Anda di halaman 1dari 26

Makalah

Perencanaan dan Pengaggaran

Disusun Oleh Kelompok 9

Sherly Febri Yanti (1410003510135)


Delmiwati (1610003510919)
Reni Anggraini (1410003510185)
Makmur Hidayat (1410003510166)

Nama Dosen : Sri Yuli Ayu,S.ST,M.Ak

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS EKASAKTI PADANG
2017
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang. 1
1.2. Rumusan Masalah 2
1.3. Tujuan Umum.. 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1. Definisi Anggaran dan Perencanaan. 3
2.2. Hakikat Anggaran. 5
2.3. Hubungan dengan Perencanaan Strategi. 6
2.4. Perbedaan dengan Prediksi7
2.5. Kegunaan Anggaran. 8
2.6. Isi dari Anggaran Operasi 10

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan 17
3.2. Saran.. 19
3.3. Daftar Pustaka 20
BAB 1
TENTANG PERUSAHAAN

1.1. Sejarah Perusahaan

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (PT. Telkom) merupakan perusahaan penyelenggara


layanan informasi dan telekomunikasi (InfoComm) dengan layanan terlengkap dan jaringan
terbesar di Indonesia. PT.Telkom menyediakan layanan telepon tidak bergerak kabel (fixed
wireline) dan telepon tidak bergerak nirkabel (fixed wireless), telepon selular,data dan internet,
jaringan dan interkoneksi, baik secara langsung maupun melalui anak perusahaan. Pada tahun
1882, didirikan sebuah badan usaha swasta penyedia layanan pos dan telegraf.Layanan
komunikasi kemudian dikonsolidasikan oleh Pemerintah Hindia Belanda ke dalam jawatan Post
Telegraaf Telefoon (PTT). Pada tahun 1961, status jawatan diubah menjadi Perusahaan Negara
Pos dan Telekomunikasi (PN Postel). Kemudian pada tahun 1965, PN Postel dipecah menjadi
Perusahaan Negara Pos dan Giro (PN Pos & Giro) dan Perusahaan Negara Telekomunikasi
(PN Telekomunikasi).
Pada tahun 1974, PN Telekomunikasi diubah namanya menjadi Perusahaan Umum
Telekomunikasi (Perumtel) yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi nasional maupun
internasional.Tahun 1980 seluruh saham PT Indonesian Satellite Corporation Tbk.(Indosat)
diambil alih oleh pemerintah RI menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk
menyelenggarakan jasa telekomunikasi internasional, terpisah dari Perumtel.Pada tahun 1989,
ditetapkan Undang undang Nomor 3 Tahun 1989 tentang Telekomunikasi, yang juga mengatur
peran swastadalam penyelenggaraan telekomunikasi. Pada tahun 1991 Perumtel berubah bentuk
menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) Telekomunikasi Indonesia berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 25 Tahun 1991. Sebelum tahun 1995, operasi bisnis PT. Telkom dibagi ke
dalam dua belas wilayah operasi, yang dikenal sebagai Witel. Setiap witel memiliki struktur
manajemen yang bertanggung jawab atas seluruh aspek bisnis di wilayahnya masing-masing,
mulai dari penyedia layanan telepon hingga manajemen dan keamanan properti. Pada tahun
1995, dua belas Witel PT. Telkom diubah menjadi tujuh divisi regional (Divisi I Sumatera; Divisi
II Jakarta; Divisi III Jawa Barat; Divisi IV Jawa Tengah dan DI Yogyakarta; Divisi V Jawa
Timur; Divisi VI Kalimantan; dan Divisi VII Indonesia bagian Timur) atau lebih dikenal dengan
singkatan Divre serta satu Divisi Network.
PT.Telkom melakukan kesepakatan Kerja Sama Operasi (KSO) dengan mengalihkan hak
untuk mengoperasikan lima dari tujuh divisi regional (Divisi Regional I, III, IV, VI dan VII)
kepada konsorsium swasta. Dengan kesepakatan tersebut, maka mitra KSO akan mengelola dan
mengoperasikan divisi regional untuk periode waktu tertentu, melaksanakan pembangunan
sambungan telepon tidak bergerak kabel dalam jumlah yang telah ditetapkan dan pada akhir
periode kesepakatan, mengalihkan fasilitas telekomunikasi yang telah dibangun kepada
PT.Telkom dengan kompensasi yang besarnya telah disepakati. Pendapatan dari KSO akan
dibagi antara PT.Telkom dan mitra KSO. Menyusul krisis ekonomi Indonesia, yang dimulai pada
pertengahan tahun 1997, beberapa mitra KSO mengalami kesulitan dalam memenuhi
kewajibannya kepada PT.Telkom yang kemudian menimbulkan sengketa. PT.Telkom
mengadakan perjanjian untuk mengakuisisi mitra-mitra KSO di regional I, III, dan VI, dan
menyesuaikan isi kesepakatan KSO dengan mitra-mitranya di regional IV dan VII untuk
memperoleh hak pengendalian atas keputusankeputusan keuangan dan operasional di regional
yang bersangkutan. Pada tanggal 14 Nopember 1995, Pemerintah melakukan penjualan saham
PT.Telkom melalui penawaran saham perdana (Initial Public Offering). Saham PT.Telkom
tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (keduanya telah melebur menjadi Bursa
Efek Indonesia pada Desember 2007), dan saham PT.Telkom dalam bentuk American
Depositary Share (ADS) tercatat di New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock
Exchange (LSE). Selain itu saham PT.Telkom juga terdaftar di bursa efek Tokyo dalam bentuk
Public Offering Without Listing.
PT.Telkom saat ini merupakan salah satu perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di
Indonesia, dengan nilai kapitalisasi mencapai sekitar Rp 204.624 miliar per 31 Desember 2007.
Pemerintah memiliki hak 51,82% dari keseluruhan saham PT.Telkom yang dikeluarkan dan
beredar. Pemerintah juga memegang saham Dwiwarna PT.Telkom, yang memiliki hak suara
khusus dan hak veto atas hal-hal tertentu. Tahun 1999 ditetapkan Undang-undang Nomor 36
Tahun 1999 tentang Penghapusan Monopoli Penyelenggaraan Telekomunikasi. Memasuki abad
ke- 21, Pemerintah Indonesia melakukan diregulasi di sektor telekomunikasi dengan membuka
kompetisi pasar bebas.Dengan demikian, Telkom tidak lagi memonopoli telekomukikasi
Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Telekomunikasi, pada tanggal 1 Agustus 2001,
Pemerintah mengakhiri hak eksklusif PT.Telkom sebagai satu-satunya penyelenggara layanan
telepon tidak bergerak kabel di Indonesia penyelenggara layanan sambungan langsung
internasional (SLI). Hak eksklusif PT.Telkom sebagai penyedia layanan sambungan lokal dan
layanan sambungan langsung jarak jauh berakhir masing masing pada bulan Agustus 2002 dan
Agustus 2003. Pada tanggal 7 Juni 2004, PT.Telkom meluncurkan layanan SLI.

