Anda di halaman 1dari 48

Tugas Agama Islam II

Marifatul Islam dan Al-Quran

Fasilitator
Dr.Makhfudli, S.Kep.Ns.M.Ked.Trop

Disusun oleh (Kelompok 4):


Siti Sholihah 131411131013
Wahyu Dwi Septinengtias 131411131014
Dwida Rizki Pradiptasiwi 131411131015
Lailaturohmah Kurniawati 131411131016
Amalia Fardiana 131411131017
Emha Rafi Pratama 131411131018

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
anugerah-Nya kami bisa menyelesaikan makalah kami yang berjudul Marifatul
Islam dan Al-Quran tepat pada waktu yang telah ditentukan, sebagai tugas
perkelompok untuk mata ajar Agama Islam II ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis telah mendapat bantuan dan


bimbingan dari berbagai pihak baik dalam hal materi maupun moril sehingga
pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa
terima kasih kepada:

1. Makhfudli, S.Kep.,Ns.,M.Ked.Trop selaku fasilitator SGD kelompok 4


2. Teman-teman Angkatan 2014 kelas A2 yang telah memberikan
motivasi dalam penyusunan Tugas Agama II ini yang tidak dapat kami
sebutkan satu persatu.
Kami sadar bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari sempurna,
karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk
menyempurnakan tugas ini menjadi lebih baik lagi.

Demikianlah makalah ini kami buat, semoga makalah ini dapat


memberikan manfaat dan menambah pengetahuan terutama bagi kelompok kami
dan mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Surabaya.

Surabaya, 25 Agustus 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

JUDUL
KATA PENGANTAR.. ii
DAFTAR ISI. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 4
1.2 Rumusan Masalah....... 5
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum. 5
1.3.2 Tujuan Khusus... 5
1.4 Manfaat.. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Marifatul Islam 6


2.1.1 Makna Islam 6
2.1.2 Islam dan Sunatullah .. 8
2.1.3 Sifat Islam ................. 9
2.1.4 Kesempurnaan Islam .. 12
2.1.5 Islam Sebagai Pedoman Hidup .. 15
2.1.6 Islam Sebagai Akhlak .............. 21
2.1.7 Islam Sebagai Fikroh ............... 23
2.1.8 Islam Agama yang Benar ......... 26
2.1.9 Aplikasi Marifatul Islam dalam Proses Keperawatan .... 27
2.2 Marifatul Al-quran. 31
2.2.1 Definisi Al-Quran . 31
2.2.2 Nama-nama Lain Al-Quran .. 33
2.2.3 Konskuensi Iman kepada Al-Quran . 37
2.2.4 Bahaya Melupakan Al-Quran 39
2.2.5 Syarat Mendapat Manfaat Al-Quran . 44
2.2.6 Aplikasi Marifatul Al-Quran dalam keperawatan ......... 45

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 47
3.2 Saran.. 47

DAFTARPUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Marifatullah pada hakikatnya adalah mengenal. Bisa diartikan mengenal
Allah SWT, yaitu mencintai dan meletakkan Allah di kedudukan yang paling
tinggi di antara hal-hal lain. Marifatullah adalah pokok diterimanya amal
perbuatan seseorang ( QS. An - nur : 39 ).
Allah adalah cinta sejati manusia, oleh karenanya kita hendaknya selalu
mengingat Allah kapanpun dan dimanapun kita berada sehingga kita tetap
terjaga dari hal-hal maksiat.Cinta kepada Allah dapat kita lihat dalam kisah
nabi Ibrahim dan nabi Ismail. Keduanya merupakan seorang nabi yang benar-
benar mencintai Allah. Bagaimana tidak, ketika beliau harus mengorbankan
sesuatu yang sangat dicintainya demi Allah Swt. Islam adalah nama agama
yang diturunkan Allah untuk membimbing manusia ke jalan yang benar dan
sesuai fitrah kemanusiaan. Islam diturunkan bukan kepada Nabi Muhammad
saja, tapi diturunkan pula kepada seluruh nabi dan rasul. Sesungguhnya
seluruh nabi dan rasul mengajarkan Islam kepada umatnya.
Islam adalah ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang
diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna
dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ aturan Allah SWT yang
dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan
dunia dan akhirat. Mengenal Islam tentunya juga mengenal ajaran dan dasar
nya salah satunya adalah Al-Quran. Quran Al-Karim merupakan satu-
satunya pedoman hidup yang mampu mengantarkan manusia pada
kebahagiaan hakiki. Ketika manusia mencoba mengupas keagungan Al-
Quran Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui
keagungan dan kebesaran Allah SWT.
Sebagai seorang muslim yang berkerja di bidang kesehatan, sudah
seharusnya kita dapat memahami arti kata Marifatul/Mengenal baik itu
kepada Islam sebagai agama yang benar maupun kepada Al-Quran Karim
sebagai pedoman hidup dalam aktivitas sehari-hari.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Islam dan Al-Quran?
2. Bagaimana Marifatul Islam itu?
3. Bagaimana Marifatul Al-Quran itu?
4. Bagaimana Aplikasi Marifatul Islam dan Al-Quran dalam Keperawatan?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan tentang kepribadian muslim: Marifatul Islam dan Al-
Quran.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi Islam dan Al-Quran.
2. Mahasiswa dapat memahami Marifatul Islam.
3. Mahasiswa dapat memahami Marifatul Al-Quran.
4. Dapat menerapkan aplikasi Marifatul Islam dan Al-Quran
dalam Keperawatan.
1.4 Manfaat
1. Mengenal Islam dan Al-Quran lebih dalam sehingga menambah
kecintaan kita kepada Allah SWT.
2. Lebih bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat terbesar, iman dan
Islam yang telah diberikan pada kita.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. MARIFATUL ISLAM

2.1.1 Makna Islam

Arti Bahasa (Lughawie) Ditinjau dari akarnya, Al Islam berasal


dari kata sa-la-ma berarti selamat atau damai. Di dalam Al Qur'an kata
tersebut kemudian digunakan dengan beberapa tambahan atau perubahan
misalnya :

a. Al- Istislam (berserah diri) Al istislam juga memiliki huruf dasar yang
sama dengan "Islam", yaitu Sin, Lam, dan Mim. Sehingga Al istislam
atau berserah diri merupakan makna lain dari Islam secara bahasa.
Allah SWT berfirman,

"Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah,
padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit
dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada
Allahlah mereka dikembalikan."

"Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku


hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya;
dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah
orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)"
b. Saliim (suci bersih) As-salaamah berarti suci bersih. Di dalam Al
Qur'an dijelaskan bahwa penganut dinul Islam memiliki hati yang
bersih (qalbun salim) saat menghadap kepada Allah Yang Maha Suci.

6
"...kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang
bersih..."
Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang suci dan bersih.
Islam membawa ajaran kesucian dan kebersihan. Suci bersih di sini
adalah dalam segala hal, baik dari segi fisik, akhlaq, pikiran, dan
sebagainya. Dalam hal fisik misalnya Islam mengajarkan penganutnya
agar bersih pakaian dan tempat. Sebelum shalat, kita pun diwajibkan
untuk bersuci dengan berwudhu. Kalaupun tidak ada air, bersuci tetap
diwajibkan, yaitu dengan tayamum. Dalam surat Ash Shaaffaat: 84:

"(lngatlah) ketika ia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati


yang suci
c. Salaam (selamat / sejahtera)

"Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu


datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu
telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya
barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran
kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan
mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang."
d. Al-Salm
As-Silmu bermakna perdamaian. Lafaz As-silmu ini tersirat dalam Al
Quran pada surat Muhammad (47) ayat 35 yang berbunyi:

7
Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di
atas dan Allah pun bersamamu dan Dia sekali-kali tidak akan
mengurangi pahala amal-amalmu.
e. Sullam
Sullam memiliki huruf dasar yang sama dengan Islam, yaitu Sin Lam
dan Mim. Sullam artinya tangga. Istilah Sullam digunakan di beberapa
ayat di Al Qur'an. Contohnya pada surat At-Tur ayat: 38 berikut ini:

"Ataukah mereka mempunyai tangga/sullam (ke langit) untuk


mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah
orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu
keterangan yang nyata."
2.1.2 Islam dan Sunatullah
Sunnatullh adalah sebagai jalan yang dilalui dalam perlakuan
Allah terhadap manusia sesuai dengan tingkah laku, perbuatan dan
sikapnya terhadap syariat Allah dan Nabi-Nya dengan segala implikasi
nilai akhir di di dunia dan akhirat. Kata 'sunnatullah' secara semantic
terdiri dari dua suku kata, yaitu sunnah dan Allah.. Kata sunnah berasal
dari kata sanna yasunnu. Kata dasar sn dan nn, pada mulanya, berarti
sesuatu yang berjalan dan terjadi secara mudah. Seperti sanantu alm'
`lwajh (aku menuangkan/mengalirkan air ke wajahku), sanantu al-tharq
(aku berjalan melalui jalan itu), seakan-akan jalan yang dilalui tersebut
sebegitu mudah.
Jadi, sunnatullh dapat diartikan sebagai cara Allah
memperlakukan manusia, yang dalam arti luasnya bermakna ketetapan-
keteapan atau hukum-hukum Allah yang berlaku untuk alam semesta.
Sebagaimana dijelaskan di dalam surat Al Ikhlas. 1). Katakanlah: "Dia-lah
Allah, yang Maha Esa. 2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-
Nya segala sesuatu. 3). Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. 4).
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." Dan terdapat banyak
sekali nama-nama lain yang merupakan nama yang mengandung sifat-sifat
Tuhan.

