Anda di halaman 1dari 31

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI,

DA N PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
Jl. Perintis Kemerdekaan Padang 25127. Telp.: 0751-31746. Fax.:0751-32838
e-mail : fk2unand@pdg.vision

PENUNTUN KETERAMPILAN KLINIK


BLOK 3.4
TOPIK: PENULISAN RESEP 2

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas


2017


I. PRASYARAT
Sudah pernah mengikuti pembelajaran pada Blok 1.6 - 3.3.

II. TUJUAN PEMBELAJARAN

A. Tujuan umum
Mahasiswa mampu menuliskan resep obat topikal dengan benar dan rasional
terutama untuk penyakit mata, kulit dan kelamin serta THT terutama
kompetensi 4 (empat ) berdasarkan SKDI.

B. Tujuan khusus
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ketentuan dan kaidah dalam penulisan resep
obat topikal.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi komponen resep obat topikal.
3. Mahasiswa dapat mengaplikasikan istilah yang berkaitan dengan penulisan resep
obat topikal.
4. Mahasiswa dapat menuliskan contoh resep obat topikal yang lengkap.

III. STRATEGI PEMBELAJARAN


1. Mahasiswa wajib mengikuti jadwal pembelajaran keterampilan klinik yang telah
ditetapkan bersama instruktur.
2. Mahasiswa belajar mandiri untuk kompetensi penulisan resep.
3. Mahasiswa meninjau ulang dan mengintegrasikan kuliah dan praktikum
farmakologi yang telah diberikan pada blok sebelumnya.
4. Mahasiwa belajar mandiri memberikan terapi berdasarkan buku panduan praktik
klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan primer (PMK RI no.5 tahun
2014), Formularium Obat Nasional (FORNAS), Daftar Obat Essensial Nasional
(DOEN), dan obat-obat yang digunakan dalam pelayanan primer (puskesmas).


IV. TEORI
A. Pendahuluan
Enam langkah rutin terapi:
1. Tentukan masalah pasien
2. Tentukan tujuan pengobatan
3. Memilih obat dan menentukan kecocokan obat untuk pasien
4. Tulis resep yang benar
5. Beri informasi obat dan instruksi pemakaian obat pada pasien
6. Monitor dan / atau hentikan pengobatan
Pada keterampilan klinik ini kita akan langsung menuju langkah 4 yakni
menuliskan resep yang benar. Langkah 1-3 dipelajari mahasiswa pada metode
pembelajaran tutorial maupun mandiri.
Filosofi dasar peresepan menurut Bernhard Fantus menyatakan
bahwaresep adalah kunci dari seluruh upaya terapi seorang dokter kepada
pasiennya.Resep dibuat berdasarkan pada diagnosis (yang didasarkan pada
patofisiologi) dan prognosis kasus di satu sisi, serta pengetahuan Farmakologi dan
Terapi seorang dokter di sisi lainnya. Kelemahan pada salah satu sisi tersebut
akantercermin pada resep yang ditulis.
Penulisan resep adalah langkah yang dilakukan dokter untuk penderitanya
setelah melakukan anamnesis, menegakkan diagnosis dan prognosis serta
memutuskan bahwa diperlukan terapi farmakologis.Terapi farmakologis dapat
bersifat profilaktik, simtomatik, atau kausal dan diwujudkan dalam bentuk resep.
Penulisan resep yang tepat dan rasional merupakan penerapan berbagai ilmu
karena banyak variabel yang harus diperhatikan, termasuk variabel unsur obat,
kemungkinan kombinasi obat, maupun variabel individu penderita.
Motto yang harus diingat dalam farmakoterapi adalah 4T1W:
Tepat obat
Tepat dosis
Tepat bentuk sediaan obat (disingkat: BSO)
Tepat signatura/cara pakai
Waspada efek samping


Untuk dapat menuliskan resep yang tepat dan rasional seperti di atas, seorang
dokter harus memiliki cukup pengetahuan dasar mengenai Farmakologi,
Farmakodinamik, Farmakokinetik, Farmakoterapi, disamping pengetahuan
mengenai sifat fisiko-kimia obat.

