Anda di halaman 1dari 10

BAB II

ELECTROSTATIC PRECIPITATOR

2.1. Electrostatic Precipitator: Teknologi Mengendalikan Polusi Abu (Fly Ash)

Figure 1. Bentuk Umum ESP

Abu adalah material padat yang tersisa setelah terjadinya proses pembakaran. Dalam
jumlah banyak, abu menjadi salah satu polutan yang sangat berbahaya jika bercampur dengan
atmosfer. Salah satu penghasil polusi abu yang cukup tinggi adalah boiler. Setiap boiler yang
menggunakan bahan bakar fosil (kecuali gas alam) pasti menghasilkan emisi abu. Bahan bakar
fosil yang paling banyak mengandung abu adalah batubara. Kandungan abu di dalam batubara
berkisar antara 5-30% tergantung dari jenisnya serta proses penambangannya.
Ada dua jenis abu yang dihasilkan dari pembakaran batubara di dalam boiler, yakni fly
ash dan bottom ash. Fly ash adalah abu yang berukuran cukup kecil, sehingga ia bercampur
dengan gas-gas hasil pembakaran (flue gas) dan akan keluar melalui cerobong asap boiler.
Sebagian dari abu yang dihasilkan dari proses pembakaran akan menempel pada dinding-dinding
pipa boiler, terakumulasi, memadat, dan suatu saat ia akan jatuh ke bagian bawah boiler. Abu
yang jatuh ini dikenal dengan sebutan bottom ash. Kuantitas terbentuknya kedua jenis abu ini
tergantung dari jenis batubara yang digunakan, serta jenis boiler itu sendiri.
Boiler yang menggunakan pulverizer batubara, 70-90% abu akan keluar bersamaan
dengan gas buang dan sisanya berupa bottom ash. Boiler kecil berjenis stoker-fired, 40% abu
akan keluar sebagai fly ash. Pada boiler dengan tipe pembakaran tangensial, akan menghasilkan
fly ash hanya 15-40% dari keseluruhan abu. Sedangkan boiler yang menggunakan sistem
fluidized-bed, keseluruhan abu akan ikut terbawa oleh flue gas tanpa terjadi pembentukan
bottom ash. Jenis boiler yang digunakan juga mempengaruhi bentuk serta ukuran dari abu yang
dihasilkan boiler. Boiler dengan pulverizer menghasilkan abu yang halus dengan ukuran 7-12
mikron. Pada boiler dengan metode pembakaran tangensial, akan dihasilkan bentuk abu yang
bulat. Boiler tipe stoker-fired akan menghasilkan abu dengan ukuran yang paling besar jika
dibandingkan dengan boiler tipe lain.
Berdasarkan penelitian, komponen abu boiler tersusun atas berbagai senyawa oksida
beracun diantaranya silikon oksida, titanium oksida, ferit oksida, aluminium oksida, kalsium
oksida, magnesium oksida, sodium oksida, potasium oksida, sulfur trioksida, difosfor pentoksida,
serta beberapa senyawa lain. Proporsi jumlah dari senyawa-senyawa penyusun abu dapat
bervariasi tergantung dari jenis dan lokasi penambangan batubara yang digunakan. ll

2.2. Abu yang dihasilkan dari Boiler dengan Pulverized Fuel; Pembesaran 1000x

Figure 2. Abu

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 30 Tahun 2009, fly ash atau abu
yang dihasilkan oleh proses pembakaran dari boiler, dikategorikan sebagai Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3). Sehingga penanganan abu ini harus sesuai dengan regulasi pemerintah agar tidak
mencemari lingkungan. Ada beberapa teknologi yang dapat digunakan untuk mengontrol emisi
fly ash yang dihasilkan dari proses pembakaran boiler. Alat pengontrol emisi abu ini bertugas
untuk menghilangkan kandungan abu dari gas buang boiler, menjaga abu tersebut agar tidak
masuk kembali bercampur dengan udara pembakaran, serta mengontrol proses pembuangannya
agar sesuai dengan peraturan daerah yang berlaku. Ada beberapa jenis teknologi yang dapat
digunakan untuk mengontrol fly ash, diantaranya adalah electrostatic precipitator, sistem filter,
kolektor abu mekanik, dan venturi scrubbers. Masing-masing jenis teknologi tersebut memiliki
ciri khas dan fungsi sendiri-sendiri. Namun yang paling umum digunakan pada boiler di dunia
industri adalah electrostatic precipitator (ESP) tipe kering. Teknologi ini akan menjadi fokus
pembahasan pada kesempatan kali ini.