8
2.1.3 Sifat Islam
1. Diin Al-Kaamil (Agama yang Sempurna)
Islam sebagai ad-diin yang sempurna telah difirmankan oleh Allah
SWT pada saat-saat terakhir kehidupan Nabi Muhammad SAW. Suatu
tanda Nabi akan meninggal adalah Islam sudah sempurna dan diturunkan
kepada Nabi. Kesempurnaan ini menggambarkan kelengkapan Islam
sebagai agama yang dapat mengatur kehidupan manusia.
Kesempurnaan Islam juga dicirikan kepada kesempurnaan ibadah
dan penyembahan yang tetap yaitu kepada Allah saja. Akidah yang tetap
seperti yang dibawa oleh Nabi dan Rasul menunjukkan bahwa Islam
sebagai asas panduan hidup manusia yang tetap.
Perubahan atau pun perbedaan di antara nabi dan rasul adalah
syariat dan minhaj yang dibawanya. Namun demikian syariah menjadi
tetap setelah masa kenabian Muhammad SAW.
Dalil
a. Al-Quran Al-Maidah: 3 yang berarti Diharamkan bagimu (memakan)
bangkai, darah, dagingb babi, (daging hewan) yang disembelih atas
nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang
ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat
kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang dismebelih
untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak
panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adlaah kefasikan.
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan)
agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan
takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa
karena kelapaean tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
b. Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 133 yang artinya Adakah kamu hadir
ketika Yaqub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata
kepada anak-anaknya: Apa yang kamu sembah sepeninggalku?
Mereka menjawab: Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan

9
nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang
Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.
c. Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 286 yang artinya Allah tidaj
membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia
mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannyan dan ia
mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka
berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan
kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepa
orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri
maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engakulah
penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
2. Diin An-Nimah (Agama Pembawa Kenikmatan)
Allah SWT menurunkan Islam bagi manusia dengan membawa
kenikmatan bagi yang menganut dan memeluknya.
Banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada kita apakah secara
batin ataupun lahir misalnya nikmat ketenangan, kebahagiaan, kedamaian
(batin) dan nikmat akal, mata, telinga, dan lain-lain (nikmat lahir). Selain
itu Allah SWT juga memberikan kenikmatan dengan menyediakan apa
saja yang ada di langit dan di bumi
Nikmat Lainnya adalah fitrahnya manusia. Dengan fitrah ini maka
kenikmatan dapat dirasakan karena sesuai di antara fitrah manusia dan
fitrahnya Islam. Hal ini karena Islam diciptakan hanya bagi kebahagiaan
manusia.
Dalil:
a. Al-Quran surat Al-Luqman ayat 20 yang artinya tidakkah kamu
perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk
(kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan
diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah

10
tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang
memberi penerangan.
b. Al-Quran surat Ar-Rum ayat 30 yang artinya Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak
ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusiaa tidak mengetahui.
c. Hadits Rasullullah SAW bersabda kepada orang-orang Anshar
pada peristiwa perang Hunain, Hai orang-orang Anshar, bukankah
sebelum ini aku dapati kalian berada dalam kesesatan, kemudian
Allah memberi hidayah kepada kamu melalui aku? Bukankah
kamu sebelum ini adalah bercerai berai kemudian Allah
menjadikan kamu bersatu melalui aku? Bukankah kamu sebelum
ini adalah fakir, kemudian Allah memberikan kecukupan
kepadamu melalui aku? Setiap kali Nabi SAW mengajukan
pertanyaan, mereka mengatakan, Allah dan Rasul-Nyalah yang
paling memberi nikmat.
3. Diin Ar-Ridha (Agama yang Membawa Keridhaan)
Islam sebagai ad-diin ridha yang berarti Islam menghendaki
umatnya unuk senang, tidak ragu, dan menerima Islam serta menunjukkan
komitmennya dengan mengorbankan jiwa dan harta.
Keridhaan kita kepada Islam perlu dibuktikan dengan komitmen
seperti baiah (janji) sehingga amal-amal yang dilaksanakan dapat diterima
oleh Allah SWT.
Umat Islam yang ridha kepada Allah akan diridhai juga oleh Allah
SWT, kemudian akan ditempatkan ke dalam surga.
Dalil
a. Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 15 yang artinya Sesungguhnya orang-
orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad
dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-
orang yang benar.

11
b. Al-Quran Surat Al-fath ayat 10 yang artinya Bahwasanya orang-orang
yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia
kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa
yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melenggar janji itu akan
menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinta kepada
Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.
c. Al-Quran Surat Al-Fajr ayat 27-28 yang artinya Hai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
4. Ad-Diin Al-Fithri (Agama Fitrah)
Islam sebagai fitrah memberi arti Islam itu sebagai agama yang
dangat sesuai dengan keperluan dan keadaan manusia. Islam dengan
perintah dan larangannya ditujukan untuk menjaga dan memelihara
potensi fitrag manusia itu sendiri sehingga setiap muslim merasakan
kesesuaian dan keselarasan dalam hidupnya. Contohnya menikah yang
diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya adalah perintah yang sesuai
dengan fitrah manusia. Tanpa Menikah, manusia akan melanggar fitrah
dan merusakkan potensi dirinya. Begitupun akhlak untuk menundukkan
mata dan pemandangan serta menutup aurat adalah fitrah manusia juga.
Dalil : Al-Quran Surat Ar-Rum ayat ke 30 yang artinya Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah).
2.1.4 Kesempurnaan Islam
Siapapun boleh membandingkan dengan penelitian yang
dilakukannya sendiri tentang agama-agama di dunia ini. Jika seorang
peneliti tersebut mau benar-benar objektif, maka bisa dipastikan dia akan
melihat Islam sebagai agama paling sempurna diantara agama-agama
lainnya. Hanya Islam satu-satunya agama yang komprehensif. Dia
mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satupun, dan
sekecil apapun urusan kehidupan manusia dimuka bumi ini yang luput dari
Islam. Kesempurnaannya berarti tidak ada sedikitpun cacat yang terdapat
didalam agama ini. Allah Swt berfirman,

12

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan


telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam
sebagai agama bagimu(Al-Maa-idah: 3)
a) Islam Sempurna dalam Waktu
Islam sempurna karena diturunkan sebagai agama yang berlaku
sepanjang jaman. Sejak manusia pertama yaitu Nabi Adam a.s.
kemudian seluruh nabi-nabi sesudahnya membawa satu misi yang sama
yaitu kalimat tauhid Laa ilaha illallah. Allah Swt berfirman,
dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan
Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak)
melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku. (QS.
Al-Anbiyaa :25). Dan juga Allah Swt menyebut umat Nabi-nabi
terdahulu sebagai muslim dalam firmanNya, (Ikutilah) agama orang
tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang
Muslim dari dahulu, (QS. Al-Hajj :78)
Sampai ketika Rasulullah Saw diutus sebagai Nabi sekaligus
sebagai penutup para Nabi, ajaran beliau berlaku hingga hari kiamat.
Nabi-nabi terdahulu ibarat membawa tongkat estafet yang akhirnya dan
yang terakhir diberikan kepada Muhammad Rasulullah Saw. Seperti
yang dijelaskan Allah Swt dalam firmanNya,Muhammad itu sekali-
kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu., tetapi Dia
adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha
mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab : 40). Dengan
kesempurnaan yang dimiliki, syariat Islam tidak lagi memerlukan
penambahan, pengurangan, ataupun perubahan, atau yang biasa
diistilahkan bidah dalam agama yang telah diperingatkan dengan keras
oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda beliau :
Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah dan sebaik-
baik ajaran adalah ajaran Rasulullah. Dan sesungguhnya sejelek-jelek
perkara adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama), karena

13
sesungguhnya sesuatu yang baru diada-adakan (dalam agama) adalah
bidah dan setiap bidah adalah kesesatan. (HR. Muslim no. 867)
b) Islam Sempurna dalam Tempat
Ajaran Islam adalah ajaran yang langsung bersumber dari Allah
Swt yang menciptakan alam semesta. Maka sebagai Tuhan seluruh
makhluk di alam semesta ini, Allah Swt sajalah yang berhak
mengaturnya. Tidak ada sedikitpun ruang di alam semesta ini yang
tidak terjangkau oleh kekuasaan Allah Swt. (lihat QS. 27: 59-64). Hal
ini berarti Islam bukan agama yang hanya diperuntukkan bagi bangsa
tertentu atau wilayah tertentu saja. Namun Islam adalah agama untuk
seluruh manusia dimanapun mereka berada.
Islam berbeda dengan agama-agama lain. Seperti agama Nasrani
misalnya. Umat Nasrani menganggap Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan dan
mengakui kitab Injil sebagai kitab suci mereka. Padahal Nabi Isa a.s.
bukan Tuhan dan Kitab Injil hanya diperuntukkan bagi Bani Israel saja.
Bukan untuk kaum yang lainnya. Allah Swt berfirman, Sesungguhnya
telah kafirlah orang-orang yang berkata: Sesungguhnya Allah adalah
Al Masih putra Maryam, padahal Al Masih (sendiri) berkata: Hai
Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah
ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun. (QS. Al-
Maaidah : 72). Begitu juga dengan umat Yahudi. Kitab Taurat hanya
diperuntukkan bagi kaum Nabi Musa a.s. saja. Bukan untuk manusia
diseluruh dunia. Maka ketika Nabi Muhammad Saw diutus sebagai
Rasulullah, sekaligus sebagai penutup para Nabi, seluruh umat Yahudi
dan Nasrani seharusnya tunduk dan beriman pada ajaran yang dibawa
oleh Rasulullah Saw. Mereka harus beriman kepada Al-Quran dan
menjadikannya sebagai Kitab yang sempurna dan menyempurnakan
kitab-kitab sebelumnya
c) Islam Sempurna dalam Ajaran

14
Islam memiliki ajaran yang sempurna. Hal-hal kecil dalam
keseharian kita sekalipun diatur dalam Islam. Mulai kita bangun tidur di
pagi hari sampai kita akan tidur lagi dimalam hari, semuanya tidak
lepas dari Islam. Contoh nya, ketika kita masuk ke kamar mandi, Islam
mengajarkan untku berdoa terlebih dahulu, lalu masuk dengan
menggunakan kaki kiri terlebih dahulu, lalu adab melepas pakaian, ke
arah mana ketika buang air, dan masih banyak lagi, sampai bagaimana
adab ketika keluar dari kamar mandi tersebut. Semua tidak lepas dari
ajaran Islam. Sebagian orang menganggap sudah cukup berislam
dengan merasa akidah sudah lurus dan ibadahnya sudah benar sesuai
tuntunan Rasulullah Saw. Namun jika Islam hanya dipahami sebatas
itu, maka berarti orang-orang tersebut memahami Islam secara sempit.
Padahal urusan manusia mencakup peran mereka dalam bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Maka jelas Islam bukan hanya dipahami
sebatas ajaran tentang memurnikan akidah dan bagaimana cara
beribadah yang benar. Ajaran Islam juga mengatur semua bidang-
bidang yang kita temui dalam kehidupan.