B. Pengertian, tujuan, dan jenis resep


Resep adalah suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau
dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang-udangan yang
berlaku kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatanbagi
penderita. Menurut undang-undang, yang dibolehkan menulis resep adalah
dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter hewan.Bagi dokter umum
dan dokter spesialis, tidak ada pembatasan mengenai jenis obat yang boleh
diberikan kepada penderita. Dokter gigi hanya boleh menuliskan resep berupa
jenis obat yang berhubungan dengan penyakit gigi. Sedangkan dokter hewan
pembatasan bukan pada jenis obatnya melainkan pada penderitanya; dokter
hewan hanya boleh menuliskan untuk keperluan hewan semata-mata.
Pada prinsipnya resep adalah bentuk komunikasi antara dokter dan
apoteker, maka prinsip dasar komunikasi berlaku dalam penulisan resep yaitu
kejelasan informasi dari dokter sehingga dapat dipahami oleh apoteker.
Menurut cara peracikan obat maka resep dibagi atas formula magistralis
dan officinalis. Pada resep formula magistralis atau dikenal juga sebagai resep
racikan, resep disusun sendiri oleh dokter.Untuk dapat meracik obat, dokter perlu
memahami pedoman penulisan formula magistralis, memahami bahan obat yang
digunakan, menentukan sediaan (BSO) yang tepat, dan menentukan bahan
tambahan yang diperlukan.Pada formula magistralis, terapi bersifat spesifik untuk
individu penderita dalam hal obat yang diperlukan serta dosisnya.Penderita juga
lebih mudah untuk meminum obat jika obat lebih dari satu macam, dengan
syarat dokter perlu memperhatikan kemungkinan interaksi obat dan kesesuaian
jadwal pemberian obat. Selain itu, dokter juga harus paham mengenai bahan-
bahan tambahan obat. Pada resep dengan formula officinalis dokter meresepkan
obat standar sesuai buku pedoman obat, macam obat terbatas dengan BSO
sederhana.


C. Kriteria resep yang rasional menurut WHO/INRUD
1. Jumlah obat setiap datang maksimal 2.
2. Nama generik digunakan pada semua obat (100%).
3. Peresepan antibiotika <30% dari semua peresepan.
4. Peresepan obat injeksi <20% dari semua peresepan.
5. Peresepan obat esensial/formularium pada semua obat (100%).

D. Ketentuan dan kaidah penulisan resep yang benar


Beberapa ketentuan tentang menulis resep:
1. Secarahukum dokter yang menandatangani suatu resep bertanggungjawab
sepenuhnya tentang resep yang ditulisnya untuk penderita.
2. Resep ditulis sedemikian rupa sehingga dapat dibaca oleh apoteker tanpa
keraguan.
3. Resep ditulis dengan tinta sehingga tidak mudah terhapus.
4. Tanggal resep dituliskan harus tertera dengan jelas.
5. Umur penderita harus dicantumkan dengan jelas, terutama pada anak. Ini
penting bagi apoteker untuk mengkalkulasi apakah dosis obat yang ditulis
pada resep sudah cocok dengan umur si anak.
6. Di bawah nama penderita hendaknya dicantumkan alamatnya. Hal ini
penting dalam keadaan darurat (misalnya salah obat) sehingga penderita
dapat langsung dihubungi. Alamat penderita pada resep juga akan
mengurangi kesalahan/tertukarnya pemberian obat bila penderita dengan
nama yang kebetulan sama.
7. Untuk jumlah obat yang diberikan dalam resep, hindarilah menggunakan
angka desimal untuk menghindari kemungkinan kesalahan. Contoh: Untuk
obat yang diberikan dalam jumlah kurang dari satu gram maka ditulis dalam
miligram; misalnya jika obat diberikan setengah gram maka ditulis 500 mg
(bukan 0,5 gram).
8. Untuk obat yang dinyatakan dengan satuan Unit jangan disingkat menjadi U.
9. Untuk obat atau jumlah obat berupa cairan, dinyatakan dengan satuan ml,
hindari menulis satuan cc atau cm3.


E. Komponen resep dan penulisan resep pada keadaan tertentu
Resep yang lengkap mengandung informasi berikut ini :

I. PRESCRIPTIO
1. Identitas dokter: Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter. Dapat
dilengkapi dengan nomor telepon, jam praktek serta hari praktek.
2. Nama kota & tanggal penulisan resep.
3. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. Tanda ini adalah singkatan
dari recipe yang berarti "harap diambil".

Ctt: Sebagian literatur menggolongkan tanda R/ sebagai superscriptio.

II. INSCRIPTIO
4. Inti resep dokter atau komposisi berisi: Nama setiap jenis/bahan obat,
danjumlah bahan obat (mg, g, ml, l) denganangka Arab. Untuk penulisan
jumlah obat dalam satuan biji (tablet, kapsul, botol) dalam angka Romawi.
Jenis/bahan obat dalam resep terdiri dari:
a. Remedium cardinale: obat pokok yang mutlak harus ada, dapat
berupa bahan tunggal atau beberapa bahan.
b. Remedium adjuvans: bahan yang membantu kerja obat pokok,
tidak mutlak ada dalam tiap resep.
c. Corrigens: bahan untuk memperbaiki rasa (corrigens saporis),
warna (corrigens coloris) atau bau obat (corrigens odoris).
d. Konstituens atau vehikulum: bahan pembawa, seringkali perlu
terutama pada formula magistralis. Misalnya konstituens obat
minum umumnya air.
Perintah pembuatan bentuk sediaan obat yang dikehendaki, misalnya f.l.a.
pulv= fac lege artis pulveres = buatlah sesuai aturan, obat berupa puyer.

III. SIGNATURA
5. Aturan pemakaian obat (frekuensi, jumlah obat dan saat obat diminum,
informasi lain), umumnya ditulis dengan singkatan dalam bahasa Latin.
Aturan pakai ditandai dengan signa yang disingkat dengan S.