2.3. Electrostatic Precipitator

Figure 3. Bagian ESP

Electrostatic adalah sebuah fenomena listrik dimana muatan listrik berpindah dari satu
potensial tinggi ke potensial rendah tanpa adanya bagian yang bergerak 'bandingkan dengan
generator(. Sedangakan Precipitator adalah alat yang digunakanuntuk mengendapkan sesuatu.
3adi terjemahan bebas !lectrostatic Precipitator adalahalat yang digunakan untuk mengendapkan
debu/partikel padat dengan meman"aatkan prinsip elektrostatis. !lectroStatic Precipitator '!SP(
adalah salah satu alternati" penangkap debu dengan efisiensi tinggi 'mencapai diatas 4 5( dan
rentang partikelyang didapat cukup besar. engan menggunakan electro static precipitator '!SP(
ini, jumlah limbah debu yang keluar dari cerobong diharapkan hanya sekitar ,+6 5'e"ekti"itas
penangkapan debu mencapai 44,785%
Electrostatic Precipitator (ESP) adalah sebuah teknologi untuk menangkap abu hasil
proses pembakaran dengan jalan memberi muatan listrik padanya. Prinsip kerja ESP yaitu
dengan memberi muatan negatif kepada abu-abu tersebut melalui beberapa elektroda (biasa
disebut discharge electrode). Jika abu tersebut dilewatkan lebih lanjut ke dalam sebuah kolom
yang terbuat dari plat yang memiliki muatan lebih positif (biasa disebut collecting electrode),
maka secara alami abu tersebut akan tertarik oleh plat-plat tersebut. Setelah abu terakumulasi
pada plat tersebut, sebuah sistem rapper khusus akan membuat abu tersebut jatuh ke bawah dan
keluar dari sistem ESP. Untuk lebih jelasnya, silahkan Anda perhatikan ilustrasi sistem ESP
berikut ini.

2.4. Prinsip Kerja Electrostatic Precipitators

Figure 4. Prinsip kerja ESP

Proses-proses yang terjadi pada ESP sehingga abu (fly ash) dapat terkumpul adalah
sebagai berikut:
1. Charging.
ESP menggunakan listrik DC sebagai sumber dayanya, dimana Collecting Electrode (CE)
terhubung dengan kutub positif dan ter-grounding, sedangkan untuk Discharge Electrode
terhubung dengan kutub negatif yang bertegangan 55-85 kilovolt DC. Medan listrik terbentuk
diantara DE dan CE, pada kondisi ini timbul fenomena korona listrik yang berpendar pada sisi
DE. Pada saat gas buang batubara melewati medan listrik ini, fly ash akan terkena muatan
negatif yang dipancarkan oleh kutub negatif pada DE. Proses pemberian muatan negatif pada abu
tersebut dapat terjadi secara difusi atau induksi, tergantung dari ukuran abu tersebut. Beberapa
partikel abu akan sulit dikenai muatan negatif sehingga membutuhkan medan listrik yang lebih
besar. Ada pula partikel yang sangat mudah dikenai muatan negatif, namun muatan negatifnya
juga mudah terlepas, sehingga memerlukan proses charging kembali.
2. Pengumpulan.
Abu yang sudah bermuatan negatif, akan tertarik untuk menuju ke CE atau bergerak
menurut aliran gas yang ada. Kecepatan aliran gas buang mempengaruhi proses pengumpulan
abu pada CE. Kecepatan aliran gas yang rendah akan memperlambat gerakan abu untuk menuju
CE. Sehingga umumnya desain ESP biasanya digunakan beberapa seri CE dan DE yang diatur
sedemikian rupa sehingga semua abu yang terkandung di dalam gas buang boiler dapat
tertangkap.
3. Rapping.
Lapisan abu yang terkumpul pada permukaan CE harus secara periodik dirontokan.
Metode yang paling umum digunakan adalah dengan jalan memukul bagian CE dengan sebuah
sistem mekanis. Sistem rapper mekanis ini terdiri dari sebuah hammer, motor penggerak, serta
sistem gearbox sederhana yang dapat mengatur gerakan memukul agar terjadi secara periodik.
Sistem rapper tidak hanya terpasang pada sisi CE, pada DE juga terdapat sistem rapper. Hal ini
karena ada sebagian kecil dari abu yang akan bermuatan positif karena ia ter-charging oleh CE
yang bermuatan positif. Abu yang rontok dari CE akan jatuh dan terkumpul di hopper yang
terletak di bawah sistem CE dan DE.
4. Hopper
ini harus didesain dengan baik agar abu yang sudah terkumpul tidak masuk kembali ke
dalam kompartemen ESP. Selanjutnya dengan menggunakan udara bertekanan, kumpulan abu
tersebut dipindahkan melewati pipa-pipa ke tempat penampungan yang lebih besar. Gas buang
yang keluar dari boiler mengandung banyak senyawa yang bersifat sangat korosif, jika senyawa-
senyawa tersebut bereaksi dengan uap air yang terkandung di dalam gas buang itu pula. Pada
temperatur rendah uap air hasil pembakaran hidrokarbon batubara dapat terkondensasi dan
bereaksi dengan SO2 atau NOx dan menghasilkan larutan asam yang sangat korosif. Larutan
tersebut jika melewati ESP akan sangat mungkin dapat merusak komponen-komponennya. Maka
pada prakteknya, pengoperasian ESP pada berbagai sistem boiler, baru dinyalakan jika
temperatur gas buang boiler sudah mencapai nilai tertentu. Hal ini bertujuan selain untuk
menghindari bahaya korosi, juga untuk menghindari terjadinya short circuit akibat adanya
senyawa-senyawa asam tersebut.