Benar, Sungguh kami dilarang menghadap kiblat saat buang air


besar atau kecil, (kami juga dilarang) cebok dengan menggunakan
tangan kanan atau cebok kurang dari 3 batu, atau cebok dengan
kotoran hewan atau tulang. HR. Muslim no.262
2.1.5 Islam Sebagai Pedoman Hidup
Islam menjadi satu-satunya agama yang memberikan konsepsi
yang lengkap dan sempurna tentang seluruh aspek kehidupan (minhajul
hayah). Kelengkapan cakupan aspek kehidupan Islam desebutkan secara
rinci dalam Al Quran, yaitu: keyakinan, moral, tingkah laku, perasaan,
pendidikan, sosial, politik, ekonomi, militer, dan perundang-undangan
1.Keyakinan ( al-itiqodi)

15
Sebagai agama, Islam mengandung konsep keyakinan bahwa
Allah Swt. adalah satu-satunya Tuhan. Dia Mahahidup, Maha Berdiri
Sendiri, tiada mengantuk, dan tidak pula tidur. Sebagai panduan bagi
seorang muslim atas keyakinan ini, Allah menyatakan diri-Nya untuk
diyakini seperti dinyatakan dalam QS Al Baqoroh ayat 255 Allah, tidak
ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi
syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di
hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui
apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah
meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara
keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. yakni keyakinan
tentang Tuhan, nama dan sifatnya; kekuasaan wewenang dan hak-hakNya;
pengawasan-Nya, pembalasan-Nya di dunia dan di akhirat; tentang nabi
dan Rasul; tentang alam ghaib, malaikat, jin, iblis, setan, kehidupan
sesudah mati; alam barzah; kebangkitan; hisab, surga, neraka dan hal-
halghaib lainnya. semua dijelaskan tuntas dalam aqidah Islamiyah
2.Moral akhlak (al-akhlaqi)
Sebagai agama, Islam mengajarkan penganutnya untuk
berkahlak. Yang dimaksud akhlak sendiri dalam Islam adalah Al Quran.
Hal ini seperti dicontohkan Rasulullah saw. Artinya, Al Quran adalah
akhlak Rasulullah saw. yang memuat panduan akhlak dan perlu diikuti
oleh manusia agar mendapatkan rahmat Allah dan kesejahteraan di dunia
dan akhirat. Seperti yang dijelaskan dalam QS Al Araaf ayat 96 Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami
akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya. dan QS Ar Rad ayat 28 (yaitu) orang-orang
yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Yakni sikap moral manusia terhadap Allah, dirinya, sesama manusia dan

16
alam semesta. Aqidah islamiyah akan membentuk kesadaran untuk sealu
berbuat yang terbaik dan menghindari yang buruk.
3.Tingkah laku (as-suluki)
Tingkah laku atau perilaku mewujud melalui aspek gerakan. Hal
ini sangat diwarnai dan ditentukan oleh akidah dan akhlak seseorang. Oleh
karena itu, akhlak dan perilaku seseorang saling berkaitan dan
memberikan gambaran satu sama lain. Hal ini seperti disabdakan oleh
Rasulullah saw. bahwa sekiranya hati seseorang khusuk, khusyuk pula
anggota badannya. QS Surat Al Baqoroh ayat 138 Shibghah Allah.
Siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan Hanya
kepada-Nya-lah kami menyembah. Shibghah artinya celupan. Shibghah
Allah: celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai
dengan kemusyrikan. Yakni tindakan psikomotorik yang bersumber dari
aqidah dan akhlak-Nya. Sistem Islam mengarahkan agar budaya perilaku
manusia menjadi mulia dan terhormat.
4.Perasaan (asy-syuuri)
Sebagai agama, Islam juga memperhatikan perasaan manusia.
Dalam Islam, seluruh perasaan: suka dan duka, cinta dan benci, sedih dan
gembira, halus dan kasar, sensitif atau tidak berbanding lurus dengan
akidah pemeluknya. Oleh karena itu, seperti yang disabdakan oleh
Rasulullah saw., kesempurnaan iman dan Islam seseorang dalam
berperasaan adalah ketika ia berperasaan karena Allah: mencintai karena
Allah, membenci karena Allah, dan seterusnya.
QS Ar Ruum ayat 30 Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus
kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah)
agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui fitrah
Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai
naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama
tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu
hanyalah lantara pengaruh lingkungan. QS Asy SyuaraaSurat 26 ayat
192 195 yaitu 192. Dan Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar

17
diturunkan oleh Tuhan semesta Alam, 193. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh
Al-Amin (Jibril), 194. Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi
salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, 195.
Dengan bahasa Arab yang jelas. Perilaku jiwa dalam merespon segala
sesuatu. Perasaan sangat dipengaruhi oleh aqidah dan akhlak. Islam secara
sempurna menyentuh aspek ini sehingga melahirkan generasi yang lembut,
sensitif, tegas dan welas asih sesuai konteks yang melatarbelakangi.
5.Pendidikan (at-tarbawi)
Islam juga mengajarkan bagaimana melakukan pendidikan dan
pengajaran kepada manusia. Ada sekian banyak ayat Al Quran dan hadits
yang meminta umat Islam untuk belajar. Pendidikan yang dimaksud dalam
Islam tidak saja bersifat formal dan terbatas di sekolah, tetapi juga pada
setiap waktu, tempat, dan kesempatan.
QS Al Baqoroh surat ke 2 ayat 151 Sebagaimana (Kami Telah
menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus
kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada
kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-
Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
QS Ali Imran surat ke 3 ayat 164. Sungguh Allah Telah memberi
karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara
mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan
kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya
sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam
kesesatan yang nyata. QS surat Al Jumuah ayat 2. Dia-lah yang
mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka,
yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan
mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya
mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Islam
sebagai pedoman hisup harus dipahami dengan baik dan diwariskan
pemahamannya kepada generasi penerus agar mereka tidak sesat,
prosestersebut hany berhasil melalui pendidikan yang Islami.

18
6.Sosial (al-ijtimai)
Kesempurnaan Islam juga dilengkapi ajarannya mengenai
hubungan antarmasyarakat. Al Quran demikian rinci menyampaikan hal-
hal tersebut. Sebagai contoh, Al Quran menyebutkan bagaimana aturan
hubungan antara laki-laki dan perempuan, larangan memperolok-olok
orang lain, larangan mengejek orang lain, dan perintah untuk tidak
sombong. Islam juga membahas mengenai karakteristik masyarakat Islam
yang di dalamnya diatur nilai-nilai Islam.
Surat An Nur surat ke 24 ayat 2-10 yaitu 2. Perempuan yang
berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari
keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya
mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman
kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman
mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman, 3. Laki-
laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina,
atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak
dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan
yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin, 4. Dan
orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina)
dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka
(yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima
kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang
yang fasik, 5. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan
memperbaiki (dirinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang, 6. Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina),
padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka
sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan
nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar,
7. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa lanat Allah atasnya, jika dia
termasuk orang-orang yang berdusta, 8. Istrinya itu dihindarkan dari
hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah Sesungguhnya
suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, 9. Dan

19
(sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu
termasuk orang-orang yang benar, 10. Dan Andaikata tidak ada kurnia
Allah dan rahmat-Nya atas dirimu dan (andaikata) Allah bukan Penerima
Taubat lagi Maha Bijaksana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-
kesulitan). Interaksi sosial manusia tidak lepas dari sentuhan Islam. Islam
mengatur sedemikian sehingga tercipta hubungan sosial yang harmonis,
penuh kasih sayang dan bebas dari permusuhan.
7.Politik (as-siyasi)
Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah-Nya di muka bumi.
Oleh karena itu, kehidupannya tidak akan bisa lepas dari politik. Islam
kemudian mengatur urusan-urusan politik ini sebagai bagian dari strategi
dan dakwah. Tujuannya adalah untuk menegakkan hukum-hukum Allah di
muka bumi.Tarbiyah siyasiah yang bermakna pendidikan atau pembinaan
politik adalah sangat urgent dipahami oleh setiap muslim. Karena
pemahaman politik yang sejatinya, tidak sama dengan pemahaman selama
ini dalam ilmu politik secara umum, yaitu berpolitik yang hanya
dimaksudkan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Akan
tetapi kita berpartisipasi dalam politik untuk menegakkan nilai-nilai
kebenaran ilahiah dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Berkuasa untuk melayani umat, dan memimpin untuk memperbaiki sistem
yang tidak berpihak kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Oleh
karenanya, seluruh aktivitas yang berkaitan dengan gerakan berpartai dan
berpolitik, disebut dengan Jihad Siyasi (Perjuangan Politik). Dalam
bahasa Imam Hasan Al-Banna, perjuangan ini dikatagorikan dalam
marhalah rukun amal yang disebut Ishlahul Hukumah (Perbaikan
Pemerintahan). Keberhasilan dan kesuksesan berpolitik atau jihad siyasi
harus berdampak kepada dimensi kehidupan yang lain. Harus berimpact
kepada dunia pendidikan dan dakwah. Yang berujung kepada pencerdasan
anak bangsa dan pencetakan generasi rabbani. Harus berimpact kepada
dunia ekonomi dan sosial budaya. Yang berakhir kepada pemeliharaan
aset-aset negara dan pendayagunaan kepada masyarakat yang lebih luas.
Begitu juga mampu memelihara identitas atau jati diri bangsa yang