6. Identitas pasien di belakang kata Pro: Nama pasien, umur, alamat lengkap.
Bila penderita seorang anak harus ditulis umurnya. Bila resep untuk orang
dewasa dicantumkan Tuan/Nyonya/Bapak/Ibu diikuti nama penderita dan
umurnya.

IV. SUBSCRIPTIO
7. Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep untuk menjadikan suatu resep
otentik. Resep obat dari golongan narkotika harus dibubuhi tandatangan
dokter, tidak cukup dengan paraf saja.

Resep yang mengandung obat golongan narkotika:


Tidak boleh ada tanda iter (iterasi), m.i (mihi ipsi), dan u.c (usus cognitus). Mihi
ipsi artinya untuk pemakaian sendiri.
Resep tidak boleh diulang, harus dengan resep asli, resep baru.
Resep yang perlu penanganan segera:
CITO (segera)
STATIM (penting)
URGENT (sangat penting)
PIM (periculum in mora = berbahaya bila ditunda)
Urutan yang didahulukan: PIM, Urgent, Statim, dan Cito
Penulisan tanda segera di atas digarisbawahi dan diberi tanda seru, kemudian
diparaf/tandatangan di belakang Cito (CITO! paraf).
Resep yang dapat/tidak dapat diulang:
ITER Boleh diulang
NI (ne iteratur) Tidak boleh diulang
Resep mengandung narkotika tidak boleh diulang



F. Pedoman penulisan resep dokter
1. Ukuran blangko resep (lebar 10-12cm,panjang15-18cm).
2. Penulisan nama obat:
a. Dimulai huruf besar.
b. Ditulis secara lengkap atau dengan singkatan resmi (menurut
Farmakope Indonesia atau nomenklatur Internasional), misalAsetosal
atau disingkat Ac.salic.
3. Penulisan jumlah obat:
a. Satuan berat : mg, g
b. Satuan volume/ unit : ml, l, UI
c. Penulisan jumlah obat dlm satuan biji : Romawi
d. Penulisan alat penakar : C = sendok makan (15 ml)
Cth = sendok teh (5 ml)
4. Penulisan jadwal dosis/aturan pemakaian:
a. Ditulis secara benar.
b. Pemakaian yang rumit ditulis dengan S.U.C (signa usus cognitus =
pemakaian diketahui).
5. Setiap selesai penulisan resep diberi tanda penutup berupa garis


penutup atau tanda pemisah diantara dua R/ dan paraf atau tanda
tangan.
6. Penulisan tanda iter (iteretur) dan N.I (Ne Iteretur) disebelah kiri atas dari
resep apabila diulang/tidak diulang seluruhnya. Bila tidak semua resep
diulang, maka ditulis dibawahsetiap resep. Demikian juga untuk N.I.
7. Tanda Cito atau PIM (resep segera dilayani) dituliskan disebelah
kanan atas.

G. Istilah-istilah dan singkatan Latin yang berkaitan dengan penulisan resep obat
topikal
a.n. = ante noctem = malam sebelum tidur
ad us. ext. = ad usum externum = untuk obat luar
ad. us. int = ad usum internum = untuk obat dalam
agit. = agitation = kocok
alt. hor. = alternis horis = tiap jam
aq.dest. = aqua destilata = air suling
collut.or. = collutio oris = obat kumur (cuci mulut)
collyr. = collyrium = obat cuci mata
da.in.dim = da in dimidio= berilah separuhnya
d.in2plo = da in duplo = berilah dua kali banyaknya
d.d. = de die = sehari
1.d.d.=s.d.d. = semel de die = sekali sehari
2.d.d.=b.d.d.=b.i.d. =bis de/in die = dua kali sehari
3.d.d.=t.d.d.=t.i.d. = ter de/in die = tiga kali sehari
4.d.d.=q.d.d.=q.i.d. =quarter de/in die = empat kali sehari
d.t.d = da tales doses = berilah sekian takaran
dext. = dexter = kanan
dext.et sin. = dexter et sinister = kanan dan kiri
o.d./o.s. atau o.d.s = oculus dexter et oculus sinister = mata kanan dan mata kiri
f. = fac = buat, harap dibuatkan
f.l.a = fac lege artis = buat menurut semestinya
fls. = fles = botol