1.2. Visi dan Misi Perusahaan

a. Visi
To become a leading InfoCom player in the region telkom berupaya untuk
menempatkan diri sebagai perusahaan InfoCom terkemuka di kawasan Asia Tenggara, Asia dan
akan berlanjut ke kawasan Asia Pasifik.

b. Misi
1. Telkom mempunyai misi memberikan layanan One Stop Infocom dengan jaminan
bahwa pelanggan akan mendapatkan layanan terbaik, berupa kemudahan, produk dan
jaringan berkualitas, dengan harga kompetitif.
2. Telkom akan mengelola bisnis melalui praktek-praktek terbaik dengan
mengoptimalisasikan sumber daya manusia yang unggul, penggunaan teknologi yang
kompetitif, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan dan saling
mendukung secara sinergis.

1.3. Logo Perusahaan

GAMBAR 1.1
Arti Logo Telkom:
a) Lingkaran sebagai simbol dari kelengkapan produk dan layanan dalam portofolio
bisnis baru PT.Telkom yaitu TIME (Telecommunication,Information, Media &
Edutainment). Expertise.
b) Tangan yang meraih ke luar. Simbol ini mencerminkan pertumbuhan dan ekspansi
ke luar. Empowering.
c) Jemari tangan. Simbol ini memaknai sebuah kecermatan, perhatian, serta
kepercayaan dan hubungan yang erat. Assured.
d) Kombinasi tangan dan lingkaran. Simbol dari matahari terbit yang maknanya
adalah perubahan dan awal yang baru. Progressiv.
e) Expert Blue pada teks PT.Telkom melambangkan keahlian dan pengalaman yang
tinggi.
f) Vital Yellow pada telapak tangan mencerminkan suatu yang atraktif, hangat, dan
dinami.
g) Infinite sky blue pada teks Indonesia dan lingkaran bawah mencerminkan inovasi
dan peluang yang tak berhingga untuk masa depan