20
bertumpu pada pondasi spirituil dalam aspek sosial budaya. Dan bila ada
sebagian kader yang tergelincir dan terjerumus dalam permainan sistem
yang destruktif negatif, maka tugas umat, organisasi massa Islam atau
organisasi politik Islam untuk menyiapkan sarana dan prasarana agar
setiap yang terjun ke dunia politik tetap istiqamah dalam menjalankan
amanah yang dibebankan kepadanya dan tetap menjaga integritas diri.
8.Ekonomi (al-istishadi)
Ekonomi adalah aspek sangat penting dalam Islam selain politik.
Tujuannya ekonomi dalam Islam adalah agar kesejahteraan di masyarakat
dapat terwujud. Oleh karena itu, aturan-aturan perekonomian dalam Islam
banyak memuat mengenai riba (yang menghancurkan kesejahteraan),
urusan utang-piutang, bukti tertulis dalam perniagaan, dan lain-lain. Islam
mengatur agar kegiatan ekonomi itu bukan untuk memenuhi kesengangan
sesaat, namun menyiapkan kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat
nanti.
9.Militer (al-askari)
Islam mewajibkan kepada setiap penyeru kebenaran untuk
bersiap siaga, menyiapkan kekuatan, dan berjuang membela kebenaran
dan memerangi kebatilan. Hal ini diajarkan Islam untuk melawan pihak-
pihak yang menyeru dan melakukan kebatilan. Mereka adalah kaum yang
didorong oleh nafsu untuk menciptakan kehancuran.
10.Peradilan (al-jina-i)
Islam mewajibkan kepada umatnya untuk berbuat adil, bahkan
kepada diri dan keluarganya sendiri. Oleh karena itu, untuk mewujudkan
hal tersebut, Islam mengatur urusan hukum dan peradilan. Urusan yang
berkaitan dengan hukum dan peradilan dalam Islam harus berlandaskan
aturan Allah. Tanpa hal tersebut, keadilan sulit terwujud karena hukum
hanya menjadi permainan belaka.
2.1.6 Islam Sebagai Akhlak
Konsep akhlak Islam berangkat dari konsepsi tentang hubungan
Islam dengan Allah yaitu hubungan penciptaan. Allah telah menciptakan
manusia dan selanjutnya Allah disebut al-Khaliq dan manusia disebut al-

21
Makhluk. Hubungan penciptaan ini menuntut komitmen untuk mensyukuri
nikmat penciptaan dengan sikap dan perilaku yang benar sesuai dengan
yang dikehendaki Penciptanya. Dalam kerangka itu Allah menurunkan
sistem akhlak itu kepada mereka (manusia) melalui nabi-nabi dan
RasulNya.
Akhlak Islam menyatu dengan seluruh sistem. Ia ada dalam
aqidah, ada dalam ibadah, syariah, bahkan dalam seni dan budaya. Tidak
ada satupun sisi kehidupan muslim yang tidak terwarnai oleh aqidah dan
akhlak Islam. Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau tidak diutus kecuali
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Akhlak ini harus selalu
ditunjukkan dalam berinteraksi dengan Allah, dengan Rasul, dengan
dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.
a.Akhlak kepada Allah
Inti akhlak manusia kepada Allah adalah beribadah kepada Dzat
yang telah menciptakannya dalam kitab suci-Nya. Dan tidaklah Aku
menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. (QS
adz-Dzariyaat: 56). Hal ini dapat diwujudkan dengan beriman kepada-
Nya, menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-
Nya.
b.Akhlak kepada Rasul
Rasulullah SAW telah memberikan contoh yang terbaik.
Kewajiaban muslim/muslimah adalah berterima kasih kepadanya dengan
cara mengimani, mengikuti ajaran yang dibawanya, menaati dan
meneladaninya. Dalam hal kecintaan, hubungan muslim dengan
Rasulullah SAW bagai hubungan anak dengan ayahnya, dalam proses
pembelajaran bagai hubungan murid dengan gurunya, dalam
melaksanakan tugas bagai hubungan prajurit dengan komandannya.

c.Akhlak kepada dirinya sendiri


Allah telah memuliakan manusia dan melebihkan dirinya di atas
makhluk yang lain dengan suatu kelebihan. Statusnya sebagai manusia
mengharuskan orang memuliakan dirinya. Karena itu seorang muslim

22
tidak boleh menghina, merendahkan atau meremehkan dirinya sendiri. Hal
ini dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat baginya
dan menjauhi hal-hal yang dapat merugikan. Kalau menghormati dirinya
saja tidak bisa siapakah yang akan menghormati dirinya.
d.Akhlak kepada sesama manusia
Status dan kedudukan manusia lain di hadapan muslim berbeda-
beda sesuai dengan kedekatan dengan dirinya. Kedekatan ini dapat dilihat
dari berbagai segi. Ada yang dekat karena aqidah, dekat bila dilihat dari
sisi nasab, karena hubungan pertetanggaan, aspek kesukuan, kebangsaan,
profesi dan sebagainya. Yang paling dekat di antara mereka adalah yang
memiliki kedekatan aqidah. Merekalah yang paling berhak atas perlakuan
baik darinya.
e.Akhlak kepada alam semesta
Hewan, tumbuhan dan benda-benda matipun mendapat sentuhan
akhlak Islam secara proporsional. Rasulullah SAW, bersabda bahwa Allah
telah mewajibkan berbuat ihsan kepada segala sesuatu, di antaranya
bahkan kepada musuh sekalipun.
2.1.7 Islam Sebagai Fikroh
Islam sebagai Fikrah, berarti menjadikan Islam sebagai pola pikir yang
senantiasa hidup, ideologi yang menjadi ruh, pemikiran yang mendarah
daging, dan ini sangat dipengaruhi oleh sumber fikrah. Hakikatnya sumber
fikrah ada dua yakni Iman dengan bashirah (pandangan hati atau argumentasi)
dan Kekafiran dengan hawa nafsu. Kedua sumber fikrah itu saling
bertentangan. Semua fikrah itu memiliki pandangan yang tersendiri tentang 6
hakikat besar yaitu :
1. Konsep Ketuhanan
Konsep Ketuhanan adalah konsep dasar sekaligus inti, utama sekaligus
asasi, ruh sekaligus tujuan (Q.S. 112:1), sementara kaum Atheis
memandang bahwa Tuhan Tiada sebagaimana Nietsczhe mengatakan
Tuhan telah Mati, dan Karl Marx mengatakan bahwa Agama adalah
Candu. Kalaupun ada isme yang mengaku Ketuhanan, ia terjebak kepada
penyimpangan pemahaman bahwa Tuhan memiliki Sifat Manusia, ia

23
memiliki anak dan saudara, sebuah keyakinan tauhid yang terkotori
kemusyrikan. Pada saat itu Tuhan tidak lagi menjadi satu-satunya dzat
tempat memohon dan bergantung.
2. Konsep Kerasulan (ar-Risalah)
Konsep Kerasulan yang diyakini Islam mendorong kita untuk
mencintai seluruh Nabi dan Rasul. Ar-rajulu al-musthofa al-mursal
minalllaahi bi ar-risalati ila an-naas.
3. Konsep Ibadah (al-ibadah)
Konsep Ibadah dalam Islam diturunkan dari Konsep Ketuhanan yang
bersih dari kemusyrikan dan didetailkan dari Konsep Kerasulan. Ibadah
tidak dibatasi hanya kepada ibadah mahdhah (ritual), tidak hanya
dibatasi hanya di lokasi tertentu seperti tempat ibadah, tidak hanya
dibatasi pada hari tertentu atau waktu tertentu, akan tetapi ibadah
menjadi motivasi setiap tarikan nafas manusia dimanapun dan apapun
tindakannya, dan ini masuk dalam kategori ghairu mahdhah (umum).
Sementara isme lain memiliki ritual ibadahnya sendiri yang
menggambarkan konsep Ketuhanan yang mereka yakini, dan mereka
batasi hanya pada tempat tertentu, batasan hari dan waktu tertentu.
4. Konsep Alam (al-kauni)
Konsep Alam, terhadap hal ini, Islam dengan tegas bahwa Alam
semesta ini diciptakan dari sesuatu yang satu, kemudian terbelah,
diciptakan dalam 6 (enam) masa, dengan ukuran tertentu, dengan
petunjuk tertentu, dan bahkan seluruh alam ini bersujud dan bertasbih
kepadaNya, dan terdapat sebuah waktu dimana alam ini akan hancur
lebur sebagai pertanda selesai periodisasi yang telah ditetapkan atasnya.
Sementara isme lain meyakini bahwa alam ini ada dengan sendirinya,
memandang semua serba materi, dan seterusnya.
5. Konsep Manusia (al-insan)
Konsep Manusia menjadi perhatian besar Islam karena agama ini
untuk memuliakan manusia dengan tanggung jawab dan pilihan
kehidupan, diciptakan dari unsur tanah yang diberikan ruh, Ia akan
dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan seluruh amal

