Anda di halaman 1dari 5

Prinsip kerja reaktor cstr

Reaktor ini termasuk sistem reaktor kontinyu untuk reaksireaksi sederhana.


Berbeda dengan sistem operasi batch di mana selama reaksi berlangsung tidak ada
aliran yang masuk atau meningggalkan sistem secara berkesinambungan, maka di
dalam reaktor alir (kontinyu), baik umpam maupun produk akan mengalir secara terus
menerus. Sistem seperti ini memungkinkan kita untuk bekerja pada suatu keadaan
dimana operasi berjalan secara keseluruhan daripadab sistem berada dalam kondisi
stasioner. Ini berarti bahwa baik aliran yang masuk , aliran keluar maupun kondisi
operasi reaksi di dalam reaktor tidak lagi berubah oleh waktu. Pengertian waktu reaksi
tidak lagi sama dengan lamanya operasi berlangsung, tetapi akivalen dengan lamanya
reaktan berada di dalam reaktor. Penyataan terakhir ini biasa disebut waktu tinggal
campuran di dalam reaktor, yang besarnya ditentukan oleh laju alir campuran yang
lewat serta volume reaktor di mana reaksi berlangsung.
Reaktor tipe ini bisa terdiri dari satu tangki atau lebih. Biasanya tangkitangki
ini dipasang vertikal dengan pengadukan sempurna. Pengadukan pada masing-masing
tangki dilakukan secara kontinu sehingga diperoleh suatu keadaan di mana komposisi
campuran di dalam reaktor benar-benar seragam. Reaktor tangki ini biasanya
digunakan untuk reaksi-reaksi dalam fase cair, untuk reaksi heterogen cair padat
atau reaksi homogen cair- cair dan sebagainya.