2.5. Bagian-bagian Electrostatic Precipitators

Secara umum bagian-bagian dari Electrostatic Precipitators (ESP) adalah sebagai berikut:
1. Casing.
Casing dari ESP umumnya terbuat dari baja karbon berjenis ASTM A-36 atau yang
serupa. Casing ini didesain untuk kedap udara sehingga gas buang boiler yang berada di dalam
ESP tidak dapat bocor keluar. Selain itu ia didesain memiliki ruang untuk pemuaian karena pada
operasional normalnya ESP bekerja pada temperatur cukup tinggi. Oleh karena itu pula sisi luar
casing ini dipasang insulator tahan panas demi keselamatan kerja. Discharge electrode dan
collecting electrode didesain menggantung dengan sisi support (penyangga) berada pada sisi
casing bagian atas. Dan pada sisi samping casing terdapat pintu akses masuk untuk keperluan
perawatan sisi dalam ESP.
2. Hopper.
Hopper terbuat dari bahan yang sama dengan casing. Ia berbentuk seperti piramida yang
terbalik dan terpasang pada sisi bawah ESP. Hopper berfungsi sebagai tempat berkumpulnya abu
fly ash yang dijatuhkan dari collecting electrode dan discharge electrode. Abu hanya sementara
berada di dalam hopper, karena selanjutnya ia akan dipindahkan menggunakan sebuah sistem
transport khusus ke tempat penampungan yang lebih besar. Namun, hopper ini didesain untuk
mampu menyimpan abu sedikit lebih lama apabila terjadi kerusakan pada sistem transport fly ash
yang ada di bawahnya.
3. Collecting Electrode.
Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, CE menjadi tempat terkumpulnya abu
bermuatan negatif sebelum jatuh ke hopper. Jarak antar CE pada sebuah ESP didesain cukup
dekat yakni 305-406 mm dengan kedua sisi plat (depan-belakang) yang sama-sama berfungsi
untuk menangkap abu. CE dibuat dari plat yang didukung dengan baja penyangga untuk menjaga
kekakuannya. Ia dipasang dengan suppot yang berada di atas dan menggantung pada casing
bagian atas. Untuk mendapatkan medan listrik yang seragam pada CE, serta untuk meminimalisir
terjadinya loncatan bunga api elektron, maka CE harus dipasang dengan ketelitian yang sangat
tinggi.
4. Discharge Electrode.
DE menjadi komponen paling penting di ESP. DE terhubung dengan sumber tegangan
DC tinggi hingga berpendar menciptakan korona listrik. Ia berfungsi untuk men-charging abu
sehingga abu menjadi bermuatan negatif. DE dipasang pada tiap tengah-tengah CE dengan jarak
152-203 mm tergantung jarak antar CE yang digunakan. Untuk mencegah short circuit,
pemasangan DE harus dipasang juga insulasi yang memisahkan DE dengan casing dan CE yang
bermuatan netral. DE merupakan Sistem Kontrol Aliran Gas Buang. Efisiensi ESP sangat
tergantung dengan distribusi aliran gas buang boiler yang melintasinya. Semakin merata
pendistribusian gas buang tersebut ke seluruh kolom CE dan DE, maka akan semakin tinggi
angka efisiensi ESP. Oleh karena itu dipasang sebuah sistem vane atau sudu pada sisi masuk gas
buang ke ESP agar gas tersebut dapat lebih merata didistribusikan ke setiap kolom.