g. = gramma = gram
gr. = granum = 65 mg, grain
garg. = gargarisma = obat kumur
gtt. = guttae = tetes
gtt.ad.aur = guttae ad aures = tetes telinga
gtt.auric = guttae auriculares = tetes telinga
gtt.nasal = guttae nasals = tetes hidung
gtt.ophth. = guttae ophthalmicae= tetes mata
h. = hora = jam
h.s. = hora somni = jam sebelum tidur
i.m.m. = in manum medici = berikan ke tangan dokter
iter. = iteratur = harap diulang
iter. 1x = iteretur 1 x = harap diulang satu kali
ne iter. = ne iteratur = tidak diulang
lin. = linimentum = obat gosok
lot. = lotio = obat cair untuk pakai luar
m. = misce = campurlah
m.f. = misce fac = campurlah dan buatlah
m.f.l.a. = misce fac lege artis = campur&buat menurut semestinya
man. = mane = pagi
m.et .v. = mane et vespere = pagi dan sore
mg. = milligramma = miligram
o.h. = omni hora = tiap jam
o.b.h. = omni bihorio = tiap 2 jam
o.t.h. = omni trihorio = tiap 3 jam
o.4.h. = omni quaterhorio = tiap 4 jam
o.m. = omni mane = tiap pagi
o.n. = omni nocte = tiap malam
p.r.n. = pro re nata = kalau perlu
pulv. adsp. = pulvis adspersorius = serbuk tabur (bedak)
R/ = recipe = ambillah
S = signa = tanda


s.q. = sufficiante quantitate= dengan jumlah yang cukup
q.s. = quantum satis = secukupnya
si op. sit = si opus sit = bila perlu
sol. = solutio = larutan
u.c. = usus cognitus = aturan pakai diketahui
u.n. = usus notus = aturan pakai diketahui
ung. = unguentum = salep
u.e. = usum externum = dipakai untuk luar
u.i. = usum internum = dipakai untuk dalam


H. Prinsip pemberian obat topikal
Terdapat beberapa cara pemberian obat, yakni obat dalam/oral, obat luar/topikal
dan parenteral. Obat topikal/obat luar adalah obat yang diberikan selain melalui oral
atau mulut, bisa diberikan melalui kulit, mata, hidung, telinga, anus, atau vagina.
Biasanya bila dibeli dengan resep dokter diberi dengan etiket warna biru. Pemberian
obat pada kulit dapat bersifat lokal dan sistemik, biasanya obat diberikan dalam bentuk
krim, salap, atau cairan. Obat untuk hidung diberikan dalam bentuk uap dan cairan (tetes,
cuci dan semprot). Sedangkan obat untuk telinga diberikan dalam bentuk caitan (tetes
dan cuci).
Obat-obatan tersebut, diharapkan obat dapat memberi konsentrasi yang tinggi
dan tepat. Pada organ mata, tidak semua obat sistemik dapat mencapai segmen anterior
mata karena adanya 'blood aqueos barrier'. Sehingga agar tercapat target yang
diinginkan pemakaian secara topikal adalah pilihan yang tepat untuk pengobatan kornea,
konjungtiva, badan siliaris atau struktur segmen anterior lainnya. Pemberian topikal
dapat dilakukan dengan menggunakan suspensi, larutan, salap, gel dan bahan lainnya.
Obat akan melewati kornea atau konjungtiva dan mencapai struktur yang diinginkan.
Prinsip penulisan resep obat luar tidak berbeda dengan obat oral. Beberapa resep
berikut dapat dijadikan pedoman untuk penulisan resep dan cara pemakaian obat
topikal:

1..OBAT UNTUK MATA


1.1. Obat Tetes Mata (Eye Drop)
Skenario :
Seorang anak, Ari umur 6 tahun, datang ke Puskesmas dengan keluhan mata merah sejak 1 hari
yang lalu. Sebelumnya teman sebangkunya juga menderita penyakit yang sama. Setelah melakukan
anamnesa dan pemeriksaan fisik, dokter menemukan palpebra sedikit udem, sekret yang banyak, putih,
dan agak kental dicelah palpebra, kantus medial dan kantus lateral mata Ari, konjungtiva hiperemis,
konjungtiva injeksi (+), siliar injeksi (-), kornea jernih, dan visus 5/5. Dokter Puskesmas mendiagnosis
sebagai Konjungtivitis Bakterial Akut. Tulislah resep obat mata untuk Ari!

Contoh resep untuk obat tetes mata:

Dr .Fitr i
Pr aktik umum
SIP:12/ 01/ 2014
Har i/ pr aktik: Senin- Jumat
Jam pr aktik: 16.00-18.00
Alamat: Jln Patimur a No :1
Telp.: 12345
--------------------------------------------------
Padang,5 Agustus 2016
Par af

Prosedur pemakaian :

A. Meneteskan obat tetes mata pada pasien dewasa:

1. Cuci tangan

2. Baringkan pasien.

3. Buka tutup botol obat. Jangan sentuh lubang penetes, untuk obat tetes sediaan
mini dose (MD) tutup tetap dipegang, hingga obat selesai digunakan.

4. Tarik kelopak mata bawah ke bawah agar terbentuk semacam cekungan. (cara
lain : tarik kelopak mata atas, teteskan obat tegak lurus sehingga mengenai
seluruh permukaan kornea)

5. Dekatkan alat penetes sedekat mungkin ke cekunngan tanpa menyentuhnya atau


menyentuh mata.