1.4. Struktur Organisasi Perusahaan


Berdasarkan keputusan direksi perusahaan, organisasi perusahaan terdiri atas :
a. Lembaga Dewan Komisaris
1) Komisaris Utama : Tanri Abeng, MBA.
2) Komisaris : Anggito Abimanyu, Ph.D.
3) Komisaris : Mahmuddin Yasin
4) Komisaris Independen : P. Sartono
5) Komisaris Independen : Arif Arryman
b. Lembaga Direksi
1) Direktur Utama/ CEO : Rinaldi Firmansyah
2) Direktur Keuangan : Sudiro Asno
3) Direktur Human : Faisal Syam
Capital & General Affair
4) Direktur Network& : I Nyoman G Wiryanata Solution
5) Direktur Konsumer : Ermady Dahlan
6) Direktur Enterprise & Wholesale : Arief Yahya
7) Direktur Compliance & Risk Management : Prasetio
8) Chief Information Technology : Indra Utoyo
c. Direktorat Network& Solution
Sebagai direktur dijabat oleh I Nyoman G Wiyanarta yang membawahi infrastruktur,
network operation, service dan tarif.
d. Direktorat Konsumer
Sebagai direktur diisi oleh Ermady Dahlan yang membawahi product management,
marketing and customer care, sales and Access.
e. Direktorat Enterprise & Wholesale
Sebagai direktur diisi oleh Arief Yahya yang membawahi bussiness development,
enterpise and wholesale.
f. Direktorat Finance
Sudiro Asno sebagai direktur yang membawahi financial and log policy, managemen
account,treasury and tax, financial account, subsidiary performance.
g. Direktorat Human Capital and General Affair
Sebagai direktur diisi oleh Faisal Syam membawahi Human Resources.
h. Unit-unit Teknostruktur :
1) Corporate Transformation Group (CTG)
2) Corporate Planning Group (CPG)
i. Unit-unit Pendukung :
1) Internal Auditor Group (IAG)
2) Sekretariat Perusahaan (SEKPER)
3) Corporate Compliance Group (CCG)
TABEL 1.1
UNIT BISNIS PT. TELKOM

DIVISI Divisi Long Distance

Carrier & Interconnection Service


Dividi Multimedia
Divisi Fixed Wireless Network
Enterprise Service
Divisi Regional I Sumatera
Divisi Regional II Jakarta
Divisi Regional III Jawa Barat dan
Banten
Divisi Regional IV Jawa Tengah
dan Yogyakarta
Divisi Regional V Jawa Timur
Divisi Regional VI Kalimantan
Divisi Regional VII Kawasan
Timur Indonesia
CENTRE Maintenance Service Center

Learning Center

Carrier Development Service Center


Management Consulting Center
Construction Center

I/S Center

R&D Center

Community Development Center


(CDC)
YAYASAN Dana Pensiun (Dapantel)
Yayasan Pendidikan TELKOM
(YPT)
Yayasan Kesehatan (Yakes)
Yayasan Sandhykara Putra
TELKOM (YSPT)
Anak Perusahaan :
Kepemilikan > 50% PT. Telekomunikasi Selular
(Telkomsel): Telekomunikasi
(Selular GSM)
PT. Dayamitra Telekomunikasi
(Dayamitra): Telekomunikasi KSOVI
Kalimantan)
PT . Infomedia Nusantara
(Infomedia): Layanan Informasi
PT. AriWest Internasional
(AriWest): Telekomunikasi Telepon
Tetap (KSO-III JAwa Barat &
Banten)
PT. Pramindo Ikat Nusantara
(Pramindo): Telekomunikasi Telepon
Tetap (KSO-I Sumatera)
PT. Multimedia Nusantara (Metra):
Multimedia, pay special TV
PT. Napsindo Primatel Internasional
(Napsindo): Network Access Point
PT. Indonusa Telemedia (Indonusa):
TV Cable
PT. Graha Sarana Duta (GSD):
Properti, Konstruksi, dan Jasa
Kepemilikan 20%-50% PT. Patra Telekomunikasi Indonesia
(Patrakom): layanan VSAT
PT. Citra Sari Makmur (CSM):
VSAT dan layanan telekomunikasi
lainnya
PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN):
Transponder Satelit dan Komunikasi
Kepemilikan <20% PT. Mandala Seluler Indonesia
(MSI): Layanan NMT 450 Selular
dan CDMA
PT. Batam Bintal Telekomunikasi
(Babintel): Telepon Tetap di Batam
dan Pulau Bintan
PT. Pembangunan Telekomunikasi
Indonesia (Bangtelindo):
Pengelolaan Jaringan dan Peralatan
Telekomunikasi

1.5. Produk dan Jasa PT Telkom


Sebagai full network services provider (FNSP) PT Telekomuniasi Indonesia Tbk memiliki
produk dan jasa sebagai berikut:

a. Fixed Phone (TELKOM Phone)