Reaktor adalah suatu alat proses tempat di mana terjadinya suatu reaksi berlangsung,
baik itu reaksi kimia atau nuklir dan bukan secara fisika. Reaktor kimia adalah segala
tempat terjadinya reaksi kimia, baik dalam ukuran kecil seperti tabung reaksi sampai
ukuran yang besar seperti reaktor skala industri. Reaktor CSTR beroperasi pada
kondisi steady state dan mudah dalam kontrol temperatur, tetapi waktu tinggal reaktan
dalam reaktor ditentukan oleh laju alir dari feed masuk dan keluar, maka waktu
tinggal sangat terbatas sehingga sulit mencapai konversi reaktan per volume reaktor
yang tinggi, karena dibutuhkan reaktor dengan volume yang sangat besar (Smith, 198:
325).
Ada dua model teoritis paling populer yang digunakan dalam pereaksian kimia yang
beroperasi dalam keadaan tunak (steady-state), yaitu CSTR (Continuos Stirred Tank
Reactor) dan plug Flow Reaktor (PFR). Perbedaannya adalah pada dasar asumsi
konsentrasi komponen-komponen yang terlibat dalam reaksi. CSTR merupakan
reaktor model berupa tangki berpengaduk dan diasumsikan pengaduk yang bekerja
dalam tangki sangat sempurna sehingga konsentrasi tiap komponen dalam reaktor
seragam sebesar konsentrasi aliran konsentrasi tiap komponen dalam reaktor seragam
sebesar konsentrasi aliran yang keluar dari reaktor. Model ini biasanya digunakan
pada reaksi homogen di mana semua bahan baku dan katalis cair (Nauman, 2002: 23).
Reaktor industri kimia merupakan peralatan yang komplek dalam transfer panas,
transfer massa, difusi dan friksi yang mungkin ditemui selama reaksi kimia, ini harus
dijaga dan terkontrol. Continous stirred tank reactor sering digunakan secara multiply
dan secara seri. Reaktan secara terus-menerus dimasukkan ke dalam vessel pertama
dan overflow diantara masing-masing saat terjadi pencampuran dalam masing-masing
vessel. Biasanya komposisi uniform dalam individual vessel, tapi ada gradient
konsentrasi dalam sistem secara keseluruhan (Perry, 1999: 23-4).
Keberhasilan operasi suatu proses pengolahan sangat bergantung pada aktifnya
pengadukan dan pencampuran zat cair dalam proses itu. Istilah pengadukan dan
pencampuran sebetulnya tidak sama satu sama lain. Pengadukan (agitator)
menunjukkan gerakan yang tereduksi menurut cara tertentu. Pada suatu bahan
didalam bejana, dimana gerakan ini biasanya mempunyai semacam pola sirkulasi.
Pencampuran (mixing) ialah peristiwa menyebarnya bahan secara acak, dimana bahan
yang satu menyebar kedalam bahan yang lain dan sebaliknya, sedang bahan-bahan itu
terpisah dalam dua fase atau lebih. Istilah pencampuran digunakan untuk berbagai
ragam operasi, dimana derajat homogenitas bahan yang bercampur tersebut sangat
berbeda-beda. Tujuan dari pengadukan antara lain adalah untuk membuat suspensi
partikel zat padat, untuk meramu zat cair yang mampu bercampur (miscible), untuk
menyebar (dispersi) gas di dalam zat cair yang lain, sehingga membentuk emulsi atau
suspensi butiran-butiran halus, dan untuk mempercepat perpindahan kalor antara zat
cair dengan kumparan atau material kalor. Kadang-kadang pengaduk digunakan untuk
beberapa tujuan sekaligus, misal dalam hidrogenasi katalitik pada zat cair. Dalam
bejana hidrogenasi gas hidrogen didispersikan melalui zat cair dimana terdapat
partikel-partikel katalis padat dalam keadaan suspensi, sementara kalor dikeluarkan
melalui kumparan atau mantel (McCabe, 2003: 251).
Reaktor tangki berpengaduk yang ideal beroperasi secara isotermal pada kecepatan
alir yang konstan. Bagaimanapun kesetimbangan energi diperlukan untuk
memprediksi temperatur agar konstan pada saat panas dari reaksi cukup (atau
pertukaran panas antara lingkungan dengan reaktor tidak mencukupi) untuk membuat
perbedaan antara suhu umpan dengan reaktor. Tangki berpengaduk dapat memberikan
pilihan yang lebih baik atau bahkan lebih buruk daripada tubular flow unit pada
sistem reaksi ganda. Biasanya hal terpenting adalah nilai relatif atau energi aktivas
(Smith,1981: 327).
Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR) bisa berbentuk dalam tanki satu atau lebih
dari satu dalam bentuk seri. Reaktor ini digunakan untuk reaksi fase cair dan biasanya
digunakan dalam industri kimia organik. Keuntungan dari reaktor ini adalah kualitas
produk yang bagus, kontrol yang otomatis dan tidak banyak membutuhkan banyak
tenaga operator. Karakteristik dari reaktor jenis ini adalah beroperasi pada kondisi
steady state dengan aliran reaktan dan produk secara kontinu. Continuous Stirred
Tank Reactor (CSTR) adalah reaktor yang dirancang untuk mempelajari proses-proses
pening dalam ilmu kimia. Reaktor jenis ini merupakan salah satu dari 3 tipe reaktor
yang bisa bersifat interchangble pada unit service reaktor (CEX Mk II). Reaksi
dimonitor oleh probe konduktivitas sebagai konduktivitas dari larutan yang berubah
dengan konversi dari reaktan menjadi produk. Artinya, ini merupakan proses titrasi
yang tidak akurat dan tidak efisien di mana ini digunakan untuk memonitor
perkembangan reaksi yang tidak begitu penting.
Coil stainless didalam reaktor CSTR berguna sebagai pemindah panas permukaan
untuk memanaskan tau mendinginkan reaktan kimia. Coil itu dihubungkan untuk
memanaskan sirkulator air atau disebut juga CW-16 chiller. Coil inlet ini berada pada
posisi didepan reaktor dan return reaktor itu berada pada bagian belakang dari reaktor.
Agitator (pengaduk) turbin bekerja pada sambungan dengan mengatur baffle (suatu
alat untuk mencegah aliran) untuk menghasilkan pengadukan dan perpindahan panas
yang sempurna. Agitator ini bekerja dengan menggunakan motor listrik yang ditaruh
pada penutup reaktor. Motor ini dijalankan dengan variable speed unit yang ditaruh
didepan sevice unit. Tombol untuk plug motor listrik ini diletakkan pada bagian
belakang service unit .
Agitator (pengaduk) biasanya juga digunakan untuk beberapa tujuan sekaligus,
misalnya dalam hidrogenasi katalitik pada zat cair. Dalam bejana hidrogenasi, gas
hidrogen didispersikan melalui zat cair dimana terdapat pertikel-partikel katalis padat
dalam keadaan suspensi, sementara kalor reaksi diangkut keluar melalui kumparan
atau mantel (McCabe, 2003: 253).
Dengan reaksi sebagai berikut :
NaOH + CH3COOC2H5 CH3COONa + C2H5OH
Reaksi ini terjadi berasarkan persamaan molar dan reaksi order pertama yang
bergantung kepada larutan Na hidroksida dan etil asetat. Konsentrasi yang digunakan
berkisar antara 0 sampai 0.1 M dengan temperature berkisar 20-40o C. Reaksi ini
berlangsung dalam reaktor CSTR atau reaktor tubular yang bisa mencapai keadaan
steady state ketika konversi dan konsentrasi reagen telah tercapai. Keadaan steady
state akan bervariasi berdasarkan konsentrasi reagen, flowrate, dan volume reaktor
secara temperature reaksi. Kecepatan reaksi dihitung dengan mengonversikan reaktan
menjadi produk dalam waktu tertentu. Agar reaksi bisa terjadi, partikel dari reaktan-
reaktan tersebut harus berkontak agar menghasilkan suatu interaksi. Kecepatan reaksi
bergantung pada frekuensi tumbukan dan efffisiensi tumbukan partikel dari larutan
yang bereaksi. Faktor-faktor ini didukung dengan pengadukan reaktan dengan
menggunakan stirred (pengaduk) dan baffle di dalam reaktor. Pengadukan yang tidak
sempurna akan menghasilkan kecepatan reaksi yang kurang pula. Berdasarkan reaksi
antara NaOH dan etil asetat, jika konsentrasi awal dari kedua larutan tersebut sama
(ao) dan konversi (xa) maka konsentrasi dari masing-masing larutan adalah:
NaOH + CH3COOC2H5 C2H5OH + CH3COONa
(ao - xa) (ao - xa) (xa) (xa)