6. Teteskan obat sebanyak 1 tetes atausesuai dosis yang dianjurkan.

7. Pejamkan mata kira- kira 2 menit jangan memejamkannya terlalu kuat

8. Bersihkan kelebihan cairan dengan kasa steril.

9. Jika menggunakan lebih dari 1 macam obat tetes, tunggu sedikitnya 5 menit
sebelum meneteskan obat tetes berikutnya.

10. Jika menggunakan 2-3 obat tetes misal,tear film, antibiotik dan kortikosteroid.
Maka lakukan berurutan yakni: tear film, antibiotik dan terakhir kortikosteroid
(sesuai indikasi).


Gambar 1. Langkah 4 and 5

B. Meneteskan obat tetes mata pada anak (diatas 5 tahun) :


1. Baringkan anak terlentang dengan kepala lurus.
2. Mintalah anak memejamkan matanya.
3. Teteskan sejumlah yang dianjurkan ke sudut mata.
4. Jaga agar kepala tetap lurus.
5. Bersihkan cairan yang berlebihan.

Catatan : Untuk anak <5 tahun, obat diberikan pada saat tidur atau ketika menyusui,
jangan dipaksa membuka kelopak mata, semakin dipaksa membuka, maka kelopak
semakin menutup.

1.2. Salap Mata

Skenario :

Seorang pekerja bengkel, Adek, 35 tahun, mengeluh terasa ada benda asing
dimata kanan, setelah dia bekerja dibengkelnya dari tadi pagi. Mata terasa berair, pedih,
bersekret dan mata tidak bisa dibuka. Adek datang ke praktek sore dokter umum, dan
dokter pada pemeriksaan mata menemukan, palpebra udem, mata berair banyak dan
sedikit bersekret, konjungtiva hiperemis, dan terlihat benda asing di fornik inferior,
hitam, penampang + 1 mm. Kornea jernih, dokter mendiagnosis benda asing di
konjungtiva, mencoba mengangkatnya setelah memberi pantokain tetes mata, ternyata
berhasil. Tulislah resep obat mata untuk pasien ini!


Dr . Fitr i
Pr aktik umum
SIP:12/ 01/ 2014
Har i/ pr aktik: Senin- Jumat
Jam pr aktik: 16.00-18.00
Alamat: Jln Patimur a No :1
Telp.: 12345
--------------------------------------------------

Padang, 5 Agustus 2016

R/ Klor amfenikol 0,3% eye oint. fls No. I

S t dd applic. o.d.

Pr o : Adek
Umur : 35 thn.
Alamat : Jln. Jati 2 No.15 Padang

Prosedur pemakaian :

1. Cuci tangan

2. Baringkan pasien

3. Buka tutup tube.

4. Tarik kelopak mata bawah ke bawah agar terbentuk semacam cekungan.

5. Letakkan obat pada cekungan tersebut secukupnya, sampai memenuhi cekungan.


Sebaiknya dari arah lateral.

6. Pejamkan mata kira- kira 1 menit jangan memejamkannya terlalu kuat.

7. Jika menggunakan lebih dari 1 macam obat (obat tetes dan salap), gunakan obat
tetes terlebih dahulu, tunggu sedikitnya 5 menit, kemudian berikan obat salap
terakhir.


Gambar 2. Pengolesan salap mata

2. OBAT UNTUK THT

2.1. Obat Tetes Telinga (Ear Drop)

Skenario :
Seorang laki-laki berusia 16 tahun datang ke praktik dokter keluarga dengan
keluhan nyeri pada telinga kanan sejak kemarin. Dari anamnesis dan pemeriksaan yang
dilakukan oleh dokter didiagnosis otitis eksterna dan dokter menyimpulkan pasien
membutuhkan obat tetes telinga untuk pengobatannya. Tuliskanlah resep untuk pasien
tersebut dan jelaskan cara pemakaiannya!
Contoh penulisan resep obat tetes telinga:
Dr .Fitri
Praktik umum
SIP:12/01/2014
Hari/ praktik: Senin- jumat
Jam praktik: 16.00-18.00
Alamat:Jln Patimura No :1
Telp.: 12345
-------------------------------------------------
Padang, 5 Agustus 2016

R/Kloramfenikol 5% ear drop fls No. I

S2 dd gtt I ad. Par af

Pro : Doni
Umur : 16 tahun
Alamat : Jln.Jati 1 No.3 Padang

Prosedur pemakaian
1. Cuci tangan
2. Hangatkan obat tetes telinga dengan menggenggamnya beberapa menit sampai
sesuai suhu tubuh.


3. Miringkan kepala kesatu sisi atau berbaring posisi miring, telinga yang akan
ditetesi obat menghadap ke atas.
4. Tarik daun telinga perlahan ke arah belakang atas (postero-superior) untuk
dewasa dan postero-inferior untuk anakbertujuan membuka liang telinga.
5. Teteskan obat sejumlah yang dianjurkan dan dipertahankan pada posisi tersebut
selama 10-15 menit.
6. Apabila akan melakukan penetesan pada telinga yang satu lagi, dilakukan satu
jam kemudian.
7. Tutup wadah dengan baik
8. Cuci tangan untuk menghilangkan sisa obat di tangan.