24
perbuatannya. Sementara isme lain memandang dengan konsep
inkarnasi, konsep bahwa harta bisa dibawa ke alam kematian, konsep
bahwa manusia tidak diciptakan tapi berevolusi, dan tidak meyakini
adanya hari akhir dan kebangkitan.
6. Konsep Hidup (al-hayah).
Konsep Hidup di dalam Islam begitu integral, dimulai dari kehidupan
di alam ruh, kehidupan di alam rahim dan alam dunia, mati dan berada di
alam kubur, kebangkitan setelah hari kiamat, dan kehidupan di akhirat.
(Q.S. 2:28). Isme yang lain memandang bahwa kehidupan hanya di
dunia saja, tidak ada akhirat.
Rasulullah Muhammad SAW telah menyampaikan syariat Rabbnya.
Tidak diperkenankan mengambil syariat selain dari beliau (siapapun
orangnya), atau dari agama dan ideologi selain Islam, atau dari para pakar
hukum. Seorang muslim wajib mengikuti dan mengambil hukum hanya dari
Rasul saw berdasarkan firman Allah Swt:


Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7)
Manusia yang diciptakan Allah terbagi menjadi muslim dan kafir. Realitas ini
menunjukkan bahwa terdapat manusia yang membawa kebenaran dan ada
yang membawa kebatilan. Perbenturan akan selalu berlaku di antara keduanya
karena landasan yang digunakan untuk berfikir dan bertindak adalah berbeda.
Islam adalah sumber fikrah dan kepadanya seorang Muslim merujukkan
kerangka fikirnya. Di lain pihak, kaum kuffar merujuk kepada hawa nafsunya.
Islam yang haq, jelas, tetap dan sempurna tak akan dapat ditandingi oleh
kebatilan.
Muslim yang beriman menjadikan bashirah sebagai sumber fikrahnya,
sedangkan kuffar menjadikan hawa nafsu sebagai sumber fikrahnya. Manusia,
baik ia seorang muslim ataupun kafir, memahami sesuatu yang ada
disekitarnya berlandaskan keyakinannya. Hal sedemikian juga berkenaan
dalam memahami Allah, risalah, ibadah, alam semesta, manusia dan
kehidupan. Dengan demikian, umat Islam membutuhkan cara pandang Islam

25
yakni tashawwur islami, memunculkan pemikiran islami, dalam fikrah
islamiyah, diaplikasiakan dalam amal Islami dan harakah islamiyah. Allah
tidak menciptakan seluruh skenario ini dengan sia-sia bahwa semua adalah
milik Allah dan bahwa kita semua kaum beriman adalah bersaudara dan hidup
menata kebersamaan agar kita dapat bersama kembali di yaumil akhir dengan
izin dan rahmat Allah Jalla fil ula. Lahirkan cara berpikir rabbaniyah
(berorientasi Ketuhanan), syumuliyyah (menyeluruh), ijabiyyah (positif),
tawazun (seimbang), waqiiyyah (realistis), dan adalah (adil).
2.1.8 Islam Agama yang Benar
Islam adalah agama yang benar di sisi Allah. Maksudnya adalah bahwa
Islam merupakan satu-satunya agama yang diakui kebenarannya oleh Allah.
Allah hanya menurunkan satu agama kepada umat manusia sejak zaman
Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad saw., karena itulah maka Allah
hanya mengakui Islam sebagai agama yang benar. Semua agama yang
diajarkan oleh nabi-nabi sebelum Muhammad juga disebut Islam. Ketika
Allah menurunkan Islam kepada Nabi Muhammad saw, agama-agama Islam
sebelumnya sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada, ajarannya sudah mulai
berubah dari prinsip utamanya, tauhid. Karena itulah, sejak diutusnya Nabi
Muhammad saw. Allah hanya mengakui satu agama Islam, yakni Islam
yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Hal ini ditegaskan
dalam alQuran yang artinya sebagai berikut:
Artinya: Sesungguhnya agama (yang diridoi) di sisi Allah hanyalah
Islam. (QS. Ali Imran [3]: 19).
Allah Subhanahu wa ta'ala mengabarkan (dalam ayat di atas) bahwa
agama yang sah dan di ridhoi serta di terima di sisiNya adalah cuma satu
yaitu agama Islam yang maknanya berserah diri kepada Allah Ta'ala dengan
mentauhidkan dan tunduk padaNya dengan ketaatan dan berlepas diri dari
kesyirikan serta para pelakunya baik secara dhohir maupun secara bathin,
berlepas diri dari mereka semua dalam ucapan, perbuatan dan keyakinan.
Yang hal itu sejalan dengan apa yang telah di syari'at oleh Allah Ta'ala
melalui lisan para RasulNya, Allah Ta'ala berfirman yang artinya:

26
Artinya: Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-
kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang merugi. QS al-'Imran: 85.
Oleh karenanya barangsiapa yang beragama dengan selain agama Islam
maka dia bisa di katakan tidak beribadah kepada Allah Ta'ala secara benar
di karenakan dia tidak menempuh jalan yang telah di syari'atkan oleh Allah
Ta'ala melalui lisan RasulNya, di mana Allah Azza wa jalla dengan tegas
telah menyuruh kaum mukminin supaya mereka masuk kedalam syari'at
Islam secara menyeluruh baik dalam segi perkataan, keyakinan serta amal
perbuatannya.
2.1.9 Aplikasi Marifatul Islam dalam Proses Keperawatan
Keperawatan saat ini tengah mengalami masa transisi panjang yang
tampaknya belum akan segera berakhir. Keperawatan yang awalnya
merupakan vokasi dan sangat didasari oleh mother instinct naluri keibuan,
mengalami perubahan atau pergeseran yang sangat mendasar atas konsep
dan proses, menuju keperawatan sebagai profesi. Perubahan ini terjadi
karena tuntutan dan perkembangan kebutuhan masyarakat akan pelayanan
kesehatan secara umum, perkembangan IPTEK dan perkembangan profesi
keperawatan sendiri.
Keperawatan sebagai profesi harus didasari konsep keilmuan yang
jelas, yang menuntun untuk berpikir kritis-logis-analitis, bertindak secara
rasionaletis, serta kematangan untuk bersikap tanggap terhadap kebutuhan
dan perkembangan kebutuhan masyarakat akan pelayanan keperawatan.
Keperawatan sebagai direct human care harus dapat menjawab mengapa
seseorang membutuhkan keperawatan, domain keperawatan dan
keterbatasan lingkup pengetahuan serta lingkup garapan praktek
keperawatan, basis konsep dari teori dan struktur substantif setiap konsep
menyiapkan substansi dari ilmu keperawatan sehingga dapat menjadi acuan
untuk melihat wujud konkrit permasalahan pada situasi kehidupan manusia
dimana perawat atau keperawatan diperlukan keberadaannya. Secara
mendasar, keperawatan sebagai profesi dapat terwujud bila para
profesionalnya dalam lingkup karyanya senantiasa berpikir analitis, kritis

27
dan logis terhadap fenomena yang dihadapinya, bertindak secara rasional-
etis, serta bersikap tanggap atau peka terhadap kebutuhan klien sebagai
pengguna jasanya. Sehingga perlu dikaitkan atau dipahami dengan filsafat
untuk mencari kebenaran tentang ilmu keperawatan guna memajukan ilmu
keperawatan.
Pengaplikasian Marifatul Islam dalam pelayanan keperawatan
sangatlah penting dimana dalam memberiakan pelayanan keperawatan yang
dapat memberikan hasil yang maksimal.
Islam adalah salah satu agama yang diakui keberadaaannya di
Indonesia. Jumlah penganut agama Islam di Indonesia sangat banyak
dibandingan penganut agama non Islam. Islam adalah agama yang benar
disisi Allah dan hamba-hambanya, sehingga Allah menurunkan Al-Quran
untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia(muslim) khusus untuk umat
Nabi Muhammad Saw. Didalam Al-Quran ada ayat yang menerangkan
bahwa salah satu tujuan diturunkannya Al-Quran adalah sebagai obat dan
rohmat bagi orang orang mukmin. Misalnya dengan ilmu8 kesehatan, ilmu
ini zaman nabi pun ada tapi belum semaju sekarang karena adanya pengaruh
globalisasi. Tokoh Islam yang terkenal di dunia kesehatan salah satunya
yaitu Ibnu Sina.
Islam sangat menyarankan untuk selalu menjaga kesehatan karena
dengan jiwa yang sehat akan mempermudah sekali kita untuk beribadah
kepada Allah karena tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah kapada-
Nya. Islam menaruh perhatian yang besar sekali terhadap dunia kesehatan
dan keperawatan guna menolong orang yang sakit dan meningkatkan
kesehatan. Kesehatan merupakan modal utama untuk bekerja, beribadah dan
melaksanakan aktivitas lainnya. Ajaran Islam yang selalu menekankan agar
setiap orang memakan makanan yang baik dan halal menunjukkan apresiasi
Islam terhadap kesehatan, sebab makanan merupakan salah satu penentu
sehat tidaknya seseorang.
"Wahai sekalian manusia, makanlah makanan yang halal lagi baik
dari apa yang terdapat di bumi. Wahai orang-orang yang beriman,

28
makanlah dari apa yang baik-baik yang Kami rezekikan kepadamu" (QS al-
Baqarah: l68, l72).
Makanan yang baik dalam Islam, bukan saja saja makanan yang
halal, tetapi juga makanan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan, baik
zatnya, kualitasnya maupun ukuran atau takarannya. Makanan yang halal
bahkan sangat enak sekalipun belum tentu baik bagi kesehatan.
Sebagian besar penyakit berasal dari isi lambung, yaitu perut,
sehingga apa saja isi perut kita sangat berpengaruh terhadap kesehatan.
Karena itu salah satu resep sehat Nabi Muhammad SAW adalah memelihara
makanan dan ketika makan, porsinya harus proporsional, yakni masing-
masing sepertiga untuk makanan, air dan udara (HR. Turmudzi dan al-
Hakim).
Anjuran Islam untuk hidup bersih juga menunjukkan obsesi Islam
untuk mewujudkan kesehatan masyarakat, sebab kebersihan pangkal
kesehatan, dan kebersihan dipandang sebagai bagian dari iman. Itu
sebabnya ajaran Islam sangat melarang pola hidup yang mengabaikan
kebersihan, seperti buang kotoran dan sampah sembarangan, membuang
sampah dan limbah di sungai/sumur yang airnya tidak mengalir dan
sejenisnya. Islam sangat menekankan kesucian (al-thaharah), yaitu
kebersihan atau kesucian lahir dan batin. Dengan hidup bersih, maka
kesehatan akan semakin terjaga, sebab selain bersumber dari perut sendiri,
penyakit seringkali berasal dari lingkungan yang kotor.
Islam juga sangat menganjurkan kehati-hatian dalam bepergian dan
menjalankan pekerjaan, dengan selalu mengucapkan basmalah dan berdoa.
Agama sangat melarang perilaku nekad dan ugal-ugalan, seperti bekerja
tanpa alat pengaman atau ngebut di jalan raya yang dapat membahayakan
diri sendiri dan orang lain.
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan (al-Baqarah:: l95).
Hal ini karena sumber penyakit dan kesakitan, tidak jarang juga
berasal dari pekerjaan dan risiko perjalanan. Sekarang ini kecelakaan kerja
masih besar disebabkan kurangnya pengamanan dan perlindungan kerja.