RATB adalah salah satu reaktor ideal yang berbentuk tangki alir berpengaduk atau
suatu reaktor yang paling sederhana terdiri dari suatu tangki untuk reaksi yang
menyederhanakan liquid. RATB sering disebut juga dengan Continuousn stirred Tank
Reactor (CSTR) atau Mixed Flow Reactor. RATB digunakan untuk reaksi cair dan
dijalankan secara batch ,semi batch/ kontinyu. RATB sering atau biasa digunakan
untuk reaksi homogen (reaksi yang berlangsung dalam satu fase saja). Contoh:
Cair-cair
Gas-gas
Untuk reaksi fase gas (nonkatalitik) reaksinya berlangsung cepat tetapi untuk reaksi
pada fase ini akan mudah terjadi kebocoran sehingga dinding reaktor harus dibuat
tebal. Contohnya: pada reaksi pembakaran, untuk reaksi fase cair (katalitik) reaksinya
berlangsung dalam sistem koloid. RATB banyak dipakai pada industri kimia dapat
dipakai satu atau lebih dan bisa disusun secara seri. Pada RATB kecepatan volumetrik
umpan yang masuk sama dengan kecepatan volumetrik hasil (produk) yang keluar
sehingga kecepatan akumulasinya sama dengan nol. Adanya pengadukan yang
sempurna menyebabkan komposisi di dalam reaktor sama dengan komposisi yang
keluar dari reaktor, begitu pula dengan parameter lain, seperti: kosentrasi, konversi
reaksi, dan kecepatan reaksi.
Pada RATB prosesnya berlangsung secara kontinyu, pengadukan adalah yang
terpenting dalam reaktor ini karena dengan pengadukan menjadikan reaksinya
menjadi homogen. Di RATB, satu atau lebih reaktan masuk ke dalam suatu bejana
berpengaduk dan bersamaan dengan itu sejumlah yang sama (produk) dikeluarkan
dari reaktor. Pengaduk dirancang sehingga campuran teraduk dengan sempurna dan
diharapkan reaksi berlangsung secara optimal. Waktu tinggal dapat diketahui dengan
membagi volum reaktor dengan kecepatan volumetrik cairan yang masuk reaktor.
Dengan perhitungan kinetika reaksi, konversi suatu reaktor dapat diketahui.
Beberapa hal penting mengenai RATB:
Reaktor berlangsung secara ajeg, sehingga jumlah yang masuk setara dengan jumlah
yang ke luar reaktor, jika tidak tentu reaktor akan berkurang atau bertambah isinya.
Perhitungan RATB mengasumsikan pengadukan terjadi secara sempurna sehingga
semua titik dalam reaktor memiliki komposisi yang sama. Dengan asumsi ini,
komposisi keluar reaktor selalu sama dengan bahan di dalam reaktor.
Seringkali, untuk menghemat digunakan banyak reaktor yang disusun secara seri
daripada menggunakan reaktor tunggal yang besar. Sehingga reaktor yang di belakang
akan memiliki komposisi produk yang lebih besar dibanding di depannya.