1) Personal Line
2) Corporate Line
3) Wartel & Telepon Umum
b. Mobile Phone (TELKOMSEL)
1) Prepaid Services (simPATI)
2) Postpaid Services (Halo)
c. Network and Interconnection (TELKOM Intercarier)
1) Interconnection Services
2) Network Leased Services
d. Data dan Internet
1) Leased Channel Service (TELKOM Link)
2) Internet Service (TELKOMnet)
3) VoIP Service (TELKOM Save & Global 017)
4) SMS Service (from TELKOMSEL, TELKOMFlexi & TELKOM SMS)
e. Fixed Wireless Access (TELKOM Flexi)
1) Prepaid Services (Flexi Trendy)
2) Postpaid Services (Flexi Classy)

1.6. Strategi Bisnis PT Telkom


a) Multi Service Bundling
Untuk mengembangkan bisnis InfoCom, TELKOM harus dapat memberikan layanan
yang terpadu.Dalam memasarkan sambungan telepon misalnya harus sudah mencakup
layanan multimedia.Pelanggan tidak lagi mengenal TELKOM hanya sebagai penyedia
telepon tetapi sudah dapat menikmati berbagai layanan secara paket. Dalam hal ini akan
mengikutsertakan TELKOM Group, sebagai pelanggan TELKOM berarti sekaligus
menjadi pelanggan perusahaan yang tergabung dalam TELKOM Group.

b) Service Excellent
Service Excellent sudah menjadi keharusan dalam berkompetisi.Layanan prima baik dari
sisi kualitas produk, delivery, price, dan layanan purna jual menjadi bagian penting yang
harus mendapat perhatian jajaran TELKOM.

c) Build Business Scale


Membangun bisnis berskala besar sangat penting bagi TELKOM yang sudah dikenal
sebagai National Company. Untuk itulah Central Policy harus diperkuat dan produk
harus mencakup National Wide. Produk-produk dengan branding lokal perlu dihentikan
kemudian dibuatkan standarisasinya sehingga apabila diimplementasikan secara nasional
akan membentuk business scale yang besar dan kompetitif (barrier to entry bagi
pesaing).
d) Strong Financial Growth
Pertumbuhan perusahaan secara finansial sudah sangat perlu ditingkatkan dan akan
semakin menjadi kunci kesinambungan dan pertumbuhan perusahaan.

1.7. Aspek Pemasaran Perusahaan


TELKOM menyediakan layanan kepada pelanggan melalui Walk-in Customer Service
Point, Call Center dan internet, layanan Enterprise dan Account Management Team, serta
program jaminan tingkat layanan. TELKOM mendistribusikan dan menjual produk dan layanan
utamanya, termasuk layanan telepon tidak bergerak nirkabel, tetapi tidak termasuk layanana
telepon seluler, melalui enam jalur distribusi utama: Walk-in-Customer Service Point,Account
Management Team, Warung Telekomunikasi umum, Dealer resmi dan outlet ritel, situs web dan
Telepon Umum.

1.8. Aspek Keuangan Perusahaan

PT Telkom Indonesia merupakan sebuah perusahaan yang mempunyai kinerja terbaik di


Indonesia khususnya perusahaan telekomunikasi. Dari segi keuangan dalam dua tahun terakhir
mengalami peningkatan yang cukup baik. Pada laporan keuangan Semester I tahun 2008 yang
dikeluarkan oleh PT Telkom, Tbk. Operating revenue meningkat menjadi Rp. 30.178 Miliar, naik
Rp 1.672 Miliar setara 5,86% dibandingkan periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp 28.507
Miliar. Hal ini disebabkan oleh kenaikan pendapatan jaringan jasa telekomunikasi.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 ANALISIS RATIO KEUANGAN

2.1.1 PENGERTIAN STATEMEN KEUANGAN

Statemen keuangan perusahaan adalah statemen yg memberikan ikhtisar mengenai


keadaan keuangan perusahaan, dimana Neraca (balance sheet) mencerminkan nilai aktiva,
hutang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu, dan Statemen Rugi-Laba (income
statements) mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama suatu periode tertentu biasanya
satu tahun.
Media komunikasi dan pertanggungjawaban/ pertanggungjelasan antara perusahaan
dan para pemiliknya atau pihak lainnya.

2.1.2 ANALISIS STATEMEN KEUANGAN


Konsep analisis keuangan, bahwa hubungan hubungan kuantitatif dapat
digunakan untuk mendiagnosa kekuatan dan kelemahan dalam kinerja suatu perusahaan.

2.1.3 MANFAAT ANALISIS RASIO KEUANGAN


Membantu penganalisis untuk mengetahui keadaan dan perkembangan keuangan
perusahaan yg bersangkutan.