29
Lalu lintas jalan raya; darat, laut dan udara juga seringkali diwarnai
kecelakaan, sehingga kesakitan dan kematian karena kecelakaan lalu lintas
ini tergolong besar setelah wabah penyakit dan peperangan.
Jadi walaupun seseorang sudah menjaga kesehatannya sedemikian
rupa, risiko kesakitan masih besar, disebabkan faktor eksternal yang di luar
kemampuannya menghindari. Termasuk di sini karena faktor alam berupa
rusaknya ekosistem, polusi di darat, laut dan udara dan pengaruh global
yang semakin menurunkan derajat kesehatan penduduk dunia. Karena itu
Islam memberi peringatan antisipatif: jagalah sehatmu sebelum sakitmu,
dan jangan abaikan kesehatan, karena kesehatan itu tergolong paling banyak
diabaikan orang. Orang baru sadar arti sehat setelah ia merasakan sakit.

30
B. MARIFATUL AL-QURAN

2.2.1 Definisi Al-Quran

Ditinjau dari segi bahasa, secara umum diketahui bahwa kata al-
quran ( ) berasal dari kata yang berarti mengumpul atau
menghimpun. Qiraah berarti merangkai huruf-huruf dan kata-kata satu
dengan lainnya dalam satu ungkapan kata yang teratur. Al-quran asalnya
sama dengan qiraah, yaitu akar kata (mashdar-infinitif) dari qaraa,
qiraatan wa quranan. Allah menjelaskan :

)18( ) 17(

Sesungguhnya Kami-lah yang bertanggung jawab mengumpulkan (dalam


dadamu) dan membacakannya (pada lidahmu). Maka apabila kami telah
menyempurnakan bacaannya (kepadamu, dengan perantara Jibril), maka
bacalah menurut bacaannya itu. (Al-Qiyamah : 17-18)
Disamping itu masih ada lagi bentuk mashdar dari lafadh qaraa
yaitu qur ( ) tanpa alif dan nun yang mengikuti wazan ful () .
Dengan demikian kata qaraa mempunyai tiga wazan (bentuk/sighat)
mashdar, yakni quran (), qiraah, dan qur () . Ketiga wazan
tersebut tetap memiliki satu makna yaitu bacaan. Lebih lanjut beliau
menyatakan bahwa kata al-Quran merupakan bentuk mashdar yang
mengandung fungsi makna isim maful (yang di......), sehingga maknanya
menjadi yang dibaca atau bacaan.
Para Ahli ushul fiqih menetapkan bahwa al-Quran adalah nama
bagi keseluruhan al-Quran dan nama untuk bagian-bagiannya yang
diturunkan kepada Muhammad SAW. Maka jadilah ia sebagai identitas
diri.
Dalam mentarifkan al-Quran, para ulama berbeda
redaksionalnya. Akan tetapi, pada dasarnya, tidak lepas dari unsur-unsur
sebagai berikut:

31
1. Kalamullah
2. Dengan perantara malaikat jibril as.
3. Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
4. Sebagai mujizat
5. Ditulis dalam mushaf
6. Dinukil secara mutawatatir
7. Diangggap ibadah orang yang membacanya
8. Dimulai dengan surat al-Fatihah dan ditutup dengan surat an-Nas
9. Sebagai ilmu laduni bersifat global
10. Mencakup segala hakikat kebenaran
11. Berbahasa Arab
Adapun hakikat al-Quran menurut para mutakallimin ialah makna
yang berdiri pada dzat Allah SWT. Ulama Mutazilah berpendirian bahwa
hakikat al-Quran adalah huruf-huruf dan suara yang dicipta (mahluk) oleh
Allah SWT, yang setelah wujud kemudian hilang lenyap. Dua ulama yang
meniadakan kemakhlukan al-Quran mengemukakan bahwa Allah SWT.
Menyebut manusia dalam 18 tempat sebagai makhluk, tetapi menyebut al-
Quran dalam 54 tempat tanpa menyebut sebagai makhluk. Lagi pula
firman Allah SWT. Yang menyebutkan al-Quran dan manusia secara
bersamaan, dibedakan antara keduanya (55:2-3). Adapun secara
terminologi, pengertian al-Quran sebagai berikut:
1. Menurut Manna Qattan, Al-Quran adalah kalam Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang bacaannya
dianggap sebagai ibadah.
2. Menurut Muhammad Ali Ash-Shabuni (wft 1390 H)
mandefinisikan Al-Quran sebagai kalam Allah yang tiada
tandingannya yang bernilai mujizat, diturunkan kepada nabi
terakhir (khatam al-anbiya = )dengan perantara malaikat
jibril yang tertulis pada pada mushaf, diriwayatkan secara
mutawatir, dan bacaannya termasuk ibadah, yang diawali dengan
surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas.

32
3. Menurut Al-Suyuthi menerangkan bahwa al-Quran adalah kalam
Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad yang tidak
ditandingi oleh penentangannya walau hanya sekedaar satu surat.
4. Para ahli agama (Ahli Ushul) berpendapat bahwa Al-Quran adalah
nama bagi kalamAllah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW yang ditulis dalam mushaf.
Dengan definisi tersebut diatas sebagaimana dipercaya Muslim,
firman Allah yang diturunkan kepada nabi selain Nabi Muhammad SAW,
tidak dinamakan al-Quran seperti kitab Taurat yang diturunkan kepada
Nabi Musa, atau kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa.
Demikian pula kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti hadits qudsi, tidak
termasuk al-Quran.

2.2.2 Nama-nama Lain Al-Quran


1 Al-Quran
Alquran artinya bacaan. Nama Al-quran Allah sebutkan dalam Al-quran
surah Alisra ayat 9:Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk
kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada
orang-orang Mumin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka
ada pahala yang besar. (QS. Al-Isra:9)
2 Al-Kitab
Alkitab artinya Buku. Nama Al Kitab Allah sebutkan dalam Al-quran
surah Al Baqarah ayat 2: Inilah Al Kitab yang tidak ada keraguan
padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 2)
3 Ad-Dzikru
Adzikru artinya pemberi peringatan. Nama Adzikru Allah sebutkan dalam
Al-quran surah Al-hijr ayat 9:
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adzikru, dan sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr: 9)
4 Al-Furqan
Alfurqan artinya pembeda antara yang hak dan yang batil. Nama Alfurqan
Allah sebutkan dalam Al-quran surah Al-furqan ayat 1:

33
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya,
agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al
Furqaan: 1)
5 At-Tanzil
Attanzil artinya yang diturunakan. Nama Attanzil Allah sebutkan dalam
Al-quran surah Asysyuara ayat 192:
Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan
semesta alam (QS. Asysyuara: 192)
6 Al-Huda
Alhuda artinya petunjuk. Nama Alhuda Allah sebutkan dalam Al-quran
surah Al-jin ayat 13: Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar
petunjuk (Al-Qur'an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman
kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan
tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (QS. Al-Jin:13)
7 Al-Mau'idhah
Almauidhah artinya pelajaran atau nasihat. Nama Al-mauidhaha Allah
sebutkan dalam Al-quran surah yunus ayat 57: Hai manusia
sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus 57)
8 Al-Hukm
Al hukum artinya hukum atau peraturan. Nama Al hukum Allah sebutkan
dalam Al-quran surah Ar-radu ayat 37: Dan demikianlah Kami telah
menurunkan Al-Qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa
Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang
pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan
pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. Ar Ra'du:37)
9 Al-Hikmah
Alhikmah artinya kebijaksanaan. Nama Al hikmah Allah sebutkan dalam
Al-quran surah Al-isra ayat 39: Itulah sebagian hikmah yang
diwahyukan Tuhanmu kepadamu, Dan janganlah kamu mengadakan
tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan

34
ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat
Allah). (QS. Al Isra':39)
10 Asy-Syifa'
Asy syifa artinya oabat atau penyembuh. namaAsysyifa Allah sebutkan
dalam Al-quran surah yunus ayat 57: Hai manusia, sesungguhnya telah
datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-
penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman. (QS. Yunus :57)
11 Al-Bayan (penerang)
Albayan artinya penerang. Nama Al bayan Allah sebutkan dalam Al-
quran surah Ali imran ayat 138:Al-Qur'an ini adalah penerangan bagi
seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang
bertakwa. (QS. Ali Imran:138)
12 An-Nur
An nur artinya cahaya. Nama An nur Allah sebutkan dalam Al-quran
surah Annisa ayat 174:Hai manusia, sesungguhnya telah datang
kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan
mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang
benderang (Al-Qur'an). (QS. An- Nisa':174)
13 Ar-Rahmah
Ar rahmah artinya karunia. Nama Arrahmah Allah sebutkan dalam Al-
quran surah An-Namlu ayat 77:Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-
benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(QS. An Namlu:77)
14 Al-Kalam
Al kalam artinya ucapan atau firman. Nama Al kalam Allah sebutkan
dalam Al-quran surah At taubah ayat 6:
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta
perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar
firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya.
Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At-
Taubah:6)

