplementasi multivitamin
dan mineral selama 3 bulan pada 16 anak dengan
autisme.
Hasil penelitian: kadar vitamin B6 dan vitamin C
dalam darah meningkat secara bermakna; serta
perbaikan pola tidur (berdasarkan skor dari
orang tua).
26
Rekomendasi dosis suplementasi Sebaiknya dimulai dengan dosis rendah (1/10 dari yang direkomendasikan dalam tabel dalam
Rekomendasi dosis suplementasi
Sebaiknya dimulai dengan dosis rendah
(1/10 dari yang direkomendasikan dalam
tabel dalam lampiran), lalu ditingkatnya
bertahap dalam 3-4 minggu.
27
Vitamin B6 Vitamin B6 dalam bentuk aktifnya pyridoxal- 5-phosphate (P5P), adalah salah satu kofaktor esensial
Vitamin B6
Vitamin B6 dalam bentuk aktifnya pyridoxal-
5-phosphate (P5P), adalah salah satu
kofaktor esensial jalur metabolik utama
untuk neurotransmitter seperti serotonin,
gammaamino-butyric acid (GABA), dopamine,
epinephrine, dan norepinephrine.
Pada beberapa anak dengan autisme, dapat
terjadi hambatan konversi vitamin B6
menjadi bentuk aktif P5P oleh hati.
28
Magnesium Magnesium makromineral esensial untuk jalur metabolisme yang dikatalisis enzim (enzyme-catalyzed metabolic
Magnesium
Magnesium makromineral esensial untuk
jalur metabolisme yang dikatalisis enzim
(enzyme-catalyzed metabolic pathways).
Pemberian Mg sebesar 3-4 mg/pound BB
(sekitar 6-8 mg/kg berat badan) sampai
dengan 400mg/hari untuk dewasa, → dapat
meningkatkan efektivitas vitamin B6 dan
mencegah terjadinya defisiensi Mg yang
disebabkan vitamin B6 (B6-induced
magnesium deficiency).
29
Dimethylglycine (DMG) Ortomolekul yang ditemukan dalam jumlah kecil dalam makanan, penting sebagai donor metal dengan
Dimethylglycine (DMG)
Ortomolekul yang ditemukan dalam jumlah kecil
dalam makanan, penting sebagai donor metal
dengan sifat antioksidan.
Rimland: memulai konsumsi DMG dengan kadar
rendah (60 mg/hr saat sarapan), lalu ditingkatkan
sampai mencapai 500 mg per hari.
Umumnya DMG mulai menunjukkan efek setelah 1-
4 minggu.
Manfaat utama :
bicara dan perilaku.
menurunkan risiko kejang,
hal ini penting mengingat kira-kira sepertiga kasus
individu dengan autisme akan mengalami kejang
pada masa dewasanya.
30
Vitamin A Untuk : pertumbuhan dan diferensiasi sel, terutama pada epithelial usus dan otak. Megson:
Vitamin A
Untuk : pertumbuhan dan diferensiasi sel,
terutama pada epithelial usus dan otak.
Megson: pada 60 anak, yang memberikan
vitamin A natural dari minyak ikan (cod
liver oil) selama 3 bulan atau lebih,
menunjukkan perbaikan gejala inti autisme,
seperti bahasa, kontak mata, kemampuan
sosialisasi, dan pola tidur.
31
Asam folat Jerome Lejeune: suplementasi asam folat sekitar 250mcg/pound BB (sekitar 500mcg/kgBB) → memberikan
Asam folat
Jerome Lejeune:
suplementasi asam folat sekitar 250mcg/pound
BB (sekitar 500mcg/kgBB) → memberikan
perbaikan gejala autistic pada anak
32
Kalsium Bradstreet+Kartzinel: melaporkan adanya defisiensi kalsium dan magnesium pada anak dengan autisme.
Kalsium
Bradstreet+Kartzinel:
melaporkan adanya defisiensi kalsium
dan magnesium pada anak dengan
autisme.
Landgrebe+Landgrebe:
adanya ekskresi kalsium yang rendah
(dari urin 24jam) pada 22% dari anak
dengan autisme.
33
Vitamin C Vitamin C berperan dalam jalur metabolik, sebagai antioksidan, serta sebagai kofaktor beberapa enzim
Vitamin C
Vitamin C berperan dalam jalur metabolik,
sebagai antioksidan, serta sebagai kofaktor
beberapa enzim yang diperlukan untuk
sintesis neurotransmitter.
Pada uji klinik buta ganda selama 30 minggu,
didapatkan bahwa asupan vitamin C sebesar
8g/70kgBB/hari) memberikan perbaikan pada
tingkat keparahan gejala dan skor sensorik-
motorik .
34
Zinc Kadar Zn bergantung pada kadar Copper (Cu). Kadar Zn rendah kadar Cu akan meningkat.
Zinc
Kadar Zn bergantung pada kadar Copper (Cu).
Kadar Zn rendah kadar Cu akan meningkat.
Bradstreet dan Kartzinel:
terjadi defisiensi Zn pada 90% kasus ASD dan
kelebihan Cu pada 90% kasus (14).
Walsh: analisis kadar Cu dan Zn dalam darah pada
318 kasus ASD, didapatkan peningkatan rasio
Cu:Zn sebesar 85%.
Karena itu suplementasi multivitamin dan mineral
untuk anak dengan ASD tidak boleh ditambahkan
Copper (Cu) karena mineral ini sering ditemukan
berlebih pada anak-anak ini.
35
Yodium Kadar yodium dalam darah anak dengan autisme 47% lebih rendah daripada kelompok control (p<
Yodium
Kadar yodium dalam darah anak dengan
autisme 47% lebih rendah daripada
kelompok control (p< 0,005)
Peran utama yodium dalam tubuh adalah
pada fungsi tiroid.
Defisiensi yodiuim goiter + retardasi
mental (kretinisme).
36
Prognosis Ditentukan beratnya gejala, tingginya intelegensia dan umur saat diagnosis. Makin berat gejala, prognosis
Prognosis
Ditentukan beratnya gejala, tingginya
intelegensia dan umur saat diagnosis.
Makin berat gejala, prognosis makin buruk.
Makin muda diagnosis ditegakkan makin
baik Karena intervensi dapat segera
dilakukan.
,
Otak masih dapat dirangsang untuk
membentuk cabang-cabang saraf baru
sampai usia 2 tahun, dan membentuk
miring, yaitu bagian putih dari otak sampai
5 tahun
37
Makin cerdas anak tersebut, makin baik prognosisnya karena ia akan bisa menangkap pelajaran lebih cepat.
Makin cerdas anak tersebut, makin
baik prognosisnya karena ia akan bisa
menangkap pelajaran lebih cepat.
Terapi yang intensif dan terpadu
sangat menentukan hasil akhir.
Berbagai cara terapi harus dilakukan
sesuai kebutuhan anak, dan sedapat
mungkin melibatkan seluruh keluarga
38
Selesai…. 39
Selesai….
39