Untuk mengambil manfaat rasio keuangan kita memerlukan standar untuk


perbandingan. Salah satu pendekatan adalah membandingkan rasio-rasio perusahaan
dengan pola industri atau lini usaha di mana perusahaan secara dominan beroperasi.
2.2.1 MACAM-MACAM RASIO KEUANGAN

Beberapa tinjauan terhadap hubungan kuantitatif rasio keuangan:

Dilihat dari sumbernya rasio dibagi menjadi 3:

1. Rasio-Rasio Neraca
Adalah rasio-rasio yg disusun dari data yg berasal dari neraca misalnya;
current ratio, Acid test-ratio, current assets to total assets ratio, current
lialibilities to total assets ratio dan lain sebagainya.

2. Rasio Statemen Rugi-Laba


Rasio-rsio yang disusun berdasarkan income statements, misalnya gross
profit margin, net operating margin, operating ratio, dan lain sebagainya.

3. Rasio-Rasio Antar Statemen Keuangan


Adalah rasio keuangan yang disusun berdasarkan Neraca dan data lainnya
yg berasal dari income statement, misalnya assets turnover, inventory
turnover, receivables turnover dan sebagainya.
BAB 3
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA, TBK
TAHUN 2014 dan 2015

1. Rasio Likuiditas
Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kemampuan
finansialnya dalam jangka pendek.
Current Ratio
Menurut Agnes Sawir (2003:8), menerangkan bahwa : Current ratio merupakan ukuran
yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan memenuhi kewajiban jangka
pendek, karena rasio ini menunjukan seberapa jauh tuntutan dari kreditor jangka pendek
dipenuhi oleh aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai dalam periode yang sama dengan
jatuh tempo utang.
Current Assets
Current Ratio =
Current Liabilitas

Tahun 2014 Tahun 2015 Keterangan

Kemampuan untuk membayar


hutang yang segera harus
34.294 39.052 dipenuhi dengan aktiva lancar.
=1,97 X =1.19 X
32.318 32.657 Setiap hutang Lancar Rp 1,00
dijamin oleh aktiva lancar
Tahun 2014 sebesar Rp 1,97
dan Tahun 2015 sebesar 1,19
Kurang Baik.

Quick Ratio/Acid Test Ratio


Pengertian Quick Ratio menurut Mamduh M.Hanafi & Abdul Halim (2003:204), yaitu:
Quick Ratio sering juga disebut Acid-test Ratio, rasio ini menggunakan aset-aset yang akan
berubah menjadi kas dengan lebih cepat. Karena persediaan dianggap sebagai aktiva lancar yang
paling lama untuk berubah menjadi kas, maka dalam perhitungan Quick ratio persediaan
dikeluarkan dari angka yang dibagi (numerator).

Kas+ Bank + Efek + Piutang


Quick Ratio=
Current Liabilities
Tahun 2014 Tahun 2015 keterangan

Rasio ini menunjukan


kemampuan aktiva lancar
17.672+2.797+ 7.380 20.282+3.043+ 4.475 yang paling likuid mampu
=0.86 =0.97
32.318 32.657 menutupi hutang lancar.
Semakin besar rasio ini
semakin baik. Rasio ini
disebut juga Acid test rasio.
Untuk quick rasio ukuran
berdasarkan prinsaip hatihati
adalah 100% atau 1:1
dianggap cukup memuaskan
tetapi quick rasio
tahun 2014
mendapatkan hasil 0,86 dan
2015 mendapatkan hasil
0,97 maka dianggap kurang
baik.

Cash Ratio
Cash Ratio adalah perbandingan daripada kas dan saldo giro/tabungan bank yang
dimiliki oleh perusahaan dengan hutang lancar yang ada, semakin tinggi nilai ini tentunya akan
semakin baik.

Kas+Bank
Cash Ratio=
Current Liabilities

Tahun 2014 Tahun 2015 Keterangan

Kemampuan membayar utang


dengan segara yang harus
17.672 20.282 dipenuhi dengan kas yang
=0,54=54 =0,62=62
32.318 32.657 tersedia dalam perusahaan dan
efek yang segera dapat
diuangkan.Setiap hutang Lancar
Rp1,00 dijamin oleh kas dan
efek Tahun 2014 sebesar 54 %
dan 2015 sebesar 2015 62 %
Ratio Perputaran Kas
Mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar
tagihan dan membiayai penjualan.