Konfigurasi Reaktor Alir Tangki Berpengaduk


Reaktor Tangki Alir Berpengaduk atau yang biasa dikenal sebagai Continuous Stirred
Tank Reactor (CSTR) merupakan jenis reaktor dengan model berupa tangki
berpengaduk dan diasumsikan pengaduk yang bekerja dalam tangki sangat sempurna
sehingga konsentrasi tiap komponen dalam reaktor seragam sebesar konsentrasi aliran
yang keluar dari reaktor. Reaktor jenis ini merupakan reaktor yang umum digunakan
dalam suatu industri. Dalam operasinya, reaktor ini sering digunakan dalam jumlah
lebih dari satu dengan rangkaian reaktor disusun secara seri maupun paralel.
Pemilihan susunan rangkaian reaktor dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan,
tergantung keperluan dan maksud dari operasinya. Masing-masing rangkaian
memiliki kelebihan dan kekurangan, karena di dunia ini tidak ada yang sempurna.
Semua yang ada didunia ini saling melengkapi satu sama lainnya. Secara umum,
rangkaian reaktor yang disusun secara seri itu lebih baik dibanding secara paralel.
Setidaknya ada 2 sisi yang dapat menjelaskan kenapa rangkaian reaktor secara seri itu
lebih baik. Pertama, ditinjau dari konversi reaksi yang dihasilkan dan yang kedua
ditinjau dari sisi ekonomisnya.
Pertama, ditinjau dari konversi reaksinya. Feed yang masuk ke reaktor pertama dalam
suatu rangkaian reaktor susunan seri akan bereaksi membentuk produk yang mana
pada saat pertama ini masih banyak reaktan yang belum bereaksi membentuk produk
di reaktor pertama, sehingga reaktor selanjutnya berfungsi untuk mereaksikan kembali
reaktan yang belum bereaksi dan seterusnya sampai mendapatkan konversi yang
optimum. Secara sederhana, reaksi yang berlangsung itu dapat dikatakan berkali-kali
sampai konversinya optimum. Konversi yang optimum merupakan maksud dari suatu
proses produksi. Sementara itu jika dengan reaktor susunan paralel, dengan jumlah
feed yang sama, maka reaksi yang terjadi itu hanya sekali sehingga dimungkinkan
masih banyak reaktan yang belum bereaksi. Walaupun pada outletnya nanti akan
dijumlahkan dari masing-masing reaktor, namun tetap saja konversinya lebih kecil,
sebagai akibat dari reaksi yang hanya terjadi satu kali.
Kedua, tinjauan ekonomisnya. Dalam pengadaan alat yang lain, misal jika seri hanya
memerlukan satu wadah untuk bahan baku (baik dari beton ataupun stainless steel),
dan konveyor yang digunakan juga cukup satu. Namun jika paralel mungkin
memerlukan wadah lebih dari satu ataupun konveyor yang lebih dari satu untuk
memasukkan feed ke masing-masing reaktor. Konsekuensi yang lain dari suatu
reaktor rangkain paralel adalah karena masih ada reaktan yang banyak belum bereaksi
maka dibutuhkanlah suatu recycle yang berakibat pada bertambahnya alat untuk
menampungnya, sehingga lebih mahal untuk mendapatkan konversi yang lebih besar
Salah satu kerugian dari penggunaan reaktor tangki (CSTR) adalah bahwa reaksi
berlangsung pada konsentrasi yang realtif rendah, yaitu sama dengan konsentrasi di
dalam campuran yang meninggalkan reaktor. Akibatnya untuk reaksi-reaksi berorde
positif volume reaktor yang diperlukan menjadi besar. Salah satu cara untuk
menghindari kerugian ini adalah dengan mempergunakan beberapa reaktor tangki
yang dipasang seri, sehingga konsentrasi reaktan tidak turun secara drastis tetapi
bertahap dari satu tangki ke tangki yang berikutnya.