Figure 5. Discharge Electrode

5. Rapper.
Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, sistem rapper berfungsi untuk menjatuhkan abu
yang terkumpul pada permukaan CE ataupun DE agar jatuh ke hopper. Biasanya motor
penggerak rapper terletak di bagian atas ESP, dan dihubungkan ke bagian pemukul dengan
sebuah poros yang terinsulasi untuk menghindari short circuit.
6. Sumber Energi Listrik.

Alat yang berfungsi untuk men-supply energi listrik ke sistem ESP disebut dengan
Transformer Rectifier (TR). Sumber energi listrik berasal dari listrik AC bertegangan 480 Volt,
yang ditingkatkan menjadi 55.000 sampai 75.000 Volt sebelum diubah menjadi tegangan DC
negatif yang akan dihubungkan dengan discharge electrode. Karena secara elektris ESP
merupakan beban kapasitif, maka sumber tegangannya didesain untuk menahan beban kapasitif
tersebut. Selain itu, sumber tegangan ini didesain harus tahan terhadap gangguan arus yang
terjadi akibat adanya loncatan listrik (sparking) dari abu fly ash.

2.6. Mekanisme ElectroStatic Precipitator

Mekanisme dari electro static precipitator (ESP) adalah (1) melewatkan gas buang (flue
gas) melalui suatu medan listrik yang terbentuk antara discharge electrode dengan collector
plate, flue gas yang mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat
melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi sehingga partikel debu tersebut
menjadi bermuatan negatif (-). (2) Partikel debu yang sekarang bermuatan negatif (-) kemudian
menempel pada pelat-pelat pengumpul (collector plate), lihat gambar . Debu yang dikumpulkan
di collector plate dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate melalui suatu getaran
(rapping). Debu ini kemudian jatuh ke bak penampung (ash hopper), lihat gambar 1 dan 2, dan
ditransport (dipindahkan) ke fly ash silo dengan cara di vakum atau dihembuskan.

2.7. Kelebihan dan Kekurangan Electrostatic Precipitator


Kelebihan ESP
Memiliki biaya operasi yang rendah kecuali hendak mencapai efisiensi yangtinggi.
Efsiensi sangat tinggi untuk partikel yang berukuran sangat kecil.
Dapat mengatasi volume gas yang tinggi dengan penurunan tekanan yangrendah.
Dapat melakukan dry colection untuk material yang akan digunakan
Kekurangan ESP
Harganya mahal.
Tidak dapat mengontrol emisi gas.
Sangat tidak fleksibel untuk berubah sesuai kondisi operasional.
Memerlukan tempat yang luas.
Tidak bekerja pada partikulat dengan resistivitas elektrikal yang tinggi.

2.7. komponen Electrostatic Precipitator


Berikut adalah komponen pada Electrostatic Precipitator :
Roof
High Voltage Transformer-Rectifier Unit
Manhole
Discharge Electrode Rapping Motor
Outlet Nozzle
Manhole
Collecting Electrode
Internal Walkway
Discharge Electrode
Collecting Electrode Rapping Motor
Hopper
Partition Plate of Hopper
Thermal Insulation
Inlet Nozzle
Gas Distribution Screen
Discharge Electrode Support Insulator\
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Electrostatic Precipitator adalah alat yang digunakan untuk menangkap partikel-partikel
(mis: debu) dengan menggunakan prinsip electrostatic
jenis-jenis electrostatic precipitation adalah negatively charged dry
precipitators,positively charged two-stage precipitators,negatively charged wetted-wall
precipitator.
Teknik yang digunakan adalah dengan menjebak partikel halus menggunakan listrik
bertegangan tinggi dan menampungnya di wadah khusus
Prinsip kerja presipitator adalah Presipitator difungsikan dengan memberikan muatan
listrik pada partikel.,Partikel yang telah bermutan listrik tersebut selanjutnya dilewatkan
pada plat yang bermuatan listrik berlawanan dengan partikel sehingga partikel akan
menempel pada plat,Bila partikel yang sudah banyak selanjutnya alat akan digoyang
sehingga partikel yang menempel akan jatuh

3.2 SARAN
Sebaiknya masyarakat lebih memprhatikan kegiatan2 yang menimbulkan pencemaran
udara
Sebaiknya industry menggunakan teknologi tepat guna dalam pengendalian
pencemaran udara yang mempunyai dampak terhadap kesehatan