Gambar 3. Langkah 2-4


Catatan :Jika terdapat sekret yang purulen dilakukan ear toilet terlebih dahulu.
2.2.Obat Tetes Hidung(Nasal Drop)

Contoh penulisan resep obat tetes hidung:


Dr .Fitri
Praktik umum
SIP:12/01/2014
Hari/ praktik: Senin- Jumat
Jam praktik: 16.00-18.00
Alamat:Jln Patimura No :1 Telp.: 12345
-------------------------------------------------
Padang, 5 Agustus 2016
R/ Oxymetazoline 0,05% nasal drop fls No I
S 2 dd gtt I Kavum Nasi Dextra et Sinistra
Par af

Pro : Doni
Umur: 16 thn
Alamat : Jln.Jati 1 No.1 Padang

Prosedur pemakaian :

1. Cuci tangan

2. Bersihkan hidung.

3. Tengadahkan kepala, tempatkan ujung penetes ke lubang hidung


4. Teteskan obat ke dalam lubang hidung sesuai dosis yg dianjurkan.

5. Tahan posisi kepala selama beberapa menit agar obat masuk ke lubang hidung.

6. Pada saat yang bersamaan bernapas melalui hidung

7. Hirup sedikit untuk memastikan obat sudah mencapai ke dalam hidung.

8. Ulangi langkah ini untuk lubang hidung yang lain jika diperlukan.

9. Bilas ujung obat tetes dengan air panas dan keringkan dengan kertas tissue kering

10. Cuci tangan untuk menghilangkan sisa obat di tangan.

2.3. Obat Semprot Hidung

Skenario :
Seorang perempuan berusia 30 tahun datang ke Puskesmas dengan keluhan
sering bersin-bersin sejak 6 bulan yang lalu. Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang, pasien didiagnosis Rinitis Alergi persisten sedang berat.
Tuliskanlah resep obat semprot hidung pasien dan terangkan cara penggunaannya
kepada pasien!

Dr .Fitri
Praktik umum
SIP:12/01/2014
Hari/ praktik: Senin- Jumat
Jam praktik: 16.00-18.00
Alamat:Jln Patimura No :1
Telp.: 12345
-------------------------------------------------------------------------
Padang, 5 Agustus 2016


R/ Fluticasone Furoate 27.5mcg nasal spray fls No I

S 1 dd puff II Kavum Nasi Dextra et Sinistra


Par af

Pro : Yanti
Umur: 30 thn
Alamat : Jln.Jati 1 No.1 Padang

Prosedur Pemakaian :

1. Cuci tangan

2. Bersihkan hidung dengan menghembuskan nafas keluar hidung untuk mengeluarkan sekret
hidung.

3. Kocok wadah obat semprot.

4. Kepala ditundukkan sedikit, dan keluarkan nafas perlahan.

5. Masukkan ujung penyemprot ke dalam satu lubang hidung dengan arah menjauhi septum nasi.

6. Tutup mulut dan lubang hidung sebelahnya.

7. Semprotkan obat dengan memencet vial (wadah, tabung) atau menekan tombol seiring dengan
menghirup nafas secara perlahan melalui hidung.

8. Pada pemakaian pertama kali, semprotkanlah terlebih dahulu ke udara luar sehingga
semprotannya sempurna.

9. Keluarkan ujung penyemprot dari hidung dan lakukan langkah tersebut pada lubang hidung
sebelahnya.

10. Bersihkan ujung semprotan dengan air hangat, keringkan dengan kertas tissue bersih.

11. Cuci tangan untuk menghilangkan sisa obat di tangan.


Hindari bersin atau mengeluarkan nafas secara kencang melalui hidung beberapa saat setelah
melakukanpenyemprotan.

3. Obat Untuk Kulit:


3.1. Pemakaian Krim dan Kompres:
Skenario 1
Seorang anak laki-laki usia 5 tahun diantar ibunya datang ke Poliklinik Kulit dan
Kelamin, dengan keluhan gelembung-gelembung berisi nanah di leher dan dada bagian
atas sejak 4 hari yang lalu. Gelembung sebagian ada yang pecah namun muncul lagi
gelembung baru di dekatnya. Pada pemeriksaan ditemukan bula hipopion. Dokter
menegakkan diagnosis pasien ini sebagai impetigo vesikobulosa.
Tuliskan resep topikal yang akan diberikan pada pasien ini, jelaskan cara
pemakaiannya.
Foto 1.