Penjualan
Ratio Perputaran Kas=
Modal Kerja Bersih

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Untuk mengukur
tingkat kecukupn
21.250 21.250 23.616 23.616
= =10,75 X = =3,69 X modalkerja untuk
34.29432.318 1.976 39.05232.657 6.395 membayar tagihan
dan membiayai
penjualan,jadi Rp 1
mampu membiayai
oleh Rp 10,75 dan
3,69

Inventory to Net Working Capital


Rasio yang digunakan untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada
dengan modal kerja persuhaan.
Inventory
Inventory Net Working Capital=
Current AssetCurrent Liabilities

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa


Untuk
mengukur dan
474 474 537 537 membandingk
= =0,23=23 = =0,08=8
34.29432.318 1.976 39.05232.657 6,377 an antara
persediaan
yang ada
dengan modal
kerja artinya
Rp 1
persediaan
dibiayai
dengan Rp 23
% dan 8 %
modal kerja

2. Rasio Solvabilitas
Solvabilitas, berguna untuk menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
segala kewajiban finansialnya jika perusahaan tersebut dilikuidasi. Suatu perusahaan dikatakan
Solvabel jika perusahaan itu mempunyai aktiva yang cukup untuk membayar semua hutang
hutangnya, baik yang jangka panjang maupun jangka pendek. Jika perusahaan tidak mempunyai
cukup aktiva untuk membayar segala hutangnya, maka perusahaan tersebut dikatakan insolvabel.
Tingkat solvabilitas diukur dengan beberapa rasio, yaitu :

Total Debt to Assets Ratio

Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan hutang jangka panjang dan jumlah
seluruh aktiva diketahui. Rasio ini menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang
dibelanjai
Total Utang
Debt Asset Ratio=
Total Asset

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Beberapa bagian dari


keseluruhan dana yang
55.678 55.750 dibelanjai dengan utang. Atau
=0,39=39 =0,83=83
141.822 146.672 Berapa bagian dari aktiva yang
digunakan untuk menjamin
utang.
39% dan 83 % dari setiap aktiva
digunakan untuk menjamin
utang.

Total Debt to Equity Ratio


Merupakan Perbandingan antara hutang hutang dan ekuitas dalam pendanaan
perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri, perusahaan untuk memenuhi seluruh
kewajibanya.

Total Utang
Debt Equity Ratio=
Ekuitas
Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Bagian setiap rupiah modal


sendiri yang dijadikan
55.687 55.750 jaminan untuk keseluruhan
=0,64=64 =0,61=61
86.135 90.922 hutang. dari setiap rupiah
modal sendiri menjadi
jaminan hutang.
Rasio di samping sebesar
64 % dan 61 % untuk
tahun 2013 dan 2014. Maka
kurang dari 80% maka dari
itu perusahaan

Long Term Debt to Equity Ratio (LTDtER)


Merupakan Ratio antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri

Total Utang Jangka Panjang


LongTerm=
Total Equity

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Bagian setiap rupiah modal


sendiri yang dijadikan jaminan
23.369 23.093 untuk hutang jk panjang.
=0,27=27 =0,25=25
86.135 90.922 27 % dan 25 % dari setiap rupiah
modal sendiri Digunakan untuk
menjamin hutang jangka panjang
Kurang Baik

Times Interest Earned (TIE)

EBIT
TIE=
Biaya Bunga

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Rasio ini mengukur seberapa


besar jaminan keuntungan untuk
6.918 7448 membayar Bunga
=17,6 X =16,8 X
391 443 Hutang.Artinya,17,6 X dan 16,8
X laba operasi perusahaan Baik

Fixed Charge Coverage (FCC)


EBT +Biaya Bunga+ Kewajiban
FCC=
Biaya Bunga+ Kewa jiban Sewa

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Rasio ini mengukur


seberapa besar jaminan
6.853+ 391+100 7.344 7.318+ 443+ 40 7.801 keuntungan untuk
= =14,95 = =16,15
391+100 491 443+ 40 483 membayar Bunga
Hutang dan beban
sewa.Artinya,14,95
dan 16,15 laba operasi
perusahaan

3. Rasio Aktivitas

Perputaran Piutang

Penjualan
Perputaran Piutang=
Piutang

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Kemampuan dana yang


tertanam dalam piutang
21.250 23.616 berputar dalam suatu periode
=2,87 X =2,78 X
7.380 8.475 tertentu.Dalam satu tahun rata-
rata dana yang tertanam dalam
360 360
=125 Hari =129 Hari piutang berputar selama Tahun
2,87 2,78
2014 =2,87 X dan 2015= 2,78
X

Perputaran Sediaan

Penjualan
Perputaran S edian=
Persediaan

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa


Kemampuan dana yang tertanam
dalam persediaan berputar dalam
21.250 23.616 suatu periode tertentu.Dalam satu
=44,83 =43,97
474 537 tahun rata-rata dana yang
tertanam dalam persediaan
360 360
=8 Hari =8,1 Hari berputar selama Tahun 2014
44,83 43,97
=44,83 dan 2015= 8,1