35
15 Al-Busyra
Albusyra artinya kabar gembira. Nama Al busyra Allah sebutkan dalam
Alquran surah An nahlu ayat 102: Katakanlah Ruhul Qudus (Jibril)
menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk
meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi
petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri
(kepada Allah)". (QS. An Nahlu:102)
16 Al-Balagh
Al-balagh artinya penyampaian atau kabar. Nama Al balagh Allah
sebutkan dalam Al-quran surah Ibrahim ayat 52:(Al-Qur'an) ini adalah
kabar yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan
dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah
Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil
pelajaran. (QS. Ibrahim:52)
17 Ar-Ruh
Ar ruh artinya Ruh. Nama Ar ruh Allah sebutkan dalam Al-quran surah
Asy syura ayat 52:Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-
Qur'an) dengan perintah Kami, Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui
apakah Al Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu,
tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan
dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami, Dan
sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus. (QS. Asy Syuura:52)
18 Al-Qaul
Al qaul artinya perkataan. Nama Al qaul Allah sebutkan dalam Alquran
surah Al qashash ayat 51:Dan sesungguhnya telah Kami turunkan
berturut-turut perkataan ini (Al-Qur'an) kepada mereka agar mereka
mendapat pelajaran. (QS. Al Qashash:51)
19 Al-Basha'ir
Al bashair artinya pedoman. Nama Al bashair Allah sebutkan dalam Al-
quran surah Al jasiyah ayat 20:Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi

36
manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS. Al
Jasiyah:20).
Itulah nama-nama Al-quran yang Allah sebutkan didalam Al-
quran. Nama-nama Al-quran tersebut memberikan bukti kepada kita
umat muslim, betapa agungnya kitab suci umat islam yaitu Al-quran .
barang siapa yang berpegang teguh kepada Al-quran maka orang
tersebut tidak akan tersesat selama-lamanya. Wallahu Alam Bishshawa.

2.2.3 Konskuensi Iman kepada Al-Quran


Iman kepada Al-Quran menuntut beberapa hal yang harus
dipenuhi oleh orang yang telah menyatakan beriman kepadanya.
Keimanan itu tidak sempurna bahkan patut dipertanyakan kebenarannya
apabila ia belum memenuhinya. Di antara konsekuensi-konsekuensi itu
adalah:
1. Akrab dengan Al-Quran
Seseorang dikatakan akrab dengan Al-Quran apabila ia
melakukan interaksi yang intens dengannya. Hal itu
dilakukan dengan cara mempelajari dan mengajarkan
kepada orang lain. Sebaik-baik kalian adalah orang yang
mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya! (HR
Bukhari). Yang ia pelajari dan ajarkan itu meliputi
2. Bacaan
Membaca Al-Quran dengan baik sesuai dengan makhraj-
tajwidnya merupakan indikasi keimanan seseorang. Untuk
itu seorang mukmin harus mempelajari dan
mengajarkannya kepada orang lain dengan baik.
3. Pemahaman
Hal ini dilakukan dengan mempelajari dan mengajarkan
maknanya secara baik, karena sebagian ayat-ayatnya harus
dipahami secara kontekstual. Pemahaman kontekstual harus
didasarkan pada apa yang dipahami para salafushalih
melalui riwayat-riwayat yang sahih. Pemahaman
kontekstual dapat juga dengan penalaran akai, asal tidak

37
menyimpang dari riwayaj karena Nabi saw. dan para
shahabat tentu lebih memahaminya. Merekalah yang
mengalami masa turunnya wahyu itu.
4. Penerapan
Apa yang telah dipahami hendaknya diterapkan dalam
kehidupan. Di samping itu, ia mempelopori penerapannya
dalam kehidupan dan mengajak orang lain untuk
melakukan hal yang sama.
5. Penghafalan dan Penjagaan
Ia menghafalkan Al-Quran dan mengajarkan hafalan Al-
Quran kepada orang lain. Di samping itu ia senantiasa
menjaga hafalannya supaya tidak rusak, mengalami
perubahan atau hilang.
6. Mendidik diri dengannya
Al-Quran memuat nilai-nilai dan ajaran yang ideal,
sementara manusia dan kehidupan di sekitarnya terkadang
jauh dari nilai-nilai Al-Quran. Dalam kondisi ini, ia
berusaha untuk mendidik diri supaya sifat-sifat dan
karakternya sesuai dengan Al-Quran. Bila berhasil, ia akan
menjadi seorang yang berkepribadian khas karena Al-
Quran sebagai shibghah mewarnai seluruh dirinya secara
utuh.
7. Tunduk menerima hukum-hukumnya
Al-Quran sebagai hukum dan perundang-undangan tidak
cukup dibaca dan dikaji. Al-Quran harus dipatuhi dengan
segala ketundukan dan lapang dada karena hukum-hukum
yang ada di dalamnya dibuat oleh Allah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Penolakan dan
pembangkangan terhadap Al-Quran merupakan kebodohan
yang hanya akan menyebabkan kerusakan dan kehancuran.
8. Mengajak (Menyeru) Orang kepadanya

38
Karena ia yakin bahwa Al-Quran adalah kebenaran hakiki
yang menenteramkan maka ia pun mengajak orang lain
kepadanya dengan cinta dan penuh tanggung jawab. Di
samping itu, karena sebagian nilai dan hukum-hukumnya
hanya dapat ditegakkan bersama dengan orang lain dalam
wadah jamaatul muslimin yang solid.
9. Menegakkannya di bumi
Nilai dan hukum-hukum yang menyangkut kehidupan
pribadi ditegakkan dalam dirinya sebagai individu. Dalam
konteks kehidupan sosial politik ia tegakkan bersama
dengan kaum mukminin lainnya dalam wadah jamaah yang
solid, tentunya dalam institusi sosial politik dan
kenegaraan.

2.2.4 Bahaya Melupakan Al-Quran

Mengabaikan al Quran akan mengundang berbagai macam bahaya


dalam kehidupan manusia sebagai mana disebutkan dalam berbagai ayat al
Quran yang diantaranya sebagai berikut:

1. Kesesatan yang Nyata (Dhahalum Mubin)


Al Quran adalah petunjuk hidup yang mencerahkan kehidupan
manusia. Barang siapa yang tidak mengambilnya sebagai petunjuk
hidup berarti ia telah memilih petunjuk lain yang menyesatkan,
karena petunjuk al Quranlah sebenar-benarnya petunjuk dalam
kehidupan ini. Kenapa ? Karena Allah yang menurunkan al Quran,
dan Allah juga yang menciptakan manusia dan alam semesta ini.
Maka sudah selayaknya petunjuk atau aturan hidup di dunia ini
sesuai dengan buku petunjuk sang pembuatnya, karena Dialah yang
lebih tahu tentang makhluk ciptaannya.
Dalil
Al Quran surat an Nisa ayat 60 : Tidakkah engkau (Muhammad)
memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah

39
beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa
yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan
ketetapan hukum kepada thagut, padahal mereka telah
diperintahkan untuk mengingkari Thagut itu. Dan setan bermaksud
menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya
Al Quran surat an Nisa ayat 115 : Dan barang siapa yang
menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya,
dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami
biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan
Kami masukkan dia ke dalam neraka jahannam, dan itu seburuk-
buruk tempat kembali
2. Kesempitan dan kesesakkan (dhayyiqun harajun)
Orang-orang yang tidak mendapatkan petunjuk dari sang pembuat
atau pencipta dirinya, maka ia akan merasakan dada yang sempit
bak terhimpit seakan-akan naik langit yang hampa.
Dalil
Al Quran surat 6 ayat 125 : Barang siapa dikehendaki Allah akan
mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya
untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya
menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan
dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan
siksa kepada orang-orang yang tidak beriman
3. Kehidupan yang sempit (maisyatun dhankun)
Karena tidak mengikuti petunjuk Allah yang telah menciptakannya,
maka kehidupan manusia akan dipenuhi masalah yang seolah-olah
tanpa solusi.
Dalil
Al Quran surat Taha ayat 124 : Dan barang siapa berpaling dari
peringatan-Ku (al Quran), maka sungguh, dia akan menjalani
kehidupan yang sempit, dan kami akan mengumpulkannya pada
hari kiamat dalam keadaan buta

40
4. Kebutaan mata hati (umyul bashirah)
Orang yang menutup mata (buta ) terhadap al Quran bukan karena
matanya yang buta, melainkan karena hatinyalah yang gelap tidak
bisa melihat petunjuk al Quran.
Dalil
Quran surat 22 ayat 46 : Maka tidak pernahkan mereka berjalan
di muka bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami,
telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang
buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada
5. Kekerasan hati (qashwatul qulub)
Hati yang lalai dari al Quran akan menjadikannya tidak bisa
tersentuh al Quran. Jika demikian berarti hatinya sudah mengeras,
bahkan bisa lebih keras dari pada batu sekalipun.
Dalil
Al Quran surat 57 ayat 16 : Belum tibakah waktunya bagi orang-
orang yang beriman, untuk secara khusuk mengingat Allah dan
mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan
janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah
menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang
panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara
mereka menjadi orang-orang yang fasik
6. Kezhaliman dan kehinaan ( zhulmun wa dzullun)
Melupakan al Quran berarti meninggalkan hal yang bermanfaat
dan menggantinya dengan kesesatan. Padahal itu merupakan
tindakkan kezhaliman terhadap diri dan orang lain, yang akhirnya
akan menghinakan diri di mata Allah dan manusia.
Dalil
Al Quran surat 3 ayat 112 : Mereka diliputi kehinaan dimana
saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali
(agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Mereka
mendapat murka dari Allah dan (selalu) diliputi kesengsaraan.
Yang demikian itu karena mereka mengingkari ayat ayat Allah