Contoh Resep Krim Antibiotika dan Kompres:
Dr .Fitri
Praktik umum
SIP:12/01/2014
Hari/ praktik: Senin- Jumat
Jam praktik: 16.00-18.00
Alamat:Jln Patimura No :1
Telp.: 12345
-------------------------------------------------------------------------
Padang,5 Agustus 2016

R/ PK 1/10.000 sol. fls. 150cc No. I


S t d d compres

R/ Gentamisin 2% krim 5 g tube No I


S b d d applic loc dol

Pro : Budi
Umur: 5 thn
Alamat : Jln.Jati 1 No.1 Padang

Persiapan alat dan bahan

1. Krim antibiotika (gentamicin 0,1%)


2. Larutan permanganas kalikus 1/10.000
3. Kasa steril
4. Pinset
5. Nierbekken
6. Sarung tangan non steril
7. Mangkok


8. Cotton bud

Prosedur kompres dengan larutan PK


1. Tuangkan cairan PK 1/10.000 ke dalam mangkok
2. Gunakan sarung tangan
3. Ambil kasa tiga lapis
4. Celupkan kasa ke dalam cairan PK
5. Angkat kasa dan diperas agar air tidak menetes saat mengompres dengan pinset
6. Tempelkan kasa diatas lesi kulit selama 15 menit
7. Apabila kasa mengering, basahi lagi kasa dengan dengan larutan PK
8. Buang kasa ke dalam nierbekken
9. Kompres dilakukan tiga kali sehari

Prosedur pemakaian Krim Antibiotika:


1. Buka tutup tube krim dengan cara diputar
2. Tusuk lubang kemasan krim dengan tutup tube krim bagian atas
3. Oleskan krim pada lesi kulit dengan menggunakan cotton bud

3.2. Pemakaian Krim Antijamur dan Shampo Antijamur

Skenario 2
Seorang pasien laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan bercak kemerahan
dengan pinggir yang lebih merah di perut yang terasa gatal sejak 3 minggu yang lalu.
Bercak awalnya kecil, makin lama makin melebar ke pinggir. Pasien juga mengeluhkan
adanya bercak-bercak putih dengan sisik halus yang kadang terasa gatal di punggung
sejak 6 bulan yang lalu. Gatal terasa jika pasien berkeringat. Bercak makin lama makin
bertambah banyak.
Setelah melakukan pemeriksaan dokter mendiagnosis sebagai tinea korporis untuk
kelainan di perut dan pitiriasis versikolor untuk lesi kulit di punggung.
Tuliskan resep obat topikal yang akan diberikan pada pasien ini dan jelaskan cara
pemakaiannya

Foto 2.


Contoh resep Krim antijamur dan shampoo antijamur:
Dr .Fitri
Praktik umum
SIP:12/01/2014
Hari/ praktik: Senin- Jumat
Jam praktik: 16.00-18.00
Alamat:Jln Patimura No :1
Telp.: 12345
-------------------------------------------------------------------------
Padang, 5 Agustus 2016

R/ Ketokonazol shampo fls No I


Suc

R/ Mikonazol 2% krim 5 g tube No I


S b d d applic loc dol

Pro : Dedi
Umur: 38 thn
Alamat : Jln.Jati 1 No.1 Padang

Persiapan alat dan bahan


1. Krim antijamur (krim miconazole 2%)
2. Sampo antijamur (sampo ketoconazole 2%)
3. Cotton bud

Pemakaian shampo Antijamur:


1. Tuangkan shampo ke telapak tangan
2. Campurkan dengan sedikit air
3. Oleskan shampo ketoconazole pada lesi
4. Diamkan selama 5 menit
5. Mandi dan bilas sisa shampo pada lesi
6. Dilakukan dua kali seminggu.


Pemakaian Krim Antijamur:
1. Buka tutup tube krim dengan cara diputar
2. Tusuk lubang kemasan krim dengan tutup tube krim bagian atas
3. Oleskan krim pada lesi kulit dengan menggunakan cotton bud
4. Pengolesan dilebihkan 2 cm dari pinggir lesi
5. Oleskan setelah mandi pagi dan mandi sore

Gambar 4. Obat-obatan yang biasa digunakan pada penyakit kulit.

4. OBAT REKTAL
4.1. Suppositoria
1. Cucilah tangan
2. Jika supositoria terlalu lunak, keraskan dulu dengan cara mendinginkannya
(simpan di lemari pendingin atau aliri air kran dingin, berikut kemasannya), baru
kemudian buka kemasannya.
3. Buka kemasan obat (kecuali bila terlalu lunak).
4. Hilangkan bagian- bagian pinggir yang mungkin tajam, dengan menghangatkan
dalam genggaman.
5. Pasang handshcoen.
6. Basahi obat dengan air dingin atau diberi lubrikan.
7. Berbaringlah miring pada satu sisi dan tekuk lutut.
8. Angkat bokong bagian atas untuk mengekspos daerah anus.
9. Secara perlahan- lahan masukkan supositori dengan ujung yang membulat
terlebih dulu sampai seluruh obat masuk melewati sfingter ani.
10. Tetaplah berbaring selama 5 menit.
11. Cucilah tangan.
12. Usahakan agar tidak buang air besar selama 1 jam setelah pemberian obat.