Perputaran Modal Kerja

Penjualan
Perputaran Modal Kerja=
Modal Kerja( Asset LancarHutang Lancar)

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Kemampuan dana yang


tertanam dalam modal
21.250 21.250 23.616 23.616 kerja berputar dalam
= =10.75 X = =3,69
34.29432.318 1.976 39.05232.657 6.395 suatu periode
tertentu.Dalam satu
360 360
=33,4 Hari =97,5 Hari tahun rata-rata dana
10,75 3.69
yang tertanam dalam
modal kerja berputar
selama Tahun 2014
=10,75 X dan 2015=
3,69 X

Fixed Asset Turn Over

Turn Penjualan
Asset
Total Akti vaTetap
Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Kemampuan dana yang tertanam


dalam Total aktiva tetap berputar
21.250 23.616 dalam suatu periode
=0,91 =0,21
107.528 107.620 tertentu.Dalam satu tahun rata-
rata dana yang tertanam dalam
360 360
=1.894 Hari =1.714 Hari total aktiva tetap berputar selama
0.91 0,21
Tahun 2014 =0,91 dan 2015=
0,21

Total Asset Turn Over

Turn Penjualan
Total Asset
Total Aktiva

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Kemampuan dana yang tertanam


dalam Total aktiva berputar
21.250 23.616 dalam suatu periode
=0,14 =0,16
141.822 146.672 tertentu.Dalam satu tahun rata-
rata dana yang tertanam dalam
360 360
=2.571 Hari =2.250 Hari total aktiva berputar selama
0,14 0,16
Tahun 2014 =0,14 dan 2015=
0,16

4. Rasio Profitabilitas
Profitabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva
atau modal yang menghasilkan laba tersebut.
Gross Profit Margin ( Margain Laba Kotor)
Merupakan perbandingan antar penjualan bersih dikurangi dengan Harga Pokok
penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai dari
jumlah penjualan.

PenjualanHPP
Laba Kotor =
Penjualan

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa


Laba Bruto per rupiah
penjualan. Setiap Penjualan
21.25014.348 6.902 23.61616.352 7.264 menghasilkan laba bruto Rp
= =0,32=32 = =0.30=30
21.250 21.250 23.616 23.616 32% tahun 2014 dan
30% tahun 2015.
Semakin besar rasio ini
semakin baik karena
dianggap kemampuan
perusahaan dalam
mendapatkan laba cukup
tinggi/menguntungkan

Net Profit Margin ( Margain Laba Bersih)


Merupakan rasio yang digunaka nuntuk mengukur laba bersih sesudah pajak lalu
dibandingkan dengan volume penjualan.

EAIT
Laba Bersih=
Sales
Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

NPM merupakan rasio yang


mengukur jumlah laba
5.125 5.508 bersih per nilai dolar
=0,24 =0,23
21.250 23.616 penjualan, yang dihitung
dengan membagi laba bersih
dengan penjualan. Apabila
kinerja keuangan perusahaan
dalam menghasilkan laba
bersih atas penjualan
semakin meningkat maka
hal ini akan berdampak pada
meningkatnya pendapatan
yang akan diterima oleh para
pemegang saham.

Return On Investment (ROI)

Return on investment adalah merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan


secara keseluruhan didalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhan aktiva yang
tersedia didalam perusahaan. Semakin tinggi rasio ini semakin baik keadaan suatu
perusahaan. Return on investment merupakan rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih
diperoleh perusahaan bila di ukur dari nilai aktiva.

EAIT
ROI=
Total Aktiva

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Kemampuan modal yg
diinvestasikan Dlm keseluruhan
5.125 5.508 aktiva untuk menghasilkan
=0,03 =0,03
141.822 146.672 keuntungan neto

ROI Dengan Du Pont

ROI dengan Du Pont = Margin Laba Bersih X Perputaran Total Aktiva

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Kemampuan modal yang


diinvestasikan dalam
0,24 X 0,19 = 0,04 0,23 X 0,21 = 0,04 keseluruhan Total Aktiva untuk
menghasilkan keuntungan bagi
semua investor.

Return On Equity (Pengembalian Atas Equitas)

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk
menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham
preferen.
EAIT
ROE=
Equity

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Dari hasil tersebut tahun


2014 laba bersih dan ekuitas
5.125 5.508 mengamalami penaikan dari
=0,05 =0,06
86.135 90.922 tahun 2015, sehingga
semakin besar ROE semakin
besar pula harga pasar,
karena besarnya ROE
memberikan indikasi bahwa
pengembalian yang akan
diterima investor akan
tinggi sehingga investor akan
tertarik untuk membeli
saham tersebut, dan hal itu
menyebabkan harga pasar
saham cendrung naik.