41
dan membunuh para nabi, tanpa hak (alasan yang benar). Yang
demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas
Al Quran surat 32 ayat 22 : Dan siapakah yang lebih zhalim dari
pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya,
kemudian ia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan memberikan
balasan kepada orang-orang yang berdosa
7. Menjadi temannya syaithan (shuhbatusy syaithan)
Orang-orang yang meninggalkan kitab suci Tuhannya, sangat
disenangi oleh syaithan. Maka orang-orang yang demikian akan
menjadi teman yang loyal kepadanya.
Dalil
Al Quran surat 43 ayat 36 : Dan barang siapa berpaling dari
pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (al Quran), Kami biarkan
setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya
Al Quran surat 25 ayat 29 : Sungguh, dia telah menyesatkan aku
dari peringatan (al Quran) ketika (al Quran) itu telah datang
kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia
8. Menjadi lupa diri (an nisyan)
Melupakan al Quran sama dengan melupakan diri sendiri, ia akan
menelantarkan dirinya dalam jurang kelalaian dan ketersesatan.
Dalil
Al Quran surat 59 ayat 19 : Dan janganlah kamu seperti orang-
orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka
lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang
fasik
9. Menjadi pendosa (al fusuq)
Jika telah melupakan al Quran, ia tidak akan mendapat hidayah,
akhirnya terjerumus pada perbuatan dosa.
Dalil
Al Quran surat 2 ayat 26 sampai 27 : Sesunguhnya Allah tidak
segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih
kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu

42
bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir
berkata, apa maksud Allah dengan perumpamaan ini? Dengan
(perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan
dengan itu banya (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi
tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain
orang-orang yang fasik. (yaitu) orang-orang yang melangar
perjanjian dengan Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan
memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan,
dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang
rugi
Al Quran surat 13 ayat 19 sampai 20 : Maka apakah orang yang
mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah
kebenaran. Sama dengan orang yang buta? Hanya orang berakal
saja yang dapat mengambil pelajaran. (yaitu) orang-orang yang
memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian.
10. Menjadi munafik ular berkepala dua (an nifaq)
Melupakan al Quran kadang tidak berarti tidak tahu kebenaran,
karena unsur kekufuran seseorang menepis kebenaran itu dan lebih
suka mencari keuntungan nafsunya, di lain waktu ia berpura-pura
membela kebenaran untuk mencari keuntungan nafsu pula.
Dalil
Al Quran surat 4 ayat 61 sampai 63 : Dan apabila dikatakan
kepada mereka, marilah (patuh) kepada apa yang telah
diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul, (niscaya) engkau
(Muhammad) melihat orang munafik menghalangi dengan keras
darimu. Maka bagaimana halnya apabila (kelak) musibah
menimpa mereka (orang munafik) disebabkan perbuatan
tangannya sendiri,kemudian mereka datang kepadamu
(Muhammad) sambil bersumpah, Demi Allah, kami sekali-kali
tidak menghendaki selain kebaikan dan kedamaian. Mereka itu
adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Alah mengetahui apa
yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah kamu dari

43
mereka, dan berilah mereka nasehat, dan katakanlah kepada
mereka perkataan yang membekas pada jiwanya
Al Quran surat 24 ayat 49 sampai 50 : Tetapi, jika kebenaran di
pihak mereka, mereka datang kepadanya (Rasul) dengan patuh.
Apakah (ketidakhadiran mereka karena) dalam hati mereka ada
penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut
kalau kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku zalim kepad mereka?
Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.
2.2.5 Syarat Mendapat Manfaat Al-Quran
1. Bersikap Sopan Terhadap Al-Quran
Hal ini diwujudkan dengan niat yang baik, kebersihan hati dari
penyakit-penyakit hati , mengosongkan hati dari hal-hal yang
menyibukkannya, kesucian jasmani dari najis, dan mengkhususkan
pikiran bersama al-Quran.
2. Talaqqi dengan sebaik-baiknya
Hal ini dilakukan dengan hati yang khusyu, tazhim (pengagungan),
dan semangat untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya.
3. Memperhatikan tujuan asasi diturunkannya al-Quran.
Yaitu sebagai petunjuk menuju ridha Allahuntuk membentuk
kepribadian yang Islami, memandu umat manusia dan membentuk
masyarakat Islami.
4. Mengikuti cara interaksi para shahabat ra. dengan al-Quran.
Imam Ahmad mengatakan bahwa siapa yang ingin berdialog dengan
Allah hendaklah ia membaca Al-Quran. Sayyid Qutub mengatakan
bahwa hendaklah ia merasakan seakan-akan wahyu itu sedang turun
kepadanya secara langsung.
5. Tiada penghalang
Hal yang menghalangi terjadinya pengaruh al-Quran secara efektif
adalah kesibukan hati dengan urusan lain; ketidakpahamannya
terhadap makna dan pesan-pesan yang terkandung di dalam ayat
yang dibaca atau didengar; dan ketika ia berpaling kepada selain al-
Quran.

44
2.2.6 Aplikasi Marifatul Al-Quran dalam keperawatan
Allah berfirman :

Dan orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka


(adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyeruruh
(mengerjakan) yang maruf, mencegah yang munkar, mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan
RasulNya. (Q.S. At-Taubah : 71)

Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan taqwa,


dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan
bertawalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah maha berat siksa-
Nya. (Q.S. Al-Maa-idah : 2) .

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri
dan jika kamu berbuat jahat maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. (
Q.S. Al-Israa : 7)

dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah


berbuat baik kepadamu (Q.S. Al-Qashash : 77)

Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (Q.S. Ali Imran
:159)
Ayat-ayat Al-Quran di atas mendasari dari pelaksanaan asuhan
keperawatan Islami yang diberikan oleh seorang perawat muslim, maka
itulah yang sebenarnya konsep Caring dalam keperawatan Islam, bukan
hanya asuhan kemanusiaan dengan lemah lembut berdasarkan standar dan
etika profesi, tetapi caring yang didasari keimanan pada Allah dengan
menjankan perintah-Nya melalui ayat-ayat Al quran dengan tujuan akhir
mendapatkan ridho Allah Subhanahu Wa Taala.

45
Asuhan Keperawatan Islami yang dikembangkan oleh kelompok
kerja Keperawatan Islam adalah pada tataran nilai-nilai yang Insyaa Allah
akan dapat menjadi acuan pelaksanaan/Implementasi asuhan keperawatan
pada tatanan pelayanan kesehatan. Asuhan keperawatan Islami dapat dilihat
sebagai suatu sistem yang terdiri dari masukan, proses dan keluaran yang
seluruhnya dapat digali dari nilai-nilai Islam yang bersumber pada Al-
Quran maupun Hadist.

46
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Islam sangat menyarankan untuk selalu menjaga kesehatan karena
dengan jiwa yang sehat akan mempermudah sekali kita untuk beribadah
kepada Allah karena tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah
kapada-Nya. Islam menaruh perhatian yang besar sekali terhadap dunia
kesehatan dan keperawatan guna menolong orang yang sakit dan
meningkatkan kesehatan. Kesehatan merupakan modal utama untuk
bekerja, beribadah dan melaksanakan aktivitas lainnya. Ajaran Islam yang
selalu menekankan agar setiap orang memakan makanan yang baik dan
halal menunjukkan apresiasi Islam terhadap kesehatan, sebab makanan
merupakan salah satu penentu sehat tidaknya seseorang. Sehingga kita
perlu sekali mengenal lebih dalam islam dan dasar nya.
Mengenal (Marifatul) Islam sebagai agama yang benar dan diyakini
oleh umat muslim sekaligus mengenal Al-Quran sebagai pedoman
kehidupan akan sangat membantu dalam aktivitas kita sehari-hari
khususnya perawat, karena menjalankan profesi berdasarkan aturan
Agama yang jelas dan lurus.
3.2 Saran
Setelah mengetahui isi dari makalah ini, diharapkan para pembaca,
khususnya mahasiswa mampu mengenali Islam dan Al-Quran dengan baik
sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan menjadi manusia
mukmin yang yang bertaqwa dan pembaca mampu mengaplikasikan konsep
marifatul islam dan Al-Quran ini dalam kehidupan sehari-hari,
menghambakan diri hanya kepada Allah SWT semata.

47
DAFTAR PUSTAKA

Aminudin, et. all., Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi Umum,
(Bogor: Ghalia Indonesia, 2005), hal. 45.

Mastori. 2015. Pemikiran Politik Dakwah Kontemporer. Deepublis : Yogyakarta

M. Quraish Shihab, et. all., Sejarah dan Ulum Al-Quran, (Jakarta: Pusataka
Firdaus, 2008), hal. 13.

Nurcholish, Madjid. Tradisi Islam, Peran dan Fungsinyadalam Pembangunan di


Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta, 2008, hal. 38-40.

Prayitno, Irwan. 2002. Kepribadian Muslim. Bekasi: Pustaka Tarbiatuna


Syaikh Abdullah bin Jarullah al-Jarullah. 2012. Kesempurnaan Agama Islam.
Islam House. Diakses pada Tanggal 24 Agustus 2017

Tim Panduan MAI, IQRA Club. 1998. Meniti Jalan Ilahi. Panduan AAI UNS.
Surakarta

Tim Pengajar Pendidikan Islam UINS. 2001. Buku Panduan Studi Islam Pelajar.
SMART CDMS Masjid Syuhada: Semarang

http://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-
bin/content.cgi/artikel/sifat_islam.single?seemore= diakses 24 Agustus 2017

48