Gambar 5. Cara pemberian obat suppositoria

(American Society of Health-System Pharmacists. 2013)


PROSEDUR KERJA:
1. Tahap Persiapan:
Alat dan bahan:
- Wastafel (foto)
- Kertas resep dan alat tulis
- 1 botol obat tetes telinga
- 1 botol obat tetes mata/tear film
- 1 tube salap mata
- 1 tube salap kulit: krim antibiotika (gentamicin 0,1%)
- Larutan permanganas kalikus 1/10.000
- 1 tube krim antijamur (krim miconazole 2%)
- Sampo antijamur (sampo ketoconazole 2%)
- Kasa steril
- Pinset
- Nierbekken
- Sarung tangan non steril
- Mangkok
- Cotton bud

2. Tahap Pelaksanaan
Mahasiswa dilatih untuk melakukan ketrampilan penulisan resep dan pemakaian:
1. Obat tetes mata
2. Salap mata
3. Obat tetes telinga
4. Krim kulit
5. Kompres kulit
Prosedur pemakaian berdasarkan pada teori yang telah disampaikan di atas.

V. PELAKSANAAN KETERAMPILAN KLINIK


Minggu Pertemuan Kegiatan

1 I Pre-test
Instruktur mengingatkan kembali cara penulisan
resep yang benar dan rasional yang telah didapatkan
pada Blok sebelumnya sekaligus mengulas hasil pre-
test.
Instruktur mendemostrasikan penulisan resep obat
topikal dan cara pemakaiannya.
Mahasiswa menulis resep obat topikal dan
menyampaikan cara pemakaiannya.
1 II Mahasiswa menulis resep obat topikal dan
menyampaikan cara pemakaiannya.
2 III Ujian tulis penulisan resep berdasarkan skenario yang


dibuat oleh instruktur.

VI. LEMBAR PENILAIAN


Terlampir

VII. KEPUSTAKAAN
1. De Vries TPGM, Henning RH, Hogerzeil HV, Fresle DF. Guide to good prescribing.
World Health Organization, Geneva; 1994. WHO/DAP/94.11. Diakses
dari:http://www.med.rug.nl/pharma/who-cc/ggp/homepage.htm.
2. Nanizar Zaman-Joenoes. Ars Prescribendi Resep yang Rasional Edisi 2. Airlangga
University Press, Surabaya; 2001.
3. Buku Ajar Farmakologi Universitas Indonesia.
4. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), Departemen Kesehatan Republik Indonesia;
2008.
5. Buku Panduan Praktek Klinik di Fasilitas Pelayanan Primer. Diakses dari:
http://www.idionline.org/wp-content/uploads/2015/01/Buku-Panduan-Praktik-Klinis-Bagi-Dokter
-di-Fasilitas-Pelayanan-Kesehatan-Primer.edit-min.pdf

6. American Society of Health-System Pharmacists. 2013. Diakses dari:


http://www.safemedication.com/safemed/MedicationTipsTools/HowtoAdminister/Howt
oUseRectalSuppositoriesProperly.
7. Aliska G. Berbagai faktor yang mempengaruhi pemberian obat topical.
2015.MDVI;42(1): 38-46.


Lampiran 1 Tabel potensi kortikosteroid topikal

Beber apa contoh ster oid yang ser ing digunakan di Indonesia ber dasarkan
potensinya antar a lain: klobetasol pr opionat 0,05% (kr im/ salep) ~ betametason
dipr opr ionat 0,05% (salep) > betametason dipr opr ionat 0,05% (kr im) ~
tr iamsinolon asetonide 0,5%(kr im/ salep) > desoksimetason 0,05% (kr im) ~
betametason valer at (kr im) ~ fluosinolon asetonid 0,025% (kr im/ salep) ~
mometason fur oat 0,1% (kr im/ salep) > hidr okor tison 2,5% > hidr okor tison 1%.


Lampiran 2
LEMBAR PENILAIAN
Keterampilan Klinik Penulisan Resep 2 Blok 3.4
Skor
No Aspek yang dinilai
0 1 Nilai
Bobot
I Prescriptio
1. Nama dokter
2. Alamat dokter
3. SIP
4. Hari praktek
5. Jam praktek 1
6. No. telepon
7. Nama kota
8. Tanggal resep ditulis
9. Tanda R/
II Inscriptio
10. Tepat penulisan obat 20
11. Tepat penulisan dosis 20
12. Tepat penulisan jumlah 15
13. Tepat penulisan BSO 15
III Signatura
14. Tepat penulisan signa 15
15. Nama dan umur penderita 1
16. Alamat penderita 1
IV Subscriptio
17. Tandatangan/paraf dokter 1
V Tulisan dapat dibaca tanpa keraguan 1
VI Menjelaskan cara penggunaan obat ke
pasien
10
TOTAL NILAI
Keterangan:
Skor 0 = Tidak ditulis atau dilakukan sama sekali/dilakukan dgn kesalahan
Skor 1 = Ditulis/dilakukan dengan benar

NILAI = Total nilai = . Padang, .2017


Instruktur,