ROE Dengan Du Pont

ROE Dengan Du Pont = Margin Laba Bersih x Peputaran TA x penggandaan Ekuitas

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Kemampuan modal yang


diinvestasikan dalam perputaran
0,24 X 0,19 X 1,64 = 0,07 0,23 X 0,21 X 1,61 = 0,07 total Aktiva dan penggandaan
Ekuitas untuk menghasilkan
keuntungan bagi semua investor.

Laba Per Lembar Saham Biasa

Laba
Laba per Lembar SahamBiasa=
Modal Setor

Tahun 2014 Tahun 2015 Analisa

Kemampuan modal setor dalam


menghasilkan keuntungan bagi
5.125 5.508 pemegang saham Setiap rupiah
=0,64 =0,69
7.939 7.939 modal setor menghasilkan
keuntungan Rp 0,64 dan 0,69
laba per saham biasa

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dalam menganalisis laporan keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk dalam berbagai
aspek, maka didapat kesimpulan sebagai berikut :
Dari aspek Rasio Likuiditas, likuiditas perusahaan cenderung kurang baik dalam
mengelola hutang jangka pendek karena rasio-rasio ini masih diatas 1 atau 100% (seratus
persen), dari perhitungan rasio likuiditas hanya rata-rata masing 1,97 X dan 1,19 X. Hal
ini jika perusahaan mengkover pembayaran semua kewajibannya dan kemudian terjadi
inflasi dan resesi ekonomi maka perusahaan mampu bertahan namun sangat rentan.Hal
ini akan mempengaruhi pertimbangan kreditur dalam memberikan pinjaman kepada
perusahaan.
Dari aspek Manajemen Hutang, perusahaan cenderung makin banyak berhutang,
sehingga lebih dari 50% asetnya berasal dari hutang. Hal ini dapat dilihat pada Debt
Ratio perusahaan, naik 2014 dan nilainya 39% - 83 % Hal ini tentunya akan juga
mempengaruhi keputusan untuk memberikan pinjaman dan juga besarnya pinjaman yang
akan diberikan kepada perusahaan.
Dari aspek Profitabilitas, perusahaan memiliki margin keuntungan yang
Yang dilihat dari rasio Profit Margin On Sales, di angka kurang dari 100%, pada tahun
2014 diangka 0,24, dan 2015 adalah 0,23. dan juga dalam pengelolaan asetnya (ROE)
perusahaan cenderung kurang stabil dalam menghasilkan keuntungan, bahkan jika
memperhatikan nilai ROI perusahaan sedikit mampu memberikan tingkat pengembalian
investasi yang tidak memberikan keutungan yang besar dari tahun ke tahun bagi
pemegang saham biasa. Dengan demikian secara keseluruhan aspek profitabilitas masih
cukup baik. Artinya PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk berdasarkan kinerjanya ini belum
dapat memberikan return yang baik bagi pemegang saham, karena terjadi penurun. ROE
dan ROI ini tiap tahunnya maka setidaknya berpengaruh pada penurunan harga sahamnya
di bursa efek Indonesia. Perusahaan ini pengelolaan working capitalnya kurang baik.
Secara umum, kinerja perusahaan masih dapat dikatakan kurang sehat karena belum
dapat menghasilkan keuntungan yang besar, nilai perusahaan yang kecil di pasar, dan
belum mampu memberikan pengembalian investasi yang besar, atau dengan kata lain
tingkat pengembalian investasinya rendah. Juga perusahaan mempunyai resiko di dalam
likuiditasnya dan rasio hutang yang tinggi, sehingga menempatkan posisi perusahaan
pada posisi yang beresiko.

5.2. Saran

Penelitian yang dilakukan ini masih memiliki keterbatasan, sehingga masih perlu adanya
penelitian berkelanjutan yang mengkaji permasalahan yang hampir sama. Beberapa saran yang
dapat disampaikan dalam mengurangi berbagai kelemahan perusahaan adalah sebagai berikut :

1. Meningkatkan likuditas perusahaan dengan cara menjual aset yang tidak produktif.
2. Meningkatkan tingkat rentabilitas dengan cara
a. Meningkatkan penjualan dengan melakukan inovasi produk dan mengingkatkan
kualitas dari produk yang sudah ada.
b.Meningkatkan penjualan dengan menyediakan layanan berbasis TIME
(Telecommunication,Information, Media,danEdutainment).
3. Kurangnya kebiasaan bersaing (marketing) : Mengatasinya dengan cara ,memberikan
training tentang bagaimana memasuki kompetisi yang semakin ketat, memberikan
pengetahuan atau wawasan mengenai